p-Index From 2021 - 2026
8.698
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya GEMA TEOLOGIKA : Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Kurios Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) VISIO DEI: JURNAL TEOLOGI KRISTEN Pengarah: Jurnal Teologi Kristen Manna Rafflesia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi Jurnal Amanat Agung JURNAL TERUNA BHAKTI Studia Philosophica et Theologica Tumou Tou EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Shift Key: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Vox Dei : Jurnal Teologi dan Pastoral Kinaa: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Mahabbah: Journal of Religion and Education IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Ra'ah Predica Verbum Sabda : Jurnal Teologi Kristen KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Melo: Jurnal Studi Agama-agama Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Jurnal Apokalupsis Voice of HAMI JURNAL MISIONER MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Rerum: Journal of Biblical Practice Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan Tevunah: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Marsahala:Jurnal Studi Agama dan Budaya Ra'ah: Journal of Sociology of Religion
Claim Missing Document
Check
Articles

HUTAN ADALAH IBU BAGI MANUSIA: Titik Jumpa Ekoteologis antara Kejadian 1:28 dengan Suku Wate Panjaitan, Firman; Mandowen, Silas Dismas Yoel
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 3 No 1 (2023): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v3i1.135

Abstract

This study aims to show the importance of human awareness of the problems that are currently being experienced by the earth, and the importance of human involvement in this increasingly alarming condition of the earth. In particular, this research will bring together the understanding of ecology in the text of Genesis 1:28 with the cultural text of the Wate tribe. Qualitative-Descriptive method that departs from the data will be a tool in this research equipped with a cross-textual reading approach, especially in an effort to compare the two texts above to find similarities and differences between the two texts, then evaluate them to build a contextual theological view that can be accounted for biblically and culturally. The results show that basically humans and the universe have a relationship that cannot be separated, where the existence of the two need each other. Nature needs humans to maintain its integrity, and humans need nature as a source of providing their needs. This theology is a form of contextual theology that is biblical as well as a cultural message. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukan pentingnya kesadaran manusia akan masalah yang sedang di alami bumi saat ini, dan pentingnya keterlibatan manusia terhadap kondisi bumi yang semakin memprihatinkan ini. Secara khusus penelitian ini akan mempertemukan pemahaman tentang ekologi dalam teks Kejadian 1:28 dengan teks budaya suku Wate. Metode Kualitatif-Deskriptif yang berangkat dari data akan menjadi perangkat dalam penelitian ini dilengkapi dengan pendekatan pembacaan lintas tekstual, khususnya dalam upaya membandingkan kedua teks di atas untuk menemukan kesamaan dan perbedaan kedua teks, lalu mengevaluasinya untuk membangun sebuah pandangan teologis yang kontekstual, yang dapat dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah dan budaya. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada dasarnya manusia dan alam semesta memiliki suatu relasi yang tidak bisa di pisahkan, dimana keberadaan dari keduanya saling membutuhkan. Alam memerlukan manusia untuk menjaga keutuhannya, dan manusia membutuhkan alam sebagai sumber penyedia kebutuhannya. Teologi seperti ini merupakan bentuk teologi kontekstual yang Alkitabiah sekaligus menjadi pesan budaya.
Peran Kepemimpinan Transformasional dalam Mengoptimalkan Kinerja Guru di Lembaga Pendidikan Masa Kini Kaudin, Elyes Sasep; Panjaitan, Firman
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v5i2.339

Abstract

Transformational leadership systems in educational institutions are needed to optimize teacher performance so that the education system can be developed. Through proper transformational leadership, every member of the education system will grow and develop in line with expectations. Therefore, every educational institution needs a strong transformational leadership model in order to optimize the performance of teachers and create good educational outcomes through the achievements of teachers and learners. By using descriptive qualitative methods, especially through the approach of open and in-depth interviews (deep interview), this study resulted in the finding that the pace of education in schools, as educational institutions, can not be separated with a strong transformational leadership system, because through a strong and appropriate transformational leadership, optimization of teacher performance can be achieved and student achievement will increase. Optimization of teacher performance along with increased student achievement, will create a school atmosphere as a very conducive place to develop themselves, both in terms of work and achievement. AbstrakTujuan dari studi ini adalah menunjukkan peran dari sistem kepemimpinan transformasional di lembaga pendidikan untuk mengoptimalkan kinerja guru di sebuah lembaga pendidikan. Melalui kepemimpinan transformasional yang tepat, setiap anggota yang ada dalam aras sistem pendidikan akan bertumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan membutuhkan model kepemimpinan transformasional yang kuat agar dapat kinerja para guru dapat optimal dan menciptakan hasil pendidikan yang baik melalui prestasi dari para guru dan peserta didik. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, khususnya melalui pendekatan wawancara mendalam terbuka dan mendalam (deep interview), penelitian ini menghasilkan temuan bahwa laju pendidikan di sekolah, sebagai lembaga pendidikan, tidak dapat dipisahkan dengan sistem kepemimpinan transformasional yang kuat, karena melalui kepemimpinan transformasional yang kuat dan tepat, optimalisasi kinerja guru dapat tercapai dan prestasi siswapun akan semakin meningkat. Optimalisasi kinerja guru yang seiring sejalan dengan prestasi siswa yang meningkat, akan menciptakan suasana sekolah sebagai tempat yang sangat kondusif untuk mengembangkan diri, baik dalam hal bekerja maupun mencapai prestasi.
Tinjauan Teodise Dalam Kitab Ayub dan Implikasi Bagi Umat Kristen di Tengah Pandemi COVID-19 Dhandi, Gabriel; Panjaitan, Firman
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 3 No 1 (2021): JIREH: Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v3i1.53

Abstract

The COVID-19 pandemic is an epidemic that is shaking the world today. Its appearance unsettled many people, as many people were affected. Like losing a job, a business goes bankrupt, many lives are lost, some countries are hit by a recession, so suffering is created. From this suffering, there are some people or groups who think that the COVID-19 pandemic arises as a result of human sins and violations against God. By using the literature study method, which departs from compiled data obtained from various books and presented in descriptive form, then the study in this article will discuss the Book of Job which describes the suffering that befell the person Job without cause. The three friends responded to Job’s personal suffering as God’s punishment for sin. But he was godly men, fearing God, and shunning evil (1:1). The results of the study of the Book of Job showed that the suffering he experienced was not because God had punished Job personally. It is because God has His own purpose for Him. Thus, it can be concluded that the emergence of the COVID-19 pandemic is not the result of human sin. Pandemi COVID-19 merupakan sebuah wabah yang mengguncangkan dunia dewasa ini. Kemunculannya membuat resah banyak orang, dimana banyak orang yang terkena dampak. Seperti kehilangan pekerjaan, usaha bangkrut, banyak nyawa yang hilang, beberapa negara terkena resesi, sehingga penderitaan pun tercipta. Dari penderitaan tersebut ada beberapa orang atau kelompok yang beranggapan bahwa pandemi COVID-19 muncul akibat dosa dan pelanggaran manusia terhadap Allah. Dengan menggunakan metode studi literatur, yang berangkat dari kompilasi data yang didapat dari berbagai buku dan disajikan dalam bentuk deskriptif, maka kajian dalam artikel ini akan membahas Kitab Ayub yang menggambarkan tentang penderitaan yang menimpa pribadi Ayub tanpa sebab. Penderitaan yang menimpa pribadi Ayub direspon oleh ketiga temannya sebagai hukuman Allah akibat dosa. Tetapi ia adalah seorang yang saleh, takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan (1:1). Hasil kajian Kitab Ayub ternyata penderitaan yang dialami bukan karena Allah menghukum pribadi Ayub. Melainkan karena Allah memiliki tujuan-Nya sendiri bagi dirinya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemunculan pandemi COVID-19 bukan akibat dari dosa manusia.
Pengakuan Dosa dalam Bilangan 21:4–9 dan Kontekstualisasinya dalam Budaya Naketi Uab Suku Dawan Boimau, Syenitesalonika H.C.; Panjaitan, Firman
MARSAHALA : Jurnal Studi Agama dan Budaya ##issue.vol## 1 ##issue.no## 1 (2025)
Publisher : L-SAPIKA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64099/zn279x63

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membentuk sebuah ritual pengakuan dosa yang kontekstual, dengan mengaitkan antara budaya lokal suku Dawan, yaitu naketi uab, dan narasi Alkitab dalam Bilangan 21:4–9. Kedua praktik ini menunjukkan kesamaan makna, yaitu tentang hukuman Allah sebagai akibat dari dosa, serta pengampunan yang tersedia bagi mereka yang bertobat dan mengaku dosa di hadapan Tuhan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan pendekatan studi pustaka dan analisis tafsir kritis terhadap teks Alkitab maupun teks budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat titik temu yang kuat antara makna budaya dan pesan teologis, sehingga ritual naketi uab dapat diisi dan dimaknai dengan nilai-nilai kekristenan, tanpa kehilangan akar budayanya. Kesimpulannya, ritual naketi uab dapat dikembangkan menjadi ritual budaya yang bernapas iman Kristen, serta berkontribusi terhadap pengembangan teologi kontekstual dan praktik ibadah yang relevan secara budaya.
Perempuan Sebagai Agen Keselamatan: Tafsir Naratif Terhadap Ester 4–5 dan 7 Panjaitan, Firman; Kusumaningdyah, Dwi Ratna
MARSAHALA : Jurnal Studi Agama dan Budaya ##issue.vol## 1 ##issue.no## 2 (2025)
Publisher : L-SAPIKA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64099/wacvj161

Abstract

Dalam konteks sosial dan religius yang masih didominasi struktur patriarkhal, pembacaan ulang terhadap tokoh perempuan dalam Kitab Suci menjadi penting untuk menegaskan kembali kontribusi perempuan dalam proses perubahan sosial dan religius. Artikel ini menganalisis transformasi tokoh Ester dalam pasal 4–5 dan 7, yaitu dari perempuan yang dibentuk oleh budaya patriarkhal–feodal menjadi aktor sentral dalam narasi penyelamatan bangsanya. Dengan menggunakan pendekatan tafsir naratif, penelitian ini mengamati alur cerita, perkembangan karakter, hubungan simbolik tokoh, dan dinamika relasi kuasa dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ester mengalami proses kesadaran kritis yang mendorongnya keluar dari posisi pasif menuju kepemimpinan yang aktif, strategis, dan terukur. Melalui kecerdasan, keberanian, diplomasi yang halus, dan kerja kolektif dengan komunitasnya, Ester berhasil membalik struktur relasi kuasa gender tanpa pendekatan konfrontatif langsung. Narasi ini sekaligus memperlihatkan kompleksitas etis dalam proses pembebasan, karena keberhasilan Ester pada akhirnya tidak terlepas dari strategi yang turut melibatkan bentuk kekerasan. Penelitian ini membuka ruang refleksi teologis mengenai relasi antara gender, kuasa, dan keselamatan, serta relevansinya bagi pembacaan kontemporer tentang agensi perempuan dalam konteks sosial-keagamaan masa kini.
Pola Hidup Anak Terang: Sebuah Tuntunan Hidup Menurut Efesus 5:7-11 Firman Panjaitan
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Predica Verbum Vol. 4 No. 1 (June) 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/predicaverbum.v4i1.90

Abstract

This study discusses the pattern of living as a child of light as revealed in Ephesians 5:7-11. This study is important, because today's phenomenon shows that many Christians do not live in self-control, and results in many Christians who have an unholy lifestyle. This unholy lifestyle will ultimately have a bad impact on the life of Christianity in general. This study uses qualitative methods with the approach of literature and textual-contextual interpretation. The results show that the pattern of living as a child of light in Ephesians 5:7-11, provides a picture of the values and morals of life that must be applied in the lives of believers today. Understanding the position of self as light in God encourages Christians not to do dark acts, because the light must produce goodness, justice and truth. Thus, the pattern of Christian life as children of light not only has an impact on the value of ethical life, but makes that life an example for the lives of others through the fruits of life produced by every Christian/believer.
PENATALAYANAN GEREJA MENURUT KISAH PARA RASUL 4:32-37 Firman Panjaitan
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 1 No. 2 (2021): December
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v1i2.75

Abstract

Sampai saat ini di dalam gereja masih juga terdapat penatalayanan yang kurang efektif di mana hanya gembala yang mengambil alih semua aspek pelayanan, akibat kurangnya pemahaman pemimpin dalam mengkoordinasi penatalayanan dalam gereja. Kepemimpinan yang menekankan kekuasaan dengan memimpin secara otoriter, juga akan berdampak buruk pada sikap bawahan. Sayangnya hal ini belum dipahami dengan baik oleh gereja-gereja yang ada. Oleh karena itu penulis tergerak untuk meneliti penatalayanan berdasarkan Kisah Para Rasul 4-32-37. Metode dalan penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan naratif guna memahami teks dan konteks. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penatalayanan berdasarkan Kisah Para Rasul 4-32-37 menunjukkan adanya pembagian tugas antara pemimpin dan anggota jemaat lainnya. Pemimpin harus mampu melibatkan anggota jemaat dalam penatalayanan gereja yang baik dan efektif . Penatalayanan memiliki peranan yang penting dalam menentukan kualitas jemaat. Penatalayanan yang diatur dengan baik akan menolong pemimpin untuk focus dalam pelayanan firman dan kesaksian, dan juga mendorong anggota jemaat menolong persoalan yang dihadapi oleh anggota jemaat lainnya. Kisah Para Rasul 4-32-37 membutktikan bahwa penatalayanan yang baik membawa kesatuan hati dan jiwa serta menumbuhkan semangan kepedulian diantara jemaat, yang melahirkan jemaat yang sejahtera dan kuat.
Tindakan Pastoral Kontekstual terhadap Praktik Jual-Beli Tanah di Sumba Firman Panjaitan; Marianus Nangi Kewa
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 3 No. 1 (2023): June
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v3i1.184

Abstract

Penelitian ini bertujuan hendak mengulik pergumulan yang terjadi dewasa ini di tengah masyarakat Sumba, khususnya mengenai maraknya penjualan tanah yang dilakukan oleh masyarakat Sumba kepada para pendatang. Hal ini bisa terjadi karena tidak adanya pemahaman yang benar tentang arti dan makna teologis, baik secara Alkitabiah maupun melalui agama/religi Marapu, yang dimiliki oleh masyarakat Sumba. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang dijabarkan melalui pendekatan netnografi dan pembacaan lintas tekstual, penelitian ini menghasilkan temuan bahwa dalam pandangan Alkitabiah maupun agama Marapu ditemukan ajaran tentang kesatuan yang mutlak antara Allah, manusia dengan tanah. Di satu sisi hidup manusia dan tanah senantiasa ada dalam kait kelindan dan keduanya saling bergantung satu sama lain, dan di sisi lain hidup manusia dan tanah sangat bergantung kepada Allah. Masyarakat Sumba harus memahami hal ini, sehingga pemahaman yang benar tentang tanah yang ditinjau secara Teologi melalui sudut pandang Alkitab dan agama Marapu (budaya Sumba) harus dimiliki oleh masyarakat Sumba. Dengan demikian masyarakat Sumba tidak akan mudah untuk menjual tanah mereka, sebagai bentuk kepatuhan mereka kepada Allah (Marapu, Sang Khalik)
LUDRUK SEBAGAI MEDIA MENGABARKAN MISI KERAJAAN ALLAH DI LINGKUP GREJA KRISTEN JAWI WETAN Dwi Ratna Kusumaningdyah; Firman Panjaitan
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 1 (2023): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i1.356

Abstract

This study aims to explain ludruk culture as a means to preach the mission of the Kingdom of God in the scope of Jawi Wetan Christian Church (GKJW). Generally, the play/story ludruk revolves around social criticism of people's lives, with the aim of improvement in the lives of these people. Using the qualitative – descriptive method, this study shows the intersection point in the story ludruk with the mission of the Kingdom of God, so that ludruk can be used as a cultural foundation to bring the mission of the Kingdom of God on Earth East Java. The results showed that ludruk and the mission of the Kingdom of God are an appropriate synergy for GKJW to preach the mission of the Kingdom of God.
KEPEDULIAN SOSIAL KEPADA ORANG MISKIN: Tafsir Rut 2:1-23 dan Implikasinya bagi Gereja Johan Christiawan; Firman Panjaitan
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.254

Abstract

Social disparities rooted in structural injustices continue to pose significant challenges, most clearly visible in the uneven distribution of opportunities and access to essential resources. This situation underscores the urgency for an ethical response grounded in genuine social concern, particularly for individuals experiencing poverty. The central question of this study is: In what ways can the narrative of Boaz and Ruth (Ruth 2:1–23) offer a theological basis for the church in addressing social inequality? Utilizing a descriptive qualitative approach supported by narrative analysis and a deductive framework, this research investigates the narrative’s structure and thematic significance. The results indicate that Boaz’s gracious conduct toward Ruth—a marginalized, impoverished foreigner—embodies principles of compassion, justice, and human dignity that surpass legal expectations. These findings highlight the church’s calling to promote social transformation through ministries that advocate for the poor. Ultimately, Boaz’s example provides theological motivation for the church to embody Christ’s love tangibly and to extend hope to marginalized groups. AbstrakKesenjangan sosial sebagai akibat ketidakadilan struktural terus menjadi tantangan serius, terutama terlihat dalam akses yang timpang terhadap sumber daya dan peluang. Kondisi ini menegaskan kebutuhan akan respons moral berupa kepedulian sosial, khususnya bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan. Penelitian ini bertanya, “Bagaimana kisah Boas dan Rut (Rut 2:1-23) dapat memberikan landasan teologis bagi gereja dalam merespons kesenjangan sosial?” Menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui analisis naratif dengan pendekatan deduktif, penelitian ini menelaah struktur dan makna kisah tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa tindakan Boas yang penuh belas kasih terhadap Rut—seorang perempuan miskin dan asing—mencerminkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kasih yang melampaui tuntutan hukum. Temuan ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi agen perubahan sosial melalui pelayanan yang berpihak pada kaum miskin dan menjunjung martabat manusia. Kesimpulannya, teladan Boas memberikan inspirasi teologis bagi gereja untuk memanifestasikan kasih Kristus secara konkret dan menghadirkan harapan bagi kelompok yang terpinggirkan.Kata-kata Kunci: Boas dan Rut, Gereja, Kepedulian Sosial, Rut 1:1-23