This Author published in this journals
All Journal Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya GEMA TEOLOGIKA : Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Kurios Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) VISIO DEI: JURNAL TEOLOGI KRISTEN Pengarah: Jurnal Teologi Kristen Manna Rafflesia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi Jurnal Amanat Agung JURNAL TERUNA BHAKTI Studia Philosophica et Theologica Tumou Tou EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Shift Key: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Vox Dei : Jurnal Teologi dan Pastoral Kinaa: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Mahabbah: Journal of Religion and Education IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Ra'ah Predica Verbum Sabda : Jurnal Teologi Kristen KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Melo: Jurnal Studi Agama-agama Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Jurnal Apokalupsis Voice of HAMI JURNAL MISIONER MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Rerum: Journal of Biblical Practice Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Tevunah: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Marsahala:Jurnal Studi Agama dan Budaya
Claim Missing Document
Check
Articles

Spiritualitas Kenosis: Tantangan dan Tuntutan untuk Mewujudkan Gereja Kaum Miskin Di Tengah Budaya Jawa Kusumaningdyah, Dwi Ratna; Panjaitan, Firman
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.599

Abstract

Fenomena kemiskinan menjadi masalah yang tidak dapat dihindari oleh gereja, dan gereja pun tidak dapat mengabaikan fenomena ini. Gereja harus merengkuh kemiskinan sehingga menjadi bagian dari kehidupan gereja secara utuh. Hambatan utama perengkuhan gereja terhadap kemiskinan adalah strata sosial masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, yang bersifat hierarki. Pembagian kelompok dalam hierarki masyarakat, seringkali memupus habis empati terhadap kemiskinan. Berdasarkan hal ini, tujuan dari penelitian ini adalah membangun sebuah upaya agar gereja dapat merengkuh kemiskinan yang diwujudkan dalam bentuk gereja kaum miskin. Sarana utama dalam merengkuh kemiskinan adalah spiritualitas kenosis (pengosongan diri), yang dihasilkan dari sinergi antara kenosis Yesus Kristus, dalam Injil, dengan kenosis Semar dan Togog, dalam pemahaman budaya Jawa. Dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya dengan pendekatan kepustakaan, penelitian ini menghasilkan bahwa gereja kaum miskin dapat dibangun bila gereja memiliki spiritualitas kenosis. Dengan spiritualitas kenosis, gereja bukan hanya merengkuh kemiskinan melainkan juga masuk, melibatkan diri, dan menjadi bagian langsung dari kemiskinan itu, sehingga setiap anggota jemaat yang ada di dalam gereja, meskipun mereka berasal dari latar belakang sosial yang berbeda, hidup dalam pola kesejajaran yang bersifat egaliter.
The church between poverty and welfare in the perspective of Jeremiah 29: 7 Boimau, Syenitesalonika H.C.; Panjaitan, Firman
Jurnal Apokalupsis Vol 15 No 2 (2024): Jurnal Apokalupsis
Publisher : STT Internasional Harvest Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52849/apokalupsis.v15i2.210

Abstract

Kemiskinan struktural, yang merupakan bentuk kemiskinan akibat ketidakadilan sosial, saat ini menjadi fenomena yang berkembang dalam kehidupan. Ketidakadilan sosial yang berupa penindasan, penjajahan, dan dominasi kelompok yang lebih kuat terhadap kelompok yang lebih lemah merupakan sebuah isu yang memprihatinkan. Dalam konteks inilah gereja hadir di dunia, yang berarti gereja juga berada di tengah-tengah masalah kemiskinan struktural ini. Sebagai lembaga dengan misi membawa perdamaian Kerajaan Allah, gereja tidak boleh mengabaikan fenomena kemiskinan tersebut. Gereja harus bertindak dan mengambil sikap sesuai dengan misinya untuk menghadapi situasi yang memprihatinkan ini. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi peran gereja sebagai agen perubahan sosial yang berpihak pada kemiskinan demi tercapainya kesejahteraan umat. Alat yang digunakan untuk menunjukkan peran gereja dalam mengatasi kemiskinan ini adalah Yeremia 29:7. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan pendekatan studi pustaka dan eksegesis kritik teks terhadap Yeremia 29:7. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pemahaman yang benar dan mendalam terhadap Yeremia 29:7, gereja dapat mengembangkan strategi yang nyata untuk mewujudkan kesejahteraan umat, sehingga gereja selalu berada di pihak yang berpihak pada kemiskinan.
Jalan Salib sebagai Dasar Pendidikan Kristen: Upaya Mengimplementasikan Pendidikan Kristen dalam Realitas Sosial di Indonesia Panjaitan, Firman
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2024): HaratiJPK: Oktober
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/harati.v4i2.206

Abstract

This study intends to analyze the role of Christian education to the existing social reality, especially the problem of poverty and injustice, in Indonesia. The problem of poverty and injustice in Indonesia is a problem that must be considered. Therefore, educational institutions, especially Christian education, should be able to develop a form of education that is not just make smart learners intellectually (only transfer of knowledge) but is able to provide intelligence holistically, so that learners have intelligence as well as sensitivity to existing social situations. By using qualitative methods, with the approach of literature studies, this study resulted in a conclusion that Christian education should foster contextual spirituality which is based on the way of the cross, because the way of the cross opens up new perspectives for suffering with everyone who suffers. Thus the way of the cross, as a contextual spirituality, opens awareness and fosters empathy to engage directly in every social reality in Indonesia, thus creating efforts to minimize suffering due to poverty and injustice.
Konsep Serta Makna Sunat Menurut Perjanjian Lama dan Kaitannya dengan Kesehatan Secara Medis Gephta, Hendra; Panjaitan, Firman
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 4, No 2 (2022): Februari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.184 KB) | DOI: 10.59830/voh.v4i2.46

Abstract

Circumcision is a crucial issue to be discussed and discussed, especially when trying to explain the meaning of the People of God in the Old Testament. Circumcision is a sign of the Covenant (berith) that God required for the Israelites, which began when God established the Covenant with Abraham. However, circumcision does not only have this definition but has a broader meaning. By using qualitative research methods, especially with a literary approach, this article shows that in its development circumcision does not just talk about the characteristics and requirements of being God's people, but also becomes a measure of cleanliness that needs to be maintained by God's people. Cleanliness is meant here not only physical cleanliness, but also spiritual cleanliness. Thus, circumcision is necessary to maintain cleanliness and physical health as well as spiritual cleanliness, as ordered by the Old Testament.
Merdeka Belajar dan Teologi Pembebasan: : Analisis Komparatif atas Nilai-nilai dan Praktiknya dalam Pendidikan Tinggi Teologi Bella, Wesli Irma Desniati; Panjaitan, Firman
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i2.91

Abstract

Abstract: This study analyzes the integration between Freedom of Learning and Liberation Theology in the context of Theological Higher Education in Indonesia. In the midst of complex social, political, and economic challenges, Theological Higher Education is required to be more responsive to the needs of the community. Freedom of Learning offers a new paradigm that emphasizes curriculum flexibility and student autonomy, while Liberation Theology focuses on social justice and liberation from oppression. This study aims to evaluate the potential integration of these two approaches in curriculum design and learning practices, as well as identify challenges that may arise. The research method used is qualitative with comparative analysis design, which involves the analysis of policy documents, curriculum, and academic literature. The findings suggest that this integration can create a more inclusive, critical, and transformative theological education. Students are empowered to take an active role in learning through social projects and participatory learning. However, the challenges of resistance to change and resource constraints must be overcome to achieve successful integration. This research is expected to contribute to the development of Theological Higher Education curriculum that is more relevant and responsive to social dynamics. Abstrak: Penelitian ini menganalisis integrasi antara merdeka belajar dan teologi pembebasan dalam konteks Pendidikan Tinggi Teologi di Indonesia. Di tengah tantangan sosial, politik, dan ekonomi yang kompleks, Pendidikan Tinggi Teologi dituntut untuk menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Merdeka belajar menawarkan paradigma baru yang menekankan fleksibilitas kurikulum dan otonomi mahasiswa, sementara teologi pembebasan berfokus pada keadilan sosial dan pembebasan dari penindasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi integrasi kedua pendekatan ini dalam desain kurikulum dan praktik pembelajaran, serta mengidentifikasi tantangan yang mungkin muncul. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain analisis komparatif, yang melibatkan analisis dokumen kebijakan, kurikulum, dan literatur akademik. Temuan menunjukkan bahwa integrasi ini dapat menciptakan pendidikan teologi yang lebih inklusif, kritis, dan transformatif. Mahasiswa diberdayakan untuk mengambil peran aktif dalam pembelajaran melalui proyek sosial dan pembelajaran partisipatif. Namun, tantangan resistensi terhadap perubahan dan keterbatasan sumber daya harus diatasi untuk mencapai keberhasilan integrasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk pengembangan kurikulum Pendidikan Tinggi Teologi yang lebih relevan dan responsif terhadap dinamika sosial
PENINGKATAN KEDISIPLINAN ANAK DENGAN POLA ASUH YANG TEPAT MENURUT IBRANI 12:5-11 Panjaitan, Firman
Shift Key : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol. 12 No. 1 (2022): Regular Issue, Volume 12 Number 1 (2022)
Publisher : P3M STT Kristus Alfa Omega

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37465/shiftkey.v12i1.205

Abstract

This study discusses parental education in disciplining children in Hebrews 12:5-11. There are errors in parenting patterns in disciplining children, causing acts of violence in the family, and this has a bad impact on children which is reflected in bad and difficult child behavior. Parents must understand the how to discipline their children properly and correctly based on the truth of God's Word. This study uses a qualitative method, especially a literature study approach, which is to collect data for analysis and is assisted by exposition approach to find the meaning in Hebrews 12:5-11. The results of the study revealed that the act of educating children is evidence of parental love, so parents must warn their children. If in disciplining children, there is an action to punish the child, then it is intended to bring good to the child; thus discipline is not to hurt but to give peace. The concept of education in the form of discipline, punishment, and instruction is aimed at shaping children's character for the better. Thus, the purpose of this study is to find the best way to discipline children, especially through the study of the interpretation of Hebrews 12:5-11.
HUTAN ADALAH IBU BAGI MANUSIA: Titik Jumpa Ekoteologis antara Kejadian 1:28 dengan Suku Wate Panjaitan, Firman; Mandowen, Silas Dismas Yoel
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 3 No 1 (2023): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v3i1.135

Abstract

This study aims to show the importance of human awareness of the problems that are currently being experienced by the earth, and the importance of human involvement in this increasingly alarming condition of the earth. In particular, this research will bring together the understanding of ecology in the text of Genesis 1:28 with the cultural text of the Wate tribe. Qualitative-Descriptive method that departs from the data will be a tool in this research equipped with a cross-textual reading approach, especially in an effort to compare the two texts above to find similarities and differences between the two texts, then evaluate them to build a contextual theological view that can be accounted for biblically and culturally. The results show that basically humans and the universe have a relationship that cannot be separated, where the existence of the two need each other. Nature needs humans to maintain its integrity, and humans need nature as a source of providing their needs. This theology is a form of contextual theology that is biblical as well as a cultural message. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukan pentingnya kesadaran manusia akan masalah yang sedang di alami bumi saat ini, dan pentingnya keterlibatan manusia terhadap kondisi bumi yang semakin memprihatinkan ini. Secara khusus penelitian ini akan mempertemukan pemahaman tentang ekologi dalam teks Kejadian 1:28 dengan teks budaya suku Wate. Metode Kualitatif-Deskriptif yang berangkat dari data akan menjadi perangkat dalam penelitian ini dilengkapi dengan pendekatan pembacaan lintas tekstual, khususnya dalam upaya membandingkan kedua teks di atas untuk menemukan kesamaan dan perbedaan kedua teks, lalu mengevaluasinya untuk membangun sebuah pandangan teologis yang kontekstual, yang dapat dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah dan budaya. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada dasarnya manusia dan alam semesta memiliki suatu relasi yang tidak bisa di pisahkan, dimana keberadaan dari keduanya saling membutuhkan. Alam memerlukan manusia untuk menjaga keutuhannya, dan manusia membutuhkan alam sebagai sumber penyedia kebutuhannya. Teologi seperti ini merupakan bentuk teologi kontekstual yang Alkitabiah sekaligus menjadi pesan budaya.
Peran Kepemimpinan Transformasional dalam Mengoptimalkan Kinerja Guru di Lembaga Pendidikan Masa Kini Kaudin, Elyes Sasep; Panjaitan, Firman
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v5i2.339

Abstract

Transformational leadership systems in educational institutions are needed to optimize teacher performance so that the education system can be developed. Through proper transformational leadership, every member of the education system will grow and develop in line with expectations. Therefore, every educational institution needs a strong transformational leadership model in order to optimize the performance of teachers and create good educational outcomes through the achievements of teachers and learners. By using descriptive qualitative methods, especially through the approach of open and in-depth interviews (deep interview), this study resulted in the finding that the pace of education in schools, as educational institutions, can not be separated with a strong transformational leadership system, because through a strong and appropriate transformational leadership, optimization of teacher performance can be achieved and student achievement will increase. Optimization of teacher performance along with increased student achievement, will create a school atmosphere as a very conducive place to develop themselves, both in terms of work and achievement. AbstrakTujuan dari studi ini adalah menunjukkan peran dari sistem kepemimpinan transformasional di lembaga pendidikan untuk mengoptimalkan kinerja guru di sebuah lembaga pendidikan. Melalui kepemimpinan transformasional yang tepat, setiap anggota yang ada dalam aras sistem pendidikan akan bertumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan membutuhkan model kepemimpinan transformasional yang kuat agar dapat kinerja para guru dapat optimal dan menciptakan hasil pendidikan yang baik melalui prestasi dari para guru dan peserta didik. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, khususnya melalui pendekatan wawancara mendalam terbuka dan mendalam (deep interview), penelitian ini menghasilkan temuan bahwa laju pendidikan di sekolah, sebagai lembaga pendidikan, tidak dapat dipisahkan dengan sistem kepemimpinan transformasional yang kuat, karena melalui kepemimpinan transformasional yang kuat dan tepat, optimalisasi kinerja guru dapat tercapai dan prestasi siswapun akan semakin meningkat. Optimalisasi kinerja guru yang seiring sejalan dengan prestasi siswa yang meningkat, akan menciptakan suasana sekolah sebagai tempat yang sangat kondusif untuk mengembangkan diri, baik dalam hal bekerja maupun mencapai prestasi.
Pola Hidup Anak Terang: Sebuah Tuntunan Hidup Menurut Efesus 5:7-11 Panjaitan, Firman
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Predica Verbum Vol. 4 No. 1 (June) 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/predicaverbum.v4i1.90

Abstract

This study discusses the pattern of living as a child of light as revealed in Ephesians 5:7-11. This study is important, because today's phenomenon shows that many Christians do not live in self-control, and results in many Christians who have an unholy lifestyle. This unholy lifestyle will ultimately have a bad impact on the life of Christianity in general. This study uses qualitative methods with the approach of literature and textual-contextual interpretation. The results show that the pattern of living as a child of light in Ephesians 5:7-11, provides a picture of the values and morals of life that must be applied in the lives of believers today. Understanding the position of self as light in God encourages Christians not to do dark acts, because the light must produce goodness, justice and truth. Thus, the pattern of Christian life as children of light not only has an impact on the value of ethical life, but makes that life an example for the lives of others through the fruits of life produced by every Christian/believer.
Tinjauan Teodise Dalam Kitab Ayub dan Implikasi Bagi Umat Kristen di Tengah Pandemi COVID-19 Dhandi, Gabriel; Panjaitan, Firman
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 3 No 1 (2021): JIREH: Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v3i1.53

Abstract

The COVID-19 pandemic is an epidemic that is shaking the world today. Its appearance unsettled many people, as many people were affected. Like losing a job, a business goes bankrupt, many lives are lost, some countries are hit by a recession, so suffering is created. From this suffering, there are some people or groups who think that the COVID-19 pandemic arises as a result of human sins and violations against God. By using the literature study method, which departs from compiled data obtained from various books and presented in descriptive form, then the study in this article will discuss the Book of Job which describes the suffering that befell the person Job without cause. The three friends responded to Job’s personal suffering as God’s punishment for sin. But he was godly men, fearing God, and shunning evil (1:1). The results of the study of the Book of Job showed that the suffering he experienced was not because God had punished Job personally. It is because God has His own purpose for Him. Thus, it can be concluded that the emergence of the COVID-19 pandemic is not the result of human sin. Pandemi COVID-19 merupakan sebuah wabah yang mengguncangkan dunia dewasa ini. Kemunculannya membuat resah banyak orang, dimana banyak orang yang terkena dampak. Seperti kehilangan pekerjaan, usaha bangkrut, banyak nyawa yang hilang, beberapa negara terkena resesi, sehingga penderitaan pun tercipta. Dari penderitaan tersebut ada beberapa orang atau kelompok yang beranggapan bahwa pandemi COVID-19 muncul akibat dosa dan pelanggaran manusia terhadap Allah. Dengan menggunakan metode studi literatur, yang berangkat dari kompilasi data yang didapat dari berbagai buku dan disajikan dalam bentuk deskriptif, maka kajian dalam artikel ini akan membahas Kitab Ayub yang menggambarkan tentang penderitaan yang menimpa pribadi Ayub tanpa sebab. Penderitaan yang menimpa pribadi Ayub direspon oleh ketiga temannya sebagai hukuman Allah akibat dosa. Tetapi ia adalah seorang yang saleh, takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan (1:1). Hasil kajian Kitab Ayub ternyata penderitaan yang dialami bukan karena Allah menghukum pribadi Ayub. Melainkan karena Allah memiliki tujuan-Nya sendiri bagi dirinya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemunculan pandemi COVID-19 bukan akibat dari dosa manusia.