Claim Missing Document
Check
Articles

Pelaksanaan Keringanan Beban Serta Pembebasan Pembayaran Pajak Bumi Dan Bangunan Sesuai Kemampuan Wajib Pajak Erliyana, Anna
Jurnal Hukum & Pembangunan
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract
Keberadaan Badan Peradilan Pajak Suatu Tinjauan Yuridis-Konstitusional Erliyana, Anna
Jurnal Hukum & Pembangunan
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract
Judicial Control Terhadap Kewenangan Administrasi Negara Tinjauan Aspek Liability (Tanggung Jawab) Dan Remedy (Pemulihan / Ganti Rugi) Erliyana, Anna
Jurnal Hukum & Pembangunan
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract
Pengembangan Sumber Pajak-Pajak Daerah Erliyana, Anna
Jurnal Hukum & Pembangunan
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract
Konsekuensi Keberlakuan Hukum Militer pada Subjek Hukum yang Berdasarkan Undang-Undang Dipersamakan dengan Militer Parluhutan Sagala; Ilman Hadi; Anna Erliyana; Arief Fahmi Lubis
Jurnal Legislasi Indonesia Vol 22, No 4 (2025): Jurnal Legislasi Indonesia - Desember 2025
Publisher : Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undang, Kementerian Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54629/jli.v22i4.1654

Abstract

Suatu negara sebagai entitas membutuhkan cara untuk mempertahankan eksistensinya sebisa mungkin dari kemampuan sendiri. Militer nasional dibentuk untuk melaksanakan tugas pertahanan negara. Pada umumnya, yang disebut sebagai militer hanyalah prajurit aktif dan organik dari militer. Kemudian, muncul golongan orang yang dipersamakan dengan militer berdasarkan undang-undang. Indonesia pada masa Presiden Soekarno pernah menerapkan wajib militer karena menginginkan keterlibatan aktif rakyat yang lebih besar dalam angkatan bersenjata. Perkembangan saat ini, terdapat juga golongan orang yang dipersamakan dengan militer yaitu prajurit siswa, militer tituler, dan warga negara yang dimobilisasi sebagai pasukan komponen cadangan. Bertambah dan meluasnya golongan orang yang dipersamakan sebagai militer memiliki dampak terhadap keberlakuan hukum militer, karena mereka termasuk kedalam subjek hukum militer. Hukum militer memiliki cakupan dan pengertian yang luas. Kementerian Pertahanan dalam hal ini memiliki kewajiban untuk membina dan mengembangkan hukum militer di Indonesia untuk semua subjek hukum militer.
The Legality of the Living Law in the New Indonesian Penal Code Ferry Fathurokhman; Anna Erliyana; Ali Masyhar; Mutiara Dwi Sari; Iren Sudarya
Lex Scientia Law Review Vol. 10 No. 1 (2026): Legal Reform, Human Rights Protection, and Judicial Innovation in Contemporary
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lslr.v10i1.29908

Abstract

Since the Netherland introduced a Penal Code, The Indonesian people are required to rely on the principle of legality as the primary source of law in determining criminal offences. The old penal code does not allow living law to function as an independent source of law. On January 2nd, 2023, the new Indonesian Penal Code was finally established, which will enter into force within three years after its issuance. The provision of living law in the new Indonesian penal code is formulated in article 2. In its first verse, it is written that “provisions, as referred to Article 1 (legality principle), does not negate the validity of the law that live in a society which stipulates that someone deserves to be punished even though the act is not regulated in this Law." In the explanation section, it is stated that “law that lives in society” (living law) refers to Adat Law, which should be codified through Regional Regulations (Peraturan Daerah). This raises two issues: first, it confines the concept of living law solely to Adat Law; second, it requires Adat Law to be formalized in the form of regional legislation. If Adat Law must be regulated through Regional Regulations, the necessity of Article 2 becomes questionable. The purpose of recognizing living law is to address gaps in legal principles that cannot always keep pace with a rapidly changing society.
Co-Authors Abdalla Jouf, Haekal Afif Juniar Ahmad Haidar Muiny Ali Masyhar Alvayedo, Muhammad Brillyan Andi Hugeng Andie Hevriansyah Andie Hevriansyah Andreas Sulardi Anjas Rinaldi Siregar Arief Fahmi Lubis Armand Desprairies Asimah, Dewi Atmaja, A.P. Edi Audrey G Tangkudung Audrey Tangkudung Barokah, Muhamad Raziv Clarissa, Gavinela Dampaka, Yaka Dewi, Lia Riesta Dian Puji Simatupang Dian Utami Mas Bakar, Dian Utami Dzikry Gaosul Ashfiya Edmon Makarim Elfrieda Anggi Basamarito Erma Yustiyah Fahmi Ramadhan Firdaus Ferry Fathurokhman Geraldi Fauzi, Muhammad Alifian Happy Hayati Helmi Happy Hayati Helmi Ilman Hadi Indah Mutiara Sari Indra Wahyu Bintoro Iren Sudarya Jassinta, Melani Aulia Putri Khalid Dahlan Khaliza Fauzi, Maghfira Nur Lidya Rahmawati Luh Rina Apriani Marvin, Renius Albert Moch Chafid Moch Chafid Muhammad Ali Hasan Muhammad Alifian Geraldi Fauzi Mustikaningsih, Rahmah Mutiara Mutiara Dwi Sari Nico Handoko Utama Nisrina, Virihana Widad Paramita Ersan Parluhutan Sagala Paulus Rudy Calvin Sinaga Puteri Anggun Amirillis Putri Aprilia Anggraini Putri Wanda Nisyah Bela Rahmah Mutiara Mustikaningsih Rahman Ruslan, Arief Reydonaldo Thomas Sidabutar Samuel Ivander Aritonang Saragih, Yessi Nadia Giatma Setyawan, Yhannu Siagian, Lowrenszya Siti Labiba Fathin Siti Rahmaniah Jamaluddin Sjarif, Fitriani Ahlan Suha Qoriroh Sukma, Ahmad Novindri Aji Sukri, Indah Fitriani Syafri Hariansah Syafrijal Latief Wahyu Ardiansyah wili utama, Alif Winanta, Rendro Prastyan Yunita Nurwulantari Yustiyah, Erma