Sri Endah Rahayuningsih
Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung

Published : 44 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Terapi Nonsteroid Anti Inflammatory Drug pada Bayi Prematur dengan Duktus Arteriosus Persisten Sri Endah Rahayuningsih; Nono Sumarna; Armijn Firman; Yunita Sinaga
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.71-4

Abstract

Duktus arteriosus persisten (DAP) adalah penyakit jantung bawaan yang terjadi pada 9-12 % dari seluruh pasien penyakit jantung bawaan. Insidens DAP lebih tinggi pada bayiprematur, keadaan ini berhubungan dengan maturitas bayi. Penutupan duktus arteriosuspersisten pada bayi prematur tidak selalu memerlukan terapi bedah, tetapi dapat denganpemberian indometasin dan ibuprofen. Penelitian penelitian yang telah dilakukanmenunjukkan bahwa ibuprofen mempunyai efek samping obat lebih sedikit dibandingkandengan indometasin, sehingga ibuprofen dapat digunakan sebagai terapi DAP pada bayiprematur
Perbedaan Myocardial Performance Index-Tissue Doplpler Imaging Ventrikel Kanan pada Bayi Kurang Bulan dan Bayi Cukup Bulan Ineu Nopita; Dedi Rachmadi; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.061 KB) | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.105-10

Abstract

Latar belakang.Bayi kurang bulan merupakan masalah di negara maju maupun negara berkembang. Pada bayi kurang bulan tahanan vaskular paru masih tinggi, sehingga tekanan di ventrikel kanan tinggi. Pengukuran fungsi ventrikel kanan sulit dilakukan dengan ekokardiografi standar karena bentuk geometri ventrikel kanan yang berbentuk “bulan sabit” dan trabekuler yang kasar.Myocardial performance index tissue doppler imaging (MPI-TDI) adalah cara pengukuran fungsi ventrikel kanan yang baru dikembangkan, merupakan penilaian fungsi ventrikel kanan pada fetus, anak, dan dewasa dengan berbagai penyakit jantung. Tujuan.Menilai apakah MPI-TDI pada bayi cukup bulan lebih tinggi dibandingkan dengan kurang bulan dan bagaimana korelasi antara MPI-TDI dan usia kehamilan.Metode.Penelitian dilakukan terhadap 36 bayi (17 bayi kurang bulan dan 19 bayi cukup bulan), berusia kehamilan 33–42 minggu, yang menjalani pemeriksaan MPI-TDI dengan menggunakan ekokardiografi, di Instalasi Pelayanan Jantung RS Dr. Hasan Sadikin periode Juli–Oktober 2010 dengan rancangan potong lintang. Analisis statistik yang digunakan adalah one wayANOVA untuk menilai perbedaan MPI-TDI bayi cukup bulan dan kurang bulan serta uji korelasi rankSpearman untuk menilai korelasi antara MPI-TDI dan usia kehamilan dengan kemaknaan hasil uji bila didapatkan p<0,05.Hasil.Didapatkan rerata MPI-TDI untuk bayi usia kehamilan <34 minggu adalah 0,31 (0,03), bayi usia kehamilan 34–36 minggu 0,32 (0,03) dan bayi usia kehamilan >37 minggu adalah 0,30 (0,03) (p=0,03). Nilai korelasi antara MPI-TDI dan usia kehamilan adalah (0,24) dengan nilai p=0,378. Kesimpulan.Didapatkan perbedaan MPI-TDI ventrikel kanan antara bayi kurang bulan dan cukup bulan. Tidak ada korelasi antara MPI TDI dan usia kehamilan.
Korelasi antara Neutrophil-Lymphocyte Ratio dan NT-proBNP pada Pasien Gagal Jantung Anak Akibat Penyakit Jantung Rematik Syahradian Hasbrima; Sri Endah Rahayuningsih; Dany Hilmanto
Sari Pediatri Vol 23, No 3 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.3.2021.191-6

Abstract

Latar belakang. Penyakit jantung rematik (PJR) merupakan penyebab paling sering gagal jantung anak didapat terutama di negara berkembang. Pemeriksaan penanda gagal jantung seperti N-terminal pro brain natriuretic peptide (NT-proBNP) dapat membantu dalam melakukan diagnosis. Neutrophil-lymphocyte ratio (NLR) merupakan penanda inflamasi yang mudah dilakukan dan sudah digunakan dalam berbagai penyakit kronis.Tujuan. Mengetahui korelasi antara nilai NLR dengan kadar NT-proBNP pada pasien gagal jantung anak akibat PJR.Metode. Penelitian analitik observasional dengan studi potong lintang. Data berasal dari register gagal jantung anak akibat penyakit jantung rematik Divisi Kardiologi Departemen/KSM Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2020 dan sampel BBT penelitian sebelumnya. Populasi penelitian ini adalah anak berusia <18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Kadar NT-proBNP diperiksa menggunakan ELISA Kit Elabscience Catalog No: E-EL-H0902. Analisis korelasi dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman dengan aplikasi SPSS 22.Hasil. Total subjek penelitian 34 anak dengan usia median 14 tahun. Subjek penelitian paling banyak terdapat pada kelompok usia 11-<16 tahun (65%). Sebanyak 23 (67%) subjek berada pada derajat gagal jantung ringan berdasarkan klasifikasi NYHA kelas I-II. Keterlibatan katup paling banyak mencakup kerusakan katup mitral dan aorta. Peningkatan kadar NT-proBNP terdapat pada 18 subjek (53%). Rata-rata nilai NT-proBNP adalah 388,09 pg/ml (20-2500 pg/ml) dan NLR 1,79 (0,57-5,27). Hasil analisis korelasi antara NLR dan NT-proBNP menunjukkan tidak terdapat korelasi dengan nilai r=0,054 (p=0,382).Kesimpulan. Penelitian ini tidak menemukan korelasi antara nilai NLR dan kadar NT-proBNP pada pasien gagal jantung anak akibat PJR.
Korelasi Nilai CD4 dengan Left Ventricular Mass Index pada Anak dengan Infeksi Human Immunodeficiency Virus Rizki Ayu Rizal; Sri Endah Rahayuningsih; Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 22, No 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.1.2020.37-42

Abstract

Latar belakang. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan masalah kesehatan anak di beberapa negara. Pemeriksaan kadar CD4 adalah parameter terbaik untuk mengukur imunodefisiensi. Jantung sebagai salah satu organ yang dapat menjadi sumber morbiditas dan mortalitas pada pasien HIV belum menjadi perhatian khusus. Tujuan. Untuk mengetahui korelasi nilai CD4 dengan left ventricular mass index pada anak dengan infeksi HIV. Metode. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang di klinik Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin bulan Januari 2020. Populasi penelitian ini adalah anak terdiagnosis HIV berusia >5 – <18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis korelasi antara CD4 dan LVMI dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil. Kami melakukan pemeriksaan ekokardiografi pada 62 anak, dua anak memenuhi kriteria eksklusi berupa penyakit jantung bawaan, dan kelainan katup. Nilai CD4 absolut adalah 822 ± 380 sel/mm3. Korelasi negatif terjadi antara nilai CD4 dengan LVMI, tetapi tidak signifikan (r=-0,050, p=0,377).Kesimpulan. Abnormalitas kardiovaskular dapat terjadi pada anak HIV. Pada penelitian ini, nilai CD4 tidak berhubungan dengan peningkatan LVMI pada anak HIV, tetapi pemeriksaan ekokardiografi merupakan teknik yang berguna untuk mendeteksi abnormalitas kardiovaskular pada anak HIV.
Korelasi Jumlah Cluster of Differentiation 4 dengan Fungsi Ventrikel Kanan pada Anak Terinfeksi Human Immunodeficiency Virus Henry Leo; Sri Endah Rahayuningsih; Sri Sudarwati; Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 22, No 4 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.4.2020.197-202

Abstract

Latar belakang. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan salah satu penyakit menular yang dapat memengaruhi kesakitan dan kematian pada anak. Pemeriksaan kadar CD4 adalah parameter terbaik untuk mengukur imunodefisiensi serta petunjuk progresivitas penyakit. Manifestasi kardiovaskular yang sering terjadi pada anak dengan infeksi HIV, antara lain, disfungsi ventrikel kanan dan hipertensi pulmonal. Kelainan ventrikel kanan pada pasien dengan HIV belum banyak diteliti secara luas.Tujuan. Untuk mengetahui korelasi antara jumlah CD4 dengan fungsi ventrikel kanan pada anak terinfeksi HIV.Metode. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang di klinik Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin bulan Januari-Februari 2020. Populasi adalah anak terdiagnosis HIV berusia 5–<18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Pengukuran fungsi ventrikel kanan diukur dengan tricuspid annular plane systolic excursion (TAPSE) secara ekokardiografi. Analisis korelasi antara CD4 dengan TAPSE dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil. Ekokardiografi dilakukan pada 62 anak terinfeksi HIV, dua anak dieksklusi karena memiliki penyakit jantung bawaan dan kelainan katup. Tidak ada korelasi antara CD4 dengan TAPSE (r=0,122, p>0,05). Terdapat korelasi positif lemah antara usia dan lama terapi ARV dengan TAPSE (r=0,371 dan 0,271, p<0,05).Kesimpulan. Abnormalitas kardiovaskular dapat terjadi pada anak dengan infeksi HIV walaupun dapat bersifat asimptomatik. Pada penelitian ini nilai CD4 tidak berkorelasi dengan adanya penurunan fungsi ventrikel kanan, tetapi usia dan lama terapi berkorelasi positif dengan fungsi ventrikel kanan. 
Manifestasi Klinis dan Fungsi Ventrikel pada Kardiomiopati Dilatasi Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.403-8

Abstract

Latar belakang. Kardiomiopati dilatasi merupakan kelainan miokardium yang memiliki angka harapanhidup 5 tahun yang semakin rendah dengan manifestasi klinis bervariasi. Fungsi kedua fungsi ventrikeldapat dinilai melalui ekokardiografi..Tujuan. Mengetahui hubungan manifestasi klinis dengan fungsi ventrikel pada kardiomiopati dilatasiMetode. Penelitian deskriptif analitik dengan data berdasarkan rekam medis dan data ekokardiografi pasienkardiomiopati dilatasi di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari2008–Desember 2012. Penilaian fungsi jantung melalui ekokardiografi dengan penentuan fraksi ejeksi(ventrikel kiri) dan penilaian tricuspid annular plane systolic excursion (TAPSE) (ventrikel kiri). Hubungankorelasi dianalisis dengan tes Spearman.Hasil. Didapatkan 43 anak dengan diagnosis kardiomiopati dilatasi. Keseluruhan pasien semua bayi/anakdengan kardiomiopati dilatasi datang dengan gagal jantung dan menunjukkan penurunan fungsi ventrikelkiri fraksi ejeksi 32,02% (15–50) dan terdapat penurunan fungsi ventrikel kanan, yaitu TAPSE 15,97 mm(12–21). Korelasi manifestasi klinis dengan fungsi ventrikel kiri dan kanan mendapatkan riwayat ISPAberulang tidak berhubungan dengan penurunan TAPSE. Riwayat keluarga, riwayat miokarditis sebelumnya,gangguan pertumbuhan, dan emboli sistemik menunjukkan arah korelasi negatif terhadap fraksi ejeksiberturut-turut (r=-0,71; p=0,649; r=-0,26, p=0,827; r=-0,118, p=0,45; r=-0,64; p=0,681). Emboli parumenunjukkan arah korelasi negatif terhadap TAPSE (r=0,166; p=0,288).Kesimpulan. Kardiomiopati dilatasi menyebabkan penurunan fungsi ventrikel kiri dan kanan, sertamenimbulkan manifestasi klinis yang berat dan prognosis yang jelek.
Transposisi Arteri Besar dan mutasi gen TBX1 Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1470.464 KB) | DOI: 10.14238/sp11.1.2009.21-5

Abstract

Latar belakang. Transposisi arteri besar (TAB) adalah suatu penyakit jantung bawaan (PJB) yang termasuk dalam malformasi konotrunkal. Kelainan terasebut ditemukan sekitar 5% dari seluruh PJB. Seperti pada PJB yang lain penyebab TAB multifaktor yaitu faktor genetik, nongenetik, dan interaksi antara genetik dan nongenetik. Gen TBX1 adalah suatu gen yang termasuk gen faktor transkripsi dan berperan pada pembentukan konotrunkal saat embriogensis jantung. Mutasi pada gen TBX1 akan menyebabkan malformasi konotrunkal.Tujuan. Mengetahui peran mutasi gen TBX1 pada PJB dengan malformasi konotrunkal.Metode. Subjek penelitian adalah 42 anak PJB dengan malformasi konotrunkal dan 42 anak tanpa PJB sebagai kontrol, yang memenuhi kriteria inklusi. Deteksi mutasi gen TBX1 dilakukan dengan pemeriksaan sekuensing terhadap isolasi DNA.Hasil. Ditemukan satu anak dengan mutasi TBX1, mutasi yang terjadi adalah missense mutations dan tempat mutasi terletak pada. Ekson 04 c.614 A>T (p.Gln205Leu). Mutasi ini tidak ditemukan pada kontrol.Kesimpulan. Ditemukan missense mutation pada TAB, mutasi tidak ditemukan pada kontrol, sehingga TAB pada pasien tersebut diduga akibat mutasi gen TBX1, karena seperti pada PJB yang lain penyebab dari TAB adalah multifaktor. Dengan ditemukannya mutasi gen TBX1 pada TAB, maka hal ini dapat digunakan sebagai bahan konseling genetika.
Transposisi Arteri Besar: Anatomi, Klinik, Kelainan Penyerta, dan Tipe Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.357-62

Abstract

Latar belakang. Transposisi arteri besar (TAB) merupakan salah satu penyakit jantung bawaan (PJB) tipe sianotik yang bermanifestasi pada periode bayi baru lahir. Kelainan penyerta yang sering ditemukan adalah defek septum ventrikel (DSV), defek septum atrium (DSA), paten duktus arteriousus (DAP), dan left ventricular outflow tract obstruction.Tujuan. Mengetahui hubungan tipe transposisi dengan kelainan penyerta pada transposisi arteri besar.Metode.Penelitian merupakan penelitian deskriptif analitik. Populasi penelitian semua pasien yang datang ke Instalasi Pelayanan Jantung RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung untuk dilakukan ekokardiografi mulai Januari 2006 sampai Januari 2011. Subjek penelitian semua pasien TAB yang memenuhi kriteria inklusi. Diagnosis TAB ditegakkan berdasarkan ekokardiografi, dibagi 2 kelompok berdasarkan tipe tranposisi, yaitu transposisi komplet dan parsial. Kelainan penyerta TAB dibagi 2 kelompok, yaitu kelompok kelainan penyerta kompleks dan tidak kompleks.Hasil. Selama periode penelitian didapatkan 3910 anak yang dilakukan ekokardiografi. Ditemukan 54 anak TAB yang memenuhi kriteria inklusi. Usia termuda saat dilakukan ekokardiografi 4 hari, sedangkan tertua 13 tahun. Ditemukan 47 TAB disertai dengan DSV, tersering tipe perimembran sedangkan tipe doubly commitedpaling jarang ditemukan. Ditemukan 16 anak dengan stenosis pulmonal dan tipe stenosis yang terbanyak tipe infundibular. Transposisi arteri besar dengan kelainan penyerta kompleks ditemukan bersama-sama dengan kelainan lain, yaitu AVSD komplet, atresia mitral, atresia trikuspid, single ventricle,dan dekstrokardia situs inversus. Terdapat hubungan bermakna tipe transposisi dengan kelainan penyerta (p=0,01).Kesimpulan.Transposisi arteri besar dengan tipe transposisi komplet lebih sering disertai dengan kelainan penyerta kompleks.
Korelasi Cluster of Differentiation 4 dan Viral Load dengan Fungsi Sistolik Ventrikel Kiri pada Anak dengan Human Immunodeficiency Virus Nicholas Adrian; Sri Endah Rahayuningsih; Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.103-9

Abstract

Latar belakang. Nilai viral load dan cluster of differentiation 4 (CD4) pada infeksi human immunodeficiency virus (HIV) merupakan prediktor independen progresifitas penyakit pada usia >5 tahun. Infeksi HIV memengaruhi organ jantung dalam bentuk gangguan fungsi sistolik ventrikel kiri, pada awalnya dapat tanpa gejala. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran keterlibatan kardiovaskuler pada anak dengan HIV.Tujuan. Mengetahui korelasi antara CD4, viral load dengan fungsi sistolik ventrikel kiri pada anak dengan HIV.Metode. Desain penelitian potong lintang, data dari register penelitian HIV bulan Januari-Februari 2020 di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Sampel penelitian adalah anak dengan HIV usia 5 – <18 tahun. Subjek penelitian diperiksa kadar CD4 dan viral load, untuk fungsi sistolik ventrikel kiri diukur melalui fraksi ejeksi dan pemendekan fraksi dengan alat echocardiography. Analisis korelasi menggunakan uji Pearson dan Spearman sesuai distribusi data.Hasil. Subjek penelitian adalah 60 anak dengan HIV. Nilai rata-rata CD4 (822 ± 380/mm3). Viral load 68,3% undetected. Nilai rata-rata pemendekan fraksi (35,8±5%). Nilai rata-rata fraksi ejeksi (65,7±6,8%). Hasil korelasi CD4 dengan pemendekan fraksi (r=0,19 p=0,07), CD4 dengan fraksi ejeksi (r=0,22 p=0,04), viral load dengan pemendekan fraksi (r=-0,10 p=0,20), dan viral load dengan fraksi ejeksi (r=-0,09 p=0,22).Kesimpulan. Terdapat korelasi positif lemah antara CD4 dengan fraksi ejeksi, hasil penelitian mungkin dipengaruhi oleh faktor lain yang belum diteliti seperti status pengobatan pada pasien.
Hubungan antara Kortisol Saliva dan Masalah Mental Emosional pada Anak Usia 3–5 Tahun Tommy Nugrahadi Whisnubrata; Eddy Fadlyana; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.1.2016.63-67

Abstract

Latar belakang. Masalah mental emosional pada anak usia prasekolah harus dideteksi dan diantisipasi sedini mungkin. Masalah mental emosional memengaruhi mekanisme aksis hipotalamus-pituitari-adrenal, menghasilkan produk akhir kortisol.Tujuan. Menentukan hubungan kadar kortisol saliva dan masalah mental emosional.Metode. Penelitian potong lintang ini dilakukan pada bulan Desember 2015 - Januari 2016 terhadap 82 anak usia 3–5 tahun yang dititipkan di tempat penitipan anak di Kota Bandung. Orangtua diminta untuk mengisi kuesioner strength and difficulties questionnaire (SDQ) untuk skrining masalah mental emosional subjek. Kortisol saliva subjek penelitian dianalisis menggunakan salivary cortisol kit dari Salimetrics®. Analisis data untuk menentukan hubungan antara kortisol saliva dan masalah mental emosional dilakukanmenggunakan analisis regresi logistik.Hasil. Terdapat hubungan bermakna antara kadar kortisol saliva dan masalah mental emosional (p=0,027; OR=3,431). Terdapat hubungan bermakna antara kadar kortisol abnormal dengan variabel conduct (p=0,001) dan emosi (p=0,017).Kesimpulan. Kadar kortisol saliva berhubungan dengan masalah mental emosional pada anak usia 3-5 tahun. Kadar kortisol berhubungan dengan variabel conduct dan emosi.
Co-Authors Adrizain, Riyadi Ahmedz Widiasta Amani Sakinah Augiani Anggia Farrah Rizqiamuti Anggraini Alam Anggraini Alam Anggraini Alam Armijn Firman Armijn Firman Armijn Firman Armijn Firman, Armijn Atika Zahria Arisanti Augiani, Amani Sakinah Benny Hasan Purwara Carla Pusparani Cissy Sudjana Prawira Dani Kurnia Dany Hilmanto Dedet Hidayat Dedi Rachmadi Dedi Rachmadi Dewi Marhaeni Diah Herawati Dewi, Anggun Puspita Dida Akhmad Gurnida Dinna Meinardaniawati Djatnika Setiabudi Dwi Prasetyo Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim Eddy Fadlyana Erliana Ulfah Fathiyah Ma’ani Hadyana Sukandar Haruka Hamanoue Heda Melinda Nataprawira Henry Leo Herman Susanto Herry Garna Herry Herman Ina Rosalina Ineu Nopita Irvan Afriandi Islami - Islami Islami Islami, Islami Julistio Djais Keumala Hayati Keumala Hayati Kusumaputri, Aghnia Ghassani Nanan Sekarwana Naomichi Matsumoto Nelly Amalia Risan, Nelly Amalia Nicholas Adrian Nono Sumarna Nono Sumarna Afandi Nurfandi, Wendi Putria Rayani Putria Rayani Apandi Putria Rayani Apandi, Putria Rayani Queen Khoirun Nisa Mairo, Queen Khoirun Rachmat Budi Rahmat Budi Rahmat Budi Kuswiyanto Rahmat Budi Kuswiyanto, Rahmat Budi Reby Kusumajaya Reni Ghrahani Riri Adriana Rizki Ayu Rizal Rossanti, Rini Rully Marsis Amirullah Roesli Shinta Larasaty Sjarif Hidajat Effendi Sri Sudarwati Susiarno, Hadi Syahradian Hasbrima Tan Siauw Koan Thiban Raj Manoraj Tisnasari Hafsah, Tisnasari Tommy Nugrahadi Whisnubrata Tono Djuwantono Tubagus Ferdi Fadilah, Tubagus Ferdi Uni Gamayani Vidi Permatagalih Villia Damayantie Wiwin Winiar Yanti Mulyana Yulia Sofiatin Yunita Sinaga