Sri Endah Rahayuningsih
Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung

Published : 44 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Korelasi antara Nilai Red Cell Distribution Width dengan Fungsi Ventrikel Kiri pada Anak dengan Gagal Jantung Akibat Penyakit Jantung Rematik Carla Pusparani; Sri Endah Rahayuningsih; Dida Akhmad Gurnida
Sari Pediatri Vol 23, No 3 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.3.2021.158-63

Abstract

Latar belakang. Proses inflamasi berkaitan dengan kondisi anisositosis dan gagal jantung yang terjadi secara paralel sehingga menjadikan red cell distribution width (RDW) sebagai penanda yang handal untuk disfungsi jantung. Di negara berkembang, gagal jantung pada anak paling banyak diakibatkan oleh penyakit jantung rematik (PJR). Penelitian mengenai korelasi antara nilai RDW dan fungsi ventrikel kiri yang dinilai dengan ekokardiografi pada anak dengan gagal jantung akibat PJR belum pernah dilakukan sebelumnya.Tujuan. Mengetahui korelasi antara nilai RDW dengan fungsi ventrikel kiri pada anak dengan gagal jantung akibat PJR.Metode. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang pada pasien gagal jantung akibat PJR yang berusia <18 tahun di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin periode September 2020–Februari 2021. Anamnesis, pemeriksaan fisis, laboratorium, dan ekokardiografi dilakukan pada semua subjek. Penilaian fungsi ventrikel kiri berdasarkan pengukuran fraksi ejeksi (EF), pemendekan fraksi (FS), gelombang E, A, dan rasio E/A. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil. Kami melakukan analisis pada 34 subjek. Kelompok usia terbanyak 11–15 tahun (64,7%). Derajat keparahan gagal jantung terbanyak adalah NYHA kelas II (41,1%). Rata-rata hasil EF, FS, gelombang E, gelombang A, dan rasio E/A subjek penelitian adalah 68,2%; 38,64%; 1,34 cm/detik, 0,85 cm/detik, dan 1,72. Terdapat perbedaan bermakna pada gelombang A dan E antara RDW normal dan tinggi (p<0,05). Terdapat korelasi signifikan antara nilai RDW dengan gelombang E pada anak dengan gagal jantung akibat PJR (r 0,471; p=0,005).Kesimpulan. Peningkatan nilai RDW berkorelasi sedang dengan fungsi ventrikel kiri pada anak dengan gagal jantung akibat PJR.
Hubungan Antara Kadar Feritin dan Kadar 25-Hidroksikolekalsiferol {25(OH)D} Serum Pasien Thalassemia Mayor Anak Tubagus Ferdi Fadilah; Sri Endah Rahayuningsih; Djatnika Setiabudi
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.246-50

Abstract

Latar belakang. Pasien thalassemia mayor secara progresif akan mengalami keadaan kelebihan besi akibattransfusi darah berulang dan menyebabkan hidroksilasi vitamin D 25-hidroksikolekalsiferol {25(OH)D}terganggu akibat deposisi besi di parenkim hati.Tujuan. Mengetahui korelasi antara kadar feritin dan kadar 25(OH)D pada pasien thalassemia mayor anak.Metode. Desain penelitian rancangan potong lintang dilakukan pada bulan Desember 2010–Januari 2011di poli Thalassemia anak RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sejumlah 64 subjek diambil secara consecutivesampling. Data diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang, dan catatan medis.Pemeriksaan kadar feritin serum menggunakan metode enhanced chemiluminescence immunoassay (ECLIA).Pemeriksaan kadar 25(OH)D serum menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dandilakukan di Laboratory Research and Esoteric Testing Laboratorium Klinik Prodia Jakarta. Analisis statistikdigunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk distribusi data dan transformasi log terhadap distribusi datatidak normal. Untuk mengetahui hubungan antara kadar feritin dan kadar 25(OH)D serum digunakan ujikorelasi Spearman. Hubungan dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Dari 64 subjek berusia 2–14 tahun, didapatkan kadar feritin serum rerata (SB) 3.525 (2.356,784) ng/mL,serta kadar vitamin D 25(OH)D serum rerata (SB) 37 (10,067)nmol/L Enam puluh/enam puluh empat(94%) subjek memiliki kadar feritin serum >1.000 ng/dL, 55/64 (86%) subjek memiliki kadar 25(OH)D serum <50 nmol/L dan dianggap defisiensi vitamin D. Kadar feritin berkorelasi negatif dengan kadar25(OH)D serum (􀁕=-0,368; p<0,01).Kesimpulan. Peningkatan kadar feritin serum diikuti penurunan kadar 25(OH)D serum pada pasienthalassemia mayor anak yang berusia 2–14 tahun.
Perbedaan Fungsi Ventrikel Kiri pada Anak Gizi Kurang dan Gizi Normal dengan Metode Myocardial Performance Index Putria Rayani Apandi; Sri Endah Rahayuningsih; Rahmat Budi Kuswiyanto
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.110-14

Abstract

Latar belakang. Gizi kurang pada anak menyebabkan perubahan pada komposisi tubuh, berupa berkurangya masa otot jantung yang akan menyebabkan kelainan pada fungsi kardiovaskuler. Myocardial performance index (MPI) adalah pemeriksaan fungsi ventrikel yang tidak terpengaruh geometri jantung. Pemeriksaan MPI pada anak gizi kurang belum pernah dilakukan sebelumnya. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbedaan fungsi ventrikel pada gizi kurang dan gizi normal.Metode. Rancangan penelitian ini adalah potong lintang yang dilakukan pada anak sekolah berumur 6-11 tahun di Kotamadya Bandung selama September – Desember 2014 di 10 Sekolah Dasar. Subyek penelitian di pilih secara random kemudian dibagi menjadi gizi kurang dan gizi normal berdasarkan WHO 2007. Fungsi ventrikel diukur dengan ekokardiografi transtorakal dengan metode Myocardial performance index. Uji t berpasangan dipakai untuk membedakan fungsi ventrikel kiri pada gizi kurang dengan signifikansi P<0,05. Hasil. Rerata MPI ventrikel kiri pada anak gizi kurang adalah 0,37±0,07 dan pada gizi normal adalah 0,35±0,08. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna fungsi ventrikel kiri dengan metoda Myocardial Performance Index pada kedua kelompok.(CI95%:-0,012–0,058 P:0,191)Kesimpulan. Fungsi ventrikel kiri pada anak gizi kurang dan gizi normal yang diukur dengan Metode myocardial performance index tidak berbeda bermakna.
Kadar Cystatin-C Serum Sebagai Penanda Fungsi Ginjal Bayi Prematur Dinna Meinardaniawati; Sjarif Hidajat Effendi; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.17-22

Abstract

Latar belakang. Cystatin-C dipertimbangkan menjadi pemeriksaan potensial pengganti kreatinin serum sebagai penanda fungsi ginjal. Kadar cystatin-C serum lebih mendekati nilai laju filtrasi glomerulus dibandingkan dengan kreatinin serum. Beberapa penelitian menyatakan bahwa cystatin-C dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, dan ras meskipun tidak sebesar pengaruhnya terhadap kreatinin.Tujuan. Menganalisis korelasi kadar cystatin-C serum dengan kreatinin serum dan apakah kadar cystatin-C serum dapat digunakan sebagai penanda fungsi ginjal bayi prematur.Metode. Penelitian observasional analitik, cross-sectional, dilaksanakan Februari−Mei 2012. Subjek adalah bayi prematur usia kehamilan 32–<37 minggu, lahir di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Cibabat Cimahi, dan RSUD Bandung. Dilakukan pemeriksaan kadar cystatin-C serum dengan metode particle-enhanced immunonephelometry dan kreatinin serum dengan metode Jaffe. Uji statistik menggunakan korelasi Pearson, kemaknaan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Terdapat 37 subjek bayi prematur, 23/37 subjek dilahirkan spontan dengan perbandingan jenis kelamin hampir sama. Kadar cystatin-C dan kreatinin serum rerata adalah 1,68 mg/L (IK 95%; 1,32–2,09) dan 0,99 mg/dL (IK 95%; 0,62–1,48). Hasil analisis mendapatkan korelasi bermakna kadar cystatin-C dengan kreatinin serum (r=0,621; p<0,001).Kesimpulan. Semakin tinggi kadar kreatinin serum, maka semakin tinggi kadar cystatin-C serum. Cystatin-C dipertimbangkan sebagai penanda untuk menilai fungsi ginjal bayi prematur.
Hubungan antara Defek Septum Ventrikel dan Status Gizi Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.137-41

Abstract

Latar belakang. Defek septum ventrikel (DSV) adalah terdapatnya defek pada sekat yang memisahkan ventrikel kiri dan kanan, serta merupakan salah satu penyakit jantung bawaan (PJB). Salah satu komplikasi DSV adalah gangguan status gizi. Tujuan. Mengetahui apakah terdapat hubungan DSV dengan status gizi serta aspek klinisnya yaitu tipe DSV, ukuran defek, aneurisma septum membranous, prolaps katup aorta, dan. hipertensi pulmonalMetode.Subjek penelitian ini adalah pasien DSV yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang yang dilakukan di RS dr Hasan Sadikin Bandung, pada Juli 2007 sampai 30 Juli 2009 dengan analisis statistik menggunakan perhitungan Rasio Odds Hasil.Terdapat 72,3% dari 101 anak DSV mengalami malnutrisi. Tidak terdapatnya aneurisma septum membranous (p= 0,005)¸ hipertensi pulmonal (p=0.001) berhubungan dengan status gizi. Tipe DSV, ukuran DSV dan prolaps katup aorta tidak berhubungan dengan status gizi.Kesimpulan.Anak yang menderita DSV sering mengalami gangguan gizi.Terdapat hubungan antara tidak terdapatnya aneurisma septum membranous dan hipertensi pulmonal dengan status gizi.
Sindrom Wolff Parkinson White Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.73-6

Abstract

Dilaporkan satu kasus sindrom Wolff-Parkinson-White pada anak laki-laki usia 9 tahunyang datang dengan keluhan utama palpitasi disertai nyeri dada. Elektrokardiogrampada awal masuk rumah sakit memperlihatkan frekuensi QRS 231 kali per menit (N :60-100 x/m), gelombang P tersembunyi dalam gelombang T denyut sebelumnya, durasiQRS memanjang dan terdapat gelombang delta yang menunjukkan terdapat takikardiasupraventrikular dengan aberrant conduction. Penderita mendapat pengobatan awalstimulasi vagal, tetapi tidak berhasil sehingga dilanjutkan dengan pemberian sotalol 3 x25 mg per oral. Evaluasi elektrokardiogram menunjukkan irama sinus dengan gelombangdelta yang sesuai dengan sindrom Wollf Parkinson White yaitu adanya perubahanfrekuensi jantung menjadi 80-90 x/menit, tampak gelombang T dan P dengan intervalPR memendek, durasi QRS melebar, dan terdapat gelombang delta. Prognosis pasienbaik karena pada pengamatan elektrokardiografi tiap 24 jam terlihat irama jantungkembali menjadi irama sinus.
Penggunaan Sildenafil pada Anak dengan Hipertensi Pulmonal Sri Endah Rahayuningsih; Nono Sumarna; Armijn Firman; Dani Kurnia
Sari Pediatri Vol 6, No 3 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.3.2004.125-8

Abstract

Hipertensi pulmonal merupakan penyakit yang jarang akan tetapi mempunyai tingkatmortalitas yang tinggi. Peran vasodilator, menurut beberapa penelitian dapatmeningkatkan survival rate pasien hipertensi pulmonal. Beberapa laporan kasusmemperlihatkan efektifitas sildenafil sebagai PDE5 inhibitor dalam menurunkan tekananrata-rata arteri pulmonal. Oleh karena itu sildenafil dapat dipertimbangkan sebagai pilihanterapi untuk anak dengan hipertensi pulmonal
Perbandingan Efek Live dan Heat-killed Probiotic Terhadap Penyembuhan Diare Akut Nondisentri pada Anak Reby Kusumajaya; Ina Rosalina; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.302-7

Abstract

Latar belakang. Diare akut masih menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas, terutama di negara berkembang. Probiotik sebagai mikroorganisme hidup jika dikonsumsi dalam jumlah cukup akan memberikan manfaat terhadap tubuh pejamu. Namun masih terdapat masalah teknologi probiotik yang sulit diatasi, yaitu hilangnya dosis dan aktivitas yang tidak dapat diprediksi karena kualitas penyimpanan sediaan yang beragam. Heat-killed probiotic sudah mengalami tindalisasi menawarkan sediaan farmasi yang lebih stabil dengan aktivitas yang sama.Tujuan. Menilai efektifitas heat-killed probiotic dibandingkan dengan live probiotic terhadap anak yang menderita diare akut nondisentri.Metode. Uji klinis acak tersamar buta ganda terhadap pasien diare akut nondisentri usia 6-24 bulan dengan atau tanpa dehidrasi ringan-sedang di RS Hasan Sadikin, RSUD Ujung Berung dan RSUD Cibabat pada periode bulan April-Mei 2008. Setiap subjek mendapat satu bungkus berisi 3 x 1010 probiotic atau 107 live probiotic, kemudian dilanjutkan dengan interval 8 sampai 12 jam per hari selama lima hari. Durasi dan frekuensi defekasi dicatat secara kuantitatif. Analisis statistik dihitung dengan menggunakan uji t.Hasil. Didapatkan 52 anak (25 heat-killed probiotic, 27 live probiotic) masuk ke dalam penelitian. Rata-rata durasi diare menurun secara bermakna pada pasien yang diberi heat-killed probiotic (50,2 jam SB 28,6) dibandingkan dengan live probiotic (74,8 jam SB 28,8) (p=0,003). Rata-rata frekuensi defekasi juga lebih rendah secara bermakna pada kelompok heat-killed probiotic dibandingkan dengan kelompok live probiotic (8,3;SB 7,4 vs 10,7;SB6,4).Kesimpulan. Heat-killed probiotic lebih baik dalam mengurangi lama diare dan frekuensi defekasi daripada live probiotic pada anak pasien diare akut nondisentri.
Hubungan Kadar Feritin Serum dengan Fungsi Kognitif Berdasarkan Pemeriksaan Status Mini-Mental (MMSE) pada Penyandang Thalassemia Anak Fathiyah Ma’ani; Eddy Fadlyana; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.373 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.163-8

Abstract

Latar belakang. Penyandang thalassemia yang mendapat transfusi rutin tanpa kelasi besi yang optimal dapat menyebabkankelebihan besi yang memicu stres oksidatif dan dapat mempercepat proses degenerasi di otak.Tujuan. Menentukan hubungan kadar feritin serum dengan fungsi kognitif.Metode. Penelitian analitik dengan rancangan potong lintang terhadap 95 penyandang thalassemia anak berusia di atas 10 tahunpada bulan April sampai Mei 2015. Pemilihan subjek dilakukan secara consecutive sampling. Fungsi kognitif dinilai berdasarkan tesmini mental state examination (MMSE). Kadar feritin serum dan faktor lain yang berhubungan dengan fungsi kognitif dianalisismenggunakan multipel regresi.Hasil. Subjek penelitian terdiri dari 95 anak, anak laki-laki 46 orang (48,4%) dan anak perempuan 49 orang 51,6%. Rerata(SB)kadar feritin serum 4355,9 (2149) μg/L. Berdasarkan pemeriksaan MMSE didapatkan rerata(sb) skor 29,6 (3,9). Terdapat hubunganantara feritin serum dan fungsi kognitif (p=0,040). Faktor lain yang berhubungan adalah pendidikan anak, pendidikan ibu danfrekuensi transfusi.Kesimpulan. Kadar feritin serum berhubungan dengan skor MMSE.
Perbedaan Kadar Leptin pada Anak yang Menderita Infeksi Dengue Anggia Farrah Rizqiamuti; Sri Endah Rahayuningsih; Dedi Rachmadi; Rachmat Budi
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.244 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.1-4

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue merupakan infeksi akut yang dapat mempengaruhi kadar leptin. Perbedaan spectrum klinis infeksi dengue menyebabkan perbedaan kadar interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-α(TNF-α). Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar leptin pada anak yang menderita infeksi dengue.Metode.Penelitian analitik dengan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah pasien DB, DBD, dan SSD (pascasyok) yang memenuhi kriteria klinis dan telah dibuktikan melalui pemeriksaan serologis. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitney untuk menentukan perbedaan kadar leptin pada DB dengan DBD dan SSD.Hasil. Pasien infeksi dengue 48 anak terdiri dari 27 DB, 11 DBD, dan 10 SSD. Terdapat perbedaan bermakna kadar leptin antara DB dengan DBD, dan SSD p=0,002. Rerata kadar leptin pada DD 703,4 (374,1–3616,7), DBD 2.172 (554,3–16631,1), dan SSD 1.321 (250,5–4.714,6). ng/mL Kadar leptin DBD lebih tinggi dibandingkan dengan DD (p<0,001), namun kadar leptin antara DBD dan SSD tidak berbeda bermakna (p=0,132) dan kadar leptin antara SSD (postsyok) dan DD tidak berbeda bermakna (p=0,158).Kesimpulan. Kadar leptin pada DBD lebih tinggi dibandingkan dengan DD, sedangkan kadar leptin antara DBD dan SSD (postsyok) tidak berbeda.
Co-Authors Adrizain, Riyadi Ahmedz Widiasta Amani Sakinah Augiani Anggia Farrah Rizqiamuti Anggraini Alam Anggraini Alam Anggraini Alam Armijn Firman Armijn Firman Armijn Firman Armijn Firman, Armijn Atika Zahria Arisanti Augiani, Amani Sakinah Benny Hasan Purwara Carla Pusparani Cissy Sudjana Prawira Dani Kurnia Dany Hilmanto Dedet Hidayat Dedi Rachmadi Dedi Rachmadi Dewi Marhaeni Diah Herawati Dewi, Anggun Puspita Dida Akhmad Gurnida Dinna Meinardaniawati Djatnika Setiabudi Dwi Prasetyo Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim Eddy Fadlyana Erliana Ulfah Fathiyah Ma’ani Hadyana Sukandar Haruka Hamanoue Heda Melinda Nataprawira Henry Leo Herman Susanto Herry Garna Herry Herman Ina Rosalina Ineu Nopita Irvan Afriandi Islami - Islami Islami Islami, Islami Julistio Djais Keumala Hayati Keumala Hayati Kusumaputri, Aghnia Ghassani Nanan Sekarwana Naomichi Matsumoto Nelly Amalia Risan, Nelly Amalia Nicholas Adrian Nono Sumarna Nono Sumarna Afandi Nurfandi, Wendi Putria Rayani Putria Rayani Apandi Putria Rayani Apandi, Putria Rayani Queen Khoirun Nisa Mairo, Queen Khoirun Rachmat Budi Rahmat Budi Rahmat Budi Kuswiyanto Rahmat Budi Kuswiyanto, Rahmat Budi Reby Kusumajaya Reni Ghrahani Riri Adriana Rizki Ayu Rizal Rossanti, Rini Rully Marsis Amirullah Roesli Shinta Larasaty Sjarif Hidajat Effendi Sri Sudarwati Susiarno, Hadi Syahradian Hasbrima Tan Siauw Koan Thiban Raj Manoraj Tisnasari Hafsah, Tisnasari Tommy Nugrahadi Whisnubrata Tono Djuwantono Tubagus Ferdi Fadilah, Tubagus Ferdi Uni Gamayani Vidi Permatagalih Villia Damayantie Wiwin Winiar Yanti Mulyana Yulia Sofiatin Yunita Sinaga