Sri Endah Rahayuningsih
Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung

Published : 44 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Perbedaan Kadar Malondialdehid Serum antara Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Sianotik dan Nonsianotik Wiwin Winiar; Sri Endah Rahayuningsih; Cissy Sudjana Prawira
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.47-52

Abstract

Latar belakang. Penyakit jantung bawaan (PJB) masih merupakan masalah kesehatan global. Reperfusi, iskemia, dan hipoksemia kronik yang terjadi pada PJB memicu terjadi stres oksidatif. Malondialdehid telah lama digunakan sebagai penanda stres oksidatif.Tujuan. Melihat perbedaan kadar malondialdehid serum antara anak yang menderita PJB sianotik dan nonsianotik.Metode. Penelitian analitik komparatif potong lintang dilakukan pada Juni–Desember 2012 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung terhadap 20 penderita PJB sianotik dan 20 nonsianotik berusia 1 bulan−18 tahun. Kadar malondialdehid serum diperiksa dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay. Perbedaan kadar malondialdehid serum antara kedua kelompok dianalisis dengan uji t tidak berpasangan dan perbedaan bermakna apabila p<0,05.Hasil. Malondialdehid serum rerata pada kelompok sianotik dan nonsianotik berturut-turut 3,545 pmol/mg (interval kepercayaan (IK95%: 3,238−3,853) dan 3,875 pmol/mg (IK95%: 3,620−4,131); p=0,046. Perbedaan kadar malondialdehid serum tetap bermakna setelah disesuaikan dengan anemia (p=0,023), sedangkan setelah disesuaikan dengan saturasi oksigen dan hipertensi pulmonal menjadi tidak bermakna.Kesimpulan. Kadar malondialdehid serum penderita PJB sianotik lebih rendah dibandingkan dengan nonsianotik. Anemia dan hipoksemia meningkatkan kadar malondialdehid serum.
Hubungan Antara Hipertensi Pulmonal pada Defek Septum Atrium Sekundum dan Mutasi Gen Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.113-7

Abstract

Latar belakang. Defek septum atrium (DSA) adalah defek pada sekat yang memisahkan atrium kiri dankanan, serta merupakan salah satu penyakit jantung bawaan (PJB). Defek septum atrium besar berhubungandengan terjadinya hipertensi pulmonal. Sampai saat ini mekanisme terjadinya DSA dan hipertensi pulmonalmasih belum diketahui dengan pasti. Beberapa gen diketahui berperan terhadap terjadinya DSATujuan. Mengetahui hubungan antara hipertensi pulmonal pada defek septum atrium sekundum denganmutasi gen NKX2.5, TBX5, GATA4, dan MYH6.Metode. Subjek penelitian adalah pasien DSA sekundum yang memenuhi kriteria inklusi untuk penelitianepidemiologi genetika. Deteksi mutasi gen NKX2.5, TBX5, GATA4, dan MYH6 dilakukan denganpemeriksaan sekuensing terhadap isolasi DNA. Diagnosis DSA sekundum dan hipertensi pulmonal dilakukandengan ekokardiografi.Hasil. Tujuh diantara 110 anak dengan DSA sekundum mengalami mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6dan lima anak diantaranya mengalami hipertensi pulmonal. Tidak ditemukan mutasi gen TBX5. Terdapathubungan hipertensi pulmonal pada defek septum atrium sekundum dan mutasi gen NKX2.5, GATA4, danMYH6 (p=0,037). Rata-rata ukuran DSA sekundum pada kelompok dengan mutasi gen dan tanpa mutasigen adalah 20,28 (+5,93) dan 14,29 (+3,96). Terdapat hubungan yang bermakna DSA sekundum sporadikyang mengalami mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6 dengan hipertensi pulmonal (p=0,037).Kesimpulan. DSA sekundum dengan mutasi gen lebih sering mengalami hipertensi pulmonal. Disampingdiameter, maka mutasi gen berperan terhadap terjadinya hipertensi pulmonal pada DSA.
Gambaran Fraksi Ejeksi secara Ekokardiografi pada Anak Kurang Energi Protein di RSUP Hasan Sadikin, Bandung Dedet Hidayat; Sri Endah Rahayuningsih; Armijn Firman
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.54-60

Abstract

Sejak lama diketahui bahwa Kurang Energi Protein (KEP) berat dapat menyebabkankelainan kardiovaskular yang dapat menimbulkan kematian. Hal ini disebabkan olehatrofi jantung selama starvasi, tetapi masih tetap diperdebatkan mengenai kapan jantungpada anak KEP mulai menunjukkan gangguan fungsi. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk mengetahui gambaran fraksi ejeksi (FE) ventrikel kiri anak dengan berbagai derajatKEP yang berkunjung ke Instalasi Rawat Jalan serta yang dirawat di Bagian Anak RumahSakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Penelitian ini bersifat deskriptifdengan rancangan cross sectional dilakukan pada bulan Desember 2000 sampai Februari2001 dengan memeriksa FE 30 anak KEP I sampai III berdasarkan klasifikasi Waterlow,menggunakan alat ekokardiografi M-Mode. Pada penelitian ini didapatkan bahwa nilaiFE sudah mulai menurun pada 73,3% anak KEP I, 90,9% anak KEP II dan menurunpada seluruh anak KEP III. Kesimpulan: fraksi ejeksi sudah mulai terganggu pada sebagianbesar anak KEP I.
Perbedaan Myocardial Performance Index Ventrikel Kiri pada Remaja Obes dengan dan tanpa Sindrom Metabolik Riri Adriana; Dwi Prasetyo; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.065 KB) | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.307-11

Abstract

Latar belakang. Myocardial performance index (MPI) merupakan pemeriksaan ekokardiografi yang lebih sensitif dalam mendeteksi disfungsi diastolik ventrikel kiri.Tujuan. Menentukan perbedaan MPI ventrikel kiri pada remaja obes dengan SM, obes tanpa SM, dan non-obes.Metode. Penelitian analitik potong silang pada 30 remaja obes (dengan dan tanpa sindrom metabolik) dan 30 non-obes usia 10-19 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian dilakukan di Instalasi Pelayanan Jantung RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung selama November 2014–Januari 2015. Pemeriksaan MPI dilakukan dengan alat ekokardiografi GE tipe Vivid 7. Dilakukan pemeriksaan kolesterol total, trigliserida, LDL, HDL, dan gula darah menggunakan alat Architect. Kriteria SM ditegakkan apabila terpenuhi dua dari parameter trigliserida >150 mg/dL, HDL <40 mg/dL, GDP >100 mg/dL, hipertensi, dan kegemukan sentral. Perbedaan nilai MPI antara remaja obes dengan SM, obes tanpa SM, dan remaja non-obes ditentukan dengan uji ANOVA satu arah.Hasil. Nilai MPI pada remaja obes dengan SM, obes tanpa SM, dan remaja non-obes adalah 0,35, 0,36, dan 0,36 (p=0,778).Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan nilai MPI pada remaja obes dengan SM, obes tanpa SM, dan remaja non-obes.
Korelasi Kadar Hemoglobin dengan Kadar Vascular Endothelial Growth Factor Plasma pada Tetralogi Fallot Vidi Permatagalih; Sri Endah Rahayuningsih; Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.663 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.156-60

Abstract

Latar belakang. Vascular endothelial growth factor-A (VEGF-A) diketahui merupakan penanda hipoksia jaringan yang berperan dalam angiogenesis. Anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik seperti Tetralogi Fallot (TF) mengalami hipoksia jaringan dengan komplikasi timbulnya pembuluh darah baru kolateral, polisitemia hipoksik, dan anemia relatif.Tujuan. Menentukan korelasi kadar VEGF plasma dengan kadar Hb.Metode. Penelitian analisis cross-sectional yang mengambil data secara konsekutif anak TF yang berobat ke poli rawat jalan dan rawat inap Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Kekuatan korelasi kadar Hb dengan VEGF ditentukan dengan uji korelasi Spearman. Kemaknaan dihitung berdasarkan nilai p<0,05. Analisis data dilakukan dengan program SPSS for windows versi 17.0.Hasil. Duapuluh pasien anak TF yang menjadi subjek penelitian, terdiri atas 9 anak laki-laki dan 11 anak perempuan. Didapatkan korelasi negatif bermakna berkekuatan sedang antara kadar Hb dan kadar VEGF (r=-0,503; p=0,024). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar VEGF plasma menurut jenis kelamin dan status gizi (p=0,412 dan 0,948), tetapi terdapat perbedaan bermakna kadar VEGF plasma menurut kelompok usia (p=0,048).Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif antara kadar Hb dan kadar VEGF plasma. Kadar VEGF plasma dapat diperkirakan dari kadar Hb, apabila kadar Hb semakin rendah, maka kadar VEGF meningkat.
Peran Mutasi Gen CRELD1 pada Defek Septum Ventrikel dan Hubungannya dengan Manifestasi Klinis Sri Endah Rahayuningsih; Haruka Hamanoue; Naomichi Matsumoto
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.225-9

Abstract

Latar belakang. Defek septum ventrikel (DSV) merupakan salah satu jenis penyakit jantung bawaan (PJB) yang paling sering ditemukan. Etiologi DSV berhubungan dengan faktor genetik, nongenetik, atau interaksi antara faktor genetik dan nongenetik. Gen CRELD1 adalah suatu gen yang terletak pada kromosom 3p25. Mutasi gen CRELD1 akan menyebabkan gangguan pada pembentukan septum interventrikular.Tujuan. Mengetahui peran mutasi gen CRELD1 pada DSV dan hubungannya dengan manifestasi klinis.Metode. Subjek penelitian adalah 61 pasien DSV dan 110 pasien kontrol tanpa PJB yang memenuhi kriteria inklusi. Deteksi mutasi gen CRELD1 dilakukan dengan pemeriksaan sekuensing terhadap isolasi DNA.Hasil. Ditemukan satu anak dengan mutasi CRELD1, mutasi yang terjadi adalah missense mutations dan tempat mutasi terletak pada ekson 10 c.1136T>C (p. Met379Thr). Mutasi tersebut tidak ditemukan pada kontrol. Mutasi gen CRELD1 terjadi pada anak dengan DSV inlet besar dan disertai hipertensi pulmonal. Ditemukan empat tempat mutasi SNPs, tiga di antaranya telah dilaporkan ke gene Bank sebagai SNPs, dan satu tempat mutasi belum pernah dilaporkan.Kesimpulan. Didapatkan mutasi gen CRELD1 pada DSV inlet besar dan hipertensi pulmonal, sehingga perlu segera dilakukan penutupan defek ventrikel. Maka adanya mutasi gen CRELD1 dapat digunakan sebagai deteksi dini dan tata laksana yang lebih baik terhadap DSV.
Hubungan Obesitas Remaja dengan Hipertrofi Ventrikel Kanan berdasarkan Pemeriksaan Elektrokardiografi Shinta Larasaty; Julistio Djais; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.539 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.391-6

Abstract

Latar belakang.Perubahan distribusi lemak viseral dan subkutan menyebabkan remaja berisiko mengalami obesitas. Obesitas sering dikaitkan dengan hipoksia kronik akibat obesity hypoventilation syndrome, yang dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan.Tujuan. Mengetahui hubungan obesitas remaja dengan hipertrofi ventrikel kanan berdasarkan pemeriksaan EKG.Metode. Studi komparatif dengan rancangan potong lintang, dilakukan Juli–September 2010, pada remaja laki-laki dan perempuan berusia 12–15 tahun dengan obesitas dan gizi normal, di SMPN 14 dan SMPN 17 Bandung. Diagnosis hipertrofi ventrikel kanan ditegakkan berdasarkan pemeriksaan EKG (kriteria voltase). Uji eksak Fisher digunakan untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin dan kriteria diagnosis hipertrofi ventrikel pada obesitas, serta hubungan obesitas dan hipertrofi ventrikel kanan. Hubungan dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Penelitian melibatkan 126 subjek yang terdiri atas 33 remaja laki-laki obes, 30 remaja perempuan obes, 32 remaja laki-laki gizi normal, dan 31 remaja perempuan gizi normal. Hasil interpretasi EKG berupa hipertrofi ventrikel kanan ditemukan pada 27 subjek obes (21,4%), hipertrofi ventrikel kiri pada 2 subjek obes (1,6%) dan satu subjek dengan status gizi normal (0,8%), sedangkan hasil interpretasi elektrokardiogram dari 96 subjek (76,2%) lainnya dalam batas normal. Gelombang T positif di V1berhubungan dengan obesitas khususnya pada remaja laki-laki (p<0,001), dan obesitas berhubungan dengan hipertrofi ventrikel kanan (p<0,001).Kesimpulan. Obesitas remaja berhubungan dengan hipertrofi ventrikel kanan, pemeriksaan EKG menunjukkan ditemukannya gelombang T positif di V1, khususnya pada remaja laki-laki obes.
Differences in Expulsion on Post-placenta Intrauterine Contraceptive Device between Mother with Vaginal and Cesarean Delivery Atika Zahria Arisanti; Tono Djuwantono; Sri Endah Rahayuningsih
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.221 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v8i1.3688

Abstract

Intrauterine device (IUD) is a long term, highly effective, and reversible contraception method. In Indonesia, the number of IUD acceptors is still lower than other methods. An effort to improve the long term contraception is using post-placental IUD that can be a choice for postpartum mother who has limited access to another contraception service. The purpose of this study was to compare the incidence of expulsion in post-placental IUD insertion between mother with vaginal delivery and cesarean delivery. This study design was a comparative cross-sectional method with a consecutive sampling technique conducted at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung and Dr. Kariadi General Hospital Semarang from November 2017 to February 2018. Subjects were postpartum mothers who received post-placental IUD insertion at vaginal delivery and cesarean delivery. Samples were 96 women, consisting of 48 women with IUD insertion in vaginal delivery and 48 women with IUD insertion in cesarean delivery. Data obtained from interviews and transvaginal ultrasonography examination. The result showed there was a difference in expulsions incidence between IUD’s insertion among vaginal delivery compared to cesarean delivery (p=0.041). It concluded that expulsion’s to post-placental IUD insertion is higher in vaginal delivery compared to cesarean delivery. PERBEDAAN KEJADIAN EKSPULSI PADA PEMASANGAN ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM PASCAPLASENTA ANTARA IBU DENGAN PERSALINAN PER VAGINAM DAN PERSALINAN SECTIO CAESAREAAlat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) merupakan kontrasepsi jangka panjang, efektif dan reversibel. Di Indonesia, jumlah akseptor AKDR masih lebih rendah daripada metode lainnya. Salah satu upaya untuk meningkatkan penggunaan kontrasepsi jangka panjang, yaitu dengan AKDR pascaplasenta yang dapat menjadi alternatif bagi ibu pascasalin yang mempunyai akses terbatas untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi. Penelitian ini bertujuan membandingkan kejadian ekspulsi pada pemasangan AKDR pascaplasenta antara ibu dengan persalinan per vaginam dan persalinan sectio caesarea. Desain penelitian ini adalah cross-sectional komparatif dengan teknik pengambilan sampel consecutive yang dilaksanakan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan RSUP Dr. Kariadi Semarang dari bulan November 2017 hingga Februari 2018. Subjek penelitian adalah ibu pascasalin yang mendapatkan insersi AKDR pascaplasenta pada persalinan per vaginam dan persalinan sesar. Jumlah sampel 96 ibu, terdiri atas 48 ibu yang bersalin per vaginam dan 48 ibu yang bersalin sesar. Data didapatkan melalui wawancara dan pemeriksaan ultrasonografi transvaginal. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kejadian ekspulsi pada pemasangan AKDR antara ibu dengan persalinan per vaginam dan persalinan sectio caesarea (p=0,041). Simpulan, kejadian ekspulsi pada pemasangan AKDR pascaplasenta lebih tinggi pada ibu dengan persalinan per vaginam dibanding dengan persalinan sectio caesarea.
Asuhan Nutrisi dan Stimulasi dengan Status Pertumbuhan dan Perkembangan Balita Usia 12‒36 Bulan Erliana Ulfah; Sri Endah Rahayuningsih; Herry Herman; Hadi Susiarno; Dida Akhmad Gurnida; Uni Gamayani; Hadyana Sukandar
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2141.245 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i1.2323

Abstract

Asuhan nutrisi dan stimulasi yang kurang memadai pada masa awal kehidupan anak, terutama anak usia 1–3 tahun berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan yang tidak optimal. Pada usia tersebut anak tumbuh dan berkembang secara pesat. Peran orangtua dalam proses pengasuhan sangat penting, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar anak (asah, asuh, asih), salah satunya adalah asuhan nutrisi dan stimulasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan asuhan nutrisi dan stimulasi dengan status pertumbuhan dan perkembangan balita usia 12−36 bulan. Penelitian ini menggunakan rancangan mixed method dengan strategi concurrent triangulation. Metode penelitian kuantitatif menggunakan strategi penelitian analitik cross sectional, penelitian kualitatif menggunakan strategi studi kasus. Subjek penelitian adalah 156 orang ibu dan balita usia 12–36 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Cibatu Kabupaten Garut. Pengambilan sampel kuantitatif dengan teknik proporsi, multistage, dan simple random sampling. Sampel kualitatif menggunakan teknik non-probability sampling dengan purposive sampling. Pengujian satatistik menggunakan uji chi-kuadrat dengan kemaknaan berdasar nilai p<0,05. Penelitian dilakukan periode 25 Januari−1 Februari 2017. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan karakteristik responden dengan asuhan nutrisi dan stimulasi, meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, paritas dan pengasuh, kecuali pekerjaan dan penghasilan, terdapat hubungan dengan asuhan nutrisi (p=0,048 dan p=0,01). Tidak terdapat hubungan asuhan nutrisi dengan status pertumbuhan balita (p=0,272) dan status perkembangan balita (p=0,919). Terdapat hubungan stimulasi dengan status perkembangan balita (p=0,027). NUTRITION CARE AND STIMULATION WITH GROWTH AND DEVELOPMENT TODDLERS AGES 12−36 MONTHSInadequate of nutrition care and stimulation in early childhood development, especially children aged 1−3 years, have an impact on growth and development are not optimal. At that age children grow and develop rapidly. The role of parents in the parenting process is very important, especially in meeting the basic needs of children (teaser, foster care, compassion), one of which is the care of nutrition and stimulation. The purpouse of research was to corelation of nutrition care and stimulation with growth status and development toddler ages 12−36 months. This study used a mixed method design with concurrent triangulation strategy. Quantitative research methods using cross sectional analytical research strategy, qualitative research using case study strategy. Subjects were 156 mothers and toddlers aged 12−36 months, in Community Health Center Cibatu Garut regency. Quantitative sampling technique proportions, with multistage sampling and simple random sampling, qualitative sample using non-probability sampling technique, with purposive sampling.  Chi-square test statistics with significance based on the value of p<0.05. This research done periode 25 January−1 February 2017. The results showed there was no correlation characteristics of respondents (age, education, occupation, income, parity and caregivers) with nutritional care and stimulation, but job and income relationship with the care of nutrition (p=0.048 and p=0.01). There was no correlation with the growth of nutritional care toddler (p=0.272) and the development of nutritional care toddler (p=0.919). There was a correlation with the stimulation of early childhood development (p=0.027).
Role of multidetector spiral CT scanning for pulmonary embolism confirmation in a child with pulmonary hypertension: a case report Heda Melinda Nataprawira; Sri Endah Rahayuningsih; Nono Sumarna Afandi; Armijn Firman; Tan Siauw Koan
Paediatrica Indonesiana Vol 49 No 1 (2009): January 2009
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.806 KB) | DOI: 10.14238/pi49.1.2009.54-8

Abstract

Pulmonary embolism (PE)  is  associated withconsiderable morbidity and mortality. Earlydiagnosis and prompt treatment  is  essential,  1 • 2however PE  is  rarely clinically diagnosed ortreated in children. Most clinically significant  PE  is  notrecognized antemortem. 3  While its diagnosis remainsa challenge  as  the signs and symptoms  can  often benon-specific,  an  accurate diagnosis  is  essential for themanagement  of  this disease. It  is  known  that  a numberof  non-invasive diagnostic tools are available for itsdetection nowadays. 1 • 2 .4  Even though multi-detectorspiral, also called helical,  CT  scanning  is  promisingand has  been  proven to be useful  in  diagnosing thiscondition with high sensitivity  and  specificity, 5  it  isunavailable even  in  referral hospitals  in  Indonesia.The  gold  standard,  pulmonary  angiography,  isconsidered  as  the procedure of choice to diagnose PE,but  unfortunately it  is  invasive. Failure to diagnose PEaccurately and promptly  can  result in excess morbidityand  death  due to pulmonary hypertension (PH) andrecurrent venous thromboembolic events. Conversely,unnecessary  anticoagulation  therapy poses a riskwithout any benefit.2
Co-Authors Adrizain, Riyadi Ahmedz Widiasta Amani Sakinah Augiani Anggia Farrah Rizqiamuti Anggraini Alam Anggraini Alam Anggraini Alam Armijn Firman Armijn Firman Armijn Firman Armijn Firman, Armijn Atika Zahria Arisanti Augiani, Amani Sakinah Benny Hasan Purwara Carla Pusparani Cissy Sudjana Prawira Dani Kurnia Dany Hilmanto Dedet Hidayat Dedi Rachmadi Dedi Rachmadi Dewi Marhaeni Diah Herawati Dewi, Anggun Puspita Dida Akhmad Gurnida Dinna Meinardaniawati Djatnika Setiabudi Dwi Prasetyo Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim Eddy Fadlyana Erliana Ulfah Fathiyah Ma’ani Hadyana Sukandar Haruka Hamanoue Heda Melinda Nataprawira Henry Leo Herman Susanto Herry Garna Herry Herman Ina Rosalina Ineu Nopita Irvan Afriandi Islami - Islami Islami Islami, Islami Julistio Djais Keumala Hayati Keumala Hayati Kusumaputri, Aghnia Ghassani Nanan Sekarwana Naomichi Matsumoto Nelly Amalia Risan, Nelly Amalia Nicholas Adrian Nono Sumarna Nono Sumarna Afandi Nurfandi, Wendi Putria Rayani Putria Rayani Apandi Putria Rayani Apandi, Putria Rayani Queen Khoirun Nisa Mairo, Queen Khoirun Rachmat Budi Rahmat Budi Rahmat Budi Kuswiyanto Rahmat Budi Kuswiyanto, Rahmat Budi Reby Kusumajaya Reni Ghrahani Riri Adriana Rizki Ayu Rizal Rossanti, Rini Rully Marsis Amirullah Roesli Shinta Larasaty Sjarif Hidajat Effendi Sri Sudarwati Susiarno, Hadi Syahradian Hasbrima Tan Siauw Koan Thiban Raj Manoraj Tisnasari Hafsah, Tisnasari Tommy Nugrahadi Whisnubrata Tono Djuwantono Tubagus Ferdi Fadilah, Tubagus Ferdi Uni Gamayani Vidi Permatagalih Villia Damayantie Wiwin Winiar Yanti Mulyana Yulia Sofiatin Yunita Sinaga