Eddy Fadlyana
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Published : 44 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan antara Kortisol Saliva dan Masalah Mental Emosional pada Anak Usia 3–5 Tahun Tommy Nugrahadi Whisnubrata; Eddy Fadlyana; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.1.2016.63-67

Abstract

Latar belakang. Masalah mental emosional pada anak usia prasekolah harus dideteksi dan diantisipasi sedini mungkin. Masalah mental emosional memengaruhi mekanisme aksis hipotalamus-pituitari-adrenal, menghasilkan produk akhir kortisol.Tujuan. Menentukan hubungan kadar kortisol saliva dan masalah mental emosional.Metode. Penelitian potong lintang ini dilakukan pada bulan Desember 2015 - Januari 2016 terhadap 82 anak usia 3–5 tahun yang dititipkan di tempat penitipan anak di Kota Bandung. Orangtua diminta untuk mengisi kuesioner strength and difficulties questionnaire (SDQ) untuk skrining masalah mental emosional subjek. Kortisol saliva subjek penelitian dianalisis menggunakan salivary cortisol kit dari Salimetrics®. Analisis data untuk menentukan hubungan antara kortisol saliva dan masalah mental emosional dilakukanmenggunakan analisis regresi logistik.Hasil. Terdapat hubungan bermakna antara kadar kortisol saliva dan masalah mental emosional (p=0,027; OR=3,431). Terdapat hubungan bermakna antara kadar kortisol abnormal dengan variabel conduct (p=0,001) dan emosi (p=0,017).Kesimpulan. Kadar kortisol saliva berhubungan dengan masalah mental emosional pada anak usia 3-5 tahun. Kadar kortisol berhubungan dengan variabel conduct dan emosi.
Pengaruh Pengetahuan Terhadap Sikap Ibu Mengenai Imunisasi Ulangan Difteria-Tetanus Yenny Purnama; Eddy Fadlyana; Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.807 KB) | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.117-121

Abstract

Latar belakang. Peran serta dan penerimaan ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus diperlukan untuk menunjang upaya pencegahan penyakit tersebut.Tujuan. Mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap sikap ibu murid SD kelas I mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus.Metode. Subjek penelitian adalah ibu murid SD kelas I di Kotamadya Bandung, menggunakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Rancangan penelitian kuantitatif berupa survei cross-sectional dimulai bulan November sampai Desember 2007. Sampel diambil secara cluster random sampling. Analisis statistik dilakukan untuk melihat pengaruh pengetahuan ibu murid SD kelas 1 terhadap sikap imunisasi ulangan difteria-tetanus dengan menggunakan analisis jalur. Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki oleh ibu mengenai penyebab, gejala, pengobatan, penularan, dan pencegahan tentang penyakit difteria-tetanus. Sikap adalah respons ibu terhadap penyakit difteria-tetanus mengenai penyebab, gejala, pengobatan, penularan, dan pencegahannya. Rancangan penelitian kualitatif berupa focus group discussion dengan analisis deskriptif, untuk menilai pengetahuan dan sikap ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus yang tidak tergali dengan penelitian kuantitatif. Sampel diambil sebanyak 5-10 orang dari ibu yang telah ikut dalam penelitian kuantitatif.Hasil. Didapatkan 226 ibu dengan rata-rata usia 35 tahun. Hasil analisis jalur, didapatkan pengetahuan secara signifikan dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan jumlah anak. Sikap signifikan dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan pengetahuan (95%CI: -t<+1,96>t). Hasil analisis jalur didapatkan pengaruh total pendidikan ibu dan pengetahuan terhadap sikap adalah cukup. Pengaruh total pendidikan ibu dan jumlah anak terhadap pengetahuan adalah kurang. Analisis focus group discussion tergambarkan bahwa ibu yang mempunyai pengetahuan tinggi lebih bersikap mandiri terhadap pelaksanaan imunisasi ulangan difteria-tetanus.Kesimpulan. Pengetahuan ibu berpengaruh positif terhadap sikap ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus
Imunogenitas dan Keamanan Vaksin DPT Setelah Imunisasi Dasar Eddy Fadlyana; Suganda Tanuwidjaja; Kusnandi Rusmil; Meita Dhamayanti; Lina H Soemara; R Dharmayanti
Sari Pediatri Vol 4, No 3 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.37 KB) | DOI: 10.14238/sp4.3.2002.129-34

Abstract

Imunisasi difteria, pertusis dan tetanus (DPT) telah lama masuk ke dalam programimunisasi nasional di Indonesia dan telah terbukti menurunkan angka kejadian maupunkematian yang disebabkan penyakit difteria, pertusis dan tetanus. Tujuan penelitian iniuntuk melakukan evaluasi status kekebalan dan faktor keamanan terhadap penyakitdifteria dan tetanus pada bayi yang mendapat imunisasi dasar DPT. Seratus enam puluhsubjek bayi sehat yang dipilih secara random, dilakukan imunisasi secara intramuskulardengan dosis 0,5 ml sebanyak 3 kali pada umur 2, 3 dan 4 bulan, menggunakan vaksinDPT buatan PT. Bio-Farma Bandung. Penentuan titer antibodi difteria dan tetanusdilakukan sebelum dilakukan imunisasi dan 1 bulan setelah imunisasi ke-1, 2 dan 3,menggunakan metode ELISA. Apabila hasilnya < 0,01 IU/ml disebut kelompok rentandan bila > 0,1 IU/ml disebut mempunyai kekebalan lengkap. Kejadian reaksi lokal(nyeri, kemerahan, bengkak, penebalan) dan sistemik (demam, iritabilitas) pasca imunisasidicatat dalam buku catatan harian ibu. Hasil penelitian menunjukkan sebelum dilakukanimunisasi 57% subjek sudah tidak mempunyai perlindungan terhadap difteri dan 6%sudah tidak mempunyai perlindungan terhadap tetanus. Terhadap difteria, rata-ratageometrik titer (GMT) sebelum dan setelah mendapat imunisasi ke-1, 2 dan 3,memberikan hasil berturut-turut 0,008; 0,005; 0,038; dan 0,217 IU/ml; sedang jumlahsubjek yang mempunyai titer > 0,01 IU/ml berturut-turut adalah 44, 28, 44 dan 80%.Terhadap tetanus, rata-rata geometrik titer (GMT) sebelum dan setelah mendapatimunisasi ke-1, 2 dan 3, memberikan hasil berturut-turut: 0,420; 0,273; 0,213; dan0,758 IU/ml; jumlah subjek yang mempunyai titer > 0,01 IU/ml berturtut-turut adalah94; 91; 100 dan 100%. Selama periode penelitian tidak ditemukan adanya reaksi vaksinberat. Reaksi lokal (nyeri, kemerahan, bengkak dan penebalan) dan reaksi sistemik(iritabilitas dan panas) sebagian besar dengan derajat ringan yang selanjutnya menghilangtanpa gejala sisa. Walaupun imunisasi DPT memberikan hasil kekebalan yang tinggidan aman diberikan, namun pada kelompok yang masih rentan perlu mendapat perhatian.
Kasus Kekerasan pada Anak Sekolah (School Bullying) Fiva A Kadi; Eddy Fadlyana
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.247 KB) | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.316-21

Abstract

Abstrak. School bullying atau kekerasan pada anak di sekolah adalah situasi/ keadaanyang seorang anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman atau kakakkelasnya berupa bentuk tindakan kekuasaan secara berulang dan intensif yangmenyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan pada anak lain. Hal ini dapat terjadi diberbagai tingkat sekolah, mulai sekolah Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi.Dilaporkan seorang anak perempuan berusia 7 tahun datang ke poli Tumbuh KembangPediatrik Sosial RS Hasan Sadikin dengan keluhan utama sering pusing pada pagi harisetiap akan pergi ke sekolah, yang mulai dirasakan dalam 3 bulan terkahir. Tidak disertaidengan keluhan demam, mual, muntah, kejang ataupun penurunan kesadaran dan tidakdidahului dengan trauma kepala. Pasien mengalami tekanan dari teman-temannya dikelasnya berupa ejekan atau perintah yang membuat penderita tidak nyaman, malaspergi ke sekolah, sering pusing jika di sekolah atau mau pergi ke sekolah, prestasi belajarmulai menurun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien sadar dan kontak adekuat,tampak malu dan bergantung pada ibunya serta kurang percaya diri. Tidak ditemukankelainan neurologis. Pemeriksaan EEG dan CT scan dalam batas normal. Pemeriksaanpraskrining dengan KMME (kuesioner masalah mental emosional) didapatkan adanyamasalah mental emosional. Penderita dirujuk ke bagian psikiatri dan didapatkan bahwapenderita mengalami depresi. Depresi pada anak dapat disebabkan adanya kekerasanpada anak sekolah (school bullying). Penatalaksanaan harus dilakukan secarakomprehensif yang melibatkan keluarga dan lingkungan.
Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya Eddy Fadlyana; Shinta Larasaty
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.136-41

Abstract

Kasus pernikahan usia dini banyak terjadi di berbagai penjuru dunia dengan berbagai latarbelakang. Telah menjadi perhatian komunitas internasional mengingat risiko yang timbul akibat pernikahan yang dipaksakan, hubungan seksual pada usia dini, kehamilan pada usia muda, dan infeksi penyakit menular seksual. Kemiskinan bukanlah satu-satunya faktor penting yang berperan dalam pernikahan usia dini. Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu risiko komplikasi yang terjadi di saat kehamilan dan saat persalinan pada usia muda, sehingga berperan meningkatkan angka kematian ibu dan bayi. Selain itu, pernikahan di usia dini juga dapat menyebabkan gangguan perkembangan kepribadian dan menempatkan anak yang dilahirkan berisiko terhadap kejadian kekerasan dan keterlantaran. Masalah pernikahan usia dini ini merupakan kegagalan dalam perlindungan hak anak. Dengan demikian diharapkan semua pihak termasuk dokter anak, akan meningkatkan kepedulian dalam menghentikan praktek pernikahan usia dini
Hubungan Stunting dengan Gangguan Kognitif pada Usia Remaja Awal di Kecamatan Jatinangor Rafa Fathia Suhud; Eddy Fadlyana; Elsa Pudji Setiawati; Siti Aminah; Rodman Tarigan
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.115-20

Abstract

Latar belakang. Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan nasional maupun dunia. Diperkirakan stunting berhubungan dengan penurunan dalam tingkat kognitif, kapasitas belajar, motorik, dan fungsi bahasa.Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan stunting dengan gangguan kognitif pada usia remaja awal di Kecamatan Jatinangor.Metode. Jenis penelitian ini merupakan studi penelitian analitik komparatif dengan metode potong lintang. Kriteria inklusi penelitian ini adalah murid sekolah dasar kelas 5-6 di Kecamatan Jatinangor. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah pengambilan data yang tidak lengkap dan memiliki penyakit kronik. Pengambilan data berupa karakteristik subjek, antropometri dilakukan sesuai dengan prosedur WHO, dan fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) Folstein. Analisis data menggunakan Fisher’s Exact Test.Hasil. Penelitian ini terdiri dari 58 subjek yang terdiri dari 57% perempuan dan 43% laki-laki dengan rentang usia 10-12 tahun. Terdapat 26% subjek yang termasuk kategori stunting dan 26% yang termasuk kategori Mini Mental State Examination tidak normal. Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Fisher’s Exact Test didapatkan hubungan antara stunting dengan gangguan kognitif dengan nilai p=0,013.Kesimpulan. Dari hasil penelitian ini ditemukan terdapat hubungan bermakna antara stunting dengan gangguan kognitif pada usia remaja awal di Kecamatan Jatinangor.
Hubungan Kadar Feritin Serum dengan Fungsi Kognitif Berdasarkan Pemeriksaan Status Mini-Mental (MMSE) pada Penyandang Thalassemia Anak Fathiyah Ma’ani; Eddy Fadlyana; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.373 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.163-8

Abstract

Latar belakang. Penyandang thalassemia yang mendapat transfusi rutin tanpa kelasi besi yang optimal dapat menyebabkankelebihan besi yang memicu stres oksidatif dan dapat mempercepat proses degenerasi di otak.Tujuan. Menentukan hubungan kadar feritin serum dengan fungsi kognitif.Metode. Penelitian analitik dengan rancangan potong lintang terhadap 95 penyandang thalassemia anak berusia di atas 10 tahunpada bulan April sampai Mei 2015. Pemilihan subjek dilakukan secara consecutive sampling. Fungsi kognitif dinilai berdasarkan tesmini mental state examination (MMSE). Kadar feritin serum dan faktor lain yang berhubungan dengan fungsi kognitif dianalisismenggunakan multipel regresi.Hasil. Subjek penelitian terdiri dari 95 anak, anak laki-laki 46 orang (48,4%) dan anak perempuan 49 orang 51,6%. Rerata(SB)kadar feritin serum 4355,9 (2149) μg/L. Berdasarkan pemeriksaan MMSE didapatkan rerata(sb) skor 29,6 (3,9). Terdapat hubunganantara feritin serum dan fungsi kognitif (p=0,040). Faktor lain yang berhubungan adalah pendidikan anak, pendidikan ibu danfrekuensi transfusi.Kesimpulan. Kadar feritin serum berhubungan dengan skor MMSE.
Hubungan Status Gizi dan Perkembangan Anak Usia 1 - 2 Tahun Gladys Gunawan; Eddy Fadlyana; Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.121 KB) | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.142-6

Abstract

Latar belakang.Pada umumnya usia 1-2 tahun pertama kehidupan akan menentukan kualitas hidup anak di kemudian hari. Tujuan. Mengetahui gambaran perkembangan anak usia 1-2 tahun dan status gizi. Metode.Penelitian dilakukan di tiga Puskesmas Garuda, Ibrahim Aji, dan Puter yang terdiri dari 24 Posyandu di Kabupaten Bandung. Penelitian dilakukan dilakukan secara cross sectionaldengan subjek anak usia 1-2 tahun yang sehat dan kooperatif pada saat pemeriksaan, serta orang tua menyetujui ikut dalam penelitian. Tes perkembangan dilakukan oleh satu dokter anak dan dua dokter (residen) dengan menggunakan KPSP (Kuesioner Pra Skrening Perkembangan). Empat aspek perkembangan yang dinilai yaitu motorik kasar, motorik halus, bicara dan bahasa, sosial dan kemandirian. Penelitian dilakukan dari tanggal 15 November 2010 sampai 30 November 2010. Hasil.Jumlah subjek 321 anak usia 1–2 tahun dan yang memenuhi kriteria inklusi 308 anak, terdiri dari 164 laki-laki (53,2%) dan 144 perempuan (46,8%). Anak yang mengalami perkembangan normal 278 anak (90,22%) dan meragukan 30 anak (9,78%). Sedangkan status gizi dinilai berdasarkan BB/PB, hasil normal 277 anak (89,9%) dan kurus 31 anak (10,10%). Dari 31 anak dengan status gizi kurang, di antara 2 anak di antaranya mengalami perkembangan meragukan dan dari 28 anak dengan perkembangan meragukan mempunyai status gizi normal. Kesimpulan.Tidak terdapat hubungan antara gangguan perkembangan dengan status gizi (p=0,394) begitu juga dengan status gizi dengan kondisi ekonomi (p=2,500) dan perkembangan dengan status ekonomi (p=0,336). Dari perkembangan dengan nilai meragukan adalah motorik kasar (6,17%), motorik halus (0,65%), bicara dan bahasa (4,54%), serta sosialisasi dan kemandirian (2,92%). Faktor-faktor yang berhubungkan dengan status perkembangan adalah umur anak (p=0,009). Perlu upaya untuk mengevaluasi perkembangan yang meragukan dan perlu penelitian lanjut dengan pembanding.
Booster Vaksinasi Hepatitis B Terhadap Anak yang Non Responder Kusnandi Rusmil; Eddy Fadlyana; Novillia S Bachtiar
Sari Pediatri Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.016 KB) | DOI: 10.14238/sp12.2.2010.88-91

Abstract

Latar belakang. Berbagai penelitian terhadap respons imun setelah imunisasi hepatitis B dengan menggunakan vaksin monovalen dari plasma maupun yang berasal dari teknik DNA rekombinan menunjukkan antara 5%-15% tidak memberikan respons (non-responder) atau kurang memberikan respons (hypo-responder) Center of Disease Control merekomendasikan terhadap anak yang tidak mempunyai tingkat proteksi antibodi (anti-Hbs) setelah mendapat imunisasi dasar, perlu diberikan 3 kali suntikan rangkaian ke-2. Setelah rangkaian ke-2 imunisasi Hepatitis B tersebut maka 30%-50% diantaranya akan mempunyai kadar yang protektif.Tujuan. Penelitian bertujuan mengeksplorasi lebih mendalam mengenai manfaat pemberian vaksinasi rangkaian kedua pada anak hipo dan non responder sebagai salah satu data yang dapat dipergunakan strategi menghadapi masalah hepatitis B di Indonesia.Metode. Penelitian dilakukan terhadap 144 anak yang telah melaksanakan imunisasi dasar hepatitis B secara lengkap (3 kali) yang merupakan bagian uji klinis vaksin pentavalen (DPT/hepatitis B/Hib). Enam bulan setelah mengetahui kadar anti-Hbs hasil uji klinik pentavalen dilakukan pemberian imunisasi rangkaian ke-2 pada anak-anak hipo/non-responder.Hasil. Sebelas anak mempunyai kadar anti-Hbs <10 mIU/ml (non/hypo responder terhadap vaksinasi Hepatitis B). Terhadap kesebelas anak tersebut dilakukan pemeriksaan kadar anti-Hbs setelah 6 bulan pemberian imunisasi hepatitis B-3, didapatkan 3 anak (27,2%) mengalami peningkatan sehingga mempunyai kadar anti-Hbs >10 mIU/ml, 8 orang anak (72,2%) mempunyai kadar <10 mIU/ml. Pada 8 anak tersebut dilakukan imunisasi rangkaian ke-2 hepatitis B sebanyak 3 kali. Setelah mendapat rangkaian ke-2 imunisasi Hepatitis B, kedelapan subjek (100%) mencapai kadar protektif (>10 mIU/ml).Kesimpulan. Pemberian 3 dosis standar hepatitis B dapat digunakan untuk memberikan kekebalan pada anak sehat dengan hypo/non responder.
Stunting Determinant on Toddler Age of 12–24 Months in Singaparna Public Health Center Tasikmalaya Regency Erwina Sumartini; Dida Akhmad Gurnida; Eddy Fadlyana; Hadi Susiarno; Kusnandi Rusmil; Jusuf Sulaeman Effendi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.562 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v7i3.3673

Abstract

Stunting is a physical growth failure condition signed by height based on age under −2SD. The research goal is knowing the dominant factor associated with stunting on toddler age of 12–24 months in the working area of Singaparna Public Health Center Tasikmalaya regency. The research applies to the cross-sectional design of gender, weight, exclusive breastfeeding history, completeness immunization, and clinically healthy variables, while case-control is for nutrition intake variable. The sample was a total sampling of 376 toddlers, then 30 for case and control group with the simple random method from December 2017 to February 2018. The instrument is a questionnaire, food frequency questionnaire (FFQ), and infantometer. Data analyzed in several ways; univariable, bivariable with chi-square, and multivariable with logistic regression. Research result shows stunting prevalence was 22.5%, next pertain factor of stunting are gender (POR=0.564, 95% CI=0.339–0.937, p value=0.011), exclusive breastfeeding giving history (POR=1.46, 95% CI=1.00–2.14, p value=0.046), and clinically health (POR=1.47, 95% CI=1.00–2.16, p value=0.044). Moreover, dominant factor were gender (OR=0.56, 95% CI=0.339–0.937, p value=0.027) and clinically health (OR=1.68, 95% CI=1.022–2.771, p value=0.041). Thus, gender and clinical health are stunting determinant factors. Children’s health should increase to create maximum growth. DETERMINAN STUNTING PADA ANAK USIA 12–24 BULAN DI PUSKESMAS SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYAStunting merupakan kondisi kegagalan pertumbuhan fisik yang ditandai dengan tinggi badan menurut usia berada di bawah −2SD. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor determinan stunting pada anak usia 12–24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Singaparna Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian menggunakan desain cross-sectional untuk variabel jenis kelamin, berat badan lahir, riwayat ASI eksklusif, kelengkapan imunisasi, dan  sehat secara klinis, sedangkan desain case-control untuk variabel asupan nutrisi. Pengambilan sampel secara total sampling sejumlah 376 anak, selanjutnya diambil 30 anak untuk kelompok kasus dan kontrol dengan metode random sederhana periode Desember 2017 hingga Februari 2018. Instrumen menggunakan kuesioner, food frequency questionaire (FFQ), dan infantometer. Analisis data dilakukan secara univariabel, bivariabel dengan chi-square, dan multivariabel dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 22,6%, faktor yang berhubungan dengan stunting di antaranya jenis kelamin (POR=0,564; IK95%=0,339–0,937; p=0,011), riwayat pemberian ASI eksklusif (POR=1,46; IK95%=1,00–2,14, p=0,046), dan sehat secara klinis (POR=1,47; IK95%=1,00–2,16; p=0,044). Faktor dominan yang berhubungan dengan stunting adalah jenis kelamin (OR=0,56; IK95%=0,339–0,937; p=0,027) dan sehat secara klinis (OR=1,68; IK95%=1,022–2,771; p=0,041). Jenis kelamin dan sehat secara klinis merupakan faktor determinan stunting. Kesehatan anak perlu ditingkatkan untuk menciptakan pertumbuhan anak yang maksimal.
Co-Authors Adhitya Agung Pratama Alex Chairulfatah Alex Chairulfatah Andy Japutra Anggraini Alam Anna Alisjahbana Anne Susanty Arief Priambodo Arifah Nur Istiqomah Armijn Firman Cissy Kartasasmita Dadang Hudaya Somasetia Dadang Hudaya Somasetia Dany Hilmanto Desak Gede Arie Yudhantari Dewi Marhaeni Diah Herawati Dida Akhmad Gurnida Djatnika Setiabudi Dwi Putra, Muhammad Gilang Elda Khalida Elizabeth, Monalisa Elsa Pudji Setiawati Endah Pujiastuti Erwina Sumartini Faisal Faisal Faisal Faisal Fathiyah Ma’ani Firman Fuad Wirakusumah Fitriah, Iin Prima Fiva A Kadi Fiva A Kadi Ghaniyyatul Khudri Gladys Gunawan Gustomo Panantro Hadyana Hadyana Hadyana Hadyana Hadyana Sukandar Hadyana Sukandar Hasan Basri Heda Melinda Nataprawira Herman Susanto Herry Garna Herry Herman Ilsa Nelwan Istiqomah, Arifah Nur Ita Susanti Iwin Sumarman Iwin Suwarman Jusuf Sulaeman Effendi Kartasmita, Cissy B Krisnadi, Sofie Kusnandi Rusmil Kusnandi Rusmil Kusnandi Rusmil Lelani Reniarti Lesmana Syahrir Lina H Soemara Mardiah, Behesti Zahra Marietta Shanti Prananta Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Muchlisah Noor Nanan Sekarwana Nita Arisanti Nita Arisanti Nova Sylviana Novila Sjafri Bachtiar Novilia S Bachtiar Novilia Sjafri Bachtiar Novilia Sjafri Bachtiar Novilia Sjafri Bachtiar Novilia Sjafri Bachtiar Novillia S Bachtiar Novina Novina Panantro, Gustomo Prananta, Marietta Shanti Primadevi, Inggit Puspasari Sinaga R Dharmayanti Rachmat Gunadi Rachmat Gunadi Rafa Fathia Suhud Rini Mulia Sari Rini Rossanti Rodman Tarigan Selly Selly Setyorini Irianti Sheilla Selvina Sheilla Selvina, Sheilla Shinta Larasaty Sinaga, Puspasari Sinthura Vimalan Subramaniam Siti Aminah Sjarif Hidajat Effendi Soenarjati Soedigo Adi Soenarjati Soedigo Adi Sofia, Norlaila Sri Endah Rahayuningsih Sri Utami Suwarto Subramaniam, Sinthura Vimalan Suganda Tanuwidjaja Susiarno, Hadi Tommy Nugrahadi Whisnubrata Yenny Purnama Yulia Sofiatin Yundari, Yundari