Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PERBANDINGAN KADAR HEMOGLOBIN ANTARA ANAK SD DI DATARAN RENDAH DAN TINGGI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DIRGAHAYU KOTABARU TAHUN 2024 Rahmatus Sholehah; Neni Oktiyani; Ahmad Muhlisin; Wahdah Norsiah
Jurnal Karya Generasi Sehat Vol. 3 No. 2 (2025): Edisi Desember 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jkgs.v3i2.218

Abstract

Hemoglobin ialah unsur utama dalam sel darah merah yang tergolong sebagai protein terkonjugasi, berfungsi penting dalam proses pengangkutan oksigen serta karbon dioksida dalam tubuh. Hasil pemeriksaan terhadap sejumlah parameter darah seperti eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit memperlihatkan adanya perbedaan yang mencolok antara individu yang tinggal di daerah dataran tinggi dengan mereka yang menetap di daerah dataran rendah. Kondisi kadar oksigen yang menurun seiring dengan peningkatan ketinggian menyebabkan tubuh beradaptasi dengan meningkatkan produksi sel darah merah demi mencukupi kebutuhan oksigen. Semakin tinggi lokasi tempat tinggal, semakin tinggi pula jumlah eritrosit yang diproduksi. Oleh karena itu, jumlah eritrosit memiliki kaitan erat dengan kadar hemoglobin dan hematokrit. Penelitian ini bertujuan guna mengetahui apakah ada perbedaan kadar hemoglobin antara siswa sekolah dasar yang berdomisili di dataran tinggi dan dataran rendah di wilayah kerja Puskesmas Dirgahayu, Kabupaten Kotabaru. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan bersifat komparatif. Pemeriksaan dilakukan secara otomatis menggunakan alat hematology analyzer terhadap sampel darah vena dari 15 siswa di dataran rendah dan 15 siswa di dataran tinggi. Hasil analisis menggunakan uji Mann Whitney U menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,003, yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Rata-rata kadar hemoglobin pada siswa di dataran rendah tercatat sebesar 11,6 g/dl, sedangkan pada siswa di dataran tinggi mencapai 12,6 g/dl. Penelitian selanjutnya disarankan guna dilakukan pada wilayah dengan ketinggian 725 mdpl dengan melibatkan subjek remaja maupun orang dewasa.
PERBEDAAN KUALITAS PEWARNAAN SEDIAAN SITOLOGI MENGGUNAKAN BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L) SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI METHYLENE BLUE PADA METODE DIFF QUICK Rizky Arsyanti; Neni Oktiyani; Aima Insana; Ratih Dewi Dwiyanti
Jurnal Karya Generasi Sehat Vol. 3 No. 2 (2025): Edisi Desember 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jkgs.v3i2.232

Abstract

Pewarnaan sediaan sitologi dilakukan untuk memperjelas morfologi sel agar dapat diamati secara mikroskopis, khususnya pada bagian inti sel dan sitoplasma. Pewarnaan Diff Quick merupakan metode yang umum digunakan karena cepat dan memiliki kontras warna yang baik, tetapi salah satu komponennya, methylene blue, bersifat toksik dan tidak ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas pewarnaan sediaan sitologi menggunakan larutan bunga telang (Clitoria ternatea L) sebagai alternatif alami pengganti methylene blue dengan pewarnaan Diff Quick. Jenis penelitian True Experiment dengan rancangan Post Test Only with Control Group Design, terdiri dari 4 perlakuan dengan 6 kali pengulangan menggunakan 1 sampel cairan pleura yang diwarnai dengan larutan bunga telang pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30%, serta dibandingkan dengan pewarnaan Diff Quick standar sebagai kontrol. Hasil pemeriksaan mikroskopik larutan bunga telang konsentrasi 20% menunjukkan kualitas tidak baik, 25% menunjukkan kualitas cukup baik dan 30% menunjukkan kualitas pewarnaan yang paling mendekati pewarnaan standar dengan kategori “sangat baik.” Uji Friedman menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan (p=0,001), dan uji Wilcoxon menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara larutan bunga telang 30% dengan kontrol (p=0,063). Kesimpulannya, larutan bunga telang konsentrasi 30% memiliki potensi sebagai pewarna alami alternatif methylene blue dalam Metode Diff Quick. Disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menaikkan konsentrasi larutan pewarna bunga telang atau menaikkan pH larutan pewarna bunga telang (Clitoria ternatea L).
CEGAH PENULARAN PENYAKIT HEPATITIS B PADA IBU HAMIL MELALUI PENINGKATAN PENGETAHUAN, DETEKSI DINI DAN PHBS DI WILAYAH PUSKESMAS SUNGAI TABUK I KABUPATEN BANJAR: CEGAH PENULARAN HEPATITIS B PADA SANTRI MELALUI PENINGKATAN PENGETAHUAN, DITEKSI DINI DAN PHBS DI PESANTREN RAUDHATUN NASYI’IN SUNGAI BESAR BANJARBARU Norsiah, Wahdah; Neni Oktiyani; Tini Elyn Herlina
JURNAL RAKAT SEHAT (JRS) : Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Rakat Sehat
Publisher : UPPM Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jrs.v5i1.137

Abstract

Transmission of Hepatitis B Virus (HBV) occurs through two main routes: vertical transmission, where an infected mother passes the virus to her baby during childbirth, and horizontal transmission, where an individual with HBV transmits the virus to others through sexual contact, blood transfusion, or the shared use of personal items such as combs, razors, blankets, and eating utensils contaminated with the virus. High-risk groups for HBV transmission include inmates in correctional facilities, family members or household contacts of infected individuals, residents of orphanages, and those living in boarding-type educational institutions such as Islamic boarding schools (pondok pesantren) and other similar settings. The objective of this community service activity was to increase knowledge, conduct HBV and Anti-HBs screening, and promote clean and healthy living behavior (PHBS) among the students (santri) at Pondok Pesantren Raudhatun Nasyi’in, Sungai Besar, Banjarbaru. The results of the screening showed that all 30 students (100%) tested negative for HBsAg, while 1 student (3%) was positive for Anti-HBs and 29 students (97%) were negative. The level of knowledge before the educational intervention was poor in 20%, fair in 33%, and good in 47% of participants. After the educational session, the results improved significantly, with 7% fair and 93% good levels of knowledge. Implementation of clean and healthy living behavior (PHBS) indicators showed 95% for personal hygiene, 97% for environmental cleanliness, and 95% for the use of available facilities. In conclusion, no students were found to be infected with Hepatitis B. There was a significant improvement in knowledge, attitudes, and skills among the students in practicing clean and healthy living behavior.