Claim Missing Document
Check
Articles

Perbandingan Efek Nefroprotektif Penggunaan Dapagliflozin Monoterapi dan Kombinasinya dengan Metformin pada Tikus Jantan Galur Wistar Arrina Sabilahaq; Ikhwan Yuda Kusuma; Peppy Octaviani
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2021: Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2021)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.437 KB)

Abstract

Diabetes Mellitus merupakan gangguan metabolisme ditandai dengan peningkatan glukosa darah akibat sekresi insulin, aksi insulin ataupun keduanya. Diabetes Mellitus berpotensi komorbid yaitu kerusakan ginjal(nefropati), sehingga perlu dilakukan pemilihan obat antidiabetes yang aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hipoglikemik dan nefroprotektif dari penggunaan dapagliflozin secara monoterapi dan kombinasi dengan metformin dihitung berdasarkan nilai glukosa darah dan kreatinin pada tikus jantan galur wistar. Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental dan dianalisis dengan Paired T-Test, One Way ANOVA dan Pos Hoc HSD. Penelitian ini menggunakan 24 tikus yang dibagi 4 kelompok, yaitu kontrol normal, kontrol negatif, pemberian monoterapi dapagliflozin dan kombinasi dengan metformin. Hasil menunjukkan bahwa pemberian dapagliflozin dan metformin mampu menurunkan kadar glukosa darah dan kreatinin. Pada output Paired T-Test didapat sig.<0,05, menunjukkan ada perbedaan rata-rata antara kadar glukosa darah dan kreatinin pre test dan post test. Output One Way Anova menunjukan sig.<0,05 menunjukkan rata-rata kelompok uji berbeda secara signifikan. Output Pos Hoc HSD didapat sig.(2-tailed)<0,05 menunjukkan ada perbedaan bermakna antara kontrol negatif dengan kelompok uji, dimana terjadi penurunan kadar glukosa darah dan kreatinin. Kesimpulan penelitian ini ialah penggunaan kombinasi dapagliflozin dengan metformin lebih signifikan menurunkan kadar glukosa darah sebesar 134.0650±0.5 mg/dl dan kreatinin sebesar 0.9217±0.54 mg/dl dibanding penggunaan monoterapi dapagliflozin.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis pada Pasien Bedah Sesar (Sectio Caesarea) di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Tahun 2020 Nida Nuridayah; Sunarti Sunarti; Ikhwan Yuda Kusuma
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2021: Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2021)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.761 KB)

Abstract

Bedah sesar (Sectio caesarea) mengacu pada tindakan pembedahan yang bertujuan melahirkan bayi dengan membuka dinding abdomen (perut) dan uterus (rahim) seorang. Resiko ILO (infeksi luka operasi) dari tindakan bedah sesar (Sectio Caesarea) tersebut dapat diturunkan dengan adanya pemberian antibiotik profilaksis bedah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien bedah sesar di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo meliputi usia pasien, usia kehamilan, indikasi pasien, lama rawat inap, dan pola penggunaan antibiotik profilaksis serta untuk mengetahui rasionalitas terapi antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat rute pemberian, dan tepat waktu pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan data retrospektif. Subyek penelitian adalah semua pasien bedah sesar (Sectio Caesarea) pada periode Januari-Desember 2020. Data diperoleh dari rekam medik secara retrospektif. Analisis evaluasi antibiotik profilaksis bedah sesar menggunakan perhitungan persentase. Hasil penelitian menunjukkan usia pasien paling banyak berusia 20-35 tahun (66,3%), usia kehamilan paling banyak pada usia aterm (77,2%), indikasi terbanyak KPD (Ketuban Pecah Dini) (19,6%), dan lama perawatan paling banyak 2-4 hari (73,9%). Pola penggunaan antibiotik profilaksis bedah sesar paling banyak adalah cefazolin (94,6%). Evaluasi penggunaan antibiotik profilaksis bedah sesar diketahui tepat pasien, tepat indikasi, tepat rute pemberian (100%), tepat obat (94,6%), tepat dosis (94,6%), dan tepat waktu pemberian (83,7%. Kesimpulannya Penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar dikatakan sudah rasional karena sudah sesuai dengan pedoman penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah sesar.
Rasionalitas Penggunaan Antibiotik pada Pasien Pneumonia Anak di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Novia Wulandari; Sunarti Sunarti; Ikhwan Yuda Kusuma
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2021: Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2021)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.781 KB)

Abstract

Angka kejadian pneumonia menurut World Health Organization (2019) di tahun 2017 sekitar 15% kematian anak akibat pneumonia sebanyak 808.694 jiwa. Dari Data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018 prevalensi pneumonia anak di Indonesia sebesar 3,5 % (usia 5-14 tahun) (Kemenkes RI, 2018). Pneumonia bila tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan komplikasi akut berupa supurasi (abses paru ataupun empyem thoracis) tidak jarang penderita akan meninggal pada akhir minggu kedua terhitung sejak menderita pneumonia. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien pneumonia anak di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto meliputi usia, jenis kelamin, dan pola penggunaan antibiotik, serta rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan kriteria tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis dan rute pemberian dan dibandingkan dengan beberapa pedoman. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan data retrospektif. Subyek dalam penelitian ini yaitu pasien pneumonia anak di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto tahun 2020. Data diperoleh dari rekam medik pasien secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif/univariat dengan hasil dalam bentuk presentase dan tabel. Hasil penelitian menunjukkan dari 31 sampel pasien diperoleh karakteristik berdasarkan usia 45,16% (6-7 tahun), berdasarkan jenis kelamin 61,29% banyak dialami laki-laki, dan pola penggunaan antibiotik yaitu ampicillin (45,16%). Rasionalitas penggunaan antibiotik pasien pneumonia anak dilihat dari tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis dan tepat rute pemberian sebesar 100%. Kesimpulannya penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia anak sudah rasional karena sudah sesuai panduan terapi yang digunakan.
Uji Aktivitas Antihiperurisemia Ekstrak Etanol Eksokarp Buah Semangka Merah (Citrullus Lanatus (Thunb)) pada Mencit Galur BALB-c Nur Islamiah; Ikhwan Yuda Kusuma; Dina Febrina
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2021: Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2021)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.17 KB)

Abstract

Hiperurisemia adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah. Beberapa tanaman yang berpotensi untuk digunakan sebagai pengobatan alternatif hiperurisemia adalah ekstrak semangka. Ekstrak buah semangka memiliki senyawa flavonoid yang bekerja seperti etanol dengan cara menghambat enzim xantin oksidase. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan konsentrasi ekstrak semangka terhadap penurunan kadar asam urat pada galur balb-c. Metode penelitian dilakukan secara eksperimen selama 7 hari, dengan metode uji Paired T-Test, One Way ANOVA (Analysis of Variant) dan LSD (Least Significant Difference), dengan sig = 0,05 untuk mengetahui perbedaan signifikan antara kelompok I, II, III, IV, dan V. Kelompok satu kontrol positif, kelompok dua kontrol negatif, kelompok tiga diberi dosis 1 (112 mg/kgBB), kelompok empat diberi dosis 2 (150 mg/kgBB), kelompok lima diberi dosis 3 (200 mg/kg). Ekstrak kulit semangka. Hasil penelitian ini pada hari ke-0 diperoleh nilai rata-rata kadar asam urat sebesar 4,08±0,52 mg/dl, sedangkan nilai rata-rata hari ke-14 adalah 3,35±0,68 mg/dl. Pada uji one way ANOVA menunjukkan sig. < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata kelima kelompok uji berbeda nyata dengan dosis terbaik dosis 3 (200 mg/kgBB).
Uji Stabilitas Fisik Kombinasi Ekstrak Etanol Rimpang Kencur (Kaempferiae Galanga L.) dan Daun Tapak Dara (Catharanthus Roseus) dalam Sediaan Gel sebagai Antiinflamasi Galih Samodra; Ikhwan Yuda Kusuma
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2021: Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2021)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.431 KB)

Abstract

Gel merupakan salah satu sediaan semisolid yang dibuat dengan mencampur ekstrak dengan basis yang sesuai dan akan terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel memiliki banyak air serta memiliki daya penghantaran yang lebih baik dibandingkan dengan salep. Sediaan gel yang dibuat dari kombinasi ekstrak Rimpang kencur (Kaempferiae galanga L.) dan daun Tapak dara (Catharanthus roseus) memiliki aktivitas antiinflamasi untuk dapat menurunkan peradangan pada tikus wistar yang diinduksi oleh karagenin 1%. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui stabilitas fisik serta efek antiinflamasi yang dihasilkan dalam sediaan gel kombinasi ekstrak Rimpang kencur (Kaempferiae galanga L.) dan daun Tapak dara (Catharanthus roseus). Metode menggunakan penelitian eksperimental murni untuk mengetahui formula yang paling stabil dalam pengujian sifat fisik sediaan sebelum penyimpanan dan setelah penyimpanan selama 6 siklus penyimpanan pada suhu 5 0 C dan 400 C dengan melihat secara organoleptis, homogenitas, pH, daya lekat, daya sebar, serta viskositas. Hasil penelitian ini menunjukkan sediaan yang stabil sebelum penyimpanan dan sesudah penyimpanan baik dilihat secara organoleptis, homogenitas, pH, daya lekat, daya sebar,serta viskositas. Formula 1, 2, 3 memiliki nilai yang dimana dalam semua pengujian memasuki nilai normal yang telah ditetapkan, Formula 3 dengan konsentrasi carbopol 1,5% memiliki stabilitas fisik lebih baik dengan konsentrasi masing-masing formula ekstrak rimpang kencur 0,09% dan ekstrak daun tapak dara 0,05%.
The THE PARE FRUIT ACTIVITY (Momordica charantia L.) AS HERBAL ANTI-HYPERGLYCEMIC FOR DIABETES MELLITUS CONDITIONS: LITERATURE REVIEW: AKTIVITAS BUAH PARE (Momordica charantia L.) SEBAGAI HERBAL ANTI HIPERGLIKEMIA PADA KONDISI DIABETES MELITUS: LITERATURE REVIEW Ikhwan Yuda Kusuma; Yuli Yuli Maesaroh
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.876 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v12i2.20

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder characterized by high blood glucose (hyperglycemia) and impaired carbohydrate, fat, and protein metabolism due to effects on insulin secretion and insulin sensitivity. Oral antidiabetic is one of the therapeutic options to control blood glucose although its use has the potential for side effects and is very detrimental, especially in long-term use. Complementary therapies made from herbs such as bitter melon (Momordica charantia L.) are potential aspects to be alternative therapies because of the potential for lower side effects and affordable costs. This study describes the activity of bitter melon (Momordica charantia L.) as an antihyperglycemic agent. This type of research is a literature review which is described descriptively. The literature search method uses international and national journals conducted by online and identified using electronic databases from PubMed, Science Direct and Google Scholar. The data collection process uses the PICO (Population, Intervention, Compare, Outcome) approach. The results of this study showed that bitter melon (Momordica charantia L.) contains antidiabetic compounds including charantin and polypeptide-p. Bitter gourd, both in extract and non-extract form and in single or in combination, has been shown to reduce blood glucose levels, increase insulin sensitivity and levels, normalize HbA1c levels, improve lipid profiles and reduce oxidative stress. The conclusion of this study is that bitter melon has the potential as an antihyperglycemic herb in diabetic conditions.
Potensi POTENSI DAUN KELOR (Moringa oleifera) SEBAGAI AGEN ANTI-HIPERGIKEMIA : STUDI LITERATUR REVIEW: POTENTIAL OF MORINGA LEAF (Moringa oleifera) AS ANTI-HYPERGLICEMIC AGENT: A LITERATUR REVIEW Ikhwan Yuda Kusuma; Yuyun Pujiarti; Galih Samodra
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.846 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v12i1.21

Abstract

Diabetes Melitus (DM) dikenal sebagai gangguan metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia). Menurut data International Diabetes Federation (IDF) 2017, jumlah diabetisi mencapai 415 juta jiwa dan diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2040 sekitar 642 juta jiwa (55%). Salah satu alternatif pengobatan untuk menanggulangi penyakit diabetes yaitu tanaman herbal diantaranya daun kelor (Moringa oleifera) yang kaya akan nutrisi, seperti phytochemical, karoten, senyawa flavonoid, senyawa phenoid, kalsium, besi, protein, vitamin serta memiliki kandungan antioksidan yang dapat menstabilkan radikal bebas sehingga dapat dijadikan proteksi terhadap diabetes melitus. Tujuan Penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi daun kelor (Moringa oleifera) dalam menurunkan kadar gula darah berdasarkan data ilmiah yang dikumpulkan. Metode penelitian ini menggunakan metode literatur Review dengan pencarian jurnal ilmiah secara online pada database Science Direct dan Google Scholar terbitan tahun 2010-2020 dengan teknik pengumpulan data menggunakan pendekatan PICO (Population, Intervention, Comparasion, Outcome). Hasil tinjauan literatur beberpaa jurnal, daun kelor (Moringa oleifera) berpotensi sebagai penurun kadar glukosa darah yang sangat efektif, selain itu daun kelor (moringa oleifera) menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap profil lipid, resistensi insulin, penurunan glukosa darah, dan penurunan berat badan secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa daun Moringa oleifera terbukti memiliki efek dapat menurunkan kadar gukosa dalam darah.
Aktivitas AKTIVITAS ANTIKOLESTEROL KOMBINASI EKSTRAK EKSOKARP BUAH SEMANGKA (Citrullus Lanatus (Thunb.)) DAN EKSTRAK DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) PADA MENCIT JANTAN GALUR balb/c: ANTICHOLESTEROL ACTIVITY OF WATERMELON EXOCARP EXTRACT (Citrullus Lanatus (Thunb.)) AND BAY LEAF EXTRACT (Syzygium Polyanthum) IN MALE MICE OF balb/c STRAIN Ikhwan Yuda Kusuma; Noryana; Peppy Octaviani
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.887 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v12i1.22

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efek ekstrak eksokarp buah semangka (citrullus lanatus (thunb.)) dengan ekstrak daun salam (syzygium polyanthum) serta kombinasi keduanya dalam menurunkan kadar kolesterol. Induksi hiperkolesterolemia dilakukan dengan pemberian suspensi propiltiourasil (PTU). Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan rancangan Pre-test dan Post-test with control group. Mencit dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok perlakuan (1, 2, dan 3) dan kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+), dan kontrol normal. Dosis yang digunakan yaitu K1 ekstrak eksokarp buah semangka 500 mg/kgBB, K2 ekstrak daun salam 400 mg/kgBB, dan K3 kombinasi ekstrak eksokarp buah semangka dan ekstrak daun salam 500;400 mg/kgBB. Sedangkan kelompok K- diberikan Na-CMC 1%, K+ diberikan Simvastatin 10 mg/kgBB, dan kontrol normal tanpa perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan pada kelompok kontrol positif menunjukkan penurunan kadar kolesterol total mencit yaitu 50.67± 35.82mg/dL, kontrol negatif menunjukkan penurunan kadar kolesterol hanya 2.67±1.89mg/dL, sedangkan pada kelompok normal (tanpa perlakuan) menunjukan peningkatan kadar kolesterol yaitu 6,66±4.70mg/dL. K1 menunjukan penurunan kadar kolesterol yaitu 51±36.06 mg/Dl, sementara K2 menunjukan penurunan kadar kolesterol sebesar 50.33±35.59 mg/dL, dan K3 menunjukan penurunan kadar kolesterol sebesar 86.67±61.28mg/dL. Berdasarkan hasil dari tiga kelompok tersebut menunjukkan adanya pengaruh dalam menurunkan kadarr kolesterol total pada mencit.
Efek Media Informasi terhadap Persepsi Apoteker terhadap Risiko Infeksi Covid-19 dan Vaksin Covid-19 Ikhwan Yuda Kusuma; Alvin Ulinnuha; Awang Pardigantara; Bella Aisya Fitri; Gita Fitriyani
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 2 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i2.272

Abstract

Pendahuluan: Media berperan sebagai sumber informasi yang sangat penting untuk mengedukasi masyarakat mengenai COVID-19. Namun karena jumlah sumber informasi yang begitu banyak, sehingga muncul misinformasi atau disinformasi yang membuat masyarakat memperoleh informasi yang salah tentang COVID-19, termasuk terkait vaksinasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar efek media informasi terhadap persepsi apoteker tentang risiko infeksi COVID-19 dan vaksin COVID-19. Metode: Studi cross-sectional, berdasarkan kuesioner yang dilaporkan sendiri. Kuesioner dikembangkan pada platform berbasis web dan undangan dikirim kepada apoteker Kabupaten Banyumas untuk berpartisipasi dalam penelitian menggunakan aplikasi media sosial. Hasil: Sebanyak 54 responden berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil yang diperoleh dari kuesioner persepsi apoteker terhadap  peran media tentang COVID-19 dan Vaksin COVID-19, persepsi apoteker terhadap risiko infeksi COVID-19 persepsi apoteker terhadap vaksin COVID-19 memiliki r hitung pada kisaran > 0,632 artinya item pertanyaan pada kuesioner tersebut telah memenuhi uji validasi dan dinyatakan valid. Pada uji reliabilitas memiliki nilai r hitung > 0,632 artinya data tersebut reliabel. Kesimpulan: Persepsi apoteker terhadap peran media informasi tentang COVID-19 memiliki presentase berkisar antara 88,8% hingga 94,5%, sementara persepsi mereka terhadap risiko infeksi COVID-19 memiliki presentase rentang 77,7% hingga 100%.Hasil ini mengindikasikan perlunya penelitian lanjutan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi variasi persepsi apoteker, guna meningkatkan efektivitas strategi komunikasi terkait COVID-19 dan vaksinasi.
Molecular mechanism of glucocorticoid-induced hyperglycemia Sari, Destika Ambar; Samodra, Galih; Kusuma, Ikhwan Yuda
Pharmacy Reports Vol. 1 No. 1 (2021): Pharmacy Reports
Publisher : Indonesian Young Scientist Group and UPN Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.572 KB) | DOI: 10.51511/pr.1

Abstract

Glucocorticoids are widely used as strong anti-inflammatory and immunosuppressive drugs to treat various diseases. However, the use of glucocorticoids can cause several side effects, such as hyperglycemia. This review aims to discuss the effect of glucocorticoids on increasing glucose in molecular levels based on literature studies. A literature searching was carried out on the PubMed, Science Direct, and Google Scholar databases published in 2010-2020. Glucocorticoids can cause an increase in blood glucose levels by several mechanisms. In the liver, glucocorticoids increase endogenous plasma glucose and stimulate gluconeogenesis. Glucocorticoids increase the production of non-esterified fatty acids which affect the signal transduction of insulin receptor substrate-1 in skeletal muscle. In adipose, glucocorticoids increase lipolysis and visceral adiposity through increased transcription and expression of protein adipose triglyceride lipase and hormone-sensitive lipase. In pancreatic beta cells, glucocorticoids directly inhibit the beta cell response to glucose through the role of protein kinase B and protein kinase C. At the molecular level, glucocorticoids can cause hyperglycemia through mechanisms in the liver, skeletal muscle tissue, adipose tissue, and pancreatic beta cells.
Co-Authors Abely, Nastasya Anis Afifah, Maulina Nurul Afnida Dwi Lestari Almas Amalul Fasha Alvin Ulinnuha Amalia, Najwa Nurul Amelia Damayanti Annima Alfi Fauqina Apriliansa, Elza Puspita Arrina Sabilahaq Awang Pardigantara Azizah Azizah Bella Aisya Fitri Cecep Darwis Muttaqin Destiannesvi, Anggie Desy Nawangsari Dian Pitaloka Priasmoro, Dian Pitaloka dina febrina DM, Peppy Oktaviani Elza Puspita Apriliansa Fajar Rinawati Fasha, Almas Amalul Fauziah , Fauziah Fauziah Fauziah Fina Rudiyanti Galih Samodra Galih Samodra Gita Fitriyani Halimatu Sa'diah Halimatu Sa’diah Hikmanti, Arlyana Hilmi, Nahla Habibah Ike Mardiati Agustin Irmawan Andri Izati, Fina Karunia K, Khamdiyah Indah Khasanah, Khuswatun Khosyi, Nathania Elsa Kurniasih, Khamdiyah Indah Kusnandar Anggadiredja Lauale, Evangelina Natali Theresya Linda Sukiatno Mailatunnazza, Nova Maryanti, Nelly Misworo, Misworo Nadia Ramadhani Nafi'ah, Inti Kalun nawangsari, desi Nawangsari, Desy Nida Nuridayah Noryana Novia Wulandari Nuari, Doni Anshar Nufus, Ayatun Nur Islamiah Nurkholis, Fiqih NURLAELA NURLAELA Nurrahma, Alfiya Hana Peppy Octaviani Peppy Octaviani Peppy Octaviani Dian Megasari Prabandari, Rani Pratiwi, Amelia Candra Putri, Melisa Mareta Putri, Renanda Nabila Rani Prabandari Rani Prabandari Safitri, Cindy Ade Samodra, Galih Saputri, Abelia Sari, Destika Ambar Satyadewi, Putu Ratna Hari Sita Nur Faradila Sita Sri Haryanti Sunarti Sunarti Sunarti Suryo Ediyono Susanto, Kharisma Evelyne Eka Susilo Rini Tresnowati, Gulita Indah umi sangadah Veronica, Laila Wibawa, Navyzhah Aulia Aulia Putri Wilis Sukmaningtyas Yuli Yuli Maesaroh YUNI ASRI, YUNI Yutia Ihza Komala Yuyun Pujiarti