Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Litera

PREDIKAT KOMPLEKS DALAM BAHASA ANGKOLA MANDAILING Latifah Yusri Nasution; Mulyadi Mulyadi
LITERA Vol 19, No 1: LITERA MARET 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i1.25455

Abstract

Predikat kompleks terbentuk ketika dua atau lebih elemen predikat bergabung ke dalam hubungan subjek dan objek. Penelitian tentang predikat komplek bahasa Angkola Mandailing merupakan media mempelajari bahasa daerah yang mulai ditinggalkan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konstruksi predikat kompleks bahasa Angkola Mandailing. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode interaktif dengan teori X-bar. Sumber data penelitian adalah tuturan lisan informan dalam situasi tutur yang alamiah. Pengumpulan data dengan metode simak atau observasi. Analisis dilakukan selama pengumpulan, reduksi, penyajian, dan pena­rikan simpulan/verifikasi. Analisis data menggunakan metode agih dan disajikan menggunakan metode informal. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, karakteristik predikat kompleks dalam bahasa Angkola Mandailing, yaitu dibentuk dari dua verba atau lebih, letaknya berdampingan, dan memiliki kesamaan aspek dan negasi. Kedua, pola pembentuk predikat kompleks dalam bahasa Angkola Mandailing berupa V1 intransitif + V2 intransitif, V1 transitif + V2 intransitif, V1 intransitif + V2 transitif, dan V1 transitif + V2 transitif. Ketiga, kedua verba atau lebih dalam konstruksi predikat kompleks bahasa Angkola Mandailing sama-sama menjadi verba inti dalam kalimat. Skema X-barnya ialah predikat kompleks (V1+V2) berkombinasi membentuk V’. V’ membentuk FV. FV berkombinasi dengan I membentuk I’. I’ berkombinasi dengan Spes membentuk FI (kalimat). Kata Kunci: konstruksi, predikat kompleks, bahasa Angkola Mandailing COMPLEX PREDICATION IN ANGKOLA MANDAILING LANGUAGE AbstractComplex predicates are formed when two or more predicate elements are joined into the relationship of subjects and objects. Research on the complex predication of the Angkola Mandailing language is a medium for learning the languages of the region that are becoming obsolete. This study is aimed at describing the complex construction of the Angkola Mandailing language. The study uses a qualitative approach with interactive methods with the X-bar theory. The source of the research data is the oral speech of informants in natural speech situations. Data collection is done by listening or observing. The analysis is carried out during the collection, reduction, presentation, and conclusion/verification research steps. Data analysis uses the aggregate method and is presented using the informal method. The results of this study indicate that first, the characteristics of complex predicates in the Angkola Mandailing language are formed from two or more verbs, located side by side, and having similar aspects and negations. Second, the complex predicate patterns are intransitive V1 + intransitive V2, transitive V1 + intransitive V1, intransive V1 + transitive V2, and transitive V1 + transitive V2. Third, the two or more verbs in the construction of the complex predicate together become the core verbs in the sentence. The X-bar scheme is a complex predicate (V1+V2) combined to form V '; V ’forms VP; VP combines with I to form I '; and I ’combines with Spes to form IP (sentence). Keywords: grammatical construction, complex predicate, Angkola Mandailing language
Metafora binatang dalam ungkapan idiomatik bahasa Aceh Muhammad Iqbal; Mulyadi Mulyadi
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.50346

Abstract

Masyarakat Aceh sering menggunakan simbol-simbol verbal  yang ditamsilkan pada binatang ketika berkomunikasi atau menyampaikan pesan. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan dan mendeskripsikan karakter dan tindakan seseorang yang dipandang positif yang harus dianut, atau yang dipandang negatif yang harus dijauhkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. data penelitian ini berupa data tulis dan data lisan. Data tulis diperoleh dari cerita rakyat Aceh dan Peribahasa Aceh yang diterbitkan oleh Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Data lisan diperoleh dari informan melalui teknik wawancara, pegamatan tidak berperan serta, dan pengamatan berperan serta. Di samping itu, penulis juga  menggunakan data buatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga metafora binatang yang digunakan oleh masyarakat Aceh ketika menyampaikan pesan kepada lawan tuturnya, yaitu metafora binatang piaraan (asèe ‘anjing’ dan mie ‘kucing’), metafora binatang ternak  (kamèng ‘kambing’, aneuk iték ‘anak itik’, iték ‘itik/bebek’, manok ‘ayam’, keubeue ‘kerbau’, dan leumo ‘lembu’), dan metafora binatang liar (gajah ‘gajah’, bue ‘monyet’, abô ‘siput’, buya ‘buaya’, rimueng ‘harimau’, bui ‘babi’, cangguek ‘kodok’, dan tupè ‘tupai’). Penggunaan metafora binatang tersebut dapat dikatakan berkonotasi positif. Makna dan maksud yang ditamsilkan pada binatang tersebut bertujuan untuk membimbing, menasihati, dan memberi motivasi.   Kata Kunci: metafora binatang, ungkapan, bahasa Aceh AbstractThe people of Aceh often use verbal symbols that are displayed on animals when communicating or conveying messages. This study aims to classify and describe the character and actions of a person who are seen as positive ones that should be imitated, or those that are seen as negative ones that should be avoided. This study used qualitative research methods. Data in the form of written data and oral data. The written data was obtained from Acehnese folklore and Acehnese proverbs published by the Regional Cultural Research and Recording Project. Oral data were obtained from informants through interview techniques, non-participating observations, and participating observations. In addition, the author also uses artificial data. The results show that there are three animal metaphors used by the Acehnese people when conveying messages to their interlocutors, consisting of metaphor of pets (asèe 'dog' and mie 'cat'), metaphor of livestock (kamèng 'goat', aneuk iték 'duck child'. ', iték 'duck/duck', manok 'chicken', keubeue 'buffalo', and leumo 'lembu'), and wild animal metaphors (elephant 'elephant', bue 'monkey', abô 'snail', buya 'crocodile' , rimueng 'tiger', bui 'pig', cangguek 'toad', and tupè 'squirrel'). The use of the animal metaphor can be said to have a positive connotation. The meaning and intent that is displayed on the animal aims to guide, advise, and motivate.Keywords: animal metaphors, expressions, Acehnese language