Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Gambaran Pelayanan Klinik Sanitasi pada Penyakit ISPA dan Tuberkulosis di Masa Pandemi Fany Ramayanti; Nurfadhilah Nurfadhilah; Triana Srisantyorini; Ernyasih Ernyasih
ENVIRONMENTAL OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY JOURNAL Vol 3, No 1 (2022): EOHSJ
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/eohjs.3.1.11-20

Abstract

Klinik sanitasi atau yang disebut dengan Breaksit Reborn (Brantas penyakit bersama klinik sanitasi) didirikan tahun 2017 di Puskesmas Kecaatan Kebon Jeruk. Namun kejadian ISPA dan tuberkulosis masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2022 menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengambilan data wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 5 orang yaitu Kepala Puskesmas,  2 petugas sanitarian, dokter ISPA dan dokter TB. Hasil Penelitian: Pelayanan klinik sanitasi pada penyakit ISPA tidak berjalan di masa pandemi. Kunjungan pasien Tuberkulosis yang melakukan konseling di pelayanan klinik sanitasi lebih banyak dibandingkan pasien ISPA. Gejala yang dikeluhkan pada penyakit ISPA demam, batuk, flu dan sesak nafas, sedangkan gejala pasien TB batuk menahun, berat badan turun, keringat malam, batuk darah, menggigil, dan nafsu makan berkurang. Pelayanan klinik sanitasi sudah tersedia sejak tahun 2017 dan fasilitas klinik sanitasi di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk sudah memadai. Kesimpulan: Pelayanan klinik sanitasi perlu ditingkatkan mengingat gejala penyakit berbasis lingkungan memiliki kemiripan, baik ISPA, TB, maupun Covid-19. Puskesmas diharapkan untuk lebih mengoptimalkan pelayanan klinik sanitasi, dan melakukan kerja sama dengan dokter ISPA dan TB baik dalam pelayanan dalam maupun luar ruangan.---A sanitation clinic or what is known as Breaksit Reborn (disease fighting together with a sanitation clinic) was established in 2017 at the Kebon Jeruk District Health Center. However, the incidence of ARI and tuberculosis is still relatively high from year to year. The research was conducted in April 2022 using a qualitative approach with in-depth interview data collection techniques, observation, and document review. The informants in this study consisted of 5 people, namely the Head of the Puskesmas, 2 sanitarian officers, an ARI doctor and a TB doctor. Research Results: Sanitation clinic services for ARI disease do not run during the pandemic. Tuberculosis patients who do counseling in sanitation clinic services are more than ARI patients. Symptoms complained of in ARI are fever, cough, flu and shortness of breath, while the symptoms of TB patients are chronic cough, weight loss, night sweats, coughing up blood, chills, and decreased appetite. Sanitation clinic services have been available since 2017 and sanitation clinic facilities at the Kebon Jeruk District Health Center are adequate. Conclusion: Sanitation clinic services need to be improved considering the symptoms of environmental-based diseases have similarities, both ARI, TB, and Covid-19. Puskesmas are expected to further optimize sanitation clinic services, and cooperate with ARI and TB doctors both in indoor and outdoor services.
Pengalaman Penderita HIV Pada Lelaki Suka Lelaki (LSL); Analisis Kualitatif tentang Persepsi Diri, Respon Saat Didiagnosis, Perilaku Pencegahan, dan Dukungan Pendamping Sebaya Dewi Purnamawati; Nurfadhilah Nurfadhilah; Rohimi Zamzam; Karina Amalia; Rika Zulia Ningsih
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Faculty of Medicine and Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkk.18.2.155-163

Abstract

Salah satu populasi berisiko tertular HIV adalah kelompok Lelaki Suka Lelaki (LSL). Risiko penularan pada populasi LSL 22 kali lebih besar dibanding populasi lainnya. Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran secara mendalam pengalaman penderita HIV pada kelompok LSL. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan adalah penderita HIV pada kelompok LSL, LSM dan tenaga kesehatan sebanyak 8 orang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan FGD, kemudian dianalisis secara tematik. Penelitian menghasilkan empat tema, yaitu persepsi diri, respon pertama kali didiagnosis, perilaku pencegahan dan dukungan pendamping sebaya. Hasil penelitian menunjukkan usia informan berkisar 25-31 tahun. Hampir semua mempersepsikan diri tidak normal dan tertarik dengan sesama jenis dengan berbagai alasan, seperti mengalami pelecehan, kegagalan berhubungan, coba-coba atau merasa dirinya perempuan. Sebagian memiliki kepercayaan diri yang negatif, namun semua masih meyakini tentang agama yang dianut. Semua merasa syok, putus asa, takut akan meninggal serta depresi saat didiagnosis HIV, tapi hal ini tidak mengubah perilaku sebagian informan, karena sebagian masih aktif secara seksual dan jarang atau tidak menggunakan kondom, sementara sebagian yang lain memilih tidak aktif lagi secara seksual semenjak didiagnosis HIV. Semua patuh mengkonsumsi obat ARV. Dukungan pendamping sebaya dirasakan dalam hal informasi, sosial dan pengobatan. Perlu pendekatan spiritual yang humanis pada LSL dengan penyediaan konseling hotline,dalam pencegahan penularan HIV.
Penyuluhan tentang Pengelolaan Sampah Masker Saat Pandemi Agung Purwanto; Nurfadhilah Nurfadhilah; Ilmi Zajuli Ichsan
KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 1 (2022): JANUARY
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.422 KB) | DOI: 10.24252/khidmah.v2i1.24311

Abstract

Masker merupakan barang wajib dimiliki hampir semua orang selama masa pandemi COVID-19 bahkan sebaiknya diganti setiap 4 jam pemakaian, hasilnya tentu timbulan sampah. Kegiatan ditujukan untuk meningkatkan kapasitas peserta tentang pengelolaan sampah masker. Bentuk kegiatan berupa diskusi virtual menghadirkan satu narasumber dengan melibatkan tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Negeri Jakarta dan SMKN 1 Jakarta sebagai khalayak sasaran. Peserta yang mengikuti kegiatan sebanyak 26 orang. Partisipasi peserta berupa keikutsertaan mengikuti sesi berbagi dan mengajukan beberapa pertanyaan sebagai bahan diskusi. Pertanyaan yang diajukan awalnya fokus pada perilaku pengelolaan sampah masker dan kemudian berkembang ke arah karakteristik virus dan tes COVID-19. Kegiatan ini perlu ditindaklanjuti dengan perluasan khalayak sasaran mengingat kompleksnya permasalahan sampah masker dan pengetahuan umum tentang karakteristik virus.
ABSTINENSI SEKSUAL REMAJA SMP DI KOTA TANGERANG SELATAN Mizna Sabilla; Nurfadhilah Nurfadhilah
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 11 No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v11i2.16

Abstract

Abstract Background: Indonesia is projected to experience the peak of the demographic bonus in 2030. The demographic bonus can turn into a burden if adolescents who are successors are not qualified. Adolescent who are supposed to be 100% absent from sex actually showed an unsatisfactory proportion in several areas. Objective: This study aimed to describe abstinence behavior among adolescents at junior high school in South Tangerang City. Method: This study used a cross sectional design. The study population was junior high school students by selecting 25 junior high schools as the sample. The number of samples were 165 students who were taken incidentally. Data was collected from December 2019 to January 2020 by filling out a questionnaire through interviews. Result: The proportion of abstinence among junior high school students was 80%. The highest abstinence was occurred among adolescent boys and aged 12 years. Most of them carried out positive activities such as art, organization, regular worship, regular exercise, and courses. Most of them admitted that they did not feel seduced, coerced and threatened to have sexual activity. When a sensitive part of the body was touched, respondents acted assertively by refusing, shouting, and hitting. Conclusion: Sexual abstinence among adolescents at junior high school in South Tangerang needs to be increased. Understanding the importance of abstinence needs to be given to adolescents from the onset of puberty by parents, school environment (school organizations and PIKR) and community (religious organizations). Keywords: Sexual abstinence, Adolescent at Junior High School, South Tangerang   Abstrak Latar belakang: Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada tahun 2030. Bonus demografi dapat berbalik menjadi beban apabila remaja yang menjadi penerus tidak berkualitas. Remaja yang seharusnya 100 persen absen seks justru menunjukkan proporsi yang tidak menggembirakan di beberapa wilayah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku abstinensi pada remaja usia SMP di Kota Tangerang Selatan. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah remaja usia SMP dengan memilih 25 SMP sebagai sampel. Jumlah sampel sebanyak 165 siswa/siswi yang diambil secara insidentil. Pengumpulan data dilakukan pada Desember 2019 sampai Januari 2020 dengan pengisian kuesioner melalui wawancara. Hasil: Proporsi abstinensi seksual remaja SMP sebesar 80 persen. Abstinensi tertinggi dialami oleh remaja laki-laki dan usia 12 tahun. Sebagian besar melakukan kegiatan positif seperti seni, berorganisasi, rutin beribadah, rutin berolahraga, dan mengikuti seminar/kursus. Sebagian besar responden mengaku tidak pernah merasa dirayu, dipaksa dan diancam untuk melakukan aktivitas seksual. Apabila bagian tubuh sensitifnya disentuh responden melakukan tindakan asertif dengan menolak, berteriak, dan memukul. Kesimpulan: Abstinensi seksual remaja SMP di Tangerang Selatan harus ditingkatkan. Orang tua perlu menjaga dan mengawasi pergaulan anaknya. Pemahaman agama dan pentingnya abstinensi perlu diberikan kepada remaja semenjak awal pubertas dari orang tua, lingkungan sekolah dan masyarakat melalui organisasi keagamaan dan PIKR Kata kunci: Abstinensi seksual, Remaja SMP, Tangerang Selatan
PENGETAHUAN KOMPREHENSIF REMAJA TENTANG HIV DI KOTA TANGERANG SELATAN MENUJU END AIDS 2030 Mizna Sabilla; Nurfadhilah Nurfadhilah
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 13 No 1 (2022): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 13 NOMOR 1 TAHUN 2022
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v13i1.22

Abstract

Abstract Latar belakang: Empat puluh tahun sejak ditemukannya kasus pertama AIDS di Indonesia pada tahun 1981, kini ditetapkan The Global AIDS response to end AIDS by 2030. Sayangnya, data Riskesdas 2018 masih menunjukkan pengetahuan komrehensif tentang HIV hanya dimiliki 1% kaum muda Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menggambarkan pengetahuan komprehensif HIV pelajar SMP dan SMA di Kota Tangerang Selatan. Metode: Desain penelitian yang digunakan survei cepat pada 35 SMP dan SMA di Kota Tangerang Selatan dengan total sampel 342 orang. Data dikumpulkan dengan wawancara langsung atau daring dengan menggunakan kuesioner elektronik. Analisis data univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran pengetahuan remaja. Hasil: Pengetahuan pelajar SMP dan SMA rerata 63%. Pertanyaan yang dijawab benar oleh 43,3% responden yaitu HIV dapat menular ketika berenang, 33,6% mengenai menggunakan alat makan/minum, 49,4% tentang sentuhan kulit dengan Orang dengan HIV (ODHA) serta 42,1% tentang penularan dari ibu hamil ke janin. Terkait cara pencegahan HIV, pertanyaan yang dijawab benar oleh 30,1% responden yaitu tidak tinggal di lingkungan dan 29,5% bertukar pakaian dengan ODHA.    Kesimpulan: Pengetahuan kompehensif HIV masih rendah dibandingkan target yaitu 90% pada tahun 2027. Jika tidak diberikan intervensi, maka dikhawatirkan target global end AIDS by 2030 tidak tercapai. Diperlukan kampanye lebih masif untuk peningkatan pengetahuan komprehensif HIV kepada pelajar, misalnya dengan mengintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah serta memanfaatkan berbagai saluran dan media.
KONSELING UNTUK MENANGANI ADIKSI TERKAIT SEKS DAN GAWAI PADA DEWASA MUDA Nurfadhilah Nurfadhilah; De Ajeng Ummu Azkiyah; Aisya Triani Fadiya; Alliffiyola Lani Putri; Wardatul Muqoddasah; Dewi Purnamawati; RR Arum Ariasih
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 14 No 1 (2023): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 14 NOMOR 1 TAHUN 2023
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v14i1.23

Abstract

Abstract Background: Many young people experience addiction related to gadgets and sexuality, which has a negative impact on physical and mental health. Objective: This study aims to describe the role of behavior modification counseling in an effort to stop addictive behavior related to sexuality and gadgets. Method: The method used is participatory research with the intervention of 5 sessions of behavior modification counseling. Participants consisted of 6 people aged 17-24 years, 4 female, 1 male,  and 1 not available. Result: All participants felt a positive impact during the behavior modification counseling process. The main causes of addictive behavior are thoughts and habits, with varying degrees of dependency. The process and success of behavior change is not the same for all participants. Conclusion: Counseling still needs to be followed up by involving professionals to ensure the establishment of new healthy behaviors. Sosial support and environmental manipulation are also needed, with the main competence the ability to recognize and control emotions. Keywords: Addiction, Sex, Gadgets, Counselling   Abstrak Latar belakang: Kaum muda banyak mengalami adiksi terkait gawai dan seksualitas sehingga berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menggambarkan peran konseling modifikasi perilaku dalam upaya menghentikan perilaku adiktif terkait seksualitas dan gawai. Metode: Metode yang digunakan adalah riset partisipatif dengan intervensi 5 sesi konseling modifikasi perilaku. Partisipan terdiri dari 6 orang berusia 17-24 tahun, berjenis kelamin 4 perempuan, 1 lelaki, dan 1 tidak menyebutkan. Hasil: Seluruh partisipan merasakan dampak positif selama proses konseling modifikasi perilaku. Sebab utama perilaku adiksi pikiran dan kebiasaan, dengan tingkat ketergantungan bervariasi. Proses dan keberhasilan perubahan perilaku tidak sama pada semua partisipan.    Kesimpulan: Konseling masih perlu ditindaklanjuti dengan melibatkan professional untuk menjamin pemantapan perilaku sehat baru. Dukungan sosial dan manipulasi lingkungan juga sangat diperlukan, dengan kompetensi utama kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi. Kata kunci: Adiksi, Seks, Gawai, Konseling
PNEUMONIA COVID-19 SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEMATIAN IBU SELAMA PANDEMI COVID-19 Dewi Purnamawati; Nia Astarina Setyaningsih; Nurfadhilah Nurfadhilah; Fatimah Fatimah; Mizna Sabila; Arum Ariasih
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 13 No 1 (2022): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 13 NOMOR 1 TAHUN 2022
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v13i1.38

Abstract

Abstract Latar belakang: Pandemi Covid-19 meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas ibu, baik selama periode kehamilan, persalinan dan nifas. Walaupun informasi tentang infeksi Covid-19 dalam hubungannya dengan kehamilan dan janin serta risiko terhadap kematian ibu masih terbatas, namun ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi  dibandingkan dengan populasi umum. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pneumonia covid pada ibu hamil, bersalin dan nifas sebagai faktor risiko kematian ibu selama pandemi Covid-19. Metode: Penelitian menggunakan desain kasus kontrol dengan perbandingan kasus dan kontrol 1:1. Kasus adalah kematian ibu dan kontrol adalah ibu yang hidup selama periode  pandemi Covid-19 tahun 2021. Populasi adalah ibu hamil, bersalin dan nifas di RSUD Cibinong dengan jumlah sampel 200 responden. Data dikumpulkan menggunakan data rekam medis dan dianalisis secara multivariat dengan regresi logistik berganda. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 22% ibu mengalami pneumonia covid, dan 88,6% dari ibu yang mengalami penumonia covid meninggal. Pemodelan multivariat menunjukkan bahwa pneumonia covid, pre-eklamsia, anemia dan pendidikan ibu secara simultan berhubungan dengan kematian ibu selama pandemi Covid-19 (p value=0,0001; Negerkerke R Square 0,440). Pneumonia covid adalah faktor risiko yang paling berhubungan dengan kematian ibu selama pandemi Covid-19 (p value=0,004; OR=4,59; 95%CI=1,621-13,025). Kesimpulan: Ibu dengan pneumonia covid memiliki peluang 4,59 kali untuk mengalami kematian selama pandemi Covid-19. Perlu peningkatan kewaspadaan pada kelompok rentan, khususnya ibu hamil yang terdiagnosis covid, baik dalam upaya pencegahan dan penatalaksanaan untuk mengurangi mortalitas pada ibu hamil, bersalin dan nifas.
PENGETAHUAN PELAJAR SEKOLAH DASAR TENTANG PUBERTAS DI JAKARTA DAN SEKITARNYA: Nurfadhilah Nurfadhilah; Rika Sa'diyah; Nurjannah Achmad; Safia Shukri Hilowle
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 13 No 2 (2022): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 13 NOMOR 2 TAHUN 2022
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v13i2.41

Abstract

Abstract Background: National surveys show that lack of Indonesian adolescents' knowledge regarding puberty, whereas menarche onset at the age of 9 years.  Objective: This study aims to identify the puberty knowledge of elementary school students with gender-based analysis.  Method: The method used is an online survey and analysis using an independent T-test equipped with item knowledge analysis. The samples taken were 221 elementary school students throughout Indonesia.  Result: The knowledge of female students was significantly higher than that of male students. While the One-way ANOVA test shows that the difference in knowledge based on level/class is not significant, however, if first-year students’ data is ignored, it can be seen that the higher the level, the higher the students' knowledge.  Conclusion: Knowledge of puberty is important as a fundamental for abstinence as a behavior to prevent adolescent reproductive health problems, including HIV and other Sexually Transmitted Infections. Massive, measurable, and planned interventions need to be carried out on an ongoing basis to be able to increase the knowledge of elementary school students regarding puberty.  Keywords: puberty, knowledge, students, elementary school
SELF-EFFICACY AMONG PEOPLE LIVING WITH HIV AIDS AFTER COVID-19 PANDEMIC Dewi Purnamawati; Nurfadhilah Nurfadhilah; Rohimi Zamzam; Karina Amalia
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 14 No 1 (2023): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 14 NOMOR 1 TAHUN 2023
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v14i1.103

Abstract

Abstrak Latar belakang: Pandemi COVID-19 telah berdampak pada seluruh aspek kehidupan, termasuk Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Efikasi diri yang tinggi diperlukan untuk mengatasi hambatan fisik dan psikososial pada ODHA Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan efikasi diri pada ODHA pasca pandemi COVID-19. Metode: Penelitian dilakukan di Klinik Perawatan dan Dukungan Pengobatan di Kabupaten Bogor dengan desain cross-sectional. Populasi adalah ODHA. Sampel diambil secara acak sebanyak 89 ODHA. Data dikumpulkan dengan kuesioner online yang telah diuji validitasnya dan dianalisis secara multivariat dengan regresi logistik berganda Hasil: Penelitian menunjukkan 62,9% ODHA memiliki efikasi diri tinggi, 37,1% berusia kurang dari 35 tahun, 74,1% laki-laki, 33% berpendidikan tinggi, 35,9% sudah menikah, 69,9% memiliki pengetahuan yang sangat baik mengenai HIV, 50,5% menderita HIV kurang dari 7 tahun, 58,4% mendapat dukungan keluarga yang baik, dan 50,5% memiliki dukungan yang baik dari tenaga kesehatan. Lama menderita dan dukungan petugas kesehatan secara simultan berhubungan dengan efikasi diri ODHA setelah dikontrol oleh usia dan pengetahuan (p-value = 0,0001). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan efikasi diri ODHA adalah lama menderita (p-value=0,010; OR=4,403; 95%CI=1,434-15,518) Kesimpulan: Lebih dari sepertiga responden masih memiliki efikasi diri yang rendah. Lama menderita HIV merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan efikasi diri pada ODHA Kata kunci: Efikasi Diri, Odha, Dukungan Tenaga Kesehatan, Lama Menderita   Abstract Background: The COVID-19 pandemic has had an impact on all aspects of life, including people living with HIV and AIDS (PLWHA). A high level of self-efficacy in necessary to overcome physical and psychosocial obstacle in PLWHA Objective: This study aims to analyze factors related to self-efficacy in PLWHA after the COVID-19 pandemic. Method: The study was conducted at the Support and Treatment Clinic at the Public Health Center Bogor District using a cross-sectional design. The population is PLWHA at the Clinic. Samples were taken randomly as many as 89 PLWHA. Data were collected using an online questionnaire that had been tested for validity and analyzed multivariate with multiple logistic regression. Result: The results showed that 62,9% of PLWHA had high self-efficacy, 37,1% are less than 35 years old, 74,1% were men, 33% from high education, 35,9% were married, 69,9% had very good knowledge of HIV, 50,5% suffered from HIV less than 7 years, 58,4% had good family support and, 50,5% had good support from Health Care Providers. The long-suffering and healthcare provider’s support are simultaneously related to the self-efficacy of PLWHA after being controlled by age and knowledge (p-value= 0,0001). The most related factor was the long-suffering (p-value=0,010; OR=4,403; 95%CI=1,434-15,518) Conclusion: More than one-third of the respondents still had low self-efficacy and long-suffering is the dominant factor associated with self-efficacy in PLWHA. Keywords: Self-Efficacy, Plwha, Healthcare Providers Support, Long-Suffering
Upaya Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Mengenai Program Keluarga Berencana (Kb) Melalui Kegiatan Penyuluhan Di Posyandu Cendrawasih Rw 013, Kelurahan Jombang, Kota Tangerang Selatan Adifa Nur Ma'rifah; Faiza Hukma Shabiyya; Liana Nur Azkya; Muhammad Faisal Adani; Reza Novita; Roro Tyanandha Nabilla Putri; Shafwan Hakim; Nurfadhilah Nurfadhilah
AS-SYIFA : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Vol 4, No 2 (2023): AS-SYIFA: JURNAL PENGABDIAN DAN PEMBERDAYAAN KESEHATAN MASYARAKAT
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/assyifa.4.2.1-6

Abstract

Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kehamilan anak, jarak kelahiran, usia ideal saat lahir dan kehamilan melalui pemajuan, perlindungan dan dukungan hak reproduksi dalam mewujudkan keluarga yang berkualitas. Pertumbuhan penduduk yang meningkat mempengaruhi keseimbangan sumber daya alam, dengan pertumbuhan penduduk maka permintaan akan sumber daya alam otomatis meningkat. Program Keluarga Berencana (KB) telah secara signifikan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan social ekonomi. Namun setelah pandemic, keluarga berencana terancam gagal dan angka kelahiran meledak hingga 1,25%. Pendidikan lanjutan masyarakat merupakan langkah yang tepat dalam hal ini. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai program Keluarga Berencana (KB). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Pre-Eksperimental bentuk rancangan One Group Pretest-Posttest. Diketahui hasil uji statistik didapatkan nilai 0,000 dimana dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan kepada masyarakat. Sementara distribusi pengetahuan sesudah dilakukannya penyuluhan pada kategori baik nilainya bertambah menjadi sebanyak 23 orang (100%). Hal ini membuktikan bahwa masyarakat yang telah hadir dapat memahami materi yang disampaikan pada saat dilakukannya penyuluhan.---Family Planning (KB) is an effort to regulate childbearing, birth spacing, ideal age at birth and pregnancy through the promotion, protection and support of reproductive rights in realizing a quality family and pregnancy through the promotion, protection and support of reproductive rights in realizing a quality family. Increased population growth affects the balance of natural resources, with population growth the demand for natural resources automatically increases. Family planning programs have significantly improved health and socioeconomic welfare. But after the pandemic, family planning threatened to fail and the birth rate exploded to 1.25%. Community continuing education is the right step in this regard. The purpose of this community service is to increase community knowledge about the family planning program. This research uses quantitative research methods with Pre-Experimental research design form One Group Pretest-Posttest design. It is known that the statistical test results obtained a value of 0.000 where it can be concluded that there is a significant difference between knowledge before and after counseling to the community. While the distribution of knowledge after counseling in the good category increased to 23 people (100%). This proves that the people who have attended can understand the material presented at the time of counseling.