Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Insiden Hiponatremia Pasca operasi Mayor pada Anak di Ruang Rawat Intensif Nathanne Septhiandi; Rismala Dewi; Piprim B Yanuarso; Evita Kariani B. Ifran; Novie Amelia; Eka Laksmi Hidayati
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.327-334

Abstract

Latar belakang. Penggunaan cairan yang tidak tepat sering menimbulkan peningkatan kejadian hiponatremia yang berhubungan erat dengan meningkatnya berbagai komplikasi, seperti edema otak, kejang, bahkan kematian.Tujuan. Mengetahui insiden hiponatremia pada anak pasca tindakan operasi mayor.Metode. Studi retrospektif potong lintang dilakukan terhadap anak usia 1 bulan hingga 18 tahun yang menjalani tindakan operasi mayor dan masuk ruang rawat intensif. Penelusuran status medik sesuai kriteria inklusi dilakukan sampai jumlah sampel terpenuhi. Dicatat data subjek pre operasi, intra operasi, serta pemantauan pasca operasi. Definisi hiponatremia <135 mEq/L, diklasifikasikan sesuai derajat hiponatremia dan dilakukan pencarian lebih lanjut terhadap komplikasi.Hasil. Didapat 90 subjek, terdiri atas 56,7% laki-laki (51,1%) dan  rentang usia 1 bulan hingga 17 tahun. Tindakan laparatomi dengan berbagai indikasi dijalani 47,8% subjek. Hampir semua subjek (9 3,3%) mendapat cairan hipotonik pasca operasi. Insiden hiponatremia pasca operasi 28,9%, 11,1% di antaranya hiponatremia sedang-berat. Rerata kadar natrium pasca operasi (130,1±4,1) mEq/L, rerata total cairan (79,8±27,4) mL/kg. Pada 30,9% subjek yang mendapatkan cairan hipotonik pasca operasi mengalami kejadian hiponatremia, rerata lama rawat 5,6±4 hari. Terdapat 1/26 subjek yang mengalami komplikasi berupa kejang dan edema otak.Kesimpulan. Insiden hiponatremia pasca tindakan operasi mayor di ruang rawat intensif hampir mencapai 30% dan sebagian besar mendapat cairan hipotonik pasca operasi. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengevaluasi pemberian cairan pasca operasi yang tepat untuk mencegah hiponatremia. 
Perbandingan Pediatric Early Warning Score dengan Nursing Early Warning Score System dalam Mengidentifikasi Deteriorasi Klinis Pasien Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Rismala Dewi; Iqbal Zein Assyidiqie; Bambang Supriyatno
Sari Pediatri Vol 21, No 6 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.6.2020.333-8

Abstract

Latar belakang. Berbagai macam metode dapat digunakan untuk menilai deteriorasi klinis pasien anak yang masuk di rumah sakit. Skor nursing early warning scoring system (NEWSS) merupakan skor penilaianyang dimodifikasi dari penilaian dewasa, sedangkan pediatric early warning score (PEWS) dikembangkan khusus untuk menilai pasien anak. Penggunaan PEWS untuk mengevaluasi derajat perburukan klinis pasien anak beberapa jam sebelum pasien jatuh pada kondisi kritis. Hingga saat ini, penelitian dan penggunaan skor PEWS masih belum terlalu banyak di Indonesia.Tujuan. Membandingkan skor PEWS dan NEWSS dalam mengidentifikasi deteriorasi klinis pada pasien anak di rumah sakit.Metode. Penelitian dilakukan dengan desain uji potong lintang pada pasien anak yang masuk ke instalasi gawat darurat RSCM sejak bulan November 2019-Januari 2020. Pengambilan subjek secara consecutive sampling dengan kriteria inklusi usia anak 0-18 tahun dan skor NEWSS . Hasil. Diperoleh 81 subjek yang memenuhi kriteria. Sebagian besar dari subjek berjenis kelamin laki (58%), rentang usia toddlers (1-3 tahun) (27%), dengan kasus infeksi sebagai diagnosis pasien terbanyak (53,1%). Sebagian besar pasien juga datang akibat masalah respirasi (31%). Didapatkan skor PEWS berhubungan erat dengan kejadian deteriorasi klinis pasien anak. Seluruh pasien dengan skor PEWS >7 mengalami perburukan klinis. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa sensitivitas PEWS lebih baik dibandingkan dengan NEWSS (0,80; 95% CI 0,66-0,90 vs 0,58; 95% CI 0,44-0,72) dan kedua sistem skor memiliki spesifisitas yang sama baiknya (0,93 95% CI 0,77-0,99 vs 0,96; 95% CI 0,82-0,99).Kesimpulan. Kemampuan PEWS lebih baik untuk mendeteksi deteriorasi klinis pada pasien anak bila dibandingkan dengan NEWSS.
Validitas Stroke Volume Variation dengan Ultrasonic Cardiac Output Monitor (USCOM) untuk Menilai Fluid Responsiveness I Nyoman Budi Hartawan; Antonius H Pudjiadi; Abdul Latief; Rismala Dewi; Irene Yuniar
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.003 KB) | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.367-372

Abstract

Latar belakang. Stroke volume variation (SVV) adalah parameter hemodinamik untuk menilai fluid responsiveness. Pengukuran SVV dapat dilakukan dengan USCOM yang merupakan alat pemantauan hemodinamik non invasif berbasis ekokardiografi Doppler.Tujuan. Mengetahui nilai cut-off point (titik potong optimal) SVV dengan USCOM sebagai prediktor fluid responsiveness pada pasien dengan ventilasi mekanik.Metode. Penelitan dilaksanakan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan menggunakan peningkatan stroke volume (SV) setelah challenge cairan ringer laktat 10 mL/kg berat badan selama 15 menit sebagai indek. Subyek penelitian adalah pasien dengan usia ≥1 bulan dan ≤18 tahun yang menggunakan ventilasi mekanik. Peningkatan nilai SV ≥10% disebut responder dan <10% disebut non responder. Pengukuran SV dengan USCOM dilakukan sebelum dan setelah fluid challenge, dan pengukuran SVV dilakukan sebelum challenge cairan.Hasil. Terdapat 32 subyek ikut serta dalam penelitian. Area under curve (AUC) subyek ventilasi mekanik adalah 76,6% (IK95%:60,1%-93,1%), p<0,05. Titik potong optimal SVV adalah 30%, dengan sensitivitas 72,7% dan spesisifitas 70%.Kesimpulan. Ultrasonic cardiac output monitor (USCOM) memiliki validitas yang baik untuk menilai SVV pada pasien dengan ventilasi mekanik. 
Perbandingan Full Outline of Unresponsiveness Score dengan Glasgow Coma Scale dalam Menentukan Prognostik Pasien Sakit Kritis Rismala Dewi; Irawan Mangunatmadja; Irene Yuniar
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.113 KB) | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.215-20

Abstract

Latar belakang. Penilaian kesadaran penting dilakukan pada pasien anak dengan sakit kritis untuk memperkirakanprognosis. Modifikasi Glasgow Coma Scale (GCS) banyak digunakan untuk menilai kesadaran tetapi memilikiketerbatasan terutama pada pasien yang diintubasi. Terdapat skor alternatif baru yaitu Full Outline ofUnResponsiveness score (FOUR score) yang dapat digunakan untuk menilai kesadaran pasien terintubasi.Tujuan. Membandingkan FOUR score dengan GCS dalam menentukan prognosis pasien kritis, sehinggapemeriksaan FOUR score dapat digunakan sebagai alternatif pengganti GCS.Metode. Penelitian prospektif observasional pada anak usia di bawah 18 tahun yang dirawat di Unit PerawatanIntensif Anak RSCM dengan penurunan kesadaran. Waktu penelitian antara 1 Januari – 31 Maret 2011.Masing-masing subjek dinilai oleh 3 orang supervisor berbeda yang bekerja di Unit Perawatan Intensif Anak.Ketiga penilai diuji reliabilitas dalam menilai FOUR score dan GCS. Dibandingkan sensitivitas, spesifisitas, danreceiver operating characteristic (ROC) kedua sistem skor terhadap luaran berupa kematian di rumah sakit.Hasil. Reliabilitas tiap pasangan untuk FOUR score (FOUR 0,963; 0,890; 0,845) lebih baik daripadamodifikasi GCS (GCS 0,851; 0,740; 0,700). Terdapat hubungan yang bermakna antara besar skor danluaran kematian di rumah sakit dengan (pFOUR score = pGCS = 0,001). Nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksipositif dan negatif serta rasio kemungkinan positif masing-masing adalah 93%; 86%; 88%; 92%; 6,6. Areaunder curve (AUC) FOUR score 0,854 dan GCS 0,808Kesimpulan. Prediksi prognostik pada pasien yang dirawat di Unit Perawatan Intensif Anak dengan FOURscore lebih baik dibandingkan GCS.
Kadar Antibodi Campak pada Anak Usia 1-4 Tahun Pasca Imunisasi Campak Arie Dian Fatmawati; Mulya R. Karyanti; Hartono Gunardi; Arwin A.P Akib; Darmawan B. Setyanto; Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp20.1.2018.43-9

Abstract

Latar belakang. Belum ada penelitian di Indonesia yang membandingkan kadar antibodi campak pada anak usia 1-4 tahun, setelah imunisasi campak 1 kali dibanding 2 kali.Tujuan. Menganalisis apakah kadar antibodi campak setelah pemberian imunisasi campak 2 kali mencapai kadar protektif dibanding imunisasi campak 1 kali.Metode. Penelitian potong lintang di 6 posyandu di 5 wilayah DKI Jakarta pada Juni - Agustus 2014. Anak yang memenuhi kriteria inklusi diperiksa kadar IgG campak, dievaluasi dan dilakukan uji korelasi untuk menilai hubungan antara imunisasi campak dosis ke-2 dengan kadar antibodi campak.Hasil. Dari 145 subjek penelitian, 125 subjek (86,2%) memiliki kadar antibodi campak mencapai kadar protektif (≥ 120 mIU/ml). Kelompok usia 3-4 tahun memiliki kadar antibodi campak yang mencapai kadar protektif terbanyak yaitu 56 subjek (91,8%) dibanding kelompok usia lainnya. Kesimpulan. Pemberian imunisasi campak 2 kali meningkatkan antibodi campak yang mencapai kadar protektif sebesar 1,2 kali dibanding pemberian imunisasi campak 1 kali.
Pemberian Antitrombin III pada Anak dengan Keadaan Sepsis Marissa Tania Stephanie Pudjiadi; Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.187 KB) | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.373-80

Abstract

Keadaan sepsis yang berat akan memacu keluarnya sitokin yang mengaktivasi jalur koagulasi sistemik sehinggaberakhir pada proses disseminated intravascular coagulation (KID). Pada kasus ini, Antitrombin III(AT III) diberikan pada seorang anak perempuan berusia 14 tahun dengan diagnosis kerja anemia aplastikdan sepsis berat. Kadar AT III pada pasien sepsis akan menurun sampai 60% dan akan tetap rendah selamaproses sepsis masih berlangsung. Suplementasi dari luar akan meningkatkan kadar AT III sesuai target yangdiharapkan. Waktu pemberian AT III yang tepat adalah pada saat pasien sepsis mengalami non-overt KIDatau pada saat pasien mengalami sepsis yang tergolong pada stratum II (berisiko tinggi terhadap kematian).Dari data yang ada pemberian AT III dosis rendah memberikan perbaikan yang lebih nyata dibandingkandosis tinggi, namun dosis AT III sebaiknya dihitung secara individual berdasarkan kadar AT III aktual danberat badan pasien. Mengenai efek perdarahan pada penggunaan AT III dengan heparin sampai saat inimasih kontroversial. 
Penilaian Kesadaran pada Anak Sakit Kritis: Glasgow Coma Scale atau Full Outline of UnResponsiveness score? Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.504 KB) | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.401-406

Abstract

Pemeriksaan neurologis tingkat kesadaran sangat penting untuk menilai secara komprehensif pasien anak sakit kritis, dan dapat memberikan informasi prognosis. Skala koma yang ideal seharusnya bersifat linear, reliabel, valid, dan mudah digunakan. Berbagai macam skala koma telah dikembangkan dan di validasi untuk mengevaluasi tingkat kesadaran secara cepat, menilai beratnya penyakit dan prognosis terhadap morbiditas dan mortalitas. Glasgow Coma Scale (GCS) merupakan alat pemeriksaan tingkat kesadaran yang paling sering digunakan dan dijadikan baku emas saat memvalidasi skala koma yang baru. GCS mempunyai keterbatasan karena pasien yang terintubasi tidak dapat dinilai komponen verbal sehingga memengaruhi hasil penilaian. FOUR Score dikembangkan untuk mengatasi berbagai keterbatasan yang dimiliki GCS. FOUR score lebih sederhana dan memberikan informasi yang lebih baik, terutama pada pasien-pasien yang terintubasi.
Profil Pasien Sakit Kritis yang Dirawat di Pediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo berdasar Sistem Skoring Pediatric Logistic Organ Dysfunction-2 Rismala Dewi; Fatimatuzzuhroh Fatimatuzzuhroh
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.418 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.37-43

Abstract

Latar belakang. Skor PELOD-2 digunakan untuk mengetahui disfungsi organ pada anak dengan sakit kritis. Hasil skor PELOD-2 tidak selalu berbanding lurus dengan luaran perawatan anak sakit kritis sehingga tidak selalu dapat digunakan sebagai prediktor luaran dan mortalitas anak yang dirawat di PICU.Tujuan. Mengetahui profil dan luaran pasien sakit kritis yang dirawat berdasar skor PELOD-2.Metode. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan mengambil data rekam medis pasien rawat di ruang intensif anak RSUPN Cipto Mangukusumo, sejak Januari sampai Desember 2018. Pengambilan subjek secara total sampling, penilaian dilakukan pada 24 jam pertama perawatan. Hasil. Diperoleh 477 subjek yang memenuhi kriteria. Subjek sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (56,4%), berusia <1 tahun (27,9%), dengan bedah sebagai diagnosis awal terbanyak (65%). Sebagian besar pasien memiliki penyakit kronik (70,4%). Angka mortalitas penelitian ini adalah 10,7%. Mayoritas subjek memiliki lama rawat <7 hari (75,5%). Subjek dengan lama rawat >14 hari memiliki median skor PELOD-2 tiga kali lipat dari subjek dengan lama rawat <7 hari. Titik potong luaran mortalitas skor PELOD-2 pada penelitian ini adalah >5, memiliki spesifisitas 84,5% dan sensitifitas 84,3% dengan nilai AUC skor PELOD-2 dari kurva ROC sebesar 93,4% (IK 95% 90,6–96,2).Kesimpulan. Skor PELOD-2 dapat digunakan untuk memprediksi disfungsi organ yang mengancam kehidupan pada anak tanpa imunosupresi dan semakin tinggi skor PELOD-2 akan diikuti dengan peningkatan lama rawat dan mortalitas.
Using pRIFLE criteria for acute kidney injury in critically ill children Rina Amalia C. Saragih; Jose M. Mandei; Irene Yuniar; Rismala Dewi; Sudung O. Pardede; Antonius Pudjiadi; Abdul Latief
Paediatrica Indonesiana Vol 53 No 1 (2013): January 2013
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.685 KB) | DOI: 10.14238/pi53.1.2013.32-6

Abstract

Backgi-ound Incidence of acute kidney injury (AKI) in critically illchildren and its mortality rate is high. The lack of a uniform definitionfor AKI leads to failure in determining kidney injury, delayedtreatment, and the inability to generalize research results.Objectives To evaluate the pediatric RIFLE (pRIFLE) criteria (riskfor renal dysfunction, injury to the kidney, failure of kidney function,loss of kidney function, and end-stage renal disease) for diagnosingand following the clinical course of AKI in critically ill children. Wealso aimed to compare AKI severity on days 1 and 3 of pediatricintensive care unit (PICU) stay in critically ill pediatric patients.Methods This prospective cohort study was performed in PICUpatients. Urine output (UOP), serum creatinine (SCr) , andglomerular filtration rate on days 1 and 3 of PICU stay wererecorded. Classification of AKI was determined according topRIFLE criteria. We also recorded subjects' immune status,pediatric logistic organ dysfunction (PELOD) score, admissiondiagnosis, the use of vasoactive medications, diuretics, andventilators, as well as PICU length of stay and mortality.Results Forty patients were enrolled in this study. AKI wasfound in 13 patients (33%). A comparison of AKI severity onday 1 and day 3 revealed no statistically significant differences forattainment of pRIFLE criteria by urine output only (pRIFLfu0 p;P=0.087) and by both UOP and SCr (pRIFLEcr+uo p; P= 0.577).However, attainment of pRIFLE criteria by SCr only (pRIFLEcrlwas significantly improved between days 1 and 3 (P =0.026). Therewas no statistically significant difference in mortality or length ofstay between subjects with AKI and those without AKI.Conclusion The pRIFLE criteria is feasible for use in diagnosingand following the clinical course of AKI in critically ill children.
Clinical features of dengue hemorrhagic fever and risk factors of shock event Rismala Dewi; Alan Roland Tumbelaka; Damayanti Rusli Sjarif
Paediatrica Indonesiana Vol 46 No 3 (2006): May 2006
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi46.3.2006.144-8

Abstract

Background Dengue hemorrhagic fever (DHF) can lead to highmorbidity and mortality. Its clinical features vary from time to time.Many studies were performed to determine the risk factors of se-vere dengue infection.Objective To find out clinical features and risk factors for predict-ing the likelihood of shock in DHF.Methods A retrospective cohort study was conducted in all con-firmed DHF children who were hospitalized at the Department ofChild Health, Cipto Mangunkusumo Hospital within the period ofJanuary 1, 2003 until June 30, 2004. Risk factors for developmentof shock were analyzed using chi-square test and multiple logisticregressions with a level of significance of <0.05.Results A total of 101 patients, consisted of 47 males and 54females were enrolled in this study. Mean age was 6.5 (SD 3.6)years, ranged from 5 months to 15 years. About 31.7% patientshad grade III DHF, 30.7% grade II, and 26.7% grade IV (including1 patient with encephalopathy). Shock was more frequent amongpatients aged between 6-10 years, female, under-nourished, bodytemperature <38°C, hematocrit level 46-50 vol%, and platelet count<20 000/ml. During year 2003-2004, there was increased numberof patients who developed shock. Based on univariate analysis,hepatomegaly, high hematocrit value, and thrombocytopenia wereconsidered significantly different. Among those variables analyzedwith multiple logistic regression method, only hepatomegaly andthrombocytopenia were identified as predictors of shock.Conclusion There was an alteration on clinical features of DHFin our hospital in 2003-2004 period compared to the previous years.Hepatomegaly and platelet count <50 000/ml are independent riskfactors of shock among DHF patients
Co-Authors Abdul Latief Abdul Latief Abriyanto, Abriyanto Adam Adam Aditya Wardhana Afif, Ahmad Ainul Alan Roland Tumbelaka Amir S. Madjid, Amir S. Andina Judith Andriani, Adinda Viviana Antonius H. Pudjiadi Antonius Pudjiadi Arie Dian Fatmawati Arvina Novianti Arwin A.P Akib Ashfahani Imanadhia Badriul Hegar Bambang Supriyatno Cahyani Gita Ambarsari Cindy D. Christie Corry Wawolumaya Damayanti Rusli Sjarif Darmawan B Setyanto Darmawan B. Setyanto Dina Nurpita Suprawoto Dwi Utari Rahmiati Ega Iftahul Rizky Eka Laksmi Hidayati, Eka Laksmi Endah Sulistiawati Evita Kariani B. Ifran Fatimatuzzuhroh Fatimatuzzuhroh Freddy Guntur Mangapul Silitonga Gunanti . Hanifah Oswari Hartono Gunardi Hartono Gunardi Helen Dian Fridayani, Helen Dian Hermin Mardiana Hidayat, Nauval Edghina Hotber Pasaribu I Nyoman Budi Hartawan Ifran, Evita Kariani Imam D Imam N Iqbal Zein Assyidiqie Irawan Mangunatmadja Irawan Mangunatmadja Irene Yuniar, Irene Iskandar, Stephen Diah Jayanti, Reny Dwi Jeanne Laurensie Sihombing Jose M. Mandei Julianti Julianti, Julianti Kaltha, Karina Kusumaningrum, Alya Laila Laila Marissa Tania Stephanie Pudjiadi Misbah Muhammad Abhi Purnomosidi Mulya R. Karyanti Munar Lubis Nabilla Novella Riyanti Nathanne Septhiandi Niken Wahyu Puspaningtyas Novie Amelia Nycane Nycane oedjatmiko oedjatmiko Partini Pudjiastuti Trihono Piprim B Yanuarso Piprim B. Yanuarso, Piprim B. Purwasari, Lucy Asri Putri, Ruth Angelia Riki Siswandi Rina Amalia C. Saragih Rinawati Rohsiswatmo Rini Sekartini Risa Imanillah Risma Kerina Kaban, Risma Kerina Ronald Chandra Rosalina Dewi Roeslani, Rosalina Dewi Sita Febriani Sudung O Pardede, Sudung O Sudung O. Pardede Sukasno Sukasno Syafiqurosyid, M. Zufar Syamsidah Lubis, Syamsidah Teny Tjitra Teny Tjitra Sari, Teny Tjitra Tidi Maharani, Tidi Tjhin Wiguna Wahyuni Indawati Wardah, Nabila Amalya Wardhana, Aditya Widjaya, Malik Wisnu