Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Pembuatan Modul Dampak Opini Publik Yang Dihasilkan Media Massa Terkait Pemilu 2024 Pada Anggota Koperasi Bingkai Perubahan Nusantara Yuliandri, Putrawan; Indrawan, Jerry; Hartano; Suprayitno, Dede; Hirzia, Atrasina; Salsabila, Anindya Rasya; Rosalia Rumfabe, Berlian
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i3.21006

Abstract

Background: Opini publik berperan penting dalam demokrasi karena membentuk persepsi masyarakat terhadap isu politik dan kebijakan. Media massa memengaruhi opini publik melalui framing dan agenda setting, sehingga masyarakat sering kesulitan membedakan fakta dan opini. Kegiatan ini bertujuan menyusun serta mensosialisasikan modul literasi media-politik bagi anggota Koperasi Bingkai Perubahan Nusantara pada Pemilu 2024. Metode: Program dilakukan melalui tiga tahap yakni, penyuluhan konsep dasar opini publik, pelatihan analisis berita untuk memisahkan fakta dan opini, serta diskusi reflektif guna menumbuhkan sikap kritis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, pre-test, dan ­dengan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana. Hasil: Pemahaman peserta meningkat signifikan; jawaban benar tentang opini publik naik dari 33,3% menjadi 86,7%, sedangkan kesadaran bahaya hoaks meningkat dari 46,7% menjadi 90%. Kesimpulan: Modul terbukti efektif memperkuat literasi politik komunitas secara berkelanjutan.
Partai Politik Korup: Perlukah Dibubarkan? Jerry Indrawan; Restu Rahmawati; Anwar Ilmar; Putrawan Yuliandri; Dede Suprayitno; Muhammad Kamil Ghiffary Abdurrahman
Administratio Vol 13 No 2 (2022): Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan
Publisher : Jurusan Ilmu Administrasi Publik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/administratio.v13i2.310

Abstract

Korupsi di Indonesia sejak memasuki era reformasi justru semakin meningkat kuantitasnya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meningkatkan usahanya dalam melakukan penangkapan tersangka korupsi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberatasan korupsi di negeri ini belum tuntas. Salah satu pihak yang sering terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK adalah pejabat publik, yang umumnya berasal dari partai politik. Selama ini pihak yang harus bertanggung jawab adalah pejabat publik itu sendiri. Namun, menurut penulis partai politik juga mempunyai peran yang tidak sedikit. Partai harusnya mempersiapkan kader-kader terbaiknya sebagai calon pejabat-pejabat publik di semua tingkatan. Partai harus melatih mereka sedemikian rupa agar tidak tergoda oleh perbuatan korupsi. Oleh karena itu, jika kader-kadernya melakukan korupsi saat mereka sudah duduk di pemerintahan, maka sudah seharusnya partai bertanggung jawab. Korupsi adalah kejahatan luar biasa, untuk itu penulis mengusulkan agar jika sebuah partai korupsi, maka ia harus dibubarkan. Mekanisme pembubaran partai sudah diatur dalam UU Partai Politik, dengan kewenangan pembubaran ada pada Mahkamah Konstitusi. Sekalipun sampai saat ini belum ada partai yang dibubarkan, bahkan sekedar diajukan untuk dibubarkan, karena kasus korupsi. Implikasi teoritis dari riset ini adalah parpol yang melanggar prinsip-prinsip dasar dari demokrasi, apalagi terkena kasus korupsi, sebaiknya dibubarkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data primer diperoleh melalui teknik observasi lapangan, sedangkan data sekunder didapatkan menggunakan studi dokumentasi. Pencarian data dilakukan pada awal sampai pertengahan tahun 2021 dengan melakukan observasi lapangan dan pengumpulan data sekunder melalui buku, jurnal ilmiah, dan artikel di media massa daring. Tulisan ini akan melihat bagaimana mekanisme pembubaran partai politik secara umum berdasarkan UU Partai Politik. Namun, secara khusus penulis akan membahas pembubaran partai politik jika terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
Modus Konten Self-Harm Demi Gift Points Pada Aplikasi TikTok di Indonesia Dede Suprayitno; Nuril Ashivah Misbah; Anindita Lintangdesi Afriani
J-IKA : Jurnal Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas BSI Bandung Vol. 10 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jika.v10i1.11630

Abstract

Fitur TikTok Live, memungkinkan pengguna dapat berinteraksi secara online. Bukan hanya itu, TikTokers yang melakukan live streaming bisa mendapat apresiasi dari para penonton berupa koin yang dapat dikonversi dengan nominal uang. Tapi sayangnya, untuk mendapat koin, TikTokers sering membuat konten kontroversial. Melalui teori presentasi diri (self-presentation theory), penulis menemukan adanya konten yang mengandung unsur melukai diri (self-harm) sebagai cara untuk mendapat perhatian. Hal tersebut nampak pada beberapa siaran langsung di TikTok Indonesia yang menampilkan perilaku seperti pemukulan benda keras di kepala sendiri. Bukan hanya itu, siaran langsung juga ada yang menampilkan konten gangguan makan berupa memakan makanan ekstrim atau menjijikan. Hal itu bisa memicu perubahan dan gangguan makan pada penonton. Penelitian bertujuan mengungkap seperti apa konten self-harm dan eating disorder yang umumnya muncul dalam TikTok Live. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka deskriptif. Data primer dalam penelitian digali melalui observasi lapangan dengan pengamatan langsung pada aktivitas pengguna TikTok. Sementara itu, pengumpulan data sekunder menggunakan studi literatur yang terkait penggunaan aplikasi TikTok. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas self-harm dan eating disorder dilakukan untuk menarik perhatian penonton. Perilaku presentasi diri lewat aksi kontroversial, mereka lakukan untuk gift-points. Terlihat dari komunikasi lisan maupun teks saat mereka melakukan siaran langsung
Strengthening Pancasila-Based Digital Ethics Among Gen Z: A Community Service Program in SMA Negeri 34 Jakarta Hartanto; Suprayitno, Dede; Wardani, Ayu; Hayati, Kumala
Warta Pengabdian Andalas Vol 33 No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.33.1.56-66.2026

Abstract

As Indonesia’s foundational ideology, Pancasila faces considerable challenges in the digital age, particularly among Generation Z, who, as digital natives, often struggle to embody its values in online interactions. This study examines both the comprehension and application of Pancasila values among students at SMA Negeri 34 Jakarta, while evaluating the effectiveness of a community service program aimed at reinforcing digital ethics through a Pancasila-based framework. Namely by using the quasi-experimental one group pre-post design method. The program adopted an interactive pedagogical approach, integrating real-world case analyses and digital challenges to reconceptualize Pancasila from an abstract normative ideal into a practical moral compass. Empirical findings reveal that prior to the intervention, students demonstrated a limited grasp of Pancasila’s principles, reflected in an average pre-test score of 5.1 out of 10. Following participation in the program, the average post-test score rose significantly to 8.9 out of 10, representing a 74.5% improvement. This substantial increase highlights the efficacy of contextual and practice-oriented methodologies in bridging the gap between ideological principles and behavioral practices. The findings affirm the enduring relevance of Pancasila as a moral framework for Generation Z within digital environments, while offering a replicable model for the integration of Pancasila-based character education in secondary schools across Indonesia. However, this study has causal limitations, as it only measured student outcomes in urban areas and public schools. Different outcomes may be found in rural or religious schools.
Analisis Framing Entman dalam Pemberitaan Karhutla pada Kompas.com dan Cnnindonesia.com Tahun 2026 Ayu Wardani; Dede Suprayitno
MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/mukasi.v5i2.7520

Abstract

This study aims to analyze the framing of forest and land fire (karhutla) news coverage on Kompas.com and Cnnindonesia.com during the period of March–April 2026 using the framing model of Robert N. Entman. The analysis was conducted on five karhutla news articles from Kompas.com and three from Cnnindonesia.com. The results show that Kompas.com frames karhutla across several affected regions in Indonesia. In addition to presenting statistical data, Kompas.com highlights solution-oriented aspects in detail, such as the implementation of green policing, public warnings regarding karhutla disasters, and appeals to prevent land burning. However, the framing tends to be normative and less critical of underlying structural causes. In contrast, Cnnindonesia.com focuses its karhutla coverage primarily on the Riau region. The framing presented is more descriptive of events, with limited exploration of long-term (sustainable) solutions and mitigation efforts. The findings of this study indicate that the media play a strategic role in shaping public perceptions of disasters. However, they have not yet fully optimized their educational and mitigative functions in building community resilience to forest and land fire disasters.
Kerjasama Selatan Selatan dan Triangular Sebagai Sarana Diplomasi Indonesia Secara Global Jerry Indrawan; Ganis Purnaningtyas; Dede Suprayitno
Jurnal Kewarganegaraan Vol 7 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v7i1.5144

Abstract

Since the 1955 Asian-African Conference (AAC), Indonesia has been actively involved in South South Triangular Cooperation (SSTC) which serves as a catalyst for political movements in international cooperation because it helps exchange resources and knowledge according to the needs of developing countries. Indonesia has a dual role as a recipient and giver of assistance in SSTC. This study aims to answer issues related to the implementation of SSTC in the Indonesian context. The research method used is descriptive research with a qualitative approach and the data collected by literature study. The results showed that in terms of Indonesia's interests, SSTC helps achieve utilization in bilateral trade and becomes a forum for sharing experiences and encouraging other countries to apply democratic principles. Indonesia provides financial and non-financial support, but is more likely to be in non-financial form. Relevance in this era, the impact of SSTC will be a powerful instrument to reduce dependence on superpowers. SSTC is considered suitable and beneficial for sustainable development, both from an economic, socio-cultural, and political security perspective. Limited capital is the biggest obstacle for SSTC member countries, especially during the outbreak of the Covid-19 pandemic. Keywords: SSTC, Development, G-20 Forum, International Relations
Konstruksi Identitas dalam Film ‘My Name is Khan’ Nuril Ashivah Misbah; Anindita Lintangdesi Afriani; Dede Suprayitno
Jurnal Kewarganegaraan Vol 7 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v7i1.5196

Abstract

Abstrak Konstruksi identitas dalam teks media kerap ditampilkan dalam konteks sarat relasi kuasa yang mendudukkan posisi antartokoh secara timpang. Identitas tersebut mewakili realita dan isu sosial kontemporer, sekaligus menunjukkan sifat identitas yang cair, selalu berubah, dan dinamis. Artikel ini mengkaji bagaimana konstruksi tokoh dalam film My Name is Khan yang mengisahkan kehidupan imigran Muslim pascaperistiwa 9/11 di Amerika Serikat. Studi ini menggunakan analisis tekstual dengan konsep identitas kultural, diaspora, dan politik representasi sebagai pisau analisisnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa konstruksi identitas dalam film My Name is Khan didominasi oleh identitas Muslim, yang dikonstruksi sebagai identitas yang rentan, powerless, selalu dikambinghitamkan, dan membawa banyak kerugian (disadvantageous). Kata Kunci: identitas, konstruksi, film, My Name is Khan, 9/11 Abstract The construction of identity in media texts is often presented in a context of power relations that position characters unequally. These identities represent contemporary social realities and issues, while showing the fluid, ever-changing and dynamic nature of identity. This article examines the construction of characters in the movie My Name is Khan, which tells the life of Muslim immigrants after 9/11 in the United States. This study uses textual analysis with the concepts of cultural identity, diaspora, and politics of representation as its analytical tools. The analysis shows that the construction of identity in My Name is Khan is dominated by Muslim identity, which is constructed as vulnerable, powerless, always scapegoated, and disadvantageous. Keywords: identity, construction, film, My Name is Khan, 9/11
INDEPENDENSI MEDIA MASSA DI INDONESIA PADA TAHUN POLITIK 2024: STUDI KASUS PADA KOMPAS.COM Dede Suprayitno; Khairun Alfisyahri MJ
Jurnal Komunikasi dan Kajian Media Vol. 9 No. 2 (2025): JURNAL KOMUNIKASI DAN KAJIAN MEDIA
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/jkkm.v9i2.1930

Abstract

Indonesia memasuki pemilihan umum pada 2024. Momentum ini menjadi pesta demokrasi rakyat memilih pemimpin baru. Pada masa ini, media memiliki peran penting dalam memublikasikan berita kepada publik, termasuk menciptakan isu-isu kepada publik. Tahun ini, sekaligus menjadi tahun yang penuh ujian bagi media massa. Terutama dalam memegang prinsip independensi, keberimbangan dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus pada Kompas.com dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori Agenda Setting yang dikembangkan Maxwell McCombs dan Donald Shaw, untuk memeriksa bagaimana media menciptakan isu yang diberitakan. Peneliti mengupas sejauh mana independensi media terhadap isu-isu politik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam (indept interview) dan studi dokumen. Hasil penelitian yang digali melalui cara pandang induktif menunjukkan bahwa Kompas.com menghadirkan pemberitaan yang independen. Sikap itu dibangun dari kerangka berpikir para editor sejak dalam ruang redaksi. Ada kebebasan yang ditawarkan oleh redaksi kepada jurnalis dalam meliput isu-isu politik. Terkait pemilihan isu berita politik, redaksi juga mengambil sikap keberimbangan dalam menyajikan berita. Mulai dari ruang berita, intensitas hingga nada dalam pemberitaan. Redaksi juga berhati-hati dalam pemilihan narasumber, karena dapat menentukan arah pemberitaan yang cenderung bersifat politis. Penggunaan data dalam proses jurnalistik, membantu Kompas.com dalam menghadirkan berita yang lebih berkualitas.
Studi Resepsi Stuart Hall terhadap Tekanan Finansial Karakter Kaluna dalam Film Home Sweet Loan pada Generasi Milenial Reffa Syahada Fenita; Ribka Audrey Medeleine; Dede Suprayitno
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i4.17088

Abstract

Fenomena tekanan finansial pada generasi milenial menjadi salah satu isu yang banyak dialami pekerja saat ini, terutama dalam menghadapi tuntutan kebutuhan hidup dan kondisi ekonomi yang dinamis, seperti tingginya biaya hidup, keterbatasan pendapatan, serta meningkatnya beban pengeluaran sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resepsi pekerja generasi milenial terhadap penggambaran tekanan finansial yang dialami tokoh Kaluna dalam film Home Sweet Loan. Penelitian ini menggunakan teori resepsi Stuart Hall dan pendekatan analisis resepsi audiens. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap lima informan yang merupakan pekerja generasi milenial. Analisis dilakukan dengan mengklasifikasikan pemaknaan informan ke dalam tiga posisi, yaitu dominant-hegemonic, negotiated, dan oppositional reading. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi pemaknaan terhadap penggambaran tekanan finansial dalam film Home Sweet Loan. Sebagian besar informan berada pada posisi dominant-hegemonic, sedangkan sebagian lainnya berada pada posisi negotiated dan oppositional pada beberapa adegan tertentu. Perbedaan pemaknaan ini dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, kondisi sosial, serta latar belakang ekonomi masing-masing informan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa audiens tidak menerima pesan media secara seragam, melainkan menafsirkannya berdasarkan pengalaman dan konteks sosial yang dimiliki.
AI Journalism: Construction, Implementation, and Challenges in Modern Mass Media Dede Suprayitno; Ayu Wardani; Dewanto Samodro; Ilhami Lailatul Safitri; Tirta Syahputra
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 9 No 1 (2026): January
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v9i1.10787

Abstract

The presence of artificial intelligence (AI) affects the journalistic workflow. Like a sword, AI technology presents both threats and opportunities. Indonesia is one of the countries that adopts AI technology in the journalistic process. Then, how is AI implemented, constructed, and what challenges are faced? Through a case study, this study collected data through semi-structured interviews with 5 national digital media managers, including Narasi.tv, Antaranews.com, Okezone.com, Jawapos.com, and CNBCIndonesia.com. The tool used to analyze the interview results was NVivo 14. The naturalistic-interpretive paradigm influenced this qualitative research. The study found that AI is still a new topic. However, several media companies have adopted AI at several levels of production. Okezone.com, CNBCIndonesia.com, and Narasi.tv, for example, have optimized AI for data processing and news distribution. Meanwhile, other media such as Jawapos.com and Antaranews.com are still using it in the early stages, for example, in interview transcripts and media effectiveness analysis. The use of artificial intelligence further enhances personalization. This creates a filter bubble effect that increases dichotomy and polarization. This study provides an overview of the presence of AI in modern mass media in Indonesia.