Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Pharmascience

Potensi Biji Orok-orok (Crotalaria juncea L.) sebagai Kandidat Obat Insomnia Asmiyenti Djaliasrin Djalil; Siti Musyarofah; Bayu Satria Nugroho Putra; Erza Genatrika; Ika Yuni Astuti
Jurnal Pharmascience Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i1.5749

Abstract

ABSTRAK Insomnia merupakan gangguan yang menyebabkan penderita mengalami ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur. Pemilihan terapi insomnia di Desa Lembarawa, Brebes, secara empiris biasanya menggunakan biji orok-orok (Crotalaria juncea L.) sebagai sedatif. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa biji orok-orok memiliki potensi sebagai sedatif dengan dosis yang tepat. Biji orok-orok diekstrak menggunakan pelarut metanol. Ekstrak yang diperoleh selanjutnya difraksinasi dengan pelarut etil asetat dan metanol. Ekstrak dan fraksi yang diperoleh kemudian diujikan terhadap mencit. Mencit dibagi menjadi 12 kelompok, kelompok I kontrol positif (fenobarbital 60 mg/Kg BB) kelompok II kontrol negatif (NaCMC 1%), kelompok III-IV merupakan kelompok perlakuan ekstrak metanol dengan konsentrasi 50 dan 200 mg/Kg BB, kelompok V-VIII merupakan fraksi etil asetat dengan konsentrasi berturut-turut 7,5; 15; 22,5; dan 30 mg/Kg BB, kelompok IX-XII merupakan fraksi metanol dengan konsentrasi berturut-turut 25, 50, 75, dan 100 mg/Kg BB. Parameter yang digunakan adalah daya cengkeram mencit, reflek balik badan mencit, diameter pupil mata, serta daya jatuh menit. Hasil uji menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dan metanol memiliki efek sedatif. Efek sedatif paling baik ditunjukkan oleh fraksi metanol 100 mg/Kg BB yang mendukung terapi untuk insomnia. Kata kunci: biji orok-orok, Crotalaria juncea L., sedatif. ABSTRACT Insomnia is a disruption that can not supply the needs of sleeping. In Lembarawa, Brebes, insomnia was treated empirically using Crotalaria Juncea L. (orok-orok). The purpose of this study was to prove that the seeds of Crotalaria juncea L. had potential as a sedative. Orok-orok seeds methanolic extract, ethyl acetate fraction, and methanolic fraction were observed as a sedative. Mice were divided into 12 groups: positive control group (phenobarbital 60 mg/Kg BW), negative control group (Na CMC 1%), methanolic extract of orok-orok seeds with doses of 50 and 100 mg/Kg BW, ethyl acetate fraction with doses of 7.5; 15; 22.5; and 30 mg/Kg BW, methanolic extract with doses of 25; 50; 75; and 100 mg/Kg BW. The sedative activity was investigated in mice including diameter mouse’s pupil, grip strange performances, return mice reflect, and rotarod performances. The results suggest that methanolic extract, ethyl acetate fraction, and methanolic fraction of orok-orok seeds possess potent sedative activity. The highest activity was obtained by using 100 mg/Kg BW of methanolic fraction, which supported its therapeutic use for insomnia. Keywords: Crotalaria juncea L., Orok-orok seeds, a sedative.
Hubungan Kuantitatif Struktur-Aktifitas dan Doking Molekular Senyawa Meso-Tetraphenylporphyrin dan Meso-Tetraphenylchlorin sebagai Fotosensitizer untuk Terapi Fotodinamik Asmiyenti Djaliasrin Djalil; Nurul Fadhilah Deni Saputri; Suparman Suparman; Alwani Hamad
Jurnal Pharmascience Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i1.5831

Abstract

ABSTRAK Terapi fotodinamik (Photodynamic Therapy/PDT) merupakan metode alternatif pengobatan kanker yang selektif. Terapi ini memerlukan fotosensitizer yang diberi penyinaran dalam lingkungan oksigen sehingga dihasilkan oksigen singlet yang mampu menghancurkan sel kanker dan merusak jaringan. Meso-tetraphenylchlorin (MTPP) dan meso-tetraphenylporphyrin (MTPC) adalah fotosensitizer yang memiliki struktur molekul yang mirip, hanya berbeda kejenuhan pada satu cincin pirolnya. MTPP adalah tetrapirol makrosiklik dengan cincin pirol tidak tereduksi sedangkan struktur MTPC tereduksi pada salah satu cincin pirolnya. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi hubungan antara struktur tetrapirol makrosiklik terhadap aktivitasnya secara in silico. Analisis hubungan kuantitatif-struktur aktifitas (HKSA) menggunakan serangkaian senyawa turunan porfirin dilakukan untuk memperoleh persamaan yang secara statistik memiliki kemampuan korelatif dan prediktif. Perangkat lunak Molecular Operating Environment (MOE) digunakan untuk melakukan analisis HKSA. Doking molekul dilakukan terhadap human serum albumine (HSA) dan  peripheral benzodiazepine receptor (PBR) untuk memperoleh energi doking yang berhubungan dengan energi afinitas antara ligan dan reseptor. Simulasi doking dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak AutoDock. Hasil menunjukkan bahwa MTPC memiliki energi doking terhadap HSA dan PBR yang paling baik. Analisis HKSA yang diperoleh  menunjukkan bahwa MTPC lebih potensial sebagai fotosensitizer yang ditunjukkan dengan nilai IC50 yang lebih kecil.  Kata kunci: doking molekular, fotosensitizer, HKSA, MTPC, MTPP, PDT ABSTRACTPhotodynamic Therapy (PDT) is an alternative cancer treatment method that can exert a selective cytotoxic activity toward malignant cells. PDT requires a sensitizing agents and light energy, which, in the presence of oxygen, leads to the generation of singlet molecular oxygen in cell. Singlet oxygen molecules are able to kill or inhibit growth of cancer cells. Meso-tetraphenylchlorin (MTPC), a photosensitizer, is similar to meso-tetraphenylporphyrin (MTPP) but the structure has one reduced pyrrole ring. The present study aimed to develop an in silico prediction model that considers PDT activity. The Quantitative-Structure Activity Relationship (QSAR) analysis using a series of porphyrin derivatives was carried out to build a statistically significant model possessing a good correlative and predictive capability for photosensitizer in PDT. Molecular Operating Environment (MOE) software was used to performed the QSAR analysis. Docking molecule of MTPP and MTPC on human serum albumine (HSA) and peripheral benzodiazepine receptor (PBR) had been done to test the docking energy associated with binding affinity between ligand and receptor. Docking simulation was performed by AutoDock software. The results showed that MTPC had the best docking energy to HSA and PBR. Furthermore, the QSAR analysis showed that MTPC had lower IC50 value compare with  MTPP.  Based on QSAR and molecular docking analysis, MTPC exhibit better photosensitizer as compare with MTPP.Keywords: molecular docking, photosensitizers, QSAR, MTPC, MTPP, PDT.