Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : Farmaka

Review : Peningkatan Kelarutan Obat dalam Bidang Farmasi NURUL FITRI RAHMAWATI; Dolih Gozali
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1438.815 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22251

Abstract

ABSTRAKKelarutan obat sangat mempengaruhi tingkat efektivitas dan dosis yang digunakan. Peningkatan kelarutan dengan berbagai macam metode dapat menunjang efektivitas obat.. Review ini bertujuan untuk mengetahui penelitian apa saja yang sudah pernah dilakukan, metode yang digunakan serta hasil dari penelitian. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa peningkatan kelarutan obat sudah lumrah dilakukan dengan hasil yang memuaskan. Jenis metode yang digunakan mengacu pada jenis senyawa ataupun obat yang akan direkayasa, serta tujuan peningkatan kelarutan dalam bidang farmasi.Kata Kunci : kelarutan, peningkatan, obat ABSTRACTDrug solubility greatly affects the level of effectiveness and dosage used. Increasing solubility with various methods can support the effectiveness of the drug. This review aims to find out what research has been done, the methods used and the results of the study. The results of research conducted by the researchers indicate that an increase in drug solubility is commonplace with satisfactory results. The type of method used refers to the type of compound or drug to be engineered, and the purpose of increasing solubility in the pharmaceutical field.Keywords : Solubility, Increase, Drug.
PENGARUH SUHU TERHADAP STABILITAS OBAT SEDIAAN SUSPENSI alifa nur zaini; Dolih Gozali
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.52 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10820

Abstract

Stabilitas obat merupakan salah satu pengujian yang penting dalam evaluasi obat, salah satunya adalah dengan mengetahui pengaruh suhu terhadap stabilitas obat. Adapun jika dilihat dari beberapa jurnal penelitian menujukkan bahwa suhu dapat mempengaruhi stabilitas obat, khususnya sediaan suspensi. Dalam jurnal penelitian yang menjelaskan mengenai suspensi diklofenak pada suhu 4oC, 22oC, 40oC,60oC, suhu yang paling stabil adalah pada suhu 4oC (96,3%) dan terjadi penurunan kadar yang signifikan pada suhu 40oC (89,58%) dan 60oC (85,17%). Pada jurnal lain yang membahas mengenai suspensi asam folat menunjukan bahwa obat stabil pada suhu 4oC dan 25oC kecuali pada hari ke 90 terjadi kenaikan pH. Dalam jurnal lain yang membahas mengenai suspensi cefuroxime axetil pada suhu 20o C konsentrasi dari suspensi cefuroxime axetil adalah 87,68% dan pada suhu 5o C adalah 92,35%. Untuk jurnal penelitian yang membahas mengenai suspensi amoksisilin-klavulanat menunjukkan bahwa konsentrasi amoksisilin mulai mengalami penurunan pada hari ke 7 yaitu di bawah 80% dalam sementara klavulanat yaitu kurang dari 70%. Keempat sediaan suspensi tersebut dapat dikatakan stabil pada suhu yang diujikan.Kata Kunci : Stabilitas obat, suspensi, suhu.
ARTICLE REVIEW: PARAMETER DAN PENDEKATAN BERBASIS RISIKO TERKAIT VALIDASI PEMBERSIHAN DI INDUSTRI FARMASI Veronika Ellena; Dolih Gozali
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.40454

Abstract

Validasi pembersihan merupakan suatu pembuktian yang terdokumentasi terkait proses pembersihan alat atau mesin di industri farmasi. Validasi prosedur pembersihan merupakan hal yang sangat penting dalam industri farmasi untuk mendapatkan informasi terkait konsistensi dan efisiensi metode pembersihan dalam peralatan di industri farmasi. Validasi pembersihan berbasis risiko bertujuan untuk meningkatkan mutu dan keamanan produk dengan memvalidasi metode pembersihan secara efektif dan juga membantu dalam meningkatkan kesiagaan untuk mengatasi risiko. Artikel ini membahas tentang berbagai parameter pada validasi pembersihan serta validasi pembersihan berdasarkan pendekatan berbasis risiko.
REVIEW: PENGGUNAAN TEKNOLOGI NANOSUSPENSI PADA FORMULASI OBAT HERBAL Fadlilah, Aida Roja; Gozali, Dolih
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.33958

Abstract

AbstrakEfektivitas spesies tanaman obat tergantung pada kandungan senyawa aktifnya. Beberapa konstituen ekstrak yang aktif secara biologis sulit diserap tubuh, karena tidak dapat melintasi membran lipid sel atau memiliki ukuran molekul yang terlalu tinggi, mengakibatkan hilangnya bioavailabilitas dan efektifitas obat-obatan herbal. Berbagai teknologi dan pengembangan dilakukan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya teknologi nano. Salah satu teknologi nano untuk drug delivery system adalah nanosuspensi. Nanosuspensi merupakan sistem dispersi koloidal, yang seluruhnya mengandung bahan obat berukuran 10 sampai 1000 nm. Review artikel ini membahas penggunaan teknologi nanosuspensi dan pengaruhnya pada bioavailabilitas obat herbal. Metode yang digunakan adalah studi literature  dari 18 jurnal acuan. Diperoleh hasil bahwa teknologi nanosuspensi dalam formulasi obat herbat dapat digunakan untuk meningkatkan bioavailabilitas, efektivitas, dan stabilitas.AbstractThe effectiveness of medicinal plant species depends on the content of the active compounds. Some of the biologically active constituents of the extract are difficult for the body to absorb, because they cannot cross cell lipid membranes or have too high a molecular size, resulting in loss of bioavailability and effectiveness of herbal medicines. Various technologies and developments have been carried out to overcome this problem, one of which is nanotechnology. One of the nanotechnology for drug delivery system is nanosuspension. Nanosuspension is a colloidal dispersion system, which entirely contains the drug substance in the size of 10 to 1000 nm. This review article discusses the use of nanosuspension technology and its effect on the bioavailability of herbal medicines. The method used is a literature study from 18 journal references. It was found that nanosuspension technology in herbal drug formulations can be used to increase bioavailability, efectivity, and stability. There are several commercial synthetic drug products that use nanosuspension technology in their formulations, but the application in herbal drug formulations is still being researched on a laboratory scale.
REVIEW ARTIKEL: PENINGKATAN KELARUTAN OBAT CARVEDILOL Adiningsih, Nurdiani; Gozali, Dolih
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.33954

Abstract

AbstrakCarvedilol adalah beta bloker non selektif dengan aktivitas penghambat reseptor alfa-1 yang sering diresepkan untuk pengobatan penyakit kardiovaskular.  Carvedilol termasuk ke dalam BCS (Bipharmaceutical Classification System) kelas II dimana memiliki permeabilitas membran yang tinggi tetapi memiliki laju disolusi yang lambat karena kelarutan dalam air yang rendah. Review ini berisi tentang teknik peningkatan kelarutan dari carvedilol dengan melakukan pencarian literatur melalui jurnal nasional dan jurnal internasional.   Berbagai jenis teknik peningkatan kelarutan obat telah diterapkan pada carvedilol seperti dispersi padat dengan berbagai metode preparasinya, c-MCMs, ko-kristalisasi, cyclodextrin inclusion complex, superkritikal karbon dioksida, hidrotropi, polymeric microparticles, pembentukan garam, dan nanopartikel. Dari semua teknik yang diterapkan telah terbukti dapat meningkatkan kelarutan dari carvedilol.ABSTRACTCarvedilol is a non-selective beta blocker with alpha-1 receptor blocking activity that is often prescribed for the treatment of cardiovascular disease. Carvedilol belongs to the BCS (Bipharmaceutical Classification System) class II which has high membrane permeability but has a slow dissolution rate due to low water solubility. This review contains techniques for increasing the solubility of carvedilol by conducting a literature search through national and international journals. Various types of drug solubility enhancement techniques have been applied to carvedilol such as solid dispersion with various preparation methods, c-MCMs, co-crystallization, cyclodextrin inclusion complex, supercritical carbon dioxide, hydrotropy, polymeric microparticles, salting, and nanoparticles. All the techniques have been shown to increase the solubility of carvedilol.
MAPPING SUHU GUDANG NARKOTIKA PADA SALAH SATU PEDAGANG BESAR FARMASI (PBF) DI KOTA BANDUNG FADHILAH, FAHRINA NUR; GOZALI, DOLIH
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.43425

Abstract

Sebagai upaya menjaga keamanan, mutu, dan efikasi dari masing – masing obat, kestabilan setiap sediaan obat selama masa penyimpanan harus dijaga dan dipertahankan. Ketidak patuhan terhadap persyaratan kondisi penyimpanan, salah satunya suhu penyimpanan merupakan salah satu penyimpangan yang paling banyak ditemukan di fasililtas penyimpanan obat. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan sebagai upaya pemantauan kondisi suhu penyimpanan adalah pemetaan suhu. Pemetaan suhu dilakukan untuk mengetahui rentang suhu pada ruangan gudang penyimpanan obat, serta mengetahui keberagaman suhu pada masing – masing titik di ruangan gudang penyimpanan obat. Dilakukan pemetaan suhu dengan peletakan dua belas alat pengukur suhu pada empat titik sudut dengan masing – masing tiga ketinggian di Gudang Narkotika salah satu Pedagang Besar Farmasi di Kota Bandung. Dari hasil pengamatan selama 72 jam, diperoleh hasil rentang suhu penyimpanan berada di antara 15oC – 25oC dengan titik kritis pada titik 3 dengan suhu 24,3oC dijadikan sebagai dasar pertimbangan peletakan alat pengukur suhu.Kata kunci: Pemetaan suhu, rentang suhu, titik kritis