Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

COMPARISON OF LAPAROSCOPIC AND ABDOMINAL SACROCOLPOPEXY FOR POST HYSTERECTOMY VAGINAL VAULT PROLAPSE REPAIR: META ANALYSIS Amani, Fariska Zata; Denas, Azami; Paraton, Hari; Hardianto, Gatut; Mardiyan K, Eighty; Hartono S, Tri
Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kesehatan Vol 5 No 2 (2021): AUGUST
Publisher : UNUSA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/mhsj.v5i2.1929

Abstract

Objective: Comparing the clinical outcomes of laparoscopic and abdominal sacrocolpopexy in vaginal vault prolapse post-hysterectomy’s patient. Method: Systematic search data is performed on medical database (PUBMED, Cochrane Database) using keyword:(1) vault prolapse [title] AND (2) laparoscopic[title] AND sacrocolpopexy[title]. Inclusion criteria:(1) randomized controlled trial and observational studies, (2) women with vaginal vault prolapse post hysterectomy, (3) intervention studied: laparoscopic (LSC) and abdominal sacrocolpopexy (ASC), (4) the entire fully accessible papers can be accessed and data can be accurately analyzed. Comparison about clinical outcomes of LSC and ASC was performed using narrative analysis and meta-analysis (RevMan). Results: Three studies compared clinical outcomes of LSC and ASC with a total of 243 samples (118 in LSC and 125 in ASC group). There was no significant difference in the incidence of complications between LSC and ASC (OR 1.10;95%CI 0.58-2.08). LSC was associated with less blood loss (MD 111.64 mL,95%CI-166.13 - -57.15 mL) and shorter length of hospital stay (MD -1.82 days;95%CI -2.52- -1.12 days) but requires a longer operating time (MD 22.82 minutes,95%CI 0.43-45.22 minutes). There was no statistically significant difference to anatomical outcomes (measurement of point C on POP-Q), subjective outcomes measured by PGI-I and reoperation numbers (repeat surgical interventions) for prolapse recurrence between LSC and ASC groups after one year of follow-up. Conclusions: LSC showed similar anatomic results compared to ASC with less blood loss and shorter length of hospital stay in management patient with vaginal vault prolapse.
Clinical Characteristic of Congenital Fetal Anomaly In Tertiary Referral Hospital in East Java, Indonesia Amani, Fariska Zata; P, Wardhana M.; I, Cininta N.; A, Aryananda R.; E, Gumilar K.; I, Aldika M.; B, Wicaksono; Ernawati, Ernawati; A, Sulistyono; Aditiawarman, Aditiawarman; J, Hermanto T.; N, Abdullah; G, Dachlan E
Jurnal Medis Islam Internasional Vol 2 No 2 (2021): June
Publisher : UNUSA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/iimj.v2i2.1624

Abstract

Background: Congenital fetal anomalies were defined as any structural defect present at birth. Congenital fetal anomalies are an important causes of neonatal morbidity and mortality in developed and developing countries that affect health care system. Reliable data on these congenital anomalies are still lacking, especially in Indonesia. Objective: This study aims to determine the characteristic profile of congenital fetal anomaly in single tertiary hospital in East Java, Indonesia. Methods: Retrospective cross-sectional by using medical record data of dr. Soetomo General Hospital on January – December 2017. Results: There were 58 cases (4,3%) with fetal congenital anomaly from 1360 deliveries in 2017. The majority of cases were referral cases (51 cases; 88%) and only seven cases were booked cases in obstetric outpatient dr. Soetomo General Hospital. Most of these congenital fetal anomaly cases ( 25 cases / 43,1%) were born from mother with ages 20 – 30 years old. Most cases (34 cases; 58,64%) were diagnosed first at third trimester (gestational age > 28 weeks). There were 36 cases (62%) had active termination of pregnancy. Thirty eight percent (22 cases) were born at 37-42 weeks and majority were born section caesaria. The three highest proportion of organ systems involved in fetal congenital anomalies were those of abdomen (22 cases; 37,9%); head (20 cases; 34,5%); thorax and muskuloskeletal (each 12 cases; 20,7%). Conclusion: The incidence of congenital fetal anomaly in dr. Soetomo Hospital at 2017 was 4,3%. Omphalocele and CTEV were two most common types of congenital fetal anomaly found. Most cases of congenital fetal anomalies have a poor prognosis, 67% cases born died. Further research about  risk factors and comprehensive database are needed on cases of congenital anomaly to establish appropriate prevention and management.
OPTIMALISASI PERAN KADER DALAM UPAYA MENGATASI KETIDAKNYAMANAN IBU HAMIL DENGAN PRENATAL GENTLE YOGA POSE Andriani, Ratna Ariesta Dwi; Mardiyanti, Ika; Handayani, Nanik; Anggasari , Yasi; Amani, Fariska Zata
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v6i2.11337

Abstract

Masalah rasa tidak nyaman pada ibu hamil trimester pertama hingga trimester ketiga merupakan masalah yang selalu muncul pada setiap kehamilan. Oleh karena itu manajemen asuhan kebidanan harus diperhatikan untuk mengurangi ketidaknyamanan pada ibu sehingga kehamilan berjalan nyaman dan ibu dapat tetap produktif sepanjang masa kehamilan. Dalam mengatasi ketidaknyamanan selama kehamilan perlu dilakukan olahraga yang sesuai dengan kondisi ibu, salah satunya adalah dengan melakukan prenatal gentle yoga pose. Hasil survey pendahuluan dari 30 kader di Rw.02 Kelurahan Pacar Kembang Surabaya, hampir seluruhnya yaitu 22 kader (73,3%) belum mengetahui tentang prenatal gentle yoga yang bisa dilakukan dalam upaya mengurangi atau mengatasi ketidaknyamanan pada ibu hamil, dan untuk 8 kader (26,7%) sudah pernah tahu tentang prenatal gentle yoga namun belum pernah mempraktekkan gerakannya. Solusi dalam pengabdian masyarakat ini adalah dengan memberikan Pendidikan Kesehatan tentang ketidaknyaman kehamilan dan cara mengatasinya dengan prenatal gentle yoga pose dengan metode ceramah menggunakan media leaflet sebagai media pendukung dan demonstrasi. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader dan ibu hamil. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah dengan memberikan Pendidikan Kesehatan dengan metode ceramah dibantu dengan media leaflet serta demonstrasi. Dalam kegiatan ini juga dilakukan pre tes dan post tes dengan menggunakan lembar kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan kader dan ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan Penyuluhan Kesehatan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan dan ketrampilan kader dan ibu hamil setelah diberikan Pendidikan Kesehatan tentang ketidaknyamanan kehamilan dan prenatal gentle yoga pose.
WOMEN EMPOWERMENT: EDUKASI PEREMPUAN DALAM PENINGKATAN PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI DI PONDOK PESANTREN Amani, Fariska Zata; Ramadhan, Nanda Aulya; Ningsih, Evilia Ratna; Wildani, Devi Intan
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 5 (2024): Vol. 5 No. 5 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i5.36950

Abstract

Kesehatan reproduksi merupakan salah satu aspek penting dalam kesejahteraan perempuan. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, edukasi mengenai kesehatan reproduksi sangat diperlukan. Pengabdian masyarakat ini menggunakan metode Community Based Participatory Research (CBPR) dengan prinsip pemberdayaan santri putri dan partisipasi aktif dari komunitas sasaran. Para santri putri dilibatkan dalam proses pretest dan posttest untuk mengukur kondisi mereka sebelum dan sesudah dilakukannya edukasi kesehatan. Intervensi edukasi diberikan melalui ceramah, konseling, dan diskusi. Sasaran kegiatan melibatkan 61 santri putri di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi (pretest dan posttest), kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil analisis uji Wilcoxon menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan tentang kesehatan reproduksi pada responden setelah diberikan edukasi (p < 0,05). Rerata nilai posttest lebih tinggi dibandingkan dengan pretest, yang mengindikasikan peningkatan pemahaman responden terhadap materi yang diberikan. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran santri putri di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik seputar kesehatan reproduksi dapat dilakukan melalui program edukasi dengan pendekatan berbasis komunitas sebagai salah satu strategi women empowerment. Program edukasi ini diharapkan dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan untuk meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja di lingkungan pesantren.
EDUKASI SUPORTIF MELALUI AUDIO VISUAL TENTANG GENTLE BIRTH UNTUK MENINGKATKAN KESIAPAN IBU MENJELANG PERSALINAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III Anggraini, Fritria Dwi; Zuwariyah, Nur; Masruroh, Nur; Pratama, Aldilia Wyasti; Umamah, Farida; Amani, Fariska Zata
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.38305

Abstract

Kesiapan dalam menghadapi persalinan adalah suatu proses perencanaan persalinan serta antisipasi tindakan yang diperlukan untuk mempersiapkan fisik, psikologis, serta finansial ibu khususnya untuk ibu primigravida yang belum memiliki pengalaman persalinan dan sering merasa takut dan cemas dalam menghadapi persalinan. Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan memberikan edukasi suportif tentang gentle birth dengan menggunakan media audiovisual untuk meningkatkan kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan. Kesiaoan dalam hal ini bukan hanya kesiapan fisik namun juga kesiapan psikologis. Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 minggu dan diikuti oleh 28 ibu hamil dan pendamping/keluarga. Sebelum diberikan edukasi, dilakukan pre test dan post test mengenai kesiapan persalinan menggunakan RCS (Readiness Childbirth scale). Sebelum diberikan edukasi ddapatkan 67,8% ibu hamil memiliki kesiappan yang baik, setelah dilakukan edukasi jumlah ibu hamil dengan kesiapan yang baik meningkat menjadi 82,1%, dengan skor rata-rata kesiapan meningkat dari 34 menjadi 55. edukasi suportif juga memberikan dukungan kepada ibu untuk melaksanakan persalinan secara gentle birth. Untuk dapat menerapkan gentle birth ibu harus memiliki perencanaan persalinan dan kesiapan diri baik dari segi fisik maupun psikologis ibu sejak kehamilannya.
EDUKASI PENCEGAHAN PRE-EKLAMPSIA DAN EKLAMPSI PADA CALON IBU HAMIL DI LINGKUNGAN PP. KHA WAHID HASYIM Junaedi, M. Dwinanda; Amani, Fariska Zata; Umamah, Faridah; Ramadhan, Nino; Minarrizqi, Nur; Rodhiyana, Rosda
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.38789

Abstract

Latar Belakang: Pre-eklampsia dan eklampsia merupakan komplikasi serius pada kehamilan yang berkontribusi besar terhadap angka kematian ibu di Indonesia. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi kejadian ini adalah rendahnya tingkat pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan pre-eklampsia di kalangan masyarakat, terutama di komunitas seperti pesantren. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan pre-eklampsia dan eklampsia kepada santriwati di Pondok Pesantren Putri KHA. Wahid Hasyim, Bangil, Pasuruan. Metode: Metode yang digunakan adalah Community-based Participatory Research (CBPR) dengan sasaran sebanyak 40 santriwati. Kegiatan dimulai dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta, dilanjutkan dengan penyuluhan menggunakan metode ceramah yang didukung oleh media proyektor. Setelah itu, dilakukan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan peserta. Hasil dan Pembahasan: Analisis hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan signifikan; 45% peserta yang memiliki pengetahuan baik meningkat menjadi 67,5% setelah kegiatan penyuluhan. Hasil ini menandakan keberhasilan dalam transfer pengetahuan mengenai pencegahan pre-eklampsia dan eklampsia. Edukasi kesehatan reproduksi, terutama terkait pre-eklampsia, sangat penting bagi para santri yang nantinya akan menghadapi potensi kehamilan. Pesantren sebagai institusi pendidikan juga berperan dalam membekali santrinya dengan pengetahuan kesehatan yang menyeluruh, termasuk aspek reproduksi, guna menciptakan generasi ibu yang lebih sehat. Kesimpulan: Kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi akibat komplikasi pre-eklampsia melalui peningkatan kesadaran dan tindakan preventif di kalangan calon ibu.
Efektivitas Penggunaan Hidrogel Kratom Terhadap Kadar Gula Darah Pada Ulkus Diabetikum Rihhadatulays, Khuzaimah Nur Juhanifah; Pramesti, Rosandhy Alifyah; Hanafi, Eka Satria Akbar Ferdinan; Jazuli, Muhammad Aqil Siroj; Salim, Hotimah Masdan; Amani, Fariska Zata; Aisyah, Aisyah
Bahasa Indonesia Vol 6 No 2 (2025): Prominentia Medical Journal
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/pmj.v6i2.6076

Abstract

Type 2 diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder characterized by hyperglycemia resulting from insulin resistance and pancreatic β-cell dysfunction. One of the most common complications is diabetic ulcers, which are often associated with vascular impairment, infection, and poor glucose stability. The search for alternative therapies continues to develop, including the use of Mitragyna speciosa (kratom) leaves, which contain mitragynine and flavonoids that have been shown to inhibit α-glucosidase and enhance antioxidant activity. This study aimed to evaluate the effect of kratom hydrogel on blood glucose levels in an animal model of diabetic ulcers. Using a posttest-only control group design, mice (Mus musculus) were induced with streptozotocin to establish a type 2 diabetes model. The animals were divided into three groups: positive control, 5% kratom hydrogel, and 15% kratom hydrogel. Blood glucose levels were measured weekly over a two-week period. Data were analyzed using the Kruskal–Wallis test followed by Dunn’s multiple comparison test. The results showed differences in blood glucose levels among all treatment groups. The 15% kratom hydrogel group demonstrated a significant reduction in blood glucose, approaching near-normal levels compared with the positive control (p < 0.05). Statistical analysis indicated a more dominant effect compared to the variation of treatment types. These findings suggest a synergistic mechanism through α-glucosidase inhibition and enhanced antioxidant activity. Therefore, kratom hydrogel has potential as a complementary therapy for glycemic control in patients with type 2 diabetes mellitus complicated by diabetic ulcers.