Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

EDUKASI PENCEGAHAN DEPRESI PADA POST PARTUM DI DESA TAPELAN KAPAS BOJONEGORO Wiwik Muhidayati; Nur Azizah; Suci Arsita Sari; Ihsanti Indri Fajriya; Titik Nuryanti
Kelompok Studi Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 No 2 : Oktober 2024
Publisher : University of Karya Husada of Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34310/kespera.v4i1.118

Abstract

Abstrak   Masa nifas (Post Partum) adalah masa di mulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali semula seperti sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari. Selama masa pemulihan tersebut berlangsung, ibu akan mengalami banyak perubahan fisik yang bersifat fisiologis dan banyak memberikan ketidak nyamanan pada awal postpartum, yang tidak menutup kemungkinan untuk menjadi patologis bila tidak diikuti dengan perawatan yang baik. Metode yang digunakan secara sistematik adalah 1.Memberikan informasi tentang Upaya-upaya pencegahan depresi postpartum. Apa itu depresi postpartum penyebab atau faktor risiko gejala depresi post partum dampak cara pencegahan dan pentingnya peran keluarga. Apa itu baby blues dan depresi pasca melahirkan. Kesehatan mental Ibu pasca melahirkan.Terapi dan pengobatan depresi post partum serta pencegahan dan juga pentingnya deteksi dini depresi pasca melahirkan Kegiatan dilakukan selama selama 60 menit, dan evaluasi selama 15 menit. Evaluasi dilakukan dengan pertanyaan dan memastikan ibu memahami tentang cara pencegahan depresi post portum. Hasil dari edukasi yang dilakukan Sebagian besar ibu bisa tentang pencegahan depresi Post partum   Kata Kunci: Edukasi. Depresi Post Partum   Abstract   The postpartum period (Post Partum) is the period that begins after the birth of the placenta and ends when the uterus returns to its normal state before pregnancy, which lasts for 6 weeks or 42 days. During the recovery period, the mother will experience many physical changes that are physiological in nature and cause a lot of discomfort in the early postpartum period, which does not rule out the possibility of becoming pathological if not followed by good care. The method used systematically is 1. Providing information about efforts to prevent postpartum depression. What is postpartum depression, causes or risk factors for postpartum depression symptoms, the impact of prevention methods and the importance of the role of the family. What are baby blues and postpartum depression. Postpartum maternal mental health. Therapy and treatment of postpartum depression as well as prevention and also the importance of early detection of postpartum depression. Activities are carried out for 60 minutes, and evaluation for 15 minutes. Evaluation is carried out by asking questions and ensuring the mother understands how to prevent post-portal depression. The results of the education carried out by most mothers are about preventing post partum depression   Keywords: Education. Post Partum Depression
Deteksi Dini PTM Warga Imigran di Malaysia: Skrining TD, Gula Darah, Kolesterol, Asam Urat Mulyani, Sri; H, Innani Wildania; Patonah, Siti; Muhidayati, Wiwik; A, Novia Dwi; N, Fatia Rizki; A, Belinda; Huda, Akhmad; H, Sofyan Hadi; Istiana, Fuji
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/wd6yd456

Abstract

Worldwide, noncommunicable diseases (NCDs) such as hypertension, diabetes mellitus, hyperuricemia, dyslipidemia, and hyperuricemia are the leading causes of death, including among immigrant communities who often have limited access to health services. Due to economic problems, legal status, and lack of information, Indonesian immigrants living in Malaysia are a vulnerable group who often neglect early detection of their diseases. The purpose of this community service program is to raise public awareness of the risks associated with NCDs and to detect them early through the measurement of blood pressure, blood sugar, total cholesterol, and uric acid levels. In Bukit Sungai Putih Lembah Jaya Utara, Ampang, Selangor, Malaysia, 120 immigrant residents underwent direct health screening and healthy lifestyle training. The results of the community service activity showed that 43.3% of participants had hypertension, 27.5% had above-normal blood sugar levels, 24.2% had hyperuricemia, and 44.2% had high total cholesterol levels. These findings indicate that NCD risk factors are prevalent among immigrants. It is evident that community-based screening helps detect health problems early and encourages broader health efforts. Therefore, to improve the overall health of immigrant residents, sustainable community-based interventions are essential
CREATE INDEPENDENT AND QUALIFIED YOUTH IN AN EFFORT TO PREVENT TEENAGE HEALTH PROBLEMS AND CHILD MARRIAGE THROUGH YOUTH POSYANDU Muhidayati, Wiwik; Luluk, Sri; Utami, Wiwik; AZIZAH, NUR
ABDIMASNU: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4 No 3 (2024): ABDIMASNU
Publisher : Institut Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47710/abdimasnu.v4i3.459

Abstract

Background: Adolescence is a transition period from child to adult, and during this period adolescents often experience changes both physically, mentally and socially. The lack of knowledge of adolescents regarding adolescent reproductive health influences adolescent behavior in maintaining their reproductive health, apart from that this is also the cause of high levels of child marriage so it is necessary to increase the understanding and knowledge of adolescents regarding reproductive health and prevention of child marriage through activities at adolescent posyandu Method: community service is carried out through youth posyandu activities with socialization and education related to reproductive health and child marriage, where previously a pre-test was carried out regarding adolescent reproductive health material and after the activity a post-test was carried out. Result: community service activities were attended by 25 teenagers, midwives and village nurses, the majority, namely 18 teenagers (72%) had good understanding, this increased when compared to the pretest results, namely only 6 teenagers (24%) had good knowledge Conclusion: community service activities entitled creating independent and quality teenagers in an effort to prevent teenage health problems and child marriage through youth posyandu succeeded in increasing teenagers' understanding regarding reproductive health and child marriage
TEKNIK PIJAT BAYI SEBAGAI UPAYA PREVENTIF BATUK DAN  PILEK PADA BALITA DI POSYANDU DESA SUMBERTLASE Muhidayati, Wiwik; Titik Nuriyanti; Nur Azizah; Suci Arsita Sari; Agus Ari Afandi
Kelompok Studi Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): Volume 3 No 2: Oktober 2023
Publisher : University of Karya Husada of Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34310/aa8jmx46

Abstract

Abstrak Balita memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah sehingga rentan terhadap berbagai infeki diantaranya ISPA. Infeksi Saluran Nafas Atas adalah Infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri disaluran pernafasan atas atau bawah. Manifestasi klinis ISPA adalah batuk dan pilek pada anak usia kurang dari 5 tahun. Metode yang dilakukan  secara sistematis yaitu melalui diskusi dan demonstrasi tentang pijat bayi kepada orangtua balita. Media yang digunakan adalah demonstrasi dari fasilitator mengenai teknik pijat bayi. Peserta Teknik Pijat pada bayi adalah ibu-ibu yang memiliki bayi usia 1 – 5 tahun di Desa Sumbertlase dan didampingi oleh kader dan pemateri, Kegiatan dilakukan selama selama 30 menit, dan evaluasi selama 15 menit. Evaluasi dilakukan dengan pertanyaan dan diminta untuk mempraktekan kembali cara melakukan teknik pijat bayi untuk batuk dan pilek pada bayi. Sehingga bisa sekaligus diobservasi apakah peserta memahami materi dan demontrasi yang telah dipraktekan. Hasil dari pendampingan yang dilakukan Sebagian besar ibu bisa menerapkan Teknik pijat bayi pada balita sebagai Upaya preventif pencegahan batuk dan pilek sebelum datang ke tenaga kesehata.   Abstract Toddlers have a low immune system so they are susceptible to various infections, including ISPA. Upper Respiratory Tract Infection is an infection caused by viruses or bacteria in the upper or lower respiratory tract. The clinical manifestations of ARI are coughs and colds in children aged less than 5 years. The method used systematically is through discussions and demonstrations about baby massage to parents of toddlers. The media used is a demonstration from the facilitator regarding baby massage techniques. Participants in Massage Techniques for babies are mothers who have babies aged 1 – 5 years in Sumbertlase Village and are accompanied by cadres and presenters. The activity is carried out for 30 minutes, and the evaluation is for 15 minutes. The evaluation is carried out by asking questions and being asked to practice how to carry out baby massage techniques for coughs and colds in babies. So it can be observed at the same time whether the participants understand the material and demonstrations that have been practiced The results of the assistance provided by most mothers were able to apply baby massage techniques to toddlers as a preventive measure to prevent coughs and colds before coming to health workers.
KUALITAS HIDUP LANSIA YANG MEMILIKI SPIRITUALITAS TINGGI DI DESA DANDER KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO Mulyani, Sri; Maftukhin, Ahmad; Dwi Rahayu, Lusiana; Luluk, Sri; Muhidayati, Wiwik; Hidayah, Waqidil
Asuhan Kesehatan : Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan dan Keperawatan Vol. 13 No. 2 (2022): Asuhan Kesehatan Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : LPPM STIKES Rajekwesi Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penuaan adalah proses yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Proses menua akan mengakibatkan kemunduran mental, fisik, maupun sosial secara bertahap. Sehingga banyak lansia yang jarang mengikuti kegiatan didesa seperti Posyandu ataupun kegiatan spiritual. Menurut data yang tercantum lansia di Desa Dander tergolong memiliki kesejahteraan yang rendah. Dengan alasan inilah penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara spiritualitas dengan kualitas hidup pada lansia. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan crossectional. Populasi lansia usia 61 – 65 tahun ditemukan sampling sebanyak 86 orang menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner lalu dilakukan editing, coding, scoring, dan tabulating. Kemudian dianalisa menggunakan cross tabulation Hasil Analisis menunjukan bahwa lansia yang memiliki skor spiritualitas tinggi (31-40) , mayoritas memiliki skor kualitas hidup tinggi (71-100). Hal ini menunjukkan semakin tinggi tingkat spiritualitas, semakin tinggi pula kualitas hidupnya. Penelitian ini menunjukan kualitas hidup lansia Di desa Dander mayoritas baik dengan spiritualitas yang baik pula hanya kurang dari sebagian yang menunjukan kualitas hidup sedang, oleh karena itu diperlukan pembaharuan data secara berkala dengan validasi desa dan berkolaborasi dengan berbagai pihak guna mempertahankan kualitas hidup lansia yang sudah baik. Contohnya optimalisasi kegiatan promotif saat posyandu dilaksanakan dengan strategi meningkatan produktifitas lansia dalam sebuah kelompok dengan mengajarkan ketrampilan berupa menyulam serta memberikan kajian keagamaan tiap minggunya. Kata kunci: spiritualitas, kualitas hidup, lansia.
GAMBARAN STATUS GIZI PADA ANAK BALITA Yuliana Irnawati, Prita; Arsita Sari, Suci; Hidayah, Waqidil; Suharti; Lestari, Puji; Muhidayati, Wiwik; Zuli Oktavia, Eva; Hadi Hasibuan, Sofyan
Asuhan Kesehatan : Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan dan Keperawatan Vol. 13 No. 2 (2022): Asuhan Kesehatan Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : LPPM STIKES Rajekwesi Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Masalah gizi balita dapat menyebabkan beberapa efek yang serius. Akibat masalah gizi tersebut seperti kegagalan dalam pertumbuhan fisik serta kurangnya optimal pertumbuhan dan kecerdasan, bahkan mengakibatkan kematian pada balita. Agar balita tidak mengalami masalah gizi maka harus dipantau status gizi secara terus menerus.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang status gizi pada balita dengan literatur review. Metode penelitian ini merupakan berjenis literature review, penelitian ini mengakses dari sumber database pubmed 1 artikel, garba garuda 3 artikel dan google scholar 4 artikel. Responden pada penelitian ini adalah balita.Hasil analisis literatur review menunjukan bahwa gambaran status gizi balita berdasarkan IMT/U didapatkan didapatkan separuh lebih balita dengan status gizi normal 54,4%, namun ada 24,7% dengan status gizi kurus dan status gizi balita di Indonesia separuh lebih dengan gizi normal 76,3% sedangankan pada luar negeri di Nigeria status gizi kurus lebih mendominasi tinggi dengan 43,8%. Saran untuk tenaga kesehatan untuk lebih memberikan edukasi kepada masyarakat atau ibu yag memiliki balita dalam memberikan makanan yang seimbang dan Asi eksklusif agar mengetahui asupan yang diperlukan untuk mencegah terjadinya balita dengan gizi kurang atau buruk. Kata Kunci : review, status gizi, balita.
Gambaran Pelaksanaan Suplementasi Tablet Tambah Darah Sebagai Upaya Pencegahan Anemia Pada Mahasiwa Putri Di STIKes Rajekwesi Bojonegoro Nur Azizah; Wiwik Muhidayati; Prita Yuliana Irnawati
Asuhan Kesehatan : Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan dan Keperawatan Vol. 16 No. 1 (2025): Asuhan Kesehatan Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : LPPM STIKES Rajekwesi Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang rawan menderita anemia. hal Ini akan berdampak buruk pada penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktivitas jika tidak ditangani dengan benar. Pemberian TTD pada rematri dan WUS melalui suplementasi yang mengandung sekurangnya 60 mg elemental besi dan 400 mcg asam folat. Pemberian suplementasi ini dilakukan di beberapa tatanan yaitu fasyankes, institusi pendidikan, tempat kerja dan KUA/tempat ibadah lainnya. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran pelaksanaan suplementasi tablet tambah darah pada mahasiswa putri di STIKes Rajekwesi Bojonegoro. Metode penelitian menggunakan disain penelitian diskriptif dengan sapel penelitian adalah mahasiswa putri yang berusia 14-18 tahun dan mengikuti program suplementasi tablet tambah darah serta bersedia menjadi responden sejumlah 120 reponden. Pengukuran variabel dengan menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian adalah sebagian besar (81.67%) telah melaksanakan sesuai dengan aturan dan prosedur yang telah ditetapkan yaitu mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) 1 minggu sekali dan setiap hari pada saat menstruasi untuk mencegah terjadinya anemia remaja. Disarankan bagi Puskesmas untuk memberikan informasi dan masukan bagi perencanaan program Puskesmas agar program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri disekolah lebih diperhatikan dan difasilitasi dengan baik, terutama dalam kegiatan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) di sekolah- sekolah ataupun di kampus sehingga seluruh remaja putri dapat mengkonsumsi TTD secara teratur setiap minggunya. Disarankan bagi pengembangan peneliti untuk melakukan penelitian dengan menambahkan beberapa variabel yang berhubungan dengan keberhasilan program suplementasi tablet tambah darah sehingga bisa meningkatkan target capaian program Kata Kunci : Remaja Putri, Anemia, Suplementasi Tablet Tambah Darah
Sosialisasi dan Aksi Sosial Dalam Pencegahan Penyakit Diare di Lingkungan Pondok Titik Nuryanti; Wiwik Muhidayati; Rahmawati; Sri Luluk
Jurnal Visi Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Visi Pengabdian Kepada Masyarakat : Edisi Februari 2025
Publisher : LPPM Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51622/pengabdian.v6i1.2556

Abstract

Diarrhea is a common illness in Islamic boarding schools, often caused by poor sanitation and low awareness of healthy and cleanliving behaviors (PHBS). According to research conducted at Darul Hijrah Islamic Boarding School, 78% of students experience diarrhea due to inadequate sanitation. A socialization and social action program was implemented through education, hygiene training, and improved sanitation facilities, resulting in a reduction of diarrhea cases from 30 to 10 cases per month (66.7%). Students’ understanding of PHBS increased, with 85% practicing proper handwashing after the intervention. These findings highlight the importance of socialization and sanitation facilities in preventing diarrhea in boarding school environments.
THE EFFECT OF LOW IMPACT AEROBIC EXERCISE ON WEIGHT REDUCTION IN PROGESTIN ONLY CONTRACEPTION INJECTION WOMEN Aprida Handayani, Eka; Sri Luluk; Wiwik Muhidayati; Nur Azizah
Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal Vol. 9 No. 4 (2025): Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal, October 2025
Publisher : UNIVERSITAS AIRLANGGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/imhsj.v9i4.2025.424-433

Abstract

Background: Injectable contraceptives stimulate appetite, increase weight, and can cause menstrual irregularities, including missed periods for three consecutive months, menorrhagia, and spotting. Several factors can contribute to weight gain, including an unhealthy lifestyle. Weight control involves maintaining food intake, rest patterns, and activity patterns through exercise, including physical activity such as sports or aerobics. The purpose of this study was to determine the effect of low-impact aerobic exercise on weight loss in 3-month injectable contraceptive acceptors in the Baureno Health Cente r work area. Metode: This research design used one group pretest posttest design. In this design there is only one group,   the initial test (Pretest) and the last is given a final test (Posttest), The population women used progestin in injection  in the Baureno Health Center East Java Indonesia work area is 18 people, the measuring instrument to identify weight loss using a digital scale. In this study, low impact aerobic exercise was done for 30 minutes twice a week for 8 weeks. Results: most of them were 49.0-58.0 kg, 10 respondents (55.6%), while almost half of them had a body weight of 60.0-69.3 kg,   7 respondents (38.9%) and a small number of respondents with a body weight of >70 kg, only 1 respondent (5.1%). of this study using statistical tests with Paired T-Test with a value of ρ value = 0.000 <α = 0.05 indicate that there is an effect of the implementation of low impact aerobic exercise on the weight progestin only contraception women Conclusion: There is an effect of low impact aerobic exercise on weigh loss in progestin only contraception women. Low impact aerobic exercise can be an alternative to manage weight in 3-month injection KB acceptors. Therefore, it is necessary to hold routine weekly exercise activities.
ASSOCIATION BETWEEN HISTORY OF LOW BIRTH WEIGHT (LBW) AND STUNTING INCIDENCE AMONG CHILDREN AGED 24–60 MONTHS Apriliana, Dini; Azizah, Nur; Muhidayati, Wiwik
Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal Vol. 9 No. 4 (2025): Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal, October 2025
Publisher : UNIVERSITAS AIRLANGGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/imhsj.v9i4.2025.401-411

Abstract

Background: Stunting is a chronic growth disorder caused by prolonged malnutrition and recurrent infections. One of the main risk factors for stunting is a history of Low Birth Weight (LBW). This study aims to determine the relationship between LBW history and the incidence of stunting among children aged 24–60 months in the working area of Balen Public Health Center, Bojonegoro Regency, in 2025.  Method: This research used a case-control study design with a quantitative approach. The population consisted of all children aged 24–60 months in the area. Sampling was conducted using total sampling for the case group and purposive sampling for the control group. Data were collected through measurements and interviews using a structured questionnaire, and analyzed using the Spearman Rho test. Result: The results showed a significant relationship between LBW history and stunting, with a p-value of 0.044 (p < 0.05). Children with a history of LBW were at higher risk of experiencing stunting compared to those born with normal birth weight. Conclusion : In conclusion, LBW history is a significant risk factor for stunting. Preventive efforts should include prenatal monitoring, maternal nutrition education, and early intervention for LBW infants to reduce the risk of stunting.