Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

POTENSI EKSTRAK DAUN SIRIH DAN RIMPANG LENGKUAS SEBAGAI PESTISIDA NABATI PENGENDALI HAWAR DAUN BAKTERI PADA PADI Rini Laraswati; Evan Purnama Ramdan; Risnawati Risnawati; Adinda Nurul Huda Manurung
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Pertanian Presisi
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2022.v6i1.5895

Abstract

Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman pertanian penting di dunia. Penyakit hawar daun bakteri yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae merupakan salah satu penyakit pada tanaman padi. Untuk mengatasi penyakit hawar daun bakteri pada padi umumnya menggunakan bakterisida kimiawi, agens hayati, kitosan dan penggunaan varietas tahan, tetapi penggunaan bakterisida kimiawi yang terus menerus dapat mencemari lingkungan. Pemanfaatan tanaman yang berpotensi sebagai baterisida ramah lingkungan seperti daun sirih dan lengkuas dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pengendalian penyakit hawar daun bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara pengaruh jenis ekstrak dan frekuensi aplikasi terhadap komponen patosistem dan komponen pertumbuhan terhadap penyakit hawar daun bakteri pada padi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu jenis perlakuan (P) yang terdiri dari aquadest (kontrol) (P0), ekstrak daun sirih (P1), dan ekstrak lengkuas (P2), dan faktor kedua adalah frekuensi aplikasi terdiri dari 1 kali/minggu (F1), 2 kali/minggu (F2), dan 3 kali/minggu (F3). Terdapat  9 kombinasi perlakuan dengan 3 kali ulangan, setiap petak percobaan terdiri dari 3 tanaman, sehingga jumlah keseluruhan sampel yang diamati pada penelitian sebanyak 81 unit percobaan. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak lengkuas merupakan perlakuan ekstrak terbaik dalam menekan penyakit hawar daun bakteri dibandingkan dengan ekstrak daun sirih dan kontrol, dengan keparahan penyakit paling rendah yaitu 46,46% dan efikasi 24%, ekstrak lengkuas memiliki pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, berat bulir, dan panjang akar pada tanaman padi.
IDENTIFIKASI DAN UJI VIRULENSI PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA PASCAPANEN BUAH CABAI Evan Purnama Ramdan; Inti Mulyo Arti; Risnawati Risnawati
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Pertanian Presisi
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2019.v3i1.1976

Abstract

Penanganan pascapanen adalah faktor penting untuk menjaga kehilangan makanan yang disebabkan oleh penurunan penyakit produk pascapanen. Anthracnose adalah penyakit penting pada pascapanen cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menguji tingkat virulensi dari antraknosa pada pascapanen cabai. Sampel buah cabai diambil dari pasar Pal Depok yang kemudian diisolasi untuk mendapatkan isolat jamur patogen. Patogen yang berhasil diisolasi kemudian dimurnikan untuk secara morfologis ditandai dari morfologi dan konidia. Setelah patogen diidentifikasi maka tingkat virulensi patogen dihitung dengan menghitung lesi yang muncul akibat infeksi apel patogen. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa penyebab antraknosa adalah C. acutatum dan C. gloeosporioides. Tingkat virulensi yang rendah (Hyvovirulence) adalah hasil dari kedua jamur. C. gloeosporioides memiliki kemampuan untuk menyebabkan lesi yang lebih besar (0.9333 cm) dibandingkan dengan C. acutatum (0.8667 cm).
Efikasi Ekstrak Sirih, Rimpang Lengkuas dan Kunyit terhadap Penekanan Pertumbuhan Xanthomonas oryzae Rini Laraswati; Umi Kulsum; Evan Purnama Ramdan
Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan Vol 8 No 1 (2021): Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/daun.v8i1.2245

Abstract

One of the important diseases in rice is the Bacterial Leaf Blight (HDB) or the so-called kresek disease caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae. This disease is one of the main diseases of rice in Indonesia. This is supported by agricultural conditions in hot and humid tropical areas so that disease development is more optimal. The purpose of this study was to determine the efficacy of betel leaf extract and some rhizomes in suppressing the growth of Xanthomonas oryzae pv. oryzae in-vitro scale. The research was conducted at the Center for Forecasting Plant Pest Organisms (BBPOPT), Karawang, West Java. The extracts of galangal, turmeric, and betel were prepared at concentrations of 10, 15, and 25%, the method used was a scatter plate by taking 10, 50, and 100 μL of Xoo isolate liquid, holding the petri dish to a bunsen fire, and spraying Xoo isolates liquid. into a petri dish containing PSA media + rhizome extract, the dispersing tool used is drigalski. The results of daily observations of rhizome extract antagonist testing on Xoo growth showed that the treatment of betel leaf extract with a concentration of 10%, 15%, and 25% had a high bacterial inhibitory value compared to other treatments with 100% inhibition, whereas in the control treatment (only PSA media) shows that it does not have bacterial inhibition, and the galangal rhizome extract treatment has the highest inhibitory power when compared to other treatments on 100 μL of Xoo bacterial suppression.
DETEKSI BAKTERI PATOGEN TERBAWA BENIH KEDELAI DENGAN METODE LIQUID ASSAY Qonitah Fauziyah; Evan Purnama Ramdan; Amyarsi Mustika Yukti
JURNAL AGRONIDA Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Agronida
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jag.v8i1.4837

Abstract

Kedelai merupakan  salah satu komoditas pangan penting, sehingga perlu ditingkatkan produksinya. Diantara  upaya untuk meningkatkan produksi kedelai adalah melalui penggunaan benih bermutu,  tetapi keberadaan patogen tular benih sering menurunkan mutu benih. Patogen terbawa benih kedelai yang jarang dilaporkan antara lain adalah bakteri patogen, sehingga perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri terbawa benih kedelai secara morfologi dan fisiologi dengan metode liquid assay. Benih kedelai yang digunakan pada penelitian  adalah varietas Anjasmoro, Detam 4, dan Dering 1. Sebanyak 1000 butir benih dari masing-masing varietas dicuci dengan NaOCl 1% dan dibilas aquades steril. Masing-masing benih ditambah aquades steril dan dihancurkan menggunakan grinder. Ekstrak benih yang diperoleh diencerkan secara berseri dan dituang pada media Nutrient Agar. Koloni yang tumbuh dikelompokkan berdasarkan warna dan dihitung jumlah koloninya. Setiap koloni bakteri dimurnikan pada media selektif King’s B dan Yeast Dextrose Calcium Agar (YDCA). Karakterisasi fisiologi meliputi uji reaksi gram, uji katalase, uji fluoresen, uji oksidase, uji hidrolisis pati, dan uji aktivitas arginin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih kedelai varietas Anjasmoro memiliki jumlah populasi bakteri yang lebih banyak dibandingkan varietas lain. Bakteri yang berhasil diidentifikasi dari ketiga varietas benih adalah Pseudomonas sp., Pseudomonas glumae, dan Xanthomonas sp.
The Ability of Several Biological Agents to Induce Resistance of Rice from Pyricularia oryzae Attacks In Vitro and In Vivo Shyntiya Ayu Lestari; Evan Purnama Ramdan; Risnawati Risnawati; Edi Minjai Pribadi
Jurnal Proteksi Tanaman Vol 6 No 1 (2022): June 2022
Publisher : Plant Protection Departement, Faculty of Agriculture, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpt.6.1.1-12.2022

Abstract

Rice (Oryza sativa Linnaeus) is the main food crop that is needed daily for the majority of Indonesian people. One of the diseases that increase rice production is the attack of pests and other diseases caused by Pyricularia oryzae. Biological agents are an alternative to control this disease. Therefore, the aim of this study was to determine the effectiveness of the induction of rice plant resistance using several biological agents against blast disease. The study was carried out in 2 stages, the first in vivo using a Randomized Block Design consisting of 4 biological agent treatments, namely Trichoderma sp., Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens and sterile Aquades (control) which was repeated 6 times with each replication consisted of 3 plant samples so that the total number of samples observed was 72 plant samples. The second stage was carried out in vitro by inoculating P. oryzae on 3 pieces of rice plant leaves as a result of in vivo experiments. The design used was a completely randomized design with 4 agent treatments which were repeated 6 times. The results showed that the induction of rice plant resistance with P. fluorescens was able to reduce the severity of disease caused by P. oryzae attack (72.22%), with a decrease in efficacy of 25.48%, and the lowest AUDPC (691.66). In general, the resistance induction did not affect rice growth, but Trichoderma sp and P. fluorescens were able to increase the grain weight produced (3.11 and 2.80 g per plant, respectively).
Kemampuan Kolonisasi Cendawan Endofit dan Peningkatan Pertumbuhan Bibit Cabai Evan Purnama Ramdan; Efi Toding Tondok; Suryo Wiyono; Sri Hendrastuti Hidayat; Widodo Widodo
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 2 (2021): Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.798 KB) | DOI: 10.30595/pspfs.v2i.175

Abstract

Endophytic fungi are fungi that live in healthy plant tissues without causing disease symptoms. Endophytic fungi in chili have been tested as both biocontrol agents and growth promoters, but their colonization has not been reported. Therefore, this study aimed to determine the level of colonization of endophytic fungi and its effect on the growth of chili seedlings. A total of 8 endophytic fungi were prepared at a density of 2.8 × 106 CFU mL-1. Then the endophytic fungus was inoculated 2 times, first by soaking the seeds, and secondly by watering the endophytic fungus suspension on chili seedlings aged 3 weeks after sowing. Endophytic fungi were re-isolated on chili seedlings that were 4 weeks old after sowing on the roots and stems to determine their colonization ability. Chili seeds were then maintained for up to 4 weeks after transplanting to observe their growth. The results showed that the endophytic fungal colonization ranged from 26-60% on the chili root, while at the base of the stem it was 20-40% with a different pattern of colonization distribution. In addition, endophytic fungus colonization was also able to increase the shoot height and root length of chili seedlings.
PERANAN SUHU DAN KELEMBABAN SELAMA PENYIMPANAN BENIH KEDELAI TERHADAP DAYA KECAMBAH DAN INFEKSI PATOGEN TULAR BENIH Evan Purnama Ramdan; Putri Irene Kanny; Edi Minaji Pribadi; Budiman Budiman
Jurnal Agrotek Tropika Vol 10, No 3 (2022): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 10, AGUSTUS 2022
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v10i3.5136

Abstract

Kerusakan benih selama penyimpanan dapat disebabkan oleh infeksi patogen tular benih. Akibatnya dapat terjadi penurunan daya kecambah maupun kematian bibit. Suhu dan kelembaban merupakan salah satu faktor penyebab kemunduran fisiologi benih selama penyimpanan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh suhu dan kelembaban selama penyimpanan terhadap daya kecambah dan cendawan patogen yang berasosiasi dengan benih kedelai. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Ranncangan Acak Lengkap yang terdiri dari 3 perlakuan, yaitu suhu dan kelembaban ruang (kontrol), suhu rendah, dan kelembaban rendah. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali.  Benih kedelai disiapkan dengan membungkus 10 butir benih dengan kain kasa sejumlah perlakuan dan ulangan. Benih yang telah dibungkus kasa kemudian disimpan pada suhu dan kelembaban ruang, pada suhu dingin 4oC di refrigerator dan kelembaban rendah (30%) pada desikator yang ditambah silica gel. Setelah 3 minggu penyimpanan, benih kedelai ditumbuhkan dengan metode blotter test. Pada 7 hari setelah tanam, benih yang berkecambah dihitung daya kecambah dan daya infeksi cendawan patogen. Data yang diperoleh kemudian dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Tukey sebagai pada taraf5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suhu dan kelembaban dapat menjaga mutu benih dengan daya kecambah 96.67-100%. Perlakuan suhu dingin dan kelembaban rendah juga dapat menghindarkan benih kedelai dari infeksi Cladosporium sp. dan Rhizopus sp.
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN BAWANG MERAH (Allium cepa L) PADA KOMBINASI MEDIA TANAM YANG BERBEDA Ratih Kurniasih; Adinda Nurul Huda Manurung; Evan Purnama Ramdan; Paranita Asnur
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Pertanian Presisi
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2022.v6i2.6885

Abstract

Bawang merah merupakan komoditi penting Indonesia yang membutuhkan media yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan umbi bawang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pertumbuhan dan produksi bawang merah pada berbagai kombinasi media yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2018 di rumah kaca kampus F6, Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok dengan perlakuan kombinasi media tanam yang terdiri dari 6 taraf perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuan merupakan kombinasi media tanam dengan perbandingan volume, yaitu: P0 = tanah; P1 = tanah: arang sekam: cocopeat (2:1:1); P2 = tanah: cocopeat: pupuk kandang sapi (2:1:1); P3          = tanah: arang sekam: pupuk kandang sapi (2:1:1); P4 = tanah: cocopeat: pupuk kandang kambing (2:1:1); dan P5 = tanah: Arang Sekam: pupuk kandang kambing (2:1:1). Kombinasi media tanam berpengaruh nyata pada tinggi tanaman bawang merah umur 6, 8 dan 10 MST, jumlah daun umur 4, 6, 8 dan 10 MST, bobot basah tanaman dan bobot kering umbi. Perlakuan kombinasi media terbaik adalah P3 (tanah: arang sekam: pupuk kandang sapi (2:1:1), yang menghasilkan produksi bobot kering umbi terbaik.
KISARAN INANG ISOLAT Colletotrichum gloeosporiodes ASAL MANGGA PADA BEBERAPA PASCAPANEN BUAH Evan Purnama Ramdan; Inti Mulyo Arti; Ummu Kalsum; Putri Irene Kanny
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Pertanian Presisi
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2022.v6i2.6778

Abstract

Colletotrichum gloesporiodes is one of the species of Colletotrichum that causes anthracnose on various fruits both in the field and postharvest. C. gloesporiodes is a cosmopolitan pathogen so it is important to know which fruits can be infected as a basis for prevention. This study aimed to determine the host range and virulence level of C. gloesporiodes in several postharvest fruits. The research was conducted at the Agrotechnology Intermediate Laboratory, Gunadarma University from March 2022 to April 2022. This study used a completely randomized design consisting of 4 types of fruit (mango, chili, papaya, and tomato) as treatment. Each treatment consisted of 4 units and then repeated 3 times so that there were a total of 48 experimental units. C. gloesporiodes isolate was obtained from mango fruit with anthracnose symptoms. The isolates obtained were inoculated to tomatoes, chilies, papayas, and mangoes as controls. Anthracnose symptoms and lesin diameter were observed at 7 days after inoculation. The diameter of the lesin was measured to determine the level of virulence. The results showed that C. gloesporiodes was able to colonize and infect chilies, papayas, and mangoes as hosts, but there was no inoculated to tomatoes. The ability to colonize and infect is indicated by symptoms in the form of yellow to black spots, sunken, and watery. The virulence category showed different levels in each fruit with a range from very low to moderate. The conclusions obtained from this study were that C. gloesporiodes was able to infect chilies and papayas with different levels of virulence.
Suppression of Xanthomonas oryzae pv. oryzae infection in rice seeds: investigating the optimal temperature and packaging conditions for enhanced pathogen control and seed quality Nikko; Evan Purnama Ramdan; Risnawati; Herik Sugeru
Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 20 No. 2 (2023): Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/jip.v20i2.13205

Abstract

The pathogen Xanthomonas oryzae pv.oryzae (Xoo) is responsible for rice bacterial leaf blight (BLB), a disease that can significantly reduce rice yield by 60-80%. Xoo can also be transmitted through seeds, making it a seed-borne pathogen. Therefore, it is crucial for farmers to consider environmental factors when storing seeds. This research aims to determine the optimal temperature and packaging for storing rice seeds to prevent Xoo infection. The study employed a split-plot design, where the main plot consisted of two temperature treatments: low (4 ᵒC ± 2 ᵒC) and room temperature (28 ᵒC ± 3 ᵒC). The subplots focused on three packaging types: no packaging as a control, aluminum foil, and polyethylene plastic, resulting in a total of six treatment combinations. Seed pathology testing was conducted using the liquid assay method, while physiological testing utilized the growing on test method. The results revealed that plastic packaging at room temperature provided the most effective treatment for suppressing Xoo, exhibiting the lowest infectivity, number of colonies, and strength vigor index. Conversely, room temperature without packaging demonstrated the highest physiological quality in terms of seed germination and length. However, the temperature and packaging conditions are optimal for the growth of paddy seeds, i.e., at room temperature without packaging.