Articles
Pendidikan Perempuan di Pondok Pesantren
Muafiah, Evi
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7, No 1 (2013): Pendidikan Islam Unggul
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2013.7.1.545
This article attempts to show women's education reality in pesantren, par-ticularly pesantren that administers the two institutions at the same time, the education for men and for women. This is certainly different from those car-ry out the education specific for women. Indonesia has started to open edu-cational opportunities for women at the time of R.A. Kartini, in which the previous women education was limited by the culture. The spirit to obtain education that equal with men was stated in her letters. Kartini had inspired some Indonesian women to get education as men. Later, some women who pioneered education for women appeared such as Rahmah el-Yunusiyah, Rangkayo Rasuna Said, Dewi Sartika etc. Each of them established a special school for girls with different studies taught.AbstrakTulisan ini berupaya menunjukkan beberapa realitas pendidikan perempuan di pesantren, utamanya pesantren yang mengelola dua lembaga sekaligus, yaitu pendidikan untuk laki-laki dan pendidikan untuk perempuan. Hal ini tentunya berbeda dengan pendidikan yang dilakukan di lembaga pendidikan yang memang didirikan khusus untuk perempuan. Indonesia dapat dikatakan telah mulai membuka peluang pendidikan bagi perempuan pada masa RA Kartini, dimana sebelumnya pendidikan bagi perempuan sangat dibatasi oleh budaya yang terjadi saat itu. Semangat untuk memperoleh pendidikan yang setara dengan para laki-laki tertuang dalam surat-surat-nya. Kartini telah memberikan inspirasi bagi beberapa perempuan di Indonesia untuk men-dapatkan pendidikan sebagaimana laki-laki. Hingga muncul pada masa-masa setelahnya beberapa perempuan yang mempelopori pendidikan bagi perem-puan itu sendiri. Sebut saja misalnya: Rahmah el-Yunusiyah, Rangkayo Rasuna Said, Dewi Sartika dan lain sebagainya, dimana masing-masing dari mereka mendirikan sekolah khusus bagi perempuan dengan berbagai kajian yang berbeda yang diajarkan di sekolah tersebut.
PAIKEM through Live Music and Gathering to Improve Student Achievement in Doremi Home Music Course Ponorogo
Evi Muafiah;
Vivi V. W. Damayanti;
Puji Ariyanti
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 13, No 3 (2021): AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (827.237 KB)
|
DOI: 10.35445/alishlah.v13i3.1117
Learning using the active, innovative, creative, effective, and fun participation methods is a learning process by creating an atmosphere in such a way that students actively participate in learning process. The methods facilitated students in building their process of behavior change towards a better direction while accommodating students' thoughts, ideas, creativity to achieve goals or at least achieve basic competencies set by the teacher by creating a pleasant of learning atmosphere. This method also applies to music education. Music education is a determining factor in shaping a child's personality. Doremi Home Music Course is a course and training institution engaged in music training. This research and development showed that using the learning model with life music and gathering can improve student achievement in Doremi Home Music Course. The design of the learning model for live music and gathering with the application of the active, innovative, creative, effective, and fun participation method has a high degree of permanence.
Pendidikan Perempuan di Pondok Pesantren
Evi Muafiah
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7, No 1 (2013): Pendidikan Islam Unggul
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2013.7.1.545
This article attempts to show women's education reality in pesantren, par-ticularly pesantren that administers the two institutions at the same time, the education for men and for women. This is certainly different from those car-ry out the education specific for women. Indonesia has started to open edu-cational opportunities for women at the time of R.A. Kartini, in which the previous women education was limited by the culture. The spirit to obtain education that equal with men was stated in her letters. Kartini had inspired some Indonesian women to get education as men. Later, some women who pioneered education for women appeared such as Rahmah el-Yunusiyah, Rangkayo Rasuna Said, Dewi Sartika etc. Each of them established a special school for girls with different studies taught.AbstrakTulisan ini berupaya menunjukkan beberapa realitas pendidikan perempuan di pesantren, utamanya pesantren yang mengelola dua lembaga sekaligus, yaitu pendidikan untuk laki-laki dan pendidikan untuk perempuan. Hal ini tentunya berbeda dengan pendidikan yang dilakukan di lembaga pendidikan yang memang didirikan khusus untuk perempuan. Indonesia dapat dikatakan telah mulai membuka peluang pendidikan bagi perempuan pada masa RA Kartini, dimana sebelumnya pendidikan bagi perempuan sangat dibatasi oleh budaya yang terjadi saat itu. Semangat untuk memperoleh pendidikan yang setara dengan para laki-laki tertuang dalam surat-surat-nya. Kartini telah memberikan inspirasi bagi beberapa perempuan di Indonesia untuk men-dapatkan pendidikan sebagaimana laki-laki. Hingga muncul pada masa-masa setelahnya beberapa perempuan yang mempelopori pendidikan bagi perem-puan itu sendiri. Sebut saja misalnya: Rahmah el-Yunusiyah, Rangkayo Rasuna Said, Dewi Sartika dan lain sebagainya, dimana masing-masing dari mereka mendirikan sekolah khusus bagi perempuan dengan berbagai kajian yang berbeda yang diajarkan di sekolah tersebut.
PENGASUHAN ANAK USIA DINI BERPERSPEKTIF GENDER DALAM HUBUNGANNYA TERHADAP PEMILIHAN PERMAINAN DAN AKTIVITAS KEAGAMAAN UNTUK ANAK
Evi Muafiah;
Wirawan Fadly
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 12, No 1 (2019): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v12i1.3188
Penelitian ini bertujuan mengetahui pola pengasuhan yang terjadi di lembaga Penelitian ini bertujuan mengetahui pola pengasuhan yang terjadi di lembaga PAUD maupun dalam lingkungan keluarga serta hubungannya terhadap pemilihan permainan dan aktivitas keagamaan AUD. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed methods dengan desain concurrent embedded. Penelitian dilaksanakan di eks-karesidenan Madiun dengan pemilihan sampel melalui purposive sampling pada data yang diperoleh menggunakan metode kualitatif dan random sampling pada data kuantitatif. Data tersebut dikumpulkan menggunakan angket, observasi, dan wawancara yang kemudian dianalisis berdasarkan karakteristiknya melalui deskriptif kualitatif dan statistik inferensial. Hasil penelitian menunjukkan Pertama masyarakat telah responsif gender pada pengasuhan AUD dan cenderung bebas pada aspek stereotipe, subordinasi, dan marginalisasi, Kedua, pemahaman responsif gender dalam pemilihan pemainan yang dimiliki guru lebih baik daripada orang tua/pengasuh, sedangkan pemilihan aktivitas keagamaan tidak ada perbedaan, dan Ketiga adanya hubungan signifikan antara pola asuh dalam lingkungan keluarga dan lembaga PAUD terhadap pemilihan permainan, namun berbeda pada pemilihan aktivitas keagamaannya dimana hubungan signifikan hanya pada lingkungan keluarga.Kata Kunci: Pengasuhan Anak, Berperspektif Gender, Pemilihan Permainan, Aktivitas Keagamaan
Strategi Pembelajaran Multiple Intelligences di TK/RA Ponoroho
Evi Muafiah
ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal Vol 4, No 1 (2016): ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal
Publisher : PIAUD IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/thufula.v4i1.1977
Usia dini merupakan masa peletak dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Situasi dan kondisi yang kondusif sangat dibutuhkan anak usia dini. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran Multiple Intelligences yang mengakui bahwa setiap anak mempunyai kecerdasan yang berbeda. Penelitian ini mengungkapkan tentang (1) penerapan strategi pembelajaran Multiple Intelligences di TK/RA Ponorogo, (2) kendala yang dihadapi saat menerapkan strategi tersebut dan (3) solusi yang digunakan untuk mengatasi kendala yang mereka hadapi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sumber data diperoleh dari para guru TK/RA melalui wawancara mendalam, observasi partisipan dan dokumentasi. Analisis dilakukan melalui reduksi, displai, dan verifikasi data. Hasil penelitian: (1) Strategi pembelajaran Multiple Intelligences dilaksanakan melalui model semi sentra dan kelompok murni. (2) Kendala yang dihadapi adalah ruangan yang kurang banyak, jumlah guru yang tidak seimbang dan guru yang kurang kreatif. (3) Solusinya adalah dengan menyesuaikan tema yang sedang dilaksanakan melalui model pembelajaran non sentra.
Religion and Economy: How the Act of Rational Economy Dominates Muslim Entrepreneurs
Dede Nurohman;
Evi Muafiah
INFERENSI: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18326/infsl3.v15i1.71-90
This research aimed to explore the motives that encouraged Muslim entrepreneurs to make business decisions in running businesses, and also to examined the effects of their religions as well as the business logics they used toward their trading behaviors. The subjects of this research were the Muslim entrepreneurs running the business of apparel convection in Botoran, Tulungagung. This research used qualitative method with phenomenological approach. The data extracting technique was conducted by documentation, observation, and interviews. The results showed that Muslim traders based their business behaviors on the consideration of rational choices. Such behaviors were manifested in the forms of: choosing to partition their houses as the place of production (home factory); choosing to procure capital through the Chinese; choosing temporary sewing workers; choosing to replace the procurement of computer embroidery machines; dun-dunan rego (decreasing the costs); nembak (lighting); and reluctant to establish a cooperative to accommodate them. Meanwhile, religion, morals, and other values are not considered by them in running their business. The implication of the findings is that religious and economic motives always appeared in a person's business processes. The dominance of one of them was determined by the environment and experience. Sharia financial institutions in the vicinity, such as Sharia Banks and BMT (Baitul Mal wa Tamwil, a sharia-based microfinance institution or cooperative), as well as Islamic organizations, with the right kinship approach, were required to be present to pay attention to business development and community empowerment.
Transformation of Women Politicians in Parliament
Evi Muafiah
AL-TAHRIR Vol 19, No 2 (2019): Women transformation in Islamic Societies
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/altahrir.v19i2.1737
Abstract: Women’s representation in politics in Indonesia has been secured despite inequal percentage compared to the men. For instance, the results of the 2019 legislative elections for women only accounted for 20.5% or 118 seats of the 560 existing seats. On the other hand, it seems that the performance of women in parliament is also questionable. Thus, this research was conducted to find out and understand how was the performance of women politicians, their contribution to women empowerment and the obstacles they faced. This descriptive-explorative qualitative research was conducted in Ponorogo as a district in the former Residency of Madiun which always gets the highest number of women politicians in each elections until 2019. The research subjects were selected using purposive sampling toward women legislature members of DPRD Ponorogo. Meanwhile, the data was obtained through interviews, observation, and documentation. Furthermore, for the data analysis the author employed Harvard gender analysis and used data triangulation as one of the data verification techniques. The results of this study concluded that the performance of women legislative members was less satisfactory. This can be seen from 3 aspects; responsiveness, accountability and effectiveness. In addition, some obstacles they faced are (a) the strong patriarchal culture in the legislative environment, (b) weak coordination among women legislative members, (c) patterns of relationships that are built on a transactional basis, and (d) politically charged programs.
INVESTIGASI EMPIRIS ATAS PRESTASI BELAJAR SISWI MADRASAH ALIYAH MODEL SINGLE SEX EDUCATION DAN CO-EDUCATION DI KABUPATEN PONOROGO
Evi Muafiah
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : IAIN PONOROGO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/kodifikasia.v7i1.777
Proses pendidikan Islam di Indonesia secara umum menganut SingleSex Education (SSE) maupun dicampur atau CoEducation (CE). Berdirinya pembelajaran model SSE tersebut didasarkan pada meng akarnya pemahaman terhadap karyakarya fiqih Abad Per tengahan yang banyak mengharamkan pertemuan antara lakilaki dan perempuan disatu tempat, bahkan mengharamkan munculnya perempuan diranah publik. Jika harus berada di wilayah publik, maka harus dalam komunitas perempuan saja dan jika laki-laki dan perempuan harus berada pada satu tempat, maka posisi harus dipisahkan dengan tirai pembatas atau biasanya lakilaki di depan dan perempuan di belakang. Terkait dengan pemisahan tersebut, tentunya, implikasi nya sangat luas. Penelitian ini mengambil sekolah agama dalam bentuk SSE, maupun CE yang masingmasing mempunyai kelebihan dan ke kurangan. Lembaga pengelola pendidikan, yayasan, pihak swasta mau pun pesantren dituntut untuk membuat terobosan yang dalam pembelajarannya, tanpa harus memposisikan dirinya sebagai model SSE murni maupun CE murni yang rigid. Lokasi penelitian ini MAN 2 Ponorogo, MA AlMawaddah Coper Ponorogo dan MA Darul Huda Mayak Ponorogo. Dari hasil penelitian terungkap bahwa ter dapat perbedaan dan kekhasan di masing-masing lembaga tersebut. Dalam hal inilah posisi peserta didik perempuan menjadi satu pijakan penting dalam proses pembelajaran tersebut, mengingat perempuan dengan ketekunannya mempunyai potensi besar dalam berkiprah di wilayah publik, untuk kemudian bersamasama dengan laki-laki bersinergi dan bekerja sama, berbagi secara adil dalam lapangan-lapangan yang sebelumnya tidak banyak digarap perempuan.
KYAI, PENGANTIN DAN NETRALITAS MASYARAKAT: Studi Analisis Gender terhadap Ceramah Agama pada Acara Resepsi Pernikahan di Ponorogo
Evi Muafiah
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : IAIN PONOROGO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/kodifikasia.v4i1.747
Abstarks: Resepsi pernikahan merupakan kegiatan penting dalam masyarakat dan biasanya disampakan ceramah agama oleh seorang tokoh agama, kyai. Penceramah menjelaskan nilai-nilai dan prinsip-prinsip ajaran Islam tentang pembentukan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Melalui analisis bahasa ditemukan beberapa ungkapan dan pernyataan yang bernuansa bias gender atau tidak sensitif gender. Ungkapan dan pernyataan tersebut diungkap dengan melalui 3 cara, yaitu diungkapkan dengan melalui kata atau kalimat yang lugas, melalui bahasa kiasan dan melalui konteksnya. Sedangkan pemetaan ceramah kyai melalui indikator-indikator gender dapat ditemukan bahwa pada indikator stereotype, semua kyai secara eksplisit bernuansa bias gender kecuali kyai MU. Pada indikator subordinasi, semua kyai bias gender. Sementara pada indikator marginalisasi dan double/multy burden hanya kyai PS saja mengutarakan secara jelas tentang bias gender. Sementara yang lainnya tidak menyentuh masalah gender ini atau tidak memberi berkomentar.
Ajaran Mendidik Anak Tanpa Kekerasan Dalam Islam
Evi Muafiah Muafiah
Jurnal Pendidikan AURA (Anak Usia Raudhatul Atfhal) Vol. 1 No. 2 (2020): Jurnal Pendidikan AURA (Anak Usia Raudhatul Atfhal)
Publisher : Fakultas Tarbiayh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37216/aura.v1i2.442
Islam diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Saw sebagai rahmatan li al-‘alamin,yang diantaranya mengajarkan kita untuk selalu saling mengasihi dan menyayangi sesamamakhluk Allah, baik yang hidup maupun benda mati. Anak adalah amanah Allah yang hadirmenyertai kasih sayang antara ibu dan bapaknya, maka sudah sewajarnya jika kemudian orangtua mengasuhnya dalam suasan penuh kasih dan sayang. Suasana tersebut tentunya jangansampai dicampuri dengan kekerasan baik verbal maupun fisik, karena kedua hal tersebut sangatbertentangan. Islam mengajarkan kepada kita bagaimana mendidik anak tanpa kekerasan.Kekerasan hanya boleh dilakukan sebagai alternatif terakhir dan itupun dilakukan untukmembina bukan menyakiti. Rasulullah Saw merupakan contoh bagaimana mendidik anakdengan baik. Bahkan saat shalatpun beliau dengan sabar mengasuh anak-anak denganmembiarkan punggungnya dinaiki anak-anak saat beliau sujud.