Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH KADAR PEREKAT TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL BAMBU I M Sulastiningsih; Novitasari Novitasari; Agus Turoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.1.1-8

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar perekat terhadap sifat papan partikel bambu. Bambu yang digunakan adalah bambu betung (Dendrocalamus asper), sedangkan perekatnya adalah urea formaldehida (UF) cair. Bentuk partikel bambu yang digunakan adalah untai. Papan partikel bambu sekala laboratorium dibuat dengan target kerapatan 0,70 g/cm3 dengan kadar perekat bervariasi yaitu 8, 9, 10, 11 dan 12% dari berat kering partikel bambu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis papan partikel bambu sangat dipengaruhi oleh kadar perekat yang digunakan. Semakin tinggi kadar perekat semakin baik sifat papan partikel bambu yang dihasilkan. Penggunaan kadar perekat minimum 11% dari berat kering partikel bambu menghasilkan papan partikel bambu yang cukup kuat dan stabil serta memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia.
PENGARUH BAHAN PENGAWETAN PHOXIM TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL KAYU KARET (hevea brasiliensis) (effect of phoxim preservation on the properties of rubber wood particleboard (hevea brasiliensis)) Rodjak Memed; I M Sulastiningsih; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 8 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1993.11.8.329-332

Abstract

The objectives of the study was to determine the effect of phoxim on the properties of rubber wood particleboard (Hevea brasiliensis ) phoxim concentration used were 0.05,1, 1.5 and 2 % based on particle dry weight.The result showed, that the addition of phoxim preservative to particleboard reduced the values of modulus of rupture, modulus of elasticity, internal bond strength and shear strength, but increased the thicknees swelling and water absorption of particleboard. However, the phyrical. and mechanical properties of particleboard treated With phoxim preservative up to 2 % met the FAO standard for medium density particleboard and met JIS for type 150 particleboard. Compared with Indonesian standard all particleboards produced met the standard requirements except for internal bond strength.
SIFAT PAPAN WOL KAYU DARI KAYU SENGON DAN KAYU KARET PADA BEBERAPA MACAM UMUR l M Sulastiningsih; Adi Santoso; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 3 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1995.13.3.101-109

Abstract

The  results  of  laboratory  test   of  wood-wool  board properties  made from  rubberwood (Hevea   brasiliensis)    and sengon  (Paraserianthes   falcataria)    are  reported  in this paper.   The wood used were obtained feom  different age groups i.e. 10  and 20 years for rubberwood and 5,  10  and  15  years for  sengon.  The properties  tested  were  board density,  moisture   content, thickness  reduction  due  to compression and bending strength.The physical  and mechanical properties  of sengon  wood-wool board which the  wood-wool was soaked  in  cold  water for  24 hours prior  to  board fabrication  were improved.  However, that treatment  did not improve the properties  of rubberwood wood-wool board.   The properties of wood-wool board made from different age groups of tree seem to be similar.
BEBERAPA SIFAT BAMBU LAMINA YANG TERBUAT DARI TIGA JENIS BAMBU l. M. Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.3.277-287

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemungkinan penggunaan bambu lamina sebagai bahan substitusi kayu, khususnya mengetahui pengaruh jenis bambu terhadap sifat bambu lamina yang direkat dengan urea formaldehida. Bambu yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarandinacea), bambu mayan (Gigantochloa robusta) dan bambu tali (Gigantochloa apus) yang berasal dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sifat bambu lamina dipengaruhi oleh jenis bambu yang digunakan kecuali kadar air, keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan rekat. Kerapatan bambu lamina bervariasi antara 0,62 - 0,79 g/ cm'. Bambu lamina dari bambu tali merniliki nilai keteguhan lentur tertinggi sedangkan bambu lamina dari bambu mayan memiliki keteguhan lentur terenclah. Keteguhan rekat bambu lamina yang diuji dengan cara geser tekan bervariasi antara 67,03 - 86,19 kg/ cm2 dan 54,43 - 62,94 kg/ cm berturut-turut untuk uji kering dan uji basah. Sifat perekatan bambu lamina dari bambu andong, mayan dan tali cukup baik. Bambu lamina (3lapis) masing-masing dari bambu andong, mayan dan tali setara dengan kayu kelas kuat II. Pembuatan bambu lamina secara teknis dapat dilakukan dan produk tersebut dapat digunakan sebagai bahan substitusi kayu.
SIFAT-SIFAT PAPAN PARTIKEL KAYU KELAPA Rozak Memed; Paribotro Sutigno; I M Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 2 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9951.723 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1984.1.2.7-10

Abstract

This report  deals with the  laboratory  tests  on  the  properties of  particle board made  from  coconut  wood  and from  coconut wood with  hardwood bonded by urea formaldehyde. The  tests include board density, moisture  content, water absorption, thickness swelling and bending  strength.The  result  reveals that physical and  mechanical  properties of  particle boards  made  from  coconut wood  conform with FAO Standard.  The  properties  of  particle boards  made  from   coconut  wood mixture  with  hardwood in  the proportion of  1 : 1 which conform the  FAO  Standard are limited to density and water absorption. 
KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS PEMANFAATAN KAYU PERUPUK I M Sulastiningsih; Setiasih Irawanti; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 3 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1996.14.3.85-99

Abstract

Formerly perupuk wood was not recognized as good raw material by wood working manufacturers. Because of the increasing scarcity of ramin wood, the perupuk   wood had gained the benefit of the situation as indicated by increasing demand and price of perupuk   wood.The technical and economic studies on perupuk   wood (Lophopetalum.   spp)  utilization  wascarried out at one wood working mill in Gresik, East Java in 1994.   The objectives of the study were to identify   kind  of products  resulted from perupuk    utilization,  recovery level of each product, productivity and efficiency ofperupuk wood working machineries,  and its value added.The study showed that kind of products  resulted from perupuk    utilization were moulding,smooth-four-side (S4S), finger jointed  stick, solid jointed  board and finger jointed  board. The average  recovery  of perupuk    utilization  was  55%  and  the highest  recovery  (65.60%) was obtained by smooth-four-side product.  The double planer machine had the highest productivity because all products  used the machine to get the standard dimensions. The efficiency of some perupuk    wood  working  machineries  still  low.   The  value  added  of perupuk    wood  working products  were 90%,  55%,   52%,  37% and  24% for  smooth-four-side,  finger jointed  board, moulding,  solid jointed board and fingerjointed stick respectively.Key words :   perupuk,   wood working,  recovery and value  added.
PENGARUH P'ERMETRIN TERHADAP SIFAT FISIS, MEKANIS DAN KEAWETAN PAPAN PARTIKEL I M Sulastiningsih; Jasni Jasni; M I lskandar
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 4 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.16.4.219-229

Abstract

Industri papan partikel di Indonesia pada umumnya menggunakan jenis kayu dengan kelas awet rendah sebagai bahan bakunya sehingga mudah diserang oleh organisme perusak kayu misalnya rayap. Oleh karena itu untuk meningkatkan keawetan papan partikel tersebut perlu dilakukan pengawetan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet permetrin terhadap sifat fisis, mekanis dan keawetan papan pertikel kayu karet dengan menggunakan perekat urea formaldehida cair. Kandungan bahan aktif permetrin dalam larutan bahan pengawet yang digunakan adalah 36,8% dan kodar bahan pengawet yang ditambahkan dalam perekat urea formaldehida adalah 0%; 0,25%; 0,50%; 0,75% dan 1% dan berat perekat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pengawet permetrin dalam perekat urea formaldehida pada pembuatan papan partikel kayu karet hanya berpengaruh pada sifat pengembangan tebal setelah direndam air dingin selama 24 jam, modulus patah dan kuat pegang sekrup tegak lurus permukaan papan partikel. Secara keseluruhan penambahan bahan pengawet permetrin pada perekat urea formaldehida dalam pembuatan papan partikel dapat meningkatkan kestabilan dimensi dan sifat mekanis papan partikel. Pemberian bahan pengawet permetrin dengan kadar 0,25% dalam perekat urea formaldehida efektif untuk menahan serangan rayap kayu kering pada papan partikel.
PENGARUH LAPISAN KAYU TERHADAP SIFAT BAMBU LAMINA I M Sulastiningsih; Nurwati Nurwati; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.1.15-22

Abstract

Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumber daya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan pengganti kayu untuk bahan bangunan. Masalah pemanfaatan bambu sebagai bahan bangunan adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya. Pembuatan produk bambu lamina merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut.Penelitian pengaruh lapisan kayu terhadap sifat bambu lamina (3 lapis) telah dilakukan di laboratorium produk majemuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan, Bogor. Bambu yang digunakan adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea), sedangkan perekatnya adalah tanin resorsinol formaldehida (TRF). Kayu yang digunakan adalah mangium (Acacia mangium) dan tusam (Pinus merkusii). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan kayu sangat berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis bambu lamina. Bambu lamina yang semua lapisannya terdiri dari bambu, kerapatannya lebih tinggi (0,8 g/cm3) dibanding bambu lamina yang lapisan tengahnya dari kayu mangium (0,7 g/cm3) dan tusam (0,64 g/cm3). Bambu lamina yang lapisan tengahnya kayu tusam mempunyai sifat kestabilan dimensi yang paling rendah dibanding bambu lamina lainnya. Sifat mekanis bambu lamina menurun dengan adanya lapisan kayu dalam komposisi lapisan penyusunnya.
PENGARUH LAMA PERENDAMAN PARTIKEL, MACAM KATALIS DAN KADAR SEMEN TERHADAP SIFAT PAPAN SEMEN Ignasia Maria Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6516.495 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.3.203-213

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh lama perendaman partikel, macam katalis dan kadar semen terhadap sifat papan semen. Papan semen skala laboratorium dibuat dengan menggunakan partikel kayu manii (Maesopsis eminii) yang sudah direndam dalam air dingin selama 24 jam dan 48 jam. Perbandingan antara partikel kayu : semen : air dua macam yaitu 1 : 2,4 : 2 (kadar semen 240%) dan 1: 2,5 : 2 (kadar semen 250%). Katalis yang digunakan tiga macam yaitu kalsium klorida (CaCl,), magnesium klorida (MgCl,). dan aluminium sulfat (Al2 (SO4)3) dengan tingkat kadar 5% dari berat semen. Di samping itu dibuat juga papan semen tanpa menggunakan katalis sebagai kontrol atau pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman partikel 48 jam tidak berpengaruh nyata dalam memperbaiki sifat papan semen manii dibanding lama perendaman partikel 24 jam. Sifat papan semen manii sangat dipengaruhi oleh macam katalis yang digunakan. Penggunaan katalis MgCl2 memberikan sifat kestabilan dimensi dan keteguhan lentur yang lebih baik dibanding katalis lainnya. Kadar semen sangat berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis papan semen manii. Semakin tinggi kadar semen semakin baik sifat fisis dan mekanis papan semen yang dihasilkan. Penggunaan kadar semen semen 250% dapat meningkatkan keteguhan lentur sekitar 31% disbanding kadar semen 240%. Peningkatan kadar semen menyempurnakan stabilitas dimensi sekitar 24-30% pada pengembangan tebal, sekitar 20-40% pada pengembangan linier dan sekitar 10-12% pada penyerapan air.
KUALITAS HARDBOARD DUA JENIS BAMBU DENGAN TAMBAHAN TANIN RESORSINOL FORMALDEHIDA Dian Anggraini Indrawan; Ignasia Maria Sulastiningsih; Rossi Margareth Tampubolon; Gustan Pari; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.1.29-42

Abstract

Hardboard dapat dibuat dari berbagai macam bahan serat berligno-selulosa. Di Indonesia dewasa ini ketersediaan bahan baku serat konvensional (khususnya kayu hutan alam tropis) untuk hardboard semakin terbatas dan langka, sedangkan produksi domestik hardboard belum dapat memenuhi kebutuhan yang ada. Bahan baku serat alternatif  yang potensinya berlimpah dan belum banyak dimanfaatkan perlu diperkenalkan, diantaranya bambu. Penelitian pemanfaatan bambu sebagai bahan baku pembuatan hardboard telah dilakukan dengan memanfaatkan dua jenis bambu yaitu bambu tali (Gigantochloa apus) dan bambu ampel (Bambusa vulgaris). Masing-masing jenis bambu diolah menjadi pulp dengan proses semi-kimia soda panas terbuka.  Hardboard dibuat dengan 5 proporsi campuran pulp bambu tali + bambu ampel yaitu 100%+0%, 75%+25%, 50%+50%, 25%+75%, dan 0%+100%. Tiap proporsi ditambahkan perekat tanin-esorsinol-formaldehida (TRF) sebesar 0%, 6% and 8% dari berat kering pulp. Lembaran hardboard dibentuk dengan cara basah lalu diuji sifat fisis dan mekanisnya. Hasil penelitian menunjukkan penambahan TRF hingga 8% meningkatkan sifat fisis dan mekanis hardboard. Hardboard dari serat pulp bambu ampel 100% memiliki kualitas tertinggi karena sifatnya banyak memenuhi persyaratan JIS dan ISO untuk kerapatan, modulus elastisitas lentur (MOE), modulus patah (MOR) dan keteguhan rekat internal (IB). Sementara itu, hardboard dari serat bambu tali 100% memiliki kualitas terendah. Performa hardboard dari campuran pulp bambu tali + bambu ampel pada proporsi 50%+50% dan 25%+75% memiliki tingkatan kualitas pada urutan kedua dan ketiga. Papan serat bambu tali yang berkualitas rendah diharapkan dapat diperbaiki melalui penambahan perekat TRF.