Articles
PENGARUH KADAR PEREKAT DAN CAMPURAN KULIT TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS PAPAN PARTIKEL TUSAM (Pinus merkusii)
I M Sulastiningsih;
Rozak Memed;
Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 4 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6125.755 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.1988.5.4.184-191
The laboratory test of strength properties of pine particleboard subtituted with 0, 20, 40 and 60 percent of pine bark, glued with 8, 10, and 12 percent liquid urea formaldehvde (by particle dry weight basis) is reported in this paper. Pine wood and its bark were obtained from West Java. The result shows that the substitution with bark of 20, 40, and 60 percent of pine wood particle improved water absorption and thickness- swelling properties; however, it decreased mechanical properties of particleboard. Particleboard with high bark content has lower mechanical properties than that with low bark content. The physical and mechanical properties of particleboard that is subtiuuted with 20 and 40% bark and 10 and 12% urea-formaldehyde resin meet the FAO standard for medium density particleboard, except for, modulus of rupture. If we compared with Indonesian standard, the properties that do not meet the standard are the modulus of rupture and the internal bond strength
PENGARUH JENIS KAYU DAN PERMETHRIN TERHADAP KETEGUHAN REKAT DAN KEAWETAN KAYU LAPIS*)
I M Sulastiningsih;
Jasni Jasni;
Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 2 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2000.18.2.55-67
Industri kayu lapis di Indonesia umumnya menggunakan jenis kayu yang mempunyai kelas awet rendah. Oleh karena itu untuk meningkatkan keawetan kayu lapis perlu dilakukan usaha pengawetan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis kayu dan konsentrasi bahan pengawet permethrin terhadap keteguhan rekat dan keawetan kayu lapis. Metode pengawetan yang dipakai adalah metode pelaburan bahan pengawet pada venir. Bahan pengawet yang digunakan adalah larutan yang menganduug bahan aktif permetrin 36,8%. Konsentrasi bahan pengawet yang digunakan adalah 0%; 0,10%; 0,25%; 0,50%; 0,75% dan 1,00%. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu karet dan kayu durian dengan tebal venir 1,5 mm. Kayu lapis yang dibuat berupa tripleks dengan perekat urea formaldehida. Pengujian keteguhan rekat dilakukan menurut Standar Indonesia dan Standar Jepang. Pengujian keawetan dilakukan terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light) dan rayap tanah (Coptotermes curvignatus Holmgren).Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kayu berpengaruh terhadap keteguhan rekat kayu lapis. Keteguhan rekat kayu lapis durian (16-32,91 kg/cm2) lebih tinggi daripada kayu lapis karet (12,07-27 kg/cm2). Konsentrasi bahan pengawet permethrin yang dilaburkan pada venir kayu karet dan kayu durian tidak mempengaruhi keteguhan rekat kayu lapis. NIlai keteguhan rekat kayu lapis semuanya memenuhi persyaratan Standar Indonesia dan Standar Jepang. Pelaburan bahan pengawet permethrin pada venir kayu karet dan kayu durian dengan konsentrasi 0,1% sudah cukup efektif menahan serangan rayap kayu kering maupun rayap tanah.
THE RESISTANCE OF TREATED RUBBERWOOD PARTICLEBOARD TO THE DRYWOOD TERMITE Cryptotermes cynocephalus Light.
Jasni Jasni;
I M Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2004.22.2.69-74
Papan partikel banyak digunakan sebagai bahan mebel dan dalam jumlab terbatas digunakan sebagai bahan bangunan yang tidak menyangga beban. Kelemahan papan partikel sebagai bahan mebel dan bahan bangunan tersebut adalah mudah diserang organisme perusak kayu, misalnya rayap karena bahan bakunya berasal dari kayu dengan kelas awet rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan serangan rayap pada papan partikel dengan meningkatkan ketahanannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kadar bahan pengawet alfametrin minimum yang ditambahkan dalam ramuan perekat fenol formaldehida, yang cukup eJektif untuk mencegah serangan rayap kayu kering pada papan partikel.Dalam penelitian ini papan partikel dibuat dari limbah serutan kayu karet yang dibedakan antara partikel kasar dengan partikel halus. Perekat yang digunakan adalah fenol formaldehida dengan kadar perekat 12% dari berat partikel kering. Kedalam perekat fenol formaldehida cair ditambahkan larutan bahan pengawet alfametrin dengan kadar 0%; 0,25%; 0,50%; 0, 75%; dan 1%. Kandungan bahan aktif alfametrin dalam larutan bahan pengawet yang digunakan adalah 15 git. Pengujian ketahanan papan partikel dilakukan terhadap rayap kayu kering.Di samping itu dilakukan juga pengujian ketahanan kayu karet utuh sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar alfametrin 0,50% atau lebih dari berat fenol formaldehida cair pada pembuatan papan partikel kasar maupun halus sudah cukup efektif untuk menahan serangan rayap kayu kering, mortalitas mencapai 100%, dan kelas ketahanan papan partikel meningkat dari kelas III menjadi kelas I. Papan partikel tanpa bahan pengawet (kontrol) mempunyai kelas ketahanan lebih tinggi (III) dari pada kelas ketahanan kayu karet utuh (IV).
PENGARUH JENIS BAMBU, WAKTU KEMPA DAN PERLAKUAN PENDAHULUAN BILAH BAMBU TERHADAP SIFAT PAPAN BAMBU LAMINA
I M Sulastiningsih;
Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2012.30.3.199-207
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bambu, waktu kempa dan perlakuanpendahuluan bilah bambu terhadap sifat-sifat papan bambu lamina. Jenis bambu yang digunakan adalahbambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) dan bambu mayan(Gigantochloa robusta) berumur sekitar 4 tahun yang diperoleh dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Bilah bambu dari masing-masing jenis bambu dibagi 3 kelompok untuk diberi perlakuan pendahuluan yaitu tanpa perlakuan, direndam dalam larutan boron 7% selama 2 jam dan diputihkan dengan larutan hidrogen peroksida 15%. Bambu lamina dibuat dengan menggunakan perekat urea formaldehida (UF) dan tepung terigu sebanyak 10% dari berat perekat UF ditambahkan dalam ramuan perekat. Bambu lamina dibuat dengan menggunakan proses kempa dingin dengan lama pengempaan 4 jam dan 5 jam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kerapatan, kadar air dan pengembangan tebal bambu lamina berturut-turut adalah 0,76 g/cm , 9,70% dan 3,97%. Keteguhan rekat bambu lamina yang dibuat dengan perekat UF cukup baik yang ditunjukkan oleh tidak terjadinya delaminasi pada semua contoh uji delaminasi. Keteguhan rekar rata-rata (uji kering) bambu lamina yang dibuat dari bambu andong lebih tinggi (74,8 kg/cm ) daripada yang dibuat dari bambu mayan (67,9 kg/cm ). Perlakuan pendahuluan bilah berupa pengawetan dan pemutihan ternyata menurunkan kekuatan bambu lamina. Pengaruh jenis bambu terhadap beberapa sifat bambu lamina tidak nyata kecuali pada sifat keteguhan tekan. Pada umumnya bambu lamina 3 lapis baik yang dibuat dari bambu andong maupun bambu mayan setara dengan kayu kelas kuat I; kecuali yang bilahnya diputihkan setara dengan kayu kelas kuat II. Bambu lamina dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku untuk mebel, desain interior dan bahan bangunan.
SIFAT PAPAN WOL KAYU DARI 17 JENIS KAYU IRIAN JAYA
I M Sulastiningsih;
Rozak Memed;
Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 4 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1987.4.4.48-52
The result of laboratory tests on the properties of wood-woo/boards made from 17 wood species obtained from lrian Jaya are reported in this paper. The test comprised board density, moisture content, thickness reduction due to compression and bending strength.The study reveals that the average yield of wood-wool is 312 kg per cubic meter of log input. The physical and mechanical properties of wood-wool boards from five wood species mineralized with CaCl2 solution or Ca(OH)2 suspension are in compliance with the DIN 1101 standard.
SIFAT PAPAN WOL KAYU DARI 10 JENIS KAYU NUSA TENGGARA BARAT
l M Sulastiningsih;
Rodjak Memed;
Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 5 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1991.9.5.183-188
The results of laboratory test of wood-wool board properties made fram ten wood species obtained from Nusa Tenggara province are reported in this paper. The properties tested were board density, moisture content, thickness reduction due Io compression and benJing strengih.The Study revealed that the average yield of wood-wool was 423,6 kg per cubic meter of log input. The wood-wool of Anthoceplus cadamba Miq. and Anthocephallus sp. must be soaked in cold water for 24 houn prior to manufacturing of wood-wool board, whereas she other species did not require soaking. The physical and mechanical properties of wood-wool board from nine wood species mineralized with CaCl2 solution were in conformity with the DIN 1101 standard. However, only three wood species mineralized with Ca (OH)2 suspension met the standard requirement.
SIFAT PAPAN WOL KAYU DARI POHON TUSAM DISADAP DAN TIDAK DISADAP
I Sulastiningsih M Sulastiningsih;
Rozak Memed;
Paribroto Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 2 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1988.5.2.60-67
The results of a study on the properties of wood-wool board made from tapped and untapped pine (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) is reported in this paper. The wood is obtained from West Java.The result shows that hydration temperature of tapped tree is 36oC, and untapped pine is 43°C. Based on this data, wood from tapped pine tree can be classified as medium and that from untapped pine as good for wood-wool board material. In general the wood-wool board properties of both wood sources meet DIN standard. The effect of tapping, cement proportion, kind of catalyst, and interaction between cement proportion and kind of catalyst on the mechanical properties of wood-wool board are significant. Tapped pine is better than untapped pine as raw material for wood-wool board.
SIFAT PAPAN SEMEN SABUT KELAPA
Rozak Memed;
Paribotro Sutigno;
I M Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 4 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1984.1.4.24-26
The report deals with laboratory tests on the properties of cement board made from coconut husk bonded with Portland cement. The test includes board density, moisture content. thickness reduction due to and bending strength.The result reveals that the physical and mechanical properties of cement board made with Ca(OH)2 and K2SO4) Al2 (S04)3 mineralizing fluid produces better quality board compared with that using CaCl2. The physical and mechanical properties of cement boards with Ca(OH)2 and (K2SO4) Al2 (S04)3 conform to the DIN 1101 standard. The bending strength of cement board made with CaCl2 does not conform to the DIN 1101 standard.
Sifat papan semen dari kayu sengon
I M Sulastiningsih;
P Sutigno;
Y H Priyadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 5 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1999.16.5.279-286
Papan semen skala laboratorium dibuat dari serutan kayu sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) dengan perbandingan berat antara kayu dan semen 1: 2, 5. Magnesium khlorida (MgCI2) dan natrium silikat (Na2SIO3) digunakan sebagai katalisator. Banyaknya MgCI2atau Na2SIO3 yang ditambahkan pada saat pembuatan papan semen adalah 0: 2.5: 5; 7,5 dan JO % dari berat semen.Kerapatan rata-rata papan semen yang dibuat adalah 1,17 g/cm3. Macam dan banyaknya katalisator berpengaruh nyata pada sifat fisis dan mekanis papan semen kecuali pada sifat pengembangan linier. Penambahan MgCI2 terutama 5% memperbaiki sifat papan semen, tetapi tidak ada pengaruh yang nyata pada perlakuan lain. Modulus patah papan semen yang dibuat dengan katalisator MgCI2 (118-133 kg/cm2) memenuhi persyaratan BISON dan ISO (90-150 kg/cm2). Keteguhan rekat internal dan papan semen tersebut lebih baik dari pada papan semen yang dibuat dengan katalisator Na2SIO3. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk menambahkan MgCI2 sebanyak 5 % dari berat semen dalam pembuatan papan semen.
PEMANFAATAN EKSTRAK KAYU MERBAU UNTUK PEREKAT PRODUK LAMINASI BAMBU
Adi Santoso;
Ignasia Maria Sulastiningsih;
Gustan Pari;
Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (695.219 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.2016.34.2.89-100
The report describes the use of adhesive made from merbau wood extract (Intsia Spp.) which is allowed to copolymerize with resorcinol, formaldehyde under alkaline conditions, and tapioca as an extender. The adhesive was used to manufacture three-ply composite board consisting of a back and core layers made from sengon (Falcataria mollucana), and jabon (Anthocephalus chinensis), while the face layer was made either one of three bamboo species, namely, andong (Gigantochloa pseudoarundinacea), mayan (Gigantochloa robusta Kurz.), and bitung (Dendrocalamus asper Schult. F.). Result shows that physical-mechanical properties of the composite board with using adhesive by formula (% of weight ratio) Merbau extract : Resorcinol 50% : Formaldehyde 37% : Extender = 100 : 10 : 10 : 5) were similar with to those of products made of synthetic phenolic adhesive and classified as an exterior quality type with E0 or F**** types of low formaldehyde emission.