Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Optimization Study Of Time And Mass Of Ketapang Fruit Shell Biosorbent in the Methylene Blue Batch Adsorption Process Meriatna, Meriatna; Zulmiardi, Zulmiardi; Nurlaila, Rizka; Suryati, Suryati; Hasfita, Fikri; Faisal, Faisal
International Journal of Engineering, Science and Information Technology Vol 5, No 3 (2025)
Publisher : Malikussaleh University, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52088/ijesty.v5i3.1000

Abstract

Ketapang fruit shell (Terminalia catappa) has shown potential as a low-cost, eco-friendly biosorbent for removing synthetic dyes from aqueous solutions. This study aimed to determine the optimum conditions for contact time and adsorbent mass of ketapang fruit shell in the adsorption of methylene blue dye. The research involved several stages: preparation and chemical activation of the fruit shells, batch adsorption experiments, analysis of adsorption capacity and efficiency, and optimization using the Response Surface Methodology (RSM). Characterization of the adsorbent was conducted using UV-Visible spectroscopy, Fourier Transform Infrared (FTIR) spectrosco-py, and Scanning Electron Microscopy (SEM) to analyze functional groups and surface morphology. The RSM approach was employed to evaluate the interaction effects of contact time and adsorbent mass, as well as to predict the optimal conditions for maximum dye re-moval. The optimum adsorption conditions were achieved at a contact time of 39.15 minutes and adsorbent mass of 0.416 g, resulting in an adsorption capacity of 1.935 mg/g and 100% removal efficiency. The regression model obtained from RSM was: Y= 35.13437  + 334.35597A – 1.67299B + 0.088354AB – 402.98656A² + 0.018207B², with  a coefficient of determination R² = 0.7857 (78.57%), indi-cating a good model fit. Furthermore, the adsorption behavior followed the Freundlich isotherm model, supported by an R² value of 0.787 (78.7%), suggesting multilayer adsorption on a heterogeneous surface. These findings confirm the effectiveness of ketapang fruit shell as a promising adsorbent for methylene blue removal in wastewater treatment applications.
Optimization of Tensile Strength in Pineapple Leaf Fiber Composites: A Study of Fiber Volume Fractions with Clear Polyester Resin Zahra, Fatimah; Safriwardy, Ferri; Habibi, Muhammad; Zulmiardi, Zulmiardi; Rizki, Muhammad Nuzan
Electronic Journal of Education, Social Economics and Technology Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : SAINTIS Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33122/ejeset.v6i2.1086

Abstract

The utilization of pineapple leaf fiber is still relatively small, only used as a basic material for various types of furniture products, fabrics for fashion products, crafts and composites as forming materials. This study aims to analyze the tensile strength of pineapple leaf fiber composites with variations in volume fractions using clear polyester resin. In this study, composites were made using three different volume fractions, namely 60% fiber: 40% resin, 70% fiber: 30% resin, and 85% fiber: 15% resin. After the test specimen manufacturing process, the specimens were then tested for tensile strength on each volume fraction. The results of this study indicate variations in tensile strength on each volume fraction used, where using a volume fraction of 85% fiber: 15% resin produces higher tensile strength compared to the volume fraction of 60% fiber: 40% resin and 70% fiber: 30% resin. Pineapple leaf fiber reinforced composites with variations in the volume fraction of pineapple leaf fiber 60%: resin 40%, pineapple leaf fiber 70%: resin 30%, and pineapple leaf fiber 85%: resin 15%. From the percentage variations, the highest tensile strength is in pineapple leaf fiber 85%: resin 15% with an average value of 105.69 MPa, elastic modulus strength of 1571 MPa, and elongation of 6.74%. While the lowest tensile strength value is in pineapple leaf fiber 60%: resin 40%, with an average value of 74.30 MPa, elastic modulus strength of 1231 MPa, and elongation of 6.04%, it can be concluded that the higher the percentage of fiber, the higher the tensile strength value. Variations in the volume fraction of pineapple leaf fiber can affect the mechanical properties of clear polyester resin composites. The composite strength value often increases with the increase in the fiber volume fraction. However, a high fiber volume fraction does not always have a good effect on the strength of the composite. The strength of the composite is not only influenced by the number of fibers but is also influenced by the binding factor, namely the matrix.
Potensi Getah Pohon Pisang Dan Tepung Ketan Sebagai Perekat Dari Biobriket Serbuk Gergaji Kayu Jati: Analisis Kualitas Biobriket dari Serbuk Gergaji Kayu Jati dengan Perekat Getah Pohon Pisang dan Tepung Ketan Fikri Hasfita; Devi, Sri Marlia; Novi Sylvia; Ishak Ibrahim; Jalaluddin; Zulmiardi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 05 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-October 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i05.22496

Abstract

Biobriket merupakan bahan bakar padat yang berasal dari bahan organik yang telah dipadatkan, dan berfungsi sebagai pengganti bahan bakar konvensional seperti batu bara atau kayu bakar dengan dampak lingkungan yang lebih rendah. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh perbandingan perekat (getah pohon pisang : tepung ketan) 1:1, 1:2 dan 2:1 dengan persentase perekat 20%, 30%, 40% 50% dan 60% terhadap karakteristik biobriket dengan menganalisis kadar air, kadar abu, kadar zat menguap, kadar karbon terikat dan nilai kalor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan baku 100 gram, perbandingan perekat 1:2 dengan komposisi perekat 40% menunjukkan performa terbaik dengan kadar air terendah yaitu 3,662%, kadar abu terendah yaitu 1,515%, kadar zat menguap terendah yaitu 4,704%, kadar karbon terikat tertinggi yaitu 90,119% dan nilai kalor tertinggi yaitu 6784,691 kal/gr. Karakteristik biobriket dari serbuk gergaji kayu jati sudah sesuai standar SNI 01-6235-2000. Kata kunci: Bioriket, kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat dan nilai kalor.
ANALISA DAN KINETIKA ADSORPSI ZAT WARNA METIL ORANGE MENGGUNAKAN ADSORBEN CANGKANG KEMIRI Hanie, Nawardah; Meriatna, Meriatna; Zulmiardi, Zulmiardi; Ginting, Zainuddin
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol. 12 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i2.13529

Abstract

Metil orange (MO) adalah senyawa organik yang dijadikan sebagai indikator untuk menentukan pH suatu larutan. Namun, dalam skala industri kimia, metil orange digunakan sebagai senyawa zat azo yang berfungsi untuk pewarna, sehingga apabila tidak ditanggulangi secara benar akan menjadi polutan yang akan mencemari lingkungan. Cangkang kemiri yang di furnace dengan suhu 500oC selama 70 menit menghasilkan senyawa karbon terikat yang tinggi sehingga digunakan sebagai karbon aktif untuk menyerap metil orange. Cangkang kemiri sangat banyak digunakan untuk mengadsorpsi limbah dan zat warna, namun terkhusus untuk zat warna metil orange sangat minim, sehingga penulis melakukan kajian studi ini Penelitian dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi metil orange aebesar 10 ppm, 20 ppm, dan 30 ppm dan waktu adsorpsi yaitu 30, 40, 50, 60, dan 70 menit yang kemudian dianalisis persamaan keseimbangan dan model kinetika penyerapannya. Larutan akan ditambahkan penyerap sebanyak 4 gram lalu diaduk dengan variabel yang ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model persamaan Langmuir dan Orde Dua Semu adalah yang paling sesuai diaplikasikan untuk adsorpsi metil orange terhadap karbon aktif dari cangkang kemiri. Dari persamaan Langmuir diperoleh konstanta adsorsi sebesar 10.35808 L/g dan qmaks sebesar 0.258769 mg/g. Sedangkan untuk model Ho dan Mc Kay orde dua semu didapatkan konstanta laju reaksi (K2) yang cukup besar yaitu 1.2252 - 0.3091g/mg.min serta nilai koefisien determinasi (R2) yaitu 0.9701 - 0.9999 untuk variasi konsentrasi 10, 20, serta 30 ppm. Karena model Isotherm Langmuir dapat menjelaskan proses adsorpsi metil orange secara menyeluruh, maka sistem adsorpsi metil orange menggunakan karbon aktif dari cangkang kemiri dari penelitian ini adalah homogen dan monolayer. Kajian kinetika menunjukkan bahwa model persamaan orde dua semu yang paling sesuai diaplikasikan. Dari model orde dua semu, laju proses adsorpsi metil orange dikendalikan oleh adsorpsi kimiaa. 
Adsorption of Rhodamine B From Industrial Wastewater Using Bottom Ash Adsorbent from Palm Oil Mill Boiler Combustion: A Fixed-Bed Column Study Rianda, Rizki; Maulana, Muhammad Zikri; Kurniawan, Meutia; Panjaitan, Muhammad Ishak Idrus; Salim, Muhammad Yahdi; Sylvia, Novi; Zulmiardi; Meriatna
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol. 13 No. 2 (2024): December 2024 [Nationally Accredited Sinta 2]
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v13i2.10702

Abstract

Increased textile industry production increases water pollution, especially rhodamine B dyes that are difficult to degrade. Global efforts to reduce water pollution through the adsorption process have been carried out with various adsorbents, the utilization of bottom ash from palm oil mill boiler combustion waste is still very minimal. This study examines the effect of contact time and bottom ash adsorbent mass on the adsorption capacity and absorption efficiency of rhodamine B using a fixed bed column adsorption process. The results showed that the longer the adsorption time, the higher the absorption efficiency. In the rhodamine B adsorption process, the best absorption efficiency was 98.308% at 10 cm bed height for 120 minutes and the best absorption capacity was 0.474 mg/g at 12 cm bed height for 150 minutes. The R2 price of Langmuir isotherm was 0.9999. FTIR analysis showed the presence of -OH, C-H, C=C and C-O functional groups that play a role in the adsorption process. The surface area of bottom ash from SAA test was 94.517 m2 /g. The SEM-EDX test analysis results had dominant elements of C, O and Si which showed good adsorption activity. From the results of the study that bottom ash from the combustion of oil palm mill boilers can be used as an effective adsorbent in reducing rhodamine B.
PENGARUH WAKTU FERMENTASI DAN WAKTU PENYANGRAIAN TERHADAP PRODUKSI COKLAT BUBUK Safrida, Riana; Meriatna, Meriatna; Muhammad, Muhammad; Muarif, Agam; ZA, Nasrul; Zulmiardi, Zulmiardi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 2 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Mei 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i2.12120

Abstract

Bubuk cokelat merupakan produk bahan pangan yang biasa diolah menjadi makanan dan minuman. Bubuk cokelat merupakan salah satu olahan biji kakao yang banyak diminati industri. Bubuk cokelat terbuat dari biji kakao yang dipisahkan dari mentega kakao. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi dan waktu penyangraian terhadap produksi coklat bubuk. Penelitian ini telah banyak dilakukan sebelumnya dan penelitian yang belum pernah dilakukan adalah pengaruh waktu fermentasi  selama 10 hari dan variasi waktu penyangrain selama 10, 20, 30, 40 dan 50 menit. Metode yang digunakan yaitu Ekstraksi, gravimetri, dan spektrofotometri UV/VIS.  Hasil analisa kandungan asam lemak coklat bubuk fermentasi pada waktu penyangraian 50 menit yaitu 1,40gr, pada coklat bubuk fermentasi pada waktu penyangraian 50 menit yaitu 2,44gr. Kandungan kadar air coklat bubuk tanpa fermentasi dengan waktu penyangraian 10 menit yaitu 0,32gr dan kadar air coklat bubuk fermentasi dengan waktu penyangraian 10 menit yaitu 3,76gr. Kadar pH coklat bubuk tanpa fermentasi berkisar 6,6-6,7 dan pH coklat bubuk fermentasi berkisar 6,4 - 6,5. Kadar polifenol terbaik yaitu pada coklat bubuk tanpa fermentasi dengan waktu penyangrain 10 menit yaitu 20,31mg/gr.
Kinetika Reaksi Hidrolisis Biji Bunga Matahari (Helianthus Annuus L.) Menjadi Glukosa Menggunakan Katalisator Asam Klorida. Sinaga, Ahmad Roihan; Meriatna, Meriatna; Sylvia, Novi; ZA, Nasrul; Ibrahim, Ishak; Zulmiardi, Zulmiardi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 3 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i3.15309

Abstract

Biji bunga matahari memiliki kandungan gula sebesar 2,62 gr dan kandungan karbohidrat sebesar 24 gram. Metode hidrolisis adalah proses pembentukan gula dari karbohidrat. Menggunakan asam klorida sebagai katalis dan menyesuaikan suhu dan waktu hidrolisis adalah metode yang digunakan untuk membuat penelitian ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memastikan kecepatan di mana pati diubah menjadi glukosa, mekanisme yang mendasari reaksi hidrolisis, dan bagaimana pati diekstraksi dari biji bunga matahari. Menggunakan katalis asam klorida, hidrolisis akan dilakukan dalam serangkaian alat hidrolisis. Penelitian ini pernah dilakukan dengan jenis katalis yang berbeda tetapi hanya menggunakan satu suhu dan waktu reaksi, maka untuk melihat perbandingan yang terjadi akan dibuat penelitian dengan variasi suhu dan waktu reaksi dan jenis katalis yang berbeda serta membuatnya kedalam studi kinetika reaksi. Beberapa variasi suhu reaksi yang akan digunakan adalah 75,80,85,90, dan 95 °C. Waktu hidrolisis dijalankan selama 30,45,65,75, dan 90 menit. Hidrolisis biji bunga matahari dengan asam klorida, menurut hasil peneltian yang telah dilakukan, adalah reaksi orde satu semu dengan konversi glukosa tertinggi didapat pada kondisi waktu selama 90 menit dan pada suhu hidrolisis 95 °C. Didapat energi aktivasi 17,806 J/mol dengan beberapa nilai konstanta kecepatan reaksi hidrolisis biji bunga matahari yaitu 1,88 x 10-3, 2,24 x 10-3, 2,38 x 10-3, 2,50 x 10-3, dan 2,69 x 10-3 menit-1. Tingkat glukosa tertinggi adalah 5,23 mg/ml dengan konversi tertinggi sebesar 34,83 %.