p-Index From 2021 - 2026
4.872
P-Index
This Author published in this journals
All Journal KEMBARA JURNAL KONFIKS Lingua Franca: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya AKSIOLOGIYA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan ELSE (Elementary School Education Journal) : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar PEDAGOGI PENTAS : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Belajar Bahasa : Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Jurnal Bahtera - Jurnal Pendidikan Bahasa Sastra dan Budaya SASTRANESIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Jurnal Basataka (JBT) Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Jurnal Pendidikan Madrasah SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Jurnal Disastri: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kode : Jurnal Bahasa Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Neologia: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia TELL - US JOURNAL Journal of Innovative and Creativity Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Abdimas) Universitas Baturaja Proceeding UMSurabaya
Claim Missing Document
Check
Articles

Analysis of Directive Speech Acts and Teacher Mitigation Strategies in Managing the Classroom Moh. Tito Ragil Dianang; R. Panji Hermoyo
Jurnal Disastri (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Disastri: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/disastri.v8i1.11331

Abstract

Effective pedagogical communication requires a balance between delivering firm instructions and maintaining emotional relationships with students. This study aims to describe the forms of directive speech acts and mitigation strategies used by teachers in managing classroom interaction at SMP Negeri 1 Ngoro Jombang. This Research is motivated by the importance of teachers' pragmatic competence in minimizing potential Face Threatening Acts (FTA) when giving orders to adolescent students. The method used is descriptive qualitative. Data sources were obtained from the utterances of Indonesian, Mathematics, and Science teachers in grade VIII during the learning process. Data collection was carried out using the Listen-glze-free method, recording, and note-taking techniques. Data analysis examines Searle's speech act theory and Blum-Kulka's mitigation strategy through an interactive analysis model. The results showed that directive speech acts of commanding and requesting were the most dominant forms. However, teachers tended to soften these instructions using mitigation strategies. Two main mitigation patterns were found: (1) Internal modification using lexical politeness markers such as "please", "try", and interrogative modes; and (2) External modification through providing reasons (grounders) before instructions. Specific findings indicate the use of code-switching to Javanese and the particle "nggih" as a cultural strategy to build rapport. It is concluded that the application of appropriate mitigation strategies is effective in creating a conducive, humanistic classroom atmosphere and increasing student compliance without coercion.
KONFLIK BATIN DAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL UMMI UNTUK GAMAL KARYA AQILA NILA Muhammad Anas; Ali Nuke Affandy; Panji Hermoyo
PENTAS : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2026): PENTAS: Mei 2026
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/pentas.v12i1.12734

Abstract

This study aims to describe the forms of internal conflict experienced by the main character, Insyira (Sisi), in Aqila Nila’s novel Ummi untuk Gamal and their relevance to character education values. Employing a literary psychology approach based on Kurt Lewin’s conflict theory, this descriptive qualitative research utilizes reading and note-taking techniques for data collection. The findings reveal three types of internal conflict: approach-approach (positive–positive), which is the most dominant; avoidance-avoidance (negative–negative); and approach-avoidance (positive–negative). These conflicts reflect the protagonist’s struggle between personal desires, moral obligations, and decision-making ambivalence. Furthermore, the results indicate that these internal dynamics are closely linked to character education values, including religiosity, responsibility, caring, hard work, and independence. It is concluded that internal conflict not only drives the plot but also serves as a vehicle for character building. This novel is highly relevant as a reflective and educative medium in literary learning, particularly for the younger generation.
VARIASI DIALEK BAHASA JAWA MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA ANGKATAN 2020 FKIP UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK) Rindiyani; Sujinah Sujinah; R. Panji Hermoyo
PROCEEDING UMSURABAYA Vol 1 No 1 (2024): Proceeding Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pc.v1i1.24070

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan variasi dialek bahasa Jawa dalam bentuk fonologi dan leksikal yang digunakan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2020 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya. Penelitian ini menggunakan kajian sosiolinguistik. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan metode simak yakni teknik simak libat cakap, rekam, dan catat. Hasil penelitian yang terdapat di mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2020 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya pada variasi fonologi, yaitu berupa perubahan fonem vokal seperti /I/ dengan /ε/, /u/ dengan /U/, /i/ dengan /I/, dan /e/ dengan /a/, perubahan fonem konsonan seperti /ŋ/ dengan /k/ dan /m/ dengan /p/, serta penghilangan fonem konsonan seperti /w/, /ŋ/, dan /n/. Hasil penelitian yang terdapat di mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2020 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya pada variasi leksikal sebanyak 26 kosakata seperti “asap” menjadi [asǝp] dan [bǝlU?], “baring” menjadi [barIŋ], [mlumah], dan [ŋleset] , “benih” menjadi [biji] dan [bibIt], “danau” menjadi [danau], [tǝlϽgϽ], dan [wadU?], “debu” menjadi [awu] dan [blǝdU?], “dekat” menjadi [cidǝ?], [εrǝ?], dan [parǝ?], “gali” menjadi [gǝdU?], [kǝrU?], dan [ndudU?], “garuk” menjadi [garU?], [kukUr], dan [ŋUkUr], “hantam” menjadi [antǝm] dan [gǝpU?], “hapus” menjadi [apUs] dan [busǝ?], “hisap” menjadi [isǝp], [sǝdϽt], dan [sǝsǝp], “hutan” menjadi [alas] dan [hutan], “ikat” menjadi [cancaŋ], [ikǝt], dan [tali], “jatuh” menjadi [cicIr], [nǝblϽ?], dan [tibϽ], “kepala” menjadi [ǝndas] dan [sirah], “kotor” menjadi [kϽtϽr], [rǝgǝt], dan [rusUh], “laut” menjadi [laUt] dan [sǝgϽrϽ], “lempar” menjadi [sawat] dan [uncal], “malam” menjadi [bǝŋi] dan [dalu], “matahari” menjadi [matahari] dan [srǝŋeŋe], “pasir” menjadi [pasIr] dan [wǝdi], “potong” menjadi [kǝtϽ?], [pϽtϽŋ], dan [tugǝl], “tarik” menjadi [batǝ?] dan [tarI?], “terbang” menjadi [mabUr], [mibǝr], dan [mUmbUl], “tikam” menjadi [juju], [sUdU?], dan [tUsU?], “tongkat” menjadi [tǝkǝn] dan [tϽŋkat].
Peningkatan Literasi pada Cerita Fiksi melalui Model Pembelajaran PBL dengan Pendakatan TaRL di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya Dian Ayu Puspita Rini; R. Panji Hermoyo; Taufiqur Rahman
PROCEEDING UMSURABAYA Poceding Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan 2026 " Intregrasi Deep Learning dan Tekbnologi AI dal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pc.v1i1.28053

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi siswa dalam memahami cerita fiksi melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) di kelas VII A SMP Muhammadiyah 4 Surabaya. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya kemampuan siswa dalam memahami teks fiksi karena dominasi budaya digital yang cenderung melemahkan keterampilan membaca mendalam. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan: pada siklus I, ketuntasan belajar siswa mencapai 80% dengan rata-rata nilai 87, dan meningkat menjadi 100% dengan rata-rata nilai 93 pada siklus II. Pembelajaran dengan PBL mendorong siswa untuk berpikir kritis dan aktif berdiskusi, sementara pendekatan TaRL memungkinkan pembelajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Kombinasi kedua pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan literasi fiksi dan keterlibatan siswa secara menyeluruh.
EGO DAN SHADOW TOKOH UTAMA DALAM NOVEL AKU TAK MEMBENCI HUJAN KARYA SRI PUJI HARTINI (PERSPEKTIF PSIKOLOGI JUNGIAN) Eka Putri Febrianty Halimah Hs; Idhoofiyatul Fatin; R. Panji Hermoyo
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.290

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini memaparkan tentang dinamika kepribadian tokoh utama dalam novel Aku Tak Membenci Hujan karya Sri Puji Hartini yang terbit pada tahun 2023. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis perkembangan karakter Karang dan Agha melalui perspektif psikologi, khususnya mengenai bagaimana pengalaman hidup membentuk pola pikir, perasaan, dan tindakan mereka. Dengan menggunakan metode kualitatif serta pendekatan deskriptif-interpretatif, hasil penelitian ini berupa pemaparan dan penafsiran mendalam terhadap teks novel. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca dan catat terhadap sumber data primer. Berdasarkan analisis, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, tokoh Karang digambarkan sebagai representasi aspek ego yang penuh dengan kesabaran, keikhlasan, dan tanggung jawab di tengah tekanan hidup. Kedua, munculnya tokoh Agha merupakan manifestasi dari sisi lain atau shadow yang menyimpan trauma, luka masa lalu, dan emosi yang tertekan. Ketiga, terdapat faktor-faktor signifikan yang memengaruhi perubahan kepribadian tokoh utama, yaitu faktor keluarga dan faktor lingkungan. Ketidakadilan serta kepahitan yang menimpa keluarga menjadi pemicu utama munculnya sisi gelap dan perubahan drastis dalam diri tokoh. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup dan konflik batin yang dialami tokoh sangat menentukan mereka dalam memilih langkah untuk bertahan hidup. KATA KUNCI: Aku Tak Membenci Hujan; ego; Jungian; psikologi analitik; shadow >  THE EGO AND SHADOW OF THE MAIN CHARACTER IN SRI PUJI HARTINI'S NOVEL AKU TAK MEMBENCI HUJAN: A JUNGIAN PSYCHOLOGICAL PERSPECTIVE   ABSTRACT: This study examines the personality dynamics of the main characters in the novel Aku Tak Membenci Hujan by Sri Puji Hartini, published in 2023. The primary focus of this research is to analyze the character development of Karang and Agha from a psychological perspective, particularly regarding how life experiences shape their thoughts, emotions, and behaviors. Employing a qualitative method with a descriptive-interpretative approach, this study presents in-depth descriptions and interpretations of the novel's text. The data were collected through reading and note-taking techniques using the novel as the primary data source. The findings reveal several important points. First, the character of Karang is portrayed as a representation of the ego aspect, characterized by patience, sincerity, and responsibility amid life's pressures. Second, the emergence of Agha represents the manifestation of the shadow self, embodying trauma, painful past experiences, and repressed emotions. Third, there are significant factors influencing the personality changes of the main character, namely family and environmental factors. The injustice and hardships experienced by the family serve as the primary triggers for the emergence of the character’s darker side and the drastic transformation of their personality. This study demonstrates that life experiences and internal conflicts play a crucial role in shaping the characters' decisions and strategies for survival. KEYWORDS: Aku Tak Membenci Hujan; analytical psychology; ego; Jungian; shadow
Representasi Edukasi Lingkungan untuk Anak dalam Serial Novel Mata Karya Okky Madasari: Perspektif Ekokritik Galuh Aqmarina Hapsari; Ali Nuke Affandy; Panji Hermoyo
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v5i2.8009

Abstract

This study aims to analyze the representation of environmental education for children in the Mata novel series by Okky Madasari using Greg Garrard’s ecocritical perspective integrated with David W. Orr’s environmental education theory. This research employs a qualitative descriptive method with a library study technique. The data consist of phrases, clauses, sentences, and narrative quotations that reflect ecological elements, environmental pollution, ecological crises, and human–nature relationships. The results show that the Mata series represents nature as a living and interconnected ecological system through the concepts of dwelling, animals, and pastoral. The novels also depict environmental pollution, ecological crises, and natural resource exploitation as consequences of anthropocentric human behavior. Furthermore, the narratives contain strong social and ethical critiques of human dominance over nature, along with forms of resistance that emphasize ecological responsibility. In addition, the series functions as an effective medium for children’s environmental education by fostering awareness, knowledge, attitudes, skills, and participation. Therefore, the Mata novel series serves not only as children’s literature but also as an educational tool to promote ecological awareness.
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA SISWA SD MELALUI PENELITIAN TINDAKAN KELAS Orance Federika Balan; Husina Humaira; R. Panji Hermoyo
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i2.9684

Abstract

Writing skills are essential basic competencies that must be mastered by elementary school students as a means of expressing ideas, but in reality the quality of students' writing is still very low due to the many errors in the application of language rules. The focus of the problem in this study is directed at the analysis of language errors that include aspects of spelling, syntax, morphology, and word choice in grade IV students of SD Inpres Sikam, East Nusa Tenggara. The important steps or stages of this study use the Classroom Action Research approach which is implemented through two systematic cycles, including the planning stage, implementation of actions with structured exercises, process observation, and critical reflection. Based on the findings of the research, quantitative data shows a significant downward trend in the number of language errors by 31%, from a total of 198 errors in cycle I to 157 errors in cycle II. In detail, a significant decrease is seen in the morphology aspect by 57%, word choice by 46%, neatness of writing by 37%, syntax by 34%, and spelling by 18%. These findings prove that identifying dominant error patterns makes it easier for teachers to provide targeted corrective feedback to students. The main conclusion confirms that the application of classroom action research through error analysis is very effective in improving the understanding of language rules and increasing the quality of students' writing skills in a sustainable manner through dynamic instructional improvements. ABSTRAK Keterampilan menulis merupakan kompetensi dasar esensial yang harus dikuasai siswa sekolah dasar sebagai sarana ekspresi gagasan, namun pada kenyataannya kualitas tulisan siswa masih sangat rendah akibat banyaknya kesalahan penerapan kaidah bahasa. Fokus masalah dalam penelitian ini diarahkan pada analisis kesalahan berbahasa yang mencakup aspek ejaan, sintaksis, morfologi, hingga pilihan kata pada siswa kelas IV SD Inpres Sikam, Nusa Tenggara Timur. Langkah atau tahapan penting penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan melalui dua siklus sistematis, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan dengan pemberian latihan terstruktur, observasi proses, serta refleksi kritis. Berdasarkan temuan hasil penelitian, data kuantitatif menunjukkan adanya tren penurunan jumlah kesalahan berbahasa secara signifikan sebesar 31 %, dari total 198 kesalahan pada siklus I menjadi 157 kesalahan pada siklus II. Secara terperinci, penurunan signifikan terlihat pada aspek morfologi sebesar 57 %, pilihan kata 46 %, kerapian tulisan 37 %, sintaksis 34 %, serta aspek ejaan 18 %. Temuan ini membuktikan bahwa identifikasi pola kesalahan yang dominan memudahkan guru dalam memberikan umpan balik korektif yang tepat sasaran bagi siswa. Simpulan utama menegaskan bahwa penerapan penelitian tindakan kelas melalui analisis kesalahan sangat efektif dalam memperbaiki pemahaman kaidah bahasa serta meningkatkan kualitas keterampilan menulis siswa secara berkelanjutan melalui perbaikan instruksional yang dinamis.    
IDEOLOGI NASIONALISME DALAM TUTURAN UPACARA BENDERA: ANALISIS WACANA KRITIS WODAK PADA SISWA SMA Nora Elmirna; Ulfa Rahma; R. Panji Hermoyo
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i2.9685

Abstract

Nationalism is often considered a natural characteristic, yet it is routinely produced through educational institutions to shape students' collective identity. The main focus of this research is to examine the construction of nationalist ideology in the speech of the flag ceremony at SMA Negeri 02 Bombana using Ruth Wodak's Critical Discourse Analysis model of Discourse-Historical Approach. The research stages were conducted qualitatively through the process of transcribing the speech of the ceremony instructor, field observations, and in-depth interviews to understand the institutional context. Data analysis focused on discursive strategies that include aspects of nomination, predication, argumentation, perspectivization, and the intensification and mitigation of meaning. The research findings indicate that nationalism is constructed through the framing of the inclusive identity of "we" as the subject of the nation who bears moral responsibility. This narrative dominates all segments of the ceremony with an emphasis on the topos of obligation and the threat of being left behind to legitimize students' compliance with school rules. Furthermore, institutional power relations are disguised through the use of paternalistic greetings that make ideological instructions feel like nurturing advice. The main conclusion confirms that the flag ceremony functions as a mechanism for reproducing state ideology that is normative and sacred in nature within the educational ecosystem. This discursive practice successfully transformed critical awareness into disciplinary compliance without any open resistance through very intensive and systematic national symbolism in a sustainable manner to create pure loyalty among all students. ABSTRAK Nasionalisme sering kali dianggap sebagai karakter yang alami, padahal ia diproduksi secara rutin melalui institusi pendidikan guna membentuk identitas kolektif siswa. Fokus utama penelitian ini adalah mengkaji konstruksi ideologi nasionalisme dalam tuturan upacara bendera di SMA Negeri 02 Bombana dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis model Discourse-Historical Approach milik Ruth Wodak. Tahapan penelitian dilakukan secara kualitatif melalui proses transkripsi tuturan amanat pembina upacara, observasi lapangan, serta wawancara mendalam untuk memahami konteks institusional. Analisis data difokuskan pada strategi diskursif yang mencakup aspek nominasi, predikasi, argumentasi, perspektivisasi, serta intensifikasi dan mitigasi makna. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nasionalisme dibangun melalui pembingkaian identitas inklusif "kita" sebagai subjek bangsa yang memikul tanggung jawab moral. Narasi tersebut mendominasi seluruh segmen upacara dengan penekanan pada topos kewajiban dan ancaman ketertinggalan guna melegitimasi kepatuhan siswa terhadap aturan sekolah. Selain itu, relasi kuasa institusional disamarkan melalui penggunaan sapaan paternalistik yang membuat instruksi ideologis terasa sebagai nasihat pengasuhan. Simpulan utama menegaskan bahwa upacara bendera berfungsi sebagai mekanisme reproduksi ideologi negara yang bersifat normatif dan sakral dalam ekosistem pendidikan. Praktik diskursif ini berhasil mengubah kesadaran kritis menjadi kepatuhan disipliner tanpa adanya resistensi terbuka melalui simbolisme nasional yang sangat intensif dan sistematis secara berkelanjutan guna menciptakan loyalitas murni pada seluruh peserta didik.  
Antipati Digital dan Problem Kesantunan: Analisis Linguistik Forensik terhadap Komentar Instagram tentang Isu Dugaan Ijazah Palsu Joko Widodo Hernita Syafri; Yarno; R. Panji Hermoyo
JURNAL KONFIKS Vol 13 No 2 (2026): KONFIKS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/dbd1j342

Abstract

Digital public spaces have evolved into primary arenas for political discourse as well as for the expression of collective emotions. One prominent phenomenon is the proliferation of antipathy-laden comments on Instagram related to the alleged fake diploma issue of President Joko Widodo. This study aims to analyze forms of antipathy expressed in Instagram users’ comments from a forensic linguistics perspective and to examine associated violations of language politeness principles. Employing a qualitative descriptive approach, the data consist of 58 Instagram comments collected from posts by public figures and online news media during May–June 2025. Data were analyzed through stages of reduction, classification, and linguistic interpretation based on forensic linguistics frameworks and Brown and Levinson’s politeness theory. The findings reveal that antipathy is predominantly expressed through hate speech, sarcasm, insults, unsubstantiated accusations, harsh satire, and negative labeling. From a forensic linguistics perspective, these expressions are characterized by negative evaluative lexis, presuppositions that frame assumptions as facts, and delegitimizing linguistic strategies targeting the subject. In terms of politeness, most comments violate both positive and negative face, indicating potential ethical and legal implications. This study underscores the urgency of language politeness education as an integral component of digital literacy in fostering responsible online public discourse. Keywords: forensic linguistics, antipathy expressions, language politeness, Instagram, digital public space
PERAN BAHASA PENGANTAR DALAM MEMBANGUN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA KELAS X MAN 1 MERANGIN: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK PENDIDIKAN PADA LINGKUNGAN KELAS MULTIBAHASA Siti Aminah; R. Panji Hermoyo
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.55276

Abstract

This study aims to analyze the role of the instructional language in fostering student learning engagement in a multilingual classroom at Grade X MAN 1 Merangin. The study focuses on the use of Indonesian as the main language of instruction, the function of local languages, and the practices of code-switching and code-mixing in the teaching and learning process. A qualitative descriptive approach with a case study design was employed. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. The findings show that Indonesian serves as the primary instructional language in classroom interaction. However, learning becomes more effective when teachers integrate local languages to clarify difficult concepts. Code-switching and code mixing function as pedagogical strategies that help students understand meaning, strengthen comprehension, and increase classroom interaction. The results also indicate that flexible language use in teaching has a direct impact on student engagement, such as asking questions, participating in discussions, and responding to teachers. The more communicative the instructional language is, the higher the level of student participation. This study concludes that instructional language is not only a medium for delivering content but also a social tool that shapes student engagement in multilingual classroom contexts. Translanguaging practices are proven relevant in creating inclusive and active learning environments.