Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Mengembangkan instrumen pengukuran kekerasan komunikasi pada kelompok WhatsApp di lingkungan kerja dosen Ira Mirawati; Asep Suryana; Herlina Agustin; Mien Hidayat
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 7, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.382 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v7i2.23357

Abstract

Berkembang pesatnya media sosial telah memberikan ruang bagi para penggunanya untuk melakukan sekaligus mendapatkan kekerasan komunikasi. Kekerasan komunikasi melalui media sosial dapat terjadi pada berbagai kalangan, termasuk di lingkungan kerja dosen. Perilaku ini terjadi baik disengaja ataupun tidak, serta hadir dalam beragam bentuk bukan semata-mata pesan yang berisi caci maki, kebencian, atau perendahan. Pengalaman kekerasan komunikasi di tempat kerja, baik sebagai pengirim maupun penerima, dapat memiliki konsekuensi bagi emosi dan perilaku kerja seseorang. Berkaitan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah instrumen pengukuran kekerasan komunikasi yang dialami dosen termasuk emosi yang dirasakan dan perilaku kerja yang dapat dipengaruhinya. Pengembangan instrumen dilakukan dengan mengelaborasi komponen-komponen kekerasan komunikasi, emosi, dan perilaku kerja dengan Affective Events Theory. Pengujian instrumen dilakukan terhadap sampel penelitian yang diambil dengan menggunakan teknik stratified random sampling terhadap dosen perguruan tinggi di kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 3 dimensi yang terdiri dari 22 pertanyaan pada variabel kekerasan komunikasi, 2 dimensi yang terdiri dari 14 pertanyaan pada variabel emosi, dan 8 dimensi yang terdiri dari 25 pertanyaan pada variabel perilaku kerja dosen yang valid untuk diukur. Simpulannya adalah bahwa instrument yang dikembangkan pada penelitian ini dapat digunakan dalam penelitian yang mengukur pengaruh kekerasan komunikasi di lingkungan kerja dosen. Penelitian dengan instrumen ini disarankan menggunakan structural equation modelling dengan confirmatory factor analysis.
REALITAS POLITIK INDONESIA DALAM "KACAMATA" PENGGUNA TWITTER Kunto Adi Wibowo; Ira Mirawati
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 1, No 1 (2013): June 2013
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.648 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v1i1.6027

Abstract

Twitter sebagai media baru mulai menunjukkan keperkasaannya di bidang politik. Bukti nyata peran besar twitter dalam dunia politik adalah gejolak politik dan sosial di kawasan Timur Tengah yang melanda seluruh negara Arab. Rakyat terpanggil dan tersatukan haluan serta geraknya melalui jejaring sosial digital untuk menentukan jalannya masa depan negara mereka. Penting untuk diketahui pengaruh pandangan tentang politik padapengguna twitter di Indonesia, sebagai Negara dengan pengguna twitter terbanyak. Dengan metode survei yang berpedoman pada teori kultivasi, penelitian ini mencari tahu bagaimana pandangan politik di Indonesia pada pengguna berat dan pengguna ringan.Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada pengguna berat dan pengguna ringan dalam memandang politik di Indonesia. Metode survey online dilakukan terhadap tiga puluh enam responden. Mereka ragu akan masa depan Indonesia yang lebih baik, dan tidak percaya bahwa kasus korupsi akan dapat diselesaikan, bahkan pengguna ringan ternyata lebih negatif dalam memandang realitas politik Indonesia. Kondisi ini tidak terlepas dari fakta bahwa twitter bukan sumber utama berita politik mereka. Sumber informasi utama mereka tetap media konvensional, terutama televisi.
Golkar party’s utilization of TikTok for the 2024 election campaign Yudhis Salvania Pradana; Ira Mirawati; Meria Octavianti
Manajemen Komunikasi Vol 7, No 2 (2023): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jmk.v7i2.44605

Abstract

The successful political communication between politicians and the general public demands the utilization of social media, including TikTok, which is currently being utilized by the Golkar Party in preparation for the 2024 elections. This article examines the strategies of political communication in utilizing social media as a means of a political campaign, along with the potential opportunities and challenges that arise during the campaign. This research employs a qualitative descriptive method, collecting primary data through interviews with informants from the Golkar responsible for managing their official TikTok account. The research was conducted from October 2022 to January 2023. The results show that the utilization of TikTok by the Golkar as a campaign platform is driven by several reasons, including adaptation to reach the younger generation, leveraging TikTok’s unique features and wide reach, alignment between party leadership and team enthusiasm, expanding efforts towards democratic campaigns, and being a pioneer among political parties in TikTok utilization. This process involves audience acquisition, content direction, and human resource management. Planning the target audience and message, content design, key messages, and audience interaction are crucial aspects. The experience of Golkar can serve as an example of utilizing TikTok in politics. Challenges faced include content direction, staying up-to-date, consistency, software proficiency, and consolidating the user base.
Analisis Komparatif Perilaku Komunikasi Verbal di Tempat Kerja Antara Generasi X dan Y di Gerai Pelayanan Operator Seluler Wilayah Priangan Timur Dodi Purwana*; Uud Wahyudin; Ira Mirawati
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 8, No 3 (2023): Juni, socio-economics, community law, cultural history and social issues
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v8i3.26044

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan perilaku komunikasi verbal di Tempat Kerja antar generasi X dan Y di gerai pelayanan operator selular. Komunikasi verbal dianggap sebagai cara berkomunikasi penting dalam lingkungan kerja. Akan tetapi, ternyata kemampuan komunikasi jenis ini tidak dimiliki oleh sebagian lulusan universitas yang akan memasuki dunia kerja. Sehingga potensi hambatan komunikasi dalam organisasi akan sangat mungkin terjadi. Hal ini perlu diantisipasi oleh perusahaan agar upaya pencapaian tujuan perusahaan tidak terganggu. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan proportionate stratified random sampling. Pengambilan data dilakukan melalui pembagian kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai pengalaman perilaku berkomunikasi karyawan di tempat kerja dengan berdasarkan variabel WCBI (Workplace Communication Behavior Inventory) yang dirumuskan oleh Keyton. Data yang diperoleh diproses dengan menggunakan program SPSS. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan perbedaan pola komunikasi verbal yang dikelompokan ke dalam parameter berbagi informasi, menjaga relasi, mengungkapkan emosi negatif dan pengorganisasian.
KOMUNIKASI NONVERBAL PENYONTEK: STUDI TERHADAP CARA MENDETEKSI PERILAKU MENYONTEK OLEH PARA PENGAWAS UJIAN Ira Mirawati; Dedi Rumawan Erlandia; Meria Octavianti
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35967/jkms.v6i2.4751

Abstract

Menyontek merupakan perilaku yang sering ditemui mulai dari tingkat sekolah dasar,sekolah menengah, bahkan hingga perguruan tinggi. Menyontek dilakukan dengan berbagai alasansehingga peran pengawas dalam mengawasi peserta ujian sangat diperlukan untuk memberantasperilaku menyontek. Pengawas perlu memperhatikan bahasa nonverbal peserta dengan seksama danmemperkecil peluang mereka untuk menyontek. Bahasa nonverbal yang terutama perlu diawasi adalahkinesik, proksemik, kronemik, dan terutama adalah ekspresi wajah. Pengawas ujian dapat mendeteksipotensi menyontek melalui deteksi ekspresi mikro sebagai bahasa nonverbal peserta. Ekspresi mikroadalah ekspresi wajah yang berlangsung hanya sepersekian detik. Namun, saat hal ini terjadi, pengawasdapat merasakan gangguan pada ekspresi wajah peserta ujian. Sangat penting untuk mengetahui bahasanonverbal penyontek demi meminimalisir tindakan penyontekan. Metode penelitian yang digunakanadalah studi deskriptif dengan mewawancarai lima informan yang oleh panitia ujian di kampusnyamasing-masing dianggap paling dapat mengetahui dan menindak perilaku penyontekan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ada perilaku nonverbal tertentu yang dilakukan mahasiswa yang menyontek saatujian berkaitan dengan kinesik, proksemik, kronemik, dan ekspresi wajah. Saat menyontek dilakukanekspresi mata dan otot-otot disekitarnya pada mahasiswa yang berusaha mengelabui pengawas untukdalam usahanya melakukan penyontekan adalah pada posisi ‘datar,’ otot-otot pipi para penyontek puntidak memperlihatkan pergerakan, demikian juga mulut tidak terlalu memperlihatkan gerakan mencolok.Datarnya ekspresi mereka ini lebih kepada ekspresi merendahkan pengawas (contempt) dibandingkantakut (fear).
Analisis Komparatif Perilaku Komunikasi Verbal di Tempat Kerja Antara Generasi X dan Y di Gerai Pelayanan Operator Seluler Wilayah Priangan Timur Purwana*, Dodi; Wahyudin, Uud; Mirawati, Ira
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 8, No 3 (2023): Juni, socio-economics, community law, cultural history and social issues
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v8i3.26044

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan perilaku komunikasi verbal di Tempat Kerja antar generasi X dan Y di gerai pelayanan operator selular. Komunikasi verbal dianggap sebagai cara berkomunikasi penting dalam lingkungan kerja. Akan tetapi, ternyata kemampuan komunikasi jenis ini tidak dimiliki oleh sebagian lulusan universitas yang akan memasuki dunia kerja. Sehingga potensi hambatan komunikasi dalam organisasi akan sangat mungkin terjadi. Hal ini perlu diantisipasi oleh perusahaan agar upaya pencapaian tujuan perusahaan tidak terganggu. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan proportionate stratified random sampling. Pengambilan data dilakukan melalui pembagian kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai pengalaman perilaku berkomunikasi karyawan di tempat kerja dengan berdasarkan variabel WCBI (Workplace Communication Behavior Inventory) yang dirumuskan oleh Keyton. Data yang diperoleh diproses dengan menggunakan program SPSS. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan perbedaan pola komunikasi verbal yang dikelompokan ke dalam parameter berbagi informasi, menjaga relasi, mengungkapkan emosi negatif dan pengorganisasian.
Analyzing Communication and Satisfaction in Mental Health Online Consults for Students Mirawati, Ira; Wirakusumah, Teddy Kurnia; Rahmawan, Detta
ETTISAL : Journal of Communication Vol. 8 No. 2 (2023): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v8i2.11844

Abstract

Online mental health consultation applications have become increasingly prevalent in Indonesia. Teenagers, including college students use these applications to communicate their problems and seek solutions. This study aims to describe final year students' experiences in using these applications. This study evaluates the effectiveness of an online mental health consultation service through the perceptions of 118 users, utilizing a Likert scale across three key dimensions: usefulness, usability, also integration and infrastructure. The findings indicate a generally positive reception of the service.  In the usefulness dimension, the service scored well in terms of meeting advertised expectations, maintaining consistent quality, fostering optimism, providing clarity on mental health issues, and making users feel at ease. The usability dimension highlighted the enjoyable nature of the application and its benefits, though it revealed a need for improvement in accessibility for users with disabilities. The integration and infrastructure dimension reflected positively on the service's intuitive design and user-friendliness, with high scores in data confidentiality, responsiveness of counsellors, clarity of communication, and effectiveness in addressing user issues. Users also expressed a willingness to reuse the service for future mental health needs, indicating its perceived value and reliability.  
MENGUNGKAP TREN SELF-DIAGNOSIS GEN Z: MOTIF PENGGUNAAN KALKULATOR KESEHATAN MENTAL DI MEDIA SOSIAL Normansyah, Normansyah; Mulyana, Deddy; Mirawati, Ira
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um032v7i2p196-205

Abstract

UNCOVERING GEN Z SELF-DIAGNOSIS TRENDS: MOTIVES FOR USING MENTAL HEALTH CALCULATORS ON SOCIAL MEDIA The awareness of mental health among Gen Z is increasing, thanks to public campaigns and intensive education Information technology, especially the internet and social media, plays a crucial role in raising this awareness A study by the Pew Research Center shows that 81 percent of Gen Z seek health information online Platforms like Instagram, TikTok, and YouTube provide space for mental health professionals and influencers to share knowledge and support, making it easier for Gen Z to access information and assistance. The research used a qualitative method with an phenomenology study of Alfred Suztch with analysis of Phenomenology theory and Symbolic Interaction Theory by George Herbert Mead based on constructivist paradigm. That Gen Z use this calculator for validation and understanding of their conditions, but often without appropriate professional follow-up. These findings emphasize the importance of education and professional support in the use of mental health technology to help Gen Z more effectively and avoid the risk of misinformation. there is a risk of misinformation from using online tools such as mental health calculators that can provide inaccurate diagnoses and cause excessive anxiety. Therefore, it is important to educate Gen Z on the use of these tools and ensure they get adequate professional support to deal with mental health issues effectively. Kesadaran kesehatan mental di kalangan Gen Z mulai meningkat, berkat kampanye publik dan edukasi yang gencar. Teknologi informasi, terutama internet dan media sosial, memainkan peran penting dalam peningkatan kesadaran ini. Studi Pew Research Center menunjukkan 81 persen Gen Z mencari informasi kesehatan di internet. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menyediakan ruang bagi profesional kesehatan mental dan influencer untuk berbagi pengetahuan dan dukungan, memudahkan Gen Z mengakses informasi dan bantuan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan studi fenomenologi Alfred Suztch dengan analisis teori fenomenologi dan teori interaksional Simbolik George Herbert Mead didasari paradigma konstruktivis. Setelah melakukan penelitian peneliti menemukan hasil yang menunjukkan bahwa Gen Z menggunakan kalkulator ini untuk validasi dan memahami kondisi mereka, namun seringkali tanpa tindak lanjut profesional yang tepat. Temuan ini menekankan pentingnya edukasi dan dukungan profesional dalam penggunaan teknologi kesehatan mental agar dapat membantu Gen Z secara lebih efektif dan menghindari risiko misinformasi. Ada risiko misinformasi dari penggunaan alat online seperti kalkulator kesehatan mental yang dapat memberikan diagnosis tidak akurat dan menimbulkan kecemasan berlebihan. Oleh karena itu, penting untuk mengedukasi Gen Z mengenai penggunaan alat-alat ini dan memastikan mereka mendapatkan dukungan profesional yang memadai.
Pengaruh Konten Instagram @jpcc Terhadap Minat Pengikutnya dalam Menghadiri Kegiatan Kerohanian Sitanggang, Jonathan Timoty; Bajari, Atwar; Mirawati, Ira
KOMUNIKOLOGI: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 21, No 01 (2024): Komunikologi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/jkomu.v21i01.814

Abstract

Maraknya penggunaan media sosial Instagram di era ini banyak dimanfaatkan oleh berbagai pihak, termasuk institusi keagamaan seperti GerejaPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh konten instagram @jpcc terhadap minat followers @jpcc dalam menghadiri kegiatan kerohanian di Gereja JPCC dengan Teori Elaboration Likelihood Model. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 sampel penelitian secara online dalam bentuk Google Form. Kemudian analisis data dilakukan menggunakan analisis deskripsi dan analisis inferensial dengan bantuan IBM SPSS Statistic 29. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konten Instagram @jpcc, meliputi kualitas pesan, daya tarik gambar, dan kredibilitas sumber dari berbagai konten-konten yang ada di laman Instagram @jpcc, terbukti berpengaruh secara signifikan, baik secara simultan maupun parsial, terhadap minat followers dalam menghadiri kegiatan kerohanian di gereja JPCC.
Studi Etnografi Virtual: Konstruksi Identitas Virtual Anggota Subkultur Humor Mencela Diri Di Tiktok Widiastuti, Anindita; Bajari, Atwar; Mirawati, Ira
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 7, No 2 (2023): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Maret)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v7i2.4754

Abstract

Islamic Business Law is a legal dimension in business activities that is based on Within the subculture of self-deprecating humor on TikTok, users are self-deprecating in the videos they upload or the comments they post on related videos. The self-deprecation that users do on TikTok encourages users to pay more attention to the virtual identity they want to show to other TikTok users. Therefore, this study aims to understand how TikTok users as members of the self-deprecating humor subculture construct their virtual identities on TikTok. In order to understand the members of a subculture and the culture exchanged between members of the subculture in depth, this qualitative research uses a virtual ethnography method to observe subcultures of self-deprecating humor on TikTok for six months. This research finds out how members of a subculture can construct their virtual identity through profile sections and through the language used in interactions with members of other subcultures. In general, members of subcultures construct their virtual identities with the aim of disguising their real identities. At the same time, members can construct virtual identities that can reflect on themselves. Over time, members of the subculture adapt the virtual identities they construct taking into account the language and culture that prevails within the subculture of self-deprecating humor on TikTok. The freedom of members of subcultures to self-deprecate is achieved because of the freedom of virtual identity formation allowed by TikTok.