Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

MEMBANGUN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN DALAM LINGKUNGAN KELUARGA DAN MASYARAKAT Marasabessy, Abd. Chaidir; Kartasasmita, Saepudin; Prastini, Endang
Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 1 (2023): Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/abdilaksana.v4i1.28367

Abstract

Pendidikan lingkungan hidup mempunyai peran yang sangat stragis dalam membentuk manusia yang peduli terhadap lingkungannya sehingga dapat meminimalisasi resiko kerusakan lingkungan. Kegiatan Pengabdian ini dengan tujuan untuk memberikan pemahaman secara komprehensif kepada masyarakat tentang penting membangun karakter peduli lingkungan. Pendekatan yang digunakan pada kegiatan pengabdian yaitu penyuluhan (ceramah dan tanya tanya jawab). Melalui kegiatan pengabdian ini, mitra telah memahami dan menyadari bahwa membangun karakter peduli terhadap lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat menjadi hal yang sangat penting guna menjaga lingkungan dari berbagai kerusakan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh peserta memberikan penilaian pada skala 3 (puas) dan skala 4 (sangat puas). Dari jumlah seluruh peserta yang mengikuti kegiatan penyuluhan/sosialisasi, yang berjumlah 35 warga desa dan 4 perangkat desa Purasari Kecamatan Leuwiliang Bogor, tercatat bahwa peserta yang memberikan penilaian pada skala 3 (puas) sebanyak 11 peserta, dan penilaian pada skala 4 (sangat puas) sebanyak 24 peserta. Artinya dari ke-tujuh indikator (pernyataan) yang dicantumkan dalam kuesioner tersebut, peserta memberikan penilaian pada skala 4 atau “sangat puas” sehinga dapat disimpulkan bahwa 100 persen peserta telah memahami materi yang diberikan oleh tim pengabdian.Kata Kunci : Karakter, Peduli, Lingkungan
TANGKAL BULLYING DENGAN MENGUATKAN KEARIFAN LOKAL DALAM PEMBELAJARAN DI SMK DAARUN NI’MAH BOJONGSARI DEPOK Marasabessy, Abd. Chaidir; Amrizal Siagian; Herdi Wisman Jaya; Rustandi, Roni
Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2024): Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/abdilaksana.v5i2.39096

Abstract

Pembelajaran berbasis kearifan lokal berorientasi pada mengidentifikasi dan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran; penciptaan iklim pembelajaran berpikir dan bertindak yang diwarnai kearifan; dan mengejawantahkan guru sebagai teladan dalam proses pembelajaran. ke-tiga aksi tersebut dapat menangkal aksi bullying di satuan pendidikan. Aktivitas pengabdian dilaksanakan di SMK Daarun Ni’mah Bojongsari Depok, dengan tujuan; 1) mitra/khalayak mampu mencegah bullying di lingkungan sekolah; 2) mitra/khalayak mampu mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam kegiatan kependidikan (kurikuler, ko-kurikuler, ekstra kurikuler serta manajemen sekolah; 3) Luaran jurnal nasional. Ceramah dan tanya jawab merupakan metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa dari jumlah peserta sebanyak 30 peserta, yang memberikan penilaian pada skala 4 (sangat puas) sebanyak 12 peserta. Sementara 18 peserta memberikan penilaian pada skala 3 (puas), sehingga dapat dikatakan bahwa 100% peserta telah memahami dan dapat mengintegrasikan kearifan lokal dalam proses pembelajaran. Kata Kunci: perundungan, kearifan lokal, pembelajaran
Sanksi Kebiri Terhadap Pelaku Pedophile Ditinjau dari Konstitusi (UUD 1945) dan HAM Marasabessy, Abd. Chaidir; Nurdiyana, Nurdiyana; Hidayat, Arif
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Vol. 10 No. 2 (2023): JURNAL PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Publisher : Prodi PPKn FKIP Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jpkn.v10i2.y2023.p88-97

Abstract

Riset ini berangkat dari dugaan kasus predator seksual yang mencuat di tahun 2021, serta menjadi sorotan publik. Pasalnya tindakan yang dilakukan oknum dapat dikatakan sangat biadab dan mencoreng dunia pendidikan. Riset ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk sanksi kebiri terdahap pelaku pedofil dan penerapan sanksi kebiri ditinjau dari UUD 1945 dan HAM. Jenis penelitian adalah hukum normatif. Pengumpulan bahan hukum melalui studi dokumen. Data dianalisis secara normatif kualitatif. Pendekatan penelitian yakni perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Kesimpulan bahwa; 1) kebiri merupakan suatu cara sterilisasi atau injeksi obat khusus dengan maksud menurunkan atau menghilangkan kinerja seksual pelaku. Dalam proses kebiri biasanya dilakukan dengan 2 (dua) metode yaitu dengan cara kebiri kimiawi dan operasi atau bedah; 2) Sanksi kebiri bertentangan hukum dasar tertinggi Negara (UUD 1945) dan tidak sejalan dengan komitmen Negara dalam penegakkan, perlindungan hak-hak asasi warga negaranya.Kata kunci: Kebiri; pedofil; konstitusi; HAM
Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Ditinjau UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) Yulita Pujilestari; Amelia haryanti; Sri Utami Ningsih; Abd. Chaidir Marasabessy
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan
Publisher : Prodi PPKn FKIP Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jurnalpkn.v11i2.44407

Abstract

Kekerasan yang terjadi lebih dominan kepada kekerasan dalam bentuk fisik. Faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah masalah keuangan dan salah paham. Kemudian baru masalah orang tua, masalah saudara dan selanjutnya anggapan bahwa suami melakukan tindak kekerasan karena diluar kesadaran serta permasalahan yang terjadi adalah aib bagi keluarga sehingga tidak ada korban yang melapor dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dilakukan secara terus menerus. Masalah keuangan merupakan suatu permasalahan yang selalu timbul dalam rumah tangga, terutama bagi keluarga dengan penghasilan yang tidak dapat mencukupi kehidupan sehari-hari. Selain itu bagi keluarga yang sudah mempunyai anak, masalah anak juga dapat menjadi penyebab pertengkaran suami dan istri. Tindak kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di kalangan masyarakat memiliki berbagai macam bentuk. Secara psikis kekerasan dalam rumah tangga sebagai perwujudan ekspresi ledakan emosional bertahap yang berawal dari kekerasan psikis, mulai dari sikap dan perilak yang tidak dikehendaki, maupun lontaran-lontaran ucapan yang menyakitkan dan ditujukan pada istri. Metode Penelitian yang di gunakan adalah Pendekatan hukum normatif dalam penelitian ini adalah pendekatan yang menggunakan asas hukum dengan tujuan untuk memperjelas keadaan sosial yang sebenarnya mengenai permasalahan yang diteliti. Penekanan pada langkah observasi Penelitian yang tidak hanya memanfaatkan peraturan perundang-undangan tetapi juga data primer. Hasil penelitian adalah : Pelaku dapat dikenai pidana penjara dan/atau denda, sesuai dengan berat ringannya perbuatan menurut UU No. 23 Tahun 2004 yang menetapkan berbagai bentuk sanksi pidana terhadap pelaku KDRT, bergantung pada jenis kekerasan yang dilakukan, Adanya Pengaturan dalam pasal-pasal yang menjamin hak-hak korban untuk memperoleh keamanan, layanan rehabilitasi, dan pemulihan psikologis dimana dalam UU PKDRT tidak hanya mengatur sanksi terhadap pelaku, tetapi juga memberikan perlindungan kepada korban melalui mekanisme seperti pemberian surat perintah perlindungan, pengaturan hak pengasuhan anak, dan perawatan medis serta psikologis. Kata Kunci: Sanksi Pidana ; Tindak Pidana ; Kekerasan
Pancasila sebagai Etika Politik Di Era Pasca-Kebenaran Wahidin*, Darto; Marasabessy, Abd. Chaidir
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 9, No 3 (2024): Agustus, Education, Social Issue and History Education.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v9i3.31923

Abstract

Pancasila sebagai dasar negara merupakan sumber dari segala norma, baik norma hukum, norma moral, ataupun norma kenegaraan lainnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila ini dijabarkan dalam norma-norma moralitas atau norma etika. Sehingga, Pancasila dijadikan sebagai sistem etika yang mengandung norma moral ataupun norma hukum yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila sebagai sistem etika memiliki tujuan untuk menciptakan sistem politik yang sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Sedangkan, dinamika kehidupan demokrasi masyarakat Indonesia telah memasuki babak baru yang dikenal dengan era pasca kebenaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam Pancasila sebagai etika politik di era pasca kebenaran yang dilihat dari hakikat dan konsepsi Pancasila sebagai etika politik di era pasca kebenaran, peran generasi muda dalam mendukung pentingnya Pancasila sebagai etika politik di era pasca kebenaran, tantangan Pancasila sebagai etika politik di era pasca kebenaran, dan penerapan Pancasila sebagai etika di era pasca kebenaran. Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan dan refleksi pada pandangan filosofis dalam suatu fenomena kebudayaan. Proses analisis data dilakukan pada saat, selama maupun setelah proses pengumpulan data kepustakaan. Unsur-unsur metodis yang dilaksanakan dalam menganalisis data yaitu: (a) interpretasi dengan memahami konsep filosofis dari Pancasila, etika politik, dan pasca kebenaran (
Peran Pendidikan Karakter dalam Menciptakan Sikap Peduli Lingkungan Siswa di SMP PGRI 35 Serpong Pujilestari, Yulita; Mulyana, Ahmad Nana Mahmur; Marasabessy, Abd. Chaidir; Azzahra, Isnaini Septa; Puteri, Ajeng Helmatasya; Sari, Ayudhiya Permata; Rahmayanti, Hilda
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2024): Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : CV. Kurnia Grup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61476/7gaqf173

Abstract

This socialization is motivated by the importance of shaping the character of environmental care. Environmental care character is an effort to instill a sense of care for the environment. The character of caring for the environment is needed by everyone because by protecting the environment and caring for the environment will cause the environment to feel comfortable, avoid disease and prevent environmental damage. The school environment is the foremost educational institution in developing character education. Through school, the processes of forming and developing student character are easily seen and measured. Teachers need to teach character education at school to students because not all students get character education at home, one type of character education that needs to be applied at school is the character of caring for the environment. Seeing the importance of the character of environmental care is very necessary to be instilled early on to students starting from elementary school and junior high school. Teachers play a very important role in shaping character at school because the process of student interaction at school happens a lot with teachers, teachers are figures who are digugu and imitated by students. So the purpose of this study is to examine more deeply how the role of teachers in shaping students' environmental care character, supporting and inhibiting factors for the role of teachers in shaping students' environmental care character.
The Influence of Transformational Leadership and OCB on Teachers' Professional Commitment in Early Childhood Education Institutions in Serpong, Indonesia Yulita Pujilestari; Abd. Chaidir Marasabessy; Ichwani Siti Utami
Tarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan Vol 11 No 02 (2025): August 2025
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tarbawi.v11i02.11338

Abstract

This study aims to analyze the influence of transformational leadership and organizational citizenship behavior on teachers' professional commitment. The research method uses quantitative research with survey techniques. A total of 75 teachers spread across 23 active Early Childhood Education institutions in Serpong District, South Tangerang City. Sampling using total sampling technique and data collection using closed questionnaires that have been tested for validity and reliability, covering three main variables, namely transformational leadership, organizational citizenship behavior, and teachers' professional commitment. Data analysis using multiple linear regression. The research findings show that transformational leadership and organizational citizenship behavior simultaneously have a significant and positive effect on teachers' professional commitment. The analysis model shows very high explanatory power, with an R² value of 0.996, indicating that the two independent variables can explain 99.6% of the variation in the professional commitment variable. No multicollinearity problems were found, so the regression model is declared valid. These findings underline the important role of transformational leadership and organizational citizenship behavior in increasing teachers' commitment to early childhood education, providing strategic implications for the development of leadership and organizational culture in educational environments.
Edukasi Anti-Korupsi Sejak Dini: Menumbuhkan Kesadaran Di Kalangan Generasi Muda Marasabessy, Abd. Chaidir; Siagian, Amrizal; Robian, Abi; Aprilia Wulandari, Nur; Mega Cantika, Shella
Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 1 (2026): Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/abdilaksana.v7i1.55877

Abstract

Pengembangan budaya anti-korupsi dengan membangun budaya jujur dan berintegritas sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat luas sangat dibutuhkan. Kegiatan pengabdian ini bermaksud mengembangkan karakter jujur, melalui serangkaian kegiatan interaktif seperti simulasi, diskusi kelompok, dan permainan edukatif, dengan tujuan agar nilai-nilai ini tidak hanya dipahami secara teoretis, tetapi juga diinternalisasi dan dipraktikkan; Menanamkan pemahaman bahwa kejujuran dan integritas adalah fondasi penting dalam membangun identitas nasional yang kuat dan bermartabat; dan memberdayakan generasi muda untuk menjadi "duta anti-korupsi" atau agen perubahan di lingkungan pendidikan dan keluarga mereka. Kegiatan dilakukan dengan ceramah/sosialisasi, simulasi/role playing, dan diskusi (tanyajawab). Metode ini dirancang untuk menciptakan siklus yang terstruktur, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang terukur. Hasil evaluasi menunjukan bahwa berdasarkan analisis perbandingan antara nilai rata-rata pre-test dan post-test yang dilakukan pada 50 peserta, didapati adanya peningkatan skor rata-rata sebesar 25%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa metode dan materi yang disampaikan efektif dalam mentransfer pengetahuan dasar tentang korupsi. Hasil kuesioner perubahan sikap menunjukkan bahwa 85% peserta termotivasi untuk berperilaku jujur dan bertanggung jawab setelah mengikuti kegiatan. Dari total peserta, sebanyak 10 peserta terpilih sebagai "Duta Anti-Korupsi Sekolah". Selain itu, video dan poster kampanye hasil karya siswa juga menjadi luaran yang dapat digunakan sebagai alat diseminasi efektif di media sosial.
The Meaning and Value of Kia Lahi Traditional Rituals in the Tidore Community Abd. Chaidir Marasabessy
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 4, No 1 (2025)
Publisher : Yayasan Keluarga Guru Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46843/jpm.v4i1.357

Abstract

The Kia Lahi ritual tradition is not merely a union of two individuals; it embodies the cultural, spiritual, and social values passed down from ancestors. This study describes the process of the Kia Lahi ritual and analyzes the meanings and values inherent within it. A phenomenological approach is employed, utilizing interviews as a data collection technique, supplemented by a review of relevant literature. Data analysis involves classifying information according to established formulas. The data is processed by referencing various sources, interpreting findings, and drawing conclusions to comprehend the meanings and values within the Kia Lahi ritual. The Kia Lahi ritual of the Tidore people consists of 17 stages. This ritual signifies kinship, respect, purity, reverence, and devotion to one's faith. Additionally, it conveys the concept of "borero gosimo" (ancestral messages), emphasizing the enforcement of "adat se-atorang" (customs and regulations) that adhere to the principle of "adat bersendi pada syariat Islam, and syariat Islam bersendi Al-Qur'an" (customs grounded in Islamic law, and Islamic law grounded in the Qur'an). The Kia Lahi ritual is not merely a ceremonial practice repeated since ancient times; it plays a significant role in shaping social values and serves as a medium for religious outreach.
Pacagoya Ritual Tradition as a Manifestation of Pancasila Values Character in Protecting the Natural Environment Abd. Chaidir Marasabessy; Darto Wahidin; Setiawati Setiawati; Much. Hidayah Marasabessy
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 10 No. 1 (2025): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v10i1.5831

Abstract

Pacagoya is imbued with symbols, meanings, and values. This qualitative phenomenological study investigates the significance of rituals within Kalaodis village, serving as a manifestation of Pancasila values that advocate for the protection of the natural environment. The research utilized a combination of interview data gathered from customary officials, as well as scientific journals, books, and pertinent documents. Value theory was employed for the analysis, leading to the reduction, presentation, and synthesis of data to uncover the meanings and values inherent in the rituals. The findings indicate that Pacagoya embodies ethical values through the principle of Bobeto, which serves as a guiding framework, reminding individuals of the importance of not acting arrogantly toward nature. This principle is further exemplified by the concept of Legu dou. Bobeto, which represents customary norms, expresses aspects of global diversity, whereas Marong reflects the spirit of mutual cooperation in the management of agricultural land. Pacagoya integrates the relationships between humans, nature, and the Creator, symbolizing a harmonious balance that aligns with the First Principle of Pancasila. Furthermore, the interactions among individuals, alongside their civic responsibilities to manage and protect their environment—particularly forests—underscore the values associated with the Second Principle of Pancasila. In this context, Bobeto exemplifies the responsiveness of the customary community and plays a vital role in social supervision, reflecting the Third Principle of Pancasila. The norms embodied in Bobeto are binding for the people of Tidore, illustrating the values inherent in the Fourth Principle of Pancasila by fostering awareness and accountability in decision-making processes concerning environmental protection. Additionally, Bobeto functions as a mechanism of self-regulation, promoting equilibrium between rights and responsibilities. Equitable treatment of the natural environment contributes to the welfare of the community, aligning with the values of the Fifth Principle of Pancasila. The mandate of Bobeto serves as a representation of prudent behavior, actualized in contemporary practices through the Pacagoya tradition, which conveys essential moral messages regarding environmental stewardship. This study offers significant theoretical and practical contributions by emphasizing the values of Bobeto and Marong within the context of the Pacagoya ritual, thereby highlighting the necessity of integrating these values into various dimensions of life, particularly in the development of social values and the enhancement of the Pancasila Student Profile.