Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Prevalensi Kematian Neonatal dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di RSUD Praya Lombok Tengah Utami, Sugiarti Rizki; Benvenuto, Ananta Fittonia; Wanadiatri, Halia; Prajitno, Sugianto
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i6.14511

Abstract

ABSTRACT LBW is a baby born weighing  ≤ 2500 grams. Babies with LBW have a greater risk of experiencing morbidity and mortality. LBW is one of the main causes of neonatal death. Neonatal conditions are conditions that are most vulnerable to death because the baby's immune system is still low. Neonatal death is death that can occur in babies aged 0-28 days but is not caused by an accident, disaster, injury or suicide. To determine the prevalence of LBW with neonatal deaths at Praya Regional Hospital, Central Lombok in 2020. This research is an observational quantitative analytic study with a cross sectional research design. The sampling technique used is purposive sampling technique with a total sample of 219 respondents. The data studied were analyzed using the SPSS program. The results of the analysis show that the data obtained from 219 respondents showed that the number of males was 89 (40.6%) and 130 (59.4%) females. For the number of LBW classifications, there are 124 (56.6%) BBLR, 86 (39.3%) BBLSR and 9 (4.1%) BBLER. The number of neonates who died was 48 (21.9%) and 171 (78.1%) who did not die. The causes of LBW were asphyxia as many as 42 (19.18%), hypothermia 63 (28.77%), sepsis 79 (36.07%) and prematurity 35 (15.98). Conclusion: Data obtained from 219 respondents showed that the largest number of genders were women with 130 (59.4%) respondents, the highest number of respondents who gave birth to low birth weight babies were in the LBW category at 124 (56.6%), the number 48 respondents died (21.9%) and the most common cause of LBW was sepsis/infection, 79 (36.07%). Keywords: Neonatal Death, LBW  ABSTRAK BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat ≤ 2500 gram. Bayi dengan BBLR mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami morbiditas dan mortalitas. BBLR menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kematian neonatal. Kondisi neonatal merupakan kondisi yang paling rentan terhadap kematian karena daya tahan tubuh bayi yang masih rendah. Kematian neonatal adalah kematian yang dapat terjadi pada bayi usia 0-28 hari namun bukan disebabkan oleh suatu kecelakaan, bencana, cedera ataupun bunuh diri. Untuk mengetahui prevalensi kematian neonatal dengan BBLR di RSUD Praya Lombok Tengah Tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian jenis kuantitatif analitik observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak  219 responden. Data yang diteliti dianalisis menggunakan program SPSS. Hasil analisis menunjukan bahwa data yang diperoleh dari 219 responden didapatkan jumlah jenis kelamin laki-laki sebanyak 89 (40,6%) dan perempuan sebanyak 130 (59,4%). Untuk jumlah dari klasifikasi BBLR terdapat kategori BBLR 124 (56,6%), BBLSR 86 (39,3%) dan BBLER 9 (4,1%). Untuk jumlah neonatal yang meninggal sebanyak 48 (21,9%) dan tidak meninggal sebanyak 171 (78,1%). Untuk penyebab BBLR karena asfiksia sebanyak 42 (19,18%), hipotermi 63 (28,77%), sepsis 79 (36,07%) dan prematuritas 35 (15,98). Data yang diperoleh dari 219 responden didapatkan bahwa jumlah jenis kelamin yang terbanyak yaitu perempuan dengan jumlah 130 (59,4%) responden, jumlah responden yang melahirkan bayi berat lahir rendah paling banyak terdapat pada kategori BBLR sebanyak 124 (56,6%), jumlah responden yang meninggal sebanyak 48 (21,9%) dan penyebab BBLR paling banyak terjadi karena sepsis/infeksi sebanyak 79 (36,07%).  Kata Kunci: Kematian Neonatal, BBLR
Hubungan Hygiene Sanitasi Pelaku Industri Rumahan Terhadap Cemaran Eschericia Coli pada Tahu Khas Lombok Arrahman, Aldimas Auli; Musyarrafah, Musyarrafah; Hidayati, Diani Sri; Wanadiatri, Halia
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i11.11357

Abstract

ABSTRACT Contamination of food by microorganism agents is a worldwide health problem. Food is a good intermediary agent for these bacteria to develop. Factors that influence the occurrence of food contamination, namely poor personal hygiene, unhealthy food handling methods and unclean food processing. Poor sanitation can be a cause for the emergence of Escherichia coli bacteria, causing bad smell, sour taste, and mucus in tofu production. If consumed, tofu contaminated with Escherichia coli bacteria can cause digestive ailments, such as diarrhea. The purpose of this research is to determine the relationship between sanitation hygiene and Eschericia coli bacteria contamination in tofu home industries in Abian Badan Village, Sandubaya District, Mataram City, NTB. This research is an analytic survey research with a cross-sectional approach. Laboratory examination using conventional methods of microbiological testing using EMB media. The weighed samples were mixed using 225 ml of distilled water and then diluted 5 times for each sample. The sample data obtained was then analyzed using SPSS version 23. The results of the study were obtained from 15 respondents, most of the samples had good sanitation hygiene including 11 respondents (73.3%) who had personal hygiene for tofu production houses with good criteria, 12 respondents (80%) who had sanitation processing facilities with good criteria and 10 respondents (66.66%) who had food sanitation with good criteria. There is a significant relationship between sanitary hygiene and Eschericia coli bacteria contamination in tofu home industries in Abianbuh Village, Sandubaya District, Mataram City, NTB. Keywords: Hygiene, Sanitation, Tofu, Eschericia Coli.  ABSTRAK Kontaminasi makanan oleh agen mikroorganisme merupakan masalah kesehatan dunia. Makanan adalah perantara yang baik bagi bakteri ini untuk berkembang. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kontaminasi makanan yaitu higiene perorangan yang kurang baik, cara penanganan makanan yang tidak sehat dan pengolahan makanan yang tidak bersih. Sanitasi yang buruk dapat menjadi penyebab munculnya bakteri Escherichia coli, menyebabkan bau tidak sedap, rasa asam, dan lendir pada produksi tahu. Jika dikonsumsi, tahu yang terkontaminasi bakteri Escherichia coli dapat menyebabkan penyakit pencernaan, seperti diare. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan higiene sanitasi dengan cemaran bakteri Eschericia coli pada industri rumah tangga tahu di Desa Abian Badan Kecamatan Sandubaya Kota Mataram NTB. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Pemeriksaan laboratorium menggunakan metode konvensional yaitu pengujian mikrobiologi menggunakan media EMB. Sampel yang telah ditimbang dicampur dengan menggunakan 225 ml akuades kemudian diencerkan sebanyak 5 kali untuk masing-masing sampel. Data sampel yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan program SPSS versi 23. Hasil penelitian diperoleh dari 15 responden, sebagian besar sampel memiliki higiene sanitasi yang baik diantaranya 11 responden (73,3%) yang memiliki higiene perorangan rumah produksi tahu dengan kriteria baik. Sanitasi sarana pengolahan makanan dengan kriteria baik sebanyak 12 responden (80%) dan sanitasi makanan dengan kriteria baik sebanyak 10 responden (66,66%). Ada hubungan yang signifikan antara higiene sanitasi dengan cemaran bakteri Eschericia coli pada industri rumah tangga tahu di Desa Abianbuh Kecamatan Sandubaya Kota Mataram NTB. Kata Kunci: Kebersihan, Sanitasi, Tahu, Eschericia Coli.
Effectiveness of Antioxidant Compounds in Swallow's Nest from Lombok Juniawan, Alvin; Andini, Arista Suci; Wanadiatri, Halia
Hydrogen: Jurnal Kependidikan Kimia Vol. 12 No. 5 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/hjkk.v12i5.13169

Abstract

This study investigated the antioxidant activity of swallow nests known as Edible Bird Nests (EBNs) derived from the swallow species Collocalia linchi, especially those sourced from Lombok, Indonesia with various health benefits, including their potential as antioxidants. This study used swallow nest samples taken from 3 different locations, namely: East Lombok, Central Lombok and West Lombok. The extraction method used is heating and sonication. Antioxidant activity was assessed quantitatively using the DPPH method and measured by UV-Vis spectrophotometry. Results showed varying IC50 values across different extraction times, with the highest values recorded at 3818.47 mg/mL and the lowest at 2331.47 mg/mL, compared to the control (ascorbic acid) at 35.22 mg/mL. The higher the IC50 value, the lower the effectiveness of antioxidants and vice versa. These findings suggest that the antioxidant activity of EBNs extracts is relatively weak when compared to ascorbic acid. This study contributes to the understanding of optimized extraction techniques by heating and sonication to unlock the full potential of the extraction results of bioactive compounds.
HUBUNGAN PENDIDIKAN IBU, PENDAPATAN ORANG TUA, TINGGI BADAN ORANG TUA, DAN POLA PEMBERIAN MAKAN DENGAN KASUS STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANAK BEAK Roro Wulansari Setyoningrum; Artha Budi Susila Duarsa; Halia Wanadiatri; Sabrina Intan Zoraya
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/ne0c4p03

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi salah satu target dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), prevalensi stunting mencapai 32,7%, menempatkannya pada peringkat keempat berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia. Faktor risiko stunting terbagi menjadi dua kategori utama yaitu faktor internal, meliputi tingkat pendidikan ibu, kelainan endokrin, tinggi badan orang tua, berat badan lahir, dan jenis kelamin anak. Faktor eksternal, mencakup jarak kelahiran, riwayat imunisasi, pemberian ASI eksklusif, pendapatan orang tua, dan pola pemberian makan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan ibu, pendapatan orang tua, tinggi badan orang tua, dan pola pemberian makan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanak Beak, Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 101 responden, yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Uji statistik yang digunakan dalam analisis data adalah chi-square. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting (p-value = 0,001). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan orang tua dengan kejadian stunting (p-value = 0,267). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tinggi badan ayah dengan kejadian stunting (p-value = 0,584). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting (p-value = 0,075). Terdapat hubungan yang signifikan antara pola pemberian makan dengan kejadian stunting (p-value = 0,001). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu dan pola pemberian makan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting. Namun, pendapatan orang tua, tinggi badan ayah, dan tinggi badan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tanak Beak.
ANALISIS KEPATUHAN TERAPI, DUKUNGAN KELUARGA, DAN STATUS EKONOMI SEBAGAI PREDIKTOR KEKAMBUHAN SKIZOFRENIA Nurul Anggun Safitri; Yolly Dahlia; Sulatun Hidayati; Halia Wanadiatri
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/gwqcwk26

Abstract

Skizofrenia adalah gangguan otak yang menimbulkan kelainan pada cara berpikir, persepsi, emosi, gerak, dan perilaku, salah satunya kecenderungan bertindak agresif yang paling sering tampak melalui kemarahan. Peningkatan angka kejadian skizofrenia sebagian disebabkan oleh berbagai hambatan dalam upaya pengobatan penderita. Faktor-faktor yang dapat memicu kekambuhan meliputi ketidakpatuhan terhadap terapi obat, minimnya dukungan keluarga, tekanan ekonomi, serta masalah hidup yang berat sehingga menimbulkan stres. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik observasional dengan rancangan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling di Poliklinik Psikiatri Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma NTB pada periode 16 November hingga 6 Desember 2023, dengan total 80 responden. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Chi-Square. Hasil menunjukkan bahwa 60 responden (75%) mengalami kekambuhan skizofrenia dalam kategori sedang, 37 responden (46,3%) memiliki tingkat kepatuhan minum obat sedang, 69 responden (86,3%) mendapat dukungan keluarga yang baik, dan 41 responden (51,2%) berstatus ekonomi keluarga di bawah UMP. Terdapat hubungan bermakna antara kepatuhan minum obat dan kekambuhan skizofrenia (p = 0,001; p < 0,005), dukungan keluarga dengan kekambuhan (p = 0,000; p < 0,005), serta status ekonomi keluarga dengan kekambuhan (p = 0,049; p < 0,005). Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kepatuhan minum obat, kualitas dukungan keluarga, dan kondisi ekonomi keluarga berhubungan signifikan dengan risiko kekambuhan skizofrenia.
Antibacterial Effectiveness Test of Combination Ethanol Extract of Rosella Flowers (Hibiscus Sabdariffa) and Green Betel Leaves (Piper betle L) on Growth Escherichia coli Pradivtha, I Wayan Anantha; Wanadiatri, Halia; Rusmiatik, Rusmiatik; Lestari, Novianti Anggie
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.11562

Abstract

Infections from bacteria like Escherichia coli continue to be a major health issue, especially because of the rising rates of antibiotic resistance. This situation emphasizes the necessity for creating different antibacterial solutions that come from natural sources. The Roselle flower (Hibiscus sabdariffa L.) and the green betel leaf (Piper betle L.) are recognized for having several secondary compounds that may have antibacterial properties. This study aimed to determine the antibacterial effectiveness of a combination of ethanol extracts of roselle flower and green betel leaf against the growth of Escherichia coli. This study was an experimental laboratory study using a post-test only control group design. Ethanol extractions from the roselle flower and green betel leaf were assessed separately at a concentration of 100% and together at a ratio of 50%:50%. The antibacterial properties were examined using the disk diffusion technique. Ciprofloxacin was utilized as a positive control, and 10% Dimethyl Sulfoxide acted as a negative control. The findings indicated that the 100% ethanol extract of the roselle flower yielded an average inhibition zone diameter of 19.6 mm, whereas the 100% ethanol extract of the green betel leaf resulted in an average inhibition zone diameter of 29.4 mm. The combined extract at a 50%:50% ratio showed an average inhibition zone diameter of 25.2 mm. Thus, it can be concluded that the mixture of ethanol extracts from the roselle flower and green betel leaf demonstrates significant antibacterial effects against Escherichia coli, although it remains less effective than the green betel leaf extract alone.
METABOLISME OBAT PADA PENYAKIT KARDIOVASKULER Wanadiatri, Halia
JURNAL KEDOKTERAN Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.741 KB) | DOI: 10.36679/kedokteran.v4i2.99

Abstract

Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian terbanyak di dunia, sekitar 30% menyebabkan kematian. Obat-obatan kardiovaskular menunjukkan prevalensi terbanyak dalam kategori farmakologi di polypharmacy cohort dan menduduki 20 besar obat-obatan yang sering diresepkan di US (antiplatelet, statin, β-blockes, dan renin-angiotensin system inhibitors). Polifarmasi dengan obat-obatan ini meningkatkan resiko interaksi obat dan efek samping obat. Faktanya, obat-obatan kardiovaskular sering menyebabkan efek samping pada pasien dengan usia lanjut. Farmakokinetik dan farmakodinamik obat-obatan kardiovaskular bisa berubah karena penyakit kardiovaskular itu sendiri. Perubahan fisiologis juga memegang peranan penting, terutama umur. Sebagai contoh, perubahan farmakokinetik yang tampak pada pasien orang tua: berkurangnya fungsi ginjal, metabolisme hati, berkurangnya ikatan protein, meningkatnya lemak tubuh, dan sedikitnya sel reseptor target yang bisa dikaitkan.
Advanced Glycation End-Product (AGEs)Level in a Diabetic Rat Model Treated with Warfarin Anticoagulant Musyarrafah; Halia Wanadiatri; I G.A. Adnyana
MEDULA: Jurnal Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo Vol. 11 No. 1 (2023): Akhir
Publisher : MEDULA: Jurnal Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a chronic disease that is the most seriously cause of macrovascular and microvascular complications that threaten life , expensive and reduces life expectancy. The occurence of cell damage and inflammation due to AGEs and RAGE reactions generally exacerbates the risk of macrovascular complications . Pharmacological therapy given to prevent these complications is the warfarin anticoagulant . the duration of warfarin use can increase the hardening of blood vessels or vascular calcification and is compounded by AGEs accumulation and RAGE activation. Objective: To analyze plasma AGE levels as a risk factor for vascular calcification in DM and non-DM rats models treated with warfarin anticoagulants. Method: This study used a Quasi experimental method with a posttest only control group design. The total sample was 28 samples divided into 4 groups, each group consisting of 7 rats grouped into DM + Aquadest group, DM + Warfarin group, non-DM + Aquadest group , and non-DM + Warfarin group. Plasma AGE levels were measured using the ELISA method and the results were analyzed using Anova. Results: AGE Level in the DM + Warfarin group (Mean= 1.183; SD=0.16) was slightly high than AGE level in normal rat group with Warfarin induction (Mean=1,012; SD=0,02). In the normal rat group treated with Aquadest was slightly low than AGE level in the DM rat group with warfarin induction (Mean=1.147; SD=0.13). Interestingly, There was no difference in plasma AGE levels between groups (p=0,155). Conclusion: AGE levels at the onset of DM are not yet able to progressively activate vascular damage through the AGE/RAGE signaling pathway.
Hubungan Tingkat Pengetahuan, Riwayat Pengobatan, dan Aksesibilitas Antibiotik Terhadap Perilaku Swamedikasi Antibiotik pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Dewi, Ida Ayu Putri Liana; Wanadiatri, Halia; Andriana, Ana; Imam, Lalu Yogi Prasetio
Empiricism Journal Vol. 7 No. 1: March 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v7i1.4311

Abstract

Swamedikasi antibiotik merupakan salah satu penyebab meningkatnya resistensi antimikroba secara global. Mahasiswa kedokteran memiliki dasar pengetahuan farmakologi, praktik penggunaan antibiotik yang tidak rasional masih dapat terjadi akibat kemudahan akses dan kepercayaan diri berlebih dalam melakukan diagnosis mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi swamedikasi antibiotik, karakteristik responden, jenis antibiotik yang dikonsumsi serta hubungan tingkat pengetahuan, riwayat pengobatan, dan aksesibilitas antibiotik dengan perilaku swamedikasi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar. Penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan desain potong lintang pada September 2025 melibatkan 84 mahasiswa dari angkatan 2022–2024 yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan uji Chi-square (α = 0,05). Sebanyak 39 responden (46,4%) memiliki riwayat swamedikasi antibiotik dalam tiga tahun terakhir, dengan amoksisilin sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan (69,5%). Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (72,6%) dan perilaku swamedikasi yang baik (66,7%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan (p < 0,001) dan aksesibilitas antibiotik (p = 0,002; PR = 2,75; 95% CI: 1,6–4,7) dengan perilaku swamedikasi antibiotik. Namun, riwayat pengobatan tidak berhubungan signifikan dengan perilaku swamedikasi (p = 0,260). Pengetahuan yang tinggi dan keterbatasan akses antibiotik berperan dalam mendorong perilaku swamedikasi yang lebih rasional. The Association of Knowledge Level, Treatment History, and Antibiotic Accessibility with Antibiotic Self-Medication Behavior among Medical Students at the Faculty of Medicine, Universitas Islam Al-Azhar Abstract Antibiotic self-medication is one of the contributors to the global increase in antimicrobial resistance. Although medical students have a basic understanding of pharmacology, irrational antibiotic use may still occur due to easy access to antibiotics and excessive confidence in making self-diagnoses. This study aimed to determine the prevalence of antibiotic self-medication, respondent characteristics, types of antibiotics used, and the association between knowledge level, treatment history, and antibiotic accessibility with self-medication behavior among students of the Faculty of Medicine, Universitas Islam Al-Azhar. This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach in September 2025, involving 84 students from the 2022–2024 cohorts selected through proportionate stratified random sampling. Data were collected using an online questionnaire and analyzed using the Chi-square test (α = 0.05). A total of 39 respondents (46.4%) had a history of antibiotic self-medication within the previous three years, with amoxicillin being the most commonly used antibiotic (69.5%). Most respondents had a good level of knowledge (72.6%) and good self-medication behavior (66.7%). Bivariate analysis showed a significant association between knowledge level (p < 0.001) and antibiotic accessibility (p = 0.002; PR = 2.75; 95% CI: 1.6–4.7) with antibiotic self-medication behavior. However, treatment history was not significantly associated with self-medication behavior (p = 0.260). Higher knowledge and limited access to antibiotics were associated with more rational antibiotic self-medication behavior.