Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Karakteristik Bencana Tanah Longsor Di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Ningsih, Ayu Meita; Handayani, Wiwandari
GEOID Vol. 19 No. 1 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v19i1.1787

Abstract

Kabupaten OKU Selatan merupakan Kabupaten dengan potensi pergerakan tanah longsor paling banyak kedua di Provinsi Sumatera Selatan setelah Kabupaten Lahat yang mana semua kecamatan berpotensi bencana longsor. Kondisi ini semakin rentan karena keberadaan pembangunan jalan raya diantara lereng terjal, tebing dan jurang curam serta bersebelahan langsung dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) maupun danau yang mengakibatkan jalan menjadi lebih mudah mengalami kerusakan. Sehingga dampak tanah longsor tidak hanya mengancam jiwa bagi masyarakat yang melewati jalan tersebut, tetapi juga dapat mempengaruhi produktivitas dan distribusi pertanian serta kunjungan wisatawan. Tujuan dari peneitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik tanah longsor di Kabupaten OKU Selatan. Metode penelitian dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif yang diawali dengan pengamatan pada lingkungan titik longsor, dilanjutkan dengan wawancara secara purposive sampling kepada Kepala Pelasana dan Kepala Seksi Pencegahan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten OKU Selatan. Hasil penelitian menyatakan bahwa zona daerah rawan bencana tanah longsor Kabupaten OKU Selatan dikelompokkan menjadi 3 kondisi yakni zona rawan, zona potensial dan zona stabil dengan 12 karaktersitik zona longsor. Kabupaten OKU Selatan memiliki 3 jenis tanah longsor yakni luncuran sebesar 54%, jatuhan sebesar 33%, dan aliran sebesar 13%. Tipologi longsor tipe B merupakan kondisi paling banyak ditemukan di Kabupaten OKU Selatan karena titik lokasi longsor berada pada daerah penyangga atau kaki perbukitan yang bersebelahan langsung dengan jalan, lahan perkebunan, kawasan permukiman, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) atau danau dengan kelerengan antara 21% - 40% dan ketinggian 500-2000 mdpl. Karaktersitik zona longsor ini sebagai informasi sekaligus pedoman awal bagi Pemerintah dalam mengambil tindakan ataupun keputusan terkait kebijakan, manajemen bencana longsor, pengurangan resiko bencana longsor ataupun penataan ruang berbasis bencana longsor.
Penilaian Status Keberlanjutan E-Ticketing Bus Trans Semarang Mendukung Kota Pintar dengan Pendekatan Multidimensional Scaling Mahida, Masmian; Handayani, Wiwandari
Warta Penelitian Perhubungan Vol. 31 No. 1 (2019): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/warlit.v31i1.977

Abstract

Status Assessment of E-Ticketing Sutainability for Trans Semarang Bus to Support Smart City using Multidimensional Scaling Approaches: One of the public service facilities using IT in the transportation sector is the eticketing of the Trans Semarang Bus. E-ticketing is a cashless bus ticket payment with the aim to facilitate the service process. The implementation of E- ticketing Trans Semarang Bus engine technology sometimes experiences the obstacles due to crowded service conditions, non-conducive network and signals, so the e-ticketing machine is error and unable to quickly detect data balance. The service clerk has not been able to be technically competent to deal with problems that occur suddenly when the e-ticketing machine is in trouble. The aim of conducting research is to assess the sustainability status of e-ticketing Trans Semarang Bus, which is viewed from the dimensions of input, process, and output, in attempt to determine the factors/attributes that influence the sustainability of the e-ticketing Trans Semarang Bus. The research employed descriptive qualitative-quantitative method with Multidimensional Scaling analysis. This research is expected to be an input in the formulation of the smart city development strategy of Semarang City Government, especially in the transportation sector. The results of the research show the sustainability status of e-ticketing Trans Semarang Bus on the good conditions of input dimension because it is supported by an integrated service, device and technology-oriented roadmap; integrated IT system framework in terms of hardware, software and networks; and IT network infrastructure. The sustainability status of e-ticketing Trans Semarang Bus is in good condition in the dimensions of the process which is supported by collaboration and cooperation among stakeholders; operational financing includes IT professionals, operations, maintenance. Meanwhile, the output dimension has a fairly sustainable status. This might be caused by other factors that need to be comprehensively evaluated.Keywords : Sustainability, Bus Trans Semarang, smart city, multidimensional scaling. Salah satu fasilitas layanan publik yang menggunakan IT di sektor transportasi adalah e-ticketing Bus Trans Semarang. Eticketing merupakan pembayaran tiket bus cashless yang bertujuan untuk mempermudah proses pelayanan. Penerapan teknologi mesin e-ticketing Bus Trans Semarang terkadang mengalami kendala akibat kondisi pelayanan yang ramai serta jaringan dan sinyal yang tidak kondusif, sehingga mesin e-ticketing menjadi error sehingga tidak mampu mendeteksi data saldo dengan cepat. Secara kompetensi teknis, petugas pelayanan belum mampu mengatasi permasalahan yang terjadi secara tiba-tiba ketika mesin e-ticketing mengalami gangguan (trouble). Tujuan penelitian mengenai penilaian status keberlanjutan e-ticketing Bus Trans Semarang yang ditinjau dari dimensi input, proses, dan output adalah untuk mengetahui faktor/atribut yang berpengaruh terhadap keberlanjutan e-ticketing Bus Trans Semarang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif-kuantitatif dengan analisis Multidimensional Scaling. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam perumusan strategi pengembangan kota pintar Pemerintah Kota Semarang khususnya sektor transportasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan e-ticketing Bus Trans Semarang pada dimensi input dalam kondisi baik karena didukung dengan roadmap terintegrasi yang berorientasi pada service, device, dan teknologi; framework sistem IT yang terintegrasi dari sisi hardware, software, dan jaringan; dan infrastruktur jaringan IT. Status keberlanjutan e-ticketing Bus Trans Semarang pada dimensi proses dalam kondisi baik karena didukung kolaborasi dan kerjasama antar stakeholders; pembiayaan operasional yang mencakup profesional IT, operasi, pemeliharaan, pelatihan, dan konsultan; dan interoperabilitas platform IT pada sisi aplikasi dan service. Sedangkan dimensi output memiliki status cukup berkelanjutan. Hal ini kemungkinan dapat disebabkan oleh faktor lain yang perlu untuk dievaluasi secara komprehensif.Kata kunci :Keberlanjutan, Bus Trans Semarang, Kota Pintar, Multidimensional Scaling. 
Perkembangan Metropolitan Mamminasata: tinjauan kesenjangan aspek sosial-ekonomi dan tata kelola wilayah Yanuar, Muhammad Asyam; Dewi, Retno Sari; Handayani, Wiwandari; Yuwanti, Sri
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 18, No 1 (2023)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v18i1.60006

Abstract

Mamminasata merupakan wilayah metropolitan yang tumbuh sejak tahun 1980an karena perkembangan Kota Makassar dan berdampak hingga ke wilayah sekitarnya. Metropolitan ini membentuk konstelasi dan memegang peran penting dalam pengembangan kewilayahan tidak hanya lingkup Pulau Sulawesi namun bagi Kawasan Timur Indonesia. Namun demikian, kesenjangan mulai muncul terutama antara wilayah inti, yaitu Kota Makassar dengan Kabupaten Maros, Kabupaten Gowa (Sangguminasa) dan Kabupaten Takalar sebagai wilayah pinggiran metropolitan. Dengan menggunakan metode komparasi serta analisis deskriptif kuantitatif yang diperkuat secara kualitatif berdasarkan perspektif wilayah, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kesenjangan antara wilayah inti dan pinggiran pada Metropolitan Mamminasata berdasarkan aspek sosial-ekonomi dan kapasitas tata kelola wilayah. Hasil kajian menegaskan bahwa Kota Makassar sebagai wilayah inti Mamminasata mendominasi pada struktur ekonomi, alokasi investasi, kualitas tenaga kerja, pengeluaran masyarakat, dan kapasitas tata kelola dibandingkan wilayah pinggiran dengan proporsi yang bervariasi. Hal ini membuktikan bahwa wilayah pinggiran hanya sebagai penyuplai aktivitas dan wilayah inti yang belum optimal dalam memberikan spread effect sehingga membutuhkan upaya-upaya lain untuk mengurangi kesenjangan inti-pinggiran yang masih ada.