Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Isolation of gram-negative bacteria from metacarpal injury of Panthera tigris sumatrae trapped in Subulussalam, Indonesia . Darmawi; . Darniati; Zakiah Heryawati Manaf; . Syafruddin; Arman Sayuti
Proceedings of The Annual International Conference, Syiah Kuala University - Life Sciences & Engineering Chapter Vol 1, No 1 (2011): Life Sciences
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.797 KB)

Abstract

The present study aimed to isolate gram-negative bacteria infected metacarpal of Panthera tigris sumatrae trapped in Subulussalam, Aceh Province. Swab sample was obtained from metacarpal injury of P. tigris sumatrae. Swab sample was cultured to nutrient broth media using sterile cotton swabs or Pasteur pipettes, and incubated at 37°C temperature for 24 hours. Culture was spared on MacConkey media and incubated again at 37°C temperature for 24 hours. Determination of bacteria colony growth on the surface of MacConkey media based on shape, colour, surface, size, and viscosity (consistency). The bacteria colony stained with Gram staining, and tested biochemically.  The result showed that gram-negative bacteria such as Citrobacter sp., Proteus sp., Providencia sp., Pseudomonas sp.,and Salmonella sp. isolated from metacarpal injury of P. tigris sumatrae.
STUDI HISTOLOGIS LAMBUNG SAPI ACEH. (Histological Study of Gastric in Aceh Cattle). roza Agravion; Dian Masyitha; Zainuddin Zainuddin; M Jalaluddin; Nazaruddin Nazaruddin; Arman Sayuti
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 3 (2018): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.412 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i3.7819

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang struktur histologi lambung (rumen, retikulum, omasum, dan abomasum) sapi aceh. Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur histologi lambung sapi aceh. Sampel penelitian diambil dari 3 ekor sapi aceh berjenis kelamin jantan, telah dewasa kelamin yang dipotong di Rumah Potong Hewan di Aceh Besar. Terhadap sampel penelitian dilakukan proses mikroteknik untuk selanjutnya dilakukan pewarnaan Hematoksilin-eosin (HE). Pengamatan terhadap struktur histologi menggunakan mikroskop cahaya binokuler. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa struktur histologi lambung sapi aceh tidak berbeda dengan struktur histologi lambung ruminansia lainnya (sapi, domba, dan kambing), yaitu terdiri dari empat lapisan, tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis, dan tunika serosa. Lamina propria rumen menyatu dengan submukosa membentuk propria-submukosa dan terdapatnya kapiler fenestrated dibawah membran basal. Ciri khas dari retikulum sapi aceh terdapat pada lamina muskularis mukosa yang membentuk lipatan memanjang. Tunika mukosa abomasum terdapatnya kelenjar yaitu kelenjar kardia, fundus, dan pilorus.(A Study to detect the microscopic structure of gastric (rumen, reticulum, omasum, and abomasum) in aceh cattle. The purpose of this research was to know the histological structure of the gastric in aceh cattle. The samples were collected from 3 of male aceh cattle in Aceh Besar abattoir. The tissue samples were processed by microtechnique and Hematoksilin-eosin (HE). Microscopic analysis was performed using binocular light microscope. The study showed that the wall of gastric aceh cattle not different with another ruminasia (cow, sheep, and goat), they are made up of four layers, that was tunica mucosa, submucosa, muscularis, and serosa. The mucosa segment there are lamina epithelia, lamina propria, and lamina mucosa muscularis. At rumen, lamina propria merges to submucosa created submucosa-propria and founded fenestrated capiler under epithelium basal membran. The characterstic of reticulum based on mucosa muscularis which is create fold lengthwise. Mucosa of abomasum founded some glands, there are cardiac, fundic, and pyloric). 
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI ENTERIK PADA FESES GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI PUSAT KONSERVASI GAJAH (PKG) SAREE ACEH BESAR fadli amri; Arman Sayuti; Darniati Darniati
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.791 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3298

Abstract

ABSTRAK                Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan jenis bakteri enterik pada feses gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Saree, Aceh Besar. Sampel feses segar dikoleksi pada pagi hari dari 6 ekor gajah sumatera dengan cara feses langsung diambil dari anus menggunakan swab dan dimasukan dalam Nutrient broth lalu disimpan dalam Cooler box steril. Penelitian ini menggunakan metode Carter (1987) yang sudah dimodifikasi. Untuk isolasi dan identifikasi bakteri enterik pada feses gajah sumatera. Semua sampel feses dikultur pada media MacConkey, Salmonella Shigella Agar (SSA), IMViC (Indol, Methyl red, Voges-Proskauer, sulfid indol motility, Simmons citrate), media Triple Sugar Iron Agar (TSIA), dan uji fermentasi gula-gula (glukosa, laktosa, sukrosa, maltosa). Data hasil penelitian ini dianalisis secara deskriptif berdasarkan keberadaan bakteri enterik yang terdapat dalam feses. Dari hasil penelitian diketahui bahwa di dalam feses lima ekor gajah sumatera yang berumur di atas enam tahun terdapat lebih dari satu bakteri enterik, sedangkan satu ekor gajah yang berumur satu tahun hanya terdapat satu jenis bakteri enterik. Pada gajah bernama Midok ditemukan bakteri E. Coli dan Salmonella sp, pada gajah Amoy bakteri E. Coli dan Salmonella sp, gajah bernama Ella ditemukan bakteri Enterobacter sp dan Salmonella sp, gajah bernama Senna bakteri E. Coli dan Citrobacter sp, gajah bernama Osin ditemukan bakteri E. coli dan Salmonella sp, dan gajah bernama Junaidi ditemukan bakteri E. coli.  Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bakteri enterik yang terdapat pada feses gajah sumatera adalah Eschericha coli, Salmonella sp, Enterobacter sp, dan Citrobacter sp.
PEMERIKSAAN KEBERADAAN TELUR DAN LARVA NEMATODA PASCA PEMBERIAN ANTHELMINTIK PADA GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI CONSERVATION RESPONSE UNIT (CRU) SAMPOINIET ACEH JAYA Ova and Nematode larvae examination after anthelmintics treatment on Sumatra Elephant (Elephas maximus sumatranus) in Conservation Response Unit (CRU) Aceh Jaya Sampoiniet syafriza harliyanda; Muhammad Hambal; Arman Sayuti
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.15 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3461

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan telur dan larva nematoda pasca pemberian anthelmintik pada gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet Aceh Jaya dan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Saree. Sampel feses gajah sumatera diambil dari 4 ekor gajah yang ada di CRU Sampoiniet Aceh Jaya dan 1 ekor gajah yang ada PKG Saree. Pengambilan sampel feses gajah Sumatera dilaksanakan sebanyak 3 kali seminggu. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan telur maupun larva pada gajah-gajah yang berada di CRU Sampoiniet. Ditemukan telur cacing Ascaris sp dan Toxocara spp serta ditemukan juga larva dari cacing Rhabiditiform dan Ascaris sp pada gajah di PKG Saree. Efikasi obat cacing masih optimum selama 3 minggu pasca pemberian obat cacing.Kata kunci: Telur cacing nematoda Ascaris sp, Toxocara spp, Larva Rhabiditiform, Ascaris sp, Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus)ABSTRACT This research was conducted to determine the eggs and larvae of namatode after anthelmintic administation on sumatran elephant (Elephas maximus sumatranus) in Conservation Response Unit (CRU) Sampoinet Aceh Jaya and Conservation Center of Elephant (CCE) Saree. The  Sample feces of sumatran elephant takes from 4 elephant in CRU Sampoiniet Aceh Jaya and 1 elephant in CCE Saree. The results showed no eggs or larvae are found on the elephants residing in CRU Sampoiniet. Ascaris worm eggs found sp and Toxocara spp and found larvae of Ascaris sp and Rhabiditiform worms in CCE Saree. The feces sample of sumatran elephant was taken three times, conducted every week. It was conducted, the elephant in Sampoiniet could not be found the eggs of parasite in feces due to anthelmintic treatment.Keywords: Egg worm nematodes Ascaris sp, Toxocara spp, Rhabiditiform larvae, Ascaris sp, Sumatran elephant (Elephas maximus sumatranus)
Identifikasi Cacing Parasit Gastrointestinal Pada Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) Dan Harimau Benggala (Panthera Tigris Tigris) Di Taman Margasatwa Medan (Identification Of Gastrointestinal Parasites Sumatran Tiger (Panthera Tigris Sumatrae) And Bengal Tiger (Panthera Tigris Tigris) At Medan Wildlife Park) Dimas Rizqo Sucitrawan; Yudha Fahrimal; Arman Sayuti
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 3, No 3 (2019): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.209 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v3i3.11215

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan harimau benggala (Panthera tigris tigris) di Taman Margasatwa Medan terinfestasi cacing parasit gastrointestinal dan apa saja jenis dari cacing parasit tersebut. Sampel pada penelitian ini menggunakan feses yang dikoleksi untuk pemeriksaan telur cacing yang didapat dari 9 ekor harimau sumatera dan 6 ekor harimau benggala. Sampel diambil tiga kali dalam waktu yang berbeda dengan interval 2 minggu. Sampel feses diambil pada pagi hari dan dimasukkan ke dalam botol sampel dan ditambahkan dengan formalin 10% dengan perbandingan 1:1. Sampel dibawa dengan menggunakan ice box yang telah diisi es ke Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Univesitas Syiah Kuala untuk dilakukan pemeriksaaan. Pemeriksaan sampel dengan menggunakan metode sentrifugasi,  metode McMaster, dan metode sedimentasi Boray. Hasil penelitian ini menunjukkan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan harimau benggala (Panthera tigris tigris) di Taman Margasatwa Medan terinfestasi Toxocara cati dan Ancylostoma tubaeformae.  Kata Kunci: Harimau Sumatera, Harimau Benggala, Taman Margasatwa Medan, Toxocara cati, Ancylostoma tubaeformae. ABSTRACTThis study aims to determine whether Sumatran tigers (Panthera tigris sumatrae) and Bengal tigers (Panthera tigris tigris) in Medan Wildlife Park are infected with gastrointestinal parasitic worms and what are the types of parasitic worms. The samples used in this study were faeces from 9 Sumatran tigers and Bengal Bengal as many as 6 in Medan zoo. Samples were taken three times at different times and at intervals of 2 weeks. Samples were taken in the morning and put into bottle samples and added with equal volume of 10% formalin. Samples were transported using ice boxes that were filled with ice to the Laboratory of Parasitology, Faculty of Veterinary Medicine, Syiah Kuala University, to be examined. Sample examination using centrifugation, McMaster, and Boray sedimentation methods. The results of this study indicate that there are two nematode worms infesting Sumatran tigers (Panthera tigris sumatrae) and Bengal tigers (Panthera tigris tigris) in Medan zoo namely Toxocara cati and Ancylostoma tubaeformae. Keyword: Panthera tigris sumatrae, Panthera tigris tigris, Medan Wildlife Park, Toxocara cati, Ancylostoma tubaeformae.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI ASAM LAKTAT (BAL) GENUS LACTOBACILLUS DARI FESES ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii) DI KEBUN BINATANG KASANG KULIM BANGKINANG RIAU Lisa Syabaniar; Erina Erina; Arman Sayuti
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.405 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3342

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri asam laktat (BAL) genus Lactobacillus yang terdapat pada feses orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Kebun Binatang Kasang Kulim Bangkinang, Riau. Sampel yang digunakan adalah feses segar dari empat ekor orangutan Sumatera (Pongo abelii). Bakteri ini diidentifikasi dengan metode Carter dan Cole yang dimodifikasi. Media selektif yang digunakan yaitu de Man Rogosa Sharpe Agar (MRSA) dengan metode streak plate. Koloni yang tumbuh di media MRSA diamati morfologinya dan dilakukan pewarnaan Gram serta dilanjutkan dengan uji biokimia yaitu uji katalase, oksidase, Voges Proskauer (VP), Sulfit Indol Motility (SIM), Triple Sugar Iron Agar (TSIA), oksidatif/fermentatif (O/F), dan uji gula-gula yaitu glukosa, laktosa, mannitol, maltosa. Hasil identifikasi terhadap empat sampel feses orangutan ditemukan genus Lactobacillus pada tiga sampel orangutan. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa bakteri asam laktat genus Lactobacillus dapat diidentifikasi pada feses orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Kebun Binatang Kasang Kulim Bangkinang Riau.
JUMLAH LEUKOSIT DAN DIFERENSIAL LEUKOSIT GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) JANTAN BERDASARKAN TINGKATAN UMUR DI PUSAT LATIHAN GAJAH (PLG) MINAS RIAU (Total Leukosit and Differential Leukosit of Male Sumatran Elephant (Elephas maximus sumatranus) Based on Age Level in the Elephant Exercise Center (PLG) Minas, Riau) Atikah Rahma Putri; Triva Murtina Lubis; Arman Sayuti
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 2 (2022): FEBRUARI-APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i2.8596

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur terhadap jumlah leukosit total, basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit, dan monosit gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) jantan berdasarkan umur di PLG Minas, Riau. Penelitian ini menggunakan sampel darah yang diambil dari 10 ekor gajah sumatera jantan dengan kisaran umur 6-35 tahun. Pengambilan darah dilakukan pada vena auricularis posterior dengan menggunakan vacutainer yang berisi antikoagulan. Jumlah leukosit dan diferensial leukosit ditentukan dengan hematology analyzer Sysmex XN-550. Data yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan umur (25 tahun dan 25 tahun) dan dianalisis dengan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata (±SD) jumlah leukosit total, basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit, dan monosit pada umur 25 tahun berturut-turut adalah 14,50±2,34 x103/µl, 0,18±0,08 %, 5,10±2,50 %, 23,56±5,28 %, 36,10±7,99 %, dan 35,06±7,66 % sedangkan pada umur 25 tahun berturut-turut adalah 11,09±3,61 x103/µl, 0,26±0,04 %, 3,74±1,51 %, 22,80±4,74 %, 38,82±12,56 %, dan 34,38±11,61 %.  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa umur tidak berpengaruh (P0,05) terhadap jumlah leukosit total, basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit, dan monosit pada gajah sumatera jantan di PLG Minas, Riau. (The aim of this study was to determine the effect of age on total number of leukocytes, basophils, eosinophils, neutrophils, lymphocytes, and monocyte of male sumatran elephants (Elephas maximus sumatranus) base on age in PLG Minas Riau. In the study was used blood samples collected from 10 males sumatran elephants with age range 6-35 years old. Blood was collected is done in the posterior auricular vein using a vacutainer containing anticoagulants. The leukocyte count and leucocyte differentials were determined by the Sysmex XN-550 hematology analyzer. The data obtained were classified by the age (25 years and 25 years) and analyzed by t test. The results showed that the mean (± SD) total leukocyte count, basophils, eosinophils, neutrophils, lymphocytes, and monocytes at age 25 years were 14.50±2.34 x103/μl, 0.18±0,08 %, 5.10±2.50 %, 23.56±5.28 %, 36.10±7.99 %, and 35.06±7.66 % while at age 25 years were 11.09±3.61 x103/μl, 0.26±0.04 %, 3.74±1.51 %, 22.80±4.74 %, 38.82±12.56 %, and 34.38±11.61%. Based on the result, it can be concluded that age has no effect (P0,05) on total leukocyte, basophils, eosinophils, neutrophils, lymphocytes, and monocytes in male sumatran elephants in PLG Minas, Riau.)
Studi Eksperimental Caval Sindrome Pada Berbagai Tingkat Infeksi Dirofilaria immitis Exsperimental Study For Caval Syndrome At Diffetent Levels Of Infection Dirofilaria immitis Purnama Sari; T Fadrial Karmil; M Hanafiah; Syafruddin Syafruddin; Winaruddin Winaruddin; Arman Sayuti
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 3, No 4 (2019): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v3i4.13017

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan  untuk mengetahui proses terjadinya Caval Sindrome (CS) yang diakibatkan oleh Dirofilaria immitis (D. immitis) dengan berbagai tingkat infeksi, Sampel yang digunakan yaitu 3 ekor anjing lokal yang terinfeksi D. immitis dengan tingkat infeksi ringan (380 mf/ml), sedang (1,305 mf/ml) dan berat (1,600 mf/ml). Untuk mengetahui tingkat infeksi dilakukan identifikasi menggunakan metode Modified Fadrial Technigue (MFT). Setelah diketahui tingkat infeksi D. immitis, anjing diberi perlakuan excercise menggunakan perlakuan melalui pengamatan berdasarkan kecepatan dan durasi yang sudah ditetapkan. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa proses terjadinya CS pada anjing yang diberi perlakuan exercise dengan kecepatan 30 km/jam, 40 km/jam dan 45 km/jam selama durasi 10 menit, 15 menit dan 20 menit pada infeksi ringan dan sedang anjing toleran terhadap exercise (tidak terjadi CS), sedangkan pada tingkat infeksi berat anjing intoleran terhadap exercise pada menit ke-10 (dapat terjadi CS). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa anjing yang derajat kesakitan tinggi intoleran terhadap exercise.Kata kunci: Dirofilaria  immitis,  tingkat  infeksi,  Modified  Fadrial  Technigue (MFT) dan Caval Sindrome.   ABSTRACT    This study was conducted to determine the process of Caval Syndrome (CS) caused by Dirofilaria immitis (D. immitis), with various levels of infection. The sampels used were 3 local dogs infected with D. immitis with a mild infection rate (380 mf/ml), moderate (1,305 mf/ml) and weight (1,600 mf/ml). to determine the level of infection Modifien Fadrial Technigue (MFT) method. After knowing the level of infection, dog were treated using exercise treatment through observation based on the speed and duration that have been set. The results of this study found that the process of CS  in dogs treated with exercise at a speed of 30 km/h, 40 km/h, and 45 km/h for a duration of 10 minutes, 15 minutes and 20 minutes in mild and moderate infections of dogs tolerant of exercise (CS does not occur), whereas at the level of severe dog infection tolerant of exercise  at the 10th minute (CS can occur). From this study in can be concluded that.Keywords : Dirofilaria immitis, infection rate, Modified Fadrial Technigue (MFT) and Caval Syndrome.
IDENTIFIKASI PARASIT GASTROINTESTINAL PADA BERUANG MADU (Helarctos malayanus) DI TAMAN MARGASATWA MEDAN (IDENTIFICATION OF GASTROINTESTINAL PARASITES IN SUN BEAR (Helarctos malayanus) IN TAMAN MARGASATWA MEDAN) Putri Utami Jenantika; Yudha Fahrimal; Arman Sayuti
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 3, No 3 (2019): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.348 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v3i3.11213

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi parasit gastrointestinal pada beruang madu (Helarctos malayanus) di Taman Margasatwa Medan. Penelitian ini menggunakan sampel feses dari 5 ekor beruang madu yang diperiksa tiga kali dengan interval waktu 3 minggu. Penelitian ini mengunakan metode sentrifus, metode McMaster, dan metode Boray dan hasil penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 3 dari 5 sampel terinfestasi parasit gastrointestinal Ancylostoma spp dan Trichuris spp. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa beruang madu (Helarctos malayanus) di Taman Margasatwa Medan tereinfestasi parasit gastrointestinal Ancylostoma spp dan Trichuris spp. Kata kunci : Parasit gastrointestinal, Beruang Madu, Ancylostoma spp, Trichuris spp. ABSTRACT          This study aims to identify the gastrointestinal parasite in the sun bear (Helarctos malayanus) in Medan Wildlife Park. This study used fecal samples from  5 sun bears taken three times with 3 weeks interval. This study used the centrifuge method, McMaster method, and the Boray method and the results of this study were analyzed descriptively. The results of this study indicate that 3 of  5 sun bear were infested with gastrointestinal parasites Ancylostoma spp and Trichuris spp. Thus it can be concluded that  the sun bear (Helarctos malayanus) in Medan Wildlife Park are infested with gastrointestinal parasites Ancylostoma spp and Trichuris spp. Keywords : Gastrointestinal parasites, Sun bear, Ancylostoma spp, Trichuris spp
EFEKTIVITAS ANTELMINTIK SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN PADA GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI LOKASI CONSERVATION RESPONSE UNIT (CRU) DAN PUSAT KONSERVASI GAJAH (PKG) ACEH Syarifah Mawaddah Zilfa; Yudha Fahrimal; Arman Sayuti; Farida Athaillah; Abdullah Hamzah; Wahyu Eka Sari
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 3 (2022): MEI-JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i3.18028

Abstract

Gajah sumatera merupakan satwa endemik Indonesia yang tercatat ke dalam status yang terancam punah atau kritis. Dalam mempertahankan keberadaan dan kelestariannya maka populasi gajah harus dijaga. Gajah sumatera rentan terhadap berbagai penyakit, salah satunya disebabkan oleh parasit gastrointestinal. Infeksi parasit gastrointestinal merupakan faktor yang mengganggu kesehatan gajah sumatera. Penelitian ini bertujuan melihat keefektifan antelmintik dengan melihat keberadaan jenis endoparasit sebelum dan sesudah pemberian antelmintik pada gajah sumatera di tujuh lokasi Conservation Respon Unit (CRU) dan PKG Saree Aceh. Penelitian ini dilakukan pada Laboratorium Parasitologi FKH USK dan pengambilan sampel feses gajah pada CRU Sampoiniet Kabupaten Aceh Jaya, CRU Alue Kuyuen, Kabupaten Aceh Barat, CRU Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, CRU Mila, Kabupaten Pidie Jaya, CRU Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, CRU Das Peusangan, Bener Meriah, dan PKG Saree Aceh. Data yang diperoleh dianalisis dengan Fecal Egg Count Reduction Test (FECRT). Hasil FECRT menunjukkan efektivitas antelmintik yang digunakan dalam mengobati gajah sumatera pada CRU Aceh sangat efektif hingga mencapai 100% terhadap parasit yang menyerang gajah sumatera di CRU dan PKG Aceh. Kata kunci: gajah sumatera, parasit pada gajah, antelmintik Sumatran elephants are endemic to Indonesia which are listed as endangered or critical. In maintaining its existence and sustainability, the elephant population must be maintained. Sumatran elephants are susceptible to various diseases, one of which is caused by gastrointestinal parasites. Gastrointestinal parasitic infection is a factor that interferes with the health of the Sumatran elephant. This study aims to examine the effectiveness of anthelmintics by observing the presence of endoparasites before and before offering anthelmintics to Sumatran elephants at seven locations of the Conservation Response Unit (CRU) and PKG Saree Aceh. This research was conducted at the USK FKH Parasitology Laboratory and took samples of elephant feces at the Sampoiniet CRU, Aceh Jaya Regency, Alue Kuyuen CRU, West Aceh Regency, Trumon CRU, South Aceh Regency, Mila CRU, Pidie Jaya Regency, Serbajadi CRU, East Aceh Regency, CRU Das Peusangan, Bener Meriah, and PKG Saree Aceh. The data obtained were analyzed by Fecal Egg Count Reduction Test (FECRT). FECRT results show the effectiveness of deworming drugs used in treating Sumatran elephants at CRU Aceh is very effective up to 100% against parasites that attack Sumatran elephants at CRU and PKG Aceh. Key words: Sumatran elephant, parasites in elephant, anthelmintic
Co-Authors . Darmawi . Darniati . Syafruddin Abd. Rasyid Syamsuri Abdul Harris Abdul Rahman Abdullah Hamzah Agus Dermawan Al Azhar Al- Azhar Amalia Sutriana Amiruddin - Amiruddin . Amiruddin A Amiruddin Amiruddin Atika Agusty Atikah Rahma Putri Aulanni'am, Aulanni'am Ayu Andella Agustina Basuki B. Purnomo Budianto Panjaitan Dessy Ayu Mega Putri Dian Masyitha Dimas Rizqo Sucitrawan Dwinna Aliza Erdiansyah Rahmi Erdiansyah Rahmi Erina Erina fadli amri Farida Athaillah Farida Farida Farida Farida Fhatania Amalia Gholib Gholib Hafizuddin Hafizuddin Hamdan Hamdan Hamdani . Herrialfian Herrialfian Idawati Nasution Indah Kesuma Siregar Juli Melia Lisa Syabaniar M Hanafiah M Hasan M Isa M Jalaluddin M. Aris Widodo M. Hasan mahmudi kamaruddin Megi Satria Muhammad Hambal Muhammad Hambal Muhammad Hanafiah Muhammad Isa Mulyadi Adam Muslim Akmal Muslim Akmal Nazaruddin Nazaruddin Nur Afriyanti NURLIANA NURLIANA Nuzul Asmilia Oppi Oktaviany Pratiwi Purnama Sari Purnama Sari Putri Utami Jenantika Qaida Minati R Roslizawaty Rahmat Nazif Riani Desky Roslizawaty - Roslizawaty Roslizawaty Rosmaidar Rosmaidar roza Agravion Rusli - Rusli Rusli S Syafrudddin Sara Febria Putri Sastika Rani Sri Wahyuni Sugito Sugito Sugito Sugito Sutiman B. Sumitro syafriza harliyanda Syafruddin - Syafruddin . Syafruddin S Syafruddin Syafruddin Syarifah Mawaddah Zilfa t fadrial karmil T. Armansyah Teuku Armansyah Tongku N Siregar Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar, MP Triva Murtina Lubis Ummu Balqis wahyu eka sari Winaruddin Winaruddin Yudha Fahrimal Zainuddin Zainuddin Zakiah Heryawati Manaf Zoerul Fahlevi Zuhrawati Zuhrawati Zuhrawaty - Zuhrawaty NA ZURAIDA ZURAIDA Zuraidawati -