Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

The Effectiveness of Three-Sided Splinting on he Degree of Pain in Patients with Closed Fractures of the Lower Extremities in the Emergency Room Geu, Yafet; Mardiyono, Mardiyono; Sudirman, Sudirman; Walin, Walin
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 2 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i2.3001

Abstract

Trauma from accidents that cause fractures can lead to complications including epistaxis, internal organ injury, injury inflammation and respiratory syndrome. The occurrence of a fracture causes destruction of nerves and blood vessels which causes pain. Pain then increases in severity until the bone is immobilized. Pain in a fracture is not caused by the fracture itself, but by the injury to the tissue around the broken bone and the movement of the bone fragments. Correct dressing of the fracture can reduce pain in patients, especially for closed fractures. Three-sided splinting is one option to minimize movement in long bones because it is felt to be stronger to withstand movement because the broken bone is flanked from three opposite sides of the broken bone. Objective: To determine the effectiveness of three-sided splinting on the degree of pain in patients with closed fractures of the lower extremities. Methods: The research design used quasy experimental with pre-test and post-test control group design. The research sample was 30 respondents, the sample selection method used purposive sampling which was divided into control and intervention groups. The control group used two-sided splinting while the intervention group used three-sided splinting. Data analysis used demographic characteristics and research variables, namely three-sided splinting and pain levels. Bivariate analysis used Wilcoxon and Mean Withney. Results: Both groups of respondents experienced a decrease in pain levels after treatment but the decrease in pain levels was greater in the intervention group using three-sided splinting. The results showed that the three-sided splinting action was very effective in reducing the degree of pain with p=0.000. Conclusion: Three-sided splinting is proven to be more effective in reducing the degree of pain in patients with closed fractures of the lower extremities.
EKSTRAK IKAN MUJAIR SEBAGAI ALTERNATIF PERBAIKAN STATUS GIZI PENDERITA TUBERCULOSIS ANAK Walin, Walin; Sukrilah, Ulfah Agus; Riyadi, Sugeng; Prasetyo, Herry; Hastuti, Puji
Jurnal Sains Kebidanan Vol. 6 No. 1 (2024): MEI 2024
Publisher : POLTEKKES KEMENKES SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jsk.v6i1.11271

Abstract

Pasien TB paru mengalami penurunan berat badan yang drastis. Hal ini dapat diatasi dengan memperbaiki pola asupan nutrisi khususnya protein dan menjalani pengobatan. Asupan protein tersebut bisa didapatkan dari ikan termasuk mujahir yang memiliki komposisi dan asam amino esensial. Namun bila dikonsumsi secara langsung terasa bau amis.  Untuk menutupi bau dan rasa amis itu perlu dibuat ekstrak dan dikaji kandungan dalam ekstrak Ikan mujahir tersebut.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan ekstrak ikan mujair (Oreochromis mossambicus) sebagai usaha untuk meningkatkan status gizi bagi penderita tuberculosis. Metode penelitian pembuatan ekstrak ikan mujair  dilakukan dengan proses       ekstraksi / hidrolisis melalui mesin ekstraksi dengan ditambahkan pelarut aquades dan etanol 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa    kandungan kadar air sebesar 1,33 %, kandungan abu 3,16 %, kadar lemak 16,87 %, kadar protein 54,08 % dan kandungan karbohidrat sebesar 24,56 %. Selanjutnya, berdasarkan hasil analisa terhadap cemaran logam berat seperti pb, Cd, Hg dan As tidak ditemukan atau tidak terdeteksi. Cemaran mikroorganisme salmonella spp, shigella sp dan clostridia juga menunjukkan hasil negative. Kadar air dan kadar abu ada pada kategori rendah masing-masing sebesar 1,33 % dan 3,16 % yang  berarti kualitas ekstrak ikan mujair sangat layak untuk dikonsumsi sebagai usaha untuk meningkatkan status gizi bagi penderita tuberculosis. 
LATIHAN SENAM KEGEL DENGAN PENURUNAN INKONTINENSIA URIN PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA WIRASANA PURBALINGGA Subandiyo, Subandiyo; Dwi Widayanti, Esti; Riyadi, Sugeng; Walin, Walin
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 3 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i3.1050-1057

Abstract

Masalah yang biasanya terjadi pada lansia adalah inkontinensia urin dan merupakan masalah yang sering dialami oleh lansia. Di Indonesia jumlah penderita inkontinensia urin sangat signifikan. Pada tahun 2008 sekitar 18%  yang terdapat di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.  Dari data di Indonesia angka kejadian inkontinensia urin juga penangananya masih kurang , hal ini disebabkan karena masyarakat belum tahu tempat yang tepat untuk berobat disertai kurangnya pemahaman tentang inkontinensia urin (Kemenkes, 2012).         Berbagai terapi yang diberikan dan salah satunya terapi guna mereduksi adanya inkontinensia pada  urin adalah melalui latihan senam kegel. Senam kegel  ini, dapat menurunkan tingkat frekuensi berkemih dan dengan cepat membangun kembali kekuatan otot-otot dasar panggul. Tujuan Pengabdian Masyarakat : untuk mengetahui penurunan inkontinensia urin pada lansia. Metode pengabdian masyarakat : pada pengabdian masyarakat ini dengan menggunakan pendampingan untuk melakukan latihan Kegel baik kelompok maupun individu . Evaluasi dilaksanakan setelah pendampingan adalah sebagai berikut.Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini diikuti sebanyak 24 peserta, kategori menurut umur sebagian besar berusia antara 50 sampai dengan 64 tahun (74%), dengan jenis kelamin perempuan   62% serta 38 % laki-laki, untuk peserta sebagian besar masi tinggal bersama pasanganya dan keluarga (anak, menantu) sebanyak 90%. Praktek dalam melakukan senam kegel secara bersama pada awal pertemuan masih susah untuk menemukan otot dasar panggul, pada hari dan minggu berikutnya dilakukan kunjungan untuk monitor latihan senam kegel di rumah secara mandiri ada yang dalam frekuensi latihan masih kadang-kadang lupa, untuk prakteknya semakin hari semakin baik untuk menemukan otot dasar panggul dan bisa melaksanakan sendiri, ini dibuktikan saat selesai senam kegel tidak merasakan sakit daerah abdomen. Hasil evaluasi catatan berkemih peserta didapatkan berkemih mampu di toilet sebesar 66%, berkemih dengan tanpa disadari dalam jumlah sedikit 26%, berkemih tanpa disadari dalam jumlah banyak 8%.
Effect of red betel (Piper crocatum Ruiz and Pav) leaves extract on blood glucose levels and ankle brachial pressure index (ABPI) among patients with type 2 diabetes mellitus Bios Cendekia Wigatiningtyas; Ta'adi Ta'adi; Walin Walin
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 8 No. 2 (2025): Volume 8 Number 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v8i2.859

Abstract

Background: Hyperglycemia often occurs in DM patients even though they have received pharmacological therapy, thus encouraging people to consume herbal medicines. The dosage of herbal therapy consumed by the community is not appropriate, only the dosage of community assumptions, resulting in negative impacts. Chronic hyperglycemia causes worsening of the Ankle Brachial Pressure Index (ABPI) score. Giving red betel extract with the right dose can be a solution, because red betel extract contains flavonoids that can inhibit y-amylase and y-glucosidase so that the body can control blood sugar levels and improve ABPI scores. Purpose: To determine effectiveness of red betel extract on fasting blood sugar levels and ABPI. Method: A quasy experiment approach, specially focusing on pretest and posttest group. The study took place from October-November 2024, in Padangsari and Srondol Health Centers, Semarang. The independent variable was red betel leaf extractthe dependent variables is fasting blood sugar levels and ABPI. Using purposive sampling and Lemeshow formula, 70 respondents were selected which were divided into 2 groups, who met specific inclusion and exclusion criteria. Analysis proceeded with a univariate test to determine the frequency distribution of respondent’s characteristics, followed by bivariate analysis using man whitney test. Results: Red betel leaf extract significantly reduced blood sugar levels in patients with type 2 diabetes mellitus with an intervention value of 112.83 ± 15.227 compared to control of 191.46 ± 72277 with a large Cohen's d effect of 0.87 and increased the value of the Ankle Brachial Pressure Index or ABPI in the intervention group by 0.855 ± 0.045 compared to control by 0.674 ± 0.094 with a large d effect of 1.22 These findings suggest that red beet extract has potential as an adjuvant therapy in glycemic control and improvement of peripheral circulation. Conclusion: Betel leaf extract has been shown to be effective in reducing fasting blood sugar levels and improving Ankle Brachial Pressure Index (ABPI) scores in patients with type II diabetes mellitus.