Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : FORUM

3. TELEVISI LOKAL DAN KAMPANYE TERSELUBUNG CAGUB-CAWAGUP PILKADA JATENG 2008 Hasfi, Nurul
FORUM Vol 36, No 2 (2008) : Pilkada dan Demokratisasi di Daerah
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4268.713 KB)

Abstract

Veiled campaign run by mass media is a phenomenon that can not be separated from almost all general election, including Central Java Governor Election 2008. Some local televisions in Semarang, for example, are used by candidates to employ this kind of “illegal” campaign. It is automaticaly emerging negative atmosphere in the process of democracy during the general election. Indonesian Broadcasting Committee of Central Java (KPID Jateng) that has role to control local television’s activities in broadcasting the general election, has legalized regulation no 01 year 2008. The decre provides clear devinision of political campaign, governor election socialization and also the veiled campaign. Unfortunately the veiled campaigns aired by local television are still “keep on its tract” since the rule is not obeyed by local television and is not applied complitely by KPID.
KEKERASAN SIMBOLIK (SYMBOLIC VIOLENCE) TERHADAP SUKU JAWA DALAM PROGRAM TV “ HIDUP INI INDAH“ DI TRANS TV Hasfi, Nurul
FORUM Vol 39, No 2 (2011): Kekerasan, SARA dan Keadilan
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.053 KB)

Abstract

Abstract :Symbolic violence of ethnic in television program still get low attention from Indonesian media content controller (KPI, LSF) as well as audiences because it is done implicitly and unconsciously. On the other hand, the impact is as dangerous as physical violence in television program such us killing, shooting, hitting. This paper try to evaluate content of a television program, 'Hidup Ini Indah', produced by Trans TV that is indicated do symbolic violence to 'Javanese'. Symbolic violence hazard integration of a multicultural society in Indonesia as it produce discrimination of 'dominant culture' over 'minority culture'. By using the basis of Representation Theory (Stuart Hall: 1979) this paper try describe and explain how language (text, symbol, visual, object, event) has produced certain meaning, called 'stereotype' that is identified as symbolic violence. Key words: symbolic violence, stereotype, representation, dominant culture, minority culturepermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/forum/article/view/3157
Citizen Journalism luqman, yanuar; Hasfi, Nurul
FORUM Vol 2, No 2 (2010): Forum
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.526 KB)

Abstract

Citizen journalism, selanjutnya disebut CJ, akhir-akhir ini menjadi perbincangan para pakar media internasional karena di beberapa negara ternyata memiliki kemampuan menjadi media alternatif bagi warga, bahkan pada beberapa kasus menyaingi eksistensi jurnalisme profesional dalam hal ini televisi, surat kabar dan radio. Sebut saja blog ohmynews.com di Korea Selatan yang efektif menyuarakan aspirasi warganya, Stomp.sg milik warga Singapura dan malaysiakini.com milik warga Malaysia yang disebut-sebut sebagai media oposisi pemerintah.Pada perkembangannya kemunculan CJ mendapatkan penolakan dari mainstream media yang merasa citizen jurnalis bukan profesional yang bisa melakukan reportase layaknya jurnalis profesional. Misalnya saja The New York Times yang mempertanyakan keakuratan dan objektifitas hasil peliputan CJ. Tradisional jurnalist juga mengaku skeptis dan menganggap CJ tidak dapat melakukan peliputan dengan baik karena hanya jurnalist terlatih yang mengetahui etika media saat melakukan peliputan.Meski mendapat kritikan pedas semacam ini, namun CJ terus berkembang, bahkan pada beberapa peristiwa penting di dunia CJ menjadi pihak nomer 1 yang memberikan informasi kepada masyarakat. Misalnya saja saat stunami terbesar di Samudera Hindia, video dan informasi penting justru bersumber dari blog yang dimiliki warga. Blog-blog pribadi warga juga menjadi2saksi peristiwa besar lain seperti perang irak1, runtuhnya WTC, Bom Bali I dan II, dll.Perkembangan CJ sendiri juga sampai di Indonesia, dimana saat ini – jika tidak bisa dibilang populer – nama CJ versi online mulai bernunculan. Misalnya saja blog wikiku.com, kabarindonesia.com, indonesiasatu.net dan mediabersama.com. Sayangnya keberadaan mereka masih kurang mendapat apresiasi warga sendiri. Padahal bloger di Indonesia pada dasarnya memberikan kontribusi besar bagi masa reformasi di Indonesia tahun 1998, dimana saat itu para bloger lah yang melaporkan indikasi KKN di keluarga cendana.Semenara saat tsunami di Aceh, CJ dengan blogger dan gambar video amatir yang diupload di youtube, berhasil memberikan data multimedia yang ternyata membantu menggalang dana besar dari seluruh penjuru Indonesia bahkan dunia bagi para korban di Aceh.Dalam sebuah seminar tentang berkembangan teknologi informasi yang diikuti oleh penulis, pembicara dari Malaysia mengatakan bahwa citizen online journalism di Malaysia berkembang karena negara ini tidak memiliki kebebasan pers. Jadi dia sendiri mengatakan bahwa pada dasarnya negara seperti Indonesia tidak memerlukan CJ karena pers konvensional sudah memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.Pernyataan itu bisa dibenarkan, namun meski demikian, seharusnya Indonesia tidak menutup diri untuk CJ kerena di negara asal CJ yaitu Amerika yang juga telah memiliki kebebasan pers saja, kehidupan media sudah1 http://www.camerairaq.com/citizen_journalism/3dipengaruhi oleh media online, termasuk informasi yang disediakan oleh para blogger dalam bentuk CJ.Di Indonesia sendiri, seiring dengan meningkatnya penggunaan internet di Indonesia dan tentu saja pengaruh dari trend media di era digital, CJ mulai dikenal. Namun sayangnya, saat ini belum ada perhatian dan pendataan yang resmi tentang gambaran CJ yang ada di Indonesia. Sebelum melakukan penelitian, peneliti melihat ada 3 jenis website di Indonesia yang membuka forum untuk Citizen Journalism yaitu website mainstream media, portal (biasanya berita dan hiburan) dan situs khusus CJ.Peneliti juga melihat, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum paham tentang media baru yang di sebagian negara sudah menjadi channe demokrasi yang efektif bahkan melebihi fungsi yang dimiliki mainstream media. Pengenalan CJ di Indonesia justru berawal bukan dari website khusus CJ, namun justru buntut dari perkembangan online journalism gagasan mainstream media yang di era TI ini beramai-ramai membuat versi online. Sebut saja situs kompas.com milik harian Kompas yang memiliki dua situs CJ dengan brand extension masing-masing, yaitu Kompasiana dan KoKi. Dalam situsnya www.kompasiana.com2 dijelaskan bahwa kompasiana merupakan forum diskusi dan ruang kuliah berisi gagasan bernas dan mencerahkan, demokratis, konstruktif, dan bertanggung jawab. Pembaca atau pengunjung diajak urun rembug dengan mengomentari setiap artikel yang masuk. Sementara, “Komunitas kompas” atau Koki dengan alamat web http://community.kompas.com3 berisi2 22 Oktober 2009, sudah berubah format menjadi semacam facebook3 Sudah dihapus4tulisan masyarakat, sedangkan Kompasiana adalah semacam blog jurnalist yang berisi tulisan dari para jurnalist Kompas4.Contoh lain surat kabar daerah Suara Merdeka juga tidak mau ketinggalan dengan menyadiakan beberapa halaman di webnya untuk “suara warga” dengan alamat web http://citizennews.suaramerdeka.com. Hal yang berbeda dibuat oleh Media Indonesia yang menyediakan fasilitas weblog kepada pembacanya di alamat http://blog.mediaindonesia.com. Disini warga bisa membuat blog dan menulis tentang apa saja, dengan isi tanggung jawab pemilik blog.Sementara situ khusus CJ yang saat ini terdeteksi aktif melakukan kegiatan diantaranya www.wikimu.com, www.kabarindonesia.com, www.penyingkul.com, www.sumbawanews.com. Sementara yang ada di portal satu-satunya yang sementara ditemukan peneliti adalah www.inilah.com yang merupakan salah satu portal yang paling banyak dikunjungi di Indonesia selain www.detik.com dan www.okezone.com.Selain di media cetak dan situs internet, istilah CJ di Indonesia juga mucul dalam program berita televisi I-witness yang ditayangkan Metro TV, dimana didalamnya berisi berita video amateur yang diambil warga dan diolah kembali oleh tim pemberitaan Metro TV. Program sejenis ini, kabarnya juga akan segera dibuat oleh televisi berita terbaru di Indonesia yaitu TV One.Sementara dari media radio, radio Elshinta telah menerapkan citizen jounalism sejak tahun 2000 dan saat ini sudah memiliki 100.000 netizen. CJ di radio Elshinta sendiri bentuknya adalah laporan langsung dari warga yang4 Format terbaru kompasiana di-online-kan pada ulangtahunnya ke 1 tanggal 22 Oktober 20095menjadi saksi mata suatu kejadian. Mereka biasanya ditelpon oleh Elshinta untuk kemudian on-air melaporkan kejadian di lapangan.Perkembangan citizen online journalism menggembirakan karena memungkinkan masyarakat indonesia memiliki akses untuk menjadi subyek dalam pemberitaan. Masyarakat juga mendapat kesempatan menyuarakan aspirasinya karena memiliki space di online media. Hal ini penting mengingat media massa – meski berada di dalam lingkup negara yang memiliki kebebasan pers – tetap memiliki keterbatasan misalnya kecondongan pada berbagai kepentingan terutama kapital dan politis. Dengan demikian maka penting untuk menyambut CJ yang diharapkan akan memberikan warna tersendiri yang lebih independen dan jujur di dunia media di Indonesia.Yang menjadi perhatian peneliti disini adalah masih minimnya sumber informasi tentang CJ di Indonesia, mengingat CJ masih hal yang baru. Peneliti juga melihat CJ di Indonesia memiliki beberapa keunikan dan perbedaan dengan konsep CJ yang terjadi di negara asalnya. Dari dasar itulah, peneliti tertarik untuk melakukan study kasus tentang perkembangan CJ di Indonesia.
Co-Authors Abdulhakim Arrofi Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Utama, Pradipta Aditya Ihatra, Dzikri Agus Iswanto Agus Naryoso S.Sos, M.Si, Agus Naryoso Ahmad Maryudi Ahmed, Jamshaid Ahsan Yunus Ahsani Taqwim Aminuddin Aji Nurkafi, Fabi Alda Retania, Vira Amida Yusriana Amida Yusriana Amida Yusriana Annisa Hidayati Arif Hidayat Armaulida, Annisa Asri Bryllianissa, Fadhilla Aulia Triwardhana Noor Fathan Ramadhan, Avian Savitri, Lulu Bramantyo Utomo, Abdiel Chrisintya Mauli Sitorus Daeng Lanta Mutiara Rato R Daniel Panogari Dinaharilala Olivia, Randrianarison Elfa Dhiotami, Adeillia Emban Ibnurusyd Mas’ud Erica Pinasthika, Emilia Faizal Maghriza, Mukhammad Fatwa Faturachmat Fendardi Yudha Pratama Fillmore Galih Wibisana, Kuirinus Firdaus, Muhammad Rifki Gonçalves, Miguel Gono, Joyo Hanny Nurmalita Anggadewi Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pujo Santoso Himmatul Ulya I. Nabila, Dethisa Inny Aisyah Irsyadiah, Uli Zahro Islahuddin, Islahuddin Joyo NS Gono Kartoredjo, Ruiz Levay Jonothan Kevina Ukraina, Vadhillah Khairunnisa, Almira Larassati Setiawan, Zahwa Lintang Ratri Rahmiaji Louisa Yunita Pia Duna Luthfi Maulana Adhari Luz Rimban Maharani, Mandu Micah R. Fisher Moch Lukluil Maknun, Moch Lukluil Mochammad Imron Awalludin Muchamad Yulianto Muhammad Adnan Muhammad Alif K. Sahide Muhammad Bariqi Najman Muhammad Fazer Mileneo Muhammad Nur Rohman Rachman Nadya Nadya Nayla Zahra Luthfia Noven Harjadi, Christian Noviananda, Dhandy Nur Hidayati, Ayuk Nurist Surayya Ulfa Nurul Syifa, Salsa Pamungkas, Yoma Bagus PRAJWALITA PRAJWALITA Pravidya Salsabiila Primada Qurrota Ayun Rafika Thalia Utami Rahadianto, Anugrah Rahma Aulia, Zulfa Rahma Az Zahra Laksmitha Raihan Triaffandra Raina Arundati Putri Ranti Dinda Cintya Razania Sani, Inatsan Retno Palupi Rifat Farihi, Haikal Roch Aris Hidayat, Roch Aris S. Rouli Manalu Sandy Allifiansyah Siti Halimah Larekeng Siwi Gayatri SUNARTO Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Sunyoto Usman Sunyoto Usmand Tandiyo Pradekso Tandiyo Pradekso Theresa Christya A Tia Nanda Dwi Hernawati Triswanti, Ririn Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Turnomo Rahardjo U Simanullang, Friska Ulfa Mawaddah Afriliani Vira Amalia Riansyah Widya Hapsari, Arinta Wijayanto Wijayanto Wike Widyaswarawati Wiwid Noor Rakhmad Yanuar Luqman Yasirul Amri Muhammad Yofiendi Indah Indainanto Yudhistira Dwiputra Handoko Yuwanto Yuwanto Zahra Adiba Salsabila Zulfalia Az Zahra, Annisa