Hasriadi Mat Akin
Jurusan Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandar Lampung

Published : 38 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENGARUH UKURAN PLASTIK UNTUK PENYARUNGAN BUAH KAKAO ( Theobroma cacao) TERHADAP INTENSITAS PENYAKIT BUSUK BUAH ( Phytophthora palmivora) Muhamad Idola Hartas; Joko Prasetyo; Titiek Nur Aeny; Hasriadi Mat Akin
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.137 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i1.1976

Abstract

Kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan yang penting di Provinsi Lampung. Sampai sekarang masih banyak kendala yang dihadapi dalam budidaya tanaman kakao. Salah satu kendala yang penting adalah serangan Phytophthora palmivora yang menyebabkan penyakit busuk buah kakao. Penyakit ini pada umumnya dikendalikan dengan fungisida kimia sintetis tetapi ternyata menimbulkan dampak negatif, sehingga harus diupayakan cara pengendalian yang lain. Penyarungan buah kakao dengan plastik telah banyak dilakukan tapi ternyata berdampak pada peningkatan penyakit busuk buah. Hal ini di duga berkaitan dengan ukuran plastik yang tidak sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran plastik untuk penyarungan buah kakao terhadap intensitas penyakit busuk buah kakao. Penelitian dilakukan di Desa Waylaga Kecamatan Panjang, Bandar Lampung. Perlakuan dalam percobaan ini disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan yaitu penyarungan dengan kantong plastik berukuran 12 cm x 25 cm (P1), 15 cm x 30 cm (P2), 20 cm x 35 cm (P3), dan kontrol (P0) (tanpa penyarungan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyarungan buah kakao dengan kantong plastik berukuran 15 cm x 30 cm dan 20 cm x 35 cm dapat menurunkan keterjadian penyakit dan keparahan penyakit busuk buah kakao. Penyarungan buah dengan plastik berukuran 20 cm x 35 cm paling efektif menekan keterjadian penyakit dan keparahan penyakit busuk buah kakao.
EFEKTIVITAS Pseudomonas fluorescens DAN Paenibacillus polymyxa TERHADAP KEPARAHAN PENYAKIT KARAT DAN HAWAR DAUN SERTA PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays var. saccharata) Galih Prasetyo; Suskandini Ratih; Ivayani Ivayani; Hasriadi Mat Akin
Jurnal Agrotek Tropika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.674 KB) | DOI: 10.23960/jat.v5i2.1834

Abstract

Penyakit penting pada tanaman jagung diantaranya adalah penyakit karat daun yang disebabkan oleh jamur Puccinia sorghi Schwein dan penyakit hawar daun yang disebabkan oleh jamur Helmithosporium turcicum Leonard et Suggs. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan Pseudomonas fluorescens dan Paenibacillus polymyxa dalam menekan perkembangan penyakit karat dan hawar daun jagung serta memicu pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian ini dilakukan pada bulan September sampai bulan Desember 2015 di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Agroteknologi dan di lahan petani di Kampung Baru Bandar Lampung. Perlakuan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas (1) P0 kontrol berupa tanaman jagung yang tidak diberi perlakuan fungisida, P. polymyxa dan P.fluorescens (2) P1 perendaman benih jagung dalam formulasi P. polymyxa selama 6 jam, (3) P2 perendaman benih jagungdalam formulasi P. fluorescensselama 6 jam, (4) P3 perendaman benih jagung dalam formulasi P. polymyxa danP.fluorescens selama 6 jam, (5) P4 perendaman benih jagung dalam fungisida propineb selama 6 jam. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada tarif nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Aplikasi P. fluorescens dan P. polymyxa mampu menekan keparahan penyakit karat dan hawar daun jagung (2) Aplikasi P. polymyxa mampu meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah daun jagung.
INVENTARISASI JAMUR PADA BENIH BEBERAPA VARIETAS KEDELAI [Glycine max (L.) Merril] YANG BERADA DI SEKITAR BANDAR LAMPUNG Reny Destya Angrum; Muhammad Nurdin; Suskandini Ratih; Hasriadi Mat Akin
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v2i3.2077

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jamur yang terdapat pada beberapa varietas benih kedelai [ Glycine max (L.) Merril ] yang berada di sekitar Bandar Lampung. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman, UniversitasLampung dari Mei 2013 sampai dengan Agustus 2013. Penelitian ini menggunakan kedelai varieta Burangrang, Kaba, Argomulyo, Tanggamus dan Grobogan. Benih-benih tersebut diinkubasi menggunakan metode blotter test dan agar plate test dengan dua perlakuan, yaitu kontrol (tanpa NaOCl) dan dengan menggunakan NaOCl. Jamur-jamur yang tumbuh dari benih yang diinkubasi diidentifikasi dengan cara diamati dan difoto, selanjutnya dicocokkan dengan bubu-buku referensi tentang penyakit- penyakit kedelai. Selain itu juga dilakukan penghitungan persentase kemunculan jamur dari benih yang diinkubasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan dengan perlakuan desinfeksi maupun tanpa desinfeksi ditemukan jenis jamur yang berasal dari lapang (Fusarium sp., Cercospora sp., Sclerotium sp., Phomopsis sp., Rhizoctonia sp., dan Colletotrichum sp.) dan jenis jamur yang berasal dari gudang penyimpanan (Trichoderma sp., Aspergillus sp., Penicillium sp., dan Rhizopus sp.). Benih yang diberikan perlakuan desinfeksi dapat mengurangi tumbuhnya jamur yang berasal dari gudang/tempat penyimpanan (kontaminan) tetapi tidak menghilangkan jenis jamur yang menginfeksi di dalam benih (jamur yang berasal dari lapang). Pada varietas Grobogan Rhizoctonia sp. memiliki persentase kemunculan jamur yang lebih tinggi dibandingkan dengan jamur lainnya yaitu sebesar 60,56%. Pada benih dengan perlakuan tanpa desinfeksi persentase kemunculan Aspergillus sp. pada varietas Kaba dan Tanggamus lebih tinggi dibandingkan dengan jamur lainnya sebesar 63,33%. Pada media perlakuan desinfeksi dengan menggunakan media kertas saring persentase kemunculan jamur pada varietas Kaba Cercospora sp. memiliki persentase lebih tinggi dibandingkan dengan jamur lainnya sebesar 30%. Pada media perlakuan tanpa desinfeksidengan menggunakan media kertas saring, Trichoderma sp. pada varietas Kaba memiliki persentase kemunculan jamur lebih tinggi dibandingkan dengan jamur lainnya, dengan persentase kemunculan masing-masing sebesar 77,23%.
PENGARUH SERBUK DAUN PANDAN WANGI DAN DAUN JERUK PURUT TERHADAP MORTALITAS KUMBANG MONCONG BERAS (Sitophilus oryzae) PADA BERAS MERAH Sudi Pramono; Dwi Yara Zutta Olivia; Hasriadi Mat Akin; I Gede Swibawa
Jurnal Agrotek Tropika Vol 11, No 1 (2023): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 11, FEBRUARI 2023
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v11i1.6794

Abstract

Beras yang disimpan dalam gudang sering mengalami kerusakan akibat serangan hama. Kumbang Moncong Beras (Sitophilus oryzae) merupakan hama utama yang menyerang beras. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh serbuk daun pandan wangi dan serbuk daun jeruk purut terhadap mortalitas Kumbang moncong beras dan pengaruhnya terhadap susut bobot beras. Penelitian ini menggunakan percobaan  rancagan acak lengkap dengan 7 perlakuan kontrol (P0), daun pandan wangi 8 gr (P1), daun pandan wangi 9 gr (P2), daun pandan wangi 10 gr (P3), daun jeruk purut 8 gr (P4), daun jeruk 9 gr (P5) dan daun jeruk 10 gr (P6). Data dianalisis menggunakan sidik ragam dalam taraf 5% dan dilanjutkan dengan analisis uji lanjutan Duncan Multiple’s Range Test (DMRT). Hasil yang didapatkan dari penelitian setelah perlakuan tiap dosis 7 hari setelah aplikasi (HSA)  adalah serbuk daun  pandan wangi  pada dosis 10 gr (P3) dan serbuk daun jeruk purut dosis 10 gr (P6)  paling efektif untuk meningkatkan mortalitas kumbang moncong beras (S. oryzae) dan mengurangi serangan kumbang mocong beras dari susut bobot beras.
UJI KEEFEKTIFAN EKSTRAK DAUN JARAK DAN DAUN NIMBA TERHADAP INTENSITAS PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum L.) Tivanny Sherrin Wanda; Efri Efri; Titik Nur Aeny; Hasriadi Mat Akin
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.537 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i3.2074

Abstract

Penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum spp. merupakan salah satu kendala dalam usaha budidaya cabai. Kerugian akibat penyakit ini di lapangan dapat mencapai 65%. Salah satu alternatif pengendalian penyakit ini yaitu menggunakan fungisida nabati. Tanaman jarak dan nimba merupakan tanaman yang berpotensi sebagai fungisida nabati. Tanaman jarak dan nimba memiliki senyawa-senyawa aktif yang dapat membunuh jamur dan tidak toksik terhadap manusiadan hewan. Penelitian bertujuan untuk menguji keefektifan ekstrak daun jarak dan daun nimba terhadap intensitas penyakit antraknosa pada tanaman cabai (Capsicum annum L.). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Juni sampai September 2013. Penelitian disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan sehingga didapatkan 25 satuan percobaan, setiap satuan percobaan terdiri dari 2 tanaman cabai. Lima perlakuan tersebut adalah kontrol (F 0 ), ekstrak daun jarak fraksi alkohol 10% (F 1 ), ekstrak daun jarak fraksi Etil asetat 10% (F 2 ), ekstrak daun nimba fraksi alkohol 90% (F 3 ) dan perlakuan fungisida pembanding (F 4 ). Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun jarak fraksi alkohol 10%, ekstrak daun jarak fraksi etil asetat 10% dan ekstrak daun nimba fraksi alkohol 90% dapat menekan intensitas penyakit antraknosa pada tanaman cabai, ekstrak daun jarak fraksi alkohol 10% dan fraksi etil asetat 10% lebih baik dalam menekan intensitas penyakit antraknosa pada cabai dibandingkan dengan ekstrak daun nimba fraski alkohol 90% dan fungisida sintetik, dan kemampuan ekstrak daun nimba fraksi alkohol 90% tidak berbeda dengan kemampuan dari fungisida sintetik dalam menekan intensitas penyakit antraknosa pada tanaman cabai.
PENGARUH BEBERAPA JENIS EKSTRAK TUMBUHAN TERHADAP PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA TANAMAN CABAI BESAR (Capsicum annuum L.) DI LAPANGAN Maya Gusmarini; Suskandini Ratih D.; Muhammad Nurdin; Hasriadi Mat Akin
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.172 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i2.2084

Abstract

Antraknosa adalah penyakit terpenting dalam budidaya cabai besar karena menyebabkan kehilangan hasil di lapangan mencapai sekitar 75%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak babadotan, tumbuhan siam, alang-alang, dan teki sebagai alternatif pengendalian penyakit antraknosa pada tanaman cabai yang ramah lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman dan Laboratorium Lapangan Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan November 2012 sampai dengan Maret 2013. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 5 perlakuan dengan 5 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas 2 tanaman cabai (dalam satu polibag). Perlakuan terdiri atas air steril sebagai kontrol (M0), ekstrak Ageratum conyzoides (babadotan) 100 g/100 ml air (M1), ekstrak Chromolaena odorata (tumbuhan siam) 100 g/100 ml air (M2), ekstrak Imperata cylindrica (alang-alang) 100 g/100 ml air (M3), dan ekstrak Cyperus rotundus (teki) 100 g/100 ml air (M4). Pengamatan dilakukan dengan selang waktu tujuh hari sekali. Adapun peubah yang diamati adalah keparahan penyakit pada daun, pada buah, bobot buah cabai sehat, dan bobot buah cabai sakit. Data dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ekstrak A. conyzoides (babadotan), C. odorata (tumbuhan siam), I. cylindrica (alangalang), dan C. rotundus (teki) berpengaruh dalam menekan keparahan penyakit antraknosa (2) pengaruh ekstrak A. conyzoides (babadotan), C. odorata (tumbuhan siam), I. cylindrica (alang-alang), dan C. rotundus (teki) berbeda-beda namun ekstrak C. odorata (tumbuhan siam) dan C. rotundus (teki) lebih efektif dari pada A. conyzoides (babadotan), I. cylindrica (alang-alang) dalam menekan keparahan penyakit antraknosa pada daun dan buah cabai.
Corrigendum: Antifungal evaluation of turmeric rhizome extract against Colletotrichum capsici, the causal agent of anthracnose on red-chili peppers (Capsicum annuum L.) Akin, Hasriadi Mat; Anggraini, Desma; Wibowo, Lestari; Prasetyo, Joko; Suharjo, Radix
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika Vol. 24 No. 2 (2024): SEPTEMBER, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA: JOURNAL OF TROPICAL PLAN
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhptt.224295-295

Abstract

A corrigendum on Antifungal evaluation of turmeric rhizome extract against Colletotrichum capsici, the causal agent of anthracnose on red-chili peppers (Capsicum annuum L.) by Akin, HM, Aggraini D, Wibowo L, Prasetyo J & Suharjo R. 2024. J. Trop Plant Pests Dis. 24(1): 75–81. https://doi.org/10.23960/jhptt.12475-81 In the original article, on page 77, the formula for disease intensity has an incomplete legend.  The authors apologize for this mistake and clarify that it does not affect the scientific conclusions of the article. The original version has been corrected Read original article > 
Pendampingan Gapoktan Jaya Makmur dalam Pengelolaan Penyakit Bercak Cincin pada Tanaman Pepaya di Desa Bumi Jaya, Lampung Selatan Helina, Selvi; Akin, Hasriadi Mat; Solikhin, Solikhin; Maryono, Tri; Yusticia, Stenia Ruski
Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung Vol 3, No 2 (2024): Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung Vol 3 No 2, September 2
Publisher : Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpfp.v3i2.9443

Abstract

Gapoktan Jaya Makmur merupakan salah satu Gapoktan di Kecamatan Candipuro yang menjadikan tanaman pepaya sebagai salah satu komoditi unggulan di Kabupaten Lampung Selatan. Penyakit bercak cincin yang disebabkan oleh virus menjadi faktor pembatas dalam kegiatan budidaya tanaman pepaya di Desa Bumijaya. Minimnya pengetahuan petani dalam mengenali penyakit bercak cincin pada tanaman pepaya dan pengelolaannya di lapangan menjadi permasalahan utama yang belum bisa diatasi oleh kelompok tani di desa Bumijaya. Metode yang digunakan adalah pendampingan melalui penyuluhan penyakit bercak pepaya dan pengelolaan penyakit dengan prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) serta pelatihan pembuatan agens hayati di lapangan. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan: 1) Kegiatan pengabdian kepada masyarakat diikuti oleh anggota dan pengurus Gapoktan Jaya Makmur, Desa Bumijaya, Lampung Selatan, POPT Kecamatan Candipuro, Penyuluh Pertanian Desa Bumijaya; 2) Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan yang ditunjukan oleh keaktifannya dalam menyimak dan merespon penyampaian materi serta aktif bertanya dan memberi tanggapan terhadap setiap permasalahan yang dibahas, 3) Terjadi peningkatan penguasaan pengetahuan tentang Pengembangan Trichoderma sebagai Upaya Pengelolaan Penyakit bercak cincin pada tanaman pepaya yang Ditularkan oleh kutu putih (Aphids) di Candipuro, Lampung Selatan yang signifikan yang ditunjukkan oleh hasil evalusai setelah diberi penyuluhan lebih yaitu mayoritas peserta memiliki pengetahuan yang baik hingga sangat baik (96%) dan tidak ada peserta yang memiliki nilai dengan kriteria kurang. Dengan demikian pendampingan Gapoktan Jaya Makmur dalam kegiatan pengabdian ini sangat bermanfaat bagi kelompok tani dalam mengelola Penyakit Bercak Cincin pada tanaman pepaya di Desa Bumijaya, Lampung Selatan.
KARAKTERISASI SECARA MORFOLOGI PATOGEN BULAI PADA TANAMAN JAGUNG DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Ichwan Surya Nugraha; Joko Prasetyo; Ivayani Ivayani; Hasriadi Mat Akin
Jurnal Agrotek Tropika Vol 9, No 2 (2021): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 9, MEI 2021
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v9i2.5017

Abstract

Penyebab penyakit bulai di Provinsi Lampung disebabkan oleh Pernosclerospora sp.  Beberapa tahun terakhir ini laporan menyebutkan bahwa penyakit bulai pada tanaman jagung yang ada di Indonesia disebabkan oleh beberapa spesies Peronosclerospora.  Penelitian ini bertujuan mengetahui spesies patogen bulai dan karakterisasinya pada tanaman jagung di Kabupaten Lampung Timur.  Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2018 sampai dengan Maret 2018 di lahan pertanian Hajimena Kecamatan Natar, Lampung Selatan dan di Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.  Penelitian dilaksanakan dengan melakukan survei tanaman jagung yang bergejala penyakit bulai pada kabupaten Lampung Timur, kemudian dilakukan pengamatan pada tanaman jagung yang bergejala bulai, di identifikasi penyebab penyakit bulai, morfologi Peronosclerospora sp., dan oospora.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies Peronosclerospora sp yang ditemukan pada tanaman jagung di Kabupaten Lampung Timur adalah P. sorghi.  Konidiofor P. sorghi mulai terbentuk pada pukul 00.00, kemudian pada pukul 01.00 konidiofor sudah mulai membentuk percabangan, pada pukul 02.00 konidiofor sudah membentuk tingkat percabangan sempurna dan mulai terlihat bakal konidia, pada pukul 03.00 P. sorghi sudah membentuk struktur yang sempurna, pukul 04.00 konidia sudah mulai masak, dan pada pukul 05.00 konidia mulai terlepas dari konidiofor, karakteristik lain dari P. sorghi adalah terdapat pembentukan oospora.
PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MISELIUM Xylaria sp. PENYEBAB PENYAKIT LAPUK AKAR DAN PANGKAL BATANG TEBU Dwi Endarwati; Tri Maryono; Sudi Pramono; Hasriadi Mat Akin; Heru Pranata; Saefudin Saefudin
Jurnal Agrotek Tropika Vol 12, No 3 (2024): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 12, AGUSTUS 2024
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v12i3.9459

Abstract

Penyakit lapuk akar dan pangkal batang merupakan permasalahan serius pada perkebunan tebu di Lampung dan Sumatera Selatan. Penyakit lapuk akar dan pangkal batang tebu disebabkan oleh jamur Xylaria sp.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kondisi lingkungan (cahaya, pH, suhu) terhadap pertumbuhan Xylaria sp.. Jamur Xylaria sp. diisolasi dari stroma dan tanaman tebu bergejala lapuk akar dan pangkal batang yang diambil dari perkebunan tebu PT Gunung Madu Plantation. Sebanyak delapan isolat jamur Xylaria sp. ditumbuhkan pada media OA (Oatmeal Agar) dan diinkubasi pada kondisi cahaya berbeda (24 jam gelap, 24 jam terang, dan 12 jam gelap 12 jam terang), suhu berbeda (20, 25, 30, dan 40 ºC), serta pada kondisi pH berbeda (4, 6, dan 8). Peubah pengamatan adalah diameter koloni jamur yang diamati setiap 48 jam selama 14 hari, kecuali pada pengujian cahaya, pengamatan dilakukan pada 14 hari setelah inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koloni jamur Xylaria sp. tumbuh baik pada perlakuan cahaya 24 jam gelap, suhu 30 ºC, dan pH 6. Koloni jamur Xylaria sp. tertekan pertumbuhannya pada 24 jam terang, suhu 40 ºC, dan pH 4.