Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

POTENSI INTERAKSI OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN: POTENTIAL OF ANTIPSYCHOTIC DRUG INTERACTIONS IN INPATIENTS SCHIZOPHRENIC PATIENTS AT TAMPAN PSYCHIATRIC HOSPITAL Novia Sinata; Syilfia Hasti; Firstio Anfasa Mashudi
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i2.739

Abstract

Skizofrenia merupakan salah satu dari penyakit gangguan jiwa serius yang dapatmempengaruhi pikiran, perilaku dan perasaan dari penderitanya. Peresepan obat pada pasienskizofrenia biasanya tidak hanya satu jenis obat antipsikotik saja melainkan diberikanbersamaan dengan obat-obatan lain. Pemberian bermacam obat dalam waktu yangbersamaan dapat meningkatkan terjadinya Drug Related Problems (DRPs) salah satunyaadalah interaksi obat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi interaksiobat pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau tahun 2021. Datadiperoleh dari rekam medik secara retrospektif dan dianalisis dengan metode observasionalsecara deskriptif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 data rekam medikpasien skizofreia pada tahun 2021. Penelitian potensi interaksi obat pada pasien skizofreniaberdasarkan jenis interaksi obat secara farmakokinetik, farmakodinamik dan unknown sertaberdasarkan severity (tingkat keparahan) terdiri dari major, moderate dan minor. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa ditemukan adanya potensi interaksi obat antipsikotik denganobat lain sebanyak 402 kasus. Interaksi terdiri dari jenis interaksi farmakokinetik sebesar3,73%, farmakodinamik sebesar 89,55% dan interaksi unknown sebesar 6,72%. Berdasarkanseverity (tingkat keparahan) terdapat pada tingkat keparahan major sebesar 30,35%,moderate sebesar 67,66%, minor sebesar 1,99%. Kombinasi obat yang banyak berpotensiinteraksi adalah haloperidol dengan triheksifenidil dengan severity (tingkat keparahan)moderate dan jenis interaksi antagonis farmakodinamik.Kata kunci : interaksi obat; skizofrenia; rekam medik
POTENSI INTERAKSI OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN: POTENTIAL OF ANTIPSYCHOTIC DRUG INTERACTIONS IN INPATIENTS SCHIZOPHRENIC PATIENTS AT TAMPAN PSYCHIATRIC HOSPITAL Novia Sinata; Syilfia Hasti; Firstio Anfasa Mashudi
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i2.739

Abstract

Skizofrenia merupakan salah satu dari penyakit gangguan jiwa serius yang dapatmempengaruhi pikiran, perilaku dan perasaan dari penderitanya. Peresepan obat pada pasienskizofrenia biasanya tidak hanya satu jenis obat antipsikotik saja melainkan diberikanbersamaan dengan obat-obatan lain. Pemberian bermacam obat dalam waktu yangbersamaan dapat meningkatkan terjadinya Drug Related Problems (DRPs) salah satunyaadalah interaksi obat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi interaksiobat pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau tahun 2021. Datadiperoleh dari rekam medik secara retrospektif dan dianalisis dengan metode observasionalsecara deskriptif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 data rekam medikpasien skizofreia pada tahun 2021. Penelitian potensi interaksi obat pada pasien skizofreniaberdasarkan jenis interaksi obat secara farmakokinetik, farmakodinamik dan unknown sertaberdasarkan severity (tingkat keparahan) terdiri dari major, moderate dan minor. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa ditemukan adanya potensi interaksi obat antipsikotik denganobat lain sebanyak 402 kasus. Interaksi terdiri dari jenis interaksi farmakokinetik sebesar3,73%, farmakodinamik sebesar 89,55% dan interaksi unknown sebesar 6,72%. Berdasarkanseverity (tingkat keparahan) terdapat pada tingkat keparahan major sebesar 30,35%,moderate sebesar 67,66%, minor sebesar 1,99%. Kombinasi obat yang banyak berpotensiinteraksi adalah haloperidol dengan triheksifenidil dengan severity (tingkat keparahan)moderate dan jenis interaksi antagonis farmakodinamik.Kata kunci : interaksi obat; skizofrenia; rekam medik
Uji Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Etanol Daun Babandotan (Ageratum conyzoides L.) pada Mencit Putih (Mus musculus L.) Jantan yang Diinduksi Aloksan Febrina, Mira; Hasti, Syilfia; Nurisma, Arnel; Nanang, Nanang
JURNAL FARMASI DAN MAKANAN Vol 7 No 1 (2023): Journal of Pharmacy and Science
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/jops.v7i1.4192

Abstract

Diabetes mellitus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antidiabetes ekstrak etanol daun babandotan (Ageratum conyzoides L.) terhadap mencit putih (Mus musculus L.) jantan yang diinduksi aloksan. Penginduksi yang digunakan adalah aloksan monohidrat 175 mg/kgBB secara intraperitonial. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah kadar glukosa darah, berat badan, volume air minum 24 jam dan volume urin 24 jam. Sebanyak 30 ekor mencit dibagi secara acak ke dalam 6 kelompok perlakuan yaitu kelompok 1 merupakan kelompok normal yaitu mencit dengan kadar glukosa darah < 200 mg/dL dan hanya diberikan makan atau minum saja, kelompok 2 merupakan kontrol negatif yaitu mencit diabetes yang diberikan Na CMC 1%, kelompok 3 merupakan kontrol positif yaitu mencit diabetes yang diberikan glibenklamid 0,65 mg/kgBB dan kelompok 4, 5, 6 merupakan kelompok mencit diabetes yang diberikan ekstrak etanol daun babandotan dosis 200, 400 dan 600 mg/kgBB. Ekstrak etanol daun babandotan diberikan satu kali sehari selama 15 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun babandotan dapat menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan (p < 0,05) pada mencit diabetes, pada pengamatan berat badan terdapat perbedaan yang signifikan (p < 0,05) apabila dibandingkan dengan kontrol negatif dan terjadi penurunan volume air minum 24 jam (p < 0,05) serta penurunan volume urin 24 jam (p < 0,05).
Optimalisasi Edukasi Pengobatan Dalam Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Terkait Penyakit Kronis di Wilayah Kota Pekanbaru Firmansyah, Ferdy; Fernando, Armon; Lestari, Putri; Hasti, Syilfia; Maryunita, Dinda; Hefriza Putri; Rahma, Indah Lutfianti; Rahma, Rizqia I’zza; Husein, Sadam; Alpatiqa, Silviana Lufti, Siti Hizra; Hariyani, Widya; Sari, Winda; Safira, Yola
Jurnal Bakti Nusantara Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Bakti Nusantara
Publisher : Pustaka Media Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63763/jbn.v2i3.93

Abstract

Penyakit kronis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit seperti diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) tidak hanya berdampak pada kualitas hidup individu, tetapi juga memberikan beban ekonomi dan sosial yang signifikan bagi keluarga dan sistem pelayanan kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pemberian edukasi mengenai penyakit kronis, meliputi pemahaman tentang gejala, faktor risiko, serta strategi pencegahannya. Edukasi diikuti oleh 50 orang masyarakat yang menghadiri Car Free Day Jalan Sudirman, Pekanbaru, Provinsi Riau. Metode yang digunakan adalah edukasi secara langsung menggunakan media leafleat dan diskusi tanya jawab. Materi edukasi adalah penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes dan asam urat, dengan tema CERIA (Cegah Hipertensi Diabetes dan Asam Urat), mulai dari cara pencegahan, mengetahui gejala dan faktor risiko penyebab penyakit kronis tersebut. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat maka dilakukan pemberian lembar ceklis tes awal dan tes akhir. Hasil dari analisis tes awal dan tes akhir menggunakan uji Wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p value sebesar 0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara tes awal dan tes akhir pengetahuan responden. Kegiatan pengabdian ini telah berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit kronis. Diharapkan dengan adanya program pengabdian masyarakat ini dapat mencegah tejadinya hipertensi, diabetes dan asam urat serta dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
ANALISIS TERAPI METFORMIN DENGAN GLIMEPIRID PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II Hasti, Syilfia; Rizki, Famella Yustika; Sinata, Novia; Satiya, Selin Faysa
Ensiklopedia of Journal Vol 7, No 4 (2025): Vol. 7 No. 4 Edisi 2 Juli 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v7i4.3280

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic diseases characterized by hyperglycemia resulting from defects in insulin secretion, insulin action or both. Hyperglycemia is a medical condition in the form of an increase in blood glucose levels that exceeds normal. Based on the cause, DM can be classified into 4 groups, namely type I DM, type II DM, gestational DM and other types of DM. The purpose of this study was to determine the comparison of the decrease in blood glucose levels when type 2 DM patients were hospitalized with Metformin and Glimepirid. This research is an observational study with the type of analytic descriptive study. The sample in the study amounted to 103 patients, the sample was taken using a purposive sampling technique and the instrument used was medical record data of type 2 diabetes mellitus patients. Data analysis used the Mann Whitney test and the Wilcoxon test. The results showed that there was no significant difference (p>0.05) between generic metformin monotherapy and generic glimepiride monotherapy in lowering transient blood glucose levels.Keywords: Diabetes Melitus Type II, Metformin, Glimepirid, Current Blood Glucose.
POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN ASMA RAWAT JALAN RUMAH SAKIT X KOTA PEKANBARU TAHUN 2022 Hasti, Syilfia; Febrina, Mira; Lestari, Kurnia Dwi; Rani, Zulmai; Fitri, Aulia
JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 5 No. 1 (2025): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/farmasainkes.v5i1.5076

Abstract

Asma merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan penyempitan dan peradangan saluran pernafasan. Penderita asma mempunyai peluang besar untuk mengalami komplikasi yang akan menambah kompleksitas pengobatan pada pasien, komplikasi yang terjadi pada pasien asma menyebabkan penderita menerima terapi beberapa obat sekaligus (polifarmasi) sehingga memiliki risiko terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat potensi kejadian interaksi obat pada pasien asma rawat jalan selama periode Januari-Desember 2022. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan melihat rekam medis pasien asma. Hasil yang didapat dianalisis secara deksiptif dengan penapisan secara media online menggunakan situs Drugs.com dan Medscape.com serta penapisan dengan buku teks DIH dan Stockley’s Drug Interaction. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi interaksi obat sebanyak 412 kasus. Jenis interaksi farmakokinetik sebesar 19,3%, farmakodinamik sebesar 58,9% dan unknown sebesar 21,8%. Berdasarkan severity terdapat interaksi major sebesar 2,4%, moderate sebesar 61,4% dan minor sebesar 36,2%.
Krisis Adrenal Pada Anak Dengan Congenital Adrenal Hyperplasia (Salt-Wasting Type) disertai Gangguan Elektrolit, Hipoglikemia, dan Gizi Buruk Marasmus: Laporan Kasus Zamri, Wiedya Alfitrya; Sari, Cinantya Meyta; Hasti, Syilfia; Andira, Ayu; Febrianti, Azila; Fitri, Eliza; Salsabilah, Mutiara; Ramadhani, Nadea Zahra; Putri, Nadila; Sakinah, Norma; Muthmainnah, Nurillah; Ayuni, Putri; Ahmania, Santri; Muti’ah, Try Hadirah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH) meningkatkan risiko krisis adrenal yang dapat menyebabkan syok, gangguan elektrolit, dan hipoglikemia, terutama bila disertai gizi buruk marasmus. Anak laki-laki usia 1 tahun 7 bulan dengan riwayat CAH datang dengan sesak, muntah berulang, dan kejang. Pemeriksaan fisik menunjukkan syok hipovolemik dan marasmus. Laboratorium: hiponatremia (117 mmol/L), hiperkalemia (5,44 mmol/L), hipoglikemia (23 mg/dL), ureum meningkat dengan kreatinin normal. Pasien mendapat resusitasi cairan, hidrokortison dosis stres, koreksi hipoglikemia dan elektrolit, antibiotik empiris, serta nutrisi enteral bertahap sesuai pedoman WHO. Berdasarkan penelitian ini ditemukan bahwa kondisi klinis stabil dalam 7 hari, hipoglikemia dan gangguan elektrolit terkoreksi, tidak ada kejang ulang. Sehingga disimpulkan krisis adrenal pada anak dengan CAH dapat memburuk bila disertai gizi buruk. Tata laksana cepat dan komprehensif penting untuk perbaikan klinis. Edukasi keluarga dan penerapan PHBS perlu ditekankan untuk mencegah kekambuhan.