Claim Missing Document
Check
Articles

Penerapan Konsep Healing Garden Pada Pusat Rehabilitasi Narkoba di Batu Jhon Andrew Hasudungan; Jenny Ernawati; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1498.496 KB)

Abstract

Narkoba (narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya) sangat pesat perkembangannya di seluruh negara, negara indonesia termasuk dalam kategori yang pesat dalam perkembangan penggunaan narkoba setiap tahunnya. Kenaikan angka pengguna narkoba negara indonesia tidak tinggal diam, dengan alasan tersebut harus adanya fungsi fasilitas yaitu pusat rehabilitasi narkoba, yang dapat memulihkan kondisi pecandu narkoba dalam hal fisik, mental, psikologis, medis dan sosial. Pusat rehabilitasi narkoba merupakan sebuah lingkungan penyembuhan yang desain nya memiliki tujuan untuk mempercepat proses penyembuhan dan memberikan pelayanan bagi pecandu narkoba. Bangunan pusat rehabilitasi narkoba harus mendukung keadaan psikologis dan emosional para penderita narkoba untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Berdasarkan perilaku pecandu Narkoba dan kebutuhan dari rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial, pengguna narkoba dapat dikategorikan sebagai pasien yang sedang mengidap suatu penyakit (fisik & psikis) fasilitas yang diberikan kepada pasien harus seimbang antara fasilitas medis maupun kebutuhan untuk psikis pasien. Menciptakan suatu pengobatan yang optimal dari fasilitas-fasilitas dari bangunan rehabilitasi narkoba tersebut seperti bagian luar bangunan yang dapat berperan untuk membantu dalam proses penyembuhan, seperti menambahkan fasilitas Healing Garden. Penerapan ruang luar dengan konsep healing garden dikarenakan, manfaatnya lebih berkaitan bahwa taman ini dapat terintegrasi dengan kesehatan dan suatu kegiatan yang dapat membantu suatu proses penyembuhan seseorang.Kata kunci : Healing garden, Pusat rehabilitasi narkoba
Evaluasi Kenyamanan Spasial dan Visual Pejalan Kaki pada Koridor Jalan Tlogomas bilal muhammad hasan; herry santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan Tlogomas merupakan salah satu dari lima jalan provinsi yang terdapat dikota Malang. Jalan Tlogomas juga masuk kedalam 2 status jalan (jalan provinsi dan jalan nasional), sehingga koridor jalan ini merupakan koridor jalan yang selalu ramai dan selalu dilewati oleh moda baik kendaraan roda dua, empat dan pejalan kaki. Beragam aktifitas yang terdapat pada koridor jalan ini juga dipengaruhi oleh fungsi bangunan yang terdapat pada koridor jalan dimana fungsi bangunan pada koridor jalan Tlogomas yaitu komersial (perdagangan dan jasa). Koridor studi belum memperhatikan aspek penataan ruang (aspek kenyamanan spasial dan visual) yang sesuai dengan aktifitas didalamnnya (kenyamanan bagi pejalan kaki) sehingga perlu dievaluasi kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki pada koridor jalan Tlogomas. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Analisis kualitatif dengan melakukan survey mengenai kondisi eksisting yang terdapat pada kawasan studi sehingga didapat data primer kemudian disandingkan dengan teori dan atau regulasi kemudian metode kuantitatif melakukan penyebaran kuisioner. Hasil penelitian mengevaluasi kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki pada koridor jalan Tlogomas terhadap karakter fisik, regulasi dan atau teori dan persepsi masyarakat.   Kata kunci: koridor jalan, kenyamanan spasial, kenyamanan visual, karakter fisik
Eksplorasi Bentang Alam sebagai Media Pembelajaran Berbasis Alam Tingkat TK-SD Nurina Hendri Wardina; Herry Santosa; Wulan Astrini
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1415.829 KB)

Abstract

Metode pembelajaran sekolah alam menggunakan alam sebagai media belajar, maka pengolahan bentang alam dibutuhkandan diwujudkan dalam rekomendasi desain. Beberapa hal penting dalam mengolah bentang alam yaitu kondisi topografi tapak, kondisi vegetasi, kondisi iklim dan cuaca serta kondisi utilitas di sekitar tapak. Pengumpulan data primer berupa observasi dan wawancara sedangkan data sekunder berupa studi literatur dan studi komparasi. Hasil akhir yang didapatkan adalah olah bentang alam berdasarkan potensi tapak yang ada seperti memanfaatkan beda level kontur, memanfaatkan ruang untuk beberapa fungsi ruang serta potensi alamiah lain seperti elemen air dan vegetasi yang ada.Kata kunci: Sekolah alam, kurikulum, media pembelajaran, bentang alam, potensi tapak
Tipologi Fasade Bangunan Komersial dI Kawasan Koridor Jalan Soekarno-Hatta Malang Cyndhi Dewi Rukmana; Herry Santosa; Lisa Dwi Wulandari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1346.576 KB)

Abstract

Bangunan komersial pada Jalan Soekarno-Hatta semakin berkembang beriringan dengan meningkatnya aktivitas pendidikan. Perkembangan tersebut memicu keberagaman desain fasade pada bangunan komersial. Desain fasade berpengaruh terhadap kualitas visual kawasan. Penelitian bertujuan untuk memahami tipologi fasade serta karakter fasade pada kawasan tersebut. Bangunan komersial mendominasi seluruh fungsi pada kawasan sebesar 63% atau sebanyak 144 bangunan. Analisa dilakukan berdasarkan tipologi fasade, tipologi bentuk, serta tipologi profil fasade. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan tipologi. Analisis dilakukan dengan variabel penelitian berupa elemen pembentuk fasade meliputi atap, lisplang, pintu, jendela, pembayang, ventilasi dan elemen penanda. Pada penelitian ditemukan sejumlah 22 tipe fasade berdasarkan elemen pembentuk fasade. Tipe tersebut meliputi 5 tipe atap, 2 tipe lisplang, 3 tipe pembayang, 3 tipe pintu, 3 tipe jendela, 2 tipe lubang ventilasi, serta 4 tipe elemen penanda. Selain itu ditemukan sejumlah 12 tipe profil fasade yang terbentuk dari elemen atap, ketinggian bangunan serta elemen pembayang. Berdasarkan peraturan setempat maka garis sempadan bangunan serta ketinggian lantai bangunan telah sesuai. Walaupun masih terdapat beberapa fasade yang memiliki ketinggian lantai bangunan melebihin peraturan. Secara keseluruhan karakter fasade pada lokasi didominasi oleh atap datar, tanpa lisplang dan ventilasi, pembayang vertikal, pintu lipat, jendela pasif dan penanda menyatu dengan fasade.Kata Kunci: Tipologi, Fasade, Bangunan komersial
Sekolah Fotografi di Kota Malang Dengan Pendekatan Analisa Space Syntax Bayu Setyanugraha Rushadi; Tito Haripradianto; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019 merupakan rencana untuk mengembangkan aspek sumber daya manusia dalam bidang fotografi dengan cara menciptakan lembaga pendidikan fotografi. Kota Malang telah memiliki lembaga pendidikan fotografi, namun jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya kegiatan dari komunitas fotografi. Maka dari itu, kota Malang memerlukan tambahan lembaga pendidikan fotografi, serta menjadi pusat kegiatan fotografi dalam bentuk sekolah fotografi. Permasalahan yang akan dihadapi dalam perancangan sekolah fotografi ini adalah permasalahan kejelasan ruang, karena pada umumnya bangunan dengan fungsi pendidikan memiliki fasilitas dan ruang yang kompleks. Kompleksnya fasilitas dan ruang tersebut, menyebabkan pengguna ruang kesulitan dalam menemukan ruang utama. Oleh karena itu, space syntax dirasa sesuai untuk fokus dan pemecah permasalahan umum bangunan dengan fungsi pendidikan, karena kejelasan ruang dapat diukur dengan menggunakan space syntax. Metode yang digunakan dalam perancangan sekolah fotografi ini adalah metode pragmatis dan metode simulasi. Metode pragmatis digunakan untuk menentukan bentuk ruang, sedangkan metode simulasi digunakan untuk mengukur tingkat kejelasan ruang.Kata kunci: sekolah fotografi, kejelasan ruang, space syntax
Penataan Fasilitas Wisata Waduk Selorejo U Bayu Santosa; Jenny Ernawati; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1414.269 KB)

Abstract

Wisata Waduk Selorejo merupakan salah satu kawasan yang sangat berpotensi keindahaan alamnya. Namun pada kenyataanya, pengunjung yang datang berwisata di kawasan ini mengalami penurunan yang cukup drastis. Fenomena ini didukung oleh hasil penelitian sebelumnya yaitu penataan elemen fisik kawasan wisata Waduk Selorejo dinilai negatif oleh masyarakat (Aisyah, 2015). Tujuan dari penataan ini untuk menata fasilitas wisata sehingga menjadi kawasan yang menarik, aman, dan nyaman. Metode yang digunakan dalam menganalisis objek studi menggunakan metode analisis deskriptif dengan memaparkan kondisi eksisting sesuai dengan variabe amatan untuk mendapatkan permasalahan yang ada, kemudian dilanjutkan penataan fasilitas wisata Waduk Selorejo dengan menggunakan metode pragmatis. Hasil penataan fasilitas wisata Waduk Selorejo yang dihasilkan sesuai dengan variabel amatan yaitu penataan organisasi massa dan ruang luar, penataan elemen fisik kawasan, serta mengembangkan pariwisata di Wisata Waduk Selorejo, dengan memenuhi aspek something to see, something to do, dan something to buy.Kata kunci: Fasilitas Wisata, Waduk Selorejo
Pusat Pelestarian Kebudayaan Islam di Kabupaten Gresik dengan Pendekatan Metafora Tangible Ajeng Dyosta Lucandhary; Herry Santosa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1608.222 KB)

Abstract

Tidak tersedia fasilitas untuk mewadahi kegiatan budaya Islam sehingga pengenalan dan pengembangan budaya Islam pada generasi penerus dan seniman lokal kurang optimal. Hal tersebut mengakibatkan kebudayaan Islam punah dan membawa dampak pada hilangnya identitas suatu daerah. Untuk itu perlu dilakukan upaya pelestarian budaya dengan menyediakan fasilitas budaya yang dapat digunakan sebagai sarana pengenalan dan pengembangan kebudayaan Islam. Fasilitas tersebut dapat digunakan sebagai penanda ciri khas suatu daerah sekaligus menguatkan identitas dan citra Islami suatu kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Pusat Pelestarian Kebudayaan Islam. Terdapat 2 metode yang digunakan, metode deskriptif-analitik yang difokuskan untuk pemecahan masalah. Sedangkan untuk perancangan pusat pelestarian kebudayaan Islam menggunakan metode metafora tangible pola gerak tari. Selain itu ditunjang analisa formal dan analisa non formal. Analisa formal meliputi analisis fungsi, pelaku dan aktivitas, alur aktivitas pelaku, analisis ruang. Analisis non formal meliputi analisis jurus, tahapan, makna, dan anatomi keseluruhan tahapan tari serta penafsiran-penafsiran tahapan dan jurus. Penelitian ini menghasilkan desain pusat pelestarian kebudayaan memiliki susunan tata massa dan tata ruang melinggkar yang membentuk kesatuan massa, Fasilitas utama yang terakomodasi meliputi galeri seni, gedung pertunjukan, ruang seminar dan studio, penguat citra Islam direkomendasikan menggunakan ornamen Islam kontemporer pada tampilan bangunan dan tata lansekap dengan menggunakan konsep pola taman Islami.Kata Kunci: metafora, tangible, pola gerak tari
Perancangan Hanggar Perakitan C 295 PT Dirgantara Indonesia dengan Metode Zaha Hadid Riswanda Setyo Addino; Herry Santosa; Totok Sugiarto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.651 KB)

Abstract

PT Dirgantara Indonesia saat ini sedang berupaya bangkit kembali dengan memperbaiki berbagai sistem manajemen. Namun perbaikan terhadap infrastruktur yang dimiliki masih sangat minim. Infrastruktur bangunan sendiri juga dapat menjadi sarana rebranding PT DI kepada masyarakat Indonesia dan pasar. BMW Central Building di Leipzig karya Zaha Hadid merupakan salah satu bangunan industri yang berhasil mamadukan antara kantor dengan proses produksi. Kombinasi yang sama juga dibutuhkan oleh hanggar perakitan pesawat terbang untuk fungsional maupun estetika. Saat ini PT DI memiliki rencana untuk menata ulang proses perakitan, termasuk C 295 ke tempat yang baru. Akan dikaji bagaimana perancangan hanggar mengikuti metode Zaha Hadid dengan tetap memperhatikan kebutuhan spesifik dari hanggar perakitan pesawat terbang. Perancangan dengan metode Zaha Hadid seperti halnya yang dilakukan pada perancangan BMW Central Building yang mengombinasikan kantor dengan ruang produksi namun sesuai pada obyek hanggar perakitan C 295. Pada akhir studi didapati bahwa dengan metode Zaha Hadid dapat digunakan sebagai cara merancang. Melalui penerapan muncul sebuah bentuk asimetris dengan tatanan ruang yaitu fungsi kantor berada di sisi serta tengah bangunan dan bentuk bangunan yang menggambarkan tema kedirgantaraan melalui tekstur material dan bentuk atapnya.Kata Kunci: Hanggar perakitan, Perancangan bentuk dan ruang, Metode Zaha Hadid
Penilaian Kualitas Estetika Fasade Bangunan Landmark Bersejarah Kota Malang Melalui Pendekatan Environmental dan Computational Aesthetics Farah Rosa Bela Asnawi; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Malang terkenal dengan Tri Bina Cita, yang memuat tiga pondasi utama sektor pembangunan kota yaitu industri, pendidikan dan pariwisata termasuk di dalamnya yaitu pengembangan wisata sejarah (historic tourism). Wisata sejarah memiliki cakupan mulai dari wisata budaya hingga meliputi wisata bangunan bersejarah, yang salah satunya adalah bangunan bersejarah landmark yang menjadi citra kota Malang. Penelitian bertujuan untuk menjaga signifikansi kesejarahan bangunan bersejarah, citra serta identitas Kota Malang sebagai urban heritage. Studi kasus penelitian menggunakan bangunan landmark bersejarah yang merupakan simbol citra kota dan sekaligus menjadi barometer heritage tourism kota Malang. Ada enam bangunan landmark kota Malang yang menjadi obyek penelitian yaitu Balai Kota, Gereja Hati Kudus, Gedung PLN, Sekolah Frateran, Sekolah Cor Jesu, Stasiun Kota Baru. Upayaupaya yang dapat dilakukan untuk menjaga signifikansi kesejarahan bangunan terhadap fasade bangunan landmark bersejarah kota Malang dapat melalui penilaian estetika fasade bangunan dengan metode penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan bidang keilmuan environmental aesthetics dan computational aesthetics. Pendekatan bidang keilmuan environmental aesthetics menggunakan metode public perceptions dengan skala pengukuran semantic differential scales. Sedangkan pendekatan bidang keilmuan computational aesthetics melalui aplikasi software Interface Aesthetic Measurement (IAM) dengan menggunakan 13 variabel keindahan. Sintesis hasil persepsi publik dan analisis IAM menyimpulkan bahwa ada kesamaan penilaian sebesar 83,3 %, dimana bangunan Cor Jesu memiliki penilaian kualitas estetika fasad bangunan yang tertinggi dan bangunan PLN memiliki penilaian yang terendah. Sedangkan fasad bangunan Balaikota memiliki perbedaan hasil penilaian antara kedua metode. Kata kunci: bangunan bersejarah, fasade, public perceptions, computational aestheticsMalang city is known for Tri Bina Cita, which consists of the three main foundations of the urban development sector: industry, education and tourism including the development of historical tourism. It has a scope ranging from cultural tourism to historic building tourism, one of which is the historical landmark building that has become the image of the city of Malang. This research was aimed to maintain the historical significance of historical buildings, the image and identity of Malang City as an urban heritage. The research case study uses historical landmark buildings which are a symbol of the city's image and at the same time become a barometer of Malang's heritage tourism. Six landmark buildings are used as the research object, namely the Town Hall, Hati Kudus Church, PLN Building, Frateran School, Cor Jesu School and Malang City Station. The efforts to preserve the historical significance of Malang City's historical landmark buildings facade can be supported by evaluating the aesthetic aspects using a quantitative method of research. This study was performed with two scientific approaches, namely environmental asthetic and computational aesthetics. Environmental asthetic approach utilized a public perceptions method with the semantic differential scales. Meanwhile, the computational aesthetics approach utilized the Interface Aesthetic Measurement (IAM) software using 13 aesthetic variables. The synthesis of the public perceptions results’ and the IAM analysis concluded that there was a similarity in the assessment of 83.3%, where the Cor Jesu building had the highest aesthetic quality rating of the building facade and the PLN building had the lowest rating. Meanwhile, the facade of the City Hall building has differences in the results of the assessment between the two methods.
The Effects of Store Atmospher Cafe Interior to Purchase Intention on Cafe My Kopi O! Malang Nenchi Rana Mustika; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malang City has a culinary cafe business level that increased from year to year. Culinary is not only a fulfillment of primary but has become part of the lifestyle of the community. Eating or drinking activities in a cafe has shifted into activities for meetings or gatherings and enjoy the atmosphere and can capture the moment at the cafe. This can provide opportunities for entrepreneurs in the culinary business to be able to provide facilities and createagoodcafeatmosphereatthecafe.Thepurposeofthisstudywastofindouthowthe influenceofthegeneralinterioronpurchaseintentioninMyKopiO!Malangusingmultiple linear regression analysis. This study used descriptive-quantitative method. Respondent sample in this study taken from 105 Cafe visitors My Kopi O! by using a non-probability sampling method with a purposive sampling technique. The results of this study indicate that the general interior is the most influential especially in the aspect of wall texture. General interior has an influenceon purchase intentionof 57.5%and the remaining 42.5% isinfluencedbyotherfactors.Keywords:StoreAtmosphere,GeneralInterior,PurchaseIntention,Café,Descriptivequantitative
Co-Authors abidah fitrianita Adli Bulain Agatha Christina Felia Rampi Agung Murti Nugroho Ajeng Dyosta Lucandhary Almira Firdania Isna Johanda Anggi Delizvi Anggraeni Annisa Putri Fudali Antariksa Antariksa Antariksa Antariksa Antariksa Sudikno Bagus Suryo Atmojo Bambang Yatnawijaya Baskoro Azis Bayu Setyanugraha Rushadi Beta Suryokusumo bilal muhammad hasan Chairil Budiarto Amiuza Cyndhi Dewi Rukmana Damayanti Asikin Dandi Raviandaru Pratama Dewa Ayu Natih Ninggra Deviyanti Dila Dayita Diyan Lesmana Edwin Abdullah Almuhaimin Eni Zuliana Eni Zuliana Erni Kesuma Wardani Exacorinna Azalia Sucipto Fadhil Muhammad Kashira Farah Rosa Bela Asnawi fenny widiana Fifi Damayanti Geldy Desdiandra Inayatul Fikriyah Insani Aulia Qisti Iwan Wibisono Jenny Ernawati Jenny Ernawati Jenny Ernawati Jenny Ernawati Jenny Ernawati Jhon Andrew Hasudungan Juniawan Adhari Karysa Ranaziza Kevin Tjahyono Knasatra Saraswati Lavica Vioveta Lisa Dwi Wulandari Magvira Ardhia Pratiwi Muchamad Januar Irfan Muhammad Faisol Muhammad Farhan Shaukat Muhammad Satya Adhitama Muhammad Syafrudin Hilal Nabila Ramanindhita nadira nuswantoro Nenchi Rana Mustika Nindhi Kurnia Astiti Novi Sunu Sri Giriwati Nur Faragita Anjani Nur Fauziah Nurachmad Sujudwijono Nurina Hendri Wardina Olivia Caterine Dora Maran Olivia Caterine Dora Maran Oni Wibisono Parada Ichwan Parnanda Putri Nabila Zatibayani Rahmat Sepa Indrawan Redi Sigit Febrianto Redi Sigit. F Restica Hapsari Widyastuti Retno Ulvi Setiamurdi Reynaldi Reynaldi Ridha Aulia Ridjal, Abraham Mohammad Rinawati Pudji Handajani Riswanda Setyo Addino Safira Rizki Damayanti Sevilla Tiara Nugroho Shafna Puspita Abhipraya Sinaga, Andriano Sri Utami Subhan Ramdlani Syamsun Ramli Syamsun Ramli Syarapuddin Syarapuddin Tatania Lintang Alviani Tito Haripradianto Totok Sugiarto Tri Wahyu Diana U Bayu Santosa Umi Hajar Kholifatul Hidayah wafid irsyadunnas Wahyuni Eka Sari Wasiska Iyati Wayu L Syuhaya Widya Nurul Aisyah H. Windhy Frida Iswara Wirawan Fawaza Wulan Astrini Wulan Novianti Yusfan Adeputera Yusran Zai Dzar Al Farisa