Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Konsep Sanga Mandala pada Pola Tata Ruang Bangunan di Pasar Denpasar Tri Wahyu Diana; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1215.111 KB)

Abstract

Bangunan pasar merupakan ranah berkumpul, saling tatap muka antar warga, saling tukar dan jual beli barang dan jasa. Pasar di Bali yang biasa disebut dengan “peken” pada zaman dahulu kegiatan jual beli barang dilakukan dibawah pohon bringin. Berkembangnya zaman hingga pasar tradisional yang biasanya dilakukan di bawah pohon saat ini sudah digantikan oleh sebuah bangunan pasar tradisional. Pasar merupakan sejarah dari terlahirnya Kota Denpasar, dimana Kota Denpasar secara administratif dibagi menjadi empat kecamatan, Denpasar Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Dalam pembangunan sebuah pasar diperlukan pendekatan fungsi untuk mengelompokan komoditi-komoditi yang ada dengan menerapkan filosofi dan nilai-nilai yang berkearifan lokal yaitu konsep Sanga Mandala. Karena itu, studi ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersesuaian tata ruang pasar dalam penerapan konsep Sanga Mandala dengan metode dekspriptif evaluatif. Dalam penerapan Konsep Sanga Mandala ditentukan oleh varibel skala tapak dan skala bangunan yang memiliki nilai-nilai ketersesuain disetiap variabel. Sehingga berdasarkan hasil analisis dari empat sampel pasar yang diambil, sampel pasar yang menerapkan konsep Sanga Mandala dengan presentase tertinggi yaitu Pasar Poh Gading, dengan presentase skala tapak 100% dan skala bangunan 84%. Dari hasil tersebut, penerapan konsep Sanga Mandala pada hunian dan bangunan pasar memiliki fungsi bangunan/area yang sama yang bisa diterapkan pada bangunan pasar maupun bangunan lainnya karena fungsi bangunan/area tersebut bernilai mutlak.Kata Kunci: Arsitektur tradisional, pola tata ruang, konsep sanga mandala, pasar
PENGEMBANGAN PARAMETRIC OBJECT LIBRARY BERBASIS HBIM PADA BANGUNAN BERSEJARAH GEREJA HATI KUDUS YESUS KAYUTANGAN KOTA MALANG Muhammad Farhan Shaukat; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPelestarian bangunan bersejarah merupakan salah satu proses rumit yang membutuhkan data bangunan dalam pelaksanaan nya. Data data tersebut seringkali di jaga sehingga dapat digunakan dalam upaya pelestarian bangunan tersebut, nyatanya banyak bangunan bersejarah yang tidak memiliki data tersebut. Dengan berkembangnya teknologi, mendigitalisasi bangunan bersejarah merupakan solusi yang tepat. Teknologi HBIM atau historic building information modelling memiliki tujuan agar bangunan bersejarah memiliki basis data yang bisa digunakan dalam upaya pelestarian bangunan bersejarah. Dengan tingkat akurasi yang tinggi dan data yang detail, HBIM memiliki keunggulan dalam membangun basis data bangunan bersejarah. Studi kasus pada penelitian ini adalah Gereja Hati kudus yesus Kayutangan yang berada di Jalan Basuki Rachmad, dan sudah didirikan dari tahun 1901. Dengan menggunakan data pointcloud, bangunan tersebut dapat dipetakan secara tiga dimensi, sehingga dapat mengembangkan parametric object library berbasis HBIM pada bangunan Gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah data pointcloud menjadi HBIM dengan membangun Parametric object library bangunan bersejarah Gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan Kota Malang yang dapat membantu upaya pelestarian bangunan tersebut. Penelitian HBIM ini menghasilkan data HBIM dengan LOK 200 dalam bentuk parametric modelling, melalui 3 tahapan penting yang terdiri dari pengambilan data, pengembangan parametric object library berbasis HBIM dan validasi data.Kata kunci : HBIM, Parametric object library, pointcloudABSTRACTPreservation of historical buildings is a complex process that requires building data in its implementation. These data are often kept in good condition so that they can be used in efforts to preserve the building, in fact many historical buildings do not have this data. With the rapid development of technology, digitizing historical buildings is the right solution. HBIM technology or historic building information modeling has the aim that historic buildings have a database that can be used in efforts to conserve historical buildings. With a high level of accuracy and detailed data, HBIM has the advantage in building a database of historical buildings. The case study in this research is the Sacred Heart Church of Jesus Kayutangan, which is located on Jalan Basuki Rachmad, and has been established since 1901. By using pointcloud data, the building can be mapped in three dimensions, so that it can be developed into HBIM-based parametric object library in the Sacred Heart of Jesus Kayutangan Church building, Malang City. This study aims to process pointcloud data into HBIM by building a Parametric object library for the historic building of the Sacred Heart of Jesus Kayutangan Church, Malang City, which can help efforts to conserve the building. This HBIM research produces HBIM data with LOK 200 in the form of parametric modeling, through 3 important stages consisting of data collection, development of HBIM-based parametric object library and data validation.keyword : HBIM, Parametric object library, pointcloud
Pendekatan Arsitektur Ekologi pada Perancangan Kawasan Wisata Danau Lebo Kabupaten Sumbawa Barat Syarapuddin Syarapuddin; Herry Santosa; Tito Haripradianto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan pembangunan Taman Wisata Danau Lebo sebagai wisata alam unggulan diharapkan dapat menarik kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sumbawa Barat, sehingga perlu melakukan penataan yang baik dan memperhatikan potensi-potensi yang ada disekitar kawasan tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal. Perencanaan pembangunan dengan konsep eco-culture melalui pendekatan arsitektur ekologi merupakan suatu upaya dalam perancangan kawasan wisata Danau Lebo yang berkelanjutan. Perancangan yang dilakukan menggunakan pendekatan metodologi problem solving berdasarkan aspek ekologi kawasan, aspek sosial ekonomi, dan aspek sosial kultural. Konsep eco-culture dikembangkan menjadi konsep dasar pendekatan perancangan waterfront resort Danau Lebo dengan harapan mampu menarik kunjungan wisatawan dengan memuat prinsip wisata yang dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat melalui pendekatan perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.Kata Kunci: Wisata berkelanjutan, Arsitektur ekologi, waterfront resort
Penerapan Konsep Fleksibilitas Ruang pada Interior Butik Muslim Safira Rizki Damayanti; Rinawati P Handajani; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1259.476 KB)

Abstract

Butik merupakan salah satu bangunan komersil yang juga kerap mengalami perubahan khususnya pada bagian interiornya. Adanya perkembangan tren busana muslim yang terus berkembang berkaitan dengan ruang yang dibutuhkan untuk memperjualbelikan busana tersebut, seperti halnya yang terjadi pada butik muslim. Permasalahan desain interior butik sendiri adalah selalu berlomba-lomba menciptakan konsep ruang butik yang mampu menghadirkan nuansa baru serta estetika yang menarik bagi pelanggan. Hampir semua butik khususnya untuk butik muslim yang memiliki karakter ruang yang tetap, sedangkan perubahan tren kerap terjadi pada busana muslim tersebut, maka show room butik tersebut tidak dapat menyesuaikan dengan perubahan tren busana muslim. Fleksibilitas ruang penting untuk diterapkan pada ruangan yang cenderung mengalami perubahan suasana, sehingga desain pada ruang penjualan butik muslim dapat didesain fleksibel dan adaptif terhadap perubahan tren busana yang terjadi. Oleh sebab itu, kajian ini bertujuan untuk mencoba menerapkan konsep desain interior fleksibel pada salah satu butik muslim di Malang yaitu butik Shafira. Interior butik Shafira didesain fleksibel dengan menerapkan konsep fleksibilitas pada beberapa elemen pelingkup ruang. Konsep fleksibilitas yang diterapkan adalah konsep Konvertibilitas dan versalitilitas yang diterapkan pada elemen pelingkup ruang.Kata Kunci: fleksibilitas ruang, desain interior, butik muslim
Analisa Ecotect Analysis dan Workbench Ansys pada Desain Double Skin Facade Sport Hall Fadhil Muhammad Kashira; Beta Suryokusumo; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sport Hall merupakan bangunan yang mewadahi aktifitas olahraga yangmembutuhkan aktifitas metabolisme tubuh yang tinggi. Dalam aktifitas yang terjadidi dalam ruangan olahraga pada sport hall, kenyamanan termal merupakan syaratutama agar para pengguna bangunan tetap dapat berolahraga dengan maksimal.Salah satu cara untuk mengatur agar besar nilai kenyamanan termal sesuai denganstandar adalah dengan menggunakan double skin facade. Hal ini dikarenakan doubleskin facade memiliki beberapa kelebihan, antara lain : dapat mengurangi cahayamatahari yang masuk, menahan kecepatan angin, dan menurunkan suhu di dalamruangan. Pada iklim tropis, jenis double skin facade yang paling baik adalah jenislouver. Untuk menentukan tipe terbaik dari louver, maka dilakukan simulasi yangmenggunakan bantuan software Autodesk Ecotect dan Workbench Ansys yangditerapkan pada beberapa alternatif louver. Hasil dari simulasi yang telah dilakukanadalah penggunaan egg crate louver dengan kerapatan sirip horizontal dengankerapatan sirip horizontal sebesar 2” dan sirip vertikal sebesar 3” pada ruangolahraga lantai 2 dan egg crate louver dengan kerapatan sirip horizontal sebesar1,5” dan sirip vertikal sebesar 3” pada lantai 1 yang diterapkan pada dindingbangunan bagian barat dan timur.Kata kunci: Sport Hall , Double Skin Facade, Simulasi, Ecotect Analysis, Workbench Ansys
EVALUASI STRATEGI ADAPTIVE REUSE TERHADAP EX-BIOSKOP KELUD BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA Reynaldi Reynaldi; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 4 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adaptive reuse merupakan salah satu cara untuk kembali menghidupkan bangunan yang telah mati. Dalam perancangannya, pemahaman akan nilai dan sejarah dari bangunan serta persepsi dari masyarakat merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan. Gedung exbioskop Kelud telah berdiri selama kurang lebih 50 tahun. Saat ini, gedung ex-bioskop Kelud sudah tidak lagi beroperasi sebagai bioskop. Namun, Gedung ini masih sering digunakan oleh masyarakat untuk menyelenggarakan acara. Studi ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pada masyarakat terhadap kondisi Gedung ex-bioskop Kelud saat ini yang terkait dengan strategi adaptive reuse. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui kuisioner dan observasi lapangan. Data dari kuisioner kemudian dianalisis secara kuantitatif menggunakan Chi-Square Correlation pada SPSS. Hasil studi memperlihatkan aspek-aspek yang diteliti memiliki pengaruh pada pengambilan keputusan masyarakat dalam perancangan strategi adaptive reuse. Aspek lingkungan menjadi aspek yang paling berpengaruh dan Venue acara menjadi pilihan tertinggi.
Pusat Rehabilitasi Diabetes dengan Pendekatan Healing Environment di Surabaya Geldy Desdiandra; Agung Murti Nugroho; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1626.689 KB)

Abstract

Pusat rehabilitasi diabetes ini mendukung konsep healing environment yang pada dasarnya bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan dengan cara merangsang kondisi pasien baik secara psikologis maupun emosional dan memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien penderita diabetes. Perancangan ini berlokasi di Jalan Dr. Ir. H. Soekarno, Kota Surabaya. Lokasi yang dipilih berada kota Surabaya karena memiliki angka pasien penderita diabetes tertinggi di Jawa Timur dengan 14.377 kasus. Lokasi yang digunakan juga tidak berada jauh dengan masyarakat seperti di daerah lereng gunung untuk menghindari pasien merasa terisolasi dari masyarakat. Konsep healing environment yang digunakan didasarkan pada 7 prinsip dasar yang dikembangkan oleh Gary Coates dalam bukunya “Seven Principles of Life Enhancing Design”. Beberapa penerapan konsep healing environment pada desain pada pusat rehabilitasi diabetes adalah konsep tata massa yang terpisah namun tetap menjadi satu kesatuan di dalam tapak dengan proporsi simetris dan seimbang terhadap tapak. Penerapan prinsip kontras pada elemen-elemen ruang luar namun tetap menjaga kesan dekat dengan alam. Adaptasi bangunan terhadap tapak. Memanfaatkan potensi lingkungan alam di dalam tapak. Jenis bukaan lebar pada bangunan. Konsep warna yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Serta jenis sirkulasi berupa radial untuk memberikan kemudahan dalam mengakses organisasi ruang luar dan dalam.Kata kunci: Diabetes, rehabilitasi, healing environment.
Fleksibilitas Artspace dengan Lahan Minim (Studi Kasus Semen Art Gallery) Edwin Abdullah Almuhaimin; Chairil Budiarto Amiuza; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1245.763 KB)

Abstract

Artspace merupakan suatu wadah bagi seniman dalam menuangkan karya seni kemasyarakat dan melestarikan karya serta sebagai sarana pendidikan publik. Bagiandalam dari Artspace adalah komponen penting yang dapat mempengaruhi suasanagaleri. Selain itu terdapat komponen interior yang juga sangat berpengaruh, sepertisistem sirkulasi, tata letak, pencahayaan dan sistem tampilan yang dapatmempengaruhi alur cerita suatu karya dan aktivitas di dalamnya yang dinamissehingga dapat menentukan kenyamanan pengunjung. Adanya fleksibilitas ruangyang dapat memfasilitasi karya seni yang beragam sangat dibutuhkan terutamapada bangunan dengan lahan minimal, sehingga pengembangan fleksibilitas ruangpada Artspace diharapkan dapat meningkatkan manfaat dan fungsionalitasbangunan itu sendiri.Kata kunci: Artspace, Tata Ruang, Sirkulasi, Pencahayaan
Signifikansi Visual Elemen Interior Bangunan Kafe Pada Kota Lama Semarang Berdasarkan Persepsi Pengunjung Agatha Christina Felia Rampi; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Semarang merupakan salah satu dari beberapa kota di Indonesia yang memiliki peninggalan kawasan kolonial, yang disebut sebagai Kawasan Kota Lama Semarang merupakan kawasan pariwisata. Pemerintah Kota Semarang melakukan restorasi dan konservasi pada Kawasan Kota Lama Semarang tersebut dalam rangka mewujudkan program pemerintah dalam menjaga, melestarikan serta menghidupkan kembali kawasan tersebut. Pemerintah Kota Semarang juga mengajukan kawasan tersebut sebagai World Heritage The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2020. Salah satu program yang dilakukan yaitu konservasi, dimana bangunan dibenahi, interior bangunan menjadi faktor penting dalam upaya konservasi tak hanya melihat dari fasade bangunannya saja. Signifikansi budaya pada bangunan merupakan faktor penting dalam upaya konservasi yang dapat dilakukan pada Kawasan Kota Lama Semarang. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskripif-kuantitatif dengan responden penelitian yaitu pengunjung empat kafe di Koridor Jalan Letjen Suprapto, Kawasan Kota Lama Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengunjung Kota Lama Semarang terhadap signifikansi elemen visual interior bangunan kolonial dengan fungsi kafe di Koridor Jalan Letjen Suprapto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap elemen visual interior dari masing-masing kafe memiliki tingkat signifikansi yang berbeda. Elemen perabot dengan sub variabel jenis memiliki pengaruh sebesar 46,5% pada Filosofi Kopi sedangkan pada Spiegel Bar and Bistro sebesar 34,1%, dan pada Keris Cafe sebesar 32,8%. Sedangkan elemen bukaan dengan sub variabel jenis memiliki pengaruh sebesar 15,7 pada Tekodeko Koffiehuis.
Pengaruh Store Atmosphere terhadap Persepsi Pengunjung Kafe Urban di Malang nadira nuswantoro; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Kota Malang, bisnis Food and Beverage (F&B) seperti restoran dan kafe banyak diminati. Menurut data terakhir Badan Pusat Statistik Kota Malang, pada survey tahun 2019 jumlah total kafe dan restoran yang ada di Kota Malang berjumlah 1.444 unit yang tersebar diseluruh kecamatan. Kafe Coffee Toffee Malang yang merupakan objek penelitian ini merupakan salah satu dari kafe yang tersebar di seluruh kota. Tepatnya, berlokasi di Jalan Jakarta No.58, Kota Malang, Jawa Timur. Untuk memenangkan persaingan bisnis kafe Store Atmosphere atau suasana kafe dapat menjadi solusi untuk menarik minat pengunjung dengan merangsang respon emosional dan persepsi pengunjung. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif untuk mendapatkan tujuan, yaitu mengetahui pengaruh Store Atmosphere terhadap persepsi pengunjung. Penelitian ini menemukan adanya pengaruh General interior dan Store Layout terhadap persepsi pengunjung secara partial dan stimultan Kata kunci: Store Atmosphere, Persepsi Pengunjung, Kafe
Co-Authors abidah fitrianita Adli Bulain Agatha Christina Felia Rampi Agung Murti Nugroho Ajeng Dyosta Lucandhary Almira Firdania Isna Johanda Anggi Delizvi Anggraeni Annisa Putri Fudali Antariksa Antariksa Antariksa Antariksa Antariksa Antariksa Bagus Suryo Atmojo Bambang Yatnawijaya Baskoro Azis Bayu Setyanugraha Rushadi Beta Suryokusumo bilal muhammad hasan Chairil Budiarto Amiuza Cyndhi Dewi Rukmana Damayanti Asikin Dandi Raviandaru Pratama Dewa Ayu Natih Ninggra Deviyanti Dila Dayita Diyan Lesmana Edwin Abdullah Almuhaimin Eni Zuliana Eni Zuliana Erni Kesuma Wardani Exacorinna Azalia Sucipto Fadhil Muhammad Kashira Farah Rosa Bela Asnawi fenny widiana Fifi Damayanti Geldy Desdiandra Inayatul Fikriyah Insani Aulia Qisti Iwan Wibisono Jenny Ernawati Jenny Ernawati Jenny Ernawati Jenny Ernawati Jenny Ernawati Jhon Andrew Hasudungan Juniawan Adhari Karysa Ranaziza Kevin Tjahyono Knasatra Saraswati Lavica Vioveta Lisa Dwi Wulandari Magvira Ardhia Pratiwi Muchamad Januar Irfan Muhammad Faisol Muhammad Farhan Shaukat Muhammad Satya Adhitama Muhammad Syafrudin Hilal Nabila Ramanindhita nadira nuswantoro Nenchi Rana Mustika Nindhi Kurnia Astiti Novi Sunu Sri Giriwati Novi Sunu Sri Giriwati Nur Faragita Anjani Nur Fauziah Nurachmad Sujudwijono Nurina Hendri Wardina Olivia Caterine Dora Maran Olivia Caterine Dora Maran Oni Wibisono Parada Ichwan Parnanda Pipiet Arini Putri Putri Nabila Zatibayani Rahmat Sepa Indrawan Redi Sigit Febrianto Redi Sigit. F Restica Hapsari Widyastuti Retno Ulvi Setiamurdi Reynaldi Reynaldi Ridha Aulia Ridjal, Abraham Mohammad Rinawati Pudji Handajani Riswanda Setyo Addino Safira Rizki Damayanti Sevilla Tiara Nugroho Shafna Puspita Abhipraya Sinaga, Andriano Sri Utami Subhan Ramdlani Syamsun Ramli Syamsun Ramli Syarapuddin Syarapuddin Tatania Lintang Alviani Tito Haripradianto Totok Sugiarto Tri Wahyu Diana U Bayu Santosa Umi Hajar Kholifatul Hidayah wafid irsyadunnas Wahyuni Eka Sari Wasiska Iyati Wayu L Syuhaya Widya Nurul Aisyah H. Windhy Frida Iswara Wirawan Fawaza Wulan Astrini Wulan Novianti Yusfan Adeputera Yusran Yusfan Adeputera Yusran Zai Dzar Al Farisa