Articles
Kriteria Desain Hospice Untuk Pasien Anak Penderita Kanker
Insani Aulia Qisti;
Rinawati P Handajani;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Hospice merupakan tempat perawatan untuk pasien yang kehilangan kemampuan diri dalam pemenuhan kebutuhan fisik, emosional dan spiritual guna peningkatan kualitas hidup pasien maupun keluarga. Pasien kanker dikategorikan menjadi penyakit kronis yang memerlukan hospice sebagai tempat perawatan mereka. Pasien anak penderita kanker memiliki karakteristik khusus yang berbeda perawatannya dengan pasien kanker dewasa. Perkembangan anak seiring usianya harus tetap berjalan meskipun mereka sedang mengidap penyakit kronis. Keterbatasan kemampuan diri mereka dalam beraktivitas membutuhkan ruang yang dapat membantu aktivitas mereka di kehidupan sehari-hari, setelah pengobatan sampai mereka kembali pulih. Oleh karena itu dibutuhkan kriteria desain hospice untuk memenuhi kebutuhan arsitektural ruang dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas pasien anak penderita kanker. Hasil akhir dari penelitian ini adalah keluarnya kriteria desain dalam mendesain hospice yang dikumpulkan dari analisis isi dari beberapa literatur. Kriteria desain tersebut antara lain organisasi ruang, sirkulasi, tata dan dimensi perabot, material/finishing, warna, pencahayaan, penghawaan, akustik, dan desain ruang luar.Kata kunci: hospice, pasien anak, kanker
Fleksibilitas Studio Film pada Akademi Perfilman
Widya Nurul Aisyah H.;
Rinawati P Handajani;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1443.867 KB)
Industri film Indonesia telah mengalami pasang surut dalam hal perkembangannya. Kurangnya wadah untuk menampung ide-ide kreatif para sineas muda dan masyarakat lain yang ingin berkecimpung di dunia perfilman juga menjadi alasan mengapa kualitas film Indonesia masih banyak yang kurang, walaupun tidak sedikit juga yang dapat menembus pasar internasional. Sekolah film dengan fasilitas memadai adalah salah satu solusi yang dicari masyarakat. Fasilitas tersebut di antaranya adalah studio film, yang merupakan tempat dilakukannya pengambilan gambar, berbentuk sebuah ruangan besar dan tinggi berisi berbagai macam set dan latar. Di sekolah film, studio ini digunakan oleh para siswa untuk belajar dan membuat film yang berbeda-beda. Hal ini mempengaruhi set dan latar yang digunakan dalam studio sehingga studio pun memerlukan sebuah fleksibilitas untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswanya. Metode yang digunakan adalah metode traditional problem solving yang menjabarkan analisis terkait isu dan objek yang dirancang, yang nantinya dapat menghasilkan solusi untuk masalah tersebut. Perancangan ini akan menghasilkan tatanan ruang studio film sesuai kebutuhan para mahasiswa, yang menerapkan elemen ruang fleksibel berupa partisi.Kata Kunci: fleksibilitas, studio film, akademi perfilman, partisi
Gedung Kuliah Kedokteran Hewan Kampus II Universitas Brawijaya dengan Konsep Bioklimatik
Adli Bulain;
Agung Murti Nugroho;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1157.72 KB)
Kota Malang merupakan kota dengan iklim tropis lembab dengan udara yang sejuk karena terletak pada dataran tinggi. Potensi geografis dan iklim yang baik di Kota Malang mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk setiap tahun secara pesat sehingga hal ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan bangunan komersial dan non komersial. Kondisi ini menyebabkan ruang terbuka hijau menjadi berkurang dan menyebabkan peningkatan suhu serta perubahan iklim mikro setempat. Kota Malang memiliki banyak institusi ternama, salah satunya Universitas Brawijaya yang memiliki jumlah mahasiswa sangat padat. Terkait banyaknya jumlah mahasiswa dan pertimbangan aspek lingkungan UB akan menerapkan konsep green campus. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan alternative bangunan yang sesuai fungsi yang ditetapkan yaitu gedung kuliah kedokteran hewan dengan pertimbangan iklim dan kenyamanan bagi penggunanya dengan konsep bioklimatik. Konsep green campus berkaitan dengan kriteria bioklimatik di antaranya orientasi, bukaan jendela, desain dinding, pembayang pasif, lansekap, open plan, dan ruang transisi. Metode perancangan yang digunakan ialah metode programatik dan pragmatik. Sedangkan analisis dan sintesis dilakukan dengan metode programatik. Hasil yang diperoleh yaitu aplikasi konsep bioklimatik pada bangunan berperan menurunkan suhu ruangan dan mampu mengatur pencahayaan alami secara efektif sehingga dapat menciptakan kenyamanan termal dan visual bagi pengguna bangunan.Kata kunci: Malang, gedung kuliah, bioklimatik
PENGARUH PERSEPSI VISUAL PADA ELEMEN ARSITEKTUR BANGUNAN BERSEJARAH BIOSKOP METROPOLE TERHADAP MINAT KUNJUNG MASYARAKAT
Dewa Ayu Natih Ninggra Deviyanti;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Keberadaan bangunan bersejarah bukan hanya sebagai sebuah peninggalan, bangunan bersejarah dapat memberi cerita dan pelajaran berharga di masa kini. Strategi bangunan bersejarah perlu di lakukan untuk tetap melestarikan dan menjaga keberadaan bangunan bersejarah. Metropole merupakan bangunan cagar budaya yang masih dapat bertahan dengan fungsinya sebagai bangunan komersil. Gaya artdeco yang khas pada bangunan metropole dapat dilihat dari eksterior dan interior bangunan. Gaya geometris yang sederhana dengan pola geometris yang kuat sebagai gaya art deco terdapat pada bangunan Metropole. Studi ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap elemen arsitektur bangunan bersejarah Metropole dan pengaruhnya terhadap minat kunjung masyarakat. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang kemudian dianalisis secara kuantitatif melalui SPSS. Hasil penelitian menunjukan bahwa 39% elemen eksterior berupa fasad, jendela, pintu, podium, menara, bentuk bangunan dan ornamen dan 32,% elemen interior berupa lantai, dinding, pintu, plafon, perabot, kolom dan lampu berpengaruh signifikan terhadap minat kunjung masyarakat terhadap bioskop Metropole.
Pola Aktivitas Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik di Bantaran Sungai Kali Mas Surabaya
Dila Dayita;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (361.067 KB)
Taman Prestasi dan Taman Skate & BMX adalah ruang publik yang berada di bantaran sungai Kali Mas Surabaya. Taman Prestasi memiliki fungsi untuk bersantai dan juga rekreasi. Sedangkan Taman Skate & BMX adalah skate park. Suatu ruang publik dikatakan berhasil apabila dapat mewadahi tujuan awal ruang publik itu sendiri. Untuk mengetahui pemanfaatan dari suatu ruang publik dibutuhkan observasi yang terstruktur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganilisis pemanfaatan dari Taman Prestasi dan Taman Skate & BMX dengan melihat pola aktivitas yang terbentuk. Observasi menggunakan place-centered mapping dilakukan pada hari libur, akhir pekan, hari kerja pagi dan sore. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua ruang publik didominasi oleh aktivitas duduk dan bermain, pengunjung lebih memilih kedua aktivitas tersebut dibandingkan yang lainnya saat mengunjungi kedua taman. Pemanfaatan dan persebaran aktivitas pada kedua ruang publik memiliki pola yang berbeda-beda. Kata kunci: pola aktivitas, ruang publik, pemanfaatan ruang publik
Kenyamanan Spasial dan Visual Ruang Pejalan Kaki pada Koridor Jalan Borobudur Kota Malang
wafid irsyadunnas;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Koridor Jalan Borobudur merupakan satu dari lima koridor jalan provinsi di Kota Malang yang memiliki keragaman aktivitas di dalamnya, dengan area komersial sebagai fungsi utama kawasan. Kota Malang dengan perkembangan ekonomi yang cukup cepat mengakibatkan pertumbuhan wajah bangunan yang dinamis dimana hal ini mempengaruhi aktivitas dan juga kenyamanan masyarakat, terutama pengguna ruang pejalan kaki. Terkait kenyamanan sendiri fokus utama penelitian ini hanya pada dua aspek kenyamanan yaitu kenyamanan spasial dan kenyamanan visual. Penilaian terhadap karakter fisik kondisi eksisting pada koridor jalan ini merupakan langkah awal penelitian dalam menentukan apakah kondisi karakter fisik sudah sesuai atau belum dengan regulasi selanjutnya hasil dari penilaian tersebut disandingkan dengan preferensi pengguna ruang pejalan kaki untuk mengetahui apakah kenyamanan spasial dan visual sudah terpenuhi atau belum. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, dengan analisis kualitatif dalam pengukuran kondisi eksisting yang ada pada koridor Jalan Borobudur dan analisis kuantitatif dalam pengumpulan preferensi pengguna ruang pejalan kaki pada koridor jalan ini. Hasil yang diperoleh sebesar 83,33% parameter kriteria kenyamanan spasial relevan dengan preferensi publik dan 100% parameter kriteria kenyamanan visual tidak relevan dengan preferensi publik.Kata kunci: kenyamanan spasial, kenyamanan visual, koridor jalan, preferensi publik
Pusat Penelitian Hortikultura Universitas Brawijaya di Cangar Dengan Pendekatan Arsitektur Ekologis
Erni Kesuma Wardani;
Herry Santosa;
Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perancangan pusat penelitian hortikultura merupakan upaya pengembangan kebunpercobaan hortikultura milik Universitas Brawijaya di Cangar, yang memilikipotensi untuk dijadikan sebagai kawasan penelitian dan usaha meningkatkankualitas dan kuantitas produk hortikultura. Besarnya penggunaan energi padakawasan pusat penelitian yang terdiri dari kelompok bangunan dengan kategoripenelitian seperti laboratorium diperlukan adanya usaha perancangan yangmemfokuskan harmonisasi dengan alam yaitu melalui pendekatan arsitekturekologis. Metode kajian yang digunakan adalah metode problem solving danprogramatik dengan mengacu pada teori Cowan and Ryn yaitu design with naturemelalui empat terapan elemen arsitektur ekologis antara lain optimalisasi vegetasi,sistem pencahayaan dan penghawaan alami, peningkatan mutu lingkungan danpengurangan sampah. Strategi pemanfaatan vegetasi eksisting dicapai melaluipotensi vegetasi eksisting, penetapan fungsi terkait pemanfaatan lahan, tata massa,sirkulasi dan ruang luar. Orientasi, bentuk dan lingkup bangunan digunakan sebagaistrategi pencahayaan alami. Elemen terapan peningkatan mutu lingkunganterwujud melalui penggunaan bahan dan material yang digunakan pada strukturbangunan. Pengolahan limbah organik yang dihasilkan oleh kegiatan laboratoriumdan dapat digunakan kembali sebagai silase atau kompos sehingga sampah yangdihasilkan bangunan laboratorium dapat dikurangi. Perancangan pusat penelitianmelalui pendekatan arsitektur ekologis, bertujuan untuk menjaga keberadaansumber daya alam dan potensi pada tapak sehingga dapat dipertahankan tanpaadanya penurunan kualitas lingkungan.Kata kunci: hortikultura, pusat penelitian, laboratorium, arsitektur ekologis
Pengaruh Shading Devices terhadap Penerimaan Radiasi Matahari Langsung pada Fasad Gedung Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya
Putri Nabila Zatibayani;
Agung Murti Nugroho;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pemanasan global yang terjadi pada permukaan bumi berdampak pada perubahan parameter iklim, salah satunya adalah radiasi matahari. Pada bangunan, khususnya bangunan bertingkat sedang sampai tinggi, elemen bangunan yang terdampak radiasi matahari adalah fasad. Semakin luas permukaan fasad dengan orientasi hadap bangunan yang kurang tepat, akan memperbesar potensi penerimaan radiasi matahari langsung. Bangunan sebagai objek penelitian adalah Gedung Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Pada gedung tersebut sisi fasad yang terluas menghadap ke arah Timur dan Barat memiliki perlindungan shading device yang kurang maksimal. Simulasi incident solar radiation dilakukan dengan menggunakan software Autodesk Ecotect Analysis 2011. Analisis dilakukan untuk mengetahui rekomendasi desain shading device pada tiap sisi fasad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis shading device yang efektif menaungi jendela adalah awning dan horizontal louvres screen.Kata kunci: radiasi matahari langsung, shading device, awning, horizontal louvres screen
Geometri Islami pada Masjid Universitas di Kota Malang
Nabila Ramanindhita;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Geometri muncul sebagai salah satu seni Islam karena Islam melarang penggunaanmakhluk hidup yaitu hewan dan manusia sebagai bagian dalam kesenian Islam.Geometri Islami muncul sebagai acuan proporsi perancangan desain dengan metoderasio 1 : 5 pada denah, tapak atau layout plan, ketinggian bangunan dan ketinggianmenara pada bangunan-bangunan Islami di Andalusia. Pengujian geometri Islamisebagai acuan proporsi perancangan desain pada masjid-masjid universitasterutama di Kota Malang yang terkenal dengan sebutan Kota Pendidikan karenamasjid saat ini menjadi bagian dari kompleks universitas yang mudah ditemukan.Metode yang digunakan adalah metode deduktif-kualitatif yakni metode yangmenggunakan teori untuk alat penelitian sebagai pijakan awal dan menemukanmasalah, kemudian membangun hipotesis maupun melakukan pengamatan dilapangan sampai dengan menguji data sehingga metode rasio 1 : 5 digunakan untukmenguji Masjid Raden Patah di UB, Masjid A.R. Fachruddin di UMM, Masjid AinulYaqin di UNISMA, Masjid Tarbiyah di UIN Malik Ibrahim, dan Masjid Al-Hikmah diUM di Kota Malang. Hasil penelitian dari kelima masjid universitas di Kota Malangmenunjukkan bahwa metode rasio 1 : 5 sebagai acuan proposi perancangan desainbangunan Islami tidak diterapkan.
Pusat Layanan Usaha Terpadu UMKM Kota Malang (Optimalisasi Sentralisasi Ruang Layanan Utama dengan Pendekatan Sintaks)
Kevin Tjahyono;
Herry Santosa;
Bambang Yatnawijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1463.79 KB)
Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) berperan dalam memajukan UMKM dengan fasilitas-fasilitas layanan seperti pemasaran, pelatihan, layanan umum, dan perbankan. Fungsi ruang di dalam PLUT memiliki kompleksitas yang tinggi. Sentralisasi ruang layanan utama membuat ruang-ruang terhubung dan saling berkaitan. Ruang sentral akan menjadi penghubung yang strategis terhadap ruang-ruang layanan utama lainnya. Sentralisasi ruang-ruang layanan dapat memberikan kemudahan terhadap user PLUT. Acuan bagi PLUT diambil dari standar dan hasil studi komparasi bangunan sejenis. Simulasi sintaks pada bangunan studi komparasi untuk mendapatkan hasil nilai integrasi, konektivitas, dan keterjangkauan di dalam bangunan. Nilai integrasi yang tinggi memiliki gambaran jangkauan konektivitas yang dihasilkan PLUT. Acuan studi komparasi digunakan untuk membuat alternatif-alternatif blok massa. Blok massa dengan hasil simulasi terbaik dikembangkan ke dalam bentuk alternatif denah bangunan. Ketiga alternatif denah bangunan dilakukan simulasi sintaks untuk mencari hasil konektivitas dan integrasi yang tertinggi sebagai desain PLUT Kota Malang. Nilai integrasi, konektivitas dan kedalaman dari alternatif desain menjadi acuan dalam menentukan hasil desain PLUT yang optimal. Variabel tetap didapatkan dari kondisi hubungan ruang, susunan, dan jenis ruang di dalam PLUT. Variabel pengubah pada alternatif desain , yakni aspek keterjangkauan yang diukur nilai integrasi di dalam ruang. Alternatif desain dengan nilai integrasi ruang yang terbaik dapat menentukan hasil desain PLUT optimal sesuai dengan pendekatan sintaks.Kata kunci : PLUT, Simulasi sintaks. Sentralisasi, Ruang Layanan