Claim Missing Document
Check
Articles

EKSPLORASI POTENSI SUMBERDAYA IKAN LOKAL LELE KELIK (Clarias nieuhofii) SEBAGAI SUMBER PROBIOTIK Adibrata, Sudirman; Lingga, Rahmad; Roanisca, Occa
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 19, No 2 (2023): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.19.2.68-74

Abstract

Pemilihan jenis ikan lokal sebagai sumber probiotik sebaiknya jenis yang sudah beradaptasi terhadap lingkungan alami. Ikan lokal merupakan ikan yang paling tahan terhadap perubahan kondisi cuaca dan keberadaannya masih dapat dijumpai di wilayah tersebut. Penelitian dilakukan bulan Maret hingga September 2022. Lokasi pengambilan sampel di 5 kecamatan di Pulau Bangka yaitu Kecamatan Sungailiat, Merawang, Mendo Barat, Toboali, dan Gabek. Pengujian di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Bangka Belitung (UBB) dan CV. Dua Agri Mandiri (CV. DAM) Desa Petaling  Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Metode analisis sampel menggunakan rumus kelimpahan relatif, indeks dominansi, kualitas air, dan metode Total Plate Count (TPC) untuk menghitung jumlah mikroba. Hasil menunjukan bahwa terdapat 5 besar sampel ikan yang memiliki kelimpahan relatif tinggi secara berurut yaitu ikan putihan / tawes (Barbonymous gonionotus) 28,05%, ikan lele kelik / lembat (Clarias nieuhofii) 20,73%, ikan nila (Oreochromis niloticus) 9,76%, ikan sepat rawa (Trichogaster trichopterus) 9,76%, dan ikan tepalak (Betta simorum) 7,32%. Nilai indeks dominansi (C) sebesar 0,16 termasuk dominansi rendah artinya tidak ada spesies yang mendominasi secara signifikan dari sampel tersebut. Berdasarkan pertimbangan kelimpahan relatif, indeks dominansi, dan persebaran spesies maka dipilih jenis ikan lele kelik sebagai kandidat isolate BAL probiotik. Kelimpahan ikan air tawar di kolong, rawa, atau sungai ditentukan oleh karakteristik habitat perairannya, begitu juga ikan lele kelik yang hidup di perairan rawa alami dengan entitas kualitas air yang menjadi faktor pembatas. Hal ini diduga bahwa ikan tersebut memiliki toleransi yang luas, kekebalan tubuh yang kuat, serta didukung oleh bakteri baik yang ada dalam tubuhnya. Jumlah mikroba pada sampel lele kelik / lembat (Clarias nieuhofii) yaitu 1,4 x 10⁹ dimana nilai ini lebih tinggi dari jumlah mikroba pada ikan nila, udang vaname, ikan mackerel.The study was conducted from March to September 2022. The locations for sampling were in 5 districts on Bangka Island, namely Sungailiat, Merawang, Mendo Barat, Toboali, and Gabek Districts. The tests were conducted at the Microbiology Laboratory at Universitas Bangka Belitung and CV. DAM in Petaling Village, Mendo Barat District, Bangka Regency. The method used the formula for relative abundance, dominance index, water quality, and the Total Plate Count (TPC) method to calculate the number of microbes. The results showed that there were 5 large samples that had relatively high abundances sequentially, namely tawes (Barbonymous gonionotus) 28.05%, catfish kelik / lembat (Clarias nieuhofii) 20.73%, tilapia (Oreochromis niloticus) 9.76%, swamp fish (Trichogaster trichopterus) 9.76%, and tepalak fish (Betta simorum) 7.32%. The dominance index value is 0.16, including low dominance, meaning that no species dominates significantly from the sample. Based on the relative abundance, dominance index, and species distribution chosen the type of catfish kelik is a candidate for probiotic LAB isolates. The abundance of fish in kolong, swamps, or rivers is determined by the characteristics of their aquatic habitat, like catfish that live in the natural swamp with water quality entities being the limiting factor. It is supposed that these fish had a wide tolerance, and a strong immune system, and were supported by beneficial bacteria in the body of the fish. The number of microbes in the sample of catfish kelik (Clarias nieuhofii) was 1.4 x 10⁹ CFU/ml which was higher than the number of microbes in tilapia, vaname shrimp, mackerel. 
The Effect of Harvest Time of Sapu-Sapu Leaves (Baeckea frutescens L.) the Yield, Characteristics and Composition of Essential Oils Extached Using Steam-Hydro Distillation Method Elicia, Resta; Roanisca, Occa; Asriza, Ristika Oktavia
Indonesian Journal of Chemical Analysis (IJCA) Vol. 7 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Chemical Analysis
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/ijca.vol7.iss2.art10

Abstract

The sapu-sapu plant (Baeckea frutescens L.) is widespread in the Bangka Belitung Islands Province, thriving in sandy areas such as beaches and highlands with less fertile soil. This study aimed to determine the optimal harvest time for sapu-sapu leaves to obtain essential oils' highest yield and most desirable characteristics. The research focused on the duck-type sapu-sapu leaves, using five variations of harvest time (coded as A1, A2, A3, A4, and A5, representing leaves harvested at 1, 2, 3, 4, and 5 months of growth, respectively). Essential oil extraction was performed using the steam distillation method. The resulting oils were then analyzed using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) to determine their chemical composition. The results showed that sample A1 (1-month growth) produced the highest essential oil yield at 0.74% (w/w). This sample also exhibited the most optimal essential oil characteristics: clear yellow color, characteristic sapu-sapu odor, warm bitter taste, solubility in 96% ethanol at 1:13, specific gravity of 0.8863 g/mL, optical rotation of (+) 10.28°, and refractive index of 1.474. GC-MS analysis revealed that the main compounds in the A1 sample were α-pinene (43.84%), β-pinene (13.56%), and 1,8-cineol (24.26%). The study concluded that while the variation in harvest time of sapu-sapu leaves did not significantly affect the yield, characteristics, or composition of the essential oils, there were slight differences in yield and color. Sample A1, representing the youngest leaves, produced the most optimal results.
PEMBERDAYAAN PELAKU UMKM RUSEP DESA BATU BELUBANG MELALUI PENGEMBANGAN PRODUK PENYEDAP RASA BERBASIS FERMENTASI IKAN Roanisca, Occa; Valeriani, Devi; Anggraeni, Anggraeni
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 2 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i2.2368

Abstract

Mengonsumsi penyedap rasa Monosodium Glutamat (MSG) secara berlebihan dapat menimbulkan gejala Chinese Restaurant Syndrome yang memicu kerusakan pada otak, peradangan hati dan menghambat perkembangan kecerdasan anak serta mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf dan kanker. Desa Batu Belubang terkenal dengan produk rusep hasil fermentasi ikan teri. Rusep dapat dikembangkan menjadi kecap ikan dan digunakan sebagai penyedap rasa yang sehat dan bergizi. Kurangnya pengetahuan dan kreativitas mitra pelaku UMKM rusep dalam pengolahan rusep menjadi produk kecap ikan, maka kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam produksi kecap ikan yang memenuhi standar bersih dan dijadikan produk unggulan desa yang berdaya saing, menjalankan strategi pemasaran yang tepat untuk menjangkau pasar yang luas, serta meningkatkan jejaring kerja sama dengan mitra instansi terkait tingkat Kabupaten Bangka Tengah dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui pendampingan pelaku UMKM rusep Desa Batu Belubang dalam produksi kecap ikan. Formulasi kecap ikan tersebut akan dikombinasi dengan rempah-rempah dan lada putih Bangka Belitung untuk mendapatkan kualitas kecap ikan yang baik. Hasil yang telah dicapai dari program pengabdian ini adalah tersedianya produk kecap ikan berbasis fermentasi ikan yang berstandar bersih dan halal dengan bentuk desain stiker dan kemasan yang aman dan menarik. Komitmen mitra sasaran akan melanjutkan pengembangan kecap ikan rusep menjadi produk unggulan Desa Batu Belubang.
SYNTHESIS OF ALPHA TERPINEOL FROM THE ESSENTIAL OIL OF SAPU-SAPU PLANT USING A COMBINATION OF NATURAL ACID CATALYST OF STARFRUIT AND SYNTHETIC ACID lestari, Dea; Occa Roanisca; Nurhadini
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 7 No. 1 (2025): January - June 2025
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v7i1.11485

Abstract

Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) adalah tumbuhan yang tidak termasuk kedalam tumbuhan musiman yang banyak tumbuh di Bangka Belitung dan memiliki rasa yang asam. Buah belimbing wuluh memiliki kandungan AHA seperti asam malat, asam askorbat, dan asam sitrat. Potensi rasa asam buah belimbing wuluh dapat digunakan sebagai katalis pada sintesis alfa terpineol dari alfa pinene minyak atsiri tumbuhan sapu-sapu. Alfa terpineol dapat disintesis dengan tanpa kombinasi dan kombinasi katalis. Katalis yang digunakan seperti asam sulfat 15%, asam asetat 99,5%, dan asam buah belimbing wuluh. Tujuan dari penelitian ini adalah dapat mengetahui persen area alfa terpineol dengan variasi komposisi katalis, dan dapat menentukan kadar alfa terpineol dengan variasi komposisi katalis. Persen area alfa terpineol yang dihasilkan tertinggi pada katalis asam sulfat (15%) sebesar 16,76%, katalis kombinasi 1 sebesar 12,13%, katalis kombinasi 2 sebesar 8,38%, katalis asam asetat (99,5%) sebesar 3,22%, dan katalis asam buah belimbing wuluh sebesar 0,42%. Kadar alfa terpineol yang dihasilkan tertinggi pada katalis asam sulfat (15%) sebesar 33,14%, katalis kombinasi 1 sebesar 23,99%, katalis kombinasi 2 sebesar 16,57%, katalis asam asetat (99,5%) sebesar 6,36%, dan katalis asam buah belimbing wuluh sebesar 0,83%.   Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) is a plant that is not included in seasonal plants that grow in Bangka Belitung and has a sour taste. Starfruit contains AHA compounds, including malic acid, ascorbic acid, and citric acid. The potential sour taste of starfruit can be used as a catalyst in the synthesis of alpha terpineol from alpha pinene of sapu-sapu essential oil. Alpha terpineol can be synthesized with no catalyst or a combination of catalysts. The catalysts used are sulfuric acid (15%), acetic acid (99.5%), and starfruit acid. The purpose of this study was to determine the percentage area of alpha terpineol with variations in catalyst composition, and to determine the levels of alpha terpineol with variations in catalyst composition. The percentage area of alpha terpineol produced was highest in sulfuric acid catalyst (15%), at 16.76%, combination catalyst one at 12.13%, combination catalyst two at 8.38%, acetic acid catalyst (99.5%) at 3.22%, and starfruit acid catalyst at 0.42%. The highest alpha terpineol content was produced in sulfuric acid catalyst (15%) at 33.14%, combination catalyst one at 23.99%, combination catalyst two at 16.57%, acetic acid catalyst (99.5%) at 6.36%, and starfruit acid catalyst at 0.83%.
COMPARISON OF THE AGE OF SAPU-SAPU (Baeckea frutescens L.) LEAVES BOW DOWN AND UNBOWED ON THE YIELD AND PHYSICAL FEATURES OF OIL USING STEAM-HYDRO DISTILLATION METHODS Adelia, Della; Occa Roanisca; Ristika Oktavia Asriza
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 7 No. 1 (2025): January - June 2025
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v7i1.12944

Abstract

Minyak atsiri merupakan minyak yang bersifat volatil, tersusun dari senyawa golongan terpenoid (monoterpen dan seskuiterpen). Salah satu tumbuhan yang berpotensi dijadikan minyak atsiri adalah tumbuhan sapu-sapu (Baeckea frutescens L.) Kepulauan Bangka Belitung. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbandingan rendemen, karakteristik, dan komponen senyawa kimia dalam minyak atsiri daun sapu-sapu merunduk dan tidak merunduk pada umur panen di atas dan kurang dari 2 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah destilasi uap air. Rendemen minyak atsiri yang dihasilkan dari tumbuhan sapu-sapu daun merunduk di atas 2 tahun (DM+2), daun tidak merunduk di atas 2 tahun (DTM+2), daun merunduk kurang dari 2 tahun (DM-2) dan daun tidak merunduk kurang dari 2 tahun (DTM-2) berturut-turut adalah 0,598%, 0,595%, 0,505% dan 0,544%. Minyak atsiri dari daun sapu-sapu merunduk di atas 2 tahun memiliki aroma dan warna lebih dominan dibandingkan dengan yang lainnya. Komponen senyawa kimia yang dihasilkan dari empat variasi minyak atsiri ini berbeda-beda. Minyak atsiri daun sapu-sapu jenis merunduk di atas 2 tahun memiliki total persentase komponen senyawa kimia area sebesar 97,49% dan merunduk kurang dari 2 tahun sebesar 97,74%. Sedangkan komponen senyawa kimia minyak atsiri daun sapu-sapu jenis tidak merunduk di atas 2 tahun sebesar 98,54% dan tidak merunduk kurang dari 2 tahun sebesar 98,38%.   Essential oil is a volatile oil, composed of terpenoid group compounds (monoterpenes and sesquiterpenes). One of the plants that has the potential to be used as an essential oil is the Bangka Belitung Islands sapu-sapu plant (Baeckea frutescens L.). The purpose of this study was to determine the comparison of yield, characteristics, and components of chemical compounds in the essential oil of sapu-sapu leaves, ducking and not ducking at harvest ages above and below 2 years. The method used in this research is the water vapor distillation method. The yield of essential oil produced from sapu-sapu leaves ducked above 2 years (DM+2), leaves not ducked above 2 years (DTM+2), leaves ducked less than 2 years (DM-2) and leaves not ducked less than 2 years (DTM-2) are 0.598%, 0.595%, 0.505% and 0.544% respectively. Essential oil from sapu-sapu leaves ducked over 2 years has a more dominant aroma and color compared to the others. The components of chemical compounds produced from the four variations of essential oil are different. Essential oil of sapu-sapu leaf type aged for more than 2 years has a total percentage of chemical compound components of 97.49%, while that aged for less than 2 years has a total rate of 97.74%. While the chemical compound component of the essential oil of sapu-sapu leaves of the type that does not bow above 2 years is 98.54%, and does not bow less than 2 years is 98.38%.
PENGEMBANGAAN KUBE BERKAH MANDIRI DESA SEMPAN MELALUI PEROLEHAN PERIZINAN PRODUK DAN PEMASARAN BERBASIS DIGITAL Adisyahputra, Adisyahputra; Roanisca, Occa; Gus Mahardika, Robby; Yulia, Yulia
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 5 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i5.2110-2115

Abstract

Desa Sempan memiliki potensi komoditas pertanian yang sangat tinggi, keadaan ini dimanfaatkan oleh sekelompok Ibu Rumah Tangga (IRT) untuk mengolahnya menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi. Untuk mewadahi kegiatan produksi produk UMKM, ibu-ibu di Desa Sempan membentuk KUBE Berkah Mandiri. Produk UMKM yang terdapat di dalam KUBE tersebut belum memiliki perizinan produk. Oleh karena itu, melalui kegiatan pengabdian ini, tim pengabdi memfasilitasi perizinan produk, dan pemasaran berbasis digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sosialisasi dan pendampingan langsung kepada anggota KUBE Berkah Mandiri. Hasil dari kegiatan pengabdian ini, seluruh anggota KUBE Berkah Mandiri telah mendapatkan Sertifikat PKP, Sertifikat SPP-IRT, label stiker produk, dan telah memiliki akun di E-Commerce Shopee dalam rangka perluasan jaringan pemasaran berbasis digital.
Identifikasi Morfometrik Belangkas (Family: Limulidae) Di Pantai Tanjung Punai Kabupaten Bangka Barat Fuad, Akmal Nur; Aisyah, Siti; Pratiwi, Fika Dewi; Roanisca, Occa; Swandi, Monica K.
Journal of Tropical Marine Science Vol 7 No 2 (2024): Journal of Tropical Marine Science
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jour.trop.mar.sci.v7i2.5426

Abstract

Tanjung Punai is one of the beach in the coastal area of ​​West Bangka Regency which has conditions in the form of sandy beaches and mangrove ecosystems. These conditions support various biota that live and develop, one of which is the horseshoe crab. Horseshoe crab are aquatic invertebrates belonging to the phylum Arthropoda and the family Limulidae. The morphometric characters of horseshoe crab doves have different variations based on geographical area. This research aims to identify horseshoe crab based on morphology and morphometrics in Tanjung Punai Beach. The research was carried out in April-May 2022 at Tanjung Punai Beach, West Bangka Regency. The research method uses methods purposive sampling as well as data analysis using Independent Samples T-Test and simple linear regression analysis. The species found is Carcinoscorpius rotundicauda and Tachypleus gigas. The significance value is 0.00 (p < 0.05) and the t value thit > ttab shows that there are differences in the average morphometric characters between the two species.
Phytochemical Screening of Acetone Extract of Rambai Leaves (Baccaurea motleyana) and Its Bioactivity as an Antibacterial Against Escherichia coli and Staphylococcus aureus Fransiska, Destalia; Roanisca, Occa; Nurhadini, Nurhadini
Jurnal Pijar Mipa Vol. 19 No. 4 (2024): July 2024
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram. Jurnal Pijar MIPA colaborates with Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpm.v19i4.6840

Abstract

Bacteria are one of the organisms that may cause disease in the human body. Some bacteria which often infect the human body are Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Both bacteria are pathogenic and possibly lead to various diseases such as diarrhea, urinary tract infections, and lung infections that have the potential to result in death. Treatment of infections caused by these bacteria can be done by giving antibiotics as therapy or a quick cure against infection. The use of antibiotics has side effects that result in resistance. Therefore, it is necessary to screen bioactive compounds with bioactivity as better antibacterial agents so that they can be developed into drugs that can cure diseases caused by bacteria. It is urgent to utilize natural antibacterials from plants to treat bacterial infections. This research aims to obtain the compound content, the total phenolic, and antibacterial activity of acetone extract of rambai leaves, so this research focused on rambai leaf acetone extract phytochemical content, total phenolic content, and antibacterial activity examination. Then, Phytochemical testing of rambai leaf acetone extract (Baccaurea motleyana) shows rambai leaves contain alkaloid compounds, tannins, flavonoids, saponins, steroids, and terpenoids that have the potential to be antibacterial. The examination of phenolic content was accomplished by using the Folin-Ciocalteau method. The total phenolic test results obtained were 68.63 mg EAG/g. Antibacterial testing was performed by implementing the disk diffusion method. Antibacterial testing of rambai leaf acetone extract Concentration of 20 %, 40%,60%, and 80%  showed consecutive results in inhibition zones of 3.86 mm, 6.48 mm, 6.55 mm, and 6.63 mm with weak to medium activity for E. coli bacteria. However, S. aureus  bacteria showed consecutive results in inhibition zones of 6.02 mm, 10.15 mm, 17.10 mm, and 19.46 mm with medium to intense activity. There has not been much research on rambai from Bangka Belitung, so there is an indispensable for further research regarding the total flavonoid and total alkaloid content of rambai leaves. Research may also carried out using a variety of solvents.
PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN HASIL LAUT MENJADI CAMILAN ANAK SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING MENUJU MASYARAKAT SEHAT EKONOMI KUAT Roanisca, Occa; Nurhadini, Nurhadini; Layal, Kamalia; Robiana, Sella
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 3 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i3.775-782

Abstract

Prevalensi stunting tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Kabupaten Bangka Barat. Desa Air Nyatoh merupakan desa dengan potensi hasil laut sangat tinggi, sehingga ketersediaan sumber protein tinggi. Permasalahan yang dihadapi masyarakat yakni kurangnya pengetahuan dan kreativitas dalam pengolahan hasil laut menjadi produk yang lebih bervariasi dan bergizi tinggi menjadi kendala dalam pemenuhan kebutuhan protein. Oleh karena itu, pada kegiatan pemberdayaan berbasis masyarakat ini dilakukan pendampingan kepada ibu-ibu PKK Desa Air Nyatoh untuk memproduksi makanan tambahan stunting berupa abon, crackers dan bakso berbahan baku sea food. Pada makanan tambahan tersebut akan ditambah temulawak dan madu yang dapat meningkatkan nafsu makan. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mitra dalam produksi camilan berbasis hasil laut sebagai pencegah stunting dan dijadikan produk unggulan desa yang berdaya saing. Metode pelaksanaan berupa sosialisasi dan pendampingan secara langsung ke mitra sasaran. Hasil pada kegiatan ini, tim pengabdi melakukan sosialiasi dan pendampingan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan mitra sasaran untuk memproduksi produk camilan yang memenuhi standar bersih. Melalui kegiatan ini mitra sasaran dibekali pengetahuan mengenai tata cara pengajuan sertifikat PIRT, tata kelola UMKM agar terjaga eksistensi dan pengembangannya, serta asupan yang tepat bagi anak stunting. Kegiatan pendampingan secara langsung formulasi produk abon, crackers dan bakso dengan kombinasi temulawak dan madu telah dilakukan oleh tim pengabdi dan mitra sasaran.
PENDAMPINGAN PEMBUATAN MASKER PEEL OFF PUCUK KAYU LUBANG Timonius flavescens (Jacq.) Baker MENJADI PRODUK UNGGULAN DESA AIK ABIK Gus Mahardika, Robby; Roanisca, Occa; Henri, Henri; Aprilia, Selvy
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i1.161-165

Abstract

Dusun Aik Abik memiliki potensi tumbuhan obat yang sangat tinggi. Masyarakat masih sering memanfaatkan tumbuhan obat sebagai terapi pengobatan. Tumbuhan kayu lubang (Timonius flavescens (Jacq.) Baker) sering digunakan masyarakat setempat untuk perawatan wajah dan mengobati jerawat. Tumbuhan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk turunan masker peel off yang dapat dijadikan sebagai produk unggulan desa. Oleh karena itu, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini tim pengabdi mentransfer inovasi pengolahan pucuk kayu lubang sebagai masker peel off untuk mendukung pemanfatan tumbuhan lokal menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi. Metode yang digunakan pada kegiatan ini berupa sosialisasi dan pendampingan secara langsung kepada mitra sasaran perangkat lembaga adat Dusun Aik Abik dan masyarakat.  Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah mitra sasaran memahami cara formulasi masker peel off berbahan pucuk kayu lubang dan menerima desain kemasan yang telah dicetak oleh tim pengabdi. Komitmen mitra sasaran akan melanjutkan pengembangan masker peel off menjadi produk unggulan Dusun Aik Abik.