Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PELATIHAN PERENCANAAN KARIER DAN PENGEMBANGAN PROFESIONAL DARI PEMANFAATAN PENGGUNAAN PLATFORM LINKEDIN Roy Setiawan; Indra Rustiawan; Rasty Yulia; Ris Akril Nurimansjah; Muhammad Iqbal Fajri
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2025): Nopember 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v5i6.11576

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan tidak hanya pengetahuan tetapi juga kesiapan perencanaan karier dan pengembangan profesional dari pemanfaatan penggunaan platform LinkedIn. Pengabdian kepada masyarakat ini diberikan dalam bentuk pelatihan. Pelatihan diberikan dengan metode pedagogi yang meliputi metode ceramah, demonstrasi, dan diskusi mengenai perencanaan karier dan pengembangan profesional dari pemanfaatan penggunaan platform LinkedIn. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan perencanaan karier dan pengembangan profesional dari pemanfaatan penggunaan platform LinkedIn di mulai dari membangun profil LinkedIn yang optimal, strategi membangun jaringan profesional, memaksimalkan fitur LinkedIn untuk peluang karier, pengembangan keterampilan dengan LinkedIn Learning, dan menjadi pemimpin opini
PEMANFAATAN SOFTWARE HUMAN RESOURCES MANAGEMENT SYSTEM (HRMS) SEBAGAI SOLUSI PENGEMBANGAN KARIER KARYAWAN Aslichah, Aslichah; Sugeng Karyadi; Musran Munizu; Roy Setiawan; Lasrida Sigalingging
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2025): Nopember 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v5i6.11581

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan informasi mengenai pemanfaatan Software Human Resources Management System (HRMS) sebagai solusi pengembangan karier karyawan. Untuk memperlancar informasi mengenai pemanfaatan Software Human Resources Management System (HRMS) sebagai solusi pengembangan karier karyawan dilakukan maka dipakai metode sosialisasi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Dalam membantu penyampaian informasi sosialisasi mengenai pemanfaatan Software Human Resources Management System (HRMS) sebagai solusi pengembangan karier karyawan didukung data sekunder seperti dari website dan literatur terkait mengenai human resources management. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Software Human Resources Management System (HRMS) memberikan manfaat solusi pengembangan karier karyawan yang mana Software Human Resources Management System (HRMS) yang berkontribusi pada otomatisasi penggajian, rekrutmen dan orientasi, manajemen informasi karyawan, serta pelacakan kehadiran dan cuti.
SOSIALIASI PENTINGNYA FITUR ARTIFICIAL INTELLIGENCE DI CANVA DALAM MENINGKATAN KREATIVITAS Ferdi Antonio; Betty Rahayu; Sri Sudiarti; Roy Setiawan; Fitriansyah, Fitriansyah
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2025): Nopember 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v5i6.11582

Abstract

Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah terciptanya kesadaran pentingnya fitur artificial intelligence di Canva dalam meningkatan kreativitas bagi pekerja kreatif. Sasaran pada kegiatan sosialisasi ini adalah pekerja kreatif yang berpotensi memanfaatkan fitur artificial intelligence di Canva. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini disampaikan dalam bentuk sosialisasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa fitur artificial intelligence di Canva bagi pekerja kreatif memberikan manfaat dalam hal kreativitas seperti magic media, magic grab, magic expand, magic edit, dan magic design.
The loss and damage fund as a site of global resistance: Power asymmetries and normative disruption in climate governance Abdul Halim; Sari Mutiara Aisyah; Erlisa Saraswaty; Roy Setiawan; Sri Mulya Pratiwi; Athira Nisrina; Wahyu Saputra
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42599

Abstract

The issue of loss and damage has long been sidelined in global climate governance, despite its increasing urgency for climate-vulnerable countries. This study examines the political, moral, and cultural dimensions of climate justice that shaped the negotiation and institutionalization of the Loss and Damage Fund (LDF) under the UNFCCC framework. Politically, the fund reflects enduring power asymmetries between developed and developing countries; morally, it embodies contested claims of historical responsibility; and culturally, it signals a shift in global norms toward reparative justice and transnational solidarity. Using a qualitative-descriptive approach, the research draws on official UNFCCC documents, COP decisions, and academic literature to trace the institutional dynamics and strategic negotiations that enabled the fund’s creation. The findings show that Global South actors, despite internal asymmetries, strategically reframed loss and damage from a technical concern into a moral and political demand. Indonesia’s diplomatic role within the G77 coalition at COP27 illustrates how procedural resistance and discursive realignment contributed to political recognition of irreversible climate harm. This study addresses a gap in the literature by moving beyond normative appeals to examine the institutional mechanisms and strategic agency that transformed a marginalized agenda into formal policy. Its academic contribution lies in synthesizing historical institutionalism and Global South dependency theory, while connecting institutional change to broader shifts in values, norms, and global solidarity. The Loss and Damage Fund is not merely a financial instrument; it is a contested site of political struggle and symbolic transformation in the architecture of global climate governance.   Isu kerugian dan kerusakan telah lama terpinggirkan dalam tata kelola iklim global, meskipun urgensinya semakin meningkat bagi negara-negara yang rentan terhadap dampak iklim. Studi ini menelusuri dimensi politik, moral, dan kultural dari keadilan iklim yang membentuk proses negosiasi dan pelembagaan Dana Kerugian dan Kerusakan (Loss and Damage Fund/LDF) di bawah kerangka UNFCCC. Secara politik, LDF mencerminkan ketimpangan kekuasaan antara negara maju dan berkembang; secara moral, ia memuat klaim tanggung jawab historis yang diperdebatkan; dan secara kultural, ia menandai pergeseran norma global menuju keadilan reparatif dan solidaritas transnasional. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini mengandalkan analisis dokumen resmi UNFCCC, keputusan COP, dan literatur akademik untuk menelusuri dinamika institusional dan strategi negosiasi yang memungkinkan pembentukan LDF. Temuan menunjukkan bahwa aktor-aktor Global South, meskipun memiliki asimetri internal. secara strategis mereformulasi isu kerugian dan kerusakan dari persoalan teknis menjadi tuntutan moral dan politik. Peran diplomatik Indonesia dalam koalisi G77 pada COP27 menjadi contoh bagaimana resistensi prosedural dan pergeseran wacana berhasil mendorong pengakuan politik atas kerugian iklim yang tidak dapat diadaptasi. Studi ini mengisi celah dalam literatur yang selama ini cenderung menekankan aspek normatif tanpa mengkaji mekanisme institusional dan strategi politik yang memungkinkan agenda terpinggirkan menjadi kebijakan global. Kontribusi akademik penelitian ini terletak pada sintesis teoritis antara institusionalisme historis dan teori ketergantungan Global South, serta analisis transformasi nilai dan solidaritas global. LDF bukan sekadar instrumen finansial, melainkan arena perjuangan politik dan simbol transisi kelembagaan dalam arsitektur tata kelola iklim dunia.