Claim Missing Document
Check
Articles

TINGKAT PEMANFAATAN Artemia sp. BEKU, Artemia sp. AWETAN DAN CACING SUTERA UNTUK PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA GURAMI (Osphronemus gouramy, Lac.) Nugroho, Ido Istiaji; Subandiyono, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.074 KB)

Abstract

Ikan Gurami (O. gouramy, Lac) adalah jenis ikan air tawar yang bersifat omnivor dan  memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Cacing sutera banyak digunakan sebagai pakan larva gurami, namun ketersediannya dapat terganggu karena faktor cuaca. Artemia sp dapat digunakan sebagai pakan larva gurami, Artemia sp bisa diberikan dalam bentuk beku maupun awetan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pemanfaatan Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan dan cacing sutera serta mengetahui hasil terbaik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva gurami. Ikan uji yang digunakan adalah larva gurami dengan bobot 0,02 gr/ekor dan padat tebar 300 ekor/20 L. Pemberian pakan 3 kali sehari pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 secara at satiation. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan A (Artemia sp. beku), perlakuan B (Artemia sp. awetan), dan perlakuan C (Cacing sutera). Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif (RGRW dan RGRL), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), kelangsungan hidup (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian  jenis pakan yang berbeda memberikan pengaruh (P<0.05) terhadap RGRW, RGRL, EPP, dan PER, namun tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap SR.  Nilai tertinggi untuk RGRW, RGRL, EPP, PER, dan SR sebesar 3.48%/hari, 1.40%/hari, 17.78%, 0.28%, dan 72.44%.  Kualitas air yang didapatkan selama penelitian masih dalam kisaran normal untuk kehidupan larva gurami. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa perlakuan pemberian pakan terbaik untuk larva gurami adalah cacing sutera.  Gouramy (gouramy, Lac) is omnivorous freshwater fish, and highly economical value. Silk worm widely used as life food of gouramy larvae. However, it’s availability could be interrupted by of the weather.  Artemia sp. can be used as life food for gouramy larvae, too Artemia sp. can be used in the form of frozen and preserved. This research was aimed to study the utilization rate of frozen Artemia sp.,and silk worm on the growth and survival rate of gouramy larvae. The eksperimenal fish used was gouramy larvae with the average body weight of 0,02 grams, the stocking density of the fish was 300 fish/l. The feeding applied was at satiation, with the feeding frequency of 3 times a day, that was at 08.00; 12.00 and 16.00 WIB. The eksperimental method used was completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replicates. The trial feeds was A (frozen Artemia sp.), B (Preserved Artemia sp.) and C (silk worm), respectively. Variables measured included relative growth rate to weight and length, feed efficiency utilization, protein efficiency ratio and survival rate. The result of reseach was that different type of life food (P<0.05) had effect on RGRW, RGRL, EPP, and PER, but no significant (P>0.05) for SR. The highest value for RGRW, RGRL, EPP, PER and SR were 3.48%/day, 1.40%/day, 17.78%, 0.28%, and 72.44%, respectively. Water quality obtained during the reseach was within the normal range for gouramy life. Based on the study, It was concluded that the best feeding trial for gouramy larvae was silk worms. 
PRODUKSI Daphnia sp. YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN KOMBINASI AMPAS TAHU DAN BERBAGAI KOTORAN HEWAN DALAM PUPUK BERBASIS ROTI AFKIR YANG DIFERMENTASI Wibisono, Muhamad Ary; Hastuti, Sri; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.893 KB)

Abstract

Daphnia sp. merupakan alternatif pakan alami  yang seringkali digunakan memenuhi kebutuhan  pertumbuhan benih ikan. Kandungan nutrisi dalam tubuh Daphnia sp.. Bergantung pada pupuk yang digunakan. Nutrisi ini dapat berasal dari bahan organik tersuspensi dan bakteri yang diperoleh dari pupuk yang ditambahkan ke dalam media kultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi Daphnia sp. yang dibudidayakan dengan kombinasi ampas tahu dan berbagai kotoran hewan dalam pupuk berbasis roti afkir yang difermentasi serta, kombinasi terbaik  terhadap pertumbuhan dan produksi Daphnia sp.. Padat penebaran Daphnia sp. yaitu 100 ind/l. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan 4 perlakuan . Perlakuan dalam penelitian ini yaitu Perlakuan A  (0%  kotoran , 50% ampas tahu dan 50% roti afkir), B (25% kotoran ayam, 25% ampas tahu  dan 50% roti afkir),  C (25% kotoran kambing, 25% ampas tahu dan 50 % roti afkir, D (25% kotoran burung puyuh, 25% ampas tahu dan 50% roti afkir) dengan Jumlah total kombinasi yaitu 200 g/l. Data yang diamati meliputi kepadatan populasi, biomassa,kepadatan fitoplankton, kandungan nutrisi dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi ampas tahu dengan berbagai kotoran hewan dalam pupuk berbasis roti afkir yang difermentasi menunjukan bahwa Perlakuan D (25% kotoran burung puyuh, 25% ampas tahu dan 50% roti afkir) menghasilkan kepadatan populasi tertinggi yaitu 2270.67 ind/ml pada fase stasioner, dikarenakan pada Perlakuan D memiliki kandungan Nutrisi (NPK) pupuk organik setelah fermentasi sebesar Nitrogen (N): 3,99; Phosphor (P): 1,33; dan Kalium (K): 2,34. Perlakuan D (25% kotoran burung puyuh, 25% ampas tahu dan 50% roti afkir) menghasilkan Biomassa sebesar  389 gram, dan kepadatan fitoplankton tertinggi sebesar 52135 sel/ml.  Daphnia sp. was one of alternative natural feeds that oftenly used to fulfill the needs of fish growth. Nutrition contained on the Daphnia sp. depended on the fertilizer that used. This nutrition could be came from suspended organic matters and bacteria that gained from the fertilizer that added to the culture media. This research was aimed to knew the production of Daphnia sp. which cultured with combined tofu waste and animal feces in the fertilizer based on the fermented bread waste and knew the best treatment according to the growth and Daphnia sp. production. The density of Daphnia sp. was 100 ind/ml.  This research used experimental methods with complete randomize design of 4 treatments and the repetition of counted population as 3 times. Treatments on this research was Treatment A  (0% feces , 50% tofu waste and 50% bread waste), B (25% chicken mannure, 25% tofu waste  and 50% bread waste),  C (25% sheep feces, 25% tofu waste and 50% bread waste, D (25% quail feces, 25% tofu waste and 50% bread waste) with the total ammount of the combination was 200 g/l. Data that observed during this research were population density, biomass, fitoplankton density, nutrition content, and water quality. The result of this research showed that the additition of combined tofu waste with some animal feces on the fertilizer based on fermented bread waste gave Treatment D (25% quail feces, 25% tofu waste dan 50% bread waste) as the best treatment with the population density valued by 2270.67 ind/ml. during the stasioner phase, because Treatmment D had nutrition contain (NPK) on the organic fertilizer after fermentation was Nitrogen (N): 3,99; Phospor (P): 1,33; and Kalium (K): 2,34. Treatment D (25% quail feces, 25% tofu waste dan 50% bread waste) resulted Biomass 385.3 grams, and fitoplankton density was valued 52135 cells/ml.
TINGKAT PEMANFAATAN Artemia sp. BEKU, Artemia sp. AWETAN DAN PAKAN BUATAN UNTUK PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP POSTLARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon, Fab.) Cahyanti, Erni Nur; Subandiyono, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.514 KB)

Abstract

Pakan alami Artemia sp. merupakan jenis pakan yang cocok untuk udang windu stadia postlarva, sebab selain kandungan protein yang tinggi yaitu sekitar 50%, Artemia sp. juga mudah dicerna oleh larva udang.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pemanfaatan pakan berupa Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan, dan pakan buatan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup postlarva udang windu (P. monodon, Fab.).  Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu perlakuan A (Artemia sp. beku), B (Artemia sp. awetan), dan C (pakan buatan).  Udang yang digunakan adalah udang windu PL-8 dengan bobot biomassa rata-rata yaitu perlakuan A sebesar 0,0045±0,0003 g, B sebesar 0,0043±0,0002 g, dan C sebesar 0,0044±0,0002 g.  Panjang individu rata-rata udang windu perlakuan A sebesar 0,54±0,0124 cm, B sebesar 0,53±0,0068, dan C sebesar 0,54±0,0015 cm.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) Jepara, Jawa Tengah selama 35 hari.  Pakan diberikan 3 kali sehari dengan menerapkan metode relative feeding rate, yaitu sebesar 30%/bobot biomassa.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang berbeda berpengaruh (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan relatif (RGRW dan RGRL), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efficiency ratio (PER), namun tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap nilai kelangsungan hidup.  Nilai untuk RGRW dan RGRL, EPP, dan PER sebesar 16,83%/hari, 8,07%/hari, 25,23%, 0,45%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan Artemia sp. menghasilkan nilai pertumbuhan, EPP, dan PER yang lebih tinggi pada udang windu bila dibandingkan dengan pakan buatan, sedangkan pakan Artemia sp. dalam bentuk beku lebih baik daripada Artemia sp. yang berbentuk awetan. Artemia sp. was a suitable life food for tiger shrimp postlarvae stage, because it has high protein level, (that was about of 50%), and it easily digested by the larvae.  The  purpose  of  this  research  was to determine  of  consumption  and  utilization  rate of  frozen Artemia sp., preserved Artemia sp., and artificial feed for growth and survival rate postlarvaee tiger shrimp (P. monodon, Fab.).  The experimental method used was completely randomized design (CRD), with three treatment and three replicaties. The trials used with A (frozen Artemia sp.), B (preserved Artemia sp.), and C (artificial feed). The experimental shrimp used was PL-8 with biomass weight a trial A of 0.0045±0.0003 g, B of 0.0043±0.0002 g, and C of 0.0044±0.0002 g.  The individual length a trial A of 0.54±0.0124 cm, B of 0.53±0.0068, and C of 0.54±0.0015 cm.  The trial shrimp maintenanced at The Coastal Development Laboratory Jepara, Central Java for 35 days.  Feeding frequency applied 3 times a day with relative feeding rate of 30% total biomass weight.  The result showed that the different (P<0.05) on relative growth rate of weight and length, feed utilization efficiency, protein efficiency ratio, but no significant (P>0.05) on the survival rate.  Those value for RGRW dan RGRL, EPP, and PER were 16.83%/days, 8.07%/days, 25.23%, 0.45%.  It was concluded that the tiger shrimp fede on Artemia sp. produce highest growth rate to tiger shrimp when compared with artificial feed, whereas frozen Artemia sp., better resulted om growth the preserved Artemia sp.
PENGARUH PEMBERIAN FERMENTASI KOTORAN BURUNG PUYUH YANG BERBEDA DALAM MEDIA KULTUR TERHADAP KANDUNGAN NUTRISI DAN PRODUKSI BIOMASSA CACING SUTRA (Tubifex sp.) Cahyono, Elsyaday Widhi; Hutabarat, Johannes; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.197 KB)

Abstract

Cacing sutera (Tubifex sp.) merupakan salah satu pakan alami yang cocok digunakan sebagai pakan larva ikan, baik ikan konsumsi maupun ikan hias air tawar, sehingga kegiatan budidaya cacing sutera perlu dikembangkan sebagai solusi untuk mengatasi ketergantungan cacing sutera hasil pengumpulan dari alam dan untuk menghasilkan cacing sutera yang lebih berkualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kadar kotoran burung puyuh pada campuran ampas tahu dan roti afkir yang difermentasi terhadap produksi biomassa dan populasi cacing sutera (Tubifex sp.), serta dosis kadar kotoran burung puyuh terbaik terhadap kandungan nutrisi cacing sutera (Tubifex sp.). Penelitian ini menggunakan design Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan. Perlakuan A (Kotoran burng puyuh 0g/L), Perlakuan B (Kotoran burung puyuh 25g/L), Perlakuan C (Kotoran burung puyuh 50g/L) serta Perlakuan D (Kotoran burung puyuh 75g/L). Masing-masing perlakuan dilakukan penambahan ampas tahu 50g/L dan roti afkir 100g/L. Kotoran burung puyuh, roti afkir, dan ampas tahu dimasukkan kedalam 12 nampan plastik dengan ukuran 30x21x7 cm. Media tersebut ditebari cacing sebanyak 10 g/wadah dan dipelihara selama 50 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kadar kotoran burung puyuh yang berbeda pada campuran roti afkir dan ampas tahu berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap produksi biomassa dan populasi cacing sutera (Tubifex sp.). Pertumbuhan biomassa, populasi serta kandungan nutrisi tertinggi diperoleh pada perlakuan C yakni sebesar 269,48±1,72%, (55287,50±440,39g) dan kandungan protein sebesar 68,19±0,33%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan kotoran puyuh, roti afkir, dan ampas tahu dapat meningkatkan produksi biomassa, populasi dan kandungan protein cacing sutera. Silk worms (Tubifex sp.) is one of live food which is suitable for feed fish larvae, both fish consumption and freshwater fish, so the cultivation of silk worms need to be developed as a solution to overcome the dependence of silk worms collecting from nature and to produce higher quality silk worms. The aim of this study was to determine the effect of impurity content of quail on a mixture of tofu and bread salvage fermented for biomass production and population silk worms (Tubifex sp.). As well as dosage levels of dirt quail best of the nutrient content of silk worms (Tubifex sp .). This study uses a design completely randomized design (CRD) with 4 treatments and each of the 3 replicates. Treatment A (quail manure 0g / L), treatment B (quail manure 25g / L), treatment C (quail manure 50g / L) and treatment D (quail manure 75g / L). Each treatment, the addition of tofu 50g / L and bread rejects 100g / L. Quail manure, rejects bread and tofu added 12 plastic trays with a size of 30x21x7 cm. The media is littered with worms as much as 10 g / container and maintained for 50 days. The results showed that administration of dirt levels at different quail manure, bread rejects and tofu waste highly significant (P <0.01) for the production of biomass and population silk worms (Tubifex sp.). Biomass growth, population and the highest nutrient content obtained at C treatment which amounted to 269.48 ± 1.72%, (55287.50 ± 440.39g) and the protein content of 68.19 ± 0.33%. Based on the results of this study concluded that the addition of dirt quail, rejects bread, and tofu can increase biomass production, population and protein content of silk worms.
Pengaruh Pemberian Pakan Alami Berbeda (Skeletonema costatum dan Chaetoceros gracilis) Terhadap Pertumbuhan Biomass Mutlak dan Kandungan Nutrisi Artemia sp. Lokal Widiastuti, Ratna; Hutabarat, Johannes; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.82 KB)

Abstract

Artemia merupakan salah satu pakan alami bagi larva udang. Dewasa ini, masih banyak petani yang menggunakan Artemia sp. import, padahal Artemia sp. lokal memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi. Pemberian pakan merupakan salah satu cara meningkatan produksi kista Artemia sp. lokal agar diperoleh pertumbuhan yang normal dan menghasilkan kista yang baik serta daya tetas yang tinggi juga kandungan nutrisi yang tinggi pula. Skeletonema costatum dan Chaetoceros gracilis mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh Artemia sp. lokal dalam memenuhi kandungan nutrisi dan pertumbuhannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan Artemia sp. lokal dengan pemberian pakan alami yang berbeda, mengetahui kandungan nutrisi Artemia sp. lokal dengan pemberian pakan alami yang berbeda dan mengetahui pakan terbaik untuk Artemia sp. lokal dengan pemberian pakan alami yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan, ketiga perlakuan yaitu perlakuan A (pemberian pakan dengan Chaetoceros gracilis), perlakuan B (pemberian pakan dengan Skeletonema costatum) dan perlakuan C (pemberian pakan dengan Skeletonema costatum dan Chaetoceros gracilis). Data yang dikumpulkan adalah data dosis pemberian pakan, pertumbuhan biomass mutlak, kandungan nutrisi dan kualitas air. Analisa statistik yang dilakukan adalah analisa ragam dan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh  yang terbaik. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Payau dan Laut atau Satuan Kerja Perbenihan Ikan Air Payau Sluke, Rembang, Jawa Tengah pada bulan Januari-Februari 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap proses pertumbuhan biomass mutlak dan kandungan nutrisi. Perlakuan terbaik adalah perlakuan C dengan pertumbuhan biomass mutlak (3,40±0,656 gram) dan kandungan protein 66,45%. Kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran yang layak untuk kehidupan dan pertumbuhan Artemia sp. lokal. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan kombinasi Skeletonema costatum dan Chaetoceros gracilis cocok untuk pertumbuhan dan peningkatan kandungan nutrisi Artemia sp. lokal.
OPTIMALISASI PENAMBAHAN TEPUNG RUMPUT LAUT COKLAT (Sargassum sp.) YANG BERBEDA DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN JUVENIL UDANG WINDU (Penaeus monodon) Widyantoko, Widodo; Pinandoyo, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.317 KB)

Abstract

Pakan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang perkembangan budidaya udang windu. Pakan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan nutrisi dapat mendukung pertumbuhan optimum udang. Rumput Laut coklat (Sargassum sp.) memiliki peran sebagai imunostimulan yang terbukti berpengaruh terhadap respon non spesifik pada sistem imun beberapa jenis ikan dan udang, sehingga membantu melancarkan daya cerna pakan yang dikonsumsi oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung rumput laut coklat (Sargassum sp.) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan juvenil udang windu (Penaeus monodon). Variabel yang dikaji meliputi nilai tingkat konsumsi pakan (TKP), laju pertumbuhan relatif (RGR), Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP), Protein Efisiensi Rasio (PER), dan kelulushidupan (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (tepung  rumput laut coklat dosis 0%), B (tepung rumput laut coklat dosis 1%), dan C (tepung rumput laut coklat dosis 2%), D (tepung rumput laut coklat dosis 3%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan tepung rumput laut memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap RGR, EPP, dan PER namun tidak berpengaruh nyata  (P>0,05) terhadap SR. Persentase dosis optimal yang dapat meningkatkan pertumbuhan udang windu yaitu 2,48% pada pakan buatan mampu menghasilkan 4,05% untuk RGR. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya udang windu. Feed is one of the factors that can support the development of tiger shrimp culture. Food that is in accordance with the level of nutritional needs to support optimum growth of shrimp. Brown Seaweed (Sargassum sp.) Has a proven role as an immunostimulatory effect on non-specific response of the immune system of some species of fish and shrimp, so that helped launch the digestibility of feed consumed by the body. This study aimed to examine the effect of adding flour brown seaweed (Sargassum sp.) In diets on the growth and survival of juvenile tiger shrimp (Penaeus monodon). Variables examined include the value of the  feed consumption rate (TKP), relative growth rate (RGR), Feed Utilization Efficiency (EPP), Protein Efficiency Ratio (PER), and survival rate (SR). This study used a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications ie treatment A (brown seaweed powder dose 0%), B (brown seaweed powder dose of 1%), and C (brown seaweed powder dose of 2%) , D (brown seaweed powder dose of 3%). The results showed that the addition of flour seaweed treatment effect (P <0.05) on RGR, EPP, and PER but not significant (P> 0.05) to SR. Optimal percentage dose that 2.48% on the artificial diet capable of producing 4.05%  for RGR. Water quality in the maintenance medium contained in a decent range for tiger shrimp.
PENGARUH BAHAN ORGANIK KOTORAN AYAM, BEKATUL, DAN BUNGKIL KELAPA MELALUI PROSES FERMENTASI BAKTERI PROBIOTIK TERHADAP POLA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASSA Daphnia sp. Izzah, Nailul; Suminto, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.478 KB)

Abstract

Daphnia sp. merupakan salah satu pakan alami yang potensial untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan larva ikan pada pembenihan ikan air tawar. Bahanorganikkotoranayam, bekatul, danbungkilkelapa yangdifermentasi dengan bakteriprobiotik diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan  pakan dan pertumbuhan Daphnia sp di dalam kultur.Tujuanpenelitian ini adalah mengetahui pengaruh bahan organik kotoran ayam, bekatul, dan bungkil kelapa yang difermentasi terhadap pola pertumbuhandan produksi biomasa Daphnia sp.Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni-Desember 2013 bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro.Metode penelitian ini menggunakan eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)yang terdiri dari 5 perlakuan yang masing-masing 3 (tiga) kali ulangan. Media kultur yang digunakan adalah air dengan pemupukan kotoran ayam sebanyak 1,2 g/L. Perlakuan tersebut adalahpemberian pakan hasil fermentasi dari 1,2 g/L bekatul dan 0 g/L bungkil kelapa (A),  0,9 g/L bekatul dan 0,3 g/L bungkil kelapa (B), 0,6 g/L bekatul dan 0,6 g/L bungkil kelapa (C), 0,3 g/L bekatul dan 0,9 g/L bungkil kelapa (D), dan 0 g/L bekatul dan 1,2 g/L bungkil kelapa sebagai perlakuan E. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian bahan organik, kotoran ayam, bekatul, dan bungkil kelapa melalui proses fermentasi probiotik berpengaruh terhadap pola pertumbuhan dan produksi biomassa Daphnia sp. Perlakuan E memberikan nilai terbaik dengan nilai (k)(0,26±0,01), puncak populasi (1888,89±70,71), fase kematian(1518,52±11,66), dan hasil produksi biomassa sebesar 158,50 mg/L. Namun, pada variabel lag phase menunjukan hasil terbaik pada perlakuan B sebanyak 1,35 hari.Daphnia sp .is one of live food organisms that potential to be developed on the availability of live food organisms for suitable fish larvae in the hatchery.The organics of chicken manure, rice bran and coconut cake that has been fermented using probiotic bacteria are expected to increase the feed utilization effeciency and the Daphnia sp. growth in the culture.The purpose of this study was to know the effect of organic matters of chickenmanure, rice bran and coconut cake fermented on the the growth pattern and biomass production of Daphnia sp.The experiment was started from June to Desember 2013 Aquaculture Laboratory in the Faculty of Fisheries and Marine Science, Diponegoro University. The experimental method was employed in this research with completely randomized design (CRD) consisting of five treatments and three replicates, respectively. The cultrure media used was tap water with fertilyzed by chicken manure of 1.2 g/L. Those treatments were fermented feed inoculaion of 1.2 g/L rice bran and 0 g/L coconut cake (A), 0.9 g/L rice bran and 0.3 g/L coconut cake (B), 0.6 g/L rice bran and 0.6 g /L coconut cake (C), 0.3 g/L rice bran and 0.9 g/L coconut cake (D), and 0 g/L rice bran and 1.2 g/L coconut cake (E). This research results showed that the addition of organic manures, rice bran, and coconut cake through fermentation probiotics significantly different on the pattern of growth and biomass production of Daphnia sp. E treatment was given the best result with value (k)(0.26±0.01), the highest population (1888.89±70.71), death phase(1518.52±11.66), and the result of biomass production(158.5 mg/L). But in the variable of phase lag, B treatment showed the best result it was 1.35 days.
PENGARUH PENGKAYAAN BEKATUL DAN AMPAS TAHU DENGAN KOTORAN BURUNG PUYUH YANG DIFERMENTASI DENGAN EKSTRAK LIMBAH SAYUR TERHADAP BIOMASSA DAN KANDUNGAN NUTRISI CACING SUTERA (Tubifex sp.) Syahendra, Falstiyan; Hutabarat, Johannes; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.932 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kotoran burung puyuh pada campuran bekatul dan ampas tahu yang difermentasi menggunakan ekstrak limbah sayur terhadap pertumbuhan produksi biomassa dan kandungan nutrisi cacing sutera serta mengetahui dosis kotoran burung puyuh, bekatul dan ampas tahu yang memberikan hasil terbaik terhadap produksi cacing sutera. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing- masing 3 kali ulangan. Perlakuan A (tanpa kotoran burung puyuh), B (kotoran burung puyuh 25g/L), C (kotoran burung puyuh 50g/L) dan D (Kotoran burung puyuh 75g/L). Kotoran burung puyuh, bekatul dan ampas tahu dimasukkan kedalam 12 wadah plastik dengan ukuran 30x21x7 cm. Media tersebut ditebari cacing sebanyak 10 gram/wadah, dan dipelihara selama 40 hari. Data yang diamati meliputi pertumbuhan biomassa mutlak, populasi, kandungan nutrisi dan kualitas air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengkayaan nutrisi dengan kotoran burung puyuh berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap produksi biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera (Tubifex sp.). Perlakuan C 50 g/L kotoran burung puyuh, 100 g/L bekatul dan 50 g/L ampas tahu memberikan nilai biomassa, populasi dan kandungan protein tertinggi yaitu biomassa sebesar 151,98±0,46 g/0,044m2, populasi sebesar 40.070,21 ± 250,82 individu/0,044m2 dan kandungan protein sebesar 65,17±0,35%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan kotoran burung puyuh pada campuran bekatul dan ampas tahu dapat meningkatkan produksi biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera. Secara umum, kandungan ammonia, DO, suhu, dan pH selama penelitian berada pada kisaran yang layak untuk kehidupan cacing sutera. This research was aimed to determine the effect of the use of quail manure on a mixture of rice bran and tofu waste that fermented using waste vegetable extracts on the growth of biomass production and nutrient content of sludge worms and determined the dose of quail manure,rice bran and tofu waste that gives the best results to production of sludge worms. This research used the experimental method Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 repetitions each. Treatment A (without quail manure), B (quail manure 25g/L), C (quail manure 50g/L) and D (quail manure 75g/L). Quail manure, rice bran and tofu waste was added to 12 plastics containers with size 30x21x7 cm. The media is littered with sludge worms of 10 grams/container, and maintained for 40 days. The observed data covers absolute of biomass growth, population, nutrient and water quality. The results showed that the addition of quail manure highly significant (P <0.01) for the production of biomass, population and nutrition content of sludge worms (Tubifex sp.). C Treatment (quail manure 50g/L)  has the highest biomass, population and protein content value the biomass of 151.98±0.46 g/0.044m2, a population of 40070.21±250.82 individuals/0.044m2 and protein content of 65.17±0.35%. Based on the results of this research concluded that the addition of quail manure, rice bran and tofu waste can increase biomass production, population and nutrition content of sludge worms. In general, the content of ammonia, DO, temperature, and pH during the research are in the reasonable range for the life of the sludge worm.
TINGKAT PEMANFAATAN Artemia sp. BEKU, Artemia sp. AWETAN, DAN CACING SUTRA SEGAR UNTUK PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) Chahyaningrum, Retno Nur; Subandiyono, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.454 KB)

Abstract

Pakan berperan penting terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan stadia larva.  Pakan alami cacing sutra sering digunakan sebagai pakan lele stadia larva.  Selain cacing sutra, pakan alami lainnya yang dapat diberikan adalah Artemia sp. Jenis pakan ini dapat diberikan dalam bentuk beku maupun awetan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pemanfaatan Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan dan cacing sutra segar untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva lele sangkuriang.  Metode penelitian ini adalah eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Ikan diberi 3 macam pakan perlakuan yaitu Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan, dan cacing sutra segar. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) Jepara selama 20 hari.  Variabel yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif (RGRW dan RGRL), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), dan kelangsungan hidup (SR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pakan yang berbeda memberikan pengaruh (P<0.05) terhadap RGRW, EPP, PER, dan SR, namun tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap RGRL.  Nilai untuk RGRW, RGRL, EPP, PER, dan SR sebesar 10.05, 11.62%/hari, 14.24, 0.23, 60.18%.  Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa perlakuan pemberian pakan terbaik untuk larva ikan lele sangkuriang adalah cacing sutra segar. Feed played an important role on the growth and survival rate of fish larvae stage.  Silk worm was often used as life food for catfish larvae.  Instead of silk worm, the other life food for catfish larvae was Artemia sp. It can be used in the form of frozen and preserved.  This research was aimed to study the utilization rate of frozen  Artemia sp., preserved  Artemia sp., and fresh silk worm on the growth and survival rate of catfish “sangkuriang” larvae.  The experimental method used completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replicates.  The trial fish were fed on frozen  Artemia sp., preserved  Artemia sp.,  and fresh silk worm respectively.  The research was conducted in The Coastal Development Laboratory (LPWP) Jepara for 20 days.  Variables measured  included relative growth rate weight and length, feed utilization efficiency, protein efficiency ratio and survival rate.  The result of research was different types of life food (P<0.05) had effect for RGRW, EPP, PER, and SR, but it had not effect (P>0.05) for RGRL.  Those values for RGRW, RGRL, EPP, PER, and SR were 10.05, 11.62%/day, 14.24, 0.23, 60.18%, respectively.  Based on the result of these study, it was concluded that the best feeding trial for catfish “sangkuriang” larvae was fresh silk worms.
PENGGUNAAN BAKTERI KANDIDAT PROBIOTIK PADA PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) Rahmawan, Mohamad Elvino Andi; Suminto, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.447 KB)

Abstract

Pemberian bakteri kandidat probiotik yang berasosiasi di dalam usus lele dumbo (Clarias gariepinus) pada pakan buatan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan didalam kultur lele dumbo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bakteri probiotik terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan, kelulushidupan lele dumbo (C. gariepinus) dan untuk mengetahui jenis bakteri terbaik. Bakteri probiotik yang digunakan adalah Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis, Pseudomonas putida dimana bakteri tersebut telah di isolasi dari dalam usus lele dumbo. Variabel yang dikaji meliputi efisiensi pemanfaatan pakan, laju pertumbuhan spesifik harian (Specific Growth Rate), dan kelulushidupan (Survival Rate). Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan A (kontrol), B (bakteri probiotik Bacillus subtilis ), C (bakteri probiotik Bacillus licheniformis), dan D (bakteri probiotik Pseudomonas putida) dengan kepadatan bakteri probiotik yang diberikan pada masing-masing perlakuan sebanyak 107 sel/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B memberikan nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), (SGR) dan kelulushidupan (SR) tertinggi (P<0,05), yaitu dengan nilai (67,32 ± 2,63%), (2,95 ± 0,15%) dan (95,00 ± 5,00%). Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan bakteri kandidat probiotik penggunaan bakteri kandidat probiotik memberikan pengaruh nyata terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan lele dumbo, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan lele dumbo. Serta bakteri Bacliius subtilis dengan kepadatan 107 sel/ml dapat meningkatkan nilai EPP, SGR dan SR selama 56 hari pemeliharaan lele dumbo. The addition of probiotic bacteria candidate assosiated in the catfish intestine (Clarias gariepinus) in the artificial feed was able to incrased on feed utilization efficiency (EPP), specific growth rate and survival rate in the culture catfish. The aims of this research was to find out the effect of addition  probiotic bacteria on feed utilization efficiency (FUE), specific growth rate (SGR), survival rate (SR) and to know best bacteria strain. Probiotic bacteria in uses is Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis, Pseudomonas putida where probiotic bacteria the has in isolation in the catfish intestine. The variables examined included the value of the efficiency of feed utilization (EPP), the specific growth rate (SGR) and survival rate (SR). This research uses 4 treatment and 3 replicates, that is treatment A (control), B (probiotic bacteria Bacillus subtilis), C (probiotic bacteria Bacillus licheniformis), and D (probiotic bacteria Pseudomonas putida) with density probiotic bacteria in the given each treatment as much 107 sel/ml. The result of this research in  the treatment B showed that efficiency of feed utilization score, growth and  highest survival rate (P<0,05), that is EPP (67,32± 2,63%), SGR (2,95 ± 0,15%) dan SR (95,00 ± 5,00%). Besed from the result showed that utilization of bacteria probiotic candidate of different feed utilization efficiency and spesifik growth on significantly different effect (P<0,05), but not significantly of survival rate Clarias gariepinus. Bacteria Bacillus subtilis to synthetic feed with density 107 sel/ml can be increase EPP, SGR and SR to maintenancy catfish during 56 day.
Co-Authors Achmad Zulfa Juniarto Agung Sudaryono Aninditia Sabdaningsih Aninditia Sabdaningsih Annisa Amalia Awanis Budiati, Heri Delianis Pringgenies Desrina Desrina Diana Rachmawati Elsyaday Widhi Cahyono, Elsyaday Widhi Erni Nur Cahyanti, Erni Nur Ester Susanti, Ester Falstiyan Syahendra, Falstiyan Fhibia Jati Gilar Pandu Ananto Grenda Audia Wuryas Pradita Negara Haeruddin Haeruddin Haeruddin Haeruddin Hariyadi, Putut Henni Kusuma Hernowo, Ilham Agung Hutabarat, Yohannes Ido Istiaji Nugroho, Ido Istiaji Istiyanto Samidja Istiyanto Samidjan Johannes Hutabarat Laksono Trisnantoro Lintang Dian Saraswati M Arfan Marlia Ulfa Puspitasari Mohamad Elvino Andi Rahmawan Mohammad Bahrus Syakirin Muhammad Ainun Niam Muhammad Burhanuddin Yusuf Muhammad Muin Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Nailul Izzah Nailulmuna, Zumalallail Nurjanah, Lailatul Nurmanita Rismaningsih Ocky Karna Radjasa Ocky Karna Radjasa Pangestika, Putri Riana Pinandoyo Pinandoyo Pinandoyo, P Pramana, I Nengah Gunaya Putut Har Riyadi Ratna Widiastuti Ratri, Kartika Sulistyaning respati, septina dwi Restiana Wisnu Ariyati Retno Nur Chahyaningrum, Retno Nur Rismaningsih, Nurmanita Ristiawan Agung Nugroho Riyand Sahara, Riyand Samidjan, Istiyanto Sapto P Putro Saputra, Ega Satrio Adi Wicaksono Seto Windarto Shiddieqi, Hasbi Ash Slamet Budi Prayitno Solly Aryza Suminto Suminto Suminto Suminto Suryanto, Damang Susilo Adi Widyanto Titik Susilowati Tristiana Yuniarti Ulva Rohmanawati Wibisono, Muhamad Ary Widodo Widyantoko, Widodo Windarto, Seto YS Darmanto