Claim Missing Document
Check
Articles

ANT SPECIES DIVERSITY STUDY USING PITFALL TRAPS IN A SMALL YARD IN BOGOR BOTANIC GARDEN, WEST JAVA, INDONESIA Henny Herwina; Koji Nakamura Nakamura
TREUBIA Vol 35 (2007): Vol. 35, December 2007
Publisher : Research Center for Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/treubia.v35i0.106

Abstract

The ant fauna in a small yard in Bogor Botanic Garden, West Java,Indonesia was investigated using pitfall traps. Regular sampling was carriedout weekly or biweekly for 3.5 years from March, 2000 to November, 2003.The accumulation curve for the species number collected was asymptotic,indicating the completeness of the sampling. A total of 29424 individuals,represented by 55 species in 27 genera, 17 tribes and 6 subfamilies werecollected. Myrmicinae was the most abundant with 19 species (34.6 %) and19524 individuals (66.4 %), followed by Formicinae with 15 species (27.3 %)and 4470 individuals (15.2 %), and Ponerinae with 12 species (21.8 %) and2880 individuals (9.8 %). Aenictinae, Dolichoderinae and Cerapachinae had 4(7.3 %), 4 (7.3 %) and 1 (1.8 %) species, and 1716 (5.8 %), 832 (5.8 %) and 2(0.01 %) individuals, respectively. The present results were compared with Itoet al. (2001), who collected ant species in Bogor Botanic Garden using 7methods, including pitfall traps.
EKSPLORASI ASPEK SOSIO-EKOLOGI UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN KAWASAN WISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN DI KAWASAN EKOSISTEM ESENSIAL PULAU BELIBIS, SOLOK Muhammad Nazri Janra; Henny Herwina; Mairawita Mairawita; Jabang Nurdin
Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol 1 No 4.b (2018)
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.624 KB)

Abstract

Essential Ecosystem Area (EEA) Belibis Island is located in Solok Regency, West Sumatra Province which renown as the habitat for significant population of Whistling Ducks Dendrocygna javanica (vernacular name: Belibis). In line with the development of tourism sector in this area, through site clearing, the building of recreational facilities and human establishment, seem to have neglected the ecological aspect during the process. The idea to recover the typical characteristic of this area as habitat for the whistling ducks has been recently stated by the Municipal Authority of Solok City. Recalling that this area has been severely impacted by human, hence comprehending its socio-ecological aspects becomes essential to support the development of an environmental-friendly ecotourism activity herein. Therefore, a socio-ecological survey was then conducted to understand the perception and knowledge of local community toward the biodiversity in Belibis Island, especially in its relation to the tourism activity. Eighteen respondents, consisted of visitors and local people, were inquired using socio-ecological questionnaire, which later descriptively analyzed. The result showed that most of the respondents satisfied with the current condition of Belibis Island, with emphasis for further improvement on the management system. There was indication of people willingness to participate in maintaining the environmental condition. Lot of respondents possess knowledge regarding wild plants and animals in Belibis Island, even before the establishment of tourism site in that area; however, the existence of these wildlife not what attracted them to come. These findings indicate the needs to further improve natural biodiversity in Belibis Island as focal point for ecotourism destination. It can be achieved, presumably, through isolating some parts of the area from human interference to help the thriving of natural wildlife, constructing nature-basesd aviary to introduce the whistling ducks or other wild birds, as well as deploying any other way.
DISEMINASI TEKNOLOGI BUDIDAYA ANGGREK PADA SKALA RUMAH TANGGA DI KELURAHAN LIMAU MANIS PADANG Mairawita Mairawita; Muhammad Nazri Janra; Henny Herwina; Suwirmen Suwirmen
Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol 1 No 3.b (2018)
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.176 KB)

Abstract

Tumbuhan anggrek (Orchidaceae) merupakan salah satu kelompok tumbuhan berbunga terbesar yang kurang lebih mempunyai 28.000 jenis dari sekitar 763 genera. Sebagai tumbuhan epifit, anggrek telah lama didomestikasi dan dibudidayakan oleh manusia untuk berbagai keperluan, terutama untuk kepentingan estetika dan keindahan. Anggrek juga menduduki salah satu posisi sebagai tumbuhan yang cukup banyak diperjualbelikan secara komersil. Sayangnya, mengingat cara tumbuh dan kebutuhan hidup yang berbeda dibandingkan dengan tumbuhan hias konvensional lainnya, anggrek cenderung dianggap sebagai tumbuhan yang sulit dibudidayakan. Di lain pihak, walaupun mempunyai kondisi lingkungan yang mendukung untuk melakukan budidaya anggrek, Sumatera Barat tidak pernah benar-benar menjadi penghasil anggrek secara komersil. Untuk itulah, kegiatan penyuluhan mengenai teknik budidaya anggrek yang disertai dengan pemberian motivasi untuk menanam anggrek dilakukan pada mitra kegiatan yaitu kaum ibu dan perempuan di Kelurahan Limau Manis Padang pada tanggal 30 November 2018. Metoda kegiatan ini meliputi pemberian penyuluhan tentang teknik budidaya anggrek, demonstrasi dan evaluasi kegiatan menggunakan tanya jawab dan kuisioner. Dari analisis hasil evaluasi, kegiatan ini memberikan peningkatan pengetahuan dan motivasi dalam melakukan budidaya anggrek. Di samping itu, hasil rangkuman dari kuisioner pada peserta kegiatan memberikan gambaran bahwa metoda presentasi dengan menggunakan slide PowerPoint disertai dengan demonstrasi sepenuhnya mampu menjembatani transfer pengetahuan mengenai teknik budidaya anggrek. Lebih jauh lagi, peserta menyatakan minat yang sangat tinggi untuk membudidayakan anggrek pada skala rumah tangga sembari meminta disertai dengan pembinaan lebih lanjut dan berkala.
MEMPERKENALKAN KEILMUAN BIOLOGI MELALUI METODE EKSEBISI Muhammad Nazri Janra; Henny Herwina
Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jhi.v2i1.242

Abstract

Ilmu biologi merupakan salah satu cabang ilmu eksakta yang mempelajari beragam jenis makhluk hidup. Seringkali biologi dianggap sebagai bidang ilmu yang sulit untuk dipelajari, membosankan dan tidak menarik, karena kurangnya pengetahuan masyarakat banyak tentang apa saja kegiatan yang dilakukan sebagai usaha untuk mempelajarinya. Sebagai ilmu dasar yang menunjang banyak bidang ilmu lainnya, minat untuk mempelajari biologi di tingkat pendidikan lanjut masih kurang menggembirakan. Untuk itu sebuah stand eksebisi yang sarat dengan muatan kebiologian dilakukan pada tanggal 30 Oktober 2018 bertempat di Auditorium Universitas Andalas sebagai bagian dari kegiatan Pameran Aktifitas Kampus 2018. Materi yang disajikan di dalam eksebisi berupa spesimen awetan basah dan kering serta koleksi hewan hidup dari lima kelas binatang bertulang belakang (Vertebrata). Minat pengunjung terhadap materi eksebisi diukur secara kualitatif melalui besaran kunjungan dan intensitas interaksinya dengan stand pameran biologi; ditambah dengan pengukuran secara kuantitatif dimana beberapa perwakilan pengunjung disurvey lebih lanjut dengan menggunakan kuisioner sederhana. Dilihat dari jumlah pengunjung yang datang, stand biologi termasuk yang paling ramai dengan rata-rata pengunjung berinteraksi 3-10 menit untuk bertanya tentang item-item yang dipamerkan. Berdasarkan survey kuisioner yang dilakukan pada pengunjung, stand biologi sangat informatif dengan materi penyajian yang menarik ditambah dengan tenaga penyaji yang cukup kreatif. Sedangkan masukkan yang diberikan terutama menyangkut waktu eksebisi yang singkat serta ragam materi yang disajikan diminta untuk lebih diperbanyak. Teknik eksebisi dengan pelibatan secara langsung pengunjung dengan materi-materi terkait bidang biologi memperlihatkan hasil yang menjanjikan sebagai media untuk memperkenalkan bidang ilmu biologi kepada khalayak.
Uji Repelensi Sereh Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) terhadap Beberapa Strain Kecoak Jerman (Blattella germanica L.) Resti Rahayu; Robby Jannatan; Henny Herwina; Nasril Nasir; Nurmansyah Nurmansyah
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 13, No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak esensial dari tumbuhan telah banyak digunakan sebagai repelen serangga, salah satu minyak esensial tersebut berasal dari ekstrak sereh wangi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat repelensi ekstrak sereh wangi terhadap beberapa strain kecoak jerman. Metoda yang digunakan adalah Tarsal Contact Test dengan rancangan acak lengkap dengan strain kecoak sebagai perlakuan. Kecoak yang digunakan adalah kecoak jantan strain standar (VCRU-WHO) dan strain lapangan (HHB-JKT, PLZ-PDG dan KRS-BDG) yang dikoleksi dari beberapa tempat berbeda di Indonesia. Repelensi berkisar antara 82-93% setelah jam ke-6 dan 57-84% pada jam ke-24. Tidak terdapat perbedaan yang nyata antar strain kecoak pada taraf 5%. Dapat disimpulkan bahwa sereh wangi bersifat repelen terhadap kecoak jerman..
Defining the Rearing Cage for Agriocnemis femina Damselfly (Odonata, Zygoptera, Coenagrionidae) Muhammad Nazri Janra; Henny Herwina; Hafizhah Rahmayani; Lily Rahmawati; Dika Putri Sehati; Shania Refka Fandesti
Jurnal Riset Biologi dan Aplikasinya Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jrba.v2n2.p42-48

Abstract

Rearing insects such as dragonflies and damselflies aim to gain uniform progeny that used for scientific purposes. In Indonesia, unfortunately, this rearing type is not yet common which suggests the time for its initiation. This study has objective to define the type of rearing cage for Agriocnemis femina damselfly (Odonata, Zygoptera, Coenagrionidae). It was conducted descriptively by using two smalls (9 x 13 x 23 cm), four medium (14 x 15 x 22 cm) and two larges (20 x 23 x 33 cm) size boxes as cage setups, with or without ornamental plants in it. The feeding was with limited (10-15 Drosophila flies provided per day) and unlimited provision. Data was analyzed descriptively. The results showed that A. femina lived normally, including eating and mating, within the large cage setup equipped with ornamental plants and unlimited feeding.
Pelatihan Budidaya Maggot Black Soldier Fly sebagai Pakan Alternatif dalam Upaya Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga Resti Rahayu; Eli Ratni; Henny Herwina; Robby Jannatan; Virtuous Setyaka; Wellyalina Wellyalina
Warta Pengabdian Andalas Vol 28 No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.28.2.91-98.2021

Abstract

The city of Padang produces approximately 600 tons of waste daily, which includes the categories of recyclable and non-recyclable waste. However, the percentage of waste that can be recycled is only about 17% and the rest must be heaped into end landfill every day. The category of recycled waste is counted as much as 65% is organic waste that is made into compost and 35% is both plastic and paper waste that is processed into other products. Maggot, which is the larva of the Black Soldier Fly, is an organic matter-decomposing agent that has better decomposition capabilities than other organisms. Maggot has biomass with high protein and fat content. Maggot farming is the most appropriate effort needed by the community today, because in addition to processing daily organic waste, it will also produce feed for livestock such as chicken, duck, fish, and bird. The farming process only requires simple technology and low cost, but is able to reduce the earth's waste load. The Andalas University community service team provided training on maggot farming to process organic waste from community households. The training was carried out using the Hybrid method, which is a combination of offline and online techniques with the same goal. The activity began with counseling on theoretical explanations, followed by both the farming practices and further program assisting. It hopes that the activity will be improved by other trainings such as Maggot’s processing into more valuable products, so that it can be packaged in such a way as to be marketed to the target purchasers.
Pendampingan Usaha Bukik Nabu (UBUNA) dalam Budidaya Lebah Tanpa Sengat (Galo-Galo) dan Pengembangan Produk Turunannya di Limau Manis, Padang Henny Herwina; Eli Ratni; Wellyalina Wellyalina; Jasmi Jasmi; Virtuous Setyaka
Warta Pengabdian Andalas Vol 28 No 4 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.28.4.386-392.2021

Abstract

Galo-galo is a stingless bee that has been cultivated for the last ten years because of its potential as a producer of very good quality of honey. In addition, galo-galo is also capable of producing bee pollen and propolis, which are used to healthy and cosmetics products. The stingless bee keeping, also known as meliponiculture, is a sustainable activity that does not harm the environment, moreover it helps to increase productivity of several crops. This community service activity was carried out to accompany Bukik Nabu (UBUNA) business partners to develop the meliponicuture in residential area in Limau Manis Padang. The program included as assisting partners in developing several processed products based on honey, bee pollen and propolis. The method used was direct mentoring which begins with discussions and providing a Focus Group Discussion (FGD) with partners, residents and local government. Several agreements and work plans have been made, i.e. enrichment of knowledge in galo-galo cultivation techniques and continuous propagation of feed plants for the bees’ production, furthermore assisting in produce of the food products, improving the packaging and marketing system of downtream products from meliponiculture.
Analisis Cepat terhadap Budidaya Galo-Galo (Apidae: Meliponini) di Desa Suntur, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto Henny Herwina; Muhammad Nazri Janra; Siti Salmah; Mairawita Mairawita; Jasmi Jasmi
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 3 (2022): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v6i3.5168

Abstract

Galo-galo atau lebah madu tanpa sengat adalah kekayaan hayati yang dapat dioptimalkan sebagai penghasil madu dan propolis untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Indonesia diketahui memiliki jenis-jenis lebah madu tanpa sengat yang belum begitu maksimal diternakan untuk menghasilkan madu dan produk meliponikultur lainnya seperti propolis dan bee pollen. Untuk itu telah dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa peningkatan kesadaran masyarakat di Desa Suntur, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto. Kegiatan ini dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa dari Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas bekerjasama dengan dosen dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia pada tanggal 14 Juli 2019. Sebanyak lima peternak lebah tanpa sengat diwawancarai secara mendalam dengan menggunakan kuesioner untuk mendapatkan hal-hal kunci terkait dengan peternakan galo-galo di Desa Suntur, Sawahlunto. Kegiatan pengabdian yang dilakukan mengidentifikasi permasalahan berikut dengan kelebihan dan kekurangan dari kegiatan peternakan galo-galo di desa tersebut. Hal-hal ini kemudian digarisbawahi di dalam paper ini, sedangkan perkembangan peternakan galo-galo Sawahlunto yang dicapai paska kegiatan pengabdian ini juga dijabarkan, termasuk pembinaan kelompok ternak lebah, upaya peternakan terpadu, branding produk madu dan promosi hasil ternak galo-galo.
Population Dynamics of Damselfly Agriocnemis femina (Odonata: Coenagrionidae) Inhabited Polluted Area In Padang, West Sumatra Muhammad Nazri Janra; Henny Herwina
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.19995

Abstract

 AbstractAgriocnemis femina known as variable wisp or pinhead wisp, is a damselfly from family Coenagrionidae which inhabits various aquatic habitats, including those affected by human. This study aimed to investigate the dynamics of variable wisp in polluted habitat. The tenerals, immature males, adult females and adult males of this damselfly were regularly counted from August 2018 until May 2019 at a 50 m ditch in a clustered settlement in Padang, West Sumatra. It was found that the ratio of teneral, immature male, adult female, and adult male was 1:3:2.4:13.3, implying that the population was dominated by males. Meanwhile, the ratio between female to male (which included the immature males) was 1:6.7. Comparing to the result of counting another population from a relatively clean area, variable wisp showed more dominance in polluted area rather than in clean waterbody. The presence of teneral also indicates that damselfly uses polluted ditch for its breeding site and habitat. The paper discussed the potential causes for damselfly's presence in polluted area, and therefore serves as baseline for future studies.AbstrakAgriocnemis femina, atau dikenal juga dengan nama capung-jarum centil, termasuk ke dalam keluarga Coenagrionidae yang menghuni beragam habitat perairan, termasuk yang telah mendapatkan pengaruh dari manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika capung-jarum centil pada habitat yang terpolusi di Kota Padang. Individu teneral, jantan muda, betina dewasa, dan jantan dewasa dari capung-jarum ini dihitung secara rutin dari Agustus 2018 sampai dengan Mei 2019 pada selokan sepanjang 50 m di sebuah kompleks perumahan di Kota Padang, Sumatra Barat. Rasio teneral jantan muda, betina dewasa, dan jantan dewasa yang ditemukan adalah 1:3:2,4:13,3, mengisyarakatkan bahwa individu jantan merupakan bagian yang dominan di dalam populasi capung-jarum ini. Sementara rasio antara betina dan jantan (termasuk jantan muda) adalah 1:6,7. Jika dibandingkan dengan hasil penghitungan jenis serupa yang dilakukan pada kawasan perairan yang lebih bersih, terlihat bahwa capung-jarum centil lebih dominan pada kawasan perairan yang mengalami polusi dibandingkan dengan yang bersih. Keberadaan individu teneral juga mengindikasikan bahwa capung-jarum ini berbiak pada selokan yang terpolusi tersebut, yang mungkin juga menjadi habitatnyat. Hal-hal yang menyebabkan capung-jarum ini dapat hidup pada kawasan yang terpolusi dibahas lebih lanjut di dalam paper ini.
Co-Authors . Mansyurdin Aadrean Aadrean Afifah Putri Afifah Putri Aini, Wardahtul Alan Handru Alponsin Alvia Rahmi Anna Febry Astuti Armein Lusi Zeswita Asful, Ferdhinal Aszareta, Muhammad Andoni Atiqoh Rinjani Utami Atiqoh Rinjani Utami Atthoriq Fauzan Atthoriq Fauzan Aziz, M. Abdul Azura, Nabilah Rahmachila Dahelmi Dahelmi Dahelmi Diana Zulyetti Dika Putri Sehati Djong Hon Tjong Efrizal Efrizal Eli Ratni Elni Fatimah Elni Fatimah Erlindawati Erlindawati Fadillah Fajri Hidayat Fandesti, Shania Refka Ferdhinal Asful Feskaharni Alamsjah Fithria Diniyati Gelvin Apria Ikhsan Gustina Indriati Hafizhah Rahmayani Halimah Tus Sakdiah Hamdi Ibrahim, Muhammad Hasmiwati Henmaidi Henmaidi Hnin Phyu Wai Hylda Hylda Idris, Muhamma Ilham Samudra, Muhammad Jabang Nurdin Janra, Muhammad N. Janra, Muhammad Nazri Jasmi Jasmi Jasmi , Jasmi Jasmi Jasmi Jasmi Jasmi Jasmi Jasmi Jasmi Jasmi Jefrial Santoso Joy Prima Koji Nakamura Nakamura Koji Nakamura Nakamura, Koji Nakamura Larissa Hilmi Lily Rahmawati Lily Rahmawati, Lily Mairawita, Mairawita Maliza, Rita Marchellino Irwan, Reziq Marta Yufa Maya Sari Miftahul Ilmi Miftahul Ilmi Miftahul Ilmi Miftahul Ilmi, Miftahul Muhammad Afif Muhammad Idris Muhammad Nazri Janra Muhammad Nazri Janra Nabilah Rahmachila Azura Nadira Nurul Fathiyah Nasril Nasir Nazri Janra, Muhammad Nofrita Nofrita Nofrita Nofrita Nurleila Sitepu Nurmansyah Nurmansyah Oki Kobayasi Susanto Pebriana Pebriana Pooja Angela Mendoza Pradani Eka Putri Pratama, Raihan Anugrah Puti Khairunnajwa Amar Putra Santoso Putri Pratama Elisa, Tasya PUTRI, RINA A. Putri, Syntia Mai r maliza, rita Rahmatika Putri Rahmayani, Hafizhah Ranny Ranny Ravelino Nesty Resti Puttama Irsya Resti Rahayu Resti Rahayu Rezvi, Syakira Tiara Ridho, Muhammad Syifa'ur Rina Oktavianti Rivi Hamdani Robby Jannatan Rusdimansyah Satria, Rijal Sehati, Dika Putri Shania Refka Fandesti Siti Salmah Siti Salmah Sonia Farmila Syahril Susan Septriani Suwirmen, Suwirmen Syaifullah Syaifullah Syakira Tiara Rezvi Syamsuardi Syamsuardi Tasman, Ratna Juwita Virtuous Setyaka Wellyalina, Wellyalina Weni Murdina Wilson Novarino Yenni Herlina Yuliana Indah Sari Zaini Zaini