Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PENGARUH LAMA KONTAK KARBON AKTIF SEBAGAI MEDIA FILTER TERHADAP PERSENTASE PENURUNAN KESADAHAN CaCO3 AIR SUMUR ARTETIS Ulfa Nurullita; Rahayu Astuti; Mohammad Zaenal Arifin
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 6. No. 1. Tahun 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.275 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.6.1.2010.%p

Abstract

Latar Belakang: Air sumur artetis banyak yang yang bersifat sadah, salah satu cara untuk menurunkan adalah filtrasi dengan karbon aktif. Penelitian ini akan menganalisis penurunan kesadahan CaCO3 dengan karbon aktif dengan waktu kontak 10 menit, 20 menit,30menit dan 40 menit. Tujuan: Mengetahui pengaruh lama kontak karbon aktif dalam menurunkan kesadahan CaCO3 air sumur artetis. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan rancangan Randomized pretes-postes control group design. Sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah lama kontak air sadah dengan karbon aktif yaitu selama 10 menit, 20 menit, 30 menit dan 40 menit, variabel terikat adalah penurunan kesadahan air sumur artetis, dan variabel pengganggu adalah pH dan suhu. Uji Normalitas data menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov menunjukkan data berdistribusi normal, sehingga uji yang digunakan adalah Uji One Way Anova. Hasil: penurunan kesadahan CaCO3 tertinggi 475,6 mg / l pada lama kontak 40menit (91%), terendah 206,0 mg / l pada waktu kontak 10 menit (45%). Hasil uji Anova didapatkan nilai p = 0,000 artinya ada pengaruh lama kontak karbon aktif dalam menurunkan kesadahan CaCO3 air sumur artetis.Kesimpulan: Penurunan kesadahan tertinggi terjadi pada lama kontak 40 menit yaitu rata-rata sebesar 91%.Kata kunci:Kesadahan, Lama kontak dengan karbon aktif, Penurunan kesadahan.
SUMBANGAN ENERGI DAN PROTEIN MAKAN PAGI TERHADAP ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN (AKG) BERDASARKAN POLA ASUH ANAK Rahayu Astuti; Sufiati Bintanah; Carto -
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 4. No. 1. Tahun 2007
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.265 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.4.1.2007.%p

Abstract

Latar Belakang : Dalam Upaya peningkatan gizi dan kesehatan anak sekolah, slah satu indikatornya adalah "keluarga biasa makan pagi". Kebiasaan makan pagi pada anak sekolah tidak akan berhasil tanpa dukungan keluarga khususnya peran seorang ibu. Data dari Puskesmas Kaligangsa tahun 2005, sebesar 32,9 % anak SD/MI tidak diasuh oleh ibunya karena ibu usaha Warung Tegal (Warteg) di Jakarta. Tujuan: untuk menganalisis perbedaan sumbangan energi dan protein makan pagi terhadap Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) berdasarkan pola asuh pada anak Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Hikmah. Metode: penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IV, V, VI MI Nurul Hikmah yang berjumlah 99 anak. Sampel sebesar 70 siswa yang diambil dengan metode "Stratified Random Sampling", masing-masing kelompok diambil secara proporsional. Analisis data secara deskriptif dan analitik dan untuk menguji Perbedaan pada kedua kelompok (diasuh ibu dan tidak diasuh ibu) digunakan "Independent Sample t Test dan Mann-Whitney U test". Hasil: menunjukkan rata-rata sumbangan energi makan pagi terhadap AKG pada anak yang diasuh ibu sebesar 23,8% sedangkan pada anak yang diasuh bukan ibu sebesar 20,3 %. rata-rata sumbangan protein makan pagi terhadap AKG pada anak yang diasuh ibu sebesar 25,6 % sedangkan pada anak yang diasuh bukan ibu sebesar 24,4 %. Hasil uji tidak ada perbedaan yang signifikan sumbangan energi maupun protein makan pagi terghadap AKG berdasarkan pola asuh. Kesimpulan: sumbangan makan pagi diharapkan dapat mencukupi sebesar 20-30% AKG, karena diperlukan untuk aktifitas di sekolah. Dengan demikian hasil ini merupakan kondisi yang baik dan perlu dipertahankan.Kata kunci: energi, protein, AKG, pola asuh anak.
KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN PRAKTIK PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (Studi Kasus Di Wilayah Kerja Puskesmas Srondol Kecamatan Banyumanik Kota Semarang) Trixie Salawati; Rahayu Astuti; Hayu Nurdiana
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 6. No. 1. Tahun 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.867 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.6.1.2010.%p

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyebaran penyakit DBD dipengaruhi antara lain oleh faktor lingkungan dan praktik pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Wilayah kerja Puskesmas Srondol termasuk wilayah endemis DBD.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan dan praktik PSN pada keluarga dengan kejadian DBD di Wilayah kerja Puskesmas Srondol, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.Metode: Jenis penelitian ini adalah explanatory research dengan case control. Sampel (kasus) adalah seluruh penderita DBD yang tercatat di Puskesmas Srondol antara Januari sampai dengan April 2010 (47 kasus), dan sampel (kontrol) adalah orang yang ada di sekitar penderita DBD yang tidak menderita DBD dengan radius 100 meter, antara Januari sampai dengan Juni 2010 yang disamakan umur, jenis kelamin dan status gizinya (47 responden). Variabel terikat adalah kejadian DBD dan variabel bebas adalah breeding place di dalam dan di luar rumah, resting place di dalam dan di luar rumah, pencahayaan, kelembaban udara ruangan, kebiasaan menutup dan menguras tempat penampungan air/TPA, kebiasaan menyingkirkan barang bekas). Uji analisis dengan Chi Square.Hasil: Ada hubungan antara breeding place di dalam rumah (p = 0,048), resting place di luar rumah (p = 0,035), kebiasaan menguras TPA (p = 0,036), dan pencahayaan ruangan (p = 0,013) dengan kejadian DBDdan tidak ada hubungan antara breeding place di luar rumah (p = 0,096), resting place di dalam rumah (p = 0,059), kebiasaan menutup TPA (p = 0,062), kebiasaan mengubur barang bekas (p = 0,223), dan kelembaban udara ruangan (p = 0,483) dengan kejadian DBD Kesimpulan : Faktor lingkungan dan praktik PSN yang berhubungan dengan kejadian DBD adalah breeding place di dalam rumah, resting place di luar rumah, kebiasaan menguras TPA, dan pencahayaan ruangan.Kata kunci: Faktor lingkungan, praktik PSN, DBD
HUBUNGAN HIGIENE PERORANGAN DENGAN SANITASI LAPAS TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT HERPES DI LAPAS WANITA KELAS II A SEMARANG Agus Wirawan; Ulfa Nurullita; Rahayu Astuti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 7. No. 1. Tahun 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.085 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.7.1.2011.%p

Abstract

ABSTRACT Background. Year 2009, 80% from 176 inmate in women prisons Semarang had a history of herpes simplex disease. Based on these issues it is necessary to research on the effects of personal hygiene and sanitation on the incidence of herpes simplex Correctional Institution in prisons IIA class women Semarang Objective. To identify the relationship between personal hygiene and sanitation of prisons with the incidence of herpes simplex on the citizens in women prisons IIA class Semarang. Methods. Type of research is explanatory research method used to test independent variables (personal hygiene and sanitation of prisons) and dependent variable (incidence of herpes simplex infection). with a sample of 51 persons. The method used is through a questionnaire and interview survey using a cross sectional approach. Results. Chi square test the relationship between personal hygiene with the incidence of herpes simplex p value (0.506) is greater than the value of α (0.05) good categories as many as 49 people (96.1%). While the statistical analysis using Chi square test for the relationship between sanitation with the occurrence of herpes simplex p value (0.221) is greater than the value of α (0.05), minimum score category 2, the maximum score of 3, an average of 2.59 with standard deviation of 0.49. Conclusion. There was no significant relationship between personal hygiene and sanitation with the incidence of herpes simplex disease. Keyword. Personal hygiene and sanitation of prisons, with herpes simplex infection. ABSTRAK Latar Belakang. Tahun 2009, 80% dari 176 warga binaan di Lapas wanita Semarang mempunyai riwayat menderita penyakit herpes simplek. Berdasarkan masalah tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh higiene perorangan dan sanitasi Lapas terhadap kejadian herpes simplek di Lapas wanita kelas IIA Semarang Tujuan. Mengetahui hubungan higiene perorangan dan sanitasi Lapas dengan kejadian herpes simplek pada warga binaan di Lapas wanita kelas IIA Semarang Metode. Jenis penelitian explanatory research yaitu Metode yang digunakan untuk menguji variabel bebas ( higiene personal dan sanitasi Lapas) dengan variabel terikat ( kejadian infeksi herpes simplek). dengan sampel sejumlah 51 orang. Metode yang digunakan adalah metode survey melalui kuesioner dan wawancara menggunakan pendekatan cross sectional. Hasil. Uji Chi square hubungan antara higiene perorangan dengan kejadian penyakit herpes simplek didapatkan nilai p (0,506) lebih besar dari nilai α (0,05) katergori baik sebanyak 49 orang (96,1%). Sedangkan hasil analisis statistik dengan uji Chi square untuk hubungan antara sanitasi dengan kejadian penyakit herpes simplek didapatkan nilai p (0,221) lebih besar dari nilai α (0,05),kategori skor minimum 2, skor maksimum 3, rata-rata 2,59 dengan standar deviasi 0,49. Kesimpulan. Tidak ada hubungan yang signifikan antara higiene perseorangan dan sanitasi dengan kejadian penyakit herpes simplek Kata Kunci., higiene perseorangan dan sanitasi Lapas, dengan Infeksi herpes simplek
PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI LARUTAN JAHE DAN LAMA WAKTU PERENDAMAN TERHADAP JUMLAH TOTAL MIKROBA PADA IKAN BANDENG Rhena Justitia Octovrisna; Rahayu Astuti; Ratih Sari Wardani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 8. No. 1. Tahun 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.395 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.8.1.2013.26-35

Abstract

Latar belakang : Ikan merupakan bahan makanan yang banyak mengandung protein tinggi dan mengandung asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh, hal yang penting dari ikan adalah ikan mudah sekali cepat rusak. Salah satu cara untuk memperpanjang masa simpan ikan adalah dengan menambahkan bahan pengawet. Bahan pengawet makanan yang berasal dari rempah-rempah salah satunya adalah jahe.Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi larutan jahe dan lama waktu perendaman terhadap total mikroba pada Ikan Bandeng. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan percobaan faktorial 4 x 3 menggunakan rancangan acak lengkap. Sampel penelitian adalah Ikan Bandeng yang telah diberi berbagai konsentrasi dari larutan jahe yaitu (0,10%,15% dan 20%) yang dilakukan pengamatan 0 jam, 3 jam dan 4 jam. Dengan 3 kali pengulangan pada masing-masing perlakuan Variabel bebas dalam penelitian ini adalah konsentrasi larutan jahe dan lama waktu perendaman, sedangkan variabel terikat total mikroba. Analisis data menggunakan uji two way anova dengan tingkat kemaknaan 5% . Hasil: Hasil pemeriksaan total mikroba pada konsentrasi jahe 0 % (kontrol) adalah 61 x 103 kuman/ml, pada konsentrasi 10% adalah 5 x 103 kuman/ml, pada konsentrasi larutan 15% adalah 4 x 103 kuman/ml, dan pada konsentrasi 20% jumlah total mikroba menjadi 2,5 x 103 kuman/ml. Pada hasil pemeriksaan total mikroba berdasarkan lama perendaman (0 jam, 3jam dan 4 jam) terhadap total mikroba dengan nilai rata-rata 26,3 x 103 kuman/mlpada lama perendaman 0 jam, pada lama perendaman 3 jam rata-rata jumlah total mikroba sebesar 32,3 x 103 kuman/ml, dan pada lama perendaman 4 jam rata-rata jumlah total mikroba menjadi 25,5 x 103 kuman/ml. Simpulan : Ada pengaruh lama perendaman (0 jam, 3 jam dan 4 jam) terhadap total mikroba pada Ikan Bandeng (p=0,000). Ada pengaruh konsentrasi larutan jahe (0%, 10%, 15% dan 20%) terhadap totalmikroba pada Ikan Bandeng (p=0,000). Ada pengaruh interaksikonsentrasi larutan jahe dan lama waktu perendaman terhadap total mikroba pada Ikan Bandeng (p=0,000).Kata Kunci : konsentrasi larutan jahe, lama perendaman, total mikroba
PENGARUH DOSIS DAN LAMA PERENDAMAN LARUTAN LENGKUAS TERHADAP JUMLAH BAKTERI IKAN BANDENG Ana Suryawati; Wulandari Meikawati; Rahayu Astuti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 7. No. 1. Tahun 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.57 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.7.1.2011.%p

Abstract

ABSTRACT Background. Fish is easy food materials experiences of damage until need special handling to maintain its quality. One of way maintains its quality by give preservative to pursue bacterium growth that is give preservative experiences of like alpine galanga. Objective. To analyze influence of various  doses and long of the soaking alpine galanga to amount of bandeng fish bacterium. Methods. This study is a true Experiment  with research design is pretest-post test. Independent variable is alpine galanga doses and long of the soaking, dependent variable is amount of bandeng fish bacterium. Research unit is 39  bandeng fish that bought in TPI Rejomulyo. Results. Mean of amount bacterium maximum of bandeng fish bacterium before treatment at dose 15% that is 1,20x106 colony/gr and minimum 1,08x106 colony/gr at dose 0% whereas after treatment maximum of bacterium are 1,29x106 colony/gr at dose 0% and minimum 4,07x105 colony/gr at dose 15%. Conlusion. 1)There is influence of alpine galanga doses  to amount of fish bacterium bandeng. 2)There is long of the soaking influence 2 hours, 4 hours and 6 hours to amount of fish bacterium bandeng. 3)There is influence of dose interaction and long of the soaking alpine galanga sollution to amount of fish bacterium bandeng. Keyword. Alpine galanga dose, long of the soaking, a amount of bandeng fish bacterium.   ABSTRAK Latar Belakang. Ikan merupakan bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan sehingga memerlukan penanganan yang khusus untuk mempertahankan mutunya. Salah satu cara mempertahankan mutunya dengan memberi bahan pengawet untuk menghambat pertumbuhan bakteri yaitu memberikan pengawet alami seperti lengkuas. Tujuan. Mengetahui pengaruh berbagai dosis lengkuas dan lama perendaman lengkuas terhadap jumlah bakteri ikan bandeng. Metode. Jenis penelitian ini adalah eksperimen murni dengan rancangan penelitian pretest-post test with control group. variabel bebas dosis lengkuas dan lama perendaman sedangkan variabel terikat jumlah bakteri ikan bandeng. unit penelitian 38 ekor ikan bandeng yang dibeli di TPI Rejomulyo. Hasil. Rerata jumlah bakteri tertinggi pada ikan bandeng sebelum perlakuan pada dosis 15% yaitu 1,20x106 koloni/ml dan terendah 1,08x106  koloni/ml pada dosis 0% sedangkan sesudah perlakuan jumlah bakteri tertinggi 1,29x106 koloni/ml pada dosis 0% dan terendah 4,07x105 koloni/ml pada dosis 15%. Kesimpulan. 1) Ada pengaruh dosis lengkuas terhadap jumlah bakteri ikan bandeng. 2) Ada pengaruh lama perendaman 2 jam, 4 jam dan 6 jam terhadap jumlah bakteri ikan bandeng. 3) Ada pengaruh interaksi dosis dan lama perendaman larutan lengkuas terhadap jumlah bakteri ikan bandeng. Kata Kunci. dosis lengkuas, lama perendaman, jumlah bakteri ikan bandeng.
PENGARUH KETERATURAN KONSUMSI TEH MANIS TERHADAPKELELAHAN PEKERJA (STUDI DI PABRIK TAHU ECO KELURAHAN JOMBLANG KECAMATAN CANDISARI KOTA SEMARANG) Nur Zaini Rohman; Rahayu Astuti; Ulfa Nurullita
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 10. No. 1. Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.821 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v10i1.2389

Abstract

Background. The temperature of the working environment in the industry know very high ECObetween 36-500C such conditions can cause the appearance of sweat, the perspiration contained salt sodium chloride coming out along with the sweat that inhibits the transport of glucose in the body and cause the onset of muscle contraction. In the event of muscle contraction, the glycogen is converted into lactic acid that may hamper the work of muscles causing fatigue. With the granting of an additional drink regularly with carbohydrates very well to prevent the occurrence of fatigue caused by lack of fluids. Sweet tea is a drink containing carbohydrates are produced from the sugar content can be useful as an additional source of energy.. Purpose: To knowing the influence of granting sweet tea on a regular basis to the level of exhaustion factory worker knew ECO Village of Jomblang Sub-district Candisari Semarang. Methods: Type this research is specious experiment ( quasi experiment ) with delightful research before and after one group (one group before and after design). The variable independent granting tea sweetened and dependent variable the rate of fatigue work. Results: The rate of fatigue before work on the control group of 265.071 milli/sec and on the groups treatmen of 267.714 milli/sec. The rate of fatigue after work on control group of 407.062 milli/sec and on the groups treatmen of 220.062 milli/sec. The average rate of change fatigue in the control group of 2.643 milli/sec and average rate of change fatigue on the Group's treatment of -187.000 milli/sec to the value of p = 0.000 (p<0.05). Conclusion: There is a any influence granting tea sweetened the fatigue rate change.
KADAR HEMOGLOBIN DAN PREVALENSI ANEMIA PADA IBU LAKTASI YANG BEKERJA DAN YANG TIDAK BEKERJA Rahayu Astuti; Agustin Syamsianah
JURNAL LITBANG Vol 2, No 2 (2005): Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian
Publisher : JURNAL LITBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.55 KB)

Abstract

Background : Nutritional anemia among lactating mothers is the one of nutritionalproblem in Indonesia , indicated by the decreasing of hemoglobin level. Lactating mothers can get the nutritional anemia because of blood losses on partus. Objective : to discover hemoglobin level and anemia prevalence on lactating working mothers and lactating non working mothers. Method : this research design is analytical research with cross sectional approach. The research location is in "Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarong". All the samples are 86 lactating mothers, divided into two groups that are 49 (57,0 %) lactating working mothers and 37 (43,0 %) lactating non working mothers. The data collected by interview method that are respondent identity and the frequency of food consumption. Hemoglobin level analyze by Sianmethemoglobine method. Result : The amount of (95,9 %) lactating working mothers are industrial workers and 4,1 % are government workers. The average of hemoglobin level on lactating working mothers is 10,8 gr %, but on lactating non working mothers is 11,2 gr  %. Anemia prevalence among the lactating working mothers is 65,3 % but on lactating non working mothers is 37,8 %. Conclusion : There is a significant dffirence of the average hemoglobin level between the lactating working mothers and the lactating non working mothers (p value = 0,009). There is a significant difference of the anemia prevalence between the lactating working mothers and the lactating non working mothers (p value = 0,011). Key words : hemoglobin level, anemia,lactating mothers, Junral Litbang
PENGARUH PERENDAMAN LARUTAN ASAM CUKA TERHADAP KADAR LOGAM BERAT CADMIUM PADA KERANG HIJAU Mifbakhuddin -; Rahayu Astuti; Agus Awaludin
JURNAL KESEHATAN Vol 3, No 1 (2010): Ilmu-Ilmu Kesehatan
Publisher : JURNAL KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.81 KB)

Abstract

BACKGROUND. The green shellfish (Perna viridis) was one of the shel(ish kind that was enjoyed by the community, had the economical value and the content of the nutrient taht really was good for consumed, when this green shellfish was dirtiest heavy Cd metal then will endanger for the health of the human body.OBJECTIVE. knew the influence of the submersion of the solution to acetic acid on the level of heavy metal cadmium to the green shelffish (Perna viridis)METHOD. The research true eksperiment with the plan that was used by Randommized Control Group Postest Design. The sample of the research was 24 green shellfish taht contained heavy Cd metal afterwards was soaked by using the solution to acetic acid respectively the concentration, where as the control was teh green shellfish that was not done by the submersion. The analysis ofthe data used One Way Anova.RESULT. In general the level of heavy cd metal in the control (without the treatment) was 77, 73 pg/lt, where as in general the level of heavy Cd metal in various concentration of the solution to acetic acid 10%, 15%, 20%, 25oZ that is 53,70 pg/lt, j1,00 pg/lt, 22,05 pg/lt, and 8,07 pg/lt. Therewas the influence of the submersion with the solution to acetic acid |ok, l0%, 15%, 20%, and 25%o against the level of heavy Cd metal to the green shelffish.CONCLUSION. The was the in/luence that was signiJicant against the level of heatty Cd metal with the submersion of the solution to acetic acid 10%, l5%, 20%, and 25%.KEYWORDS. The green shellfish, the solution to acetic acid, the level of heavy Cd metal.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN PRE OPERASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI HERNIA DI RSUD KUDUS Arif Kurniawan; Yunie Armiyati; Rahayu Astuti
FIKkeS Vol 6, No 2 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.03 KB)

Abstract

Kecemasan dapat terjadi pada semua pasien yang akan menjalani operasi, termasuk pada pasien yang akan menjalani operasi hernia. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam pembedahan dan tindakan pembiusan. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan pre operasi terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi hernia di RSUD Kudus. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan penelitian ini ialah one group pretest posttest dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling yaitu berjumlah 15 orang. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis statistik T dependent / Paired T-test. Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh sebagian besar responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan mengalami cemas sedang yaitu sebanyak 11 orang (73,3%), sedangkan yang mengalami cemas ringan dan cemas berat masing-masing yaitu sebanyak 2 orang (13,3%) dengan rata-rata 52,67. sebelum diberikan pendidikan kesehatan mengalami cemas ringan yaitu sebanyak 8 orang (53,3%), sedangkan yang mengalami cemas sedang sebanyak 5 orang (33,3%), dan yang tidak mengalami cemas sebanyak 2 orang (13,3%). Ada pengaruh yang signifikan antara tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi hernia skrotalis yaitu dengan p value = 0,000 < ? (0,05). Rekomendasi yang dapat diberikan adalah agar perawat dapat melaksanakan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan pada setiap pasien yang akan dilakukan tindakan operasi.Kata kunci: tingkat kecemasan, pendidikan kesehatan, operasi hernia