Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

HUBUNGAN BEBAN KERJA DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN KADAR ASAM LAKTAT PADA PEKERJA ANGKAT ANGKUT DI TEMPAT PELELANGAN IKAN KABUPATEN REMBANG Wiwik Wahyu Utami; Rahayu Astuti; Diki Bima Prasetio
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 5 (2022): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Guna Menunjang Pencapaian Sustainable Developm
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pekerja angkat angkut dalam melakukan pekerjaan di TPI bekerja selama 5 sampai 8. Beban angkat/angkut yang diterima pekerja selama bekerja >20 kg/hari. Selain itu pekerja angkat angkut di TPI bekerja di lingkungan kerja yang panas. Akivitas berat yang dilakukan secara berlebihan akan menyebabkan asam laktat dalam darah meningkat sebanding dengan kadar asam laktat dalam tubuh manusia. Asam laktat dapat terakumulasi ketika pekerja melakukan aktivitas secara berulang sebagai penanda kelelahan. Tujuan : Menganalisis hubungan usia, status gizi, kebiasan merokok, beban kerja dengan kadar asam laktat pada pekerja angkat angkut. Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain penelitian cross sectional. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan wawancara, pengukuran beban kerja  menggunakan denyut nadi dan kadar asam laktat terhadap 34 pekerja angkat angkut. Alat yang digunakan adalah accutrent plus merk rohce dan kuesioner. Dalam penelitian ini variabel bebas adalah beban kerja,karakteristik individu sedangkan variabel terikat adalah kadar asam laktat. Data diuji dengan menggunakan chi-square. Hasil : Usia pekerja 22-60 tahun, status gizi (IMT) 19,4 – 27,2 dan kadar asam laktat dalam darah 0,1-2,5 mmol/l dengan kategori tidak normar 73,5%. Staus gizi normal 33,3% kebiasaan merokok dengan kategori sedang 76,5% dan beban kerja dengan kategori perlu perbaikan 82,1%. Kesimpulan: Dalam penelitian ini beban kerja ada hubungan yang signifikan dengan kadar asam laktat p (value) = 0,031, namun usia, status gizi, kebiasaan merokok tidak ada hubungan yang signifikan dengan kadar asam laktat (p>0,05).Kata kunci : Usia, Status Gizi, Kebiasaan Merokok, Beban Kerja, Kadar asam laktat
Status Dehidrasi Pada Pekerja Yang Terpapar Panas Di Industri Baja Ringan PT. X Lifia Ayu Wulandari; Rahayu Astuti; Ulfa Nurullita
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 4 (2021): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Post Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Tangguh
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Industri baja ringan mempunyai tekanan panas pada proses produksi. Hal tersebutmeningkatkan suhu dan kelembaban udara di area kerja dan tekanan panas mencapai ≥28℃. Paparan panas yang dirasakan pekerja secara terus menerus mengakibatkan peningkatanpengeluaran keringat dan apabila tidak diimbangi cairan yang cukup mengalami dehidrasi. Tujuan:mendeskripsikan status dehidrasi dan menganalisis faktor yang berhubungan dengan statusdehidrasi. Metode: Jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional.Populasi pekerja industri baja ringan PT. X yang terpapar panas, sampel sebanyak 43 pekerja.Variabel terikat yaitu status dehidrasi. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat dengan ujichi-square. Hasil: sebagian besar responden berusia <40 tahun (53,5%), IMT normal (67,4%), masakerja <6 tahun (69,8%), lama istirahat ≤60 menit (74,4%), jumlah konsumsi air minum <1800 ml(94,6%), tekanan panas di seluruh area kerja ≥33,4℃ dan status dehidrasi dengan kategori berat(86%). Uji hipotesis p-value usia (p=0,669), status gizi (p=1,000), masa kerja (p=0,649), lamaistirahat (p=0,312) dan jumlah konsumsi air minum (p=0,000). Kesimpulan: NAB di area kerjamelebihi NAB dan faktor yang berhubungan dengan status dehidrasi yaitu jumlah konsumsi airminum. Kata kunci : status dehidrasi, tekanan panas, pekerja
Daya Terima dan Kadar Asam Thiobarbiturat (TBA) Tempe yang Difortifikasi Zat Besi dan Vitamin A Rahayu Astuti; Siti Aminah; Agustin Syamsianah
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 1 (2018): Hilirisasi & Komersialisasi Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat untuk Indonesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tempe is one of Indonesian food which commonly consumed by community and possible as an alternative food that can be fortified with iron and vitamin A. This fortification is an efforts to overcome nutritional anemia. On the other hands, iron addition raises concerns that fortification of iron in fortified tempe can cause oxidative effects. The purpose of this study is to determine the acceptability and levels of thiobarbituric acid (TBA) in iron- fortified tempe and tempe with additional iron+vitamin A. This study use a Completely Randomized Design with 5 experimental groups and 3 replications. The control group was tempe without fortification, while experimental groups 1, 2, 3, 4 were given iron (FeSO) 90 mg, 110 mg, 130 mg and 150 mg/kg of wet soybean. Tempe A is tempe which was given iron fortification, and tempe B was tempe which was given iron+ vitamin A fortification. The results of this study, the acceptability of fortified tempe showed that both tempe A and tempeB, in raw tempe in terms of aroma and color, iron fortified tempe levels of 110 mg and 130 mg were still favored by panelists. Likewise in cooked tempe, the taste, aroma and color that are still preferred are iron levelsof 110 mg and 130 mg. However, tempe with 150 mg of iron is not preferred by panelists. There were no significant differences about levels of thiobarbituric acid (TBA) in tempe without fortification compared to onlyiron-fortified tempe alone and iron+vitamin A-fortified tempe, with more increasing iron levels (90 mg, 110 mg, 130 mg and 150 mg) does not show an increase in TBA levels. The iron (FeSO4) contain with 130 mg/kg of wet soybean is recommended to use in making tempe fortification as an effort to overcome iron-deficiency anemia.
GAMBARAN SIKAP TENAGA KESEHATAN DAN PELAKSANAAN METODE KANGGURU PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUANG PERINATOLOGI RSUD dr. SOEPRAPTO CEPU TAHUN 2011 Nawang Puspitaningtyas; Rahayu Astuti; Dewi Puspitaningrum
Jurnal Kebidanan Vol 1, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.907 KB) | DOI: 10.26714/jk.1.1.2012.53-58

Abstract

Salah satu asuhan yang dapat diberikan pada bayi berat lahir rendah selain inkubator adalah metode kanguru. Metode kanguru merupakan perawatan dengan kontak kulit antara ibu dan bayi yang bermanfaat untuk menstabilkan suhu tubuh dan memperbaiki keadaan umum bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sikap tenagakesehatan dan pelaksanaan metode kanguru pada bayi berat lahir rendah di ruang perinatologi RSUD dr. Soeprapto Cepu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan di ruang perinatologi RSUD dr. SoepraptoCepu yang berjumlah 15 orang dengan sampel jenuh Data-data yang dikumpulkan dianalisis secara univariat. Dari penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar tenaga kesehatan memiliki sikap positif terhadap metode kanguru (60%) dan sebagian besar tenaga kesehatanpernah melaksanakan metode kanguru yaitu sebanyak (73.3%). Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar tenaga kesehatan memiliki sikap positif dan pelaksanaan yang baik.
Pengaruh Penerapan Bundle Know terhadap Pengetahuan dan Kepatuhan Perawat dalam Pencegahan Phlebitis Eka Puji Hastuti; Chanif Chanif; Edy Soesanto; Vivi Yosafianti Pohan; Rahayu Astuti
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i5.22278

Abstract

ABSTRACT Phlebitis remains a major concern in nursing care as it reflects the quality of hospital services. Low knowledge and compliance of nurses are the main causes of phlebitis, thus efforts to improve nurses’ understanding and compliance in the management of peripheral intravenous catheters are essential. to determine the effect of implementing Bundle Know on nurses’ knowledge and compliance in preventing phlebitis. a quasi-experimental pretest-posttest with control group design was conducted on 99 nurses. The intervention group (n=50) received Bundle Know training (module and workshop) consisting of four components: Keep it Clean, Need for Device, Observe and Secure, Work Together. The control group (n=49) only received standard IM bundle socialization. Instruments included a knowledge questionnaire and a compliance observation checklist. Wilcoxon test showed an increase in the median knowledge score in the intervention group from 24 to 26 (p=0.000), and in the control group from 23 to 24 (p=0.000). Friedman test revealed improved compliance in the intervention group from a median of 9 to 13 (mean rank 1.21 to 4.10;χ²=159.85; p=0.000), and in the control group from 8 to 10 (mean rank 1.82 to 3.93; χ²=79.63; p=0.000). Mann-Whitney tests showed significant differences in posttest knowledge (p=0.001) and compliance (p=0.000) favoring the intervention group. The implementation of Bundle Know effectively improved nurses’ knowledge and compliance in preventing phlebitis. Keywords: Bundle Know, Phlebitis, Knowledge, Compliance Nursing.  ABSTRAK phlebitis masih menjadi perhatian utama dalam pelayanan keperawatan karena mencerminkan mutu pelayanan rumah sakit. Rendahnya pengetahuan dan kepatuhan perawat menjadi penyebab utama phlebitis, sehingga upaya peningkatan pemahaman dan kepatuhan perawat dalam manajemen kateter intravena perifer menjadi sangat penting. Mengetahui pengaruh penerapan Bundle Know terhadap pengetahuan dan  kepatuhan perawat dalammencegah phlebitis. kuasi-eksperimental pretest-posttest with control group pada 99 perawat. Kelompok intervensi (n=50) mendapat pelatihan Bundle Know (modul dan workshop) dengan 4 komponen: Keep it Clean, Need for Device, Observe and Secure, Work Together. Kelompok kontrol (n=49) hanya menerima sosialisasi bundle IM standar.Instrumen: kuesioner pengetahuan dan lembar observasi kepatuhan. Uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan median pengetahuan kelompok intervensi dari 24 ke 26 (p=0,000), kontrol dari 23 ke 24 (p=0,000). Uji Friedman pada kelompok intervensi: kepatuhan meningkat dari median 9 ke 13 (mean rank 1,21 ke 4,10; χ²=159,85; p=0,000). Pada kontrol: meningkat dari 8 ke 10 (mean rank 1,82 ke 3,93; χ²=79,63; p=0,000). Uji Mann-Whitney: pengetahuan intervensi (median=2; IQR=2,25; mean rank=59,29) signifikan lebih tinggi dari kontrol (p=0,001). Kepatuhan juga lebih tinggi (median=30,8 dibandingkan dengan 20,0;p=0,000). Penerapan Bundle Know berpengaruh meningkatkanpengetahuan dan kepatuhan perawat dalam mencegah phlebitis. Kata Kunci: Bundle Know, Phlebitis, Pengetahuan, Kepatuhan Perawat.