Claim Missing Document
Check
Articles

Biologi Diachasmimmorpha longicaudata (Ashmead) (Hymenoptera : Braconidae) Parasitoid Larva Lalat Buah Achmad Nasroh Kuswadi; Toto Himawan; Asep Ruhiyat Suherlan
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 13, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.11809

Abstract

Biology of D. longicaudata, larval parasitoid of Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) fruit fly was studied in the laboratory. Observation on ten pairs of adults, each pair confined in a laboratory cage, provided with third instar larvae of B. carambolae as their host, showed that the wasps mated 6-14 days after they emerged. They mated 2-5 times in their life time. Female wasps laid eggs until 18 days old, 1-6 eggs per day, with the average number of 58 eggs. Unmated female was able to lay viable eggs (parthenogenesis) that grew to male parasitoids (arrenotoky). The life cycle of D. longicaudata extended within 16 - 22 days. The eggs hatched 1-2 days after oviposition. Duration of the 1st, 2nd, 3rd and 4th instar larvae and the pupal stage were 1-2 days, 2-3 days, 3-4 days, 4-6 days and 4-5 days, respectively. First instar larvae was an active life stage, living in the third instar larvae of the host, while the following 2nd - 4th instar were inactive, living in the upae of the host. Adult parasitoid emerged from the puparium of host. In general, male wasp emerged 2-5 days earlier than the female.
Pengaruh PGPR terhadap Penekanan Populasi Nematoda Puru Akar (Meloidogyne incognita (Kofoid and White) Chitwood) pada Tanaman Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Kristiana Sri Wijayanti; Bambang Tri Rahardjo; Toto Himawan
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.357 KB) | DOI: 10.21082/bultas.v8n1.2016.30-39

Abstract

Tanaman kenaf yang terinfeksi nematoda Meloidogyne incognita  dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan produksi serat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dalam menekan populasi nematoda M. incognita pada tanaman kenaf di rumah kaca. Penelitian dirancang dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, faktor pertama adalah cara aplikasi PGPR yang terdiri atas 2 cara yaitu suspensi PGPR diberikan sebelum tanam dengan merendam benih selama 5 jam (C1), benih ditanam langsung dalam pot tanpa direndam dalam PGPR (C2), dan suspensi PGPR diberikan pada 15 hari setelah tanam (HST) dan 25 HST. Faktor kedua adalah jenis PGPR yang digunakan yaitu Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, Azotobacter sp., P. fluorescens + B. subtilis, P. fluorescens + Azotobacter sp., B. subtilis + Azotobacter sp., dan P. fluorescens + B. subtilis + Azotobacter sp., serta kontrol (tanpa PGPR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman benih dengan kombinasi tiga bakteri memberikan pengaruh yang nyata terhadap populasi juvenil nematoda dalam tanah, sedangkan perlakuan tanpa perendaman tidak memberikan pengaruh. Populasi juvenil nematoda di dalam akar yang diberi PGPR baik tunggal maupun kombinasi melalui perendaman benih atau tanpa perendaman benih tidak berpengaruh, kecuali pada kombinasi P. fluorescens dan B. subtilis yang diberikan melalui perendaman benih mampu menekan populasi juvenil nematoda di akar 43,28% bila dibandingkan tanpa perendaman benih. Pemberian rizobakteri P. fluorescens  menurunkan jumlah telur nematoda terbanyak (86,39%) dan menekan intensitas penyakit sebesar 71,95% bila dibandingkan kontrol.Infection of Meloidogyne incognita on kenaf could affect its growth and the production of fiber. This study aimed to evaluate the effect of PGPR on the reduction of nematode M. incognita population on kenaf in the greenhouse. The factorial experiment was laid on randomized block design. The study consisted of two factors with three replicates . The first factor was method of PGPR application, ie: PGPR suspension was given before planting (kenaf seeds was soaked for 5 hours) (C1) and the seeds directly planted without submerged (C2), PGPR suspension was given at 15 days after planting (DAP) and 25 dap. The second factor was type of bacteria (Pseudomonas  fluorescens,  Bacillus  subtilis,  Azotobacter  sp.,  P.  fluorescens + B. subtilis, P. fluorescens + Azotobacter  sp., B. subtilis + Azotobacter  sp.,  and  P.  fluorescens  +  B. subtilis   + Azotobacter  sp.) and control. The results showed that submerged seed with the three bacterial rhizobacteria significant compared to the control treatment and single treatment and two combination rhizobacteria, while without submerged seed with single or combination rhizobacteria not significant on the population of juvenile nematodes in the soil. Combination of P. fluorescens and B. subtiliswith submerged seed capable of suppressing the population of  juvenile  nematodes  in the  roots  of 43.28%  when  compared with or without submerged seed.   Population  of  juvenile  nematodes  in the  roots by submerged seed and without submerged seed either single or combination rhizobacteria do not affect each other. P. fluorescens suppress nematode eggs are highest 86.39% and disease intensity by 71,95% where compared to control.
Potensi Ekstrak Piper methysticum (Piperaceae) sebagai Insektisida Botani untuk Pengendalian Hama Plutella xylostella Martina S Lestari; Toto Himawan; Rurini Retnowati
Sains dan Matematika Vol. 3 No. 1 (2014): Oktober, Sains & Matematika
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak negatif yang disebabkan oleh insektisida sintetik, menjadikan insektisida botani sebagai alternatif dalam pengendalian hama tanaman. Piper methysticum merupakan tanaman obat yang berasal dari Papua yang mempunyai potensi sebagai insektisida botani. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas ekstrak n-hexane dan etil asetat P. methysticum sebagai insektisida, hambatan makan atau antifeedant dan penghambatan berat larva P. xylostella. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan beberapa perlakuan konsentrasi ekstrak n-hexane dan etil asetat P. methysticum, yaitu konsentrasi 250, 500, 1000, 2000, 3000, 3500, dan 4000 ppm. Pengujian menggunakan metode celup pakan, setiap perlakuan menggunakan 20 larva dan diulang empat kali. Data yang diperoleh adalah mortalitas larva, jumlah pakan yang dimakan dan pertambahan berat larva P. xylostella dari intar II sampai menjadi pupa. Data dianalisis menggunakan analisis varians dengan uji lanjut jarak berganda Duncan. Nilai LC50 ditentukan dengan analisis probit menggunakan program POLO PC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun P. methysticum mempunyai sifat insektisida, antifeedant dan penghambat berat larva P. xylostella. Ekstrak n-hexane daun P. methysticum memperlihatkan aktivitas insektisida yang paling kuat dengan tingkat mortalitas 63,33% dengan LC50 4,047 ppm, konsentrasi 0,015-0,38% menyebabkan hambatan makan 11,69- 85,54% dan hambatan berat larva 34,75-81,88%. The negative impact caused by synthetic insecticides, encorages the use of botanical insecticides as an alternative in the control of plant pests. Piper methysticum is a native medicinal plant of Papua which has potential as a botanical insecticide. This study aimed to extract the activity of n-hexane and ethyl acetate P. methysticum as insecticides, barriers eat or antifeedant and severe inhibition of P. xylostella larvae. Research was carried out using completely randomized design with multiple treatment concentration of n-hexane extract and ethyl acetate P. methysticum is a concentration of 250, 500, 1000, 2000, 3000, 3500 and 4000 ppm. Tests using food dye method, each using 20 larvae and the treatment was repeated four times. The data obtained was mortality of larvae, the amount of eaten feed and the gained weight of instar II larvae of P. xylostella to become pupae. Data were analyzed using analysis of variance with multiple range test Duncant further. LC50 values determined by probit your analysis using the program POLO PC. The results showed that the leaf extract of P. methysticum have insecticidal properties, antifeedant and inhibitors of P. xylostella larval weight. N-hexane extract of leaves of P. methysticum showed that the most potent insecticidal activity with a mortality rate of 63.33% with LC50 4,047 ppm, the concentration of 0.015 to 0.38% lead barriers and obstacles to eat from 11.69 to 85.54% weight of larvae 34, 75 to 81.88%.
PENGGUNAAN TONGKOL JAGUNG DAN PEPAYA SEBAGAI BAHAN DASAR PAKAN BUATAN BAGI PERKEMBANGAN LARVA Lalat Buah Bactrocera carambolae Drew dan Hancock (Diptera: Tephritidae) Sri Heriza; Toto Himawan; Hagus Tarno
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research was conducted with preservation method in the plentiful number(rearing) in the Pest Laboratory, Plant Protection Department, Faculty ofAgriculture, University of Brawijaya. This research objective to get informationabout the use of corncob and papaya as basic material for larvae development.Design that was used in this research was complete randomized design with threerepeatition. This research used used five treatments that was food compositionwith wheat bran as control, corncob, corncob+coconut oil, papaya andpapaya+bread yeast. The result showed that corncob and papaya could be used asbasic material of artificial food for larvae of fruit fly development.Keywords: Corncob and papaya, artificial food, Bactrocera carambolae
IDENTIFIKASI ARTHROPODA HAMA DAN MUSUH ALAMI PADA GUDANG BERAS PERUM BULOG DAN GUDANG GABAH MITRA KERJA DI KABUPATEN JEMBER Roza Anugraha Wiranata; Toto Himawan; Ludji Pantja Astuti
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis research in order to identified pest Arthropods and natural enemies on Perum Bulog rice warehouse and Mitra Kerja rough rice warehouse in Jember Regency. The research was conducted in July 2011 to August 2011. Data collection using direct survey method by deriving rice and rough rice sampling on stapel, placement of traps in the rice and rough rice warehouse, and deriving scattered sample in the rice and rough rice warehouse. Arthropods that found then identified and counted the population in Pest Laboratory, Department of Pest and Plant Disease, Faculty of Agriculture, Brawijaya University, Malang. The results showed that in the rice warehouse found 17993 individual Arthropods thatincludes 2 classes, 8 orders, 13 families, and 16 species. At the rough ricewarehouse found 1170 individual Arthropods that includes 2 classes, 8 orders, 16 families, and 22 species.Keywords: Perum Bulog, Pest of Stored Products, UV Light Trap, Yellow StickyTrap
PENGARUH BEBERAPA AROMA BUAH TERHADAP PREFERENSI OVIPOSISI Bactrocera carambolae DREW DAN HANCOCK (DIPTERA: TEPHRITIDAE) Toto Himawan; P Wijayanto; S. Karindah
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui aroma buah yang disukai lalatbuah Bactrocera carambolae yang telah disediakan pada tempat peneluran dilaboratorium. Aroma yang dicoba adalah berasal dari jus buah mangga, jeruk,jambu biji, belimbing, dan apel. Pada tempat peneluran yang telah diberi aromabuah yang disukai diharapkan lalat buah bertelur lebih banyak daripada tempatpeneluran yang tidak diberi aroma buah atau kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa betina B. carambolae lebih banyak bertelur pada tempat peneluran dengan aroma buah jambu biji diikuti pada tempat peneluran dengan aroma buah jeruk, belimbing, mangga, dan apel. Jumlah telur yang diletakkan pada tempat peneluran dengan aroma jambu biji adalah 16437 butir, dengan aroma jeruk 12082 butir, dengan aroma belimbing 8516 butir, dengan aroma mangga 6626 butir, dengan aroma apel 5063 butir, dan pada tempat peneluran tanpa aroma buah adalah 5179 butir.. Namun aroma buah pada tempat peneluran tidak berpengaruh nyata terhadap lama masa bertelur lalat buahdi laboratorium, yaitu selama 25-29 hari.Kata kunci: Bactrocera carambolae,, preferensi oviposisi, aroma buah
PENGHAMBATAN REPRODUKSI Rhyzopertha dominica F. (COLEOPTERA: BOSTRICHIDAE) MENGGUNAKAN FUMIGAN TABLET BERBASIS MINYAK MIMBA Richa Ratih Damayanti; Toto Himawan; Ludji Pantja Astuti
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 1 No. 3 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama, Jurusan Hama dan PenyakitTumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, mulai bulan Juni 2010 sampai Desember 2010. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan yaitu mimba, kampher, menthol, mimba + kampher, mimba + menthol dan kontrol. Variabel pengamatan meliputi penghambatan reproduksi dan mortalitas R. dominica. Data pengamatan dianalisis menggunakan ANOVA dengan taraf kepercayaan 5%, dan apabila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji DMRT untuk melihat perbedaan antar perlakuan. Untuk menentukan Median Lethal Time (LT50) dari perlakuan fumigant tablet berbasis minyak mimba digunakan analisis probitmenurut Hsin Chi. Hasil penelitian ini menunjukan :1) Fumigant tablet berbasis minyak mimba dapat menghambat reproduksi R. dominica ditunjukkan dengan tingkat penghambatan reproduksi dan jumlah telur yang dihasilkan. 2) Fumigant tablet berbasis minyak mimba dapat menyebabkan mortalitas R. dominica. 3) Laju peningkatan mortalitas imago R. dominica pada perlakuan mimba + kampher merupakan yang tertinggi diantara perlakuan yang lain. 4) Perlakuan mimba + kampher memiliki nilai LT50 terendah dibanding dengan perlakuan yang lain yaitu 75,4 jam. Hal ini menunjukkan bahwa toksisitas pada perlakuan mimba + kampher merupakan yang tertinggi karena waktu yang dibutuhkan untuk menyebabkan kematian adalah yang tercepat dibanding dengan perlakuan yang lain.Kata kunci : Rhyzopertha dominica, Penghambatan Reproduksi, Mimba
PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionidae) PADA BEBERAPA JENIS BERAS DENGAN TINGKAT KELEMBABAN LINGKUNGAN YANG BERBEDA Adne Yudansha; Toto Himawan; Ludji Pantja Astuti
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 1 No. 4 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pakan dan tingkat kelembaban lingkungan terhadap perkembangan dan pertumbuhan S. oryzae. Penelitian dilaksanakan dengan mengamati interaksi antara jenis pakan dan tingkat kelembaban lingkungan terhadap perkembangan dan pertumbuhan S. oryzae . Pengamatan penelitian meliputi perubahan kadar air beras, umur dan bobot setiap fase hidup serta jumlah dan panjang imago baru yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan pada ruang penyimpanan 80 % didapati kadar air beras mencapai 18,76 %, selanjutnya pada ruang penyimpanan 70 % dan 60 %  kadar air beras masing-masing mencapai14,46 % dan 14,22 %. Persentase tetas telur S. oryzae tidak dipengaruhi oleh interaksi antara jenis beras dan tingkat kelembaban lingkungan. Pertumbuhan larva, pupa dan imago dipengaruhi oleh interaksi antara jenis beras dan tingkat kelembaban ruang penyimpanan. Pada perlakuan Ketan Hitam;Kelembaban 80 % menunjukkan bobot larva, pupa dan imago yang lebih berat. Panjang tubuh imago baru S. oryzae dipengaruhi oleh interaksi antara jenis beras dan tingkat kelembaban lingkungan.. Umur fase hidup dan waktu perkembangan S. oryzae dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan. Jumlah imago baru yang muncul dalam satu kali waktu perkembangan hanya dipengaruhi oleh jenis beras yang digunakan. Kata Kunci: Beras,  Kadar air, Sitophilus oryzae
Identifikasi Ngengat Genus Lymantria (Lepidoptera: Erebidae) di Indonesia Berdasarkan Karakter Morfologi dan Genitalia Avi Damayanthi; Sri Karindah; Sutrisno Sutrisno; Toto Himawan
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 1 No. 4 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKGenus Lymantria Hübner (1819), yang merupakan anggota Famili Erebidae danSubfamili Lymantriinae (Zahiri et al., 2012), adalah hama yang paling merusak hutan di dunia. Peledakan spesies L. dispar, L. monacha, L. beatrix pernah terjadi di beberapa negara termasuk Indonesia. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi koleksi spesimen tersebut dan mengetahui persebaran tiap spesies sehingga dapat diteliti lebih lanjut mengenai biologinya. Cara untuk mengidentifikasi spesies dalam genus Lymantria adalah dengan mengamati karakter sayap dan genitalia khususnya pada ngengat jantan. Penelitian ini dilaksanakan mulai 1 Februari – 20 Maret 2012 di Laboratorium Entomologi, Pusat Pengembangan dan Penelitian Biologi Bidang Zoologi LIPI, Cibinong. Proses identifikasi yang dilakukan meliputi kegiatan pengambilan sampel, pengambilan dan pelunakan abdomen, pembuatan preparat genitalia jantan serta identifikasi dan pelabelan.  Berdasarkan karakter sayap dan genitalia terdapat 26 spesies Lymatria yang telah teridentifikasi yakni L. narindra, L. lepcha, L. brunneiplaga, L. ganara, L. singapura, L. beatrix, Lymantria novaeguinensis, L. lunata, L. rhabdota, L. inordinata, L. praetermissa, L. marginalis, L. minor, L. toxopeusi, L. syntropha, L. capnodes, L. ninayi, L. asoetria, L. alexandrae, L. pelospila, Lymantria microstrigata, Lymantria temburong, Lymantria sp. A, Lymantria sp. 5, Lymantria sp. 7, dan Lymantria sp. 10.Kata Kunci: Lymantria, Karakter Sayap, Karakter Genitalia
Identifikasi Beberapa Jenis Ngengat Jantan Genus Arctornis Lepidoptera: Noctuoidea) di Indonesia Berdasarkan Karakter Morfologi dan Genitalia Eko Wahyu Budi Darmawan; Toto Himawan; Hagus Tarno; Hari Sutrisno
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 1 No. 4 (2013)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLymantriinae  meliputi  lima  tribe  utama  yakni  Arctornithini, Lymantriini, Leucomini,  Nygmiini dan Orgyiini.  Terdapat  2900  spesies  dalam 360  genus  ngengat yang  tergabung  dalam  sub  family  Lymantriinae.  Salah satu  cara  untuk membedakan berbagai  spesies  dalam  genus  Arctornis perlu dilakukan  pembandingan  genetalia khususnya  pada  ngengat  jantan. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui keanekaragaman spesies dan tingkat kekerabatan ngengat jantan dari genus Arctornis di Indonesia berdasarkan karakteristik morfologi dan genitalia. Penelitian ini dilaksanakan mulai  2April  sampai  dengan  25  Mei  2012  di  Laboratorium Entomologi, Pusat Pengembangan  dan  Penelitian  Biologi  Bidang  Zoologi LIPI,  Cibinong.  Proses identifikasi  yang  dilakukan meliputi  kegiatan pengambilan  sampel,  pengambilan  dan pelunakan  abdomen,  pembuatan preparat  genitalia jantan serta identifikasi  dan pelabelan. Berdasarkan karakter  morfologi dan genetalia  terdapat beberapa spesies Arctornis  yang telah  teridentifikasi  yakni A.  brunnescens, A. flavescens, A. galene, A. isabella, A. lumulosa, A. nr. mallephrika, A. malleuncus, A. meridionalis, A. micacea, A. perfecta, A. phasmatodes, A. phrika, A. nr. phrika, A. nr. poecilonipha, A. riguata, A. rutila, A. sclerotuncus, A. secula, A. nr. semihyalina, A. singaporensis, dan A. virgamicruncus. Selain itu ditemukan 6 spesies yang belum teridentifikasi antara  lain: Arctornis sp. 0061, A. sp. 0066, A. sp. 0067, A. sp. 0072, A. sp. 0082, dan A. sp. 0083. Tingkat kedekatan terbanyak berdasarkan karakter morfologi  adalah spesies A. secula dengan A. nr.mallephrika. Sedangkan berdasarkan karakter genitalia jantan yang memiliki  tingkat kedekatan terbanyak adalah  spesies A. nr. mallephrika, A. phrika dan A. nr. poecilonipha, begitu juga pada spesies Arctornis sp. 0082 dengan A. sp. 0083.Kata Kunci: kedekatan, karaktermorfologi, karakter genitalia, Arctornis
Co-Authors Achmad Nasroh Kuswadi Adne Yudansha Adne Yudansha Agus Suryanto Aji Santoso Akhmad Rizali Alorisa Tirta Ardiyati Aminuddin Affandi Aminudin Afandhi Andy Andy Arif Budi Prasetya Asep Ruhiyat Suherlan Avi Damayanthi Avi Damayanthi Bambang Tri Rahardjo Bambang Tri Raharjo BANDUNG SAHARI Choirul Mahdianto Damaiyanti, D.R.R. Dani Muara Histo Dewi Fajarwati Dewi Fajarwati Dhuha, Moh. Syamsu Edi Priyo Utomo Eko Wahyu Budi Darmawan Eko Wahyu Budi Darmawan Emha Dwi Rifqi Rafid Fadhila Herdatiarni Fery Abdul Choliq Fitriani, Ima Gatot Mudjiono Gatot Mudjiono Hagus Tarno Hari Sutrisno Hari Sutrisno Hasan Suprapto Hudiwaku, Syarron Irmawati Irmawati Isnainy Dinul Mursyalati Yus Isnainy Dinul Mursyalati Yus Kolopaking, Budiarto Kristiana Sri Wijayanti Lestari, Martina S Lindia Rahayu Widia Santi Ludji Pantja Astuti Ludji Pantja Astuti Ludji Pantja Astuti Ludji Pantja Astuti Ludji Pantja Astuti Luqman Qurata Aini Maria Ulfa Martina S Lestari Ma’arif, Ridwan Ahmad Melani, Dewi Mochammad Syamsul Hadi Muhamad Ari Bachtiar Muhamad Luthfie Tri Meiadi Nadiah, Annisrien Nely Yuliastanti Nindya Resha Pramesti Nindya Resha Pramesti Novi Dian Nathasia Novita Yuniasari Nur Hayati Octavia, Evy P Wijayanto P Wijayanto Primastya Dinarwika Primastya Dinarwika Putra, Heri Julistiyan Bima Retno Dyah Puspitarini Richa Ratih Damayanti Richa Ratih Damayanti Rina Rachmawati Rina Rachmawati Rizcki Nugraha Laksana Roza Anugraha Wiranata Roza Anugraha Wiranata Rurini Retnowati S. Karindah S. Karindah Saputra, Tri Ichsan Septi Mauludiana Silvi Ikawati Silvi Ikawati, Silvi Sitawati Sitawati Sri Heriza Sri Heriza Sri Karindah Sri Karindah Sri Karindah Subarjah, Cecep Sulistiyono Sulistiyono Sutrisno Sutrisno Sutrisno, Sutrisno Syarron Hudiwaku V. S Reychel Yogo Setiawan Yuliastanti, Nely Yuniasari, Novita