Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI MORFOLOGI Phyllotreta spp. (Coleoptera: Chrysomelidae) PADA TANAMAN SAYURAN DI TRAWAS, MOJOKERTO Primastya Dinarwika; Toto Himawan; Hagus Tarno
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 2 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Phyllotreta spp. dilaporkan sebagai bagian dari “flea beetles” yang memiliki nilai ekonomi paling penting untuk tanaman sayuran termasuk Crucifare. Terdapat banyak jenis Phyllotreta yang menyerang pada tanaman sayuran antara lain P. cruciferae Goeze., P. vittula Redtb., P. undulata Kutsch., P. nigripes Fabr., P. nodicornis Marsh., P. balcanica Heikert., P. atra Fabr., P. procera Redtb., P. ochripes Curt., dan P. diademata Foudb. Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis Phyllotreta yang ada pada pertanaman sayuran di Trawas, Mojokerto berdasarkan karakter morfologi. Berdasarkan hasil identifikasi morfologi ini diketahui bahwa terdapat 4 spesies jenis Phyllotreta. Jenis-jenis Phyllotreta yang ditemukan adalah Phyllotreta striolata, P. chotanica, dan dua jenis yang lain belum teridentifikasi (Phyllotreta A, dan Phyllotreta B).   Kata Kunci : Identifikasi, karakter morfologi, Phyllotreta spp., tanaman sayuran.
PENGARUH APLIKASI BAKTERI Pseudomonas fluorescens DAN Bacillus subtilis TERHADAP MORTALITAS NEMATODA PURU AKAR (Meloidogyne javanica) DI LABORATORIUM Isnainy Dinul Mursyalati Yus; Bambang Tri Rahardjo; Toto Himawan
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 2 No. 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Nematoda puru akar (Meloidogyne sp.) merupakan salah satu penyakit penting pada berbagai tanaman berekonomi tinggi.Serangan nematoda puru akar menyebabkan kerusakan secarakualitatif maupun kuantitatif.Pemanfaatan musuh alami nematoda yang berasal dari kelompok jamur dan bakteri dapat digunakan sebagai agen hayati.Penelitian ini dilaksanakan di Sub Laboratorium Nematologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri Pseudomonas fluorescens (UB_Pf1)dan Bacillus subtilis (UB_Bs1) dalam menyebabkan mortalitas juvenil II nematoda puru akar (Meloidogyne sp.), dan pengaruh kerapatan koloni bakteri P. fluorescens (UB_Pf1)dan B. subtilis (UB_Bs1) dalam menyebabkan mortalitas juvenil II nematoda puru akar (Meloidogyne sp.).Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi isolat bakteri P. fluorescens (UB_Pf1)dan B. subtilis (UB_Bs1) mampu menyebabkan mortalitas juvenil II nematoda puru akar (M. javanica). Selain itu, pengaruh 3 taraf kerapatan koloni bakteri P. fluorescens (UB_Pf1)dan B. subtilis (UB_Bs1) dapat mempengaruhi mortalitas juvenil II nematoda puru akar (M. javanica). Nilai LT50 tertinggi pada aplikasi bakteri P. fluorescens dan B. subtilis kerapatan koloni 1011 cfu/ml, yaitu 32,99 jam untuk bakteri P. fluorescens dan 56,78 jam untuk B. subtilis.   Kata kunci: Nematoda puru akar, P. fluorescens, B. subtilis, mortalitas
PENGARUH PENGKAYAAN MEDIA DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP KERAPATAN DAN VIABILITAS KONIDIA JAMUR PATOGEN SERANGGA BEAUVERIA BASSIANA (BALSAMO) VUILLEMIN (HYPOCREALES : CORDYCIPITACEAE) Nindya Resha Pramesti; Toto Himawan; Rina Rachmawati
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 2 No. 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Salah satu jenis jamur patogen serangga yang banyak diteliti dan memiliki potensi sebagai pengendali hayati adalah Beauveria bassiana (Bals.)Vuill. Dalam proses perbanyakan secara in vitro seringkali terjadi penurunan kualitas dan virulensi yang disebabkan oleh berkurangnya sumber nutrisi pada media dan beberapa faktor lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengkayaan media menggunakan tepung jangkrik dalam berbagai suhu penyimpanan terhadap kerapatan dan viabilitas konidia jamur patogen serangga B. bassiana selama delapan minggu. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan pengkayaan media yang memberikan hasil terbaik terhadap kerapatan konidia adalah perlakuan konsentrasi tepung 0,5% sedangkan perlakuan suhu adalah ±24oC. Sedangkan ienteraksi antara kedua faktor tidak berpengaruh nyata terhadap kerapatan konidia.Perlakuan terbaik untuk viabilitas konidia adalah perlakuan konsentrasi tepung jangkrik 0,5%  dan konsentrasi tepung jangkrik 1% pada suhu ±24oC. Seiring dengan bertambahnya umur simpan, terjadi penurunan persentase viabilitas yang dapat disebabkan oleh tingginya kadar air selama penyimpanan, kerusakan bahan pembawa, dan munculnya konidia baru. Hasil persentase viabilitas konidia B. bassiana selama kedelapan minggu menjadi informasi bahwa pengkayaan media EKD dengan menggunakan penambahan tepung jangkrik pada berbagai perlakuan suhu penyimpanan belum dapat mempertahankan viabilitas konidia B. bassiana. Kata kunci: Tepung jangkrik, lama penyimpanan, kualitas jamur patogen serangg
Kepekaan Beberapa Varietas Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) terhadap Hama Cylas formicarius Fabricius (Coleoptera: Curculionidae) Septi Mauludiana; Ludji Pantja Astuti; Toto Himawan
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kumbang Cylas formicarius Fabricius (Coleoptera: Curculionidae) merupakan hama utama pada ubi jalar (Ipomoea batatas (L.)Lam.). Kerusakan serius umumnya terjadi selama umbi dalam masa penyimpanan (Kalshoven, 1981).Oleh karena itu, pengujian kepekaan terhadap varietas ubi jalar perlu dilakukan sebagai acuan untuk menentukan cara penyimpanan ubi jalar yang akan dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepekaan ubi jalar varietas Ayamurasaki, Beni Azuma, Beta 2, Bis Op-4, Sari dan Sawentar terhadap hamaC. formicarius di tempat penyimpanan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dewasa C. formicarius memiliki preferensi makan dan preferensi oviposisi sama pada keenam varietas ubi jalar.Selain itu, nilai indeks kepekaan juga menunjukkan bahwa semua varietas ubi jalar yang diuji agak peka terhadap seranganC. formicarius di tempat penyimpanan. Kata kunci: Cylas formicarius, varietas ubi jalar, indeks kepekaan
UJI REPELENSI DARI EKSTRAK DAUN JERUK PURUT (Cytrus hystrix) TERHADAP HAMA BERAS Sitophilus oryzae Linnaeus (Coleoptera: Curculionidae) Dewi Fajarwati; Toto Himawan; Ludji Pantja Astuti
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Sitophilus oryzae merupakan serangga hama penyebab kerusakan pada beras dalam gudang. Pengendalian hama tersebut biasa dilakukan dengan menggunakan insektisida kimia sintetik. Penggunaan insektisida sintetik sering meninggalkan residu, sehingga diperlukan insektisida nabati yang tidak meninggalkan residu. Ekstrak daun jeruk purut merupakan salah satu alternatif pengganti penggunaan insektisida sintetik. Sitronelal dalam ekstrak daun jeruk purut dapat menolak kehadiran serangga. Penelitian dilakukan dilaboratorium Hama, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Universitas Brawijaya Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun jeruk purut dengan konsentrasi 16 ml/g memiliki indeks repellent tertinggi dibandingkan konsentrasi 4 ml/g, 8 ml/g, dan 12 ml/g. Jumlah S. oryzae dewasa keturunan pertama pada konsentrasi 8 ml/g lebih sedikit dibanding dengan konsentrasi 2 ml/g, 4 ml/g, dan 6 ml/g. Kata Kunci: Sitophilus oryzae, Minyak atsiri, Cytrus hystrix, repellent.
Uji Patogenisitas Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin pada Jangkrik (Gryllus sp.) (Orthoptera: Gryllidae) Alorisa Tirta Ardiyati; Gatot Mudjiono; Toto Himawan
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 3 No. 3 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Jangkrik (Gryllus sp.) merupakan serangga omnivora, serangannya dapat mencapai 83% pada lahan cabai dalam semalam. Pengendalian jangkrik masih relatif sulit. Pada umumnya pengendalian jangkrik dilakukan dengan menyemprotkan insektisida sintetis. Penggunaan insektisida sintetis ini dapat berdampak negatif pada lingkungan maupun organisme lain. Maka perlu adanya alternatif pengendalian yang ramah lingkungan, salah satunya dengan jamur yang bersifat pathogen terhadap serangga yaitu B. bassiana. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan sub Laboratorium Pengembangan Agens Hayati Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada metode umpan pakan jamur B. bassiana patogenik terhadap Gryllus sp. Konsentrasi efektif (LC50) jamur B. bassiana yang dapat menyebabkan mortalitas 50% Gryllus sp. adalah 7,1 x 106 konidia/ml dengan waktu mematikan (LT50) Gryllus sp. mencapai 50%  pada 3,1 hari. Pada metode kontak langsung jamur B. bassiana patogenik terhadap Gryllus sp. Konsentrasi efektif (LC50) jamur B. bassiana yang dapat menyebabkan mortalitas 50% Gryllus sp. adalah 6,2 x 108 konidia/ml dengan waktu mematikan (LT50) Gryllus sp. mencapai 50%  pada 4,3 hari.   Kata Kunci: Patogenisitas, Beauveria bassiana, Gryllus sp.
KETERTARIKAN PARASITOID Diadegma semiclausum Hellen (HYMENOPTERA: ICHNEUMONIDAE) PADA TANAMAN SAWI DENGAN BERBAGAI PELUKAAN Choirul Mahdianto; Sri Karindah; Toto Himawan
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diadegma semiclausum Hellen (Hymenoptera: Ichneumonidae) adalah salah satu musuh alami Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Plutellidae). D. semiclausum dilaporkan memberikan respon yang berbeda pada senyawa volatil tanaman Brassicaceae tergantung dari penyebab dikeluarkanya senyawa volatil tersebut. D. semiclausum lebih tertarik pada keberadaan tanaman Brassicaceae dibanding yang tidak terdapat tanaman Brassicaceae, dan lebih tertarik pada tanaman Brassicaceae yang terserang P. xylostella dibandingkan tanaman Brassicaceae yang tidak terserang P. xylostella. D. semiclausum sebagai musuh alami dari P. xylostella diduga mampu membedakan senyawa volatil tanaman yang terserang hama dan yang dilakukan pelukaan mekanis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketertarikan D. semiclausum pada tanaman sawi terserang P. xylostella dibandingkan tanaman dengan pelukaan mekanis dan ketertarikan D. semiclausum pada tanaman yang mengalami pelukaan dibandingkan dengan yang tidak mengalami pelukaan. Penelitian ini dilakukan dengan menguji ketertarikan dari 50 jantan dan 50 betina D. semiclausum terhadap tanaman sawi terserang P. xylostella, tanaman sawi dengan pelukaan mekanis, tanaman sawi tanpa pelukaan, dan perlakuan tanpa tanaman sebagai kontrol. Pengujian menggunakan olfaktometer 4 lengan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa D. semiclausum jantan dan betina sama-sama tertarik pada volatil tanaman sawi. D. semiclausum diketahui lebih tertarik pada tanaman sawi yang terserang P. xylostella dibandingkan tanaman sawi dengan pelukaan mekanis dan lebih tertarik pada keberadaan tanaman sawi dibandingkan yang tidak terdapat tanaman sawi.
KOMBINASI JAMUR ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin DENGAN EKSTRAK DAUN PEPAYA UNTUK PENGENDALIAN Plutella xylostella Linnaeus (LEPIDOPTERA: PLUTELLIDAE) Rizcki Nugraha Laksana; Toto Himawan; Fery Abdul Choliq
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2022.010.2.2

Abstract

Ulat kubis Plutella xylostella L. merupakan salah satu hama yang bersifat oligofag yang menyerang tanaman dari jenis famili Cruciferae. Sehingga perlu dilakukan pengendalian yang tepat untuk menekan pertumbuhan hama P. xylostella. Tujuan penelitian ini yaitu melakukan kombinasi antara Beauveria bassiana dengan ekstrak daun pepaya pada konsentrasi sublethal untuk mengetahui kompatibilitas insektisida campuran dan meningkatkan efektifitas B. bassiana. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga Agustus 2021 di Laboratorium Toksikologi Pestisida, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas brawijaya, Malang. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan membandingkan efikasi B. bassiana dan ekstrak daun pepaya secara tunggal dengan metode umpan pakan. Setelah itu hasil tersebut di bandingkan dengan insektisida campuran. Lalu dilakukan pengamatan pertumbuhan koloni, produksi jamur, dan daya kecambah sebagai uji kompatibilitas untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun pepaya terhadap pertumbuhan jamur B. bassiana. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pemberian ekstrak daun pepaya berbanding terbalik dengan pertumbuhan jamur B. bassiana. Penambahan ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 10.000 hingga 40.000 ppm memiliki kategori kompatibilitas yang tidak toksik atau kompatibel. Hasil nisbah sinergisme yang didapatkan yaitu sebesar 1,87. Hal ini menunjukan bahwa kombinasi B. bassiana dengan ekstrak daun pepaya mampu meningkatkan efikasi 1,87 kali lipat dibandingkan aplikasi B. bassiana secara tunggal.
UJI DAYA RACUN EKSTRAK DAUN BINTARO (Cerbera odollam Gaertn.) TERHADAP MORTALITAS KUTUDAUN (Aphis gossypii Glover) (HEMIPTERA: APHIDIDAE) PADA TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annum L.) Lindia Rahayu Widia Santi; Toto Himawan; Silvi Ikawati
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 10 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2022.010.1.5

Abstract

Salah satu hama utama yang menyerang dengan intensitas tinggi pada tanaman cabai adalah kutudaun (Aphis gossypii Glover). Bentuk pengendalian hama ini yang sering dilakukan adalah dengan penggunaan insektisida sintetik. Penggunaan insektisida sintetik dapat menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, sehingga dibutuhkan bentuk alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian tersebut dapat menggunakan insektisida nabati. Penelitian ini menggunakan ekstrak daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn.), untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap kutudaun. Ekstrak daun bintaro (EDB) dapat digunakan untuk mengendalikan A. gossypii dengan nilai LC50 pada konsentrasi 2166,63 ppm dan LT50 pada 16,71 jam setelah aplikasi.
PENGARUH REFUGIA PADA KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA PREDATOR DI SAWAH PADI PHT DESA TEJOASRI, LAREN, LAMONGAN Sulistiyono Sulistiyono; Gatot Mudjiono; Toto Himawan
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2022.010.2.5

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan arthropoda predator, dan keanekaragaman arthropoda di sawah PHT dan blok refugia pada setiap fase pertumbuhan padi, serta untuk mengetahui pengaruh jarak blok refugia terhadap kelimpahan arthropoda predator di sawah PHT. Penelitian dilaksanakan di Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksplorasi dengan mengadakan pengamatan terhadap dua lokasi, yaitu sawah PHT dan blok refugia di salah satu sisi pematang sawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sawah ditemukan 40 spesies arthropoda predator yang terbagi kedalam 7 ordo dan 28 famili, sedangkan pada blok refugia ditemukan 29 spesies yang terbagi kedalam 6 ordo dan 18 famili. Pada saat fase vegetatif I, kelimpahan individu serangga predator di sawah lebih rendah dibandingkan pada blok refugia. Pada fase vegetatif II, generatif I, dan generatif II, kelimpahan individu serangga predator lebih tinggi dibandingkan pada blok refugia. Kelimpahan individu laba-laba di sawah pada tiap fase pertumbuhan padi lebih tinggi dibandingkan pada blok refugia. Nilai indeks keanekaragaman arthropoda di sawah dan blok refugia pada tiap fase pertumbuhan padi berkisar antara 2,0 hingga 2,7 yang tergolong keanekaragaman sedang. Pada jarak 6 m dari blok refugia, kelimpahan individu predator yang ditemukan di sawah lebih rendah dibandingkan pada jarak 12, 18, 24, 30, 36, 42 dan 48 m. Semakin dekat jarak dari blok refugia, kelimpahan individu predator yang ditemukan semakin rendah.
Co-Authors Achmad Nasroh Kuswadi Adne Yudansha Adne Yudansha Agus Suryanto Aji Santoso Akhmad Rizali Alorisa Tirta Ardiyati Aminuddin Affandi Aminudin Afandhi Andy Andy Arif Budi Prasetya Asep Ruhiyat Suherlan Avi Damayanthi Avi Damayanthi Bambang Tri Rahardjo Bambang Tri Raharjo BANDUNG SAHARI Choirul Mahdianto Damaiyanti, D.R.R. Dani Muara Histo Dewi Fajarwati Dewi Fajarwati Dhuha, Moh. Syamsu Edi Priyo Utomo Eko Wahyu Budi Darmawan Eko Wahyu Budi Darmawan Emha Dwi Rifqi Rafid Fadhila Herdatiarni Fery Abdul Choliq Fitriani, Ima Gatot Mudjiono Gatot Mudjiono Hagus Tarno Hari Sutrisno Hari Sutrisno Hasan Suprapto Hudiwaku, Syarron Irmawati Irmawati Isnainy Dinul Mursyalati Yus Isnainy Dinul Mursyalati Yus Kolopaking, Budiarto Kristiana Sri Wijayanti Lestari, Martina S Lindia Rahayu Widia Santi Ludji Pantja Astuti Ludji Pantja Astuti Ludji Pantja Astuti Ludji Pantja Astuti Ludji Pantja Astuti Luqman Qurata Aini Maria Ulfa Martina S Lestari Ma’arif, Ridwan Ahmad Melani, Dewi Mochammad Syamsul Hadi Muhamad Ari Bachtiar Muhamad Luthfie Tri Meiadi Nadiah, Annisrien Nely Yuliastanti Nindya Resha Pramesti Nindya Resha Pramesti Novi Dian Nathasia Novita Yuniasari Nur Hayati Octavia, Evy P Wijayanto P Wijayanto Primastya Dinarwika Primastya Dinarwika Putra, Heri Julistiyan Bima Retno Dyah Puspitarini Richa Ratih Damayanti Richa Ratih Damayanti Rina Rachmawati Rina Rachmawati Rizcki Nugraha Laksana Roza Anugraha Wiranata Roza Anugraha Wiranata Rurini Retnowati S. Karindah S. Karindah Saputra, Tri Ichsan Septi Mauludiana Silvi Ikawati Silvi Ikawati, Silvi Sitawati Sitawati Sri Heriza Sri Heriza Sri Karindah Sri Karindah Sri Karindah Subarjah, Cecep Sulistiyono Sulistiyono Sutrisno Sutrisno Sutrisno, Sutrisno Syarron Hudiwaku V. S Reychel Yogo Setiawan Yuliastanti, Nely Yuniasari, Novita