AbstrakBelum adanya jejak digital yang kuat serta terbatasnya aktivitas promosi sekolah secara daring menjadi permasalahan utama di SMK Kristen Surakarta. Program pengabdian ini dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan warga sekolah dalam mengelola situs web sebagai saluran informasi resmi yang kredibel guna memperkuat transparansi informasi bagi masyarakat. Kegiatan dilaksanakan melalui pelatihan langsung kepada 15 peserta yang terdiri dari 5 pendidik/tenaga kependidikan sebagai pengelola administrasi dan 10 peserta didik sebagai kontributor konten kreatif. Cakupan materi yang diberikan antara lain pembuatan konten positif, penerapan etika digital, serta optimalisasi fitur-fitur yang terdapat pada situs web sekolah. Proses evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest guna mengukur tingkat pemahaman etika digital, keamanan data, hak cipta, dan keterampilan pembuatan konten. Data hasil tes dianalisis menggunakan teknik komparatif deskriptif. Hasil menunjukkan adanya kenaikan nilai rata-rata dari 36,78 menjadi 40,44 dengan peningkatan tertinggi pada aspek pemahaman hak cipta (+18%). Selain itu, peserta menunjukkan sikap yang lebih positif terkait fungsi situs web sekolah, terutama dalam kemudahan memperoleh informasi dan mendukung proses penerimaan peserta didik baru. Secara keseluruhan, pelatihan ini memberikan dampak efektif dalam meningkatkan literasi digital dan citra sekolah secara daring. Keterbatasan program terletak pada waktu pelaksanaan yang relatif singkat sehingga disarankan adanya pelatihan lanjutan di masa mendatang. Kata kunci: branding sekolah; literasi digital; pelatihan; situs web; SMK Kristen Surakarta AbstractThe absence of a strong digital footprint and limited online promotional activities are the main challenges at SMK Kristen Surakarta. This community service program was conducted to improve the school community's ability to manage its website as a credible official information channel to strengthen information transparency for the public. The activity was carried out through direct training for 15 participants consisting of 5 teachers/staff as administrative managers and 10 students as creative content contributors. The material covered included creating positive content, applying digital ethics, and optimizing the school website's features. The evaluation process was conducted using pre-tests and post-tests to measure digital ethics, data security, copyright understanding, and content creation skills. The test data were analyzed using descriptive comparative techniques. The results showed an increase in the average score from 36.78 to 40.44, with the highest improvement in the copyright understanding aspect (+18%). In addition, participants showed a more positive attitude regarding the function of the school website, especially in the ease of obtaining information and supporting the new student admission process. Overall, this training effectively improved digital literacy and the school's online image. The limitation of the program is the relatively short implementation time; therefore, follow-up training is recommended in the future. Keywords: digital literacy; school branding; SMK Kristen Surakarta; training; situs web