Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH GAS ESTILEN MENGGUNAKAN PORTLAND COMPOSITE CEMENT (PCC) DAN HR WATER REDUCER LIGNO C 491 SEBAGAI PEMBUATAN BETON Hendrian Budi Bagus Kuncoro; Zulmahdi Darwis; Baehaki Baehaki; Rezka Mugri N.R
Jurnal Fondasi Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.483 KB) | DOI: 10.36055/jft.v7i2.4076

Abstract

Indonesia telah mengembangkan manajemen limbah modern dengan prinsip yaitu 6R ( Reuse, Reduce, Recycle, Replace, Refill, dan Repair ) salah satu sistem managemen limbah ditekankan terhadap Reuse ( pemanfaatan ulang ) dan Recycle ( daur ulang ) dimana dapat menjadi strategi yang tepat dalam pengelolaan limbah untuk menciptakan produk baru. Salah satu cara mendaur ulang limbah tersebut adalah dengan memanfaatkan limbah Gas estilen menjadi bahan tambahan pembuatan beton.Perencanaan beton dengan penambahan limbah karbit dan Ligno C 491, dengan variasi dosis 1,25% Ligno dan 10% , 1,5% Ligno dan 10% , 1,75% Ligno dan 10% , 2% Ligno dan 10% dan pada masing – masing dosis ditambahkan pula limbah karbit sebesar 10% dengan pertimbangan bahan tambah bersifat pozolan apakah mampu diaplikasikan terhadap pembuatan beton ? Jumlah benda uji sebanyak 48 buah, dengan variasi umur beton 3 hari, 7 hari, 14 hari dan 28 hari.Hasil penelitian ini menyatakan penambahan Ligno C 491 dan limbah karbit dapat mempengaruhi kemudahan pengerjaan beton dikarenakan memiliki sifat kecairan (fluidity) yang tinggi namun memilki kemampuan untuk menaikan kuat tekan beton sekitar 40 % hubungan penambahan limbah karbit terhadap pengurangan semen dan hasil pengujian beton sudah mampu untuk mengurangi kebutuhan semen sebagai bahan perekat terlihat dari hasil pengujian beton normal umur 28 hari 19,58MPa, rata-rata kuat tekan pada umur 28 hari untuk beton yang menggunakan dosis 1,25% Ligno dan 10% LBK sebesar 27,18 MPa, dosis 1,5% Ligno dan 10% LBK sebesar 24,76 MPa, dosis 1,75% Ligno dan 10% LBK sebesar 25,16 MPa, dosis 2% Ligno dan 10% LBK sebesar 23,22 MPa. Dari hasil uji tekan penambahan limbah karbit dan Ligno C 491 mampu untuk memenuhi kuat tekan beton normal yaitu antara 15 – 30 Mpa.
ANALISIS PERILAKU STRUKTUR PADA SISTEM GANDA APARTEMEN 9 LANTAI MENGGUNAKAN METODE TIME HISTORY ANALYSIS SESUAI PERATURAN SNI 1726:2012 Baehaki Baehaki; Soelarso Soelarso; Nurlaela Fitria
Jurnal Fondasi Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.958 KB) | DOI: 10.36055/jft.v7i1.3304

Abstract

Indonesia merupakan negara yang berada di wilayah jalur gempa pasifik dan jalur gempa asia sehingga sangat berpotensi mengalami gempa, karena itu Indonesia termasuk dalam jalur lingkaran api pasifik. Besarnya parameter gempa dan respon spektrum diatur dalam SNI 1726:2012 yang merupakan revisi dari SNI 1726:2002. Penelitian ini membahas tentang sistem ganda apartemen 9 lantai yang meliputi dinding geser dan tigaelemen struktur utama yaitu balok, kolom dan joint, menggunakan analisis riwayat waktu dengan 3 rekaman gempa yaitu El Centro, Northridge dan Friuli yang disetarakan dengan gempa di Serang dengan tanah keras dan dimodelkan pada program ETABS v.9.6. Hasil penelitian ini menunjukan struktur gedung apartemen 9 lantai memiliki jenis sistem ganda dengan rangka pemikul momen khusus. Analisis simpangan pada gedung apartemen 9 lantai untuk arah x dan y tidak melampaui batas ijin yang ditentukan dalam SNI 1726:2012, translasi tanpa mengalami torsi terjadi di mode 1 dan 2, dan Gaya geser dasar yang didapatkan sebesar 11443.5 kNm untuk time history dan 3466.62 kNm untuk statik ekuivalen
ANALISIS STRUKTUR BETON BERTULANG SRPMK TERHADAP BEBAN GEMPA STATIK DAN DINAMIK DENGAN PERATURAN SNI 1726 2012 Soelarso Soelarso; Baehaki Baehaki
Jurnal Fondasi Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.419 KB) | DOI: 10.36055/jft.v4i2.1231

Abstract

Gempa bumi merupakan getaran yang terjadi akibat pelepasan energi yang menciptakan gelombang seismik. Indonesia merupakan Negara yang rawan terhadap gempa bumi karena memiliki tiga lempeng tektonik yang besar. Besarnya parameter gempa dan respon spektrum diatur dalam SNI 1726 2012 yang merupakan revisi dari SNI 03 1726 2002.Penelitian ini membahas tentang perencanaan struktur beton bertulang SRPMK dengan bangunan 9 lantai pada lokasi gempa di Serang dengan tanah keras dimodelkan pada program ETABS v.9.6. Material yang digunakan beton bertulang dengan f’c 30 Mpa. Pembebanan yang ditinjau meliputi beban gravitasi (beban mati dan beban hidup) sesuai PPPURG 1987 dan beban horizontal (beban gempa dinamik respon spektrum dan statik ekivalen) sesuai SNI 1726 2012. Struktur bangunan dianalisis terhadap, simpangan, prilaku struktur, p-delta dan torsi.Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada dimensi kolom utama 550 mm x 550 mm balok utama 300 mm x 600 mm struktur gedung sudah mampu memikul beban gravitasi dan horizontal sesuai dengan faktor kenyamanan dan keamanan . Simpangan maksimum yang terjadi yaitu sebesar 26.4 mm (akibat respon spektrum) dan 25.85 mm (akibat statik ekivalen) tidak melewati batas simpangan yang diizinkan yaitu sebesar 67.31 mm, translasi tanpa mengalami torsi terjadi pada mode 1 dan 2, dan gaya geser dasar yang terjadi sebesar 1743.41 kN (akibat statik ekivalen) dan 1481.9 kN (akibat respon spektrum).
PERBANDINGAN SIMPANGAN HORIZONTAL PADA STRUKTUR GEDUNG DENGAN EFISIENSI ELEMEN STRUKTUR BALOK DAN KOLOM (Studi Kasus: Pembangunan Gedung Fakultas Hukum UNTIRTA Sindangsari) Baehaki Baehaki; Hendrian Budi Bagus Kuncoro; Intan Cahya Kumala
Jurnal Fondasi Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1303.689 KB) | DOI: 10.36055/jft.v7i2.4077

Abstract

Gedung Fakultas Hukum Untirta merupakan gedung baru yang bertempat di Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. Berdasarkan Detail Engineering Design (DED), gedung Fakultas Hukum di prediksi memiliki dimensi yang cukup besar, maka dilakukan efisiensi pada elemen struktur balok dan kolom sebesar 5% dan 10%. Pada perencanaan struktur khususnya struktur beton bertulang selain nilai efisiensi bangunan, struktur gedung harus di desain dengan mempertimbangkan pengaruh gempa terhadap gedung.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan perubahan simpangan hasil efisiensi elemen struktur balok dan kolom sebesar 5% dan 10% pada Gedung Fakultas Hukum UNTIRTA. Pembebanan yang ditinjau meliputi beban mati, beban hidup dan beban gempa (beban gempa dinamik respon spektrum dan statik ekivalen) sesuai SNI 1726 2012.Berat gedung pada perencanaan awal sebesar 59605,273 kN, sedangkan untuk efisiensi 5% (Wt,5%) 58407,046 kN dan berat gedung pada efisiensi 10% (Wt,10%) 57507,852 kN. Simpangan yang dihasilkan pada efisiensi 5% sebesar 35,88 kN, dengan presentasi perubahan 16,42 % dari perencanaan awal. Sedangkan efisiensi 10%, simpangan yang dihasilkan 47,02 mm dengan presentasi perubahan sebesar 52,56%. Gaya geser yang dihasilkan pada efisiensi 5% sebesar 3387 kN dan pada efisiensi 10% sebesar 31,05 kN. Persentase perubahan gaya geser pada efisiensi 5% terhadap perencanaan awal sebesar 5,77%. Efisiensi 10% mengasilkan persentase perubahan 12,24% dari perencanaan awal. Hubungan antara berat gedung dengan gaya geser, semakin ringan suatu gedung akan mengasilkan gaya geser yang lebih kecil, dan simpangan yang dihasilkan semakin besar.
PERILAKU KERUNTUHAN SAMBUNGAN TIPE PELAT TUNGGAL PADA SAMBUNGAN BALOK ANAK DENGAN BAUT Baehaki Baehaki; Akhmad Aminullah; Suprapto Siswosukarto
Jurnal Fondasi Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.923 KB) | DOI: 10.36055/jft.v4i2.1232

Abstract

Sambungan dengan tipe pelat tunggal, menempatkan pelat sambung saling overlapping dengan pelat badan balok sehingga sumbu pelat menjadi tidak segaris dengan sumbu balok. Kondisi tersebut menghasilkan eksentrisitas pada gaya-gaya yang akan dipindahkan. Adanya eksentrisitas pada sambungan tipe pelat tunggal dan kekakuan pelat tidak mencukupi maka pelat cenderung untuk memuntir, hal tersebut dapat mengurangi kapasitas sambungan pelat tunggal. Permasalahan yang dikaji pada penelitian ini yaitu, bagaimanakah perilaku keruntuhan dari sambungan tipe pelat tunggal pada sambungan balok anak dengan baut.Penelitian ini menyajikan hasil studi eksperimental yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus dapat menjelaskan dampak negatif dari penggunaan sambungan tipe pelat tunggal. Penelitian ini dengan 3 buah benda uji sambungan tipe pelat tunggal skala penuh yang dilakukan untuk menguji dampak dari dua parameter pengujian yaitu, eksentrisitas pada sambungan dan kekakuan dari pelat sambung.Dihasilkan dari semua hasil pengujian eksperimental, keruntuhan akhir dari semua benda uji adalah puntiran pada pelat (twisting).
Redesign Struktur Gedung Beton Bertulang Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Dengan Menggunakan Balok T (Studi kasus : Gedung Perkuliahan Fakultas Hukum) Baehaki Baehaki; Woelandari Fathonah; M. Mufti Ghiffari
Jurnal Fondasi Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jft.v8i2.6666

Abstract

Gedung Fakultas Hukum UNTIRTA merupakan gedung baru yang bertempat di Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. Berdasarkan Detail Engineering Design (DED) yang didapat dari UNTIRTA selaku owner, pembangunan gedung Fakultas Hukum UNTIRTA menggunakan perencanaan balok persegi, sehingga penulis mencoba merencanakan ulang gedung tersebut menggunakan  balok T agar lebih efisien dan efektif pada saat pengecoran.Penelitian ini membahas tentang perencanaan struktur beton bertulang SRPMK yang meliputi tiga elemen struktur utama yaitu balok T, kolom dan joint, dengan jumlah bangunan 5 lantai pada lokasi gempa di Sindangsari Kabupaten Serang Provinsi Banten. Pemodelan 3D di lakukan pada program ETABS v 9.7. Pembebanan meliputi beban gravitasi dan beban lateral sesuai dengan SNI 1726 2012. Struktur bangunan dianalisis berdasarkan nilai simpangan, prilaku struktur, p-delta dan torsi.Hasil penelitian ini menunjukan pada dimensi kolom utama 600 mm x 600 mm, balok T utama 300 mm x 700 mm dengan lebar efektif 2000 mm, struktur gedung sudah mampu memikul beban gravitasi dan beban lateral sesuai dengan SNI 1726 2012. Simpangan maksimum yang terjadi yaitu sebesar 50,66 mm (akibat respon spektrum) dan 45,87 mm (akibat statik ekivalen), translasi tanpa mengalami torsi terjadi pada mode 1 dan 2, dan gaya geser dasar yang terjadi sebesar 2641,22 kN (akibat statik ekivalen) dan 2239,34 kN (akibat respon spektrum).
Pengaruh Variasi Model Ketidakberaturan Vertikal pada Gedung Bertingkat Tinggi terhadap Respons Seismik dengan Analisis Respons Spektrum Reki Karunia; Baehaki Baehaki; Woelandari Fathonah
Jurnal Fondasi Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jft.v9i1.7588

Abstract

Indonesia secara geografis terletak di kawasan cincin api pasifik, sehingga berpotensi terhadap ancaman gempa. Data BMKG menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan dari 7000 kali (tahun 2017) menjadi 11920 kali (tahun 2018), 23 di antaranya menimbulkan kerusakan struktur. Kerusakan struktur dipengaruhi karakteristik gempa, salah satunya adalah frekuensi yang mampu merusak bangunan bertingkat tinggi. Konfigurasi ketidakberaturan pada bangunan bertingkat tinggi juga rentan terhadap kerusakan akibat gempa, terutama ketidakberaturan vertikal. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan respons seismik model-model ketidakberaturan vertikal pada bangunan bertingkat tinggi berdasarkan tinjauan base shear, displacement, dan drift.Penelitian ini membandingkan 4 variasi model ketidakberaturan vertikal berdasarkan SNI 1726-2012, yaitu model A (tipe 1, 5a), B (tipe 1, 2, 5a), C (tipe 1, 3, 5a), dan D (tipe 1, 4, 5a). Tinjauan-tinjauan respons seismik pada seluruh model dibandingkan terhadap model A. Analisis yang digunakan adalah metode respons spektrum SNI 1726-2012.Dihasilkan nilai base shear untuk arah x dan y sebesar 96,41% dan 96,47% pada model B, 129,45% dan 128,66% pada model C, serta 79,52% dan 80,15% pada model D. Nilai displacement untuk arah x dan y sebesar 99,89% dan 99,87% pada model B, 90,52% dan 90,78% pada model C, serta 91,36% dan 89,98% pada model D. Nilai drift maksimum untuk arah x dan y sebesar 100,73% dan 100,88% pada model B, 105,24% dan 94,80% pada model C, serta 96,77% dan 98,76% pada model D. Nilai-nilai drift tersebut mendekati kinerja batas layannya. Disimpulkan bahwa model D memiliki respons seismik terburuk dikarenakan menghasilkan base shear terkecil dan drift yang terjadi sangat besar.
Studi Komparasi Gaya Geser Dasar Gempa Dengan Metode Respons Spectrum SNI 1726:2019 Terhadap SNI 1726:2012 di Daerah Banda Aceh Zeldi Zainaldi; Baehaki Baehaki; Zulmahdi Darwis
Jurnal Fondasi Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/fondasi.v11i2.17104

Abstract

Salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia adalah gempa bumi. Pada tahun 2004 di Aceh terjadi suatu gempa bumi yang sangat besar, mengkibatkan banyak-nya korban jiwa dan tidak sedikit bangunan runtuh akibat gempa yang terjadi. Untuk meminimalisir keruntuhan yang terjadi pada bangunan akibat gempa, maka para engineer struktur perlu mendasain suatu beban gempa dan menginput beban gempa tersebut pada gedung yang akan di desain strukturnya. Tahun 2019 telah diperbarui peraturan perencanaan beban gempa yaitu SNI 1726:2019.  Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan beban gempa dengan menggunakan SNI 1726:2019, mengetahui besaran gaya geser dasar gempa yang dihasilkan bila beban gempa direncanakna dengan peraturan terbaru ini, serta mengkomparasi hasil desain beban gempa SNI 1726:2019 terhadap SNI 1726:2012. Untuk itu, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai gambaran referensi dalam mendesain beban gempa yang diinputkan sebagai beban perencanaan dalam mendesain gedung. Analisis pada penelitian ini menggunakan software ETABS. Penelitian ini hanya berfokus menggunakan metode Response Spectrum saja, tanpa membandingkan dengan metode lain. Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan beban gempa bila dihitungan dengan SNI 1726:2019 yaitu, Vx arah x =1680,78 kN, Vx arah y = 475,25 kN, Vy arah x = 534,98 kN dan Vy arah y = 1680,77 kN, sedangkan bila dihitung menggunakan SNI 1726:2012 didapat beban gempa Vx arah x = 1450,80 kN, Vx arah y = 411,93 kN, Vy arah x = 459,86 kN, dan Vy arah y = 1450,80 kN. Berdasarkan hasil analisa didapatkan peningkatan beban gempa rata-rata sebesar 13,84% bila dibandingkan antara beban gempa SNI 1726:2019 dengan 1726:2012.
PROSES AKREDITASI SANGGAR KEGIATAN BELAJAR KABUPATEN SERANG DALAM RANGKA PENGEMBANGAN DAN PENJAMINAN MUTU SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL Akhmad Fakhri; Baehaki Baehaki; Mutiara Widyati; Khoirunnisa Muthia; Ila Rosmilawati
JURNAL KOULUTUS Vol. 7 No. 2 (2024): JURNAL KOULUTUS
Publisher : LPPM Universitas Kahuripan Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Serang menjamin kualitas pendidikan yang bermutu dibuktikan dengan capaian akreditasi A, yang merupakan hasil dari proses penilaian pendidikan mereka melalui proses akreditasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami proses yang ditempuh oleh SKB Kabupaten Serang dalam mendapatkan dan mempertahankan status akreditasi A mereka. Penelitian memakai metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajiannya bahwasanya upaya yang dilaksanakan SKB Kabupaten Serang agar mendapatkan akreditasi A adalah berjalan sesuai dengan delapan SNP, mempunyai SOP dalam penyelenggaraan pendidikan, memberikan pelayanan terbaik, serta memiliki program kerja yang efektif.  Sedangkan upaya yang dilakukan untuk mempertahankan akreditasi A adalah dengan evaluasi, menerima saran dan kritikan, serta meningkatkan kualitas pembelajaran.     
Experimental Study Comparative Compressive Strength and Tensile Strength of Nail Fiber Concrete Against Fiber Concrete Wiraningrum, Widya; Baehaki, Baehaki; Darwis, Zulmahdi
Jurnal Fondasi Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/fondasi.v12i2.22040

Abstract

Concrete has high compressive strength but weak tensile strength. The innovations to increase tensile strength is addition fiber. Fiber concrete has been proven increase the tensile strength, but the basic material from flammable plastic and difficult to find in Indonesia, making polypropylene fibers less desirable, so an innovation was to add nails to concrete mix as substitute for polypropylene fibers. Nails made of steel, non-flammable, higher melting point than polypropylene, high tensile strength and easy to find in Indonesia. The purpose of this study was to determine the effect of adding nail and polypropylene fiber to the compressive and split tensile strength of concrete, and to determine the optimum proportion of nail fiber to polypropylene fiber concrete. Mix design using SNI 7656:2012. Based on the results, the compressive strength of normal concrete was 20,007 MPa and 1% polypropylene concrete was 20,097 MPa. The compressive strength of nail fiber concrete varies 0,5%, 1%, 1,5%, 2% and 2,5%, respectively, 16,334 MPa, 18,790 MPa, 21,290 MPa, 21,324 MPa, 19,242 MPa. The split tensile strength of normal concrete is 1,834 MPa and 1% polypropylene concrete is 2,361 MPa. The split tensile strength of nail fiber concrete varies 0,5%, 1%, 1,5%, 2% and 2,5%, respectively, 1,620 MPa, 1,990 MPa, 1,942 MPa, 1,800 MPa, and 1,730 MPa. The optimum proportion of nail fiber concrete as substitute for 1% polypropylene fiber concrete is variation of 1,5% with compressive strength of 21,290 MPa and split tensile strength of 1,942 MPa.