Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH BOTOL PLASTIK POLY ETHYLENE TEREPHTHALATE (PET) SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT KASAR PEMBUATAN BETON Zulmahdi Darwis; Soelarso Soelarso; Tb Ahmad Faisal
Jurnal Teknika Vol 10, No 2 (2014): Edisi November 2014
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v10i2.6670

Abstract

Pertumbuhan teknologi beton yang semakin berkembang, berbagai penelitian telah banyak dilakukan baik oleh kalangan praktisi maupun dari kalangan peneliti. Berbagai jenis teknologi beton telah diperkenalkan dan digunakan, kini secara umum seperti penggunaan serat baja dan Poly Ethylene Terephthalate(PET) sebagai substitusi agregat kasar. Memanfaatkan limbah sampah dengan pengolahaan atau daur ulang sampah untuk dijadikan bahan substitusiagregat dari botol kemasan plastik Poly Ethylene Terephthalate(PET). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton dengan bahan agregat kasar buatan dari limbah botol plastik minuman kemasan ulang atau Poly Ethylene Terephthalate (PET), dan mempelajari pengaruh dan efektifitas akan penggunaan bahan pengganti agregat kasar buatan (PET) sebagai bahan pembentukan beton. Penelitian ini menggunakan komposisi penggantian Agregat Kasar dengan Plastik Poly Ethylene Teherphtalate (PET) sebanyak 50% dan 100% , dengan kuat tekan beton rencana 20 MPa. Jumlah sampel sebanyak 45 sampel yang terdiri dari 3 variasi. Sampel di uji pada umur 3, 7, 14, 21 dan 28 hari. Hasil pengujian kuat tekan dengan umur rencana 28 hari, di dapat kuat tekan menurun dari beton yang menggunakan substitusi agregat kasar buatan Poly Ethylene Terephthalate(PET) terhadap beton normal, hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut beton normal Tipe N (0% PET) sebesar 24,56 MPa, Tipe A beton (50% PET) sebesar 18,90 MPa, Tipe B beton (100% PET) sebesar 18,26 Mpa. Pencapaian hasil dari agregat kasar buatan Poly Ethylene Terephthalatedapat memudahkan pelaksanan pembuatan beton. Pelaksanaan yang dimaksud adalah proses penimbangan bahan, cara pembuatan, pengadukan, pencetakan, pemadatan, penggetaran beton dan penyelesaian beton.
PENGARUH PENAMBAHAN ABU SEKAM PADI (ASP) DAN TAWAS PADA KUAT TEKAN BETON F’C 17,5 MPA Soelarso Soelarso; Zulmahdi Darwis
Jurnal Teknika Vol 7, No 1 (2011): Edisi Juni 2011
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v8i1.6707

Abstract

Indonesia dikenal sebagai daerah agraris dengan tanaman padi sebagai pertanian masyarakat. Pertanian padi menghasilkan limbah sekam padi yang saat ini hanya dimanfaatkan sebagai pembuatan abu gosok. Pemanfaatan tersebut hanya menggunakan sebagian kecil dari jumlah limbah sekam padi yang ada sehingga nilai ekonomis yang didapatkan juga masih relatif kecil. Tawas sendiri merupakan alumunium sulfat yang dapat digunakan sebagai penjernih air (water treatment) seperti sedimentasi karena tawas yang dilarutkan dalam air mampu mengikat kotoran dan mengendapkan kotoran dalam air sehingga menjadikan air menjadi jernih. Menurut penelitian yang pernah dilakukan tawas juga dapat mempercepat reaksi hidrasi semen.Penelitian dengan variasipenambahan tawas sebanyak 1,5%, 2,0% dan 2,5% dari berat semen dengan abu sekam padi sebanyak 15% dari berat semen.
PEMANFAATAN STEEL SLAG UNTUK BAHAN BAKU PEMBUATAN PAVING BLOCK Zulmahdi Darwis; Wili Bakhtiar
Jurnal Teknika Vol 8, No 1 (2012): Edisi Juni 2012
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v9i1.6689

Abstract

Meningkatnya kegiatan pembangunan dan banyaknya penggunaan paving block sebagai bahan bangunan, perlu dilakukan upaya untuk mendapatkan bahan pengganti yang dapat digunakan sebagai agregat dalam pembuatan paving block. Salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan adalah limbah industri peleburan baja yaitu steel slag. Steel slag merupakan limbah yang belum dimanfaatkan secara optimal dan hanya dimanfaatkan sebagian kecil saja, agar pemanfaatanya menjadi optimal perlu adanya penelitian tentang pemanfaatan steel slag khususnya sebagai bahan baku pada paving block. Penelitian ini menggunakan steel slag sebagai bahan baku paving block dengan perbandingan 1:4 dengan air 0,5 dan 0,6 dari berat semen, dengan komposisi steel slag sebagai pengganti pasir, abu batu, screening dan pengganti semua agregat. Jumlah masing-masing benda uji pada umur 7, 14, 21 dan 28 hari sebanyak 3 buah. Jadi jumlah benda uji adalah 120 buah paving block untuk pengujian kuat tekan dan 10 buah paving block untuk pengujian penyerapan air. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan steel slag sebagai bahan baku dapat meningkatkan kuat tekan paving block. Perbandingan 1:4 dengan air 0,5 dari berat semen didapat kuat tekan paving block tertinggi pada komposisi A5 sebesar 30,83 MPa, dan masuk dalam mutu B (SNI 03-0691-1996), sedangkan pada perbandingan 1:4 dengan air 0,6 dari berat semen didapat kuat tekan paving block tertinggi pada komposisi A5 sebesar 29 MPa, dan masuk dalam mutu B (SNI 03-0691-1996). Sedangkan hasil penyerapan air menunjukan bahwa penggunaan steel slag menghasilkan paving block lebih baik dengan mutu B (SNI 03-0691-1996).
PEMANFAATAN LIMBAH BESI SPON (PELLET) SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT HALUS PADA KUAT TEKAN MORTAR Zulmahdi Darwis; Soelarso Soelarso
Jurnal Teknika Vol 7, No 1 (2011): Edisi Juni 2011
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v8i1.6708

Abstract

Mortar merupakan bahan bangunan yang berfungsi untuk merekatkan pada pekerjaan pasangan pondasi, pasangan batu bata ataupun pada pekerjaan dinding. Kebutuhan manusia akan perumahan semakin meningkat dan di sisi lain semakin mahalnya harga bangunan, sementara limbah industri yang begitu besar belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan khususnya Limbah besi spons sebagai bahan isian pada mortar semen yang kemudian akan diteliti sifat-sifatnya, yaitu dengan menguji kekuatan tekan pada umur 3, 7, 14, 21, dan 28 hari. Penelitian ini menggunakan komposisi campuran dengan perbandingan persentase 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, 100% limbah besi spons sebagai pengganti agregat halus.Material yang digunakan semen type 1 dengan merek tiga roda, agregat halus berasal dari daerah Jalupang Rangkas, Limbah Besi Spons (pellet) berasal PT. Krakatau Steel . Sampel yang diuji memiliki bentuk kubus dengan ukuran 50 mm x 50 mm x 50 mm untuk pengujian kuat tekan dengan mengulang pengujian sebanyak 3 kali dan di uji tekan menggunakan alat Compression Testing Machine. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada umur 28 hari hasil rata-rata kuat tekan mortar normal sebesar 85,7 Kg/cm2 kemudian terjadi kenaikan kekuatan tekan mortar dengan persentase pengganti 20% limbah besi spons menjadi 102,0 Kg/cm2, pada persentase pengganti 40% terjadi penurunan sebesar 82,0 Kg/cm2, pada persentase pengganti 60 % terjadi penurunan 77,5 Kg/cm2, pada persentase pengganti 80% terjadi penurunan 71,8 Kg/cm dan padapenurunan yang terkecil didapatkan pada persentase pengganti 100% sebesar 65,3 Kg/cm.
Eksperimental Variasi Sambungan Dengan Alat Sambung Pasak terhadap Kuat Geser Balok Bambu Laminasi Zulmahdi Darwis; Hendrian Budi Bagus Kuncoro; Aditya Pratama
Jurnal Fondasi Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/fondasi.v10i1.10613

Abstract

Sambungan adalah bagian terpenting pada suatu sistem struktur. Bentuk sambungan dan alat sambung berpengaruh terhadap beban yang diampu oleh struktur kayu tersebut. Bentuk sambungan dan alat sambung umumnya biasa digunakan pada kayu, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk diterapkan pada bambu laminasi.Penelitian ini dilakukan dengan membuat spesimen benda uji balok bambu laminasi tanpa sambungan dan 3 variasi balok bambu laminasi dengan bentuk sambungan berbeda dengan perekat Rajawali PVAC dan pasak diameter 7 mm sebagai alat sambung dengan jarak antar pasak 15 cm. Dimensi balok yang dibuat berukuran 100 cm x 5 cm x 10 cm tanpa menggunakan kulit luar bambu. Pengujian menggunakan mesin UTM dengan pembebanan dua titik yang memiliki jarak antar beban sebesar 250 mm.Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan alat sambung dengan variasi bentuk sambungan terhadap kekuatan memiliki nilai yang berbeda. Kekuatan balok tertinggi ada pada balok tanpa sambungan dengan nilai rata-rata pembebanan 21,4 KN, pada balok yang menggunakan variasi sambungan nilai kekuatan tertinggi terdapat pada sambungan lurus dengan nilai rata-rata 8,53 KN. Nilai tegangan geser pada balok dengan sambungan lurus berkait, lurus, miring, dan tanpa sambungan menghasilkan nilai rata-rata secara berurutan sebesar 3,845 MPa, 1,421 MPa, 2,445 MPa, dan 6,232 MPa. Hasil dari pengujian ini terdapat perbedaan yang signifikan, yaitu pengaruh penggunaan variasi sambungan terhadap kuat geser balok bambu laminasi. 
Studi Eksperimental Pengaruh Abu Sekam Padi Terhadap Sifat Mekanik Beton Serat Bambu Hendrian Budi Bagus Kuncoro; Zulmahdi Darwis; Abdul Azis Rahmat
Jurnal Fondasi Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/fondasi.v10i2.12448

Abstract

Konstruksi bangunan memerlukan bahan bangunan yang kokoh sehingga banguan tersebut dapat bertahan lama dan dapat menahan beban yang direncanakan. Untuk mendukung kekokohan konstruksi bangunan tersebut, maka  diperlukannya material-material yang kuat dan berkualitas agar dapat memenuhi kualitas beton yang sudah direncanakan.Dalam penelitian ini mengkaji pengaruh abu sekam padi sebagai bahan pengganti semen dan serat bambu sebagai bahan penambah pada beton terhadap sifat mekanik beton serat bambu dan untuk mengetahui nilai dari sifat mekanik beton yang terbesar dari pengunaan variasi abu sekam padi 0%, 8%, 9% dan 10% terhadap berat semen dengan penambahan serat bambu betung.Hasil penelitian yang dilakukan dari penggunaan beton serat dan abu sekam padi diperoleh hasil kuat tekan rata-rata beton serat dan abu sekam padi 0%, 8%, 9% dan 10%  secara berurutan sebesar 23,96 MPa, 18,83 Mpa, 20,48 MPa, dan 16,15 MPa. Untuk hasil rata-rata kuat lentur balok beton serat dan abu sekam padi 0%, 8%, 9% dan 10%  secara berurutan sebesar 2,893 MPa, 2,351 MPa, 2,569 MPa, dan 2,129 Mpa. Untuk hasil rata-rata kuat tarik belah beton serat dan abu sekam padi 0%, 8%, 9% dan 10%  secara berurutan sebesar 2,689 MPa, 2,252 MPa, 2,410 MPa, dan 2,073 MPa. Data pengujian sifat mekanis dari beton serat bambu dan abu sekam padi ini menunjukan komposisi abu sekam padi 9% adalah komposisi yang optimal untuk penggunaan beton sebagai pengganti semen.
PERBANDINGAN RESPONS STRUKTUR AKIBAT BEBAN GEMPA DAN PENGARUH ANGIN PADA GEDUNG BERTINGKAT TINGGI ( Studi Kasus: Gedung Menara Rektorat Kampus UNTIRTA Sindangsari ) Baehaki Baehaki; Zulmahdi Darwis; Hendrian Budi Bagus Kuncoro; Prastyani Prastyani
Jurnal Fondasi Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jft.v8i1.5405

Abstract

Gedung menara rektorat kampus UNTIRTA diklasifikasikan sebagai gedung bertingkat tinggi yang memiliki risiko beban lateral cukup besar, diantaranya beban angin dan beban gempa. Analisis beban angin pada struktur gedung dipengaruhi oleh ketinggian gedung, sedangkan analisis beban gempa dipengaruhi oleh massa gedung. Berdasarkan ketinggian serta lokasi yang rawan terhadap beban angin dan beban gempa, maka perlunya penelitian dalam merencanakan gedung menara rektorat kampus UNTIRTA yang mampu menahan beban tersebut untuk menjamin keandalan bangunan.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan respons struktur akibat beban gempa dan pengaruh angin pada gedung bertingkat tinggi dimana respons struktur yang ditinjau yaitu story drift, displacement, dan story shear. Penelitian ini menggunakan metode pembebanan gempa dinamik respons spektrum berdasarkan SNI 1726-2012 dan pembebanan angin berdasarkan SNI 1727-2013.Hasil penelitian menunjukan bahwa pengaruh tekanan angin rencana pada gedung menara rektorat kampus UNTIRTA berdasarkan data BMKG yaitu 0,0135 kN/m2 tidak memenuhi persyaratan tekanan angin desain minimum berdasarkan SNI 1727-2013 sebesar 0,77 kN/m2. Tekanan angin rencana yang rendah dikarenakan gedung menara rektorat kampus UNTIRTA terletak jauh dari pantai namun memiliki risiko kegempaan cukup tinggi, sehingga pembebanan akibat beban gempa menghasilkan respons struktur yang lebih besar meliputi story drift, displacement, dan story shear secara berturut-turut yaitu sebesar 43,56%,76,62%, dan 64,98% terhadap beban angin.
BETON NON-PASIR DENGAN PENGGUNAAN AGREGAT LOKAL DARI MERAK Zulmahdi Darwis; Baehaki Baehaki; Hery Supriyadi
Jurnal Fondasi Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.516 KB) | DOI: 10.36055/jft.v6i1.2019

Abstract

Indonesia merupakan Negara yang sedang berkembang dengan peningkatan pembangunan di setiap wilayah sedang berlangsung. Akibat dari meningkatnya pembanguan tersebut, kebutuhan akan bahan kontruksi pun akan meningkat salah satunya beton. Beton mengalami inovasi-inovasi terbaru seperti betonnon-pasir. Kekuatan beton non-pasir sangat dipengaruhi oleh faktor air semen dan jenis agregatnya. Penggunaan agregat lokal dari Merak sudah terjamin mutunya untuk digunakan dalam pembuatan beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh agregat terhadap pembuatan beton non-pasir agar dihasilkan proporsi campuran yang ideal yaitu memberikan dampak positif terhadap kuat tekan, daya serap air, dan kuat lentur yang sesuai dengan kondisi di setiap wilayah.Penelitian ini merencanakan beton non-pasir dengan menggunakan Portland Pozzolan Cement dengan nilai faktor air semen 0,40. Metode penelitian ini yaitu dengan membandingkan penggunaan semen agregat dengan perbandingan rasio semen agregat 1:4, 1:6, 1:8, 1:10. Jumlah benda uji sebanyak 72 buah, dengan rincian 48 kuat tekan, 12 daya serap air, 12 kuat lentur. Dalam penelitian ini menggunakan cetakan silinder 15 cm x 30 cm dan cetakan balok 60 cm x 15 cm x 15 cm.Hasil pengujian ini menunjukan bahwa penggunaan rasio semen agregat 1:6 memberikan nilai kuat tekan dan kuat lentur tertinggi yang masing-masing sebesar 3,712 MPa dan 0,963 N/mm. Sedangkan untuk nilai daya serap air, nilai terbesar terdapat pada rasio semen agregat 1:4 sebesar 4,775%. Proporsi optimum pada penelitian ini adalah rasio semen agregat 1:6
PEMANFAATAN BLOTONG UNTUK BAHAN BAKU PEMBUATAN PAVING BLOCK Zulmahdi Darwis; Bambang Adhi Priyambodo; Rully Nurul Ashar
Jurnal Fondasi Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.314 KB) | DOI: 10.36055/jft.v1i1.2006

Abstract

Laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi berakibat pada tingginya kebutuhan akan sarana hunian. Pengembangan kawasan-kawasan hunian lebih lanjut akan memacu meningkatnya kebutuhan bahan bangunan. Salah satu cara untuk mengatasi permintaan kebutuhan bahan bangunan tersebut adalah dengancara meningkatkan pemberdayaan sumber daya lokal dalam pembuatan paving block. Pemanfaatan sampah maupun limbah dapat mengurangi pencemaran lingkungan.Penelitian ini menggunakan komposisi campuran pembuatan paving block 1:4 dan 1:6 limbah blotong digunakan sebagai pengganti pasir,abu batu,screening untuk tiap-tiap sampelnya dengan variabel tetapnya semen sebagai bahan pengikat utama nya. Hasil penelitian ini menunjuk kan bahwa kuat tekan paving block tertinggi sebagai pengganti abu batu dengan perbandingan 1:4 pada umur 28 hari yaitu sebesar 16 Mpa dan kuat tekan tertinggi untuk perbandingan 1:6 sebagai pengganti abu batu pula pada umur 28 hari yaitu sebesar 13,2 Mpa, sedangkan untuk hasil pengujianpenyerapan air paving block pada perbandingan 1:4 dan 1:6 menghasilkan nilai yang berbeda-beda, namun bila dilihat dari mutu paving block masuk pada mutu C yang digunakan untuk pejalan sesuai dengan SNI-030691-1996
PEMANFAATAN LIMBAH BOTTOM ASH SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN PAVING BLOCK Zulmahdi Darwis; Soelarso .
Jurnal Fondasi Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.589 KB) | DOI: 10.36055/jft.v2i1.1994

Abstract

Konstruksi perkerasan dengan paving block merupakan konstruksi ramah lingkungan, karena memiliki kemampuan untuk ditembus air hujan, sehingga tidak banyak mengganggu konservasi air tanah. Pengembangan kawasan-kawasan hunian lebih lanjut akan memacu meningkatnya kebutuhan bahanbangunan. Limbah padat industri khususnya limbah padat hasil pembakaran batu bara pada boiler yang dihasilkan PT. Styrindo Mono Indonesia seperti bottom ash yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, perlu dimanfaatkan agar mengatasi pencemaran tersebut, dengan digunakan sebagai bahan baku pembuatan paving block. Bottom ash pada penelitian ini sebagai bahan baku paving block, menggunakan perbandingan 1:4 dengan kondisi bottom ash terlebih dahulu dicuci dan dikeringkan dalam oven selama ±24jam. Bottom ash dicuci dan dikeringkan oleh cahaya matahari, lalu bottom ash dalam kondisi alami. Dengan komposisi bottom ash sebagai pengganti pasir, abu batu, screening, dan pengganti semua agregat. Jumlah benda uji sebanyak 180 buah paving block untuk pengujian kuat tekan dan 15 buah untuk pengujianpenyerapan air dan pengujian densitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bottom ash sebagai bahan baku dapat meningkatkan kuat tekan pada perbandingan 1:4, baik bottom ash dengan kondisi dicuci lalu dikeringkan dalam oven selama ± 24 jam, dicuci lalu dikeringkan oleh cahaya matahari maupun bottom ash alami tanpa dicuci dan dikeringkan, masuk dalam mutu B (SNI 03-0691-1996). Hasil kuat tekan paving block tertinggi didapat pada komposisi C2 yaitu 1BA:2AB:1SC dengan kondisi bottom ash alami,sebesar 28.75 Mpa pada umur 56 hari. Hasil pengujian penyerapaan air menunjukan bahwa penggunaan bottom ash pada komposisi A4 yaitu 1AH:2AB:1BA dan komposisi C2 yaitu 1BA:2AB:1SC, menghasilkanlebih baik dengan mutu B (SNI 03-0691-1996) yaitu sebesar 5.6 % untuk komposisi A4 dan 4.8 % untuk komposisi C2
Co-Authors Abdul Azis Rahmat Abdurohim Abdurohim Achmad Basuki Aditya Pratama Amelia Rizqiyanti Arief Budiman Axel Xavier Delpiero Baehaki, Baehaki Bambang Adhi Priyambodo Enden Mina, Enden Fathonah, Woelandari Fathonah, Woelandari Fathonah, Woelandari Haryadi Haryadi Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Hendrian Budi Bagus Kuncoro Heri Kusharyanto Hery Supriyadi Ina Asha Nurjanah Javil Egi Pratama Abdurahman Jenfatika Chandra Jonathan Sitorus Kusuma, Rama Indera M. Hasbi Zuher M. Hasbi Zuher Mekro Permana Pinem Midia Rahma Midia Rahma Mina, Enden Muhammad Adha Ilhami Muhammad Afiff Isnaini Muhammad Fakhruriza Pradana, Muhammad Fakhruriza Muhammad Gilang Prabowo Muhammad Isa Ismail Muhammad Yani Bhayusukma Nugroho, Angga Fandam Wahyu Nurjanah, Ina Asha Nurrochmat, Cahyadi Prastika Wahid Santoso Prastyani Prastyani Priyambodho, Bambang Adhi Qurrotul Milania Radityagifari, Muhamad Rahma, Midia Rahma, Midia Rahma, Midia Rama Indera Kusuma Ramadhan, Malik Agung Restu Wigati, Restu Rezka Mugri N.R Rifky Ujianto Riyadi, Andry Afrizal Rizik, Ahmad Farhan Rizka Apriliani Rully Nurul Ashar Soelarso . Soelarso Soelarso Soelarso Soelarso, Soelarso Soelarso, Soelarso Soelarso, Soelarso Soelarso, Soelarso Stefanus Adi Kristiawan Subekti, Subekti Syahdan Raihan Syahid, Mushab Abdu Asy Tb Ahmad Faisal Ujianto, Rifky Usnawa, Hamid Wafiq Wahyu N, Angga Fandam Wili Bakhtiar Wiraningrum, Widya Zeldi Zainaldi Zulfathir, Reza