Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Application of Photoacoustic Imaging for Pneumonia Detection Maqfiroh, Caesarany; Widyaningrum, Rini; Anas, Ahmad Mujtahid; Mitrayana, Mitrayana
Makara Journal of Science Vol. 27, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

We used photoacoustic imaging (PAI) to visualize and compare acoustic intensity levels in pneumonia-affected and healthy chicken lungs. After histological confirmation of pneumonia, the samples were scanned and subjected to a 532-nm diode laser in a photoacoustic imaging system. The acoustic intensity level of pneumonia-affected tissue was examined and compared with that of healthy lung samples. The optimum laser frequency and duty cycle for imaging the samples were 17 kHz and 30%, respectively. The acoustic intensity levels of pneumonia-affected tissue and healthy lungs were −82.5 ± 1.8 dB and −79.9 ± 1.3 dB, respectively. We found that a simple PAI device consisting of a diode laser and condenser microphone could distinguish between pneumonia-affected and healthy lungs. Pneumonia-affected lungs produced less acoustic intensity than that healthy lungs, as supported by histological studies.
Hubungan antara kualitas pelayanan radiografi panoramik dengan tingkat kepuasan pasien: studi cross-sectional Darmawan, Adam Eka; Widyaningrum, Rini; Priyono, Bambang; Hanindriyo, Lisdrianto
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.49745

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kualitas pelayanan kesehatan berupa pelayanan medis atau non medis memiliki pengaruh besar terhadap tingkat kepuasan pasien. Tingkat kepuasan pasien juga dipengaruhi oleh harapan pasien terhadap suatu pelayanan serta perilaku petugas. Radiografi panoramik merupakan salah satu pemeriksaan penunjang diagnosis yang utama serta pelayanan radiografi dengan jumlah pasien terbanyak di instalasi radiologi, sehingga penelitian mengenai kualitas pelayanan dan hubungannya terhadap tingkat kepuasan pasien perlu dilakukan untuk mewujudkan pelayanan yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas pelayanan radiografi panoramik dengan tingkat kepuasan pasien. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian 60 pasien yang melakukan pemeriksaan radiografi panoramik. Pengambilan data kualitas pelayanan dan tingkat kepuasan dilakukan pada waktu yang sama secara langsung dengan menggunakan kuesioner tanpa melakukan intervensi terhadap subjek penelitian. Dari hasil uji validitas dan uji reliabilitas kuesioner didapatkan 32 item pernyataan untuk mengukur kualitas pelayanan yang terbagi dalam lima aspek yaitu keandalan, jaminan, empati, daya tanggap, dan tampilan fisik serta 29 item pernyataan untuk mengukur tingkat kepuasan yang terbagi dalam enam aspek yaitu aksesibilitas, kesopanan, pelayanan, komunikasi, lingkungan fisik, dan teknik privasi. Kedua variabel penelitian tersebut diukur dengan skala likert dan kategori penilaian ditetapkan berdasarkan penilaian acuan patokan. Uji korelasi Spearman digunakan untuk menguji hipotesis adanya hubungan antara kualitas pelayanan radiografi panoramik dengan tingkat kepuasan pasien. Hasil: Hasil uji korelasi Spearman, terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) dengan nilai koefisien korelasi 0,597 antara kualitas pelayanan radiografi panoramik dengan tingkat kepuasan pasien. Simpulan: Semakin tinggi kualitas pelayanan radiografi panoramik maka semakin tinggi tingkat kepuasan pasien.KATA KUNCI: kualitas pelayanan, kepuasan pasien, radiografi, panoramik.Correlation between quality of service and patient satisfaction in panoramic radiography: observational study ABSTRACTIntroduction: The level of patient satisfaction is substantially influenced by the quality of medical and non-medical health services It is also influenced by the patient's expectations for health care and the officers’ behavior. Panoramic radiography is one of the main radiography services  utilized to support diagnosis, with the highest number of patients in the radiology department, so it is necessary to study the quality of service and its relationship to the level of patient satisfaction to attain optimal results. This study aims to determine the relationship between the quality of panoramic radiography services and the level of patient satisfaction at the dental hospital of Universitas Gadjah Mada. Methods: Sixty outpatients undergoing panoramic radiography at our dental hospital served as participants in the study. Data on service quality and satisfaction levels was collected at the same time and directly from respondents using a questionnaire without intervening with the subjects. The validity and reliability test resulted in 32 statement items to measure service quality, which were divided into five aspects, such as reliability, assurance, empathy, responsiveness, and tangible, and additionally 29 items to measure patient satisfaction divided into six aspects, namely courtesy of radiology staff, the quality of radiological service, the existence of good communication with a service provider and desk worker, the physical environment, and the privacy technique. All variables were measured using a Likert scale, and the assessment category was determined based on a criterion-referenced standard. The Spearman correlation test was used to verify the relationship between service quality and the level of patient satisfaction. Results: Based on the results of the Spearman correlation test, there was a significant relationship (p<0.05) with a correlation coefficient of 0.597 between service quality and patient satisfaction. Conclusions: The higher the quality of panoramic radiography services, the higher the level of patient satisfaction at the dental hospital of Universitas Gadjah Mada.KEY WORDS: service quality, patient satisfaction, radiography, panoramic.
Perbandingan sudut antegonial dan kedalaman antegonial pada radiograf panoramik antara pria dan Wanita: Studi Observasional Purba, Theresia Alfi; Widyaningrum, Rini; Mudjosemedi, Munakhir; Yanuaryska, Ryna Dwi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.48028

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Identifikasi individu dapat dilakukan dengan menggunakan metode identifikasi sekunder, salah satunya berupa determinasi jenis kelamin menggunakan radiograf. Identifikasi jenis kelamin dapat dilakukan dengan mengamati morfologi mandibula yang merupakan tulang terkuat dan terbesar di wajah manusia. Perbedaan mandibula antara pria dan wanita pada regio antegonial mandibula dapat diamati serta diukur pada radiograf panoramik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sudut dan kedalaman antegonial antara pria dan wanita serta untuk menentukan perbedaan sudut dan kedalaman antegonial antara sisi kiri dan kanan pada radiografi panoramik. Metode: Sampel penelitian terdiri dari 80 radiograf panoramik dari 40 pasien pria dan 40 wanita berusia 20-60 tahun. Pengukuran sudut antegonial dan kedalaman antegonial dilakukan secara digital pada radiografi panoramik. Independent sample t-test digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan diantara kedua variabel yang dibandingkan antara pria dan wanita sekaligus untuk mengetahui perbedaan antara pengukuran sisi kanan dan kiri. Hasil: Rerata sudut antegonial pada kelompok pria adalah 155,36° ± 5,85 sedangkan pada kelompok wanita adalah 159,07° ± 5,25. Rerata kedalaman antegonial pada kelompok pria adalah 2,07 ± 0,69 mm dan pada kelompok wanita adalah 1,75 ± 0,59 mm. Hasil independent sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) pada sudut antegonial dan kedalaman antegonial antara kelompok pria dan wanita, serta tidak ada perbedaan yang signifikan pada sudut maupun kedalaman antegonial antara sisi kiri dan kanan (p>0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan sudut dan kedalaman antegonial antara pria dan wanita, serta tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada sudut dan kedalaman antegonial antara sisi kiri dan kanan pada radiografi panoramik.KATA KUNCI: Radiograf, panoramik, mandibula, sudut antegonial, kedalaman antegonialComparing antegonial angle and antegonial depth on panoramic radiographs between men and women: observational studyABSTRACTIntroduction: Personal identity can be determined using secondary identification methods such as sex estimation using radiograph. Mandibular morphology can be used for estimating sex. The mandible, as the largest and most robust bone in the human facial skeleton, provides valuable information for sex estimation. The antegonial region indicates sexual dimorphism in the mandible, which can be visually assessed on panoramic radiographs. This study aims to investigate potential differences in antegonial angles and depths between males and females, in addition to identify any differences in antegonial angle and depth on panoramic radiographs between the left and right sides. Methods: The study sample included 80 panoramic radiographs taken from 40 male and 40 female patients aged 20-60 years. The antegonial angle and depth were measured digitally on panoramic radiographs. The collected data was analyzed using an independent sample t-test. Results: In the male group, the mean antegonial angle was 155.36°±5.85, while in the female group, it was 159.07°±5.25. The mean value of antegonial depth in the male group was 2.07±0.69 mm and in the female group it was 1.75±0.59 mm. Independent sample t-test reveals a significant difference in antegonial angle and depth between the male and female groups (p<0.05) and no significant difference in both measurement between the left and right sides (p>0.05). Conclusion: There are differences in antegonial angles and depths between men and women, and no significant difference in antegonial angles and depths between the left and right sides on panoramic radiographs.KEY WORDS: radiograph, panoramic, mandible, antegonial angle, antegonial depth
Pengaruh karakteristik sosio-demografi terhadap kondisi jaringan periodontal pada penduduk usia lanjut di Yogyakarta: penelitian potong lintang Rodestawati, Budi; Vega, Christia Aye Waindy; Priyono, Bambang; Widita, Elastria; Hanindriyo, Lisdrianto; Agustina, Dewi; Mardhiyah, Iffah; Naritasari, Fimma; Widyaningrum, Rini
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.84983

Abstract

Populasi lanjut usia merupakan fenomena global yang menjadi tren paling signifikan saat ini dan telah terjadi di semua negara dengan berbagai tingkat perkembangan, termasuk Indonesia. Penyakit periodontal merupakan salah satu permasalahan kesehatan oral yang utama di masyarakat dan keparahannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Penyakit periodontal memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup lanjut usia dan merefleksikan permasalahan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkajipengaruh karakteristik sosio-demografi terhadap kondisi jaringan periodontal pada penduduk usia lanjut di Yogyakarta. Penelitian dengan desain potong lintang ini melibatkan 108 responden (n = 108) berusia ≥ 60 tahun. Karakteristik sosio-demografi yang diteliti pada penelitian ini meliputi jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan karakteristik wilayah tempat tinggal. Kondisi jaringan periodontal dinilai berdasarkan status perdarahan (bleeding on probing), tingkat kedalaman poket periodontal (pocket depth), dan kehilangan perlekatan jaringan periodontal (clinical attachment loss). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dankarakteristik wilayah tempat tinggal berpengaruh terhadap status perdarahan (p = 0,001, p = 0,015) dan rerata kedalaman poket (p = 0,005, p = 0,027), namun tidak berpengaruh terhadap rerata kehilangan perlekatan jaringan periodontal (CAL) (p = 0,148, p = 0,105). Pada penelitian ini, jenis kelamin tidak memiliki pengaruh terhadap kondisi jaringan periodontal, baik pada status perdarahan (BOP) (p = 0,399), rerata kedalaman poket (PD) (p = 0,365), maupun rerata kehilangan perlekatan jaringan periodontal (CAL) (p = 0,179). Tingkat pendidikan dan karakteristik wilayah tempat tinggal berpengaruh terhadap kondisi jaringan periodontal (BOPdan PD) pada populasi lanjut usia, sehingga aspek tersebut perlu dipertimbangkan dalam perencanaan intervensi pencegahan penyakit periodontal pada lanjut usia.
Estimasi usia menggunakan periodontal ligament visibility: tinjauan dari perspektif radiografi kedokteran gigi Rachmayanti, Silvia; Widyaningrum, Rini; Aji, Nur Rahman Ahmad Seno
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.88048

Abstract

Metode periodontal ligament visibility (PLV) merupakan metode estimasi usia untuk individu pada fase remaja akhir dan dewasa menggunakan pengamatan terhadap visualisasi ligamen periodontal pada gigi molar ketiga mandibula yang akar giginya sudah terbentuk sempurna. Tujuan review ini untuk mendeskripsikan keakuratan dan potensi metode PLV untuk estimasi usia di Indonesia. Pencarian literatur menggunakan database Google Scholar, ScienceDirect,dan PubMed dengan kata kunci “third molar, forensic dentistry” berdasarkan kriteria inklusi yaitu artikel penelitian dan textbook ilmiah yang terbit tahun 2010-2022 serta berbahasa Indonesia dan Inggris. Total artikel yang direview sejumlah 31, dengan 11 artikel utama mengenai estimasi usia metode PLV. Akurasi metode PLV untuk estimasi usia pada suatu populasi dapat dipengaruhi oleh jenis dan jumlah sampel radiograf. Berdasarkan hasil review, didapatkan bahwa skor PLV 0 digunakan untuk mengestimasi usia 17-22 tahun, sedangkan skor PLV 1, 2 dan 3 digunakan untukmengestimasi usia 19-28 tahun pada wanita dan 21-30 tahun pada pria. Hanya satu artikel mengenai metode PLV di Indonesia, sehingga diperlukan penelitian metode PLV untuk estimasi usia pada populasi Indonesia.
Hubungan akar gigi molar kedua maksila dengan dasar sinus maksila pada pria dan wanita: studi pada radiograf panoramik Putri, Ni Luh Putu Sandrina; Widyaningrum, Rini; Haryosuwandito, Erdananda
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100565

Abstract

Sinus maksilaris merupakan struktur anatomi vital yang berada di atas gigi posterior rahang atas dengan variasi perluasan anatomis yang beragam. Kedekatan akar gigi terhadap sinus maksilaris dapat berkaitan dengan komplikasi yang tidak diinginkan yang menyertai tindakan klinis. Radiograf panoramik dapat digunakan sebagai pemeriksaan penunjang untuk menganalisis kedekatan struktur anatomi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis gigi molar kedua kanan dan kiri serta jenis kelamin terhadap keterdekatan akar mesiobukal dengan sinus maksilaris. Sampel penelitian berjumlah 164 sampel radiograf panoramik digital (81 pria dan 81 wanita) berusia 20-40 tahun yang sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Sampel diperoleh secara retrospektif dari Instalasi Radiologi Dentomaksilofasial RSGM UGM Prof. Soedomo. Pengamatan radiografis hubungan akar mesiobukal gigi molar kedua terhadap dasar sinus maksilaris dikategorikan menjadi tiga tipe, yaitu tipe 0 (akar tidak berkontak dengan dasar sinus), tipe 1 (akar berkontak dengan tepi kortikal sinus), dan tipe 3 (akar menembus kedalam rongga sinus). Hasil uji korelasi dengan Coefficient Contingency menunjukkan tidak terdapat hubungan antara molar kedua sisi kanan dan kiri terhadap tipe keterdekatan akar gigi terhadap sinus (p > 0,05) serta tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin terhadap tipe keterdekatan akar gigi terhadap sinus (p > 0,05). Melalui analisis Coefficient Contingency C diperoleh korelasi variabel jenis kelamin (C = 0,117) yang menunjukkan keeratan hubungan yang lebih tinggi terhadap kedekatan akar gigi terhadap sinus maksilaris dibandingkan dengan jenis gigi (C = 0,036), namun demikian korelasi antar variabel tersebut tidak signifikan.
Deteksi karies proksimal menggunakan radiografi bitewing dan near-infrared light transillumination Nugroho, Lathifa Dewanti; Yanuaryska, Ryna Dwi; Widyaningrum, Rini
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100770

Abstract

Radiografi bitewing merupakan metode standar untuk deteksi karies proksimal karena dapat mencitrakan mahkota gigi dari permukaan distal kaninus hingga distal permukaan molar paling posterior tanpa tumpang tindih. Pemanfaatan sinar-X di bidang kedokteran gigi menerapkan prinsip as low as reasonably achievable (ALARA) untuk mengurangi efek radiasi. Near-Infrared Light Transillumination (NILT) merupakan metode deteksi karies tanpa menggunakanradiasi pengion sehingga dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Narrative review ini ditujukan untuk mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan antara teknik intraoral bitewing dengan NILT beserta perbedaan hasil deteksi karies proksimal dari masing-masing teknik tersebut. Pencarian literatur pada narrative review ini menggunakan Google Scholar, ScienceDirect, dan Pubmed dengan kriteria inklusi yaitu artikel berjenis original/research article, case report, dan textbook ilmiah, serta artikel berbahasa Inggris maupun Indonesia yangditerbitkan tahun 2010-2021. Kriteria eksklusi berupa review article, artikel yang menunjukkan duplikasi, artikel yang tidak dapat diakses secara utuh, serta artikel tanpa metode penelitian. Total literatur yang dikaji sebanyak 29 artikel. Hasil review menunjukkan bahwa NILT merupakan metode deteksi karies proksimal tanpa disertai risiko radiasi sehingga tidak memberikan efek berbahaya pada tubuh sehingga penggunaannya dapat diulangi sesuai kebutuhan. Kelebihan lainnya, NILT lebih sensitif daripada radiograf untuk mendeteksi jaringan keras gigi yang mengalami demineralisasi pada fase awal. Nilai sensitivitas dan spesifisitas NILT lebih tinggi daripada radiografi bitewing sehingga dapat dijadikan alternatif pemeriksaan radiografi. Meskipun demikian, NILT tidak dapat mencitrakan karies yang telah meluas hingga pulpa karena NILT tidak memiliki daya tembus sebesar sinar-X, sehingga radiografi bitewing masihmerupakan standar pemeriksaan untuk deteksi karies proksimal.
Perbandingan mental index dan panoramic mandibular index berdasarkan status dental: kajian pada radiograf panoramik Deriputra, Gde Parama Wistara; Shantiningsih, Rurie Ratna; Mudjosemedi, Munakhir; Widyaningrum, Rini
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100773

Abstract

Mandibula berperan dalam proses pengunyahan sehingga mengalami proses remodeling secara terus menerus. Status dental menunjukkan kondisi gigi serta kehilangan gigi-gigi pada individu. Status dental yang berbeda-beda akan menghasilkan beban mastikasi beragam yang selanjutnya mempengaruhi proses remodeling pada mandibula. Adanya perubahan ukuran tulang pada area kortikal mandibula dapat dideteksi dengan indeks radiomorfometri,antara lain Mental Index (MI) dan Panoramic Mandibular Index (PMI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan MI dan PMI pada radiograf panoramik antar kelompok status dental. Sampel penelitian ini berupa 134 radiograf panoramik digital dari instalasi radiologi RSGM UGM Prof. Soedomo. Status dental terbagi menjadi 5 kelompok, yaitu kategori I (bergigi lengkap), Kategori II (bergigi sebagian), Kategori III (tidak bergigi padarahang atas), Kategori IV (tidak bergigi pada rahang bawah) dan Kategori V (tidak bergigi total). Indeks MI dan PMI diukur dengan perangkat lunak EzDent-I Vatech. Rerata MI pada Kategori I adalah 3,73 ± 0,59, Kategori II adalah 3,59 ± 0,49, Kategori III adalah 3,54 ± 0,74, Kategori IV adalah 3,63 ± 0,27, dan Kategori V adalah 3,43 ± 0,78. Rerata PMI pada Kategori I adalah 0,33 ± 0,08, Kategori II adalah 0,32 ± 0,05, Kategori III adalah 0,31 ± 0,07, Kategori IVadalah 0,30 ± 0,03, dan Kategori V adalah 0,29 ± 0,06. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pengukuran MI (p = 0,440) dan PMI (p = 0,266) antar kelompok status dental (p > 0,05). Kondisi status dental tidak berpengaruh terhadap ketebalan korteks mandibula di area foramen mental, yang ditunjukkan dengan hasil pengukuran MI maupun PMI yang tidak berbeda secara signifikan pada semua kelompokstatus dental.
Comparison of Alveolar Bone Loss in First Molars Based on Age and Sex: Study on Panoramic Radiographs Farah Nabila Khoirunisa; Rini Widyaningrum; Silviana Farrah Diba; Rezmelia Sari
Interdental Jurnal Kedokteran Gigi (IJKG) Vol. 21 No. 1 (2025): Interdental Jurnal Kedokteran Gigi (IJKG)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46862/interdental.v21i1.9288

Abstract

Introduction: Alveolar bone loss (ABL) is a condition of osseous defect caused by periodontal disease or trauma from occlusion, cumulatively leading to weakening of the tooth-supporting structures and affecting tooth mobility. The first molars are among the most vulnerable teeth to ABL. Radiographically, alveolar bone loss occurs when the distance between the cementoenamel junction (CEJ) and the alveolar crest is more than 2 mm. This study aims to determine the differences in ABL between the first maxillary and mandibular molars on panoramic radiographs among various age and sex groups. Material and Methods: This analytical observational study utilized 100 digital panoramic radiographs from our dental hospital, which met the criteria and were grouped according to age: age group 1 (21-30 years), age group 2 (31-40 years), age group 3 (41-50 years), age group 4 (51-60 years), and age group 5 (>60 years). Each age group comprised 20 samples (10 males and 10 females). ABL measurements were carried out using Vatech's EzDent-I software. Results and Discussions: The mean ABL of first molars in the age group 1 to age group 5 were 0.03 ± 0.05 mm; 0.16±0.19mm; 0.35 ± 0.35 mm; 0.67 ± 0.46 mm; 1.00 ± 0.61 mm, respectively. The mean ABL of first molars in male and female groups were 0.45 ± 0.54 mm and 0.43 ± 0.50, respectively. The result of the Kruskal-Wallis test followed by the Mann-Whitney post hoc test showed a significant difference (p<0.05) in the ABL of first molars between all age groups, except the age group 4 with the age group 5. Meanwhile, the Mann-Whitney U test result reveals no significant difference in the ABL of first molars between males and females. Conclusion: Panoramic radiographs show a difference in the ABL of the first molars among age groups below 60-51. This difference is not influenced by sex.
Application of Photoacoustic Spectroscopy for Glucose Level Measurement: A Literature Review Pratama, Buky Wahyu; Widyaningrum, Rini; Setiawan, Andreas; Mitrayana, Mitrayana
Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science Vol. 5 No. 2 (2025): Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science
Publisher : Pandawa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47352/jmans.2774-3047.260

Abstract

This study addresses the critical need for effective glucose level measurement in managing diabetes mellitus (DM). DM is a serious, economically influential disease that has no cure at present, highlighting the magnitude of prevention, control, and monitoring of blood glucose levels. This study systematically examined 79 articles from Google Scholar and PubMed databases, focusing on non-invasive glucose measurement using the photoacoustic system. After eliminating duplicates, 27 articles were reviewed. Glucose solution was predominantly used as the primary sample. Fixed and tunable lasers, especially near-infrared (NIR) lasers, were highlighted due to their superior penetration and accuracy in glucose measurements. Signal-purification techniques were used to guarantee accurate detection by removing noise. The evaluation involved regression analysis and machine learning integration to determine glucose levels statistically. The choice of sampling sites in volunteers was a critical factor affecting measurement accuracy. The study demonstrated meaningful progress in the development of photoacoustic methods, particularly in monitoring DM.