Meril Valentine Manangkot
Program Studi Sarjana Keperawatan Dan Profesi Ners FK Universitas Udayana

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Hemodialysis Duration and Symptom Burden in Patients with Chronic Kidney Disease Putri, Ni Kadek Winda Handayani; Antari, Gusti Ayu Ary; Manangkot, Meril Valentine; Prapti, Ni Ketut Guru
Jendela Nursing Journal (JNJ) Vol 9 No 2 (2025): DECEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jnj.v9i2.13078

Abstract

Background: hemodialysis is the most common renal replacement therapy for patients with chronic kidney failure. While hemodialysis therapy can prolong the life expectancy of patients, this therapy can also cause side effects that become a symptom burden for patients. Symptom burden is the combination of physical and psychological symptoms felt by patient. The severity of symptom burden can be influenced by various factors, one of them is the length of the patient undergoing hemodialysis. Purpose: the purpose of this study was to determine the relationship between the length of hemodialysis and symptom burden in patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis at Buleleng Regional General Hospital. Methods: this study was a descriptive correlational study with a cross-sectional approach and involved 70 respondents with chronic kidney failure obtained through purposive sampling technique. The instrument in this research used the Chronic Kidney Disease Symptoms Burden Index (CKD-SBI) and data analysis used the Chi Square test. Results: most respondents had undergone hemodialysis for ≥1 year (72.9%). Patients experienced an average of 14 symptoms with a mean symptom burden score of 21.07. The majority had mild symptom burden (84.3%). A significant relationship was found between the length of hemodialysis and symptom burden (p = 0.000) Conclusion: the duration of hemodialysis is significantly associated with symptom burden in chronic kidney failure patients. These findings highlight the importance of monitoring symptom burden, particularly among long-term hemodialysis patients.
GAMBARAN KESIAPSIAGAAN RIVER GUIDE DALAM MEMBERI PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEGAWATDARURATAN WISATA AIR Kerti, Kadek Puspa; I Gusti Ngurah Juniartha; Manangkot, Meril Valentine
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p03

Abstract

Perkembangan sektor pariwisata di Bali semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini berkaitan juga dengan peningkatan risiko terjadinya kegawatdaruratan wisata di Bali, tak terkecuali pada wisata perairan. Angka kecelakaan water sport di Bali pada tahun 2019 terdapat sebanyak 265 wisatawan yang mengalami cedera seperti luka, dislokasi, fraktur, strain, dan sesak napas. Kehadiran kader siap siaga yang kompeten sangat diperlukan untuk melakukan pertolongan pra-hospital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesiapsiagaan river guide dalam memberi pertolongan pertama kegawatdaruratan wisata air di Telaga Waja Rafting Karangasem Bali. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional study. Penelitian ini menggunakan metode total sampling dengan 51 responden river guide di 3 company rafting di Telaga Waja Karangasem Bali. Nilai mean usia responden berada pada 34,37 tahun. Seluruh responden berjenis kelamin laki-laki (100%), mayoritas (88%) tamat SMA/SMK. Durasi bekerja responden memperoleh nilai median sebesar 120,00 bulan atau sekitar 10 tahun. Mayoritas memiliki pengalaman menolong wisatawan dan mengikuti pelatihan sebanyak 50 responden (98%). Nilai median pada skor total pengetahuan yakni 7,00. Nilai median skor total sikap adalah 31,00. Nilai median total skor rencana tanggap darurat yakni 3,00. Alat-alat P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan) di ketiga company banyak yang belum lengkap jumlahnya. Dengan adanya penelitian ini, maka diharapkan para river guide memiliki kesadaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Peneliti juga mengharapkan keterlibatan pihak lainnya dalam mendukung segala upaya guna meningkatkan kesiapsiagaan unsur masyarakat dalam menghadapi kasus kegawatdaruratan.
GAMBARAN SAFETY CULTURE DALAM KEJADIAN DAN PENANGANAN KECELAKAAN KERJA PADA DEPARTEMEN FOOD AND BEVERAGE DI HOTEL X Suryaningtyas, Ni Luh Putu Yasinta; Suarningsih, Ni Kadek Ayu; Manangkot, Meril Valentine; Prapti, Ni Ketut Guru
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p11

Abstract

Keperawatan pariwisata mengkaji berbagai aspek terkait dengan kesehatan wisatawan, kesehatan masyarakat setempat, dan penyedia layanan pariwisata, dengan sektor perhotelan sebagai layanan pariwisata terpopuler. Salah satu departemen yang krusial dalam industri perhotelan adalah Departemen Food and Beverage (F&B), yang bertanggung jawab menyediakan makanan dan minuman berkualitas. Akan tetapi, departemen ini juga menghadapi risiko tinggi terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja, penting untuk meningkatkan safety culture di sektor perhotelan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan safety culture dalam kejadian dan penanganan kecelakaan kerja pada Departemen F&B di Hotel X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner SCART yang telah dimodifikasi kepada 121 pegawai Departemen F&B dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan dengan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menemukan, mayoritas pegawai adalah laki-laki (56,2%) dengan usia 26-35 tahun (33,1%). Mayoritas pegawai memiliki latar pendidikan SMA/SMK (38,0%) dan pengalaman kerja lebih dari 5 tahun (62,0%). Terdapat 14,0% pegawai tidak pernah mengikuti pelatihan kuliner/hospitality dan sebanyak 22,3% pegawai tidak pernah mengikuti pelatihan K3. Insiden paling sering terjadi akibat benda tajam yaitu sebesar 30,6%, dengan mayoritas kecelakaan dikategorikan sebagai ringan (51,2%). Evaluasi safety culture Departemen F&B mendapatkan skor 739,25 yang mendapatkan kategori B. Pelatihan K3 secara konsisten dan berkala perlu dilakukan sehingga penyedia layanan pariwisata dapat mengoptimalkan kualitasnya.
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN ACADEMIC BURNOUT PADA SISWA SMA NEGERI 1 KUTA UTARA Warmayanti, Ni Ketut Ayu; Kamayani, Made Oka Ari; Astuti, Ika Widi; Manangkot, Meril Valentine
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p05

Abstract

Academic Burnout merupakan kondisi kelelahan emosional akibat tekanan akademik yang berkepanjangan, yang ditunjukkan melalui penurunan motivasi, rasa kompeten, dan keterlibatan dalam proses belajar. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisa korelasi antara harga diri terhadap academic burnout pada pelajar SMA Negeri 1 Kuta Utara. Jenis penelitian ini ialah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini ialah 713 pelajar kelas X SMAN 1 Kuta Utara. Sampel penelitian sejumlah 257 pelajar dihimpun melalui teknik stratified random sampling. Data penelitian diperoleh melalui instrumen Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) untuk mengukur academic burnout dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) untuk mengukur harga diri. Uji korelasi Spearman Rank digunakan dalam analisis data dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa 35,4% responden memiliki harga diri rendah dan 35,4% harga diri sedang, sementara 50,2% responden berada pada kategori academic burnout rendah. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai p = 0,000 dan r = -0,295, yang menunjukkan hubungan signifikan dengan kekuatan korelasi lemah hingga sedang dan arah hubungan negatif. Semakin tinggi harga diri seorang pelajar, tentunya kian rendah pula potensi dalam mengalami academic burnout.