Claim Missing Document
Check
Articles

PRODUKSI DAN KARAKTERISTIK KACANG PINTO YANG DIBERI PUPUK KANDANG SAPI DAN MIKORIZA Roni N.G.K.; N.N.C. Kusumawati; N.M. Witariadi; S.A. Lindawati; N.W. Siti
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 6 No 2 (2017): Pastura Vol. 6 No. 2 Tahun 2017
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.617 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2017.v06.i02.p11

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui produksi dan karakteristik kacang pinto (Arachis pintoi) yang diberi pupuk kandang sapi dan mikoriza serta kombinasinya dilakukan di rumah kaca menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola factorial dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk kandang sapi (tanpa,10 ton/ha, 20 ton/ha dan 30 ton/ha). Faktor kedua adalah dosis mikoriza yaitu (tanpa, 10 g/pot, 20 g/pot dan 30 g/pot), dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi pengaruh nyata (P<0,05) interaksi antara pupuk kandang sapi dan mikoriza pada peubah kolonisasi akar. Perlakuan pupuk kandang sapi berpengaruh nyata (P<0,05) pada peubah berat kering batang, berat kering daun, berat kering akar, berat kering tajuk, dan jumlah bintil akar. Perlakuan mikoriza berpengaruh nyata (P<0,05) pada peubah kolonisasi akar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa interaksi antara perlakuan pupuk hayati mikoriza dengan pupuk kandang sapi berpengaruh pada peubah kolonisasi akar, perlakuan pupuk kandang sapi dosis 20 ton/ha meningkatkan berat kering daun, batang, tajuk, akar dan jumlah bintil akar sama dengan dosis 30 ton/ha, dan perlakuan pupuk hayati mikoriza dosis 20 g/pot menghasilkan kolonisasi akar paling tinggi. Kata kunci: Pupuk kandang sapi, mikoriza, kacang pinto (Arachis pintoi)
PRODUCTION AND IN VITRO DIGESTIBILITY OF INTEGRATION Stenophrum secundatum GRASS WITH VARIOUS LEGUMINOSA IN COCONUT FARM N. N. C. Kusumawati; T. G. O. Susila; N. M. Witariadi; N. G. K. Roni; N. N. Yastini
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 9 No 2 (2020): Pastura Vol. 9 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.702 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2020.v09.i02.p05

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan untuk mendapatkan kombinasi terbaik Penanaman rumput Stenotaphrumsecundatum dengan beberapa leguminosa di perkebunan kelapa Pekutatan Jembrana. Rancangan yangdipakai adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima kombinasi perlakuan yaitu leguminosa Arachispintoi cv. Amarillo, Arachis sp. 93483, Desmodium ovalipolium CIAT 13089, Desmodium heterocarponCIAT 1311 dan Teramnus labialis masing-masing diintegrasikan dengan rumput S. secundatum Vanuatudengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan produksi bahan kering hijauan pada pemotongan ketigatertinggi pada kombinasi S. secundatum Vanuatu dengan A. pintoi cv. Amarillo yaitu 51,36 g/m nyata lebihtinggi (P<0,05) dari perlakuan lainnya. Produksi hijauan terendah pada campuran S. secundatum Vanuatudengan T. labialis yaitu 29,39 g/m2. Komposisi botani didominasi oleh rumput dan mengalami pluktuasimeningkat pada pemotongan kedua dan menurun pada pemotongan ketiga. Imbangan rumput leguminosayang proporsional adalah campuran S. secundatum Vanuatu dengan Arachis sp. 93483 dan dengan Arachispintoi cv. Amarillo masing-masing 79,45% : 17,69% dan 82,53% : 15, 59% pada pemotongan ketiga. Hasilkoefisien cerna bahan kering dan bahan organik pada pemotongan ketiga tertinggi pada kombinasi S.secundatum Vanuatu dengan A. pintoi cv. Amarillo yaitu 63.56% dan 70,65%. Berdasarkan hasil penelitiandapat disimpulkan bahwa tanaman kombinasi S. secundatum Vanuatu dengan leguminosa yang mempunyairhizoma dan stolon kuat (tumbuh merayap) mempunyai produksi dan kecernaan lebih tinggi dari padakombinasi dengan perakarannya dangkal dan tumbuh melilit (keatas). Kombinasi rumput S. SecundatumVanuatu dan leguminosa A. pintoi cv. Amarillo dan Arachis sp. 93483 cocok dikembangkan di kebun kelapa. Kata kunci: asosiasi, rumput, leguminosa, perkebunan kelapa
RESPON TANAMAN GAMAL (Gliricidia sepium) DAN INDIGOFERA (Indigofera zollingeriana) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ANORGANIK DAN ORGANIK Roni N.G.K.; S.A. Lindawati
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 8 No 1 (2018): Pastura Vol. 8 No. 1 Tahun 2018
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.456 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2018.v08.i01.p08

Abstract

The productivity of forage depends on the availability of nutrients in the soil where it is grown, so fertilization to replace harvested produce is absolutely necessary. This study aims to study the response of gamal and indigofera forage on application of inorganic and organic fertilizers. Research using a completely randomized design factorial pattern of two factors, the first factor is the type of plant (G = Gamal; I = Indigofera) and the second factor is the type of fertilizer (T = without Fertilizer; A = Inorganic fertilizer NPK; K = commercial organic fertilizer; O = conventional organic fertilizer; B = bioorganic fertilizer), repeated 4 times so that it consists of 40 experimental units. The variables observed were plant height, number of leaves, stem diameter, leaf dry weight, stem dry weight, total dry weight of leaves, ratio of dry weight of leaves/stems and leaf area per pot. The results showed that there was no interaction between plant species and types of fertilizer in influencing the response of gamal and indigofera plants. Plant species have a significant effect on stem diameter, while fertilizer types have a significant effect on plant height, leaf dry weight, total dry weight of leaves and leaf area per pot. Based on the results of the study it can be concluded that the response of gamal plants is similar to indigofera, all types of fertilizers can improve the response of plants and organic fertilizers produce the same crop response with inorganic fertilizers. Keywords: gamal, indigofera, inorganic fertilizer, organic fertilizer
PENGARUH BERBAGAI JENIS PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKTIVITAS RUMPUT Panicum maximum, Setaria splendida, dan Pennisetum purpureum Sahlan M; I W. Suarna; N.G.K. Roni
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 8 No 1 (2018): Pastura Vol. 8 No. 1 Tahun 2018
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (897.403 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2018.v08.i01.p04

Abstract

Forage is the main feed that contains almost all the nutrients needed by ruminants. This study aimed to determine the productivity of Panicum maximum, Setaria splendida Stapf, and Pennisetum purpureum grass were given organic fertilizer and knew the best organic fertilizer for each type of grass. The study used a completely randomized design in split plot pattern. The first factor (main plot) consists of three types of grass; Panicum maximum, Setaria splendida, and Pennisetum purpureum. The second factor (sub plot / subplot) is a type of organic fertilizer; without fertilizer, manure, compost, and vermicompost. Each treatment was repeated three times so that it consisted of 36 experimental units. The results showed that the interaction between the treatment of the type of organic fertilizer with the type of grass occurred in the variable number of tillers and the dry weight of the stem. The types of compost in significant can increase the number of tillers, the number of leaves, the dry weight of the stems, the dry weight of the leaves, and the total dry weight of forage, compared to without fertilizer. The type of grass has a significant effect on all observed variables. Based on the results of the study it can be concluded that the interaction between the treatment of the type of organic fertilizer with the type of grass affects the number of tillers and the dry weight of the stem, the three types of grass have different productivity, while among the organic fertilizers provided, compost gives the best results. Keywords: grass, manure, compost, vermicompost
Histologi Tubulus Seminiferus dan Kadar Testosteron Tikus yang Diberi Pakan Imbuhan Tepung Daun Kaliandra dan Kulit Nanas (HISTOLOGY OF SEMINIFEROUS TUBULES AND TESTOSTERONE LEVEL OF RAT GIVEN CALLIANDRA LEAF MEAL AND PINEAPPLE PEELS IN THE DIETS) Iriani Setyawati; I Gusti Ngurah Agung Dewantara Putra; Ni Gusti Ketut Roni
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.809 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.369

Abstract

Calliandra calothyrsus leaf contains 17-28% protein which is hihly potential for use as source of protein supplement for animal feed. However, the plants also contain high level (>10%) of condensed tannins as antinutritional effects which may reduce consumtion efficiency of diet. The addition of protease (bromelain) into feed containing tannin is expected to decrease the negative effects of tannins. Bromelain can be obtained from the pineapple plant (Ananas comosus) including on the peels. This study was conducted to determine the effect of calliandra tannin combined with bromelain protease of pineapple peels in the feed on testicular histology and testosterone level of rats feeded during the growth period. The feeding experiment on post-weaning male rats was conducted using a completely randomized factorial design (4 main factors x 4 subfactors). The main factors were calliandra leaf meal substitution of 0; 10; 17.5 and 25% in the diets and subfactors were addition of pineapple peels, 0; 4.35; 8.70 and 13.05 g/rat/day. Rats were divided into 16 groups and were feeded the diets for two months (during the growth period). The results showed the susbtituion of feed with calliandra leaf had no sigbnificant effecton the thickness of the seminiferous tubules, but it appeared to have significant effect on the histology of seminiferous tubules. Increased pineapple peels level in the diets containing calliandra decreased wall thickness of the seminiferous tubules of the rat testes, indicating that bromalein fastened the maturation of spermatozoa. The addition of pineapple peels into the diet containing calliandra had a significant interaction effect on testoteron levels of male rats, but the testoteron levels among all treated rats were still within the normal range. ABSTRAK Daun kaliandra (Calliandra calothyrsus) mengandung protein 17-28% sehingga potensial sebagai sumber protein pakan ternak, namun tanaman ini mengandung condensed tannin cukup tinggi (>10%) yang bersifat antinutrisi. Penambahan enzim protease (bromelin) pada pakan yang mengandung tanin diharapkan dapat mengatasi dampak negatif tanin. Bromelin dapat diperoleh dari tanaman nanas (Ananas comosus) termasuk dari kulit buahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tanin daun kaliandra dalam pakan yang dikombinasikan dengan protease bromelin dari limbah kulit nanas terhadap histologi testis dan kadar hormon testosteron tikus jika diberikan pada masa pertumbuhan. Penelitian ini merupakan percobaan pakan pada tikus jantan pascasapih selama masa pertumbuhan dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial berjenjang 4x4 dengan level substitusi tepung daun kaliandra 0; 10; 17,5 dan 25% dalam ransum (main factor) dan dosis aditif kulit nanas 0; 4,35; 8,70 dan 13,05 g/ekor/hari (sub factor). Tikus dibagi menjadi 16 unit percobaan dan diberi perlakuan ransum selama dua bulan (masa pertumbuhan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tebal dinding tubulus seminiferus testis tikus tidak berbeda nyata, namun tampak adanya perbedaan pada gambaran histologi yang meliputi struktur membran basal, susunan antar sel-sel spermatogenik pada dinding tubulus, serta gambaran sel-sel spermatozoa di dalam lumen tubulus. Peningkatan dosis kulit nanas dalam ransum yang mengandung kaliandra menurunkan tebal dinding tubulus seminiferus. Aditif kulit nanas ke dalam ransum yang mengandung kaliandra menunjukkan interaksi yang memengaruhi kadar hormon reproduksi dengan menurunkan kadar hormon testosteron tikus jantan walaupun masih dalam kisaran normal.
AKTIVITAS HATI TIKUS (RATTUS SP) YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG TEPUNG DAUN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus) DAN KULIT NANAS (Ananas comosus) SELAMA MASA PERTUMBUHAN IRIANI SETYAWATI; I GUSTI NGURAH AGUNG DEWANTARA PUTRA; NI GUSTI KETUT RONI
Jurnal Biologi Udayana Vol 21 No 1 (2017): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.7 KB) | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2017.vol21.i01.p07

Abstract

Calliandra calothyrsus leaves contain 17-28% protein thus potential as a protein source in animal diet. However, it also contain a high antinutrition of condensed tannins (>10%). The addition of protease enzymes (bromelain) in the diet containing tannins is expected to overcome the negative effects of tannins. Bromelain can be obtained from the pineapple plant (Ananas comosus) including the peel. This study was a feeding experiment on weaned male and female rats during the growth period. This study used a completely randomized design of 4x4 factorial design. The main factor was Calliandra leaf meal substitution levels of 0; 10; 17.5 and 25% in the diet. The sub factor was pineapple peel additive levels of 0; 4.35; 8.70 and 13.05 g/rat/day. Weaned rats were divided into 16 groups and they were fed for two months during growth period. The study showed that there was no interaction between calliandra leaves and pineapple peels on the rat liver activity including the blood levels of SGOT and SGPT levels. SGPT and SGOT levels were not affected by all levels of pineapple peels in the diets. All calliandra levels did not affect the level of SGOT, but 17.5 and 25% calliandra in the diets increased SGPT level.
Produktivitas Tanaman Indigofera zollingeriana yang Diberi Beberapa Jenis dan Dosis Air Cucian Beras Sena, J. O.; N. M. Witariadi; N G. K. Roni
Jurnal Peternakan Tropika Vol 7 No 3 (2019): Issue 7 No. 3 - 2019
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.33 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas tanaman Indigofera zollingeriana yang diberi jenis dan dosis air cucian beras. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Stasiun Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Udayana, jalan raya Sesetan gang Markisa Denpasar, selama 3 bulan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah jenis air cucian beras terdiri atas C?: air cucian beras segar dan C?: air cucian beras fermentasi, sedangkan faktor kedua adalah dosis air cucian beras terdiri atas D?: tanpa air cucian beras/kontrol, D?: 50 kg N/ha, D?: 100 kg N/ha, D?: 150 kg N/ha, D?: 200 kg N/ha, D?: 250 kg N/ha. Dari rancangan tersebut didapat 12 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali sehingga didapat 36 unit percobaan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bintil akar, jumlah cabang, berat kering daun, berat kering batang, berat kering akar, berat kering total hijauan, luas daun per pot, nisbah berat kering daun dengan berat kering batang dan nisbah berat kering total hijauan, dengan berat kering akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor jenis air cucian beras secara statistik berpengaruh nyata terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering daun, berat kering batang, berat kering akar, berat kering total hijauan dan luas daun perpot, sedangkan faktor dosis air cucian beras secara statistik berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, jumlah cabang, berat kering daun dan luas daun perpot. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa produktivitas tanaman Indigofera zollingeriana yang diberi air cucian beras segar lebih baik dibandingkan air cucian beras fermentasi. Peningkatan dosis air cucian beras menurunkan produktivitas tanaman Indigofera zollingeriana. Pada dosis D? memberikan hasil yang terbaik kecuali pada jumlah bintil akar, nisbah berat kering daun dengan berat kering batang dan nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar. Terjadi interaksi antara jenis dan dosis air cucian beras terhadap variabel tinggi tanaman, berat kering daun dan luas daun perpot. Kata kunci: produktivitas, Indigofera zollingeriana, air cucian beras
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI INDIGOFERA (Indigofera zollingeriana) PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK BIO-SLURRY Jaya I W. D.; N. G. K. Roni
Jurnal Peternakan Tropika Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aimed to determine the growth and production of Indigofera zollingeriana at various dosages of bioslurry fertilizer was conducted for 10 weeks at Research Station Faculty of Animal Husbandry Udayana University at Pengotan Village, Bangli Districts, Bangli regency. The study used randomized block design (RBD) with four doses of offering bioslurry fertilizer as treatments: D0: without bioslurry fertilizer, D5: 5 ton/ha, D10: 10 ton/ha and D15: 15 ton/ha. The four treatments ware devided in four blocks as replicate, so there ware 16 plots as an experiment unit. Variables observed ware growth, production and characteristics. Result of the study showed that the offering of bioslurry fertilizer could increase the growth of Indigofera zollingeriana and tends to increase it production. Dose 5 tons/ha, 10 tons/ha, and 15 ton/ha increase the number of branches and number of leaves compared to control.  Dose bioslurry 5 ton/ha results leaf dry weight, stem dry weight, total dry weight of forage and leaf area tended (P>0.05) was higher than other treatments. Based on the results of the study it concluded that the bioslurry fertilizer could increase growth Indigofera zollingeriana. Dose 5 tons/ha, 10 tons/ha, and 15 ton/ha were increase the number of branches and number of leaves compared to control, and production of the most well Indigofera zollingeriana produced on the treatment of bio-slurry 5 ton/ha.
POPULASI BAKTERI PELARUT FOSFAT DAN KARAKTERISTIK BERBAGAI JENIS MEDIA TANAM DAN PUPUK ORGANIK Putri S. S.; I K. M. Budiasa; N. G. K. Roni
Jurnal Peternakan Tropika Vol 7 No 3 (2019): Issue 7 No. 3 - 2019
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.135 KB) | DOI: 10.24843/ejpt.2019.v07.i03.p010

Abstract

Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan salah satu jenis mikroba tanah yang berperan penting dalam membantu penyediaan unsur hara dalam tanah terutama fosfor (P). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data total plate count (TPC), populasi bakteri pelarut fosfat (BPF), derajat keasaman (pH) dan suhu pada berbagai jenis media tanam dan pupuk organik. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), terdiri atas tujuh perlakuan yaitu: tanah (M1), pupuk kotoran sapi (M2), slurry (M3), bio-slurry (M4), tanah yang dipupuk kotoran sapi (M5), tanah yang dipupuk slurry (M6), dan tanah yang dipupuk bio-slurry (M7). Setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 21 unit percobaan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu total plate count (TPC), bakteri pelarut fosfat (BPF), derajat keasaman (pH), dan suhu. Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis menggunakan analisis sidik ragam, apabila terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) maka analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TPC diperoleh hasil berkisar 9,40 × 107 – 1,84 × 109 cfu/g, BPF diperoleh hasil berkisar. 7,23 × 106 – 1,77 × 108 cfu/g. Derajat keasaman (pH) tertinggi pada perlakuan M5 sebesar 7,00. Suhu tertiggi pada perlakuan M3 dan M4 sebesar 31,00oC. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa populasi total plate count (TPC) dan populasi bakteri pelarut fosfat (BPF) paling banyak pada pupuk organik bio-slurry, derajat keasaman (pH) meningkat pada media tanam pupuk kotoran sapi dan pupuk organik slurry dan bio-slurry, sedangkan suhu meningkat pada perlakuan pupuk organik kotoran sapi, slurry, dan bio-slurry. Kata kunci: Bakteri pelarut fosfat, pupuk kotoran sapi, slurry, bio-slurry
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN Indigofera zollingeriana PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK FOSFAT Setyawan Y.; Roni N G.K.; Kusumawati N N.C.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 4 No 3 (2016)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi Indigofera  zollingeriana pada dosis pupuk fosfat 50, 100, 150 dan 200 kg/ha, dilakukan di Stasiun Penelitian Fakultas Peternakan  Universitas Udayana, Jalan Raya Sesetan Gang Markisa Denpasar, selama 15 minggu. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dosis pupuk fosfat dengan 5 kali ulangan sehingga terdapat 25 unit percobaan. Kelima perlakuan tersebut adalah  P0 (0 kg/ha), P1 (50 kg/ha), P2 (100 kg/ha), P3 (150 kg/ha) dan P4 (200 kg/ha). Variabel yang diamati antara lain variabel pertumbuhan, variabel produksi dan variabel karakteristik tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk fosfat SP-36 tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman Indigofera zollingeriana, tetapi berpengaruh terhadap produksi berat kering akar dan nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar tanaman. Pupuk fosfat dengan dosis 50 kg/ha menghasilkan produksi berat kering akar paling tinggi.