Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

The EFFECTIVENESS OF ADDING CORE STABILITY EXERCISE TO MICROWAVE DIATHERMY, ULTRASOUND AND MASSAGE INTERVENTION IN IMPROVING FUNCTIONAL ABILITY IN PATIENTS WITH OSTEOARTHRITIS GENU Made Widnyana; I Putu Yudi Pramana Putra; I Made Niko Winaya; Anak Agung Gede Eka Septian Utama; I Dewa Gede Alit Kamayoga
Sport and Fitness Journal Vol 11 No 2 (2023): Volume 11, No.2, May 2023
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Osteoarthritis (OA) genu is a degenerative musculoskeletal system disorder in the knee joint which is characterized by slow and progressive loss of joint cartilage. OA genu causes disability and decreased functional abilities. The purpose of this study was to determine the effectiveness of adding core stability exercise to microwave diathermy, ultrasound and massage interventions in improving functional abilities in patients with OA genu. The research method used was an experimental pre-test and post-test control group design. There are two groups selected randomly with the block permutation technique. The treatment group consisted of 18 samples receiving core stability exercise, microwave diathermy, ultrasound and massage. The control group, totaling 18 samples, received microwave diathermy, ultrasound and massage. Functional ability was measured by the WOMAC questionnaire (Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index). The research was conducted at a private physiotherapy clinic in Denpasar. The results of the study after the Paired T-Test was carried out in each group with a p value <0.05, this indicated that there was a significant difference between the results of the pre-test and post-test in each group. The different test between groups was carried out by the Independent Sample T-Test, obtaining a p value <0.05, this indicates that there is a significant difference between the treatment group and the control group. The conclusion of this study is that the addition of core stability exercise to microwave diathermy, ultrasound and massage interventions further enhances functional activity in OA genu patients. The implications of theoretical and practical research as additional knowledge and guidelines in providing effective interventions for OA genu conditions.
PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION DAN OLAHRAGA AEROBIK DAPAT MENINGKATKAN KUALITAS TIDUR PADA MAHASISWA KEDOKTERAN DI MASA PANDEMI COVID-19 Luh Putu Miyako Mutiara Sari; I Putu Yudi Pramana Putra; I Putu Gede Adiatmika; Anak Agung Gede Angga Puspa Negara
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 11 No 1 (2023): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor and Profession of Physiotherapy Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2023.v11.i01.p11

Abstract

Pendahuluan: Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur yang meliputi aspek kuantitatif dan kualitatif tidur seperti lamanya tidur, waktu yang diperlukan untuk bisa tidur, frekuensi terbangun, dan aspek subjektif seperti kedalaman dan kepulasan tidur. Mahasiswa kedokteran adalah salah satu subkelompok dari populasi yang berpotensi mengalami kurang tidur karena memiliki beban akademis yang besar. Pandemi Covid-19 membuat banyak perubahan pada rutinitas dan lingkungan sekitar yang menimbulkan perasaan tidak berdaya, kesepian, dan khawatir yang membuat kualitas tidur menurun. Rendahnya kualitas tidur pada mahasiswa dapat mempengaruhi kualitas belajar, kesehatan mental dan fisik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efektivitas pemberian Progressive Muscle Relaxation (PMR) dibandingkan dengan olahraga aerobik dalam meningkatkan kualitas tidur pada mahasiswa kedokteran di masa pandemi Covid-19. Metode: Penelitian ini merupakan quasi eksperimental dengan rancangan pre post test two group dengan teknik sampling random sampling. Sampel merupakan mahsiswa Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana usia 18-22 tahun yang memiliki kualitas tidur rendah sejumlah 20 orang. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok Progressive Muscle Relaxation (PMR) dan kelompok aerobik masing-masing 10 orang. Masing-masing kelompok diberikan intervensi seminggu 3 kali selama 2 minggu. Kualitas tidur diukur menggunakan kuisioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil: Hasil uji Paired Sample T-test diperoleh nilai p=0,001(p<0,05) pada kelompok PMR dan p=0,001 (p<0,05) pada kelompok aerobik. Sedangkan hasil uji Independent Sample T-test diperoleh nilai p=0,564 (p>0,05) Simpulan: Progressive Muscle Relaxation dan olahraga aerobik sama-sama dapat meningkatkan kualitas tidur pada mahasiswa kedokteran di masa pandemi Covid-19 Kata Kunci: progressive muscle relaxation, pmr, aerobik, kualitas tidur
GAMBARAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL DAN RISIKO KERJA PADA PEGAWAI ADMINISTRASI DI RSUP SANGLAH: STUDI DESKRIPTIF Rizki Cristine Hasibuan; Anak Agung Angga Puspa Negara; I Putu Yudi Pramana Putra; Ari Wibawa
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 11 No 1 (2023): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor and Profession of Physiotherapy Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2023.v11.i01.p12

Abstract

Pendahuluan: Gangguan muskuloskeletal merupakan suatu permasalahan yang terjadi akibat terganggunya fungsi normal sistem muskuloskeletal, karena paparan yang terjadi secara berulang dan disebabkan oleh banyak faktor risiko kerja, salah satunya adalah postur kerja. Pada pegawai administrasi RSUP Sanglah, postur duduk merupakan posisi yang selalu dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan statis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan muskuloskeletal dan risiko kerja pada pegawai administrasi Di RSUP Sanglah. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan oktober 2021. Sampel pada penelitian ini adalah pegawai administrasi di RSUP Sanglah, Denpasar Selatan, Bali dengan jumlah 71 responden yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi, eksklusi, dan drop out dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Peneliti mengevaluasi keluhan muskuloskeletal dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) dan mengevaluasi risiko kerja dengan menggunakan Rapid Upper Limb Assessment (RULA). Teknik analisa data pada penelitian ini adalah analisis univariat, yaitu usia, jenis kelamin, keluhan muskuloskeletal dan risiko kerja. Hasil: Hasil analisis univariat didapatkan bahwa prevalensi keluhan muskuloskeletal pada pegawai administrasi RSUP Sanglah, yaitu keluhan pada upper cervical (leher) 63,4%, tengkuk 69%, bahu kiri 54,9%, bahu kanan 53,5%, punggung 63,3%, pinggang 64,7%, pinggul 53,5% dan pantat/bokong 60,5%. Sedangkan, prevalensi risiko kerja pada pegawai, yaitu risiko rendah 5,6%, risiko sedang 50,7%, dan risiko tinggi 43,7%. Simpulan: Prevalensi keluhan muskuloskeletal yang sering dialami pada pegawai administrasi RSUP Sanglah adalah keluhan pada ekstremitas atas dan paling banyak memiliki risiko kerja sedang. Kata Kunci: keluhan muskuloskeletal, risiko kerja, pegawai administrasi
PENURUNAN FUNGSI KOGNITIF MEMPENGARUHI TERJADINYA PENINGKATAN RESIKO JATUH PADA LANSIA DI DESA SUMERTA: STUDI CROSS-SECTIONAL Tabita Febyola Wijaya; I Putu Yudi Pramana Putra; Gede Parta Kinandana; Nila Wahyuni
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 11 No 3 (2023): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor and Profession of Physiotherapy Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2023.v11.i03.p09

Abstract

Pendahuluan: Jatuh merupakan kejadian yang sering dialami oleh lansia. Salah satu penyebab peningkatan resiko jatuh pada lansia adalah adanya penurunan fungsi kognitif yang terjadi karena adanya proses degeneratif. Fungsi kognitif ini dibutuhkan oleh lansia untuk melakukan tugas, seperti: atensi, psikomotor, memori, visuospasial, bahasa, dan fungsi eksekutif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan dan arah hubungan antar kedua variabel pada lansia di Desa Sumerta, Denpasar Timur, Bali. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di wilayah Banjar Ketapian Kelod, Desa Sumerta pada bulan Desember 2021 secara offline dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Simple random sampling merupakan Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan jumlah sampel sebanyak 59 sampel. Variabel dependen yang diukur adalah resiko jatuh menggunakan Timed Up and Go Test (tes TUG). Variabel independent yang diukur adalah fungsi kognitif dengan alat ukur Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (MoCA-Ina). Uji bivariat spearman rank correlation digunakan dalam menganalisis hubungan fungsi kognitif terhadap resiko jatuh pada lansia di Desa Sumerta. Hasil: Hasil analisis data menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara nilai fungsi kognitif dan nilai resiko jatuh pada lansia di Desa Sumerta sebesar 0,000 (p< 0,01) dan nilai correlation coefficient negatif, yaitu -0,681 menunjukkan arah hubungan kedua variabel bersifat negatif atau tidak searah. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi kognitif dengan risiko jatuh pada lansia di Desa Sumerta, dan arah korelasinya adalah negatif atau tidak searah. Kata Kunci: MoCA-Ina, Tes TUG, fungsi kognitif, resiko jatuh, lansia
Kualitas Tidur Berhubungan dengan Fungsi Kognitif pada Lansia di Desa Guwang: Studi Obervasional Ni Wayan Bintang Mida Suputri; Ari Wibawa; I Putu Yudi Pramana Putra; Putu Ayu Sita Saraswati
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 12 No 1 (2024): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor and Profession of Physiotherapy Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2024.v12.i01.p03

Abstract

Pendahuluan: Menua merupakan kondisi yang tak terelakkan dalam perjalanan kehidupan manusia. Seseorang yang memasuki usia lansia menjadi rentan terhadap permasalahan kesehatan. Menurut sebuah studi komunitas, prevalensi permasalahan fungsi kognitif pada lansia mencapai 17-34%. Fungsi kognitif merujuk pada proses mental yang terlibat dalam perolehan pengetahuan, manipulasi informasi, dan pemikiran. Berbagai aspek, termasuk kualitas tidur, dapat memengaruhi fungsi kognitif. Kualitas tidur didefinisikan sebagai tingkat kesulitan seseorang dalam memulai dan mempertahankan tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dan fungsi kognitif pada lansia di Perkumpulan Lansia Desa Guwang, Sukawati, Gianyar. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 66 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data penelitian terdiri dari skor Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan Mini-Mental State Examination (MMSE). Hasil: Setelah dilakukan analisis data, diketahui bahwa mayoritas subjek penelitian merupakan lansia dengan kualitas tidur baik, sebanyak 56,1% (n=37), dan fungsi kognitif baik, sebanyak 66,7% (n=44). Uji hipotesis menggunakan spearman’s rho menghasilkan nilai p = 0,001 (p<0,05) dengan koefisien korelasi sebesar 0,406. Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan dan korelasi sedang secara searah antara kualitas tidur dan fungsi kognitif pada lansia di Perkumpulan Lansia Desa Guwang, Sukawati, Gianyar. Kata Kunci: kualitas tidur, fungsi kognitif, lansia
Sedentary Lifestyle Berhubungan dengan Massa Lemak Tubuh pada Mahasiswa Universitas Udayana Ni Wayan Anggita Diana Krisna Iswari; Sayu Aryantari Putri Thanaya; I Putu Yudi Pramana Putra; Ari Wibawa
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 12 No 2 (2024): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor and Profession of Physiotherapy Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/mifi.2024.v12.i02.p20

Abstract

Pendahuluan: Kemajuan teknologi sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Adanya kemajuan teknologi, dapat memberikan kemudahan dalam melakukan berbagai aktivitas. Salah satu contohnya yaitu pada bidang pendidikan yang digunakan sebagai media pembelajaran dan sebagai media informasi. Saat ini, terjadi peningkatan aktivitas menatap layar pada mahasiswa yang menyebabkan aktivitas fisik menjadi berkurang, sehingga dapat mengubah gaya hidup menjadi sedentary lifestyle. Sedentary lifestyle adalah suatu kebiasaan seseorang sedikit melakukan aktivitas fisik dalam kehidupannya. Kurangnya melakukan aktivitas fisik dapat meningkatkan massa lemak tubuh seseorang. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik yang menggunakan desain cross sectional dengan teknik pengambilan data menggunakan teknik non probability sampling dengan metode purposive sampling. Total sampel yang diperoleh adalah 72 sampel sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Pengumpulan data dilakukan dengan menghitung tingkat sedentary lifestyle dengan The Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ) serta mengukur massa lemak tubuh dengan menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Hasil: Hasil analisis Chi Square didapatkan p=0,000 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara sedentary lifestyle dengan massa lemak tubuh. Hasil analisis Spearmen rho didapatkan nilai r=0,710 dan p=0,000 yang menunjukkan terdapat hubungan yang kuat dan searah yang bermakna antara sedentary lifestyle dengan massa lemak tubuh. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan sedentary lifestyle dengan massa lemak tubuh mahasiswa Universitas Udayana. Kata Kunci: gaya hidup sedentari, massa lemak tubuh, mahasiswa, teknologi
The effectiveness of core stability addition in short wave diathermy and star excursion balance exercise in improving the functional ability of chronic ankle instability among taekwondo athletes Kamayoga, I Dewa Gede Alit; Utama, A.A. Gd Eka Septian; M. Widnyana; I Putu Yudi Pramana Putra
Physical Therapy Journal of Indonesia Vol. 4 No. 2 (2023): July-December 2023
Publisher : Universitas Udayana dan Diaspora Taipei Medical University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/ptji.v4i2.122

Abstract

Background: Taekwondo is based on sudden and violent attacks by the hands and feet; therefore, an injury can occur. Ankle sprains account for 15% to 20.8% of all sports injuries, and 72% of people who have experienced an ankle sprain report experiencing chronic ankle instability. Star excursion balance exercise is an exercise that increases the functional ability of the ankle. The shortwave diathermy intervention assists the ligaments' healing process as core stability exercise is necessary to activate postural control, which is a valuable component in treating chronic ankle instability. This study aimed to determine the effectiveness of adding core stability to shortwave diathermy and star excursion balance exercise in improving the functional ability of chronic ankle instability in taekwondo. Methods: The research used experimental research with a randomized pretest-posttest control group design. The technique used for sampling in this study is simple random sampling. There are two sample groups to be studied. The first group was given additional core stability through shortwave diathermy and star excursion balance exercise, and the second group was assigned the intervention of shortwave diathermy and star excursion balance exercise. The functional ability of the ankle is measured using the foot ankle disability index (FADI). There were 18 people in each group. The study was conducted three times a week for a month. Results: The results showed significant differences in the two groups with p = 0.000. However, the intervention group was better at improving the functional ability of chronic ankle instability in taekwondo with a value of p = 0.002. Conclusion: This study concludes that there are differences in adding core stability to the shortwave diathermy intervention and star excursion balance exercise in improving the functional ability of chronic ankle instability in taekwondo.
The relationship between long standing and hallux valgus degrees in market traders Ni Nyoman Jesica Salsabilla Maharani; I Putu Yudi Pramana Putra; Ni Wayan Tianing; Made Hendra Satria Nugraha
Physical Therapy Journal of Indonesia Vol. 4 No. 2 (2023): July-December 2023
Publisher : Universitas Udayana dan Diaspora Taipei Medical University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/ptji.v4i2.158

Abstract

Background: Hallux valgus is a deformity in the foot or a disorder characterized by a change in shape in the first metatarsophalangeal joint deviating towards the medial and the first big toe deviating laterally with rotation, symptoms caused such as swelling, redness, and pain. Long standing is one of the risk factors for hallux valgus. The recommended duration of standing is around 2.5 hours per day, and the increase in the recommendation may have a greater risk of getting Hallux valgus. The purpose of this study was to determine the relationship between long-standing and the degree of hallux valgus in market traders in Sanur, Bali. Methods: This study used cross-sectional analytical observation with a sample of market traders in Sanur totaling 31 people. The measuring instruments used to determine hallux valgus are the goniometer and Manchester scale. Data analysis in this study used the Spearman rho test. Results: Based on data analysis in the study, a positive correlation number of 0.506 was obtained with a significance value of p= 0.004, which means that there was a significant positive correlation between long-standing variables and the degree of hallux valgus in market traders in Sanur. Conclusion: There was a significant positive relationship between the long standing and the degree of Hallux valgus market traders in Sanur, Bali.
The relationship between flat foot and lower limb muscle strength in teenage basketball athletes Pratika Dewi, Ni Luh Kadek Cindy; Sayu Aryantari Putri Thanaya; I Putu Yudi Pramana Putra; Anak Agung Gede Angga Puspa Negara
Physical Therapy Journal of Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): July-December 2024
Publisher : Universitas Udayana dan Diaspora Taipei Medical University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/ptji.v5i2.202

Abstract

Background: Teenage basketball athletes may experience problems with lower limb muscle strength, which can affect their performance due to factors such as the shape of the arches pedis, muscle length and shortness, fatigue levels, muscle contraction ability, and the presence of flat feet, where the medial arch is flattened against the ground. This study aimed to determine the relationship between flat feet and lower limb muscle strength in adolescent basketball athletes in Tabanan Regency. Methods: This study's design was observational analytic with a cross-sectional study direction. It was conducted at junior high and high schools in Tabanan Regency and involved 62 teenage basketball athletes. The inclusion criteria were basketball athletes with flat feet aged 14-17, while the exclusion criteria were a history of fracture or lower limb injury. Lower limb muscle strength was measured using a leg dynamometer, while flat foot was assessed using a wet footprint test. Results: The result of the association test using Spearman’s Rho Test obtained a correlation coefficient value (r) -0.173, which means a unidirectional relationship with a very weak correlation level with a p-value=0.180 (p<0.05), which means there is no significant relationship. Conclusion: There was no relationship between flat foot and lower limb muscle strength in teenage basketball athletes. The correlation coefficient value indicates a unidirectional relationship with a very weak correlation level.
HUBUNGAN WAKTU RETURN TO SPORT DAN KEKUATAN OTOT DENGAN FUNGSI LUTUT DAN DAYA TAHAN OTOT PASCA ANTERIOR CRUCIATE LIGAMENT RECONSTRUCTION: Pendahuluan, Metode Penelitian, Hasil, Pembahasan, Simpulan, dan Daftar Pustaka I Dewa Ayu Agung Friska Putri Indraswari; Kurniawati, Ida; I Putu Yudi Pramana Putra
Kinetic and Physiotherapy Comprehensive Vol 2 No 2 (2023): Volume 2 No. 2, August 2023
Publisher : PT. Kesehatan Gerak Fungsi Tubuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62004/kpc.v2i2.21

Abstract

Background: Anterior cruciate ligament reconstruction (ACLR) is a surgical procedure performed to replace the ligament by grafting tissue that aims to restore stability to the knee joint. Knee function is impaired because the ligament that maintains knee stability is torn. Good knee function is also a reason to return to sports. Decreased muscle strength and endurance can occur in ACL patients, especially those who have undergone ACLR surgery. In order to be able to return to sport is still determined based on time after surgery and improved knee function. This study aimed to determine the relationship of return to sport time and muscle strength with knee function and muscular endurance after ACLR. Methods: The research method used a literature review compiled using secondary data from relevant journals. The search for journal literature was carried out online through PubMed and Google Scholar using the keywords "ACL", "return to sport", "function", "strength", and "endurance". Results: Based on the results of the journal review, it was found that muscle strength and endurance will decrease, which will affect knee function. Knee function, in general, is still one of the factors determining return to sport time. Conclusion: This study concluded that there were possible problems that arise due to ACLR, such as decreased muscle strength and muscle endurance, which could affect knee function and return to sports time.