Eny Puspani
Faculty Of Veterinary Science, Udayana University, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH TINGKAT PENGGANTIAN RANSUM KOMERSIAL DENGAN JAGUNG TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS BROILER YANG DIPELIHARA PADA KETINGGIAN TEMPAT ( ALTITUDE ) YANG BERBEDA PUSPANI, ENY; NURIYASA, I.M.; CANDRAWATI, DSK.P.M.A.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 14, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.315 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat yaitu di banjar Pande Desa Dajan Peken Tabanan dengan ketinggiantempat 50 m dari permukaan laut (dpl) merupakan dataran rendah dan di Stasiun Penelitian Fapet Unud, di DesaSobangan yang merupakan dataran sedang, dengan ketinggian tempat 300 m dpl. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui tingkat penggantian ransum komersial dengan jagung, yang paling sesuai pada ketinggian tempatpemeliharaan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola split-splot 2×3 dengan 3 kali ulangan.Sebagai main plot adalah Altitude atau ketinggian tempat pemeliharaan (A) yang terdiri dari daerah dataranrendah (A1) dan daerah dataran sedang (A2). Sebagai petak tambahan sub plot adalah tingkat penggantian ransumkomersial (R) yang terdiri dari (R0) 100% ransum komersial, tingkat penggantian ransum komersial dengan 10%jagung (R1) dan tingkat penggantian ransum komersial dengan 20% jagung (R2). Peubah yang diamati adalahberat hidup, berat karkas, prosentase karkas, prosentase komposisi fisik karkas (tulang, daging, lemak), serta datapenunjang yaitu suhu udara, kelembaban udara, megap-megap, konsumsi ransum, konsumsi energi, konsumsiprotein dan FCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan ayam pedaging pada perlakuan (A2) menghasilkanberat hidup, berat karkas, prosentase daging karkas nyata lebih tinggi (P<0,05) dari perlakuan (A1). Ayampedaging yang mendapat perlakuan R0 menghasilkan berat hidup, prosentase karkas dan prosentase lemak yangnyata lebih tinggi (P<0,05) dari perlakuan (R2). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tidakterjadi interaksi yang nyata antara ketinggian tempat pemeliharaan dengan tingkat penggantian ransum komersialdengan jagung terhadap komposisi fisik karkas ayam pedaging.
PENGARUH TIPE LANTAI KANDANG DAN KEPADATAN TERNAK TERHADAP TABIAT MAKAN AYAM PEDAGING UMUR 2-6 MINGGU PUSPANI, ENY; NURIYASA, I.M.; WIBAWA, AAP. PUTRA; CANDRAWATI, DPMA.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 11 No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.291 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tipe lantai dan kepadatan ternak yang berbeda terhadap tabiat makan ayam pedaging telah dilaksanakan di Tabanan, Bali. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial 3×3 dalam 3 blok. Faktor pertama adalah tipe lantai kandang yang terdiri dari litter sekam di tanah (L1), lantai slat bambu (L2) dan lantai litter panggung (L3). Faktor kedua adalah kepadatan ternak yang terdiri dari 10 ekor/m2 (P1), 12 ekor/m2 (P2), dan 14 ekor/m2 (P3). Hasil penelitian tabiat makan menunjukkan bahwa frekuensi makan, frekuensi minum, frekuensi istirahat pada L1 nyata lebih tinggi (P<0,05) dari L2. Lama makan pada L2 lebih lama dari L1 dan L3 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Lama minum pada L3 nyata lebih lama (P<0,05) dari L1 dan L2. Lama istirahat pada L1 nyata lebih lama (P<0,05) dari L2. Lama panting pada L2 nyata lebih sedikit (P<0,05) dari L1 dan L3. Frekuensi makan pada P1 nyata lebih tinggi (P<0,05) dari P2 dan P3. Frekuensi minum, frekuensi istirahat pada P1 lebih tinggi dari P2 dan P3 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Lama makan pada P1 nyata lebih lama (P<0,05) dari P2 dan P3. Lama minum pada P2 nyata lebih lama (P<0,05) dari P1 dan P3. Lama istirahat dan lama panting pada P3 lebih lama dari P1 dan P2 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi antara tipe lantai dan kepadatan ternak terhadap tabiat makan, lantai slat bambu dan litter panggung menghasilkan tabiat makan yan lebih baik dibandingkan litter sekam di tanah. Kepadatan ternak 10 ekor/m2 menghasilkan tabiat makan lebih baik daripada 12 ekor/m2 dan 14 ekor/m2. THE EFFECT OF FLOOR TYPE AND BIRDS DENSITY ON FEEDING BEHAVIOUR OF BROILER AGED 2-6 WEEKS ABSTRACT The experiment aimed to study the effect of floor type and birds density on feeding behaviour of broilers. This experiment was carried out at Tabanan, Bali. The experiment used a completely randomized block design (CRBD) with factorial arrangement (3x3) in tree blocks. The first factor was floor type consisted of deep litter in the ground (L1), bamboo slat floor (L2) and litter podium floor (L3). The second factor was birds density consisted of 10 birds/m¬2 (P1), 12 birds/m2 (P2), and 14 birds/m2 (P3). The results of the experiment showed that the frequency of the eating, the drinking, and the resting at L1 were significantly higher (P<0.05) than L2. Time of feeding at L¬2 was longer than L1 and L3 but there were no significant differences (P>0.05). The time for drinking at L3 was significantly longer (P<0.05) than L1 and L¬2 and the time for resting at L1 was significantly longer (P<0.05) than L2 and also time for painting at L2 was significantly shorter (P<0.05) than L1 and L3. The frequencies of feeding at P1 was significantly higher (P<0.05) than P2 and P3. However, there were no significant differences on drinking and resting frequencies (P>0.05). The time feeding of P1 were significantly longer (P<0.05) than P2 and P3 and time for drinking at P2 were significantly longer than P1 and P3. Time for resting and panting at P3 were longer (P<0.05) than P1 and P2, but no significant differences (P>0.05). It was concluded that bamboo slat floor and litter podium make feeding behaviour better than chaff litter in the ground. There were no differences between density of 10 birds/m2, and 14 birds/m2 at bamboo slat floor and litter podium in feeding behaviour of broilers. Kata kunci : kepadatan kandang, tipe lantai kandang, tabiat makan, ayam pedaging
PERFORMANS DAN INDEKS KELEMBABAN SUHU KELINCI JANTAN (Lepus nigricollis) YANG DIPELIHARA DENGAN LUAS LANTAI KANDANG DAN DIBERI RANSUM DENGAN IMBANGAN ENERGI DAN PROTEIN BERBEDA Puspani, Eny; N. G. K., Roni; I. M., Nuriyasa
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 18 No 1 (2015): Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.939 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2015.v18.i01.p01

Abstract

Penelitian yang bertujuan mempelajari indeks kelembaban suhu atau temperature humidity index dan performans kelinci jantan lokal pada kepadatan ternak berbeda dan diberi ransum dengan imbangan energi protein berbeda telah dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola Faktorial 2 x 3 dengan empat kali ulangan (blok). Sebagai perlakuan pertama adalah imbangan energi dan protein pada ransum (R) yang terdiri dari ransum dengan kandungan energi termetabolis 2500 kkal/kg dan protein kasar 17% dengan imbangan energi dan protein 147 (R1), ransum dengan kandungan energi termetabolis 2800 kkal/kg dengan kandungan protein kasar 18,5% dengan imbangan energy dan protein 151 (R2). Sebagai perlakuan kedua adalah luas lantai kandang (L) yang terdiri dari 3500 cm2 (L1), 1750 cm2 (L2) dan 1166 cm2 (L3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim mikro pada perlakuan tingkat kepadatan ternak dan ransum dengan imbangan energi dan protein yang berbeda memberikan pengaruh tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kelembapan udara, temperatur udara, “temperature humidity index” dan radiasi matahari. Performans pada perlakuan ransum dengan imbangan energy dan protein R1 menyebabkan konsumsi air, ransum, berat badan akhir dan pertambahan berat badan lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan perlakuan R2 sedangkan FCR yang memberikan pengaruh tidak berbeda nyata (P>0,05). Performans pada perlakuan tingkat kepadatan ternak L2 dan L3 menyebabkan konsumsi air dan ransum lebih tinggi sehingga berat badan akhir pada kandang L2 dan L3 juga lebih tinggi dibandingkan L1 kecuali pertambahan berat badan dan FCR memberikan pengaruh tidak berbeda nyata (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi perbedaan iklim mikro pada kandang dengan perlakuan ransum dengan imbangan energi dan protein berbeda serta perlakuan dengan tingkat kepadatan ternak berbeda. Kelinci yang diberi ransum dengan imbangan energi dan protein 147 (R1) menghasilkan performans lebih tinggi daripada imbangan energi dan protein 151 (R2). Kelinci yang dipelihara pada tingkat kepadatan ternak 2 ekor/3500cm2 menghasilkan performans lebih tinggi daripada tingkat kepadatan ternak 1 ekor dan 3 ekor/3500 cm2.